Posts Tagged ‘Kajian Opini Budaya’

  • Aku, Mereka, dan BIPA: Kelas Miniatur Dunia

    Date: 2020.02.27 | Category: Inspirasi, Kajian Opini | Response: 0

    Langkahku perlahan memasuki kelas. Dada cukup bergetar, karena aku sadar bahwa ini kali pertama aku mengajar mahasiswa asing. Meskipun sebelumnya sudah sering mengajar, mulai dari SD, SMP, SMA, bahkan Perguruan Tinggi, namun rasa rendah diri mampu mencekam hati. Was-was bingung, entah apa yang akan aku lakukan untuk membuka pertemuan pertama di hadapan mahasiswa asing ini. Sebenarnya, semua persiapan sudah aku siapkan dengan matang. Teori-teori pengajaran, buku modul materi pelajaran sudah aku pelajari dengan saksama. Tapi kecamuk bimbang tetap tak bisa hilang begitu saja dari rasa di dada yang kian tak karuan.

    Menit-menit terakhir menuju ke sesi pertemuan pertama kelas mahasiswa asing sudah mencapai akhir. Langkahku tetap saja berhenti di depan kelas. Aku masih enggan membuka pintu kelas. Tetap saja was-was. Aku dengar suara riuh di balik pintu kelas. Ramai dan begitu akrab. Sejenak aku membuka absensi yang sudah aku bawa dari divisi akademik. Aku teliti satu-persatu nama mahasiswa. Semua nama memang begitu asing. Ada nama Jepang, Korea, Thailand, Vietnam, China, Arab dan semua berjumlah 9 orang. Kemudian aku menghela nafas panjang, mengembalikan niat ke awal, aku harus mampu menampilkan performa terbaik dalam mengajar.

    Perlahan aku buka pintu kelas dan kemudian mengucapkan salam kepada mereka. “Selamat pagi semua” ucapku. “Selamat pagi” serempak mereka menjawab dengan kata yang sama. Lega rasanya. Aku kemudian tersenyum kepada mereka seraya menanyakan kabar. Lantas aku mengenalkan diri dihadapan mereka yang disambut tatapan mata yang begitu antusias. Ya, itu tatapan mata yang menurutku mereka ingin mendengarkan dengan saksama siapa dosen mereka sebenarnya. Aku pun juga menatap mereka dengan berusaha seramah mungkin. Sebab, ramah merupakan ciri khas yang harus aku tunjukkan, karena Indonesia sudah terkenal dengan keramahannya. Inilah identitas, maka jangan sampai mereka menjadi kehilangan pandangan dengan Indonesia yang ramah.

    Setelah memperkenalkan diri, aku pandangi wajah mahasiswa baruku itu satu persatu. Dari wajah mereka seketika aku dapat mengetahui darimana mereka berasal meski tidak semuanya bisa di tebak. Buku absensi yang sudah aku bawa kemudian aku buka. Aku panggil mereka satu-persatu.

    (Bersambung)

     

     

  • Memaknai Perilaku Hidup Samin II (Tulisan Lengkap)

    Date: 2018.06.01 | Category: Kajian Opini | Response: 0

    Oleh Khilmi Mauliddian*

    (Edisi tulisan kajian budaya)

    Ket : Hardjo Kardi, sesepuh Samin Bojonegoro 

    Pada tanggal 21-22 April 2018 lalu saya diberi kesempatan bisa mengujungi komunitas Samin di Bojonegoro. Bersama dengan rombongan Mahasiswa S2 Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, kunjungan terasa hangat dan menyenangkan. Kegiatan tersebut dibingkai dalam bentuk studi lapangan sehingga tujuannya jelas, yaitu kunjungan yang berbasis pengetahuan budaya.

    Sebanyak 15 mahasiswa turut dalam kegiatan itu dengan didampingi satu dosen pembimbing. Tugas mahasiswa saat tiba di tempat studi lapangan tak lain untuk mengobservasi bahasa dan budaya yang ada pada komunitas Samin. Tak pelak mahasiswa harus fokus pada tugas itu. Bentuk tugas juga bebas asal tidak lepas dari tema bahasa dan budaya.

    Oleh sebab tugas yang ditentukan bebas maka saya tertarik untuk membahas tentang perilaku kejujuran komunitas Samin. Kenapa? Karena bagi saya nilai kejujuran zaman sekarang makin susah untuk diterapkan, sedangkan komunitas Samin ternyata masih bisa membumikan nilai-nilai kejujuran itu pada perilaku kehidupannya.

    Komunitas Samin merupakan salah satu komunitas yang masih menjaga kearifan lokal hingga sekarang. Komunitas ini tersebar di beberapa daerah di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah Komunitas Samin menyebar di wilayah kabupaten Blora, Rembang, kudus, dan Pati. Sedangkan di Jawa Timur komunitas Samin berada di Wilayah kabupaten Ngawi dan Bojonegoro.

    Komunitas Samin yang ada di Bojonegoro bertempat tinggal tepatnya di dusun Jepang, desa Margomulyo, kecamatan Margomulyo. Secara geografis letak dusun Jepang berada di tengah kawasan hutan Jati. Dalam kehidupannya, mereka masih menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Samin antara lain, selalu bertindak jujur, tidak iri, tidak dengki, Sabar, trokal atau selalu berdaya upaya, tidak suka menyinggung perasaan orang lain baik fisik atau nonfisik, dan masih menjunjung tinggi budaya hidup gotong royong.

    Sesepuh Samin yang masih hidup saat ini bernama Hardjo Kardi atau biasa dipanggil Mbah Hardjo. Mbah Hardjo berkisah, Samin di dusun Jepang hingga saat ini masih menerapkan dan memelihara budaya gotong royong. Apabila ada orang menanam Jagung, maka disini masih menerapkkan gotong royong saling membantu tanpa diberi upah, dan begitu seterusnya untuk kegiatan apapun yang ada di masyarakat Samin secara bergantian. Satu membutuhkan maka lainnya berkewajiban membantu tanpa diberi upah sepeser pun.

    Mbah Hardjo juga menambahkan, apabila disini ada orang yang berbuat tidak jujur maka ia yakin hukum karma akan menimpa pada orang tersebut. Maka pantang bagi komunitas Samin untuk tidak jujur dalam kehidupan. Sehingga tidaklah heran, berkat budaya kejujuran yang sudah melekat pada komunitas Samin, wilayah Samin tergolong aman dan lingkungan alamnya masih terjaga kelestariannya. Sebab pantang bagi masyarakat Samin untuk mengambil yang bukan haknya.

    Sekilas Ajaran Samin

    Masyarakat Samin adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga sekarang dianggap menjengkelkan oleh kelompok di luarnya. Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga pada tahun ’70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka.

    Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, tidak suka mencuri, menolak membayar pajak, dan acap menjadi bahan lelucon terutama di kalangan masyarakat Bojonegoro. Pendiri ajaran ialah Samin Surosentiko, yang nama aslinya Raden Kohar, kelahiran Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, tahun 1859, dan meninggal saat diasingkan ke Padang, 1914.

    Komunitas Samin mempunyai ajaran yang ditaati dan diterapkan hingga sekarang. Pokok-pokok ajaran Saminisme meliputi; pertama, agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya. Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, dan jangan suka mengambil milik orang. Kedua, Bersikap sabar dan jangan sombong. Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya. Dan yang ketiga, bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam perdagangan terdapat unsur “ketidakjujuran”. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk uang.

    Makna Jujur

    Jujur menurut pengertiannya adalah suatu perbuatan atau yang didasarkan apa adanya tanpa harus diada-adakan. Maksud jujur berarti apabila berbuat sesuatu maka harus sesuai dengan kenyataan. Disinilah letak komunitas Samin menerapkan perbuatan tersebut dalam kehidupannya hingga saat ini.

    Saat bertemu dengan sesepuh Samin, Mbah Hardjo Kardi, beliau menerangkan bahwa komunitas Samin pantang untuk tidak berperilaku jujur. Alasannya adalah jika manusia berbuat tidak jujur maka selanjutnya pasti bakal mencederai atau melukai orang lain dalam perbuatannya.

    Menyimak alasan yang dijelaskan Mbah Hardjo di atas, maka saya mencoba untuk menelaah kejujuran yang dimaksudkan. Dengan harapan mampu menerjemahkan maksud yang disampaikan.

    Jika ditelaah lebih lanjut apa yang disampaikan mbah Hardjo di atas maka kita bisa mengambil analisis logika sebagai berikut. “Tidak jujur dan melukai orang lain.” Sebab, dalam kehidupan sehari-hari maka kita sering dibenturkan dengan perbuatan baik disadari atau tidak dengan perilaku tidak jujur. Mari coba renungkan, hal sederhana saja, kita sedang ditelepon oleh teman karena sudah berjanji pada pukul sekian bertemu, tapi saat ditelepon mengatakan sedang berada di jalan, padahal kenyataannya masih akan berangkat.

    Menilik ilustrasi di atas, kita tidak sama sekali merugikan teman kita, atau kita tidak merasa bersalah karena alasan tersebut bakal tidak diketahui oleh teman kita. Namun yang perlu digaris bawahi adalah kita sudah tidak berbuat jujur pada diri kita sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri berarti sudah bohong dengan diri sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri maka secara tidak sadar belajar untuk menanamkan nilai-nilai ketidakjujuran pada diri. Hal yang demikian pastinya akan merembet ke dalam lini kehidupan dimanapun secara perlahan. Sehingga lambat laun akan membesar dan berpotensi menjadi kebiasaan.

    Kembali pada pernyataan mbah Hardjo ketidakjujuran melukai orang lain. Pernyataan tersebut sangat benar adanya. Sebab apabila ketidakjujuran sudah menjadi kebiasaan maka itu akan menjalar kepada lini kehidupan dan akibatnya secara tidak sadar berimbas pada dimensi sosial. Maka untuk mengantisipasi atau mencegah kebiasaan tidak jujur alangkah baiknya untuk belajar jujur dimulai dari diri sendiri.

    *artikel ditulis sebagai kajian pada kelas language and culture

     

Recent Posts

Archives

Categories

Meta