Jun

10

Posted by : Khilmi | On : 10 June 2018

*Oleh Khilmi Mauliddian

Ket : Saya saat berjabat tangan dengan Wakil Presiden Boediono di istana Wapres RI usai acara dialog dan pelepasan Pengajar Muda Indonesia Mengajar III, 2011.

Tahun 2011 tepatnya bulan Oktober, saya bersama 46 Pengajar Muda Angkatan III Indonesia Mengajar berkesempatan diundang oleh Wakil Presiden Boediono di Istana Wapres Jakarta. Acara ini diadakan setelah melalui rangkain program pendidikan “Indonesia Mengajar Leadership Development Program” selama dua bulan di Bogor, Jawa Barat.

Entah mimpi apa kala itu, hingga tak bisa berkata apa-apa. Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan bisa mendapat kehormatan bertemu dan berdialog langsung dengan orang no. 2 di Indonesia. Apalagi sifat undangan acaranya resmi. Makin buat hati ini meleleh.

Yang lucu waktu tahu mendapat undangan wapres, saya tidak punya baju batik yang bagus. Pikiran pun bingung, ditambah untuk segera beli batik jelas tidak memungkinkan. Sebab, tempat pendidikan di Bogor jauh dengan outlet penjual batik, ditambah waktu yang mendesak. Pikiran makin kalut karena mau tidak mau saya harus mendapatkan batik bagaimana pun caranya.

Alhasil, saya mencoba untuk melobi teman-teman sependidikan untuk meminjam batik. Satu, dua, tiga orang saya tanya batiknya ternyata hanya punya satu. Makin deg-deg-an suara hati, panas dingin tubuh makin menjadi karena waktu makin mepet.

Kemudian tiba-tiba ada teman yang menawarkan baju batiknya untuk saya pinjam. Rasa bahagia datang bagai surga, seperti aliran air kala lewat tenggorokan yang sedang melahap es kelapa muda, rasanya sungguh nikmat. Tapi saat baju batik itu saya kenakan, hati kembali kepada posisi awal tak karuan. Baju batiknya kekecilan dan krek terdengar suara sobek dari ketiak. Duh, jadi malu sama empunya batik.

Sementara waktu kian mendesak, saya akhirnya memutuskan untuk memakai baju lengan panjang biasa. Jika dimarahi sama panitia karena tidak mengenakan batik, saya berfikir pasrah saja. Bus penjemput rombongan pun tiba. Pikiran makin tak karuan. Saat kaki melangkah keluar dari tempat camp, tiba-tiba ada yang manggil nama saya. Suara itu ternyata dari salah satu teman sambil berlari dari arah belakang membawakan batiknya lalu diberikan kepada saya. Duh, amazing rasa panas dingin tiba-tiba hilang, apalagi saat batik dikenakan sangat pas dengan ukuran tubuh. Ucapan terimakasih pun tak henti-hentinya saya sampaikan pada teman saya itu.

Kena Macet

Waktu undangan sudah ditentukan, seingat saya pukul 10 pagi acara sudah harus dimulai. Sesuai dengan protokoler istana maka undangan setidaknya harus hadir setengah jam sebelum acara dimulai. Namun, saat tiba di jalan tol alamak, jalan tol macet.

Was-was dan khawatir kini tidak hanya melanda saya saja karena sedari awal sudah kena panik gara-gara baju batik tadi. Kini semua rombongan terlanda gelombang panik karena kena macet. Kenapa? Karena waktu acaranya kurang setengah jam lagi dimulai, sedangkan jalan tol yang dilewati bus rombongan macet berat.

Melihat wajah teman-teman saya kadang ingin tertawa. Ada yang pucat, diam, ngomel, benar-benar seru waktu itu. Kalau saya lebih memilih posisi diam saja, karena sudah kena panik duluan. Takut emosi kalau saya ikut panik.

Salah seorang teman perempuan tiba-tiba minta berhenti pada sopir bus. Saya yang duduk dibelakang tidak tahu-menahu dan malah ikut makin bingung. Selidik punya selidik ternyata teman saya itu punya inisiatif buat menghampiri bapak polisi yang sedang patroli. Setelah dia naik bus kembali, teman saya baru cerita, kalau dia menego polisi buat jadi patwal rombongan ke Istana wapres. Dan polisi ternyata dengan senang lalu mengawal bus rombongan kami. Rasa yang tadinya panik langsung berubah seketika menjadi haru campur bahagia. Seluruh rombongan tak bisa berkata-lagi selain bersyukur dan mengucapkan terimakasih atas inisiatif yang telah diambil oleh salah satu teman perempuan saya tadi.

Entah apa yang terjadi jika waktu itu terlambat. Mungkin seluruh rombongan akan malu dihadapan wakil presiden. Yang menjadi pelajaran terbesar dari situasi genting kala itu bagi saya adalah inisiatif dan kreatif. Mungkin jika waktu itu yang terjadi hanya terbawa suasana panik saja, maka dipastikan terlambat. Namun, dari sebuah kondisi yang seakan tidak memungkinkan ternyata apabila kita mau inisiatif dan kreatif pasti ada jalan keluar. Dan teman perempuan saya tadi telah mampu pada posisi menunjukkan daya pikir inisiatif dan kreatif, sehingga mampu mengusir seluruh kepanikan rombongan.

Satu perbuatan dan pelajaran yang luar biasa bagi saya. Yang dilakukan mungkin sederhana, tapi dari perbuatan sederhana yang dilakukannya tersebut justru bisa menjadi pelajaran berharga untuk bekal dalam kehidupan. Jika dalam hidup ternyata butuh belajar mengasah daya inisiatif dan kreatif agar permasalahan-permasalahan hidup yang kita lalui bisa kita hadapi dengan solutif, bukan malah menghindarinya.

*Tulisan 2011 yang diolah kembali. Disadur dari “Catatan Harianku Sebagai Pengajar Muda Indonesia Mengajar”.

Jun

09

Posted by : Khilmi | On : 9 June 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

Masyarakat baru-baru ini sempat digemparkan dengan statemen  kontroversial yang diucapkan oleh Amien Rais terkait pengelompokan partai di Indonesia. Ia menyatakan bahwa partai-partai di Indonesia dimasukkan ke dalam dua kelompok yaitu partai setan dan partai Allah (cnnindonesia.com, 13/4/18). Tentu pernyataan tersebut memantik reaksi banyak pihak, apalagi tahun ini berada diposisi menjelang tahun politik 2019. Banyak pihak menyayangkan pernyataan tersebut, terlebih hal itu dikemukakan ditengah acara kegamaan di masjid Baiturrahman, Mampang, Jakarta Selatan. Bagamana mungkin tempat ibadah digunakan sebagai podium politik. Tentu hal ini bertentangan dengan aturan dan etika politik di Indonesia salah satunya larangan penggunaan tempat ibadah sebagai ajang berpolitik.

Entah apa yang ada dalam pikiran sesosok Amien Rais. Jika melihat kiprah politik, sosok Amien Rais bukan orang baru dalam dunia politik. Julukan bapak Reformasi yang masih disandangnya tentu membuktikan bahwa ia adalah orang yang benar-benar berjasa dalam perubahan konstalasi politik Indonesia. Apalagi jika melihat bagaimana peristiwa Mei 1998 kala itu, Amien Rais dengan gigihnya membakar semangat mahasiswa untuk turun aksi menuntut presiden Suharto mundur dari jabatannya. Sungguh kala itu memang banyak orang mengagumi bahkan mengidolakannya.

Sebagai tokoh reformis, tentu sosok Amien Rais tidak lepas dari asam garam dunia organisasi. Mulai dari gerakan mahasiswa, menduduki jabatan ketua MPR, hingga sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah. Pengalaman tersebut merupakan bukti jika ia seorang organisatoris ulung. Dengan sekian pengalaman organisasi yang pernah diemban, pasti secara sadar memahami makna etika organisasi. Salah satu etika dalam organisasi adalah tentang pentingnya cara yang santun dalam menyampaikan pendapat baik ide, gagasan, saran ataupun kritik. Sehingga dengan cara penyampaian  yang santun, baik ide, gagasan, saran atau kritik bisa diterima dengan baik oleh khalayak, bukan justru menuai banyak kecaman.

Partai Setan vs Partai Allah

Barang kali baru kali pertama ini ada seorang tokoh bangsa yang berani mendikotomi partai-partai politik di Indonesia menjadi dua kutub, yakni partai setan dan partai Allah. Apalagi yang membuat pernyataan adalah seorang yang juga berlatar belakang akademisi. Secara penamaan dan sisi bahasa sungguh tidak masuk akal. Bayangkan dunia politik yang notabene adalah sebuah kondisi nyata harus dibawa-bawa ke ranah kategori abstrak yang hanya menimbulkan ketimpangan persepsi.

Dari sisi penamaan saja sudah terdengar ngeri sekaligus menggelikan. Mari coba telaah kata partai setan. Secara bahasa pengertian partai bersinonim dengan kelompok atau perkumpulan yang memiliki tujuan politis, dalam hal ini makna partai bisa dimaknai secara mudah. Namun yang menjadi permasalahan adalah pemberian imbuhan kata setan setelah kata partai sehingga menjadikan dua kata tersebut sebagai frasa. Selanjutnya makna setan, secara bahasa setan diasosiakan sebagai makhluk yang tidak bisa dilihat secara kasat, menyeramkan, dan yang bertugas mengganggu manusia. Dengan demikian, apabila diterjemahkan pun juga akan memiliki dua pengertian yang berbeda yaitu, pertama sebagai kelompok setan yang bertugas mengganggu, dan kedua memiliki pengertian kelompok miliknya setan. Dari pengertian tersebut sungguh, bahwa makna dari partai setan bisa saja melahirkan miskonsepsi yang tidak masuk akal dan berlebihan apabila masyarakat tidak bisa mencerna pemahaman frasa tersebut.

Selanjutnya pola kata partai Allah yang juga kurang lebih sama bentuknya dengan pola partai setan di atas. Partai Allah juga membentuk satu frasa. Hanya saja yang membedakan adalah pengertiannya saja. Pengertian disini adalah kata kedua dari kata Allah. Allah disini dimaksudkan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu frasa partai Allah juga memiliki dua makna yang juga ambigu. Dua makna tersebut yaitu, pertama sebagai kelompok Tuhan dan yang kedua sebagai kelompoknya Tuhan. Nah pengertian ini jelas mengandung unsur kontroversi dan menimbulkan pertanyaan, apakah Tuhan itu berkelompok padahal katanya Esa? Kemudian juga menimbulkan pertanyaan apakah Tuhan punya kelompok? Sama halnya dengan penjelasan di atas, frasa ini memiliki pemahaman yang tidak bisa dinalar oleh logika. Oleh sebab itu, sebagai tokoh dan panutan publik, hendaknya sosok Amien Rais tidak mengeluarkan bahasa-bahasa atau tuturan yang tidak selayaknya.

Etika Politik

Sudah menjadi rahasia umum jika sosok Amien Rais mengambil peran oposisi pada pemerintahan Jokowi-JK. Sejak kalah dalam pesta pemilu presiden tahun 2013 silam, bersama partai yang didirikannya yang tak lain PAN bersama-sama dengan Gerindra dan PKS memilih untuk tetap menjadi oposisi pemerintah. Ibarat tim sepak bola, ketiga partai ini begitu semangat menyuarakan kritikan kepada pemerintah khususnya kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemerintah. Lantas apa yang juga membuat Amien Rais kini begitu sengit menyuarakan kritikan kepada pemerintah, hingga timbul kontroversial ditengah masyarakat?

Sebagai seorang organisatoris pasti yang bersangkutan memiliki beragam alasan untuk menangkis isu-isu kontroversial yang telah terlanjur dikeluarkan. Namun apabila hal tersebut kemudian juga terlanjur didengar oleh masyarakat, bahkan menjadi pemberitaan nasional, pasti masyarakat juga memampunyai beragam argumen untuk mengometari pernayataan kontroversial tersebut. Apalagi ternyata selain menimbulkan kecaman juga makin memperkeruh suasana politik ditanah air, terlebih masyarakat baru saja dibuat geram terhadap perilaku ketua DPR RI Setya Novanto yang kini menjadi tersangka KPK dugaan korupsi KTP-El.

Jika menilik masa lalu sosok Amien Rais yang pernah gagal mencalonkan diri menjadi persiden RI tahun 2004 mungkin bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ambisi politik meskipun sudah mengalami kekakalahan bertahun-tahun ternyata tidak lantas membuat orang kehilangan sahwat politiknya. Apalagi kini mau tidak mau pamor sebagai bapak reformasi kian meredup sejak ia memilih menjadi oposisi. Sehingga boleh dikata cara-cara yang digunakan pun kadang tidak wajar.

Salah satu persepsi publik yang kian masuk akal akan ambisi Amien Rais salah satunya saat tahun 2017 lalu. Bersama-sama dengan munculnya gerakan-gerakan yang mengatasnamakan agama Amien Rais terlihat tampak tampil ke depan. Aksi ini kemudian menamakan dirinya sebagai aksi bela agama 212. Ditambah waktu itu isu terkait agama begitu sensitif.  Publik pun bisa menebak dengan jelas maksud tersembunyi Amien Rais dalam acara tersebut.

Berdasarkan kenyataan di atas patutlah disayangkan, jika memang itu adalah figur Amien Rais sekarang. Sebab, sosok Amien Rais yang dulunya pejuang reformasi, justru kini dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya. Bagaimanapun, sebagai seorang oposisi harusnya tetap memberikan contoh cara-cara politik yang santun, agar hal tersebut bisa sebagai contoh proses etika berpolitik di Indonesia.

*Mahasiswa S2 Linguistik, Universitas Brawijaya

 

 

 

 

Jun

08

Posted by : Khilmi | On : 8 June 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

(Esei Kategori Critical Discourse Analysis)

Masyarakat baru-baru ini sempat digemparkan dengan statemen  kontroversial yang diucapkan oleh Amien Rais terkait pengelompokan partai di Indonesia. Ia menyatakan bahwa partai-partai di Indonesia dimasukkan ke dalam dua kelompok yaitu partai setan dan partai Allah (cnnindonesia.com, 13/4/18). Tentu pernyataan tersebut memantik reaksi banyak pihak, apalagi tahun ini berada diposisi menjelang tahun politik 2019. Banyak pihak menyayangkan pernyataan tersebut, terlebih hal itu dikemukakan ditengah acara kegamaan di masjid Baiturrahman, Mampang, Jakarta Selatan. Bagamana mungkin tempat ibadah digunakan sebagai podium politik. Tentu hal ini bertentangan dengan aturan dan etika politik di Indonesia salah satunya larangan penggunaan tempat ibadah sebagai ajang berpolitik.

Barang kali baru kali pertama ini ada seorang tokoh bangsa yang berani langsung mendikotomi partai-partai politik di Indonesia. Apalagi yang membuat pernyataan adalah seorang yang juga berlatar belakang akademisi sekaligus seorang tokoh reformasi. Namun anehnya, secara penamaan dan sisi bahasa sungguh tidak masuk akal. Bayangkan dunia politik yang notabene adalah sebuah kondisi nyata harus dibawa-bawa ke ranah kategori abstrak yang hanya menimbulkan ketimpangan persepsi.

Dari sisi penamaan saja sudah terdengar ngeri sekaligus menggelikan. Mari coba telaah kata partai setan. Secara bahasa, pengertian partai bersinonim dengan kelompok atau perkumpulan, dalam hal ini makna partai bisa dimaknai secara mudah. Namun yang menjadi permasalahan adalah pemberian imbuhan kata setan setelah kata partai sehingga menjadikan dua kata tersebut sebagai frasa. Selanjutnya makna setan, secara bahasa setan diasosiakan sebagai makhluk yang tidak bisa dilihat secara kasat, menyeramkan, dan yang bertugas mengganggu manusia. Dengan demikian, apabila diterjemahkan pun juga akan memiliki dua pengertian yang berbeda yaitu, pertama sebagai kelompok setan yang bertugas mengganggu, dan kedua memiliki pengertian kelompok miliknya setan. Dari pengertian tersebut sungguh, bahwa makna dari partai setan bisa saja melahirkan miskonsepsi yang tidak masuk akal dan berlebihan apabila masyarakat tidak bisa mencerna pemahaman frasa tersebut.

Selanjutnya pola kata partai Allah yang juga kurang lebih sama bentuknya dengan pola partai setan di atas. Partai Allah juga membentuk satu frasa. Hanya saja yang membedakan adalah pengertiannya. Pengertian di sini adalah kata kedua yaitu kata Allah. Allah disini dimaksudkan adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka dari itu, frasa partai Allah juga memiliki dua makna yang juga ambigu. Dua makna tersebut yaitu, pertama sebagai kelompok Tuhan dan yang kedua sebagai kelompoknya Tuhan. Nah pengertian ini jelas mengandung unsur kontroversi dan menimbulkan pertanyaan, apakah Tuhan itu berkelompok padahal katanya Esa? Kemudian juga menimbulkan pertanyaan apakah Tuhan punya kelompok? Sama halnya dengan penjelasan di atas, frasa ini memiliki pemahaman yang tidak bisa dinalar oleh logika. Oleh sebab itu, sebagai tokoh dan panutan publik, hendaknya sosok Amien Rais tidak mengeluarkan bahasa-bahasa atau tuturan yang tidak selayaknya.

Etika Politik

Sudah menjadi rahasia umum jika sosok Amien Rais mengambil peran oposisi pada pemerintahan Jokowi-JK. Sejak kalah dalam pesta pemilu presiden tahun 2013 silam, bersama partai yang didirikannya yang tak lain PAN bersama-sama dengan Gerindra dan PKS memilih untuk tetap menjadi oposisi pemerintah. Ibarat tim sepak bola, ketiga partai ini begitu semangat menyuarakan kritikan kepada pemerintah khususnya kebijakan-kebijakan yang dijalankan pemerintah. Lantas apa yang juga membuat Amien Rais kini begitu sengit menyuarakan kritikan kepada pemerintah, hingga timbul kontroversial ditengah masyarakat?

Jika menilik masa lalu sosok Amien Rais yang pernah gagal mencalonkan diri menjadi persiden RI tahun 2004 mungkin bisa menjadi salah satu penyebabnya. Ambisi politik meskipun sudah mengalami kekakalahan bertahun-tahun ternyata tidak lantas membuat orang kehilangan sahwat politiknya. Apalagi kini mau tidak mau pamor sebagai bapak reformasi kian meredup sejak ia memilih menjadi oposisi. Sehingga boleh dikata cara-cara yang digunakan pun kadang tidak wajar.

Berdasarkan kenyataan di atas patutlah disayangkan, jika memang itu adalah figur Amien Rais sekarang. Sebab, sosok Amien Rais yang dulunya pejuang reformasi, justru kini dengan mudah mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya. Bagaimanapun, sebagai seorang oposisi harusnya tetap memberikan contoh cara-cara politik yang santun, agar hal tersebut bisa sebagai contoh proses etika berpolitik di Indonesia.

Jun

01

Posted by : Khilmi | On : 1 June 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

(Edisi tulisan kajian budaya)

Ket : Hardjo Kardi, sesepuh Samin Bojonegoro 

Pada tanggal 21-22 April 2018 lalu saya diberi kesempatan bisa mengujungi komunitas Samin di Bojonegoro. Bersama dengan rombongan Mahasiswa S2 Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, kunjungan terasa hangat dan menyenangkan. Kegiatan tersebut dibingkai dalam bentuk studi lapangan sehingga tujuannya jelas, yaitu kunjungan yang berbasis pengetahuan budaya.

Sebanyak 15 mahasiswa turut dalam kegiatan itu dengan didampingi satu dosen pembimbing. Tugas mahasiswa saat tiba di tempat studi lapangan tak lain untuk mengobservasi bahasa dan budaya yang ada pada komunitas Samin. Tak pelak mahasiswa harus fokus pada tugas itu. Bentuk tugas juga bebas asal tidak lepas dari tema bahasa dan budaya.

Oleh sebab tugas yang ditentukan bebas maka saya tertarik untuk membahas tentang perilaku kejujuran komunitas Samin. Kenapa? Karena bagi saya nilai kejujuran zaman sekarang makin susah untuk diterapkan, sedangkan komunitas Samin ternyata masih bisa membumikan nilai-nilai kejujuran itu pada perilaku kehidupannya.

Komunitas Samin merupakan salah satu komunitas yang masih menjaga kearifan lokal hingga sekarang. Komunitas ini tersebar di beberapa daerah di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah Komunitas Samin menyebar di wilayah kabupaten Blora, Rembang, kudus, dan Pati. Sedangkan di Jawa Timur komunitas Samin berada di Wilayah kabupaten Ngawi dan Bojonegoro.

Komunitas Samin yang ada di Bojonegoro bertempat tinggal tepatnya di dusun Jepang, desa Margomulyo, kecamatan Margomulyo. Secara geografis letak dusun Jepang berada di tengah kawasan hutan Jati. Dalam kehidupannya, mereka masih menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Samin antara lain, selalu bertindak jujur, tidak iri, tidak dengki, Sabar, trokal atau selalu berdaya upaya, tidak suka menyinggung perasaan orang lain baik fisik atau nonfisik, dan masih menjunjung tinggi budaya hidup gotong royong.

Sesepuh Samin yang masih hidup saat ini bernama Hardjo Kardi atau biasa dipanggil Mbah Hardjo. Mbah Hardjo berkisah, Samin di dusun Jepang hingga saat ini masih menerapkan dan memelihara budaya gotong royong. Apabila ada orang menanam Jagung, maka disini masih menerapkkan gotong royong saling membantu tanpa diberi upah, dan begitu seterusnya untuk kegiatan apapun yang ada di masyarakat Samin secara bergantian. Satu membutuhkan maka lainnya berkewajiban membantu tanpa diberi upah sepeser pun.

Mbah Hardjo juga menambahkan, apabila disini ada orang yang berbuat tidak jujur maka ia yakin hukum karma akan menimpa pada orang tersebut. Maka pantang bagi komunitas Samin untuk tidak jujur dalam kehidupan. Sehingga tidaklah heran, berkat budaya kejujuran yang sudah melekat pada komunitas Samin, wilayah Samin tergolong aman dan lingkungan alamnya masih terjaga kelestariannya. Sebab pantang bagi masyarakat Samin untuk mengambil yang bukan haknya.

Sekilas Ajaran Samin

Masyarakat Samin adalah keturunan para pengikut Samin Surosentiko yang mengajarkan sedulur sikep, di mana mereka mengobarkan semangat perlawanan terhadap Belanda dalam bentuk lain di luar kekerasan. Bentuk yang dilakukan adalah menolak membayar pajak, menolak segala peraturan yang dibuat pemerintah kolonial. Masyarakat ini acap memusingkan pemerintah Belanda maupun penjajahan Jepang karena sikap itu, sikap yang hingga sekarang dianggap menjengkelkan oleh kelompok di luarnya. Masyarakat Samin sendiri juga mengisolasi diri hingga pada tahun ’70-an, mereka baru tahu Indonesia telah merdeka.

Orang luar Samin sering menganggap mereka sebagai kelompok yang lugu, tidak suka mencuri, menolak membayar pajak, dan acap menjadi bahan lelucon terutama di kalangan masyarakat Bojonegoro. Pendiri ajaran ialah Samin Surosentiko, yang nama aslinya Raden Kohar, kelahiran Desa Ploso Kedhiren, Randublatung, tahun 1859, dan meninggal saat diasingkan ke Padang, 1914.

Komunitas Samin mempunyai ajaran yang ditaati dan diterapkan hingga sekarang. Pokok-pokok ajaran Saminisme meliputi; pertama, agama adalah senjata atau pegangan hidup. Paham Samin tidak membeda-bedakan agama, oleh karena itu orang Samin tidak pernah mengingkari atau membenci agama. Yang penting adalah tabiat dalam hidupnya. Jangan mengganggu orang, jangan bertengkar, jangan suka iri hati, dan jangan suka mengambil milik orang. Kedua, Bersikap sabar dan jangan sombong. Manusia hidup harus memahami kehidupannya sebab hidup adalah sama dengan roh dan hanya satu, dibawa abadi selamanya. Menurut orang Samin, roh orang yang meninggal tidaklah meninggal, namun hanya menanggalkan pakaiannya. Dan yang ketiga, bila berbicara harus bisa menjaga mulut, jujur, dan saling menghormati. Berdagang bagi orang Samin dilarang karena dalam perdagangan terdapat unsur “ketidakjujuran”. Juga tidak boleh menerima sumbangan dalam bentuk uang.

Makna Jujur

Jujur menurut pengertiannya adalah suatu perbuatan atau yang didasarkan apa adanya tanpa harus diada-adakan. Maksud jujur berarti apabila berbuat sesuatu maka harus sesuai dengan kenyataan. Disinilah letak komunitas Samin menerapkan perbuatan tersebut dalam kehidupannya hingga saat ini.

Saat bertemu dengan sesepuh Samin, Mbah Hardjo Kardi, beliau menerangkan bahwa komunitas Samin pantang untuk tidak berperilaku jujur. Alasannya adalah jika manusia berbuat tidak jujur maka selanjutnya pasti bakal mencederai atau melukai orang lain dalam perbuatannya.

Menyimak alasan yang dijelaskan Mbah Hardjo di atas, maka saya mencoba untuk menelaah kejujuran yang dimaksudkan. Dengan harapan mampu menerjemahkan maksud yang disampaikan.

Jika ditelaah lebih lanjut apa yang disampaikan mbah Hardjo di atas maka kita bisa mengambil analisis logika sebagai berikut. “Tidak jujur dan melukai orang lain.” Sebab, dalam kehidupan sehari-hari maka kita sering dibenturkan dengan perbuatan baik disadari atau tidak dengan perilaku tidak jujur. Mari coba renungkan, hal sederhana saja, kita sedang ditelepon oleh teman karena sudah berjanji pada pukul sekian bertemu, tapi saat ditelepon mengatakan sedang berada di jalan, padahal kenyataannya masih akan berangkat.

Menilik ilustrasi di atas, kita tidak sama sekali merugikan teman kita, atau kita tidak merasa bersalah karena alasan tersebut bakal tidak diketahui oleh teman kita. Namun yang perlu digaris bawahi adalah kita sudah tidak berbuat jujur pada diri kita sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri berarti sudah bohong dengan diri sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri maka secara tidak sadar belajar untuk menanamkan nilai-nilai ketidakjujuran pada diri. Hal yang demikian pastinya akan merembet ke dalam lini kehidupan dimanapun secara perlahan. Sehingga lambat laun akan membesar dan berpotensi menjadi kebiasaan.

Kembali pada pernyataan mbah Hardjo ketidakjujuran melukai orang lain. Pernyataan tersebut sangat benar adanya. Sebab apabila ketidakjujuran sudah menjadi kebiasaan maka itu akan menjalar kepada lini kehidupan dan akibatnya secara tidak sadar berimbas pada dimensi sosial. Maka untuk mengantisipasi atau mencegah kebiasaan tidak jujur alangkah baiknya untuk belajar jujur dimulai dari diri sendiri.

*artikel ditulis sebagai kajian pada kelas language and culture