Comments Off on Biografi Inspirasi: Setelah Thailand dan Eropa, Kini Terbang ke Kanada

Foto : Nia paling kanan saat usai kunjungan studi di Mahkamah Kriminal Internasional di Den Hag.

Menempuh ilmu tanpa memandang batas usia, tempat, ruang, dan waktu. Bolehlah menerjemahkan demikian perihal mencari ilmu kapan pun dan dimanapun. Yang ingin penulis ungkapkan adalah sosok orang yang dengan kegigihannya mampu berkeliling dunia dengan gratis plus mendapatkan ilmu. Semakin keren dan lengkaplah apa yang didapatkannya.

Ia adalah seorang perempuan yang masih tergolong muda dan cantik. Tahun 2009 lulus dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga sebagai salah satu lulusan terbaik kemudian diterima sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Kabupaten Probolinggo bagian penyuluh kesehatan. Sungguh sesuatu yang pasti diharapkan banyak orang, lulus kuliah kemudian langsung bekerja, pegawai negeri sipil lagi.

Namuh hal di atas tidak membuatnya dalam kondisi comfort zone. Setelah hampir tiga tahun menjadi PNS, ia memilih untuk mencari beasiswa dengan harapan bisa melanjutkan ke jenjang S2. Benarlah, saat itu peluang beasiswa yang dibuka adalah beasiswa BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri). Ia lantas diterima di pascasarsajana Prodi Promosi Kesehatan, Universitas Diponegoro, Semarang. Menempuh dengan masa dua tahun tidak membuat dirinya biasa-biasa saja, malah ia bisa menyabet lulusan terbaik tingkat pendidikan master di Universitas Diponegoro.

Saat masa akhir studi S2 Promosi Kesehatan, ia pun mencoba mengikuti konferensi ilmiah. Inilah yang menjadikan awal ia menapak ke luar negeri kali pertama. Sebab, karya ilmiahnya diterima pada ajang konferensi internasional di Hatyai, Thailand, yang diadakan oleh Persatuan Mahasiswa Indonesia di Thailand atau PERMITHA tahun 2012 silam dengan mengangkat tema promosi kesehatan pada pelajar.

Sejak kali pertama ke luar negeri, ia semakin giat untuk mencari kesempatan belajar dengan menggali lebih dalam karya-karya ilmiahnya. Kesempatan itu akhirnya datang, di tahun 2016 ia dinyatakan lolos sebagai salah satu peserta dalam pendidikan singkat Leadership Economic Development (LED) di Den Hag, Belanda dan satu-satunya wakil dari Indonesia. Saat itu ia mengangkat tema penerapan entrepreneurship berwawasan kesehatan dengan fokus potensi pemanfaatan daun Kelor sebagai tepung dan makanan dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat. Perlu diketahui, tepung memiliki kandungan vitamin dan protein yang tinggi, apabila dikonsumsi orang sakit akan membantu mempercepat proses penyembuhan.

Namun ia mengungkapkan untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri tidaklah mudah. Beberapa kali ia mengalami kegagalan dalam mengikuti seleksi. Pernah ia sudah tahap wawancara untuk beasiswa di Amerika Serikat, ternyata gagal. Lalu mencoba mendaftar di Belanda dan Australia pun juga demikian pernah mengalami getir rasanya tidak diterima. Dari pelajaran itulah maka ia makin giat dalam belajar dan membenahi kekurangan dan kini akhirnya bisa berhasil menembus beasiswa luar negeri.

Kembali pada studi di Den Hag, saat berada di Belanda ia menyempatkan tour ke beberapa negara di Eropa, khususnya kota Paris, Perancis. Selain studi, berkat beasiswa ia juga bisa jalan-jalan gratis di Eropa.

Sekembali dari Belanda, ia kemudian diangkat sebagai manager dibidang pelayanan kesehatan. Meskipun sibuk, namun ia tetap semangat dalam menimba ilmu dengan tetap mengasah ide karya ilmiahnya. Berkat ide karya ilmiah yang diasah kini ia tengah bersiap berangkat ke Kanada. Sebab, ia dengan ide ilmiahnya terpilih kembali sebagai salah satu peserta didik dalam program pendidikan Global Change Leader atau pendidikan Para Pemimpin Perubahan Dunia khusus pemimpin perempuan pada bulan Mei-Juni 2018. Mewakili Indonesia dan satu-satunya yang terpilih untuk bertemu perwakilan dari 22 negara lainnya selama dua bulan pasti akan menjadi sebuah kebanggaan.

Itulah sekelumit cerita inspirasi dari sosok muda yang berparas cantik Kurnia Ramadhani atau biasa dipanggil Nia. Di usia yang masih muda sudah menduduki manager di salah satu rumah sakit pemerintah kabupaten Probolinggo dan masih mampu menorehkan prestasi level internasional.

*Tulisan ini dibuat karena cerita inspirasinya.