Jun

10

Posted by : Khilmi | On : 10 June 2018

*Oleh Khilmi Mauliddian

Ket : Saya saat berjabat tangan dengan Wakil Presiden Boediono di istana Wapres RI usai acara dialog dan pelepasan Pengajar Muda Indonesia Mengajar III, 2011.

Tahun 2011 tepatnya bulan Oktober, saya bersama 46 Pengajar Muda Angkatan III Indonesia Mengajar berkesempatan diundang oleh Wakil Presiden Boediono di Istana Wapres Jakarta. Acara ini diadakan setelah melalui rangkain program pendidikan “Indonesia Mengajar Leadership Development Program” selama dua bulan di Bogor, Jawa Barat.

Entah mimpi apa kala itu, hingga tak bisa berkata apa-apa. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan bisa mendapat kehormatan bertemu dan berdialog langsung dengan orang no. 2 di Indonesia. Apalagi sifat undangan acaranya resmi. Makin buat hati ini meleleh.

Yang lucu waktu tahu mendapat undangan wapres, saya tidak punya baju batik yang bagus. Pikiran pun bingung, ditambah untuk segera beli batik jelas tidak memungkinkan. Sebab, tempat pendidikan di Bogor jauh dengan outlet penjual batik, ditambah waktu yang mendesak. Pikiran makin kalut karena mau tidak mau saya harus mendapatkan batik bagaimana pun caranya.

Alhasil, saya mencoba untuk melobi teman-teman sependidikan untuk meminjam batik. Satu, dua, tiga orang saya tanya batiknya ternyata hanya punya satu. Makin deg-deg-an suara hati, panas dingin tubuh makin menjadi karena waktu makin mepet.

Kemudian tiba-tiba ada teman yang menawarkan baju batiknya untuk saya pinjam. Rasa bahagia datang bagai surga, seperti aliran air kala lewat tenggorokan yang sedang melahap es kelapa muda, rasanya sungguh nikmat. Tapi saat baju batik itu saya kenakan, hati kembali kepada posisi awal tak karuan. Baju batiknya kekecilan dan krek terdengar suara sobek dari ketiak. Duh, jadi malu sama empunya batik.

Sementara waktu kian mendesak, saya akhirnya memutuskan untuk memakai baju lengan panjang biasa. Jika dimarahi sama panitia karena tidak mengenakan batik, saya berfikir pasrah saja. Bus penjemput rombongan pun tiba. Pikiran makin tak karuan. Saat kaki melangkah keluar dari tempat camp, tiba-tiba ada yang manggil nama saya. Suara itu ternyata dari salah satu teman sambil berlari dari arah belakang membawakan batiknya lalu diberikan kepada saya. Duh, amazing rasa panas dingin tiba-tiba hilang, apalagi saat batik dikenakan sangat pas dengan ukuran tubuh. Ucapan terimakasih pun tak henti-hentinya saya sampaikan pada teman saya itu.

Kena Macet

Waktu undangan sudah ditentukan, seingat saya pukul 10 pagi acara sudah harus dimulai. Sesuai dengan protokoler istana maka undangan setidaknya harus hadir setengah jam sebelum acara dimulai. Namun, saat tiba di jalan tol alamak, jalan tol macet.

Was-was dan khawatir kini tidak hanya melanda saya saja karena sedari awal sudah kena panik gara-gara baju batik tadi. Kini semua rombongan terlanda gelombang panik karena kena macet. Kenapa? Karena waktu acaranya kurang setengah jam lagi dimulai, sedangkan jalan tol yang dilewati bus rombongan macet berat.

Melihat wajah teman-teman saya kadang ingin tertawa. Ada yang pucat, diam, ngomel, benar-benar seru waktu itu. Kalau saya lebih memilih posisi diam saja, karena sudah kena panik duluan. Takut emosi kalau saya ikut panik.

Salah seorang teman perempuan tiba-tiba minta berhenti pada sopir bus. Saya yang duduk dibelakang tidak tahu-menahu dan malah ikut makin bingung. Selidik punya selidik ternyata teman saya itu punya inisiatif buat menghampiri bapak polisi yang sedang patroli. Setelah dia naik bus kembali, teman saya baru cerita, kalau dia menego polisi buat jadi patwal rombongan ke Istana wapres. Dan polisi ternyata dengan senang lalu mengawal bus rombongan kami. Rasa yang tadinya panik langsung berubah seketika menjadi haru campur bahagia. Seluruh rombongan tak bisa berkata-lagi selain bersyukur dan mengucapkan terimakasih atas inisiatif yang telah diambil oleh salah satu teman perempuan saya tadi.

Entah apa yang terjadi jika waktu itu terlambat. Mungkin seluruh rombongan akan malu dihadapan wakil presiden. Yang menjadi pelajaran terbesar dari situasi genting kala itu bagi saya adalah inisiatif dan kreatif. Mungkin jika waktu itu yang terjadi hanya terbawa suasana panik saja, maka dipastikan terlambat. Namun, dari sebuah kondisi yang seakan tidak memungkinkan ternyata apabila kita mau inisiatif dan kreatif pasti ada jalan keluar. Dan teman perempuan saya tadi telah mampu pada posisi menunjukkan daya pikir inisiatif dan kreatif, sehingga mampu mengusir seluruh kepanikan rombongan.

Satu perbuatan dan pelajaran yang luar biasa bagi saya. Yang dilakukan mungkin sederhana, tapi dari perbuatan sederhana yang dilakukannya tersebut justru bisa menjadi pelajaran berharga untuk bekal dalam kehidupan. Jika dalam hidup ternyata butuh belajar mengasah daya inisiatif dan kreatif agar permasalahan-permasalahan hidup yang kita lalui bisa kita hadapi dengan solutif, bukan malah menghindarinya.

*Tulisan 2011 yang diolah kembali. Disadur dari “Catatan Harianku Sebagai Pengajar Muda Indonesia Mengajar”.

May

04

Posted by : Khilmi | On : 4 May 2018

Foto : Nia paling kanan saat usai kunjungan studi di Mahkamah Kriminal Internasional di Den Hag.

Menempuh ilmu tanpa memandang batas usia, tempat, ruang, dan waktu. Bolehlah menerjemahkan demikian perihal mencari ilmu kapan pun dan dimanapun. Yang ingin penulis ungkapkan adalah sosok orang yang dengan kegigihannya mampu berkeliling dunia dengan gratis plus mendapatkan ilmu. Semakin keren dan lengkaplah apa yang didapatkannya.

Ia adalah seorang perempuan yang masih tergolong muda dan cantik. Tahun 2009 lulus dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga sebagai salah satu lulusan terbaik kemudian diterima sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Kabupaten Probolinggo bagian penyuluh kesehatan. Sungguh sesuatu yang pasti diharapkan banyak orang, lulus kuliah kemudian langsung bekerja, pegawai negeri sipil lagi.

Namuh hal di atas tidak membuatnya dalam kondisi comfort zone. Setelah hampir tiga tahun menjadi PNS, ia memilih untuk mencari beasiswa dengan harapan bisa melanjutkan ke jenjang S2. Benarlah, saat itu peluang beasiswa yang dibuka adalah beasiswa BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri). Ia lantas diterima di pascasarsajana Prodi Promosi Kesehatan, Universitas Diponegoro, Semarang. Menempuh dengan masa dua tahun tidak membuat dirinya biasa-biasa saja, malah ia bisa menyabet lulusan terbaik tingkat pendidikan master di Universitas Diponegoro.

Saat masa akhir studi S2 Promosi Kesehatan, ia pun mencoba mengikuti konferensi ilmiah. Inilah yang menjadikan awal ia menapak ke luar negeri kali pertama. Sebab, karya ilmiahnya diterima pada ajang konferensi internasional di Hatyai, Thailand, yang diadakan oleh Persatuan Mahasiswa Indonesia di Thailand atau PERMITHA tahun 2012 silam dengan mengangkat tema promosi kesehatan pada pelajar.

Sejak kali pertama ke luar negeri, ia semakin giat untuk mencari kesempatan belajar dengan menggali lebih dalam karya-karya ilmiahnya. Kesempatan itu akhirnya datang, di tahun 2016 ia dinyatakan lolos sebagai salah satu peserta dalam pendidikan singkat Leadership Economic Development (LED) di Den Hag, Belanda dan satu-satunya wakil dari Indonesia. Saat itu ia mengangkat tema penerapan entrepreneurship berwawasan kesehatan dengan fokus potensi pemanfaatan daun Kelor sebagai tepung dan makanan dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat. Perlu diketahui, tepung memiliki kandungan vitamin dan protein yang tinggi, apabila dikonsumsi orang sakit akan membantu mempercepat proses penyembuhan.

Namun ia mengungkapkan untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri tidaklah mudah. Beberapa kali ia mengalami kegagalan dalam mengikuti seleksi. Pernah ia sudah tahap wawancara untuk beasiswa di Amerika Serikat, ternyata gagal. Lalu mencoba mendaftar di Belanda dan Australia pun juga demikian pernah mengalami getir rasanya tidak diterima. Dari pelajaran itulah maka ia makin giat dalam belajar dan membenahi kekurangan dan kini akhirnya bisa berhasil menembus beasiswa luar negeri.

Kembali pada studi di Den Hag, saat berada di Belanda ia menyempatkan tour ke beberapa negara di Eropa, khususnya kota Paris, Perancis. Selain studi, berkat beasiswa ia juga bisa jalan-jalan gratis di Eropa.

Sekembali dari Belanda, ia kemudian diangkat sebagai manager dibidang pelayanan kesehatan. Meskipun sibuk, namun ia tetap semangat dalam menimba ilmu dengan tetap mengasah ide karya ilmiahnya. Berkat ide karya ilmiah yang diasah kini ia tengah bersiap berangkat ke Kanada. Sebab, ia dengan ide ilmiahnya terpilih kembali sebagai salah satu peserta didik dalam program pendidikan Global Change Leader atau pendidikan Para Pemimpin Perubahan Dunia khusus pemimpin perempuan pada bulan Mei-Juni 2018. Mewakili Indonesia dan satu-satunya yang terpilih untuk bertemu perwakilan dari 22 negara lainnya selama dua bulan pasti akan menjadi sebuah kebanggaan.

Itulah sekelumit cerita inspirasi dari sosok muda yang berparas cantik Kurnia Ramadhani atau biasa dipanggil Nia. Di usia yang masih muda sudah menduduki manager di salah satu rumah sakit pemerintah kabupaten Probolinggo dan masih mampu menorehkan prestasi level internasional.

*Tulisan ini dibuat karena cerita inspirasinya.