May

02

Posted by : Khilmi | On : 2 May 2018

Bersama sesepuh komunitas Samin (Mbah Hardjo Kardi tengah) Bojonegoro (foto dok.: Amanda/ S2 Linguistik)

Sebagai bagian dalam proses pembelajaran mata kuliah Language and Culture, mahasiswa program studi S2 Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya mengadakan studi lapangan ke komunitas Samin Bojonegoro pada Sabtu dan minggu (21-22/4). Sebanyak 15 mahasiswa dan satu dosen pembimbing matakuliah tergabung dalam satu rombongan berangkat bersama-sama. Kegiatan ini merupakan rangkaian proses pendalaman matakuliah yang sedang ditempuh oleh mahasiswa S2 Linguistik semester 2.

Saat tiba di tempat komunitas Samin, kedatangan rombongan mahasiswa disambut hangat oleh sesepuh Samin, Hardjo Kardi atau biasa dipanggil mbah Hardjo. Sosok Mbah Hardjo merupakan keturunan generasi keempat dari pendiri ajaran Samin yaitu Surosentiko Samin yang masih hidup. Usianya sudah terbilang tua. Lahir pada tahun 1934 namun masih tampak sehat. Dengan ramah beliau menyambut dan mempersilakan seluruh rombongan masuk ke rumahnya.

Kunjungan ini menjadi sangat berkesan, sebab kedatangan rombongan ternyata bertepatan dengan budaya nyadran oleh komunitas Samin. Budaya nyadran komunitas Samin berbeda dengan budaya nyadran pada umumnya. Bagi komunitas ini, nyadran adalah sarana berkumpul dengan keluarga dan ajang menyambung persaudaraan dengan kerabat dan tetangga sembari menyajikan makanan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen selama satu hari itu. Atau lebih mirip dikatakan lebaran panen.

Adanya kegiatan budaya itu, antusias mahasiswa yang mengikuti studi lapangan semakin tinggi untuk mempelajari budaya Samin. Pada kesempatan tersebut, Mbah Hardjo menyampaikan banyak cerita tentang Samin yang dianut oleh komunitas Samin. Mulai dari sejarah, makna ajaran, dan kebudayaan yang dilakukan oleh komunitas ini.

Lebih lanjut, Mbah Hardjo dengan tangan terbuka memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menggali lebih dalam tentang komunitas Samin. Karena menurut Mbah Hardjo, ajaran Samin adalah ajaran kebaikan, maka siapapun dipersilakan untuk mempelajarinya.

Perilaku Hidup Samin
Komunitas Samin merupakan salah satu komunitas yang masih menjaga kearifan lokal hingga sekarang. Komunitas ini tersebar di beberapa daerah di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Tengah Komunitas Samin menyebar di wilayah kabupaten Blora, Rembang, kudus, dan Pati. Sedangkan di Jawa Timur komunitas Samin berada di Wilayah kabupaten Ngawi dan Bojonegoro.

Komunitas Samin yang ada di Bojonegoro bertempat tinggal tepatnya di dusun Jepang, desa Margomulyo, kecamatan Margomulyo. Secara geografis letak dusun Jepang berada di tengah kawasan hutan Jati. Dalam kehidupannya, mereka masih menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran Samin antara lain, selalu bertindak jujur, tidak iri, tidak dengki, Sabar, trokal atau selalu berdaya upaya, tidak suka menyinggung perasaan orang lain baik fisik atau nonfisik, dan masih menjunjung tinggi budaya hidup gotong royong.

Mbah Hardjo berkisah, Samin di dusun Jepang hingga saat ini masih menerapkan dan memelihara budaya gotong royong. “apabila ada orang menanam Jagung, maka disini masih menerapkkan gotong royong saling membantu tanpa diberi upah, dan begitu seterusnya untuk kegiatan apapun yang ada di masyarakat sini secara bergantian. Satu membutuhkan maka lainnya berkewajiban membantu tanpa diberi upah sepeser pun” Terangnya pada mahasiswa.

Mbah Hardjo juga menambahkan, apabila disini ada orang yang berbuat tidak jujur maka ia yakin hukum karma akan menimpa pada orang tersebut. Maka pantang bagi komunitas Samin untuk tidak jujur dalam kehidupan. Sehingga tidaklah heran, berkat budaya kejujuran yang sudah melekat pada komunitas Samin, wilayah Samin tergolong aman dan lingkungan alamnya masih terjaga kelestariannya, sebab pantang bagi masyarakat Samin untuk mencuri yang bukan haknya.

Makna Studi Lapangan
Menurut dosen pembimbing Language and Teaching, Ismatul Khasanah, Ph.D yang turut mendampingi rombongan mahasiswa, tujuan dari kegiatan ini merupakan sarana agar mahasiswa mampu mengaplikasikan dan mendalami pemahaman terkait budaya dan bahasa pada suatu komunitas masyarakat.

“Maksud Studi lapangan ke komunitas Samin di Bojonegoro agar mahasiswa S2 Linguistik mampu memahami dan mempunyai wawasan yang lebih luas terhadap keragaman bahasa dan budaya yang masih hidup dan lestari seperti Samin dan bisa digunakan sebagai objek belajar dan penelitian secara langsung” jelasnya.

Lebih lanjut, Isma Sensei begitu biasa dipanggil, menjelaskan bahwa proses belajar bahasa dan budaya akan sangat membumi, karena mahasiswa bisa berinteraksi secara langsung dengan komunitas Samin dengan bekal teori yang diperoleh di kelas dan selanjutnya dapat digunakan sebagai bekal dalam studi maupun setelah lulus.

“Kedepan diharapkan setelah mengikuti kegiatan studi lapangan, mahasiswa semakin bertambah wawasan dan kepeduliaanya dalam memahami budaya yang masih ada seperti komunitas Samin. Dengan demikian, ketika lulus dari S2 Linguistik nantinya bisa menjadi lulusan yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.” Pungkasnya. (Khilmi/S2Li)

*Berita sudah diterbitkan di website FIB Universitas Brawijaya dalam versi bahasa Indonesia dan Inggris

http://fib.ub.ac.id/?p=13239 (versi bahasa Inggris)