Kota Blitar (Proses Vulkanisme)

Nama                           : Diana Permatasari Kairupan

Nim                             : 09101480213

Kelas                           : B

Mata Kuliah                : Analisis Lansekap

Dosen Pengampu        : Dr.Ir. Sudarto, MS

 

 

 

  1. a.      Letak Geografis

Kabupaten Blitar tercatat sebagai salah satu kawasan yang strategis dan mempunyai perkembangan yang cukup dinamis.  Kota ini terletak pada Geografis 11214’ hingga 11228’ Bujur Timur dan 8 2’ hingga 82’ Lintang Selatan .Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 1982 tentang Batas Wilayah Kotamadya daerah Tingkat II Blitar, Luas wilayah administrasi Kota Blitar 32,578 Km terbagi menjadi 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Sukorejo dengan luas 9,92 Km. Kecamatan Kepanjen Kidul dengan luas 10,50 Km² dan Kecamatan Sananwetandengan luas 12,15 Km².

Adapun batas administrasi Kota Blitar adalah

  • · Sebelah Utara              :Kecamatan Nglegok dan Kecamatan Garum Kabupaten Blitar
  • Sebelah Selatan           :Kecamatan Sanankulon dan Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar
  • Sebelah Timur             :Kecamatan Kanigoro dan Kecamatan Garum Kabupaten Blitar
  • Sebelah Barat              :Kecamatan Sanankulon dan Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar

Kabupaten Blitar berbatasan dengan tiga kabupaten lain, yaitu

  • sebelah Timur              : Kabupaten Malang,
  • sebelah Barat               : Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Kediri
  • sebelah Utara                          : Kabupaten Kediri dan Kabupaten Malang
  • sebelah Selatan            : Samudera Indonesia

 

Blitar terletak dikaki lereng Gunung Kelud di Jawa Timur.  Daerah Blitar selalu dilanda lahar Gunung Kelud yang meledak secara berkala sejak zaman kuno sampai sekarang.  Lahar mengalir ke bawah melalui lembah-lembah sungai dan membeku menutup permukaan bumi.  Abu yang memancar dari bawah gunung berapi akhirnya jatuh juga di permukaan bumi dan bercampur dengan tanah.  Lapisan-lapisan vulkanik daerah Blitar pada hakekatnya merupakan suatu kronologi tentang ledakan-ledakan Gunung Kelud yang kontinyu dari zaman dahulu kala .

Geologis tanah daerah Blitar berupa tanah vulkanik yang mengandung abu ledakan gunung berapi, pasir dan napal (batu kapur bercampur tanah liat).  Warnanya kelabu kekuning-kuningan.  Sifatnya masam, gembur dan peka terhadap erosi.  Tanah semacam ini disebut tanah Regosol yang dapat digunakan untuk penanaman padi, tebu, tembakau dan sayur-sayuran.  Disamping sawah yang sekarang mendominasi pemandangan alam daerah sekitar Kota Blitar ditanam pula tembakau di daerah ini.

Disamping daerah regosol ini terdapat juga daerah yang tanahnya termasuk golongan tanah yang disebut latosol, misalnya daerah Blitar timur dan daerah di lereng-lereng gunung yang sudah lama tidak lagi dilanda lahar Gunung Kelud. Tanah ini lebih tua dan telah mengalami erosi yang lebih besar sehingga bahan-bahan kimia yang semula dikandungnya banyak yang sudah larut hilang ke bawah.Tanah latosol ini yang sering juga disebut tanah laterit, berwarna merah kekuning-kuningan, bersifat masam. Walaupun demikian tanah ini juga masih cukup baik untuk penanaman kopi, coklat, cengkeh, bahkan masih dapat pula digunakan untuk padi, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Karena itu dilereng-lereng gunung di sekitar Kota Blitar terdapat perkebunan kopi yang tidak sedikit jumlahnya

Di sebelah timur daerah latosol ini ialah di sebelah timur Sungai Lekso (anak Sungai Brantas yang bersumber di Gunung Kelud dan mengalir ke selatan) tanahnyanya berbeda lagi hingga menyebabkan pemandangan alam yang berbeda pula. Di sebelah barat Sungai Lekso terdapat daerah bertanah Latosol, sedangkan di sebelah timur daerah bertanah Andosol. Tanah andosol berwarna hitam sampai kuning dan berupa tanah liat yang bersifat gembur,. Sifatnya masam sampai netral. Tanah ini baik untuk hutan, terutama hutan pinus, dan memungkinkan penyelenggaraan pariwisata di daerah itu (Dr. Ir. Kang Biauw Tjwan, 1965).

Sungai Brantas mengalir memotong daerah Blitar dari timur ke barat.  Di sebelah selatan Sungai Brantas (daerah Blitar Selatan) kita menjumpai tanah yang lain lagi jenisnya. Tanah ini tergolong dalam apa yang disebut Grumusol. Tanah grumusol merupakan batu-batuan endapan yang berkapur di daerah bukit maupun gunung. Sifatnya basa. Tanah semacam ini hanya baik untuk penanaman ketela pohon (Cassava) dan jagung disamping kegunaannya sebagai daerah hutan jati yang kering dan tandus.

  1. Proses Vulkanisme

Vulkanisme adalah semua peristiwa yang berhubungan dengan magma yang keluar mencapai permukaan bumi melalui retakan dalam kerak bumi atau melalui sebuah pita sentral yang disebut terusan kepundan atau diatrema.Magma yang keluar sampai ke permukaan bumi disebut lava. Magma dapat bergerak naik karena memiliki suhu yang tinggi dan mengandung gas-gas yang memiliki cukup energi untuk mendorong batuan di atasnya. Di dalam litosfer magma menempati suatu kantong yang disebut dapur magma. Kedalaman dapur magma merupakan penyebab perbedaan kekuatan letusan gunung api yang terjadi. Pada umumnya, semakin dalam dapur magma dari permukaan bumi, maka semakin kuat letusan yang ditimbulkannya. Lamanya aktivitas gunung api yang bersumber dari magma ditentukan oleh besar atau kecilnya volume dapur magma. Dapur magma inilah yang merupakan sumber utama aktivitas vulkanik.

  1. Gunung api kuarter

Zona ini meliputi area Gunung Wilis di sebelah barat Magetan, Gunung WIlis di sebelah timur Ponorogo, Gunung Arjuno, Gunung Bromo dan Gunung Semeru, Gunung Argopuro, dan Gunung Raung di Banyuwangi. Termasuk di antaranya adalah dataran intramontane atau di antara gunung-gunung seperti Dataran Kediri, Dataran Blitar dan Dataran Malang.

Kondisi topografi yang tinggi memungkinkan untuk mendapatkan curah hujan yang cukup tinggi, iklim yang sejuk, tanah hasil pelapukan endapan vulkanik yang sifatnya subur, dan menyerap air. Potensi bencana yang mengancam adalah letusan gunung api, gempa vulkanik, dan longsor pada lereng-lerengnya.

Gunung Kelud merupakan gunung api strato andesitik yang tergolong masih aktif. Letusan 1586 merupakan letusan yang paling banyak menimbulkan korban jiwa yaitu sebanyak 10.000 orang meninggal. Selama abad 20 telah terjadi 5 kali letusan masing masing pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966 dan 1990 dengan jumlah korban jiwa seluruhnya mencapai 5400 jiwa.

Ada dua macam ciri/ karakter letusan Gunung Kelud yaitu :

  1. Letusan semi magmatik merupakan letusan freatik yang terjadi akibat penguapan air danau kawah yang merembes melalui rekahan pada dasar kawah yang secara serentak kemudian dihembuskan ke atas permukaan. Jenis letusan ini umumnya mengawali aktivitas gunung Kelut terutama memicu terjadinya letusan magmatik
  2. Letusan magmatik merupakan letusan yang menghasilkan rempah- rempah gunungapi baru berupa lava, jatuhan piroklastik, dan aliran piroklastik. Letusan magmatik yang terjadi umumnya bersifat eksplosif yang dipengaruhi penambahan kandungan gas vulkanik disertai meningkatnya energi letusan terutama energi panas.
  3. Letusan gunung Kelud umumnya berlangsung singkat , hal ini menampakkan adanya dapur magma yang kecil dengan kandungan energi letusan yang rendah (Escher,1954 dalam Pardyanto, 1968) yang menghasilkan piroklastik aliran dan piroklastik jatuhan
  1. d.      Geologi Gunung Kelud 

Gunung Kelud merupakan gunung api Kuarter yang merupakan produk proses tumbukan antara lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Asia, tepatnya di sebelah selatan Jawa. Sebagai gunung api muda yang tumbuh pada zaman Kuarter Muda (Holosen), Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api dalam deretan gunung api yang tumbuh dan berkembang di dalam Subzona Blitar dari Zona Solo; dimulai dari daerah bagian selatan Jawa bagian tengah (Gunung Lawu) hingga Jawa bagian timur (Gunung Raung), yang dibatasi gawir sesar Pegunungan Selatan (Zaennudin, 2008). Gunung api ini merupakan gunung api strato, akan tetapi tidak seperti gunung api strato yang lain­nya seperti Gunung Merapi atau Semeru. Hal ini karena kerucutnya tidak begitu jelas, puncak tidak teratur, tajam dan terjal, serta kerucut yang rendah. Keadaan puncak-puncak tersebut disebabkan oleh sifat erupsi yang sangat merusak (eksplosif) disertai dengan pertumbuhan sumbat-sumbat lava, seperti puncak Sumbing, Gajahmungkur, dan puncak Kelud (Zaennudin, 2007).

Secara morfologis, Gunung Kelud dapat dibeda­kan menjadi lima satuan morfologi (Wirakusumah, 1991), yaitu: Satuan morfologi Puncak dan Kawah; Satuan Morfologi Tubuh Gunung Api; Satuan Mor­fologi Kerucut Samping; Satuan Morfologi Kaki dan Dataran, serta Satuan Morfologi Pegunungan sekitar. Gunung Kelud dengan puncak tertinggi 1731 m dpl merupakan salah satu gunung api aktif tipe A yang paling berbahaya di Indonesia (Kusuma­dinata drr. 1979). Dampak erupsinya seringkali menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Sejak terdeteksi hingga saat ini tidak kurang dari 15.000 jiwa menjadi korban erupsi gunung api tersebut . Sebelum erupsi November 2007, Gunung Kelud merupakan gunung api yang berdanau kawah. Kawah tersebut merupakan kawah terakhir dari rangkaian kawah yang terbentuk beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Kawah ini merupakan pusat aktivitas erupsi sampai saat ini. Berdasarkan urutan umur kawah yang ada, Gunung Kelud terisi oleh sumbat lava yang terdiri atas sumbat lava Lirang, Gajahmungkur, Tumpak, Sumbing I dan II, Durgo, Gupit, Badak I dan II, serta sumbat lava saat ini. Sumbat lava tertua ter­bentuk dua ratusan ribu tahun yang lalu. Sumbat-sumbat lava pada kawah-kawah merupakan pusat erupsi yang berpindah searah dengan jarum jam (Wirakusumah, 1991), (Gambar 2).

Antara tahun 1000 dan tahun 1990 erupsi Gu­nung Kelud terjadi sebanyak 31 kejadian dengan waktu istirahat antara 1 sampai 311 tahun, dengan rerata waktu istirahat adalah 24,21 tahun (Broto­puspito dan Wahyudi, 2007). Erupsi Gunung Kelud secara umum mempunyai sifat eksplosif. Erupsi ter­jadi dengan tanda yang minim, tidak terjadi erupsi dari kecil kemudian membesar, tetapi terjadi erupsi sangat singkat dan langsung membesar. Sifat erupsi tersebut disebabkan oleh besarnya kandungan gas dan kentalnya magma. Akan tetapi sifat erupsi ini berubah dari sifat eksplosif menjadi efusif pada aktivitas bulan November 2007 dengan membentuk kubah lava yang memenuhi danau kawah.

Sumber : Jurnal GeologiIndonesia, Vol 6 No. 4 Desember 2011;227-237

 

Sifat erupsi suatu gunung api dipengaruhi oleh sifat-sifat geokimia maupun geofisika. Secara geokimiawi, komponen paling penting yang memengaruhi sifat erupsi suatu gunung api adalah kom­ponen volatil (Wallace dan Anderson, 2000). Kom­ponen volatil di Gunung Kelud memberikan gejala awal yang jelas pada saat aktivitasnya meningkat. Komponen-komponen volatil tersebut antara lain karbondioksida (CO2), H2O, sulfat, klorin, serta komponen kimia lainnya.

Sumber

Anonymous a. 2010. .http://www.zimbio.com/member/fetriyan/articles/ZHxtOJFji0C/Pengertian+Vulkanisme.diakses tanggal 13 Maret 2012.

Anonim b. 2010. http://www.blitarkab.go.id/gunung-kelud/147.html. diakses tanggal 13 Maret 2012.

Brotopuspito, K.S. dan Wahyudi, 2007. Erupsi Gunungapi Kelud dan Nilai –b Gempabumi di Sekitarnya. Berkala Ilmiah MIPA, 17(3).

Hens dan Dingwell, 1996. Viscosities of hydrous leucogranitic melts: A non-Arrhenian model. American Mineralogist, 81, p.1297-1300.

Hidayati, S., Kristianto, Basuki, A., dan Mulyana, I, 2009. Emergence of Lava Dome from the Crater Lake of Kelud Volcano, East Java. Jurnal Geologi Indonesia, 4(4), p.229-238.

Humaida , H . 2011.  Pemodelan Perubahan Densitas dan Viskositas Magma serta Pengaruhnya Terhadap Sifat Erupsi Gunung Kelud .Jurnal Geologi Indonesia , Vol 6 No. 4 Desember 2011;227-237.

Kusumadinata, K., Hadian, R., Hamidi, S.,dan Reksowirogo, L.D., 1979. Data Dasar Gunungapi Indonesia, Direktorat Vulkanologi, Bandung.

Wallace, P. dan Anderson, Jr., A.T, 2000. Volatiles in Magmas. Encyclopedia of Volcanoes, Sigurdsson H. (ed), Academic Press, p.149-170.

Wirakusumah, A.D., 1991. Some studies of volcanology, petrology and structure of Mt. Kelud, East Java, Indonesia. PhD Thesis, Victoria University, Wellington.

Zaennudin, A., 2007. Penyelidikan Endapan Piroklastika Gunung Kelud, Jawa Timur. Laporan Pengamatan dan Penyelidikan Gunungapi, Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung.

Zaennudin, A., 2008. Prakiraan Bahaya Erupsi Gunung Kelud, submitted to Jurnal Geologi Indonesia. http://www.vsi.esdm.go.id, Gunung Kelud, Gunungapi di P. Jawa, Gunungapi Indonesia, akses tanggal 20 Oktober 2008.