Jun

08

Posted by : Khilmi | On : 8 June 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

(Esei Kategori Critical Discourse Analysis)

Masyarakat baru-baru ini sempat digemparkan dengan statemen  kontroversial yang diucapkan oleh Amien Rais terkait pengelompokan partai di Indonesia. Ia menyatakan bahwa partai-partai di Indonesia dimasukkan ke dalam dua kelompok yaitu partai setan dan partai Allah (cnnindonesia.com, 13/4/18). Tentu pernyataan tersebut memantik reaksi banyak pihak, apalagi tahun ini berada diposisi menjelang tahun politik 2019. Banyak pihak menyayangkan pernyataan tersebut, terlebih hal itu dikemukakan ditengah acara kegamaan di masjid Baiturrahman, Mampang, Jakarta Selatan. Bagamana mungkin tempat ibadah digunakan sebagai podium politik. Tentu hal ini bertentangan dengan aturan dan etika politik di Indonesia salah satunya larangan penggunaan tempat ibadah sebagai ajang berpolitik.

Barang kali baru kali pertama ini ada seorang tokoh bangsa yang berani langsung mendikotomi partai-partai politik di Indonesia. Apalagi yang membuat pernyataan adalah seorang yang juga berlatar belakang akademisi sekaligus seorang tokoh reformasi. Namun anehnya, secara penamaan dan sisi bahasa sungguh tidak masuk akal. Bayangkan dunia politik yang notabene adalah sebuah kondisi nyata harus dibawa-bawa ke ranah kategori abstrak yang hanya menimbulkan ketimpangan persepsi.

Dari sisi penamaan saja sudah terdengar ngeri sekaligus menggelikan. Mari coba telaah kata partai setan. Secara bahasa, pengertian partai bersinonim dengan kelompok atau perkumpulan, dalam hal ini makna partai bisa dimaknai secara mudah. Namun yang menjadi permasalahan adalah pemberian imbuhan kata setan setelah kata partai sehingga menjadikan dua kata tersebut sebagai frasa. Selanjutnya makna setan, secara bahasa setan diasosiakan sebagai makhluk yang tidak bisa dilihat secara kasat, menyeramkan, dan yang bertugas mengganggu manusia. Dengan demikian, apabila diterjemahkan pun juga akan memiliki dua pengertian yang berbeda yaitu, pertama sebagai kelompok setan yang bertugas mengganggu, dan kedua memiliki pengertian kelompok miliknya setan. Dari pengertian tersebut sungguh, bahwa makna dari partai setan bisa saja melahirkan miskonsepsi yang tidak masuk akal dan berlebihan apabila masyarakat tidak bisa mencerna pemahaman frasa tersebut.

Selanjutnya pola kata partai Allah yang juga kurang lebih sama bentuknya dengan pola partai setan di atas. Partai Allah juga membentuk satu frasa. Hanya saja yang membedakan adalah pengertiannya. Pengertian di sini adalah kata kedua yaitu kata Allah. Allah disini dimaksudkan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu, frasa partai Allah juga memiliki dua makna yang juga ambigu. Dua makna tersebut yaitu, pertama sebagai kelompok Tuhan dan yang kedua sebagai kelompoknya Tuhan. Nah pengertian ini jelas mengandung unsur kontroversi dan menimbulkan pertanyaan, apakah Tuhan itu berkelompok padahal katanya Esa? Kemudian juga menimbulkan pertanyaan apakah Tuhan punya kelompok? Sama halnya dengan penjelasan di atas, frasa ini memiliki pemahaman yang tidak bisa dinalar oleh logika. Oleh sebab itu, sebagai tokoh dan panutan publik, hendaknya sosok Amien Rais tidak mengeluarkan bahasa-bahasa atau tuturan yang tidak selayaknya.

Etika Politik

Sudah menjadi rahasia umum jika sosok Amien Rais mengambil peran oposisi pada pemerintahan Jokowi-JK. Sejak kalah dalam pesta pemilu presiden tahun 2013 silam, bersama partai yang didirikannya yang tak lain PAN bersama-sama dengan Gerindra dan PKS memilih untuk tetap menjadi oposisi pemerintah. Ibarat tim sepak bola, ketiga partai ini begitu semangat menyuarakan kritikan kepada pemerintah khususnya kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemerintah. Lantas apa yang juga membuat Amien Rais kini begitu sengit menyuarakan kritikan kepada pemerintah, hingga timbul kontroversial ditengah masyarakat?

Jika menilik masa lalu sosok Amien Rais yang pernah gagal mencalonkan diri menjadi persiden RI tahun 2004 mungkin bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ambisi politik meskipun sudah mengalami kekakalahan bertahun-tahun ternyata tidak lantas membuat orang kehilangan sahwat politiknya. Apalagi kini mau tidak mau pamor sebagai bapak reformasi kian meredup sejak ia memilih menjadi oposisi. Sehingga boleh dikata cara-cara yang digunakan pun kadang tidak wajar.

Berdasarkan kenyataan di atas patutlah disayangkan, jika memang itu adalah figur Amien Rais sekarang. Sebab, sosok Amien Rais yang dulunya pejuang reformasi, justru kini dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya. Bagaimanapun, sebagai seorang oposisi harusnya tetap memberikan contoh cara-cara politik yang santun, agar hal tersebut bisa sebagai contoh proses etika berpolitik di Indonesia.