Remaja 14 Tahun “Bongkar” Bahaya Penggunaan iPad 2

Jum’at, 10 Mei 2013 13:52 wib

detail berita

DENVER – Gianna Chine, remaja 14 tahun membuat para ilmuwan terpana dibuatnya. Pasalnya, hasil penelitian dalam studinya, warga California, Amerika Serikat ini berhasil menemukan kejanggalan yang terdapat pada iPad 2.

Gianna menjelaskan bahwa gadget besutan Apple ini, dapat mengakibatkan tewasnya seorang penderita serangan jantung akibat magnet yang terletak di dalam tutup iPad 2 itu.

Remaja ini memaparkan jika seseorang tertidur dengan posisi iPad 2 di dada, maka magnet di cover perangkat besutan Apple tersebut dapat “mematikan” detak jantungnya. Demikian disitat Watoday, Jumat (10/5/2013).

“Saya rasa belum banyak yang mengetahui hal ini, oleh sebab itu saya mempresentasikan hasil penelitian ini agar orang sadar dan menghindari kecerobohan yang berakibat fatal,” ujar Chien di hadapan lebih dari 8000 dokter pada pertemuan Heart Rhythm Society di Denver, California belum lama ini.

Penelitian yang dilakukan remaja yang masih duduk di bangku kuliah di Stockton, California, memberikan peringatan penting bagi orang-orang dengan defribrillator implant (baterai generator impuls elektrik kecil yang ditanamkan pada penderita jantung), agar tidak meletakkan iPad 2 di atas dadanya. Sebab, magnet yang ada pada iPad tersebut dapat mematikan defibrillator pada jantung.

Chien menjelaskan, casing penutup iPad 2 mengandung 30 magnet yang dapat menimbulkan risiko berbahaya bagi tubuh penggunanya. Sementara, jika iPad 2 langsung tepat di atas dada dalam jangka waktu lama, itu yang berbahaya. Penelitian Chien dibantu oleh Ayahnya, Walter Chien yang juga seorang electrophyisiologist jantung.

Dalam penelitiannya, Walter Chien melibatkan 26 relawan yang menggunakan defibrillator untuk meletakkan iPad 2 di atas dada mereka, kemudian ditemukan bahwa perangkat itu memicu gangguan pada alat yang tertanam di jantungnya sebesar 30 persen. Sementara, empat alat pacu jantung atauloop-recorder yang juga diuji tidak memicu kerusakan pada defibrillator-nya.

Chien tak menyadari penemuannya ini memberikan sumbangan ilmu yang besar terhadap dunia kedokteran. Ia juga mengungkapkan ingin membantu meningkatkan kesadaran pada pasien tentang bahaya magnet pada iPad ini, terutama bagi mereka yang memasang defibrillator di jantungnya.

“Pasien defibrillator tetap masih bisa membeli produk Apple, hanya saja jangan sampai menempatkan mereka tepat di atas dada,” ungkap remaja berusia 14 tahun ini.

Chien pertama kali mempresentasikan hasil penemuannya ini di sebuah acara sekolah San Joaquin di County Science Fair, Maret lalu. Kemudian penemuan elektromagnetik ini menempati posisi teratas, sehingga ia pun memberanikan diri untuk mengikuti ajang sains yang lebih besar lagi agar dapat memaparkan penemuannya tersebut.

http://techno.okezone.com/read/2013/05/10/57/804957/remaja-14-tahun-bongkar-bahaya-penggunaan-ipad-2

Teknologi Ini Mampu Cegah Kecelakaan Pesawat Terbang

Sabtu, 11 Mei 2013 10:05 wib

detail berita

LONDON – Maskapai penerbangan di Inggris membuat awan debu vulkanik buatan untuk menguji teknologi deteksi debu. Pengembangan detektor debu ini bertujuan untuk menghindari adanya kerusakan yang melumpuhkan lalu lintas udara ketika terjadi

peristiwa gunung meletus.

Dilansir 3news, Jumat (10/5/2013), teknologi ini dikembangkan guna menghindari terulangnya peristiwa kekacauan lalu lintas udara pada letusan gunung api pada tiga tahun lalu. Pengumuman ini dibuat oleh easyJet, yang memperoleh satu ton abu di Islandia oleh para ilmuwan.

Pada erupsi yang terjadi di 2010, perjalanan udara hampir ditangguhkan selama beberapa hari di Eropa. Erupsi ini juga mengakibatkan jutaan penumpang menumpuk karena kekhawatiran awan abu bisa mengganggu mesin pesawat dan terlalu berbahaya apabila pesawat nekat diterbangkan.

EasyJet PLC mengatakan bahwa pihaknya kini bekerja dengan Airbus dan Nicarnica Aviation pada pengembangan teknologi inframerah yang dipasangkan pada pesawat terbang. Inframerah ini akan memberi gambar awan debu ke pilot dan operator kontrol di lapangan.

Perusahaan yang berbasis di Inggris ini juga mengatakan bahwa sistem bisa bekerja seperti radar cuaca, yang memungkinkan pilot untuk dapat mengetahui keberadaan awan debu hingga jarak sejauh 100 kilometer. Pilot kemudian dapat mengantisipasi untuk menghindari awan debu tersebut.

“Saat ini tidak ada teknologi radar yang dapat mendeteksi abu, dan bahkan di siang hari pilot tidak bisa melihat itu,” ujar  Ian Davies, direktur teknik easyJet. Lebih lanjut ia mengatakan, teknologi ini memungkinkan pilot dan operator lapangan untuk mendapatkan gambaran 3D terkait darimana awan abu itu berasal serta menelusuri pergerakannya.

http://techno.okezone.com/read/2013/05/10/56/805190/teknologi-ini-mampu-cegah-kecelakaan-pesawat-terbang