May

04

Posted by : Khilmi | On : 4 May 2018

Foto : Nia paling kanan saat usai kunjungan studi di Mahkamah Kriminal Internasional di Den Hag.

Menempuh ilmu tanpa memandang batas usia, tempat, ruang, dan waktu. Bolehlah menerjemahkan demikian perihal mencari ilmu kapan pun dan dimanapun. Yang ingin penulis ungkapkan adalah sosok orang yang dengan kegigihannya mampu berkeliling dunia dengan gratis plus mendapatkan ilmu. Semakin keren dan lengkaplah apa yang didapatkannya.

Ia adalah seorang perempuan yang masih tergolong muda dan cantik. Tahun 2009 lulus dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga sebagai salah satu lulusan terbaik kemudian diterima sebagai pegawai negeri sipil di lingkungan Kabupaten Probolinggo bagian penyuluh kesehatan. Sungguh sesuatu yang pasti diharapkan banyak orang, lulus kuliah kemudian langsung bekerja, pegawai negeri sipil lagi.

Namuh hal di atas tidak membuatnya dalam kondisi comfort zone. Setelah hampir tiga tahun menjadi PNS, ia memilih untuk mencari beasiswa dengan harapan bisa melanjutkan ke jenjang S2. Benarlah, saat itu peluang beasiswa yang dibuka adalah beasiswa BKLN (Biro Kerjasama Luar Negeri). Ia lantas diterima di pascasarsajana Prodi Promosi Kesehatan, Universitas Diponegoro, Semarang. Menempuh dengan masa dua tahun tidak membuat dirinya biasa-biasa saja, malah ia bisa menyabet lulusan terbaik tingkat pendidikan master di Universitas Diponegoro.

Saat masa akhir studi S2 Promosi Kesehatan, ia pun mencoba mengikuti konferensi ilmiah. Inilah yang menjadikan awal ia menapak ke luar negeri kali pertama. Sebab, karya ilmiahnya diterima pada ajang konferensi internasional di Hatyai, Thailand, yang diadakan oleh Persatuan Mahasiswa Indonesia di Thailand atau PERMITHA tahun 2012 silam dengan mengangkat tema promosi kesehatan pada pelajar.

Sejak kali pertama ke luar negeri, ia semakin giat untuk mencari kesempatan belajar dengan menggali lebih dalam karya-karya ilmiahnya. Kesempatan itu akhirnya datang, di tahun 2016 ia dinyatakan lolos sebagai salah satu peserta dalam pendidikan singkat Leadership Economic Development (LED) di Den Hag, Belanda dan satu-satunya wakil dari Indonesia. Saat itu ia mengangkat tema penerapan entrepreneurship berwawasan kesehatan dengan fokus potensi pemanfaatan daun Kelor sebagai tepung dan makanan dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat. Perlu diketahui, tepung memiliki kandungan vitamin dan protein yang tinggi, apabila dikonsumsi orang sakit akan membantu mempercepat proses penyembuhan.

Namun ia mengungkapkan untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri tidaklah mudah. Beberapa kali ia mengalami kegagalan dalam mengikuti seleksi. Pernah ia sudah tahap wawancara untuk beasiswa di Amerika Serikat, ternyata gagal. Lalu mencoba mendaftar di Belanda dan Australia pun juga demikian pernah mengalami getir rasanya tidak diterima. Dari pelajaran itulah maka ia makin giat dalam belajar dan membenahi kekurangan dan kini akhirnya bisa berhasil menembus beasiswa luar negeri.

Kembali pada studi di Den Hag, saat berada di Belanda ia menyempatkan tour ke beberapa negara di Eropa, khususnya kota Paris, Perancis. Selain studi, berkat beasiswa ia juga bisa jalan-jalan gratis di Eropa.

Sekembali dari Belanda, ia kemudian diangkat sebagai manager dibidang pelayanan kesehatan. Meskipun sibuk, namun ia tetap semangat dalam menimba ilmu dengan tetap mengasah ide karya ilmiahnya. Berkat ide karya ilmiah yang diasah kini ia tengah bersiap berangkat ke Kanada. Sebab, ia dengan ide ilmiahnya terpilih kembali sebagai salah satu peserta didik dalam program pendidikan Global Change Leader atau pendidikan Para Pemimpin Perubahan Dunia khusus pemimpin perempuan pada bulan Mei-Juni 2018. Mewakili Indonesia dan satu-satunya yang terpilih untuk bertemu perwakilan dari 22 negara lainnya selama dua bulan pasti akan menjadi sebuah kebanggaan.

Itulah sekelumit cerita inspirasi dari sosok muda yang berparas cantik Kurnia Ramadhani atau biasa dipanggil Nia. Di usia yang masih muda sudah menduduki manager di salah satu rumah sakit pemerintah kabupaten Probolinggo dan masih mampu menorehkan prestasi level internasional.

*Tulisan ini dibuat karena cerita inspirasinya.

 

 

May

04

Posted by : Khilmi | On : 4 May 2018

Pada tanggal 21-22 April 2018 lalu saya diberi kesempatan bisa mengujungi komunitas Samin di Bojonegoro. Bersama dengan rombongan Mahasiswa S2 Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya kunjungan terasa hangat dan menyenangkan. Kegiatan tersebut dibingkai dalam bentuk studi lapangan sehingga tujuannya jelas, yaitu kunjungan yang berbasis ilmiah.

Sebanyak 15 mahasiswa turut dalam kegiatan itu dengan didampingi satu dosen pembimbing. Tugas mahasiswa saat tiba di tempat pada studi lapangan adalah mengobservasi bahasa dan budaya yang ada pada komunitas Samin. Tak pelak mahasiswa harus fokus pada tugas itu. Bentuk tugas juga bebas asal tidak lepas dari tema bahasa dan budaya.

Oleh sebab tugas yang ditentukan bebas maka saya tertarik untuk membahas tentang perilaku kejujuran komunitas Samin. Kenapa? Karena bagi saya nilai kejujuran zaman sekarang makin susah untuk diterapkan, sedangkan komunitas Samin ternyata masih bisa membumikan nilai-nilai kejujuran itu pada perilaku kehidupannya.

Jujur menurut pengertiannya adalah suatu perbuatan atau yang didasarkan apa adanya tanpa harus diada-adakan. Maksud jujur berarti apabila berbuat sesuatu maka harus sesuai dengan kenyataan. Disinilah letak komunitas Samin menerapkan perbuatan tersebut dalam kehidupannya hingga saat ini.

Saat saya bertemu dengan sesepuh Samin, mbah Hardjo Kardi, beliau menerangkan bahwa komunitas Samin pantang untuk tidak berperilaku jujur. Alasannya adalah jika manusia berbuat tidak jujur maka selanjutnya pasti bakal mencederai atau melukai orang lain dalam perbuatannya.

Menyimak alasan yang dijelaskan mbah Hardjo di atas, maka saya mencoba untuk menelaah kejujuran yang dimaksudkan. Dengan harapan mampu menerjemahkan maksud yang disampaikan.

Jika ditelaah lebih lanjut apa yang disampaikan mbah Hardjo di atas maka kita bisa mengambil analisis logika sebagai berikut. “Tidak jujur dan melukai orang lain.” Sebab, dalam kehidupan sehari-hari maka kita sering dibenturkan dengan perbuatan baik disadari atau tidak dengan perilaku tidak jujur. Mari coba renungkan, hal sederhana saja, kita sedang ditelpon oleh teman karena sudah berjanji pada pukul sekian bertemu, tapi saat ditelpon bilang sedang berada di jalan, padahal kenyataannya masih akan berangkat.

Menilik ilustrasi di atas, kita tidak sama sekali merugikan teman kita, atau kita tidak merasa bersalah karena alasan tersebut bakal tidak diketahui oleh teman kita. Namun yang perlu digaris bawahi adalah kita sudah tidak berbuat jujur pada diri kita sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri berarti sudah bohong dengan diri sendiri. Tidak jujur pada diri sendiri maka secara tidak sadar belajar untuk menanamkan nilai-nilai ketidakjujuran pada diri. Hal yang demikian pastinya akan merembet ke dalam lini kehidupan dimanapun secara perlahan. Sehingga lambat laun akan membesar dan berpotensi menjadi kebiasaan.

Kembali pada pernyataan mbah Hardjo ketidakjujuran melukai orang lain. Pernyataan tersebut sangat benar adanya. Sebab apabila kejujuran sudah menjadi kebiasaan maka itu akan menjalar kepada lini kehidupan dan akibatnya secara tidak sadar berimbas pada dimensi sosial. Maka untuk mengantisipasi atau mencegah kebiasaan tidak jujur alangkah baiknya untuk belajar jujur dimulai dari diri sendiri.