BELAJAR FISIKA, BELAJAR AL-QUR’AN

Oleh : M.Khairul Anam

            Al-qur’an merupakan mukjizat yang bersifat abadi dan bersifat ilmiah yang sebenarnya mengajak kepada setiap pembacanya (reader) untuk membahas, mengkaji dan meneliti (observasi) ayat-ayat-Nya dalam rangka menemukan hakikat keilmiahan yang di tetapkan sebagai suatu ilmu. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila kitab suci yang di turunkan kepada Nabi Muhammad saw ini mampu menegaskan kebenaran dan kesesuaiannya terhadap apa yang di hasilkan oleh penemuan-penemuan ilmu pengetahuan kontemporer setelah ratusan tahun ditemukan oleh para pakar (ulama’ fiqih) dengan kajin, pembahasan, dan penalaran. Salah satu fenomena yang di hasilkan oleh para pakar tersebut adalah konsep-konsep fisika.

            Kalau kita belajar fisika, maka materinya yang kita pelajari bisa di kelompokkan menjadi materi dalam lingkup fisika klasik dan fisika modern. Kedua-duanya bukan terkait dengan masalah zaman. Kapanpun zaman berjalan, fisika klasik tetap fisika klasik dan fisika modern tetap fisika modern. Fisika klasik dan fisika modern terkait dengan objek yang kita pelajari. Objek yang di pelajari dalam fisika klasik adalah objek yang ukurannya sedang-sedang saja. Sedangkan objek yang dipelajari dalam fisika modern yang di dalamnya ada mekanika kuantum, sedang difisika klasik ada mekanika Newtonian, ukurannyapun sangatlah kecil (mikroskopis) dan memiliki kecepatan yang sangat cepat (mungkin mendekati kecepatan cahaya 300.000 km per detik).

            Dalam fisika selalu ada persamaan atau rumus yang dapat menggambarkan dan atau menjelaskan suatu fenomena fisis, maka kita akan mengenal rumus-rumus yang ada dalam lingkup fisika klasik seperti beberapa rumus pada hukum newton, juga mengenal rumus-rumus dalam lingkup fisika modern seperti teori relativitas Einstein, persamaan scrodinger dan lain-lain.

            Salah satu objek dalam fisika adalah tentang cahaya. Cahaya mempunyai kecepatan 300.000 km per detik. Sebenarnya apa itu cahaya?

            Cahaya adalah sumber dari kehidupan, karena dengan cahaya kita bisa melihat dan mengetahui benda-benda yang ada di sekeliling kita, baik yang makroskopis yakni yang bisa dilihat dengan mata telanjang maupun yang mikrskopis seperti bakteri, virus dan lain-lain, semuanya tidak akan lepas dari bantuan cahaya. Seperti halnya tumbuhan, ia akan mati tanpa adanya cahaya karena tidak dapat berfotosintesis. Kalau tumbuhan mati, maka hewan akan musnah dan secara otomatis manusi juga akan mati sehingga tidak akan ada kehidupan lagi didunia ini.

            Apa sebenernya hakekat dari pada cahaya itu? Nah, belajar tentang hakekat cahaya sama sulitnya dengan mempelajari hakekat manusia. Selama ini yang kita pelajari tentang manusia adalah karakter, sikap, tinkah laku, dan lain-lain. Begitu pula halnya yang terjadi selama ini dalam mempelajari cahaya, yaitu yang dipelajari adalah sifat-sifat cahaya.

            Dalam Al-qur’an disebutkan “Allahu nuurussamaawaati wa al ardi” yang berarti bahwa Allah SWT adalah cahaya langit dan bumi. Jadi kita tidak bisa melihat apapun yang ad dialam ini tanpa cahaya, tanpa Allah. Jadi kita hidup dan bisa melakukan apa saja dialam ini karena Allah. Dengan demikian, bekejar fisika juga dapat membuat kita lebih sadar dan dapat meningkatkan kita pada keinginan untuk mencari hakikat kebenaran.

            Contoh yang lain untuk membuat kita lebih bijaksana dalam hidup adalah dengan memahami gejala gravitasi. Menurut penjelasan diatas, bahwa unsure yang penting dalam fisika adalah pengamatan, pengukuran, dan analisis dengan nalar yang baik. Karena pengamatan ataupu observasi yang dikatakan manusia kadang terbatas dan memang terbatas sehingga menjadi kurang teliti, dan seiring dengan perjalanan waktu serta perkembangan alat ukur yang mampu menghasilkan ukuran yang akurat, maka akan diperoleh kesimpulan lain dari kesimpulan pada pengamatan sebelumnya. Itu sebabnya merupakan suatu kewajiban apabila kemudian ada teori lama yang harus diabaikan dan digantikan dengan teori baru.

            Sekedar sebagai contoh untuk sedikit membuktikan keterbatasan tersebut adalah :

            Saya dua buah benda. Benda pertama saya pegang dengan tangan kanan berupa buku yang tebalnya 2 inci dan panjangnya 25 cm, dan pada tangan kiri saya memegang sebuah bolpoin. Apabila saya bertanya : “mana yang lebih berat antra benda yang ada ditangan kanan denagan benda yang ada di tanagan kiri”? tentulah jawabannya adalah benda yang ada pada tangan kanan, kalau saya bertanya lagi “mana yang dulu sampai dilantai apabila keduanya dijatuhkan secara bersamaan”?maka anda akan berfikir sejenak akan menjawab buku akanjatuh lebih dulu karena buku itu lebih besar dan berat.

            Hal itu adalah jawaban yang salah karena menurut teori gerak, jatuh bebas buku dan bolpoin akan jatuh secara bersamaan. Hal ini disebabkan oleh kecepatan grafitasi yang sama besar dan tidak di pengaruhi oleh massa dan gaya berat.

            Kenapa jawabannya salah karena keterbatasan pengamatan dan keterbatasan dalam nalar. Oleh karenanya, didalam menghadapi segala sesuatu harus benar-benar diamati dan kemudian dilakukan analisis dan denga nalar yang sungguh-sungguh  sehingga kita tidak menjadi mudah menyalahkan orang lain dan tidakmudah merasa istilah yang paling benar. Denga kata lain, kita akan lebih bijak sana dalam menyikapi segala peristiwa.

            Beralih kepada Al-qur’an, ternyata kitab suci umat islam ini kompleks, bahkan bisa dikatakan semua disiplin ilmu adalah Al-qur’an. Begitu juga fisika sebagai salah satu sumber literatur, Al-qur’an banyak memberikan perihal ide (penjelasan) yang secara tekstual mengkaji tentang konsep fisika, antara lain, konsep tentang ukuran (Al-qamar: 3), hujan (An-nahl: 11), gaya gravitasi (Al-insyirah: 3-9), rotasi alam semesta (Al-anbiyaa’: 33),peredaran bintang (Al-waqi’ah: 75-76), matahari (Yasin: 38), bintang Sirius (An-najm: 49 dan 9), atom (An-nisa’: 40), sinar laser (An-nur: 35), laju cahaya (As-sajddah: 5), dan lain-lainnya.

            Dari semua uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ternyata fisika bukan hanya sebatas ilmu eksak melainkan lebih dari itu. Kalau kita cermati dan pahami bersama, bahwa ternyata fisika itu bisa dijadikan sarana untuk taqarrub kepada Allah. Yakni dengan jalan tafakkur sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama’ sufi. Yaitu oran-orang yang mendapatkan maqom tertinggi dihadapan Allah SWT.

            Secara sepintas, fisika merupakan ilmu yang sangat rumit dan kompleks, sehingga tidak sedikit masyarakat yang beranggapan bahwa fisika merupakan pelajaran yang sulit. Masyarakat sering menyoroti rendahnya prestasi belajar fisika, bahkan dianggap sebagai bidang study yang menakutkan.

            Mempelajari fisika berarti memahami konsep-konsep yang ada didalamnya. Konsep-konsep fisika pada umumnya merupakan pengembangan dari konsep yang sederhana menuju ke yang lebih komplek. Kompleksitas konsep ini akan dapat dikuasai, jika konsep dasar yang rumit membentuk konsep baru itu benar-benar dikuasi dengan baik, ini berarti mengandung suatu pengertian bahwa ada kaitan antara konsep dasar dengan konsep yang lebih komplek.

            Mensinergikan fisika dan agama merupakan sesuatu yang sangat penting.