Home » Uncategorized » Strategi Pemasaran Untuk Usaha Kecil Menengah

Strategi Pemasaran Untuk Usaha Kecil Menengah

12 December 2011

            Usaha Kecil dan Menengah (UKM) telah memberikan kontribusi yang penting dan besar dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan pendapatan bagi masyarakat Indonesia. Karena itu, pemberdayaan dan pengembangan yang berkelanjutan perlu dilakukan terhadap nya agar UKM tidak hanya tumbuh dalam jumlah tetapi juga berkembang dalam kualitas dan daya saing produknya.

            Upaya peningkatan daya saing UKM pada tingkat menteri tercerrmin dari Keputusan Menteri Negara Koperasi dan UKM No. 71/Kep/Meneg/VII/2000 tentang Pedoman Kelembagaan UKM dengan sasaran menghasilkan koperasi dan UKM yang memiliki daya saing dan meningkatkan kemampuan Koperasi dan UKM melalui pengembangan komoditas unggulan. Selanjutnya pada tataran strategis, Kementerian Koperasi dan UKM telah menyusun Rencana strategis Pembangunan KUKM.

            Kebijakan pengembangan UKM masih mengalami distorsi, sehingga tujuan dan sasarannya belum tercapai secara optimal. Untuk menghilangkan distorsi tersebut, stakeholder, pemerintah , non pemerintah melakukan upaya peningkatan daya saing secara bertahap dan berkesinambungan, antara lain berperan sebagai penyedia BDS. Peningkatan daya saing secara bertahap artinya peningkatan daya saing dimulai dengan upaya memenangkan persaingan pada tingkat lokal. Kemudian dikembangkan untuk wilayah /kawasan yang makin meluas sehingga secara hirarkis pelaku bisnis local dapat turut bermain dan memenangkan persaingan secara bertahap dan alamiah. Dan untuk mengetahui berbagai kondisi riil yang melemahkan daya saing UKM, maka dilakukan kajian yang mendalam untuk menemukan solusi dalam rangka meningkatkan daya saing UKM berbasis ekonomi lokal.

            Pemberdayaan UKM nampaknya masih bergelut pada masalah klasik seperti antara lain rendahnya produktivitas, kesulitan akses terhadap sumberdaya produktif. Sehubungan dengan hal tersebut diperlukan adanya pioner-pioner yang dapat menjadi stimulator pembangunan dalam

kelompok tersebut. Salah satu unsur yang diharapkan dapat mendorong pembangunan usaha baru dari kalangan masyarakat sendiri adalah UKM sukses. Kelompok ini memang jumlahnya relatif sangat sedikit tetapi kemampuannya baik dalam memanfaatkan sumberdaya lokal maupun dalam

menemukan potensi-potensi baru yang dapat dikembangkan menjadi usaha produktif sangat dapat diandalkan.

            Keberhasilan UKM sukses ternyata tidak hanya karena keahlian yang dimiliki, tetapi juga dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain: a) Jiwa kewirausahaan dan kreatifitas individual yang melahirkan inovasi; b) ketersedian bahan baku, iklim usaha, dukungan finansial, ketersediaan informasi baik pengetahuan dan teknologi, ketersediaan pasar dan dukungan infrastruktur. Penumbuhan usaha yang diinspirasikan dari adanya kreativitas dan inovasi merupakan model ideal dalam kerangka pembangunan yang bertujuan mengoptimalkan potensi sumberdaya tersedia dan bersifat partisipatif. Oleh sebab itu, pengungkapan kiat-kiat usaha dan penularan inovasi usaha tersebut sangat diperlukan untuk mengurangi pengangguran dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

            Karakteristik Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang memiliki heterogenitas yang tinggi dalam berbagai aspek bisnis, mengimplikasikan bahwa generalisasi kebijakan terhadap UKM akan sulit mewujudkan tujuan pengembangan UKM yang diharapkan. Disisi lain kebijakan dengan pendekatan individual sulit dilakukan karena berbagai keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Untuk itu, pada tahap awal pengembangan UKM ditempuh melalui pendekatan sentra bisnis.

            Permasalahan yang dihadapi oleh UKM dalam melaksanakan dan mengembangkan kegiatan usaha yang terkait dengan Sumber daya di UKM yaitu kelemahan dalam mengakses teknologi, modal, informasi, dan pasar. Seyogyanya bantuan yang diberikan kepada UKM dapat dilakukan melalui pendekatan jumlah yang lebih kecil dan mempunyai karakteristik yang khas. Salah satunya seperti melalui pendekatan sentra di lokasi-lokasi tertentu yang dilakukan oleh masyarakat sendiri

            Struktur ekonomi Jawa Timur 99,55% didominasi Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UKMK), sedangkan usaha besar hanya 0,45%.UKM perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak terutama dalam akses permodalan, pengembangan pasar dan managemen. Sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) telah mampu menunjukkan kinerja yang relatif lebih tangguh dalam menghadapi masa krisis yang panjang. Kontribusi sektor ini pada perekonomian nasional pun cukup signifikan. Pada tahun 2005 jumlah UKM tercatat 44,6 juta unit atau 99,99 % dari keseluruhan unit usaha ekonomi yang ada, dengan tingkat penyerapan tenaga kerja sebesar 88,7% dari jumlah tenaga kerja yang ada, atau mencapai 68,28 juta orang. Data ini mengindikasikan UKM dapat menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi nasional, walaupun rata-rata produktivitasnya relatif masih rendah.

            Sebagai alternatif dalam menghadapi permasalahan permodal bagi pembiayaan usaha UKM, maka banyak kalangan berpendapat perlu dikembangkan pembentukan lembaga keuangan non bank antara lain : (1) Modal Ventura (ventura capital) dan (2) Lembaga Penjamin Kredit (LPK).

            UKM merupakan salah satu pelaku ekonomi yang kuat dan ulet. Meskipun demikian UKM tidak terlepas dari dampak gejolak pasar dan keambrukan sistem perbankan nasional. Diperkirakan di masa depan UKM akan cukup berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan ekonomi yang cepat berubah dan dapat meningkatkan posisi daya saing bukan hanya dalam pasar lokal tetapi juga dalam mendorong aktivitas ekspor yang pada akhirnya akan lebih mendorong pengembangan perekonomian daerah. Pemulihan ekonomi dalam perekonomian daerah akan lebih cepat tercapai apabila peran UKM dapat lebih ditingkatkan dan berbagai kendala internal yang melilit UKM seperti perkreditan dan permodalan dapat dicarikan solusi yang pas dan akurat.

            Perkreditan dan permodalan bagi pengembangan UKM sering menjadi kendala, karena UKM sangat terbatas kemampuannya untuk mengakseskan terhadap lembaga perkreditan atau perbankan. Realitas menunjukkan bahwa UKM pada umumnya mengalami masalah dalam memenuhi berbagai persyaratan untuk mendapatkan kredit yang biasanya diukur dengan 5C, yaitu : character, capacity, capital, collateral, dan condition. Dari persyaratan 5C tersebut ada 2C yang sulit dipenuhi yaitu capital dan collaterall. Capital berkaitan dengan persyaratan untuk memenuhi capital adequacy ratio (CAR) bagi para peminjam. Kesulitan ini terutama sering dihadapi oleh para pemodal kecil. Sedangkan collateral berkaitan dengan penyediaan jaminan atau agunan tambahan bagi peminjam.

            Persaingan dalam perdagangan internasional (atau pasar pada umumnya) amat ditentukan pada keunggulan yang dimiliki atau keunggulan produk yang dihasilkan. Dalam konteks pengembangan keunggulan tersebut, pemerintah daerah mulai mengembangkan konsep produk unggulan. Proses ini dilakukan dengan mengidentifikasi produk unggulan terutama yang berasal dari sektor usaha kecil menengah sebagai proses pengembangan sumber daya lokal dan optimalisasi atas potensi ekonomi daerah. Sebagai suatu strategi pembangunan, pengembangan produk unggulan dinilai mempunyai kelebihan, karena dianggap bahwa suatu daerah yang menerapkan pola pembangunan ini relatif lebih “mandiri” dalam pengembangan ekonominya. Pengembangan produk unggulan dan pengembangan UKM dapat merupakan strategi yang efektif dalam pengembangan ekonomi daerah. Terlebih lagi pada daerah yang tertinggal atau mempunyai ketimpangan ekonomi terhadap daerah/wilayah lain, termasuk daerah/wilayah perbatasan.

            Pemberdayaan UKM ini semestinya dilaksanakan secara simultan dalam kerangka kerja yang komprehensif dengan berbagai upaya lain seperti pendidikan, pemberdayaan masyarakat, pembangunan sosial, penyediaan infrastruktur dan lainnya.

            Kekuatiran akan semakin beratnya tantangan yang dihadapi pengusaha UMK dapat dilihat dari sulitnya para UKM memasarkan hasil-produknya mereka. Kondisi ini mengakibatkan semakin mernurunnya volume penjualan yang berdampak kepada tidak mampunya UMK untuk menanbah tenaga kerja bahkan ada beberapa UKM yang melepaskan tenaga kerjanya karena mereka tidak mampu memberikan upah. Keadaan ini memperjelas bahwa perlu di ketahui faktorfaktor yang mempengaruhi perkembangan usaha UKM agar mampu bersaing memproduksi produk-produk yang diminati masyarakat seperti. barang-barang Cina dan Korea tersebut.

Sumber :

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/0167811688900407

http://www.sciencedirect.com/science?_ob=MiamiImageURL&_cid=271714&_user=10998278&_pii=S0019850101001857&_check=y&_origin=search&_zone=rslt_list_item&_coverDate=2002-02-28&wchp=dGLzVlt-zSkzk&md5=2e38ed508d609ffe56d93f2db95102da/1-s2.0-S0019850101001857-main.pdf

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1094996897707564

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1441358211000449

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0892059196700915

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1094996810000216

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0019850101001596

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1441358202701468

Uncategorized

No Comments to “Strategi Pemasaran Untuk Usaha Kecil Menengah”

Leave a Reply

(required)

(required)


*