May

31

Posted by : Khilmi | On : 31 May 2018

Refleksi Hardiknas 2 Mei 2012

Oleh Khilmi Mauliddian*

(artikel telah dimuat di Jawa Pos Radar Sulawesi Barat)

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jika sekilas kita baca, peribahasa tersebut mungkin terkesan kasar. Namun, jika kita melihat realita, itu merupakan gambaran jika menjadi guru berarti siap menjadi model atau teladan untuk muridnya. Menjadi seorang guru berarti siap memegang amanah dan tanggung jawab besar. Menjadi seorang guru berarti siap  mempertanggungjawabkan kelangsungan masa depan generasi bangsa ini. Salah menjadi guru, maka generasi bangsa ini akan terancam hancur.

Bicara mengenai sosok guru merupakan suatu hal yang menarik untuk dikaji. Apalagi jika melihat fenomena banyaknya peminat yang ingin menjadi guru sekarang ini, sungguh sangat mengagumkan. Bayangkan, berbondong-bondong lulusan perguruan tinggi yang notabene sarjana produktif, antri melamar menjadi guru. Padahal kalau kita mau telisik di era 80an, banyak orang yang menolak menjadi guru. Alasannya sepele, gajinya terlalu kecil. Atau, tidak mau karena penugasannya di luar pulau atau di pedalaman. Ironis, berbanding terbalik dengan fenomena sekarang ini.

Gambaran tersebut boleh saja dikatakan wajar, menjadi guru di masa sekarang berbeda dengan menjadi guru di masa lalu. Guru sekarang sangat dimanjakan oleh pemerintah. Terlebih, guru telah ditetapkan menjadi bagian dari profesi kerja, sama seperti dokter, akuntan, dan sejenisnya. Beragam cara dilakukan oleh pemerintah untuk mengatur kebijakan mengenai kesejahteraan guru. Mulai dari kenaikan gaji, hingga iming-iming tunjangan bagi guru yang sudah bersertifikasi. Sungguh suatu hal yang patut diapresiasi dan disyukuri. Guru bukan lagi menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, melainkan sebagai pahlawan yang berjasa.

Problematika Kualitas Guru

Kemudian, jika peran pemerintah terhadap upaya memperhatikan kesejahteraan guru sudah terwujud, bukti apa yang akan diberikan guru untuk meningkatkan kualitas dalam mendidik muridnya? Kesejahteraan guru yang diberikan pemerintah pastinya tidak tanpa alasan.  Pemerintah membuat kebijakan tersebut tentunya agar selain guru sejahtera, juga kualitas guru makin meningkat. Namun apakah hal tersebut sudah dibarengi dengan meningkatnya kualitas guru itu sendiri?

Alangkah ironis jika pemerintah sudah memberikan banyak ruang kepada guru, namun kualitas guru masih saja sama dan belum ada peningkatan. Sebenarnya sangat sederhana, kualitas guru tercermin dari bagaimana cara ia mendidik murid-muridnya. Bagaimana ia dapat mengajar dengan baik dihadapan murid-muridnya. Namun kebanyakan guru lupa, mengajar masih melulu dijadikan sebagai rutinitas kerja saja. Entah disadari atau tidak, kebanyakan guru masih belum ‘paham betul’ dengan tugasnya. Kebanyakan guru masih berkutat pada jam mengajarnya, absennya, berapa gajinya,  dan parahnya karena sibuk mengurus sertifikasi, siswanya yang menjadi korban. Dan yang terjadi, guru belum menyentuh pada substansinya sebagai seorang pengajar atau pendidik.

Lalu apa yang menjadi permasalahan sehingga masih banyak guru yang kualitasnya masih jauh dari harapan? Kalau mau melihat lebih peka, akar permasalahannya terletak pada proses awal pengangkatan guru itu sendiri. Apalagi sekarang ini banyak orang berlomba-lomba mengejar profesi guru, namun tidak memperhatikan kualitas dirinya. Dan tragisnya banyak yang ingin menjadi guru karena alasan pragmatis saja tanpa ada niat kesungguhan. Seperti, menjadi guru karena tidak diterima ditempat kerja lain, karena dekat dengan pejabat, supaya jadi PNS, atau parahnya menjadi guru dengan dalih daripada menganggur dan berharap dapat tunjangan. Secara kasat mata alasan-alasan seperti itu seringkali dijumpai dalam kehidupan masyarakat. Sungguh sangat menyedihkan jika paradigma semacam itu terus dibiarkan terjadi.

Kondisi tersebut sebenarnya tidak bisa disalahkan namun tidak juga patut dibenarkan. Dikatakan tidak dapat disalahkan karena setiap orang mempunyai hak dan kesempatan untuk belajar walau berangkat dengan berbagai alasan. Dan menjadi guru berarti ia mau belajar. Bagaimana mungkin ia tidak belajar, karena yang dihadapinya adalah murid yang tentunya membutuhkan keterampilan untuk menghadapinya. Sedangkan tidak patut dibenarkan karena untuk menjadi guru harus mempunyai syarat dan kecakapan yang terukur. Tentunya syarat dan kecakapan untuk menjadi guru telah diatur dalam undang-undang sisdiknas.

Lalu, siapakah yang seharusnya tegas terhadap permasalahan tersebut? Tentunya pemerintahlah yang harusnya lebih tegas lagi menyikapinya. Namun apakah hanya pemerintah pusat saja, tentu tidak. Masih ada pemerintah daerah dalam hal ini para pemangku atau pejabat pendidikan daerah yang harus ikut ambil bagian untuk benar-benar mengawal undang-undang yang mengatur hal tersebut. Dan tentunya syarat mutlak dalam mengawal diperlukan integritas tinggi dan bersikap independen. Maksudnya, para pemangku pendidikan tersebut mengawal pengangkatan guru dengan bobot yang berkualitas dan objektif tanpa harus diikuti dengan kepentingan lain. Sehingga guru yang diangkat adalah guru yang benar-benar terpilih dan berkualitas. Kalaupun perlu, pengangkatan guru harusnya diadakan uji kelayakan dan kepatutan yang dapat dipertanggungjawabkan kualitas dan kredibelitasnya. Kesadaran dan kondisi semacam inilah yang belum dimiliki oleh bangsa ini.

Kondisi kualitas dan integritas proses pengangkatan guru memang masih menjadi buah simalakama di negara kita. Bagaimana tidak, realitasnya banyak pemangku pendidikan kita sendiri yang dengan seenaknya masih memanfaatkan untuk kepentingannya. Sehingga yang terjadi, kondisi pengangkatan guru di negara kita masih jauh tertinggal kualitasnya dibanding negara-negara maju. Kalau mau melihat ke negara lain, seperti Amerika, Jepang, China, bahkan negara tetangga kita Singapura, jalan yang ditempuh seseorang untuk menjadi seorang guru jauh lebih sulit daripada menjadi guru di negara kita sendiri. Hal tersebut karena adanya syarat uji kelayakan dan kepatutan yang harus dilalui. Karena pekerjaan menjadi guru adalah pekerjaan yang mempunyai kelas tertinggi dari pekerjaan lain. Menjadi guru di negara-negara tersebut merupakan sebuah kehormatan tinggi karena mendidik generasi bangsanya. Oleh karenanya pemerintah dan pemangku pendidikan di negara-negara tersebut sangat menghargai peran dan jasa guru.

Tingkatkan Kualitas dengan Belajar

Gambaran permasalahan di atas seyogianya marilah sama-sama renungkan. Kalaupun masalah tersebut belum bisa mendapatkan jalan keluar yang pantas, setidaknya yang sudah menjadi guru berarti kini harus mulai sadar. Toh, guru pun harus terus butuh pembelajaran agar menjadi lebih baik lagi. Dan siapa yang bertugas membenahi kualitas guru? Sekarang saatnya guru sendirilah yang harus berani berinisiatif membuktikan dengan membuat gebrakan dan prestasi yang membanggakan agar kualitasnya teruji. Terlepas itu guru honor sekolah, honor daerah, guru swasta atau PNS sekalipun. Jika memang ia mampu menoreh dan membuat terobosan atau prestasi yang membanggakan, pemerintah atau masyarakat pasti tidak akan tinggal diam. Pasti akan ada reward yang ia terima, terlebih akses informasi sekarang ini sudah sangat terbuka lebar, sehingga masyarakat ataupun pemerintah dengan mudah dan cepat mengetahui siapa saja yang telah membuat prestasi atau mampu membuat ide yang cemerlang. Dan kenyataannya, sudah ada figur guru yang ternyata tanpa ia sadari mendapat penghargaan karena ide-ide cemerlang yang ia terapkan pada anak didiknya saat mengajar. Tentunya guru seperti itu tulus dalam melakukannya karena merasa menjadi guru adalah sebuah kehormatan.

Menjadi guru jangan pernah setengah hati untuk terus dan mau belajar dalam mendidik siswa. Butuh keuletan dan totalitas yang nyata dalam mengajar. Bukan lagi selalu mengeluh karena urusan pangkat, golongan, dan sejenisnya. Atau parahnya, mengajar masih saja dijadikan alasan untuk menggugurkan kewajiban. Mulai sekarang buat paradigma baru untuk menunjukkan prestasi yang nyata. Kalaupun perlu ubah mindset guru dari hanya sekadar mengajar, kini jadikan mengajar sebagai ladang belajar atau eksperimen untuk mencetuskan terobosan-terobosan cemerlang dan kreatif. Terlebih jika mampu out of the box akan lebih baik. Inilah guru idaman masa depan, sehingga bangsa ini akan banyak mempunyai guru yang kualitasnya dapat diperhitungkan dikancah global. Pastinya guru yang demikian akan mampu menelurkan generasi masa depan bangsa yang berkualitas.

Jadi, kualitas guru tidak akan bisa meningkat, jika dalam diri seorang guru masih saja belum ada niatan untuk meningkatkan kualitas dirinya untuk terus mau belajar. Jika hal itu terus terjadi, berarti pilar pendidikan bangsa ini yang tak lain adalah guru akan terancam hancur. Kalau sudah seperti itu, hancur pulalah negara kita.

Sebagai wujud instropeksi mari maknai kembali ajaran luhur dari Bapak pendidikan kita yang tak lain Ki Hajar Dewantara, Ing Ngarsa sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, dalam segenap hati sanubari hingga akhirnya benar-benar mengerti akan hakikat guru sesungguhnya. Jika guru masih tetap malas untuk belajar, alangkah baiknya berhentilah mengajar. Semoga di hari Pendidikan Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Mei hari ini, menjadi refleksi untuk menyadarkan dan mengembalikan peran guru sebagai pilar utama masa depan bangsa ini.

*Penulis adalah Pengajar Muda Indonesia Mengajar

NB : artikel asli