Jun

09

Posted by : Khilmi | On : 9 June 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

Masyarakat baru-baru ini sempat digemparkan dengan statemen  kontroversial yang diucapkan oleh Amien Rais terkait pengelompokan partai di Indonesia. Ia menyatakan bahwa partai-partai di Indonesia dimasukkan ke dalam dua kelompok yaitu partai setan dan partai Allah (cnnindonesia.com, 13/4/18). Tentu pernyataan tersebut memantik reaksi banyak pihak, apalagi tahun ini berada diposisi menjelang tahun politik 2019. Banyak pihak menyayangkan pernyataan tersebut, terlebih hal itu dikemukakan ditengah acara kegamaan di masjid Baiturrahman, Mampang, Jakarta Selatan. Bagamana mungkin tempat ibadah digunakan sebagai podium politik. Tentu hal ini bertentangan dengan aturan dan etika politik di Indonesia salah satunya larangan penggunaan tempat ibadah sebagai ajang berpolitik.

Entah apa yang ada dalam pikiran sesosok Amien Rais. Jika melihat kiprah politik, sosok Amien Rais bukan orang baru dalam dunia politik. Julukan bapak Reformasi yang masih disandangnya tentu membuktikan bahwa ia adalah orang yang benar-benar berjasa dalam perubahan konstalasi politik Indonesia. Apalagi jika melihat bagaimana peristiwa Mei 1998 kala itu, Amien Rais dengan gigihnya membakar semangat mahasiswa untuk turun aksi menuntut presiden Suharto mundur dari jabatannya. Sungguh kala itu memang banyak orang mengagumi bahkan mengidolakannya.

Sebagai tokoh reformis, tentu sosok Amien Rais tidak lepas dari asam garam dunia organisasi. Mulai dari gerakan mahasiswa, menduduki jabatan ketua MPR, hingga sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Pengalaman tersebut merupakan bukti jika ia seorang organisatoris ulung. Dengan sekian pengalaman organisasi yang pernah diemban, pasti secara sadar memahami makna etika organisasi. Salah satu etika dalam organisasi adalah tentang pentingnya cara yang santun dalam menyampaikan pendapat baik ide, gagasan, saran ataupun kritik. Sehingga dengan cara penyampaian  yang santun, baik ide, gagasan, saran atau kritik bisa diterima dengan baik oleh khalayak, bukan justru menuai banyak kecaman.

Partai Setan vs Partai Allah

Barang kali baru kali pertama ini ada seorang tokoh bangsa yang berani mendikotomi partai-partai politik di Indonesia menjadi dua kutub, yakni partai setan dan partai Allah. Apalagi yang membuat pernyataan adalah seorang yang juga berlatar belakang akademisi. Secara penamaan dan sisi bahasa sungguh tidak masuk akal. Bayangkan dunia politik yang notabene adalah sebuah kondisi nyata harus dibawa-bawa ke ranah kategori abstrak yang hanya menimbulkan ketimpangan persepsi.

Dari sisi penamaan saja sudah terdengar ngeri sekaligus menggelikan. Mari coba telaah kata partai setan. Secara bahasa pengertian partai bersinonim dengan kelompok atau perkumpulan yang memiliki tujuan politis, dalam hal ini makna partai bisa dimaknai secara mudah. Namun yang menjadi permasalahan adalah pemberian imbuhan kata setan setelah kata partai sehingga menjadikan dua kata tersebut sebagai frasa. Selanjutnya makna setan, secara bahasa setan diasosiakan sebagai makhluk yang tidak bisa dilihat secara kasat, menyeramkan, dan yang bertugas mengganggu manusia. Dengan demikian, apabila diterjemahkan pun juga akan memiliki dua pengertian yang berbeda yaitu, pertama sebagai kelompok setan yang bertugas mengganggu, dan kedua memiliki pengertian kelompok miliknya setan. Dari pengertian tersebut sungguh, bahwa makna dari partai setan bisa saja melahirkan miskonsepsi yang tidak masuk akal dan berlebihan apabila masyarakat tidak bisa mencerna pemahaman frasa tersebut.

Selanjutnya pola kata partai Allah yang juga kurang lebih sama bentuknya dengan pola partai setan di atas. Partai Allah juga membentuk satu frasa. Hanya saja yang membedakan adalah pengertiannya saja. Pengertian disini adalah kata kedua dari kata Allah. Allah disini dimaksudkan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu frasa partai Allah juga memiliki dua makna yang juga ambigu. Dua makna tersebut yaitu, pertama sebagai kelompok Tuhan dan yang kedua sebagai kelompoknya Tuhan. Nah pengertian ini jelas mengandung unsur kontroversi dan menimbulkan pertanyaan, apakah Tuhan itu berkelompok padahal katanya Esa? Kemudian juga menimbulkan pertanyaan apakah Tuhan punya kelompok? Sama halnya dengan penjelasan di atas, frasa ini memiliki pemahaman yang tidak bisa dinalar oleh logika. Oleh sebab itu, sebagai tokoh dan panutan publik, hendaknya sosok Amien Rais tidak mengeluarkan bahasa-bahasa atau tuturan yang tidak selayaknya.

Etika Politik

Sudah menjadi rahasia umum jika sosok Amien Rais mengambil peran oposisi pada pemerintahan Jokowi-JK. Sejak kalah dalam pesta pemilu presiden tahun 2013 silam, bersama partai yang didirikannya yang tak lain PAN bersama-sama dengan Gerindra dan PKS memilih untuk tetap menjadi oposisi pemerintah. Ibarat tim sepak bola, ketiga partai ini begitu semangat menyuarakan kritikan kepada pemerintah khususnya kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemerintah. Lantas apa yang juga membuat Amien Rais kini begitu sengit menyuarakan kritikan kepada pemerintah, hingga timbul kontroversial ditengah masyarakat?

Sebagai seorang organisatoris pasti yang bersangkutan memiliki beragam alasan untuk menangkis isu-isu kontroversial yang telah terlanjur dikeluarkan. Namun apabila hal tersebut kemudian juga terlanjur didengar oleh masyarakat, bahkan menjadi pemberitaan nasional, pasti masyarakat juga memampunyai beragam argumen untuk mengometari pernayataan kontroversial tersebut. Apalagi ternyata selain menimbulkan kecaman juga makin memperkeruh suasana politik ditanah air, terlebih masyarakat baru saja dibuat geram terhadap perilaku ketua DPR RI Setya Novanto yang kini menjadi tersangka KPK dugaan korupsi KTP-El.

Jika menilik masa lalu sosok Amien Rais yang pernah gagal mencalonkan diri menjadi persiden RI tahun 2004 mungkin bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ambisi politik meskipun sudah mengalami kekakalahan bertahun-tahun ternyata tidak lantas membuat orang kehilangan sahwat politiknya. Apalagi kini mau tidak mau pamor sebagai bapak reformasi kian meredup sejak ia memilih menjadi oposisi. Sehingga boleh dikata cara-cara yang digunakan pun kadang tidak wajar.

Salah satu persepsi publik yang kian masuk akal akan ambisi Amien Rais salah satunya saat tahun 2017 lalu. Bersama-sama dengan munculnya gerakan-gerakan yang mengatasnamakan agama Amien Rais terlihat tampak tampil ke depan. Aksi ini kemudian menamakan dirinya sebagai aksi bela agama 212. Ditambah waktu itu isu terkait agama begitu sensitif.  Publik pun bisa menebak dengan jelas maksud tersembunyi Amien Rais dalam acara tersebut.

Berdasarkan kenyataan di atas patutlah disayangkan, jika memang itu adalah figur Amien Rais sekarang. Sebab, sosok Amien Rais yang dulunya pejuang reformasi, justru kini dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya. Bagaimanapun, sebagai seorang oposisi harusnya tetap memberikan contoh cara-cara politik yang santun, agar hal tersebut bisa sebagai contoh proses etika berpolitik di Indonesia.

*Mahasiswa S2 Linguistik, Universitas Brawijaya

 

 

 

 

Jun

08

Posted by : Khilmi | On : 8 June 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

(Esei Kategori Critical Discourse Analysis)

Masyarakat baru-baru ini sempat digemparkan dengan statemen  kontroversial yang diucapkan oleh Amien Rais terkait pengelompokan partai di Indonesia. Ia menyatakan bahwa partai-partai di Indonesia dimasukkan ke dalam dua kelompok yaitu partai setan dan partai Allah (cnnindonesia.com, 13/4/18). Tentu pernyataan tersebut memantik reaksi banyak pihak, apalagi tahun ini berada diposisi menjelang tahun politik 2019. Banyak pihak menyayangkan pernyataan tersebut, terlebih hal itu dikemukakan ditengah acara kegamaan di masjid Baiturrahman, Mampang, Jakarta Selatan. Bagamana mungkin tempat ibadah digunakan sebagai podium politik. Tentu hal ini bertentangan dengan aturan dan etika politik di Indonesia salah satunya larangan penggunaan tempat ibadah sebagai ajang berpolitik.

Barang kali baru kali pertama ini ada seorang tokoh bangsa yang berani langsung mendikotomi partai-partai politik di Indonesia. Apalagi yang membuat pernyataan adalah seorang yang juga berlatar belakang akademisi sekaligus seorang tokoh reformasi. Namun anehnya, secara penamaan dan sisi bahasa sungguh tidak masuk akal. Bayangkan dunia politik yang notabene adalah sebuah kondisi nyata harus dibawa-bawa ke ranah kategori abstrak yang hanya menimbulkan ketimpangan persepsi.

Dari sisi penamaan saja sudah terdengar ngeri sekaligus menggelikan. Mari coba telaah kata partai setan. Secara bahasa, pengertian partai bersinonim dengan kelompok atau perkumpulan, dalam hal ini makna partai bisa dimaknai secara mudah. Namun yang menjadi permasalahan adalah pemberian imbuhan kata setan setelah kata partai sehingga menjadikan dua kata tersebut sebagai frasa. Selanjutnya makna setan, secara bahasa setan diasosiakan sebagai makhluk yang tidak bisa dilihat secara kasat, menyeramkan, dan yang bertugas mengganggu manusia. Dengan demikian, apabila diterjemahkan pun juga akan memiliki dua pengertian yang berbeda yaitu, pertama sebagai kelompok setan yang bertugas mengganggu, dan kedua memiliki pengertian kelompok miliknya setan. Dari pengertian tersebut sungguh, bahwa makna dari partai setan bisa saja melahirkan miskonsepsi yang tidak masuk akal dan berlebihan apabila masyarakat tidak bisa mencerna pemahaman frasa tersebut.

Selanjutnya pola kata partai Allah yang juga kurang lebih sama bentuknya dengan pola partai setan di atas. Partai Allah juga membentuk satu frasa. Hanya saja yang membedakan adalah pengertiannya. Pengertian di sini adalah kata kedua yaitu kata Allah. Allah disini dimaksudkan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu, frasa partai Allah juga memiliki dua makna yang juga ambigu. Dua makna tersebut yaitu, pertama sebagai kelompok Tuhan dan yang kedua sebagai kelompoknya Tuhan. Nah pengertian ini jelas mengandung unsur kontroversi dan menimbulkan pertanyaan, apakah Tuhan itu berkelompok padahal katanya Esa? Kemudian juga menimbulkan pertanyaan apakah Tuhan punya kelompok? Sama halnya dengan penjelasan di atas, frasa ini memiliki pemahaman yang tidak bisa dinalar oleh logika. Oleh sebab itu, sebagai tokoh dan panutan publik, hendaknya sosok Amien Rais tidak mengeluarkan bahasa-bahasa atau tuturan yang tidak selayaknya.

Etika Politik

Sudah menjadi rahasia umum jika sosok Amien Rais mengambil peran oposisi pada pemerintahan Jokowi-JK. Sejak kalah dalam pesta pemilu presiden tahun 2013 silam, bersama partai yang didirikannya yang tak lain PAN bersama-sama dengan Gerindra dan PKS memilih untuk tetap menjadi oposisi pemerintah. Ibarat tim sepak bola, ketiga partai ini begitu semangat menyuarakan kritikan kepada pemerintah khususnya kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemerintah. Lantas apa yang juga membuat Amien Rais kini begitu sengit menyuarakan kritikan kepada pemerintah, hingga timbul kontroversial ditengah masyarakat?

Jika menilik masa lalu sosok Amien Rais yang pernah gagal mencalonkan diri menjadi persiden RI tahun 2004 mungkin bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ambisi politik meskipun sudah mengalami kekakalahan bertahun-tahun ternyata tidak lantas membuat orang kehilangan sahwat politiknya. Apalagi kini mau tidak mau pamor sebagai bapak reformasi kian meredup sejak ia memilih menjadi oposisi. Sehingga boleh dikata cara-cara yang digunakan pun kadang tidak wajar.

Berdasarkan kenyataan di atas patutlah disayangkan, jika memang itu adalah figur Amien Rais sekarang. Sebab, sosok Amien Rais yang dulunya pejuang reformasi, justru kini dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya. Bagaimanapun, sebagai seorang oposisi harusnya tetap memberikan contoh cara-cara politik yang santun, agar hal tersebut bisa sebagai contoh proses etika berpolitik di Indonesia.

Jun

01

Posted by : Khilmi | On : 1 June 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

(Edisi tulisan kajian budaya)

Ket : Hardjo Kardi, sesepuh Samin Bojonegoro 

Pada tanggal 21-22 April 2018 lalu saya diberi kesempatan bisa mengujungi komunitas Samin di Bojonegoro. Bersama dengan rombongan Mahasiswa S2 Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, kunjungan terasa hangat dan menyenangkan. Kegiatan tersebut dibingkai dalam bentuk studi lapangan sehingga tujuannya jelas, yaitu kunjungan yang berbasis pengetahuan budaya.

Sebanyak 15 mahasiswa turut dalam kegiatan itu dengan didampingi satu dosen pembimbing. Tugas mahasiswa saat tiba di tempat studi lapangan tak lain untuk mengobservasi bahasa dan budaya yang ada pada komunitas Samin. Tak pelak mahasiswa harus fokus pada tugas itu. Bentuk tugas juga bebas asal tidak lepas dari tema bahasa dan budaya.

Oleh sebab tugas yang ditentukan bebas maka saya tertarik untuk membahas tentang perilaku kejujuran komunitas Samin. Kenapa? Karena bagi saya nilai kejujuran zaman sekarang makin susah untuk diterapkan, sedangkan komunitas Samin ternyata masih bisa membumikan nilai-nilai kejujuran itu pada perilaku kehidupannya.

Komunitas Samin merupakan salah satu komunitas yang masih menjaga kearifan lokal hingga sekarang. Komunitas ini tersebar di beberapa daerah di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah Komunitas Samin menyebar di wilayah kabupaten Blora, Rembang, kudus, dan Pati. Sedangkan di Jawa Timur komunitas Samin berada di Wilayah kabupaten Ngawi dan Bojonegoro.

Komunitas Samin yang ada di Bojonegoro bertempat tinggal tepatnya di dusun Jepang, desa Margomulyo, kecamatan Margomulyo. Secara geografis letak dusun Jepang berada di tengah kawasan hutan Jati. Dalam kehidupannya, mereka masih menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Samin antara lain, selalu bertindak jujur, tidak iri, tidak dengki, Sabar, trokal atau selalu berdaya upaya, tidak suka menyinggung perasaan orang lain baik fisik atau nonfisik, dan masih menjunjung tinggi budaya hidup gotong royong.

Sesepuh Samin yang masih hidup saat ini bernama Hardjo Kardi atau biasa dipanggil Mbah Hardjo. Mbah Hardjo berkisah, Samin di dusun Jepang hingga saat ini masih menerapkan dan memelihara budaya gotong royong. Apabila ada orang menanam Jagung, maka disini masih menerapkkan gotong royong saling membantu tanpa diberi upah, dan begitu seterusnya untuk kegiatan apapun yang ada di masyarakat Samin secara bergantian. Satu membutuhkan maka lainnya berkewajiban membantu tanpa diberi upah sepeser pun.

Mbah Hardjo juga menambahkan, apabila disini ada orang yang berbuat tidak jujur maka ia yakin hukum karma akan menimpa pada orang tersebut. Maka pantang bagi komunitas Samin untuk tidak jujur dalam kehidupan. Sehingga tidaklah heran, berkat budaya kejujuran yang sudah melekat pada komunitas Samin, wilayah Samin tergolong aman dan lingkungan alamnya masih terjaga kelestariannya. Sebab pantang bagi masyarakat Samin untuk mengambil yang bukan haknya.

Sekilas Ajaran Samin

Masyarakat Samin adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga sekarang dianggap menjengkelkan oleh kelompok di luarnya. Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga pada tahun ’70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka.

Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, tidak suka mencuri, menolak membayar pajak, dan acap menjadi bahan lelucon terutama di kalangan masyarakat Bojonegoro. Pendiri ajaran ialah Samin Surosentiko, yang nama aslinya Raden Kohar, kelahiran Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, tahun 1859, dan meninggal saat diasingkan ke Padang, 1914.

Komunitas Samin mempunyai ajaran yang ditaati dan diterapkan hingga sekarang. Pokok-pokok ajaran Saminisme meliputi; pertama, agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya. Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, dan jangan suka mengambil milik orang. Kedua, Bersikap sabar dan jangan sombong. Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya. Dan yang ketiga, bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam perdagangan terdapat unsur “ketidakjujuran”. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk uang.

Makna Jujur

Jujur menurut pengertiannya adalah suatu perbuatan atau yang didasarkan apa adanya tanpa harus diada-adakan. Maksud jujur berarti apabila berbuat sesuatu maka harus sesuai dengan kenyataan. Disinilah letak komunitas Samin menerapkan perbuatan tersebut dalam kehidupannya hingga saat ini.

Saat bertemu dengan sesepuh Samin, Mbah Hardjo Kardi, beliau menerangkan bahwa komunitas Samin pantang untuk tidak berperilaku jujur. Alasannya adalah jika manusia berbuat tidak jujur maka selanjutnya pasti bakal mencederai atau melukai orang lain dalam perbuatannya.

Menyimak alasan yang dijelaskan Mbah Hardjo di atas, maka saya mencoba untuk menelaah kejujuran yang dimaksudkan. Dengan harapan mampu menerjemahkan maksud yang disampaikan.

Jika ditelaah lebih lanjut apa yang disampaikan mbah Hardjo di atas maka kita bisa mengambil analisis logika sebagai berikut. “Tidak jujur dan melukai orang lain.” Sebab, dalam kehidupan sehari-hari maka kita sering dibenturkan dengan perbuatan baik disadari atau tidak dengan perilaku tidak jujur. Mari coba renungkan, hal sederhana saja, kita sedang ditelepon oleh teman karena sudah berjanji pada pukul sekian bertemu, tapi saat ditelepon mengatakan sedang berada di jalan, padahal kenyataannya masih akan berangkat.

Menilik ilustrasi di atas, kita tidak sama sekali merugikan teman kita, atau kita tidak merasa bersalah karena alasan tersebut bakal tidak diketahui oleh teman kita. Namun yang perlu digaris bawahi adalah kita sudah tidak berbuat jujur pada diri kita sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri berarti sudah bohong dengan diri sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri maka secara tidak sadar belajar untuk menanamkan nilai-nilai ketidakjujuran pada diri. Hal yang demikian pastinya akan merembet ke dalam lini kehidupan dimanapun secara perlahan. Sehingga lambat laun akan membesar dan berpotensi menjadi kebiasaan.

Kembali pada pernyataan mbah Hardjo ketidakjujuran melukai orang lain. Pernyataan tersebut sangat benar adanya. Sebab apabila ketidakjujuran sudah menjadi kebiasaan maka itu akan menjalar kepada lini kehidupan dan akibatnya secara tidak sadar berimbas pada dimensi sosial. Maka untuk mengantisipasi atau mencegah kebiasaan tidak jujur alangkah baiknya untuk belajar jujur dimulai dari diri sendiri.

*artikel ditulis sebagai kajian pada kelas language and culture

 

May

31

Posted by : Khilmi | On : 31 May 2018

Refleksi Hardiknas 2 Mei 2012

Oleh Khilmi Mauliddian*

(artikel telah dimuat di Jawa Pos Radar Sulawesi Barat)

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jika sekilas kita baca, peribahasa tersebut mungkin terkesan kasar. Namun, jika kita melihat realita, itu merupakan gambaran jika menjadi guru berarti siap menjadi model atau teladan untuk muridnya. Menjadi seorang guru berarti siap memegang amanah dan tanggung jawab besar. Menjadi seorang guru berarti siap  mempertanggungjawabkan kelangsungan masa depan generasi bangsa ini. Salah menjadi guru, maka generasi bangsa ini akan terancam hancur.

Bicara mengenai sosok guru merupakan suatu hal yang menarik untuk dikaji. Apalagi jika melihat fenomena banyaknya peminat yang ingin menjadi guru sekarang ini, sungguh sangat mengagumkan. Bayangkan, berbondong-bondong lulusan perguruan tinggi yang notabene sarjana produktif, antri melamar menjadi guru. Padahal kalau kita mau telisik di era 80an, banyak orang yang menolak menjadi guru. Alasannya sepele, gajinya terlalu kecil. Atau, tidak mau karena penugasannya di luar pulau atau di pedalaman. Ironis, berbanding terbalik dengan fenomena sekarang ini.

Gambaran tersebut boleh saja dikatakan wajar, menjadi guru di masa sekarang berbeda dengan menjadi guru di masa lalu. Guru sekarang sangat dimanjakan oleh pemerintah. Terlebih, guru telah ditetapkan menjadi bagian dari profesi kerja, sama seperti dokter, akuntan, dan sejenisnya. Beragam cara dilakukan oleh pemerintah untuk mengatur kebijakan mengenai kesejahteraan guru. Mulai dari kenaikan gaji, hingga iming-iming tunjangan bagi guru yang sudah bersertifikasi. Sungguh suatu hal yang patut diapresiasi dan disyukuri. Guru bukan lagi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, melainkan sebagai pahlawan yang berjasa.

Problematika Kualitas Guru

Kemudian, jika peran pemerintah terhadap upaya memperhatikan kesejahteraan guru sudah terwujud, bukti apa yang akan diberikan guru untuk meningkatkan kualitas dalam mendidik muridnya? Kesejahteraan guru yang diberikan pemerintah pastinya tidak tanpa alasan.  Pemerintah membuat kebijakan tersebut tentunya agar selain guru sejahtera, juga kualitas guru makin meningkat. Namun apakah hal tersebut sudah dibarengi dengan meningkatnya kualitas guru itu sendiri?

Alangkah ironis jika pemerintah sudah memberikan banyak ruang kepada guru, namun kualitas guru masih saja sama dan belum ada peningkatan. Sebenarnya sangat sederhana, kualitas guru tercermin dari bagaimana cara ia mendidik murid-muridnya. Bagaimana ia dapat mengajar dengan baik dihadapan murid-muridnya. Namun kebanyakan guru lupa, mengajar masih melulu dijadikan sebagai rutinitas kerja saja. Entah disadari atau tidak, kebanyakan guru masih belum ‘paham betul’ dengan tugasnya. Kebanyakan guru masih berkutat pada jam mengajarnya, absennya, berapa gajinya,  dan parahnya karena sibuk mengurus sertifikasi, siswanya yang menjadi korban. Dan yang terjadi, guru belum menyentuh pada substansinya sebagai seorang pengajar atau pendidik.

Lalu apa yang menjadi permasalahan sehingga masih banyak guru yang kualitasnya masih jauh dari harapan? Kalau mau melihat lebih peka, akar permasalahannya terletak pada proses awal pengangkatan guru itu sendiri. Apalagi sekarang ini banyak orang berlomba-lomba mengejar profesi guru, namun tidak memperhatikan kualitas dirinya. Dan tragisnya banyak yang ingin menjadi guru karena alasan pragmatis saja tanpa ada niat kesungguhan. Seperti, menjadi guru karena tidak diterima ditempat kerja lain, karena dekat dengan pejabat, supaya jadi PNS, atau parahnya menjadi guru dengan dalih daripada menganggur dan berharap dapat tunjangan. Secara kasat mata alasan-alasan seperti itu seringkali dijumpai dalam kehidupan masyarakat. Sungguh sangat menyedihkan jika paradigma semacam itu terus dibiarkan terjadi.

Kondisi tersebut sebenarnya tidak bisa disalahkan namun tidak juga patut dibenarkan. Dikatakan tidak dapat disalahkan karena setiap orang mempunyai hak dan kesempatan untuk belajar walau berangkat dengan berbagai alasan. Dan menjadi guru berarti ia mau belajar. Bagaimana mungkin ia tidak belajar, karena yang dihadapinya adalah murid yang tentunya membutuhkan keterampilan untuk menghadapinya. Sedangkan tidak patut dibenarkan karena untuk menjadi guru harus mempunyai syarat dan kecakapan yang terukur. Tentunya syarat dan kecakapan untuk menjadi guru telah diatur dalam undang-undang sisdiknas.

Lalu, siapakah yang seharusnya tegas terhadap permasalahan tersebut? Tentunya pemerintahlah yang harusnya lebih tegas lagi menyikapinya. Namun apakah hanya pemerintah pusat saja, tentu tidak. Masih ada pemerintah daerah dalam hal ini para pemangku atau pejabat pendidikan daerah yang harus ikut ambil bagian untuk benar-benar mengawal undang-undang yang mengatur hal tersebut. Dan tentunya syarat mutlak dalam mengawal diperlukan integritas tinggi dan bersikap independen. Maksudnya, para pemangku pendidikan tersebut mengawal pengangkatan guru dengan bobot yang berkualitas dan objektif tanpa harus diikuti dengan kepentingan lain. Sehingga guru yang diangkat adalah guru yang benar-benar terpilih dan berkualitas. Kalaupun perlu, pengangkatan guru harusnya diadakan uji kelayakan dan kepatutan yang dapat dipertanggungjawabkan kualitas dan kredibelitasnya. Kesadaran dan kondisi semacam inilah yang belum dimiliki oleh bangsa ini.

Kondisi kualitas dan integritas proses pengangkatan guru memang masih menjadi buah simalakama di negara kita. Bagaimana tidak, realitasnya banyak pemangku pendidikan kita sendiri yang dengan seenaknya masih memanfaatkan untuk kepentingannya. Sehingga yang terjadi, kondisi pengangkatan guru di negara kita masih jauh tertinggal kualitasnya dibanding negara-negara maju. Kalau mau melihat ke negara lain, seperti Amerika, Jepang, China, bahkan negara tetangga kita Singapura, jalan yang ditempuh seseorang untuk menjadi seorang guru jauh lebih sulit daripada menjadi guru di negara kita sendiri. Hal tersebut karena adanya syarat uji kelayakan dan kepatutan yang harus dilalui. Karena pekerjaan menjadi guru adalah pekerjaan yang mempunyai kelas tertinggi dari pekerjaan lain. Menjadi guru di negara-negara tersebut merupakan sebuah kehormatan tinggi karena mendidik generasi bangsanya. Oleh karenanya pemerintah dan pemangku pendidikan di negara-negara tersebut sangat menghargai peran dan jasa guru.

Tingkatkan Kualitas dengan Belajar

Gambaran permasalahan di atas seyogianya marilah sama-sama renungkan. Kalaupun masalah tersebut belum bisa mendapatkan jalan keluar yang pantas, setidaknya yang sudah menjadi guru berarti kini harus mulai sadar. Toh, guru pun harus terus butuh pembelajaran agar menjadi lebih baik lagi. Dan siapa yang bertugas membenahi kualitas guru? Sekarang saatnya guru sendirilah yang harus berani berinisiatif membuktikan dengan membuat gebrakan dan prestasi yang membanggakan agar kualitasnya teruji. Terlepas itu guru honor sekolah, honor daerah, guru swasta atau PNS sekalipun. Jika memang ia mampu menoreh dan membuat terobosan atau prestasi yang membanggakan, pemerintah atau masyarakat pasti tidak akan tinggal diam. Pasti akan ada reward yang ia terima, terlebih akses informasi sekarang ini sudah sangat terbuka lebar, sehingga masyarakat ataupun pemerintah dengan mudah dan cepat mengetahui siapa saja yang telah membuat prestasi atau mampu membuat ide yang cemerlang. Dan kenyataannya, sudah ada figur guru yang ternyata tanpa ia sadari mendapat penghargaan karena ide-ide cemerlang yang ia terapkan pada anak didiknya saat mengajar. Tentunya guru seperti itu tulus dalam melakukannya karena merasa menjadi guru adalah sebuah kehormatan.

Menjadi guru jangan pernah setengah hati untuk terus dan mau belajar dalam mendidik siswa. Butuh keuletan dan totalitas yang nyata dalam mengajar. Bukan lagi selalu mengeluh karena urusan pangkat, golongan, dan sejenisnya. Atau parahnya, mengajar masih saja dijadikan alasan untuk menggugurkan kewajiban. Mulai sekarang buat paradigma baru untuk menunjukkan prestasi yang nyata. Kalaupun perlu ubah mindset guru dari hanya sekadar mengajar, kini jadikan mengajar sebagai ladang belajar atau eksperimen untuk mencetuskan terobosan-terobosan cemerlang dan kreatif. Terlebih jika mampu out of the box akan lebih baik. Inilah guru idaman masa depan, sehingga bangsa ini akan banyak mempunyai guru yang kualitasnya dapat diperhitungkan dikancah global. Pastinya guru yang demikian akan mampu menelurkan generasi masa depan bangsa yang berkualitas.

Jadi, kualitas guru tidak akan bisa meningkat, jika dalam diri seorang guru masih saja belum ada niatan untuk meningkatkan kualitas dirinya untuk terus mau belajar. Jika hal itu terus terjadi, berarti pilar pendidikan bangsa ini yang tak lain adalah guru akan terancam hancur. Kalau sudah seperti itu, hancur pulalah negara kita.

Sebagai wujud instropeksi mari maknai kembali ajaran luhur dari Bapak pendidikan kita yang tak lain Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarsa sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, dalam segenap hati sanubari hingga akhirnya benar-benar mengerti akan hakikat guru sesungguhnya. Jika guru masih tetap malas untuk belajar, alangkah baiknya berhentilah mengajar. Semoga di hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei hari ini, menjadi refleksi untuk menyadarkan dan mengembalikan peran guru sebagai pilar utama masa depan bangsa ini.

*Penulis adalah Pengajar Muda Indonesia Mengajar

NB : artikel asli

May

25

Posted by : Khilmi | On : 25 May 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

Media sosial dan media pemberitaan pernah digemparkan dengan pemberitaan tentang seorang mahasiswa S2 UGM yang kesal lantaran lamanya mengantre di salah satu SPBU kota Yogyakarta (berita merdeka.com, 28/8/14). Lantaran kesal, tak sadar ia melontarkan kata-kata pedas untuk masyarakat Yogya, tentu saja hal ini langsung mendapat reaksi publik yang beragam khususnya warga Yogyakarta. Reaksi yang timbul sebagian besar adalah hujatan dan makian, tentu kalau kita melihat sendiri ungkapan yang keluar, betapa miris mendengarnya.

Fenomena di atas merupakan sedikit dari kejadian yang mengemuka di publik. Padahal kalau mau lebih jeli, kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri, betapa banyak hujatan dan makian selalu muncul dalam lingkungan sekitar baik orang dewasa dengan orang dewasa atau anak-anak dengan teman sepermainannya. Bahkan yang lebih menyayat hati, apabila kalimat hujatan dan makian itu dilontarkan oleh kaum terpelajar. Sungguh ironi. Pertanyaannya, kenapa itu bisa terjadi?

Pendidikan Etika dan Masalahnya
Institusi pendidikan sebagai kawah candradimuka kaum terpelajar tentu mempunyai peran penting dalam pembangunan karakter generasi bangsa. Pembangunan karakter bukan hanya dalam bentuk pembentukan intelektual, tapi meliputi pembangunan kepribadian diri yang disebut moral atau etika.

Dalam dunia pendidikan tentunya hal ini merupakan paket komplit yang wajib diterapkan. Mengingat, dengan kedua proses tersebut harapan ke depan pendidikan akan mampu melahirkan generasi hebat dan berkarakter. Namun seiring perkembangan zaman, tentu proses pendidikan akan mengalami banyak tantangan. Mengingat pola perubahan zaman sekarang ini sarat diiringi proses perkembangan kemajuan salah satunya perkembangan teknologi yang begitu cepat. Sehingga muncul juga kebiasaan-kebiasaan baru yang tumbuh seiring sejalan dengan kehidupan.
Wajar dengan pendidikan para orang tua berharap agar anak-anaknya kelak bisa lebih sukses masa depannya. Dengan pendidikan pemerintah berharap akan mampu mendapatkan sumberdaya manusia yang berkualitas untuk membangun bangsanya sendiri. Tapi, jika pendidikan ternyata hanya masih melahirkan manusia yang unggul hanya dalam bidang intelektual atau basis ilmu saja, apa ini dinamakan sudah berhasil? Tentu jawabannya belum.

Ada sebuah ungkapan, mencetak manusia pintar itu mudah, tapi mencetak manusia pintar dan beretika itu susah. Acapkali saat merenungkan kalimat tersebut ada benarnya. Saat pendidikan kita harus berhadapan dengan kemajuan zaman, maka disitulah tantangan itu datang. Apalagi tantangan paling berat adalah menanamkan pendidikan etika.

Entah disadari atau tidak pendidikan etika era sekarang makin kian luntur, terlepas sebenarnya banyak buku-buku disekolah yang menuliskan tentang materi etika. Justru kenyataannya hanya masih menjadi bacaan yang tetap berada pada tempatnya. Terlebih semakin banyak generasi bangsa yang tak lagi mementingkan etika yang seharusnya seperti contoh kasus yang penulis sampaikan di atas.

Menanamkan Etika
Bagaimana tidak terkejut saat seorang mahasiswa yang sudah mengambil program S2, berpendidikan tapi masih menghina dengan perkataan yang tak seharusnya. Padahal kalau dari segi pendidikan ia sudah menempuh jenjang yang tinggi. Tentu secara kepribadian ia seharusnya memahami konsep etika dengan berpikir panjang sebelum mengeluarkan statemen. Tapi itulah, kenyataan berkata lain, krisis etika mungkin sekarang telah melanda hingga segala lini kehidupan. Mulai dari anak-anak yang berani terhadap orang tua, murid kepada guru, berkelahi dengan teman, berkata kotor, seks bebas, hingga perbuatan korupsi dan lain-lain.

Pendidikan etika merupakan bagian terpenting untuk membentuk manusia seutuhnya. Maksud seutuhnya tentu memunyai makna manusia yang pintar, cerdas dan bermoral. Nah, disinilah perlu upaya yang lebih serius untuk menanamkan nilai-nilai etika agar bisa mencapai tujuan menjadi manusia bermoral. Upaya pemerintah untuk mencapai pendidikan yang bermoral dengan strategi pendidikan yang dicanangkan pasti terus dilakukan, tapi buat apa jika peran orang tua, guru, dosen atau pemerintah sendiri masih belum maksimal dalam menanamkan nilai-nilai etika dan ternyata belum bisa memberikan contoh yang baik.

Lantas siapa yang akan bertanggungjawab terhadap keberlangsungan generasi bangsa yang konon Indonesia terkenal dengan keramahannya? Apakah hanya pemerintah saja, sekolah, guru, orang tua, dosen? Mari saatnya kita semua giatkan kesadaran kembali untuk berlatih diri menanamkan kesadaran pendidikan etika pada generasi bangsa. Dengan bahasa sederhana, jika ingin dihargai orang lain maka belajarlah menghargai.

*Penulis  adalah alumni Pengajar Muda Indonesia Mengajar, Mahasiswa S2 Linguistik Universitas Brawijaya

 

May

04

Posted by : Khilmi | On : 4 May 2018

Pada tanggal 21-22 April 2018 lalu saya diberi kesempatan bisa mengujungi komunitas Samin di Bojonegoro. Bersama dengan rombongan Mahasiswa S2 Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya kunjungan terasa hangat dan menyenangkan. Kegiatan tersebut dibingkai dalam bentuk studi lapangan sehingga tujuannya jelas, yaitu kunjungan yang berbasis ilmiah.

Sebanyak 15 mahasiswa turut dalam kegiatan itu dengan didampingi satu dosen pembimbing. Tugas mahasiswa saat tiba di tempat pada studi lapangan adalah mengobservasi bahasa dan budaya yang ada pada komunitas Samin. Tak pelak mahasiswa harus fokus pada tugas itu. Bentuk tugas juga bebas asal tidak lepas dari tema bahasa dan budaya.

Oleh sebab tugas yang ditentukan bebas maka saya tertarik untuk membahas tentang perilaku kejujuran komunitas Samin. Kenapa? Karena bagi saya nilai kejujuran zaman sekarang makin susah untuk diterapkan, sedangkan komunitas Samin ternyata masih bisa membumikan nilai-nilai kejujuran itu pada perilaku kehidupannya.

Jujur menurut pengertiannya adalah suatu perbuatan atau yang didasarkan apa adanya tanpa harus diada-adakan. Maksud jujur berarti apabila berbuat sesuatu maka harus sesuai dengan kenyataan. Disinilah letak komunitas Samin menerapkan perbuatan tersebut dalam kehidupannya hingga saat ini.

Saat saya bertemu dengan sesepuh Samin, mbah Hardjo Kardi, beliau menerangkan bahwa komunitas Samin pantang untuk tidak berperilaku jujur. Alasannya adalah jika manusia berbuat tidak jujur maka selanjutnya pasti bakal mencederai atau melukai orang lain dalam perbuatannya.

Menyimak alasan yang dijelaskan mbah Hardjo di atas, maka saya mencoba untuk menelaah kejujuran yang dimaksudkan. Dengan harapan mampu menerjemahkan maksud yang disampaikan.

Jika ditelaah lebih lanjut apa yang disampaikan mbah Hardjo di atas maka kita bisa mengambil analisis logika sebagai berikut. “Tidak jujur dan melukai orang lain.” Sebab, dalam kehidupan sehari-hari maka kita sering dibenturkan dengan perbuatan baik disadari atau tidak dengan perilaku tidak jujur. Mari coba renungkan, hal sederhana saja, kita sedang ditelpon oleh teman karena sudah berjanji pada pukul sekian bertemu, tapi saat ditelpon bilang sedang berada di jalan, padahal kenyataannya masih akan berangkat.

Menilik ilustrasi di atas, kita tidak sama sekali merugikan teman kita, atau kita tidak merasa bersalah karena alasan tersebut bakal tidak diketahui oleh teman kita. Namun yang perlu digaris bawahi adalah kita sudah tidak berbuat jujur pada diri kita sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri berarti sudah bohong dengan diri sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri maka secara tidak sadar belajar untuk menanamkan nilai-nilai ketidakjujuran pada diri. Hal yang demikian pastinya akan merembet ke dalam lini kehidupan dimanapun secara perlahan. Sehingga lambat laun akan membesar dan berpotensi menjadi kebiasaan.

Kembali pada pernyataan mbah Hardjo ketidakjujuran melukai orang lain. Pernyataan tersebut sangat benar adanya. Sebab apabila kejujuran sudah menjadi kebiasaan maka itu akan menjalar kepada lini kehidupan dan akibatnya secara tidak sadar berimbas pada dimensi sosial. Maka untuk mengantisipasi atau mencegah kebiasaan tidak jujur alangkah baiknya untuk belajar jujur dimulai dari diri sendiri.