Feb

05

Posted by : Khilmi | On : 5 February 2019

Fenomena kata populer yang muncul di tengah masyarakat pada umumnya dianggap sebuah kewajaran.  Namun sebenarnya fenomena itu muncul tidak begitu saja terjadi, melainkan adanya kesepakatan antara para penutur namun secara natural karena faktor tren pada masanya.

Bila kita mau mengingat kata-kata populer yang pernah hidup,  hampir setiap tahun ada saja kata yang menjadi ‘idola’ dalam masyarakat.  Bentuk katanya pun berubah-ubah. Lantas kata ini pun menjadi bagian menu wajib yang sering diselipkan dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam pergaulan anak muda.

Bentuk-bentuk kata populer pada dasarnya sebagian besar merupakan pengulangan dari kata yang sudah ada. Namun dalam penggunaannya,  kata tersebut mendapat modifikasi dan perlakuan istimewa sehingga seolah menjadi daya tarik yang unik. Namun anehnya,  siapa yang membuat kata ini?

Sebagai contoh,  pada tahun 2005 kata ‘loh’ ini sangat populer. Bahkan,  kata ini menjadi menu wajib yang diucapkan dalam selipan-selipan percakapan sehari-hari anak muda.  ‘Loh’  ini sebenarnya berasal dari kata lo yang berfungsi sebagai penegas saja.  Misal,  “Jangan begitu lo”, “Nah,  lo” dan sebagainya.  Hanya saja pada waktu itu kata ‘lo’  menjadi unik karena ditambah dengan huruf h pada akhir kata menjadi ‘loh’. Tidak berhenti di situ,  cara mengucapkan pun harus dengan gaya feminis atau manja.  Jadilah kata itu populer dan menjadi kata yang paling tren pada tahun itu.

Tahun 2006 hingga 2007 pun juga muncul kata yang menjadi artis.  Bukan lagi kata ‘loh’ ,  tapi berganti kata ‘jack’.  Kata ini memunyai makna kata sebagai kata panggilan netral yang ditujukan untuk teman laki-laki sebaya. Kemudian 2008 kata ‘secara’ juga menjadi tren dan masih banyak lagi.

Kembali pada pertanyaan di atas, lalu siapa ‘king maker’ yang membuat kata-kata ini menjadi artis?  Yang jelas faktor pertama adalah peran media terutama televisi yang ikut andil dalam penyebarannya.  Hanya saja siapa yang membuat kali pertama kata itu bisa sedemikian rupa menjadi ‘artis’?  Mungkin perlu penelitian khusus terhadap fenomena kata menjadi’ artis’.