Memperbesar Kemampuan Kreatif

 

Paper Halaqoh

Di Sajikan pada tanggal 08 September 2012

Pembimbing

Prof.Dr.Kyai H. Ahmad Mudlor, S.H.

Oleh

M. Khairul Anam

Mahasiswa Semester I

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian

Fakultas Pertanian

Universitas Brawijaya

 

 

 

 

 

 

 

Halaqoh Ilmiah

LEMBAGA TINGGI PESANTREN LUHUR MALANG

September 2012

  1. A.      PENDAHULUAN

Pada dasarnya setiap orang cenderung untuk mengembangkan dirinya sendiri menjadi lebih baik, lebih matang, dan lebih sukses. Namun setiap orang juga memiliki kemampuan dan keunikan tersendiri. Selain itu kepribadian dan kesuksesan juga ditentukan oleh lingkungan dan motivasi seseorang untuk belajar agar lebih baik lagi.

Salah satu cara untuk memaksimalkan pengembangan diri demi perbaikan pribadi dan kemajuan karier adalah dengan mengenal diri sendiri yaitu menyadari kelebihan maupun kekurangan yang ada pada diri sendiri secara tepat maka akan diketahui konsep diri yang tepat pula, dengan upaya mengembangkan yang positif dan menghilangkan yang negatif.

Kesuksesan karier seseorang membutuhkan semangat, kesabaran dan komitmen yang kuat, karena pekerjaan menuntut adanya sikap, ketermpilan, serta pengetahuan yang membentuk kebiasaan seseoranng daalm berfikir, mengambil keputusan, maupun bertindak. Dalam hal inilah seseorang perlu menyiapkan perencanaan yang berkesinambungan: menetapkan tujuan yang realistis melihat sumber daya prbadi yang dimiliki, memanfaatkan keterampilan, menegok bakat dan potensi, juga mengutamakan pengalaman.

Oleh karena itu, diharapkan untuk setiap individu bisa menemukan potensi yang terpendam dalam dirinya, sehingga bisa mengoptimalkan dan mengaktualisasikan bakat yang dimiliki kepada khalayak umum.

Semoga paper halaqoh ini bermanfaat bagi semua kalangan khusunya santri pesantren luhur yang ingin berkarya dan berkreasi, sehingga mereka mampu menciptakan inovasi terbaru yang berkualitas dan proporsional.

 

 

 

 

 

  1. B.       PEMBAHASAN
  2. a.        Pengertian Kreativitas

Kreativitas merupakan suatu bidang kajian yang kompleks, yang menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Perbedaan tersebut terletak  pada bagaimana kreativitas itu didefinisikan. Adapun kreativitas didefinisikan, sangat berkaitan dengan  penekanan pendefinisian dan tergantung pada dasar teori yang menjadi dasar acuannya.

Dari segi penekanannnya (Rhode, 1961), kreativitas dapat didefinisikan ke dalam empat jenis dimensi sebagi Four P’s of Creativity yaitu dimensi Person, Process, Press dan Product. Definisi kreativitas dari dimensi person seperti dikemukakan oleh Guilford (1950): Creatifity refers to the abilities that are characteristics of creative people. Definisi kreatifitas yang menekankan dimensi proses seperti diajukan Munandar (1977): Creativity is a process that manifest in self fluency, in flexibility as well in originality of thinking. Dari dimensi Press, Amabile (1983) mengemukakan bahwa: Creativity can be regarded as the quality of product or respons judged to be creative by by appropriate observes. Definisi kreativitas dari dimensi product  sebagaimana dikemukakan oleh Baron (1976): Creativity is the ability to bring something new into existence.  

Guilford dengan analisis faktornya menemukan ada lima cirri yang menjadi sifat kemampuan berfikir: Pertama, Kelancaran (fluency) adalah kemampuan untuk memproduksi banyak gagasan. Kedua, keluwesan (flexibility) adalah kemampuan untuk mengajukan bermacam-macam pendekatan dan/atau jalan pemecahan terhadap masalah. Ketiga, keaslian (originality) adalah kemampuan untuk melahirkan gagasan-gagasan asli sebagai hasil pemikiran sendiri ddan tidak klise. Keempat, penguraian (elaboration) adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terperinci. Kelima, perumusan kembali (redefinition) adalah kemampuan untuk mengkaji/menilik kembali suatu persoalan melalui cara dan presfektif yang berbeda dengan apa yang sudah lazim.

Dalam kaitannya dengan unsure aptitude dan non aptitude, Conny R. Semiawan (1984) mengemukakan bahwa: Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dalam menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi, baik ciri-ciri aptitude seperti kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility) dan keaslian (originality)dalam pemikiran maupun ciri-ciri (non-aptitude), seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan selalu ingin mencari pengalaman-pengalaman baru.

Utami munandar (1992), dalam uraiannya tentang pengertian kreativitas menunjukkan ada tiga tekanan kemampuan, yaitu yang berkaitan dengan kemampuan untuk mengkombinasi, memecahkan/menjawab masalah dan cerminan kemampuan operasional anak kreatif.

Ketiga tekanan kemampuan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Kemampuan untuk membuat kombinasi baru, berdasarkan data, informasi atau unsur-unsur yang ada.
  2. Kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia, menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, dimna penekanannya adalah pada kualitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban.
  3. Kemampuan yang secara operasional mencerminkan kelancaran, keluwesan, dan orisionalitas dalam berfikir. Serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan/memperkaya/memerinci) suatu gagasan.

Masih banyak definisi dan pandangan mengenai kreativitas, namun pada dasarnya terdapat persamaan antara definisi-definisi tersebut. Dari beberapa uraian definisi di atas dapat dikemukakan bahwa kreativitas pada intinya merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk ciri-ciri aptitude maupun non-aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hl-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relative berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

  1. b.        Berfikir dan bertindak secara kreatif

Ada sebuah kisah dari Imam Abu Hanifah ulama’ fiqhiyah yang menunjukkan tentang pemikiran beserta argumentasi yang jenius sehingga seorang Abi Laila yang pada waktu itu menjabat sebagai hakim, tidak mampu untuk menjangkau kapabilitas dan kredibilitas pemikiran beliau.

Waktu itu Imam Abu Hanifah sedang berjalan bersama Abi Laila, seorang hakim di Kufah. Keduanya melewati para biduanita yang sedang menyanyikan lagu tak senonoh. Ketika para biduanita itu selesai bernyanyi, Abu Hanifah berkata kepada mereka, “kamu sungguh baik”…

Mendengar kata-kata itu, hati Abi Laila terkejut setengah mati. Suatu ketika Abu Hanifah menjadi saksi bagi Abi Laila dalam suatu masalah, maka berkatalah Abi Lila, “Kesaksianmu tidak sah!” Abu Hanifah bertanya, “Kenapa?” Abi Laila menjawab, “Karena ucapanmu kepada para biduanita itu! Ucapanmu itu menunjukkan keridaanmu terhadap kemaksiatan!” Abu Hanifah bertanya lagi, “Kapan aku mengucapkan kalimat itu? Ketika mereka menyanyi atau ketika mereka diam?” Abi Laila menjawab, “Ketika mereka diam.” Abu Hanifah berkata, “Allahu Akbar! Sesungguhnya yang aku maksudkan dengan ucapan itu adalah bagus diamnya mereka, bukan karena nyanyian itu!”

Ini adalah sepenggal kisah menarik dalam buku 4 mutiara zaman (Biografi Empat Imam Madzhab) halaman 70 yang menunjukkan kecerdasan Imam Abu Hanifah menyentil kesadaran kita, apa yang seharusnya dilakukan para seniman dalam mengekspresikan karya seninya.

Untuk jadi orang terkenal tidak perlu membuat sensasi murahan atau kontroversi rendahan. Untuk menjadi artis terkenal tidak layak menjual aurat. Untuk menjadi sastrawan hebat tidak harus melecehkan keyakinan umat beragama. Yang paling penting adalah salurkan daya kreativitas sesuai dengan prosedur dan dalam konteks kebenaran.

Orang yang kompeten adalah orang yang memiliki kinerja bagus (superior performance) dengan karakteristik yang bisa diidentifikasi. Pencapaian kinerja ini diibaratkan sebagai sebuah pulau karang ditengah samudra yang hanya menampakkan puncaknya di permukaan laut padahal di bawahnya terdapat gunung yang besar. Nah, gunung besar inilah yang harus digali melalui identifikasi ciri-ciri tersebut. Ciri-ciri itu dipilah menjadi pengetahuan (knowledge), kemampuan (skills), dan perilaku (attitude).

  1. c.         Cara mengembangkan kreativitas

Seseorang yang mempunyai tingkat kreativitas tinggi seringkali menghasilkan pemikiran atau gagasan luar biasa, aneh, terkadang dianggap tidak rasional. Bahkan, karena keluarbiasaan itu, tidak sedikit orang kreatif dianggap “gila”. Memang ada kesamaan antara orang kreatif dengan orang gila, karena cara berpikirnya tidak konvensional. Bedanya, orang kreatif mampu melakukan loncatan pemikiran yang menimbulkan pencerahan atau pemecahan masalah. Sementara orang gila tidak mampu melakukannya.

Cara berpikir kreatif ditandai oleh bertemunya kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional. Dalam hal ini, ada tiga faktor yang secara umum dapat ikut menunjang cara berpikir kreatif, yaitu:

  1. Kemampuan kognitif. Orang yang kreatif harus mempunyai kecerdasan tinggi dan terus-menerus mengembangkan intelektualitas tersebut.
  2. Sikap terbuka. Cara berpikir kreatif akan tumbuh jika orang tersebut bisa bersikap terbuka pada stimulus internal dan eksternal. Sikap terbuka dapat dikembangkan dengan memperluas minat dan wawasan.
  3. Sikap bebas, otonom, dan percaya diri. Berpikir secara kreatif membutuhkan kebebasan dalam berpikir dan berekspresi. Juga memerlukan kemandirian berpikir, tidak terikat pada otoritas dan konvensi sosial yang ada. Yang terpenting, percaya pada kemampuan diri sendiri (belive to own self).

Setiap orang memiliki kreativitas dalam dirinya. Sejumlah orang yang tidak menganggap dirinya kreatif, dapat terkejut sendiri melihat betapa dirinya kreatif ketika kesempatan yang tepat datang di depan mata. Ada banyak cara untuk menempatkan diri agar kesempatan itu muncul, diantarannya:

  1. Amatilah sesuatu yang dikenal.
  2. Jangan menunda pekerjaan sampai dengan menjelang batas waktu.
  3. Pejamkan mata dan biarkan pikiran mengembara.
  4. Jangan berkata “tetapi”, katakanlah “dan”.
  5. Ambillah sudut pandang orang lain
  6. Melakukan curah-gagasan.
  7. Menumbuhkan imajinasi.
  8. Belajar menjadi seorang inovator yang terbaik.
  9. Ubahlah kebiasaan dan citra diri.
  10. Lakukanlah rindakan
  11. Terimalah perubahan dan tantangan suatu masalah dengan tangan terbuka.
  12. Terapkanlah ide-ide pada setiap sudut kehidupan.
  13. Pelajarilah inovasi, perubahan dan kreativitas untuk memenangakan diterimanya sebuah ide.
  14. Milikilah selalu rasa ingin tahu dan jadilah seorang pengamat.
  15. Bertanyalah mengapa, apa, yang mana, dimana, kapan, siapa dan bagaimana.
  16. Kembangkan daya berpikir reflektif dan kemampuan-kemampuan berpikir.
  17. Bersikaplah berani mengambil resiko, mempercayai gagasan diri sendiri, dan yakin akan mampu untuk mengadakan perubahan.
  18. Berkolaborasi.

Kreativitas biasa terjadi karena kita mncoba sesuatu dengan sengaja. Dari sengaja kita mampu untuk mengerjakannya dan akhirnya terbiasa. Jadi kreativitas dapat muncul karena kita terbiasa untuk berkreasi. Pada akhirnya biasakanlah diri sendiri untuk memiliki sikap-sikap seperti yyang diuraikan di atas.

 

 

 

 

 

 

  1. C.      KESIMPULAN
  1. Kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk ciri-ciri aptitude maupun non-aptitude, baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hl-hal yang sudah ada, yang semuanya itu relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.
  2. Sikap kreatif memerlukan cara berpikir kreatif. Dengan cara itu maka seseorang akan mampu melihat persoalan dari berbagai persfektif.  Unsur kreatif diperlukan dalam proses berpikir untuk menyelesaikan masalah. Semakin kreatif, semakin banyak alternative solusinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Akbar Hawadi, Reni., (2001). Kreativitas. Jakarta: PT Grasindo

Amabile, T. M. (1983). The Social Psychology oof Creativity. New York:     Springerverlag

Guilford,J. P., (1977). Way beyond the IQ.Buffalo: Creative Leraning Press

Plus, Philip., (2008). Kiat Menjadi Orang Kreatif . Yogyakarta: MAXIMUS