Jun

09

Posted by : Khilmi | On : 9 June 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

Masyarakat baru-baru ini sempat digemparkan dengan statemen  kontroversial yang diucapkan oleh Amien Rais terkait pengelompokan partai di Indonesia. Ia menyatakan bahwa partai-partai di Indonesia dimasukkan ke dalam dua kelompok yaitu partai setan dan partai Allah (cnnindonesia.com, 13/4/18). Tentu pernyataan tersebut memantik reaksi banyak pihak, apalagi tahun ini berada diposisi menjelang tahun politik 2019. Banyak pihak menyayangkan pernyataan tersebut, terlebih hal itu dikemukakan ditengah acara kegamaan di masjid Baiturrahman, Mampang, Jakarta Selatan. Bagamana mungkin tempat ibadah digunakan sebagai podium politik. Tentu hal ini bertentangan dengan aturan dan etika politik di Indonesia salah satunya larangan penggunaan tempat ibadah sebagai ajang berpolitik.

Entah apa yang ada dalam pikiran sesosok Amien Rais. Jika melihat kiprah politik, sosok Amien Rais bukan orang baru dalam dunia politik. Julukan bapak Reformasi yang masih disandangnya tentu membuktikan bahwa ia adalah orang yang benar-benar berjasa dalam perubahan konstalasi politik Indonesia. Apalagi jika melihat bagaimana peristiwa Mei 1998 kala itu, Amien Rais dengan gigihnya membakar semangat mahasiswa untuk turun aksi menuntut presiden Suharto mundur dari jabatannya. Sungguh kala itu memang banyak orang mengagumi bahkan mengidolakannya.

Sebagai tokoh reformis, tentu sosok Amien Rais tidak lepas dari asam garam dunia organisasi. Mulai dari gerakan mahasiswa, menduduki jabatan ketua MPR, hingga sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Pengalaman tersebut merupakan bukti jika ia seorang organisatoris ulung. Dengan sekian pengalaman organisasi yang pernah diemban, pasti secara sadar memahami makna etika organisasi. Salah satu etika dalam organisasi adalah tentang pentingnya cara yang santun dalam menyampaikan pendapat baik ide, gagasan, saran ataupun kritik. Sehingga dengan cara penyampaian  yang santun, baik ide, gagasan, saran atau kritik bisa diterima dengan baik oleh khalayak, bukan justru menuai banyak kecaman.

Partai Setan vs Partai Allah

Barang kali baru kali pertama ini ada seorang tokoh bangsa yang berani mendikotomi partai-partai politik di Indonesia menjadi dua kutub, yakni partai setan dan partai Allah. Apalagi yang membuat pernyataan adalah seorang yang juga berlatar belakang akademisi. Secara penamaan dan sisi bahasa sungguh tidak masuk akal. Bayangkan dunia politik yang notabene adalah sebuah kondisi nyata harus dibawa-bawa ke ranah kategori abstrak yang hanya menimbulkan ketimpangan persepsi.

Dari sisi penamaan saja sudah terdengar ngeri sekaligus menggelikan. Mari coba telaah kata partai setan. Secara bahasa pengertian partai bersinonim dengan kelompok atau perkumpulan yang memiliki tujuan politis, dalam hal ini makna partai bisa dimaknai secara mudah. Namun yang menjadi permasalahan adalah pemberian imbuhan kata setan setelah kata partai sehingga menjadikan dua kata tersebut sebagai frasa. Selanjutnya makna setan, secara bahasa setan diasosiakan sebagai makhluk yang tidak bisa dilihat secara kasat, menyeramkan, dan yang bertugas mengganggu manusia. Dengan demikian, apabila diterjemahkan pun juga akan memiliki dua pengertian yang berbeda yaitu, pertama sebagai kelompok setan yang bertugas mengganggu, dan kedua memiliki pengertian kelompok miliknya setan. Dari pengertian tersebut sungguh, bahwa makna dari partai setan bisa saja melahirkan miskonsepsi yang tidak masuk akal dan berlebihan apabila masyarakat tidak bisa mencerna pemahaman frasa tersebut.

Selanjutnya pola kata partai Allah yang juga kurang lebih sama bentuknya dengan pola partai setan di atas. Partai Allah juga membentuk satu frasa. Hanya saja yang membedakan adalah pengertiannya saja. Pengertian disini adalah kata kedua dari kata Allah. Allah disini dimaksudkan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu frasa partai Allah juga memiliki dua makna yang juga ambigu. Dua makna tersebut yaitu, pertama sebagai kelompok Tuhan dan yang kedua sebagai kelompoknya Tuhan. Nah pengertian ini jelas mengandung unsur kontroversi dan menimbulkan pertanyaan, apakah Tuhan itu berkelompok padahal katanya Esa? Kemudian juga menimbulkan pertanyaan apakah Tuhan punya kelompok? Sama halnya dengan penjelasan di atas, frasa ini memiliki pemahaman yang tidak bisa dinalar oleh logika. Oleh sebab itu, sebagai tokoh dan panutan publik, hendaknya sosok Amien Rais tidak mengeluarkan bahasa-bahasa atau tuturan yang tidak selayaknya.

Etika Politik

Sudah menjadi rahasia umum jika sosok Amien Rais mengambil peran oposisi pada pemerintahan Jokowi-JK. Sejak kalah dalam pesta pemilu presiden tahun 2013 silam, bersama partai yang didirikannya yang tak lain PAN bersama-sama dengan Gerindra dan PKS memilih untuk tetap menjadi oposisi pemerintah. Ibarat tim sepak bola, ketiga partai ini begitu semangat menyuarakan kritikan kepada pemerintah khususnya kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemerintah. Lantas apa yang juga membuat Amien Rais kini begitu sengit menyuarakan kritikan kepada pemerintah, hingga timbul kontroversial ditengah masyarakat?

Sebagai seorang organisatoris pasti yang bersangkutan memiliki beragam alasan untuk menangkis isu-isu kontroversial yang telah terlanjur dikeluarkan. Namun apabila hal tersebut kemudian juga terlanjur didengar oleh masyarakat, bahkan menjadi pemberitaan nasional, pasti masyarakat juga memampunyai beragam argumen untuk mengometari pernayataan kontroversial tersebut. Apalagi ternyata selain menimbulkan kecaman juga makin memperkeruh suasana politik ditanah air, terlebih masyarakat baru saja dibuat geram terhadap perilaku ketua DPR RI Setya Novanto yang kini menjadi tersangka KPK dugaan korupsi KTP-El.

Jika menilik masa lalu sosok Amien Rais yang pernah gagal mencalonkan diri menjadi persiden RI tahun 2004 mungkin bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ambisi politik meskipun sudah mengalami kekakalahan bertahun-tahun ternyata tidak lantas membuat orang kehilangan sahwat politiknya. Apalagi kini mau tidak mau pamor sebagai bapak reformasi kian meredup sejak ia memilih menjadi oposisi. Sehingga boleh dikata cara-cara yang digunakan pun kadang tidak wajar.

Salah satu persepsi publik yang kian masuk akal akan ambisi Amien Rais salah satunya saat tahun 2017 lalu. Bersama-sama dengan munculnya gerakan-gerakan yang mengatasnamakan agama Amien Rais terlihat tampak tampil ke depan. Aksi ini kemudian menamakan dirinya sebagai aksi bela agama 212. Ditambah waktu itu isu terkait agama begitu sensitif.  Publik pun bisa menebak dengan jelas maksud tersembunyi Amien Rais dalam acara tersebut.

Berdasarkan kenyataan di atas patutlah disayangkan, jika memang itu adalah figur Amien Rais sekarang. Sebab, sosok Amien Rais yang dulunya pejuang reformasi, justru kini dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya. Bagaimanapun, sebagai seorang oposisi harusnya tetap memberikan contoh cara-cara politik yang santun, agar hal tersebut bisa sebagai contoh proses etika berpolitik di Indonesia.

*Mahasiswa S2 Linguistik, Universitas Brawijaya

 

 

 

 

Jun

08

Posted by : Khilmi | On : 8 June 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

(Esei Kategori Critical Discourse Analysis)

Masyarakat baru-baru ini sempat digemparkan dengan statemen  kontroversial yang diucapkan oleh Amien Rais terkait pengelompokan partai di Indonesia. Ia menyatakan bahwa partai-partai di Indonesia dimasukkan ke dalam dua kelompok yaitu partai setan dan partai Allah (cnnindonesia.com, 13/4/18). Tentu pernyataan tersebut memantik reaksi banyak pihak, apalagi tahun ini berada diposisi menjelang tahun politik 2019. Banyak pihak menyayangkan pernyataan tersebut, terlebih hal itu dikemukakan ditengah acara kegamaan di masjid Baiturrahman, Mampang, Jakarta Selatan. Bagamana mungkin tempat ibadah digunakan sebagai podium politik. Tentu hal ini bertentangan dengan aturan dan etika politik di Indonesia salah satunya larangan penggunaan tempat ibadah sebagai ajang berpolitik.

Barang kali baru kali pertama ini ada seorang tokoh bangsa yang berani langsung mendikotomi partai-partai politik di Indonesia. Apalagi yang membuat pernyataan adalah seorang yang juga berlatar belakang akademisi sekaligus seorang tokoh reformasi. Namun anehnya, secara penamaan dan sisi bahasa sungguh tidak masuk akal. Bayangkan dunia politik yang notabene adalah sebuah kondisi nyata harus dibawa-bawa ke ranah kategori abstrak yang hanya menimbulkan ketimpangan persepsi.

Dari sisi penamaan saja sudah terdengar ngeri sekaligus menggelikan. Mari coba telaah kata partai setan. Secara bahasa, pengertian partai bersinonim dengan kelompok atau perkumpulan, dalam hal ini makna partai bisa dimaknai secara mudah. Namun yang menjadi permasalahan adalah pemberian imbuhan kata setan setelah kata partai sehingga menjadikan dua kata tersebut sebagai frasa. Selanjutnya makna setan, secara bahasa setan diasosiakan sebagai makhluk yang tidak bisa dilihat secara kasat, menyeramkan, dan yang bertugas mengganggu manusia. Dengan demikian, apabila diterjemahkan pun juga akan memiliki dua pengertian yang berbeda yaitu, pertama sebagai kelompok setan yang bertugas mengganggu, dan kedua memiliki pengertian kelompok miliknya setan. Dari pengertian tersebut sungguh, bahwa makna dari partai setan bisa saja melahirkan miskonsepsi yang tidak masuk akal dan berlebihan apabila masyarakat tidak bisa mencerna pemahaman frasa tersebut.

Selanjutnya pola kata partai Allah yang juga kurang lebih sama bentuknya dengan pola partai setan di atas. Partai Allah juga membentuk satu frasa. Hanya saja yang membedakan adalah pengertiannya. Pengertian di sini adalah kata kedua yaitu kata Allah. Allah disini dimaksudkan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu, frasa partai Allah juga memiliki dua makna yang juga ambigu. Dua makna tersebut yaitu, pertama sebagai kelompok Tuhan dan yang kedua sebagai kelompoknya Tuhan. Nah pengertian ini jelas mengandung unsur kontroversi dan menimbulkan pertanyaan, apakah Tuhan itu berkelompok padahal katanya Esa? Kemudian juga menimbulkan pertanyaan apakah Tuhan punya kelompok? Sama halnya dengan penjelasan di atas, frasa ini memiliki pemahaman yang tidak bisa dinalar oleh logika. Oleh sebab itu, sebagai tokoh dan panutan publik, hendaknya sosok Amien Rais tidak mengeluarkan bahasa-bahasa atau tuturan yang tidak selayaknya.

Etika Politik

Sudah menjadi rahasia umum jika sosok Amien Rais mengambil peran oposisi pada pemerintahan Jokowi-JK. Sejak kalah dalam pesta pemilu presiden tahun 2013 silam, bersama partai yang didirikannya yang tak lain PAN bersama-sama dengan Gerindra dan PKS memilih untuk tetap menjadi oposisi pemerintah. Ibarat tim sepak bola, ketiga partai ini begitu semangat menyuarakan kritikan kepada pemerintah khususnya kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemerintah. Lantas apa yang juga membuat Amien Rais kini begitu sengit menyuarakan kritikan kepada pemerintah, hingga timbul kontroversial ditengah masyarakat?

Jika menilik masa lalu sosok Amien Rais yang pernah gagal mencalonkan diri menjadi persiden RI tahun 2004 mungkin bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ambisi politik meskipun sudah mengalami kekakalahan bertahun-tahun ternyata tidak lantas membuat orang kehilangan sahwat politiknya. Apalagi kini mau tidak mau pamor sebagai bapak reformasi kian meredup sejak ia memilih menjadi oposisi. Sehingga boleh dikata cara-cara yang digunakan pun kadang tidak wajar.

Berdasarkan kenyataan di atas patutlah disayangkan, jika memang itu adalah figur Amien Rais sekarang. Sebab, sosok Amien Rais yang dulunya pejuang reformasi, justru kini dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya. Bagaimanapun, sebagai seorang oposisi harusnya tetap memberikan contoh cara-cara politik yang santun, agar hal tersebut bisa sebagai contoh proses etika berpolitik di Indonesia.

May

04

Posted by : Khilmi | On : 4 May 2018

Pada tanggal 21-22 April 2018 lalu saya diberi kesempatan bisa mengujungi komunitas Samin di Bojonegoro. Bersama dengan rombongan Mahasiswa S2 Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya kunjungan terasa hangat dan menyenangkan. Kegiatan tersebut dibingkai dalam bentuk studi lapangan sehingga tujuannya jelas, yaitu kunjungan yang berbasis ilmiah.

Sebanyak 15 mahasiswa turut dalam kegiatan itu dengan didampingi satu dosen pembimbing. Tugas mahasiswa saat tiba di tempat pada studi lapangan adalah mengobservasi bahasa dan budaya yang ada pada komunitas Samin. Tak pelak mahasiswa harus fokus pada tugas itu. Bentuk tugas juga bebas asal tidak lepas dari tema bahasa dan budaya.

Oleh sebab tugas yang ditentukan bebas maka saya tertarik untuk membahas tentang perilaku kejujuran komunitas Samin. Kenapa? Karena bagi saya nilai kejujuran zaman sekarang makin susah untuk diterapkan, sedangkan komunitas Samin ternyata masih bisa membumikan nilai-nilai kejujuran itu pada perilaku kehidupannya.

Jujur menurut pengertiannya adalah suatu perbuatan atau yang didasarkan apa adanya tanpa harus diada-adakan. Maksud jujur berarti apabila berbuat sesuatu maka harus sesuai dengan kenyataan. Disinilah letak komunitas Samin menerapkan perbuatan tersebut dalam kehidupannya hingga saat ini.

Saat saya bertemu dengan sesepuh Samin, mbah Hardjo Kardi, beliau menerangkan bahwa komunitas Samin pantang untuk tidak berperilaku jujur. Alasannya adalah jika manusia berbuat tidak jujur maka selanjutnya pasti bakal mencederai atau melukai orang lain dalam perbuatannya.

Menyimak alasan yang dijelaskan mbah Hardjo di atas, maka saya mencoba untuk menelaah kejujuran yang dimaksudkan. Dengan harapan mampu menerjemahkan maksud yang disampaikan.

Jika ditelaah lebih lanjut apa yang disampaikan mbah Hardjo di atas maka kita bisa mengambil analisis logika sebagai berikut. “Tidak jujur dan melukai orang lain.” Sebab, dalam kehidupan sehari-hari maka kita sering dibenturkan dengan perbuatan baik disadari atau tidak dengan perilaku tidak jujur. Mari coba renungkan, hal sederhana saja, kita sedang ditelpon oleh teman karena sudah berjanji pada pukul sekian bertemu, tapi saat ditelpon bilang sedang berada di jalan, padahal kenyataannya masih akan berangkat.

Menilik ilustrasi di atas, kita tidak sama sekali merugikan teman kita, atau kita tidak merasa bersalah karena alasan tersebut bakal tidak diketahui oleh teman kita. Namun yang perlu digaris bawahi adalah kita sudah tidak berbuat jujur pada diri kita sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri berarti sudah bohong dengan diri sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri maka secara tidak sadar belajar untuk menanamkan nilai-nilai ketidakjujuran pada diri. Hal yang demikian pastinya akan merembet ke dalam lini kehidupan dimanapun secara perlahan. Sehingga lambat laun akan membesar dan berpotensi menjadi kebiasaan.

Kembali pada pernyataan mbah Hardjo ketidakjujuran melukai orang lain. Pernyataan tersebut sangat benar adanya. Sebab apabila kejujuran sudah menjadi kebiasaan maka itu akan menjalar kepada lini kehidupan dan akibatnya secara tidak sadar berimbas pada dimensi sosial. Maka untuk mengantisipasi atau mencegah kebiasaan tidak jujur alangkah baiknya untuk belajar jujur dimulai dari diri sendiri.