Produksi dan Lingkungan Adaptasi sapi FH di Indonesia

Latar Belakang
Salah satu faktor yang menentukan berhasilnya peternakan sapi perah yaitu pemberian pakan. Sapi perah yang produksi susunya tinggi, bila tidak mendapat pakan yang cukup baik kuantitas maupun kualitasnya tidak akan menghasilkan susu yang sesuai dengan kemampuannya. Cara pemberian pakan yang salah dapat mengakibatkan penurunan produksi, gangguan kesehatan bahkan dapat juga menyebabkan kematian (Sudono 1999). Sapi perah merupakan salah satu hewan memamah biak mempunyai daya cerna yang efektif terhadap berbagai jenis bahan makanan, termasuk makanan kasar seperti hijauan atau rerumputan.
Produktivitas ternak ditentukan oleh mutu genetik yang dimiliki oleh ternak dan dipengaruhi faktor lingkungan dimana ternak itu berada,serta kemungkinan adanya interaksi antara keduanya. Peningkatan produksi susu khususnya sapi perah, dari segi pemuliaan ditujukan kearah perbaikan mutu gen.
Dengan jumlah produksi susu yang dihasilkan perhari oleh sapi perah yang berada di Indonesia masih belum dapat memnuhi kebutuhan perkapita pertahun, yang kemudian solusi yang dapat diambil pemerintah dengan mengimpor susu ke dalam Indonesia. Maka tidak heran jika harga susu kemasan lebih mahal bisa 2x dari harga susu dalam negeri. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja,perlu adanya evaluasi,manajemen,dan cara pemeliharaan sapi perah agar didapatkan sapi yang berproduksi susu sesuai kebutuhan Negara.
Faktor lingkungan menjadi faktor penting didalam menangani masalah tersebut. Suhu,kelembapan,ketinggian,cuaca,ketinggiian tempat,pakan,bibit (gen yang bagus) menjadi hal yang harus diketahui. Oleh karena itu pentingnya dalam membahas tentang “ Produksi dan Adaptasi Lingkungan Sapi Perah di Indonesia “

Produksi Sapi Perah
Produktivitas ternak ditentukan oleh mutu genetik yang dimiliki oleh ternak dan dipengaruhi faktor lingkungan dimana ternak itu berada serta kemungkinan adanya interaksi antara keduanya. Peningkatan produksi susu khususnya sapi perah, dari segi pemuliaan ditujukan kearah perbaikan mutu gen (Hardjosubroto,et al.,1979).
Usaha yang telah dilakukan untuk meningkatkan produksi susu sapi perah domestic antara lain ditempuh dengan cara meningkatkan mutu genetic sapi perah baik melalui seleksi induk maupun pejantannya. Menggunakan pejantan impor yang memiliki mutu genetik tinggi merupakan salah satu alternative. Aplikasi IB dapat mendukung perbaikan mutu genetic melalui pejantan impor secara cepat untuk penyebaran semen pejantan tersebut. Ternak-ternak impor khususnya pejantan perlu dievaluasi secara berkelanjutan agar dapat diketahui sejauh mana pengaruhnya terhadap sapi perah yang ada di Indonesia mutu genetic ternak sapi perah. Evaluasi ini perlu dilakukan pada berbaga tingkat manajemen peternakan sapi perah.
Menurut Sudono (1983),variasi kemampuan bereproduksi susu tersebut 30% dipengaruhi oleh sifat keturunan (genetis) dan 70% dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Lebih lanjut dikemukakan Sasimowski (1982) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi produksi susu antara lain karakteristik bangsa, karakteristik indivudi sapi, umur, masa bunting,pakan, kesehatan, kondisi lingkungan,frekuensi dan metode pemerahan.
Holmes dan Wilson (1984),mengemukakan bahwa produksi susu meningkat secara cepat setelah proses kelahiran. Produksi susu harian tertinggi dicapai dalam tiga sampai enam minggu setelah sapi beranak dan setelah mencapai puncaknya produksi susu akan menurun terus sampai akhir laktasi. Puncak produksi susu menurut Schmidt dan Van Vleck (1974) adalah tergantung pada kondisi tubuh saat beranak dan pakan setelah beranak.
Produksi susu sapi perah di Indonesia tergolong rendah jika dibandingkan dengan produksivitas sapi perah iklim sedang, kemampuan menghasilkan susunya berkisar 3000-3900 liter perlaktasi,sedangkan di daerah iklim sedang mencapai lebih dari 6000 perlaktasi. Menurut Wright dalam Srigandono (1972) sapi Holstein di daerah tropis akan memperlihatkan penampilan produksi yang tidak berbeda jauh dengan negeri asalnya, bila suhu lingkungan rata-rata 18.3 derajat C dengan kelembapan udara 55%.
Menurut Perwito (1987) mengatakan bahwa tidak selamanya curah hujan yang tinggi di suatu daerah akan diikuti dengan tingginya produksi susu. Perkembangan kelenjar susu pada umumnya terjadi pada permulaan masa dewasa kelamin atau pubertas. Sistem hormonal berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan jaringan kelenjar susu, terutama pada akhir masa kebuntingan. Selain itu juga,sistem hormonal ini berperan dalam sintesa dan sekresi susu.
Kemampuan produksi seekor sapi betina merupakan hasil interaksi antara genetik dan lingkungan. Penigkatan produksi susu menurut Thalib (1999) tidak hanya tergantung kepada kualitas genetiknya secara indepensent tetapi yang lebih penting adalah seberapa besar potensi genetic yang dibawanya dapat ditampilkan melalui manipulasi faktor lingkungan seperti pakan.
2.2 Produksi Susu Sapi Fries Holland
Kemampuan sapi perah menghasilkan susu merupakan sifat yang menurun dan berbeda pada setiap bangsa. Selain itu, setiap bangsa memiliki karakteristik berbeda dalam jumlah produksi dan komposisi susu yang dihasilkan terutama kadar lemak (Blakely & Bade 1985, diacu dalam Djaja et al. 2006). Produksi susu rata-rata per ekor ternak sapi perah berada pada kisaran 9-12 liter perhari (Asmaki et al. 2008). Tidak dipungkiri ada sapi yang dapat berproduksi mencapai 35 liter per hari. Banyak faktor yang mempengaruhi produksi susu sapi. Faktor tersebut diantaranya adalah genetik induk sapi, pakan sapi dan konsentrat, dan tatalaksana pemeliharaan. Ketiga faktor tersebut saling terkait, misalnya sapi yang secara genetic berasal dari induk yang baik, belum tentu dapat mengekspresikan produksinya tanpa didukung oleh dua faktor lainnya (Asmaki et al. 2008).
2.3 Faktor Lingkungan dan Produksi
Faktor lingkungan merupakan faktor pendukung agar ternak mampu berproduksi sesuai dengan kemampuannya. Faktor lingkungan antara lain pakan, pengelolaan dan perkandangan, pemberantasan dan pencegahan penyakit, serta faktor iklim baik iklim mikro maupun makro (Purwanto 1999). Menurut Anderson et al. (1985) yang diacu dalam Rumentor (2003) pengaruh lingkungan terhadap ternak dapat secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh lingkungan secara langsung adalah terhadap tingkat produksi melalui metabolisme basal, konsumsi pakan, gerak laju makanan, kebutuhan pemeliharaan, reproduksi pertumbuhan dan produksi susu. Sedangkan pengaruh tidak langsung berhubungan dengan kualitas dan ketersediaan makanan. Secara umum faktor lingkungan dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor biologis dan non biologis.
Faktor biologis adalah semua faktor yang berhubungan dengan proses biologi ternak seperti pakan, air, penyakit, interaksi sosial dan sex. Faktor non biologis merupakan faktor yang dapat perhatian utama dalam stress fisologis dan karakteristik ternak. Faktor non biologis yang mempunyai peranan penting dalam produksi ternak yaitu suhu udara,kelembaban udara, dan ketinggian tempat.
Pada umumnya sapi perah yang dipelihara di Indonesia adalah bangsa Holstein dan hasil persilangannya dengan bangsa sapi local. Diantara bangsa-bangsa sapi perah,sapi Holstein mempunyai kemampuan produksi susu yang tertinggi,akan tetapi paling rendah daya tahan panasnya . Faktor lingkungan terutama iklim yang paling berpengaruhg terhadap produktivitas sapi perah adalah suhu udara dan kelembapan udara.
Di dataran tinggi ternak memperbanyak konsumsi pakan sebagai upaya untuk mengatasi dinginnya suhu lingkungan. Dengan demikian tingginya produksi susu di daerah dingin bukan hanya disebabkan suhu udara yang rendah tetapi juga merupakan akibat banyaknya konsumsi pakan. Produksi susu pada pagi hari lebih tinggi dibandingkan produksi susu pada sore hari. Perbedaan ini disebabkan karena selang waktu atara pemerahan sore ke pagi hari lebih lama (rata-rata 14jam) dibandingkan dengan pemerahan pagi ke sore yanhg hanya 10jam. Selang waktu yang lama menyebabkan kelenjar susu mampu mensekresi susu lebih banyak.
Daerah termonetral bagi sapi Holstein adalah pada kisaran suhu -5 derajat C sampai 21 derajat C. di Indonesia daerah yang meningkat sampai 21,1 derajat C. di Indonesia, daerah yang sejuk dan kering yang cocok untuk sapi perah adalah daerah pegunungan berketinggian sekarang-kurangnya 800 m dari permukaan laut. Usaha sapi perah di daerah dataran rendah perlu ditunjang penerapan teknologi lingkungan untuk mengoptimalkan produksi.
Suhu dan kelembapan udara daerah tropic menyebabkan cekaman (stres) pada ternak dengan akibat suhu tubuh ternak meningkat dan konsumsi pakan menurun. Produksi susu maupun kualitas air susu,kadar lemak dan bahan kering juga menurun. Kondisi nyaman bahi sapi perah adalah suhu antara 10 derajat C dan 27 derajat C dengan kelembapan 20-90%, pada suhu lingkungan di atas 35 derajat C maka mekanisme pengaturan panas tubuh ternak akan rusak dan suhu rectal akan naik. Suhu udara dan ketnggian tempat berkolerasi tinggi dengan variasi menurut tingkat keawanan,wilayah,musim,perbedaan siang dan malam dan topografi dataran tinggi.
2.3.1 Suhu Udara

Suhu udara merupakan sebuah ukurandari intensitas panas dalam artian sebuah unit standar dan biasanya ditunjukkan dalam satuan derajat Celsius (0C). Suhu udara merupakan rataan suhu dari lingkungan baik yang berupa udara maupun air di sekitar tubuh ternak dalam kaitannya dengan istilah umum untuk panas dalam arti fisiologis (Bligh & Johnson 1973, diacu dalam Purwanto 1999). Suhu yang sesuai untuk sapi perah berkisar antara 15-22C (Nurdin 2011), sedangkan menurut McIntyre 1971 diacu dalam Djaja et al. 2006 mengatakan bahwa sapi perah asal Eropa berproduksi secara optimum jika dipelihara di suhu lingkungan dalam kisaran 10-12C, apabila suhu lebih besar dari 21C sapi perah sulit beradaptasi dan menunjukkan penurunan produksi susu.
Keadaan ini menyebabkan sapi perah FH di daerah tropis dengan suhu lingkungan rata-rata 23C mencapai produksi susu yangtidak sebaik di tempat asalnya (Willianson & Payne 1978, diacu dalam Djaja et al. 2006).

2.3.2 Kelembaban Udara
Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara. Kelembaban udara biasanya diekspresikan sebagai kelembaban relatif (Relative Humidity = RH). Kelembaban relatif merupakan perbandingan fraksi mol uap air yang ada di dalam suatu volume udara tertentu dengan fraksi mol uap air yang ada dalam udara jenuh pada tekanan udara yang sama. Pada hewan ternak, kelembaban udara penting dalam mengimbangi laju kehilangan panas. Menurut Yani dan Purwanto (2006) sapi FH menunjukkan penampilan produksi terbaik apabila ditempatkan pada lingkungandengan kelembaban 55 persen. Kelembaban udara yang rendah akan menyebabkan adanya iritasi pada kulit dan dehidrasi serta cenderung menurunkan kandungan bahan kering hijauan sebagai pakan ternak sedangkan kelembaban udara yang tinggi akan menyebabkan terjadinya rangsangan timbulnya penyakit pada ternak, menurunkan kualitas makanan akibat kandungan nitrogen dan karbohidrat berkurang, membatasi kehilangan panas dan terkadang membahayakan keseimbangan panas (Mc Dowell 1970, diacu dalam Sugih 1991).

2.3.3 Ketinggian Tempat
Tinjauan spesifik mengenai potensi unsur iklim ketinggian tempat dari atas permukaan laut berpengaruh terhadap ternak sapi perah terutama terhadap produksi susu. Tinggi suatu tempat di daerah tropis sangat penting bagi sapi-sapi perah yang berasal dari daerah beriklim sedang atau keturunannya agar dapat mempertahankan produksi susunya yang tinggi. Menurut Yani dan Purwanto (2006) usaha peternakan sapi FH di Indonesia pada umumnya dilakukan pada daerah yang memiliki ketinggian lebih dari 800 mdpl, sedangkan menurut Sudono et al. (1970) pada ketinggian ±1000 mdpl sapi-sapi FH dapat mempertahankan produksi susunya yang tinggi. Daerah dengan ketinggian sedang sampai tinggi mempunyai iklim yang baik bagi sapi, sehingga sapi masih dapat berproduksi secara optimum dan memadai. Dengan demikian dapatlah dimengerti bahwa pelaksanaan perbaikan produksi susu yang paling murah adalah dengan memanfaatkan daerah dengan ketinggian sedang sampai tinggi untuk peternakan sapi perah di daerah tropis.

2.3.4 Temperature Humidity Index
(THI)
Jenis sapi perah murni yang berasal dari daerah subtropis jika didatangkan ke daerah tropis akan mendapatkan cekaman panas sehingga akan menimbulkan penimbunan panas yang berlebih di dalam tubuh sapi tersebut. Cekaman panas yang terus berlangsung pada ternak berdampak pada peningkatan konsumsi air minum, penurunan produksi susu, peningkatan volume urine dan penurunan konsumsi pakan (Yani & Purwanto 2006). Sapi akan mulai menderita cekaman panas apabila kondisi faktor-faktor yang mempengaruhi suhu lingkungan menyebabkan suhu lingkungan lebih tinggi daripada suhu daerah netral dari ternak tersebut. Faktor lingkungan yang menyebabkan cekaman panas berpengaruh terhadap kehidupan dan penampilan sapiperah terutama suhu lingkungan dan kelembaban udara (Thompson 1973, diacu dalam Purwanto 1999). Kombinasi suhu dan kelembaban udara biasa dinyatakan dalam bentuk Indeks suhu dan kelembaban udara atau THI (Temperature Humidity Index). THI juga digunakan untuk mengetahui adanya cekaman panas karena keadaan lingkungan yang tidak nyaman (discomfort). Hahn (1999) menentukan bahwa perhitungan THI untuk sapi FH menggunakan persamaan :
THI = 0.81 tdb + RH (tdb-14.4) + 46.4
Keterangan :
THI = Index suhu dan kelembaban udara tdb = Rata-rata suhu bola kering (0C)
RH = Kelembaban relatif (dalam desimal)
Sapi perah FH akan merasa nyaman pada nilai THI di bawah 72. Jika nilai THI melebihi 72, maka sapi perah FH akan mengalami stres ringan (72-79), stress sedang (80-89) dan stres berat (90-99).

2.4 Pemberian Pakan Sapi Perah
Salah satu faktor yang menentukan berhasilnya peternakan sapi perah yaitu pemberian pakan. Sapi perah yang produksi susunya tinggi, bila tidak mendapat pakan yang cukup baik kuantitas maupun kualitasnya tidak akan menghasilkan susu yang sesuai dengan kemampuannya. Cara pemberian pakan yang salah dapat mengakibatkan penurunan produksi, gangguan kesehatan bahkan dapat juga menyebabkan kematian (Sudono 1999). Sapi perah merupakan salah satu hewan memamah biak mempunyai daya cerna yang efektif terhadap berbagai jenis bahan makanan, termasuk makanan kasar seperti hijauan atau rerumputan (Girisonta 1999).
Menurut Asmaki et al. (2008) bahan pakan sapi perah terdiri dari hijau-hijauan dan konsentrat. Lebih lanjut dikatakan bahwa bila hijauan berkualitas sedang sampai tinggi maka pemberian konsentrat sebaiknya dengan imbangan 64:36. Publikasi lain (Wahid 2008) menyatakan bahwa pencernaan ransum tertinggi diperoleh perbandingan hijauan dengan konsentrat sebesar 50:50. Umumnya pakan diberikan dua kali perhari pada pagi dan sore hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari.
2.4.1 Hijauan
Pakan hijauan merupakan pakan utama bagi sapi perah. Pemberian pakan hijuan dapat dilakukan dalam bentuk daun-daun atau campuran daun, bunga, ranting dan batang yang masih muda dalam tanaman-tanaman sebangsa rumput dan kacang-kacangan. Penyajiannya lebih baik dalam bentuk segar, kira-kira 10% dari bobot badan sapi (Asmaki et al. 2008). Bahan pakan tersebut mengandung kadar serat tinggi, tetapi kadar serat yang terlalu tinggi dalam ransum dapat mengakibatkan ransum sulit dicerna. Sebaliknya bila ransum mengandung kadar serat kasar yang terlalu rendah dapat menyebabkan gangguan pencernaan. Kebutuhan minimum serat kasar dalam ransum sapi perah untuk sapi dara dan sapi jantan dewasa 15 persen dari bahan kering. Pakan untuk sapi perah cukup rumput benggala atau rumput jenis unggul lainnya sebanyak 40 kg. Hal ini karena rumput tersebut sudah terkumpul keperluan sapi seperti protein, lemak, serat dan unsur yang dibutuhkan untuk keperluan aktivitas sapi (Asmaki et al. 2008). Lebih lanjut dikatakan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi konsumsi hijauan. Pertama yaitu kandungan serat deterjen netral (neutral deterjen fibre/NDF). Kedua ialah kandungan air. Ransum secara keseluruhan diharapkan mengandung air 25- 50% agar dapat dikonsumsi. Hijauan terlalu banyak mengandung air dikonsumsi lebih sedikit oleh sapi perah. Ketiga ialah ukuran hijauan.
Hijauan yang dicacah dengan ukuran 5-10 cm dimakan lebih banyak dari hijauan panjang. Hijauan terlalu pendek atau digiling halus dapat menurunkan kadar lemak susu. Termasuk kelompok yang dipergunakan sebagai makanan sapi perah adalah bangsa rumput, jenis kacang-kacangan (Leguminosa) dan tumbuh-tumbuhan lainnya yang kesemuanya ini bisa diberikan dalam dua macam bentuk, yakni dalam keadaan segar dan kering. Termasuk hijauan segar misalnya rumput lapangan, yang tersedia dalam jumlah yang cukup besar karena tumbuh dimana-mana, dan berbagai jenis rumput pertanian, rumput penggembalaan serta leguminosa dan silage. Sedangkan hijauan kering bisa berupa hay dan jerami kering.
Hay merupakan hijauan yang sengaja ditanam kemudian sampai saatnya dipanen rumput tersebut dikeringkan sedangkan jerami kering ialah hasil ikutan pertanian seperti jerami padi, kacang tanah, kacang kedelai dan lain sebagainya yang dikeringkan. Jerami ini memiliki mutu yang relatif rendah. Rumput pertanian bisa dibedakan antara lain rumput potong dan penggembalaan. Termasuk rumput potong jenis unggul antara lain rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput benggala (Panicum maximum), rumput kolonjono (Panicum muticum), rumput mexico (Euchlaena mexicana), dan Staria sphacelata. Sedangkan yang termasuk rumput gembala antara lain rumput kolonjono (Brachiaria mutica), Brachiaria brizantha, rumput rusi (Brachiaria ruziziensis), rumput australia (Paspalum dilatatum), rumput pangola (Digitaria decumbens), Star grass, dan Chloris gayana. Berupa hijauan dari jenis Leguminosa contohnya antara lain Centrosema pubescens, Calopogonium mucunoides, Stylosanthes guyanensis, turi (Sesbania grandiflora), petai cina (Leucaena glauca) (Girisonta 1995).

2.4.2 Konsentrat
Konsentrat adalah bahan pakan tambahan bagi sapi perah untuk memenuhi kekurangan nutrisi yang tidak dapat dipenuhi oleh hijauan, serta mengandung kadar serat kasar rendah dan mudah dicerna. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi dan sore hari sebelum sapi diperah. Konsentrat mengandung kadar energi dan protein tinggi, dan serat kasarnya rendah. Bahan makanan konsentrat ini meliputi:
1. Biji-bijian seperti jagung, menir,dan bulgur.
2. Hasil ikutan pertanian dari pabrik seperti katul, dedak, bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, bungkil kedelai, dan tetes (mellase).
3. Berbagai umbi.
Makanan berupa biji-bijian serta hasil ikutan pertanian dari pabrik ini berfungsi untuk memperkaya nilai gizi pada bahan makanan yang nilainya rendah, misalnya yang berasal dari
jerami dan lain sebagainya (Girisonta 1974).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010.Karakteristik Sapi Fries Holland.Bogor :IPB
Kamayanti,yulia.2001.Evaluasi Kemampuan Pejantan Sapi Fries Holland Impor Terhadap Susu Keturunanyan. Bogor:IPB
Praharani.2009.Pengkatan Produksi Susu Sapi di daerah Tropis Melalui Persilangan Sapi FH dan Bos Indicus. Bogor:Balai Penelitian Ternak.
Purwaningrum.2003.keterkaitan Antara Musim Terhadap Prosuksi Susu Sapi PErah Fries Holland.Bogor:IPB

Betari Durga dan SBY

Reporter : Pipit Kartawidjaja | Jumat, 25 Oktober 2013 11:23

Betari Durga dan SBY

Merdeka.com – Betari Durga bermuka raksasa, bermata iblis, berhidung dampak, bermulut bernyih, bersanggul putri keling dengan garuda membelakang, berkalung ulur-ulur (rantai), tangannya bergelang pontoh dan keroncong.

Sesuai kuota keterwakilan perempuan, Betari Durga adalah seorang dewa cewek. Asalnya dari Dewi Uma, permaisuri Betara Guru, bos sistem presidensialisme kayangan. Semasa ber-Dewi Uma, ia disayang oleh Betara Guru. Tetapi setelah persengketaan antara suami istri itu, Dewi Uma mengutuk Betara Guru hingga Betara Guru bertaring bak raksasa. Karena amat murka, Betara Guru juga menginpres Dewi Uma hingga menjadi raksesi bernama Betari Durga.

Betari Durga dititahkan bersuamikan Betara Kala. Kemudian, Betari Durga diangkat jadi Atutnya provinsi Setragandamayit, yang berarti tempat pengasingan berhawa mayat. Ia diberi kekuasaan buat menganugerahkan segala prilaku jahat kepada para fansnya.

Seusai orde wayang, Betari Durga diberi pos jabatan sebagai pelindungnya wuku Bala, berwatak ngerusak. Termasuk SBY, kelahiran 9/9/1949, Jumat Kliwon, hari keramat. Di Pacitan pula, otdanya Nyai Loro Kidul.

Sebab suratan wuku, pada babad pertama mresiden, SBY itu malahan diduga maujudannya Betari Durga, yang ogah cuma jadi satpam, tapi ngebet nge-Holly SBY karena gemes sama kegantengannya. Hal ini tentu menggugah skandal lama, kala Betari Durga berhasil nge-Holly Playboy Amartapura, Arjuna. Dugaan maujudannya Betari Durga itu berasal dari pasangan SBYwaktu itu: Betara Kala.

Karena berposisi sebagai bini, maka SBY banyak diam, Batara Kala royal ngomong. Alhasil, SBYbisa bikin album Rinduku Padamu tahun 2007.

Sehabis pisah ranjang berkat Evolusi, SBY bersejolian dengan jaran kepang Blitar, juga otdanya Nyai Loro Kidul. Jaran kepang kelahiran 25/2/1943, Kamis Pahing, berwuku Mandhasiya. Wataknya: melindungi, mengasuh dan mengalah. Pasangan Jumatnya SBY dengan Kamisnya Jaran Kepang melahirkan watak ayem-ayem tentrem. Inilah keterangan alam gaib tentang klemar-klemer menggemaskannya SBY.

Yang bikin sial itu Republik Indonesia, kelahiran 17/8/1945, Jumat Legi, hari aneh. Konon, pada Jumat Legi, ada orang buka toko, tokonya terbakar, lalu ada yang kecurian. Hari apeslah. Produk perkawinan antara Jumatnya RI dengan Jumatnya SBY adalah kemelaratan: pengennya mborjuis, jadinya marhaen.

Mau tak mau, Indonesia itu Setragendramayit. Istilah paranormal ilmiahnya: negara gagal atau negara terkulai. Wajar, kalau Lembaga Survei Nasional (LSN) awal Juni 2013 mencatat, masyarakat telah kehilangan kepercayaan terhadap pemerintahan Presiden SBY pada periode 2009-2014. Pemerintahan Presiden SBY mendapat rapor merah untuk setiap bidang di mata masyarakat.

Sesungguhnya, lantaran berada di bawah pengaruh Betari Durga, naga-naganya SBY gak sadar akan sepak terjangannya. Contoh gampang adalah rencana pendubesan Foke di Jerman. Februari 2011 SBY bilang, bahwa kinerja Fauzi Bowo itu “pepesan kosong”. Jika DPR akurinSBY, wajar juga. Maklum, DPR ada miris dituding publik, bahwa doyannya cuma melahap pepesen isi macam pepesan toilet.

Masalahnya, pepesan kosong alias leere Schachtel (begitu terjemahan yang diterima Presiden Jerman Gauck 17/10/2013 lalu), kok didubesin di negara amat berpengaruh di Eropa? Adakah kesengajaan SBY merusak reputasi RI di dunia internasional? Ataukah akibat watak wetonnya RI yang pantesnya sering dipermalukan?

Lalu, SBY pernah menyentil, bahwa ada pihak-pihak yang selalu negatif dan pesimistis selama pemerintahannya berjalan. “Kalau kita selalu berpikir positif dan bersikap optimis, maka pikiran kita dituntut untuk mengatasi masalah-masalah yang kita hadapi bersama ini, seraya membangun visi kemudian menetapkan strategi dan kebijakan,” jelas SBY.

Dari nasib wukunya, maka destruktif itu jelas positif. Salah siapa? Menjelang pilpres 2004 atau 2009, para paramormal alam gaib sudah mewanti-wanti pekerti maujudannya Betari Durga itu. Tapi, SBY tokh dua kali kepilih. Maka, kesal kemudian tiadalah berguna, bak habis ludes di meja perjudian.

TUGAS DASNUT KELAS E ( PAK KUSMARTONO )

SOAL-SOAL LATIHAN UNTUK PERSIAPAN UAS

1. Apa yang saudara ketahui tentang istilah-istilah di bawah ini:
a. Trace mineral
b. Macro mineral
c. Asam amino esensial
d. Dispensible amino acid
e. Ransum
f. Ransum seimbang
g.  Pearson Square method
h.  Proteolytic enzymes
i.  Lypolitic enzymes
j.  Feeding value
2. Vitamin dan m ineral sangat penting untuk pertumbuhan terna. Berilah satu contoh peran vitamin dan mineral apa dan  bagaimana mekanisme kerjanya untuk ternak
3. Jelaskan langkah-langkah menyusun ransum seimbang untuk ternak
4. Berilah contoh Bahan makanan sumber protein, energi masing-masing 5 Bahan makanan
5. Susunlah ransum seimbang untuk mencapai kandungan protein 13,5%, berapa yang dibutuhkan untuk kedua Bahan makanan tersebut. Saudara bebas memilih Bahan makanan

 

Anda juga bisa mendownload beberapa materi kuliah dari semestar 1 -4 dengan klik DI SINI