PENDIDIKAN KITA DI TENGAH GLOBALISASI

Oleh : M. Khairul Anam

         Kehidupan masyarakat di semua belahan dunia pada abad XXI ini mengalami perubahan yang dramatis dalam segala aspeknya. Perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, dan sekarang memasuki era informasi. Kemajuan teknologi komunikasi, informasi dan transportasi, telah membuat seluruh dunia bagaikan desa global (global village) tanpa batas.

            Dengan pemanfaatan kemajuan satelit, internet, televisi, radio dan telepon, hampir tidak ada belahan dunia ini yang dapat mengisolasikan dirinya dari negara lain. Jauhnya jarak satu negara dengan negara lain begaikan tak memberikan hambatan berarti bagi hubungan antar bangsa, antar institusi dan perorangan, dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan transportasi udara canggih. Demikian pula perubahan dalam sistem sosial dan nilai-nilai suatu bangsa yang telah maju dapat dengan cepat merambat ke berbagai negara yang sedang berkembang dan bangsa lainnya.

            Dengan kata lain, globalisasi ditandai dari pergeseran tiga bidang, yaitu: ekonomi, politik, dan budaya. Dalam bidang ekonomi telah terjadi demokratisasi, dan dalam bidang budaya terjadi universalisasi nilai-nilai yang menuntut setiap bangsa membangun jatidiri bangsanya. Di sini terjadi suatu pergantian paradigma pada berbagai aspek kehidupan suatu kelompok  masyarakat dan bangsa yang disebabkan oleh globalisasi. Konsekuensinya adalah setiap negara dituntut untuk berperan dalam kompetisi global. Harapan itu akan bisa dicapai dengan baik jika didukung oleh SDM berkualitas yang dimiliki oleh setiap bangsa.

            Isu globalisasi yan gencar dengan tuntutan implementasi ide-ide demokratisasi, penggunaan IPTEK yang canggih, pemeliharaan lingkungan hidup dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM), hanya mungkin SDM yang bermutu dan memiliki integritas serta profesionalitas. Dengan kata lain, perrbaikan mutu (quality improvement) menjadi paradigma baru pendidikan ke depan. Hal yang fenomenal dewasa ini, bahwa untuk sebuah harapan hasil pendidikan bermutu, masyarakat atau orangtua mau membayar mahal biaya sekolah demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

            Kita berada dalam situasi yang kurang menyenangkan, baik dilihat dari segi ekonomi maupun transisi politik menuju demokrasi, sementara desakan globalisasi terasa menyesakkan dada bagi orang yang peduli terhadap nasib bangsa ini. Dalam situasi inilah tantangan-tantangan harus dijawab, yaitu semakin meningkatnya hubungan ekonomi dan sosial antar bangsa yang berlangsung cepat, persaingan mutu SDM yang dimiliki suatu bangsa dengan bangsa lain, kemungkinan tejadinya eksploitasi negara yang lebih maju, punya modal, dan SDM unggul terhadap negara yang kuang mampu, dan penggunaan IPTEK yang merusak martabat kemanusiaan (human dignity). Bahkan mungkin saja akan muncul penjajahan baru (neocolonialisme) dari negara kuat yang memanfaatkan kelemahan ekonomi dan IPTEK bangsa lain yang masih tertinggal.

            Dalam konteks pendidikan, peralihan era industri ke era informasi telah menunculkan hubungan yang berlawanan. Hal itu terlihat tidak hanya antara guru dan pelajardan sering pula antara orangtua dan guru. Manajemen pendidikan lebih bersifat birokratis, sehingga persoalan pendidikan lambat penanganannya oleh birokrasi pendidikan. Demikian pula kepemimpinan, struktur tugas, komunikasi dan kerja sama yang kurang kondusif dalam era industrialisasi bagi pemberdayaan pendidikan beralih kepada otonomi, kepemimpinan partisipatif dan mandiri.

            Berbagai tuntutan perubahan yang ada dalam era informasi terhadap perbaikan pendidikan kita perlu di respon secara kreatif dan proaktif, karena pendidikan mendapat pengaruh bagi adanya peluang yang lebih kondusif bila para pimpinan dan manager pendidikan mau mengubah pandangan lama ke paradigma baru pendidikan dewasa ini.

            Pendidikan kita saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi sebagian masyarkat yang menerima pendidikan tengah berada dalam era agraris. Ada pula sebagian lain yang memasuki jalan industri, sedangkan di sisi lain sebagian masyarakat tengah beranjak atau langsung melangkah ke dalam lorong-lorong era informasi. Ketimpangan ini sebenarnya sangat menyulitkan pembuatan kebijakan pendidikan jika tidak ditangani secara profesional. Sementara itu, masyarakat di pedesaan dan pinggiran kota yang masih dibelit kemiskinan, tentu mengharapkan pendidikan yng populer atau berpihak kepada rakyat tanpa beban biaya, sebaliknya bagi masyarakat perkotaan, mereka semakin intens pada pendidikan berbiaya mahal dengan alasan mutu.

            Kondisi diferensiasi sosial dengan segala manifestasi aspirasi dan partisipasi pendidikan telah menimbulkan kompleksitas dalam menentukan kebijakan pendidikan nasional. Kebijakan pendidikan berkisar pada pertarungan antara orientasi pemerataan pendidikan. Jika demikian, bagaimanakah strategi perbaikan pendidikan nasional dalam menjawab tantangan era informasi tersebut? Hal ini perlu segera di desain untuk mendapatkan kepastian arah pembaruan pendidikan nasional.

            Berdasarkan laporan Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berkedudukan di Hongkong. Diungkapkan bahwa sistem pendidikan Indonesia adalah tergolong buruk di Asia, yang masih berada dibawah Vietnam, sedangkan rangking pertama diduduki oleh Korea Selatan.

            Begitu pula, jika dilihat dari aspek lain, masih banyaknya peserta didik gagal dalam proses pendidikan, dan masih banyak pula yang dropout. Lamanya penyelesaian studi mahasiswa lulusan perguruan tingi, juga lamanya memperoleh pekerjaan, bahkan banyak yang menjadi pengangguran, dan rendahnya gaji para lulusan sekolah, merupakan indikator lain betapa rendahnya mutu pendidikan kita.

            Oleh karena itu perlu adanya kesadaran dan introspeksi diri dari semua belah pihak, untuk menunjang sistem pendidikan di Indonesia agar supaya negara ini tidak terus-menerus berada dalam keterpurukan dan ketertinggalan. Wallahu A’lam