May

25

Posted by : Khilmi | On : 25 May 2018

Oleh Khilmi Mauliddian*

Media sosial dan media pemberitaan pernah digemparkan dengan pemberitaan tentang seorang mahasiswa S2 UGM yang kesal lantaran lamanya mengantre di salah satu SPBU kota Yogyakarta (berita merdeka.com, 28/8/14). Lantaran kesal, tak sadar ia melontarkan kata-kata pedas untuk masyarakat Yogya, tentu saja hal ini langsung mendapat reaksi publik yang beragam khususnya warga Yogyakarta. Reaksi yang timbul sebagian besar adalah hujatan dan makian, tentu kalau kita melihat sendiri ungkapan yang keluar, betapa miris mendengarnya.

Fenomena di atas merupakan sedikit dari kejadian yang mengemuka di publik. Padahal kalau mau lebih jeli, kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri, betapa banyak hujatan dan makian selalu muncul dalam lingkungan sekitar baik orang dewasa dengan orang dewasa atau anak-anak dengan teman sepermainannya. Bahkan yang lebih menyayat hati, apabila kalimat hujatan dan makian itu dilontarkan oleh kaum terpelajar. Sungguh ironi. Pertanyaannya, kenapa itu bisa terjadi?

Pendidikan Etika dan Masalahnya
Institusi pendidikan sebagai kawah candradimuka kaum terpelajar tentu mempunyai peran penting dalam pembangunan karakter generasi bangsa. Pembangunan karakter bukan hanya dalam bentuk pembentukan intelektual, tapi meliputi pembangunan kepribadian diri yang disebut moral atau etika.

Dalam dunia pendidikan tentunya hal ini merupakan paket komplit yang wajib diterapkan. Mengingat, dengan kedua proses tersebut harapan ke depan pendidikan akan mampu melahirkan generasi hebat dan berkarakter. Namun seiring perkembangan zaman, tentu proses pendidikan akan mengalami banyak tantangan. Mengingat pola perubahan zaman sekarang ini sarat diiringi proses perkembangan kemajuan salah satunya perkembangan teknologi yang begitu cepat. Sehingga muncul juga kebiasaan-kebiasaan baru yang tumbuh seiring sejalan dengan kehidupan.
Wajar dengan pendidikan para orang tua berharap agar anak-anaknya kelak bisa lebih sukses masa depannya. Dengan pendidikan pemerintah berharap akan mampu mendapatkan sumberdaya manusia yang berkualitas untuk membangun bangsanya sendiri. Tapi, jika pendidikan ternyata hanya masih melahirkan manusia yang unggul hanya dalam bidang intelektual atau basis ilmu saja, apa ini dinamakan sudah berhasil? Tentu jawabannya belum.

Ada sebuah ungkapan, mencetak manusia pintar itu mudah, tapi mencetak manusia pintar dan beretika itu susah. Acapkali saat merenungkan kalimat tersebut ada benarnya. Saat pendidikan kita harus berhadapan dengan kemajuan zaman, maka disitulah tantangan itu datang. Apalagi tantangan paling berat adalah menanamkan pendidikan etika.

Entah disadari atau tidak pendidikan etika era sekarang makin kian luntur, terlepas sebenarnya banyak buku-buku disekolah yang menuliskan tentang materi etika. Justru kenyataannya hanya masih menjadi bacaan yang tetap berada pada tempatnya. Terlebih semakin banyak generasi bangsa yang tak lagi mementingkan etika yang seharusnya seperti contoh kasus yang penulis sampaikan di atas.

Menanamkan Etika
Bagaimana tidak terkejut saat seorang mahasiswa yang sudah mengambil program S2, berpendidikan tapi masih menghina dengan perkataan yang tak seharusnya. Padahal kalau dari segi pendidikan ia sudah menempuh jenjang yang tinggi. Tentu secara kepribadian ia seharusnya memahami konsep etika dengan berpikir panjang sebelum mengeluarkan statemen. Tapi itulah, kenyataan berkata lain, krisis etika mungkin sekarang telah melanda hingga segala lini kehidupan. Mulai dari anak-anak yang berani terhadap orang tua, murid kepada guru, berkelahi dengan teman, berkata kotor, seks bebas, hingga perbuatan korupsi dan lain-lain.

Pendidikan etika merupakan bagian terpenting untuk membentuk manusia seutuhnya. Maksud seutuhnya tentu memunyai makna manusia yang pintar, cerdas dan bermoral. Nah, disinilah perlu upaya yang lebih serius untuk menanamkan nilai-nilai etika agar bisa mencapai tujuan menjadi manusia bermoral. Upaya pemerintah untuk mencapai pendidikan yang bermoral dengan strategi pendidikan yang dicanangkan pasti terus dilakukan, tapi buat apa jika peran orang tua, guru, dosen atau pemerintah sendiri masih belum maksimal dalam menanamkan nilai-nilai etika dan ternyata belum bisa memberikan contoh yang baik.

Lantas siapa yang akan bertanggungjawab terhadap keberlangsungan generasi bangsa yang konon Indonesia terkenal dengan keramahannya? Apakah hanya pemerintah saja, sekolah, guru, orang tua, dosen? Mari saatnya kita semua giatkan kesadaran kembali untuk berlatih diri menanamkan kesadaran pendidikan etika pada generasi bangsa. Dengan bahasa sederhana, jika ingin dihargai orang lain maka belajarlah menghargai.

*Penulis  adalah alumni Pengajar Muda Indonesia Mengajar, Mahasiswa S2 Linguistik Universitas Brawijaya