Nama               : M. Khairul Anam                           Prodi  : Agribisnis

Mata Kuliah    : Tutorial Bahasa Indonesia             NIM   : 125040100111013

Asisten Dosen : Mas Beni                                        Dosen : Mukhamad Jainuri, S.S

 

 

Saprodi Lemah, Ketahanan Pangan Lemah

“Keberadaan sarana produksi (saprodi) pertanian mutlak diperlukan dalam menunjang ketersediaan dan kontinyuitas sumber pangan. Perubahan mindset masyarakat selama ini yang mengartikan kalau belum makan beras itu belum makan perlu dirubah dengan penganekaragaman pangan”.

Musim tanam yang bersamaan dan terjadinya pembelian pupuk yang tidak lagi sesuai dengan jadwal kebutuhan menjadikan faktor pendukung langkanya pupuk di pasaran. Pertambahan luas tanam di luar areal intensifikasi yang tidak direncanakan serta disparitas harga pupuk bersubsidi dibanding harga pupuk non subsidi memicu terjadinya spekulan pupuk. Ditambah lagi dengan kurang optimalnya pengawasan yang bisa memonitor keseimbangan dan ketepatan sasaran antara supply dan demand menjadikan fenomena kelangkaan kebutuhan pupuk sering terjadi di tataran petani.

Keberadaan benih yang sering tak tercukupi juga mencuat  ke permukaan saat musim tanam tiba. Pada saat menjelang musim tanam pasokan benih sudah mulai langka di pasaran. Benih yang merupakan salah satu modal utama untuk proses produksi mutlak untuk dipenuhi dan ketersediaan di pasaran terutama benih tanaman pangan untuk menunjang ketersediaan pangan.

Fenomena pupuk dan benih telah menjadi masalah klasik dalam sistem produksi pada tataran petani. Ironisnya kebutuhan sumber pangan tingkat nasional terus meningkat setiap tahunnya. Dengan pertambahan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 240 juta jiwa dengan angka pertumbuhan penduduk mencapai 1,49 persen menjadi perhatian khusus pemerintah dalam penyediaan pangan. Adanya pertumbuhan ini akan memberi dampak yang luas, utamanya pada sistem ketahanan pangan nasional. Sekitar 27 juta ton beras per tahun dikonsumsi oleh penduduk Indonesia atau rata-rata sekitar 110 kilogram beras per orang pertahunnya.

Ketersediaan, aksesibilitas dan kualitas dari sumber makanan menjadi modal untuk menunjang ketahanan pangan bagi penduduk suatu Negara. Di saat permasalahan klasik pupuk dan benih yang sering terulang dan belum terselesaikan munculah permasalahan baru dikarenakan faktor iklim yang tak menentu. Kondisi cuaca yang terlihat berubah-ubah dan sulit diprediksi memberikan dampak sendiri pada sistem produksi, apalagi terkait penyediaan sumber pangan di tingkat petani.

Irigasi Pertanian Lemah

Ketersediaan jaringan irigasi untuk menunjang produksi pertanian mutlak diperlukan. Keberadaan infrastruktur saluran irigasi yang memadai dapat memberikan nilai positif terhadap produksi pangan utamanya padi.

Ir. Subandiyah Azis, CES yang pernah menjadi Kepala Badan Lingkungan Hidup, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Malang menggatakan “untuk meningkatkan produksi pangan dapat diupayakan dengan pengelolaan alokasi air irigasi yang tepat dan efisien. Guna membagi air secra tepat dan efisien pada Daerah Irigasi (DI) perlu ada perencanaan tata tanam setiap tahunnya. Perencanaan tata tanam dituangkan di dalam dokumen tata tanam yang dinamakan Rencana Tata Tanam Gobal, yang menjadi acuan para petani untuk melakukan pola tata tanam masing-masing pada DI.” Ungkapnya.

Di daerah Malang yang pada musim basah dengan curah hujan mencapai 500 mm seharusnya dapat mengurangi beban produksi petani karena ketersediaan air cukup tinggi. Namun sering terjadi pada beberapa daerah kekurangan air untuk irigasi. Data yang ditulis oleh Ditjen Sumber Daya Air pada Juli 2011 menerangkan bahwa dalm pengelolaan sistem irigasi tercatat adanya kerusakan infrastruktur baik kerusakan ringan, sedang maupun berat. Dari 7,2 Juta Ha prasarana irigasi sekitar 2,3 Juta Ha merupakan kewenangan pusat. Dari angka tersebut, sekitar 46% infrastruktur irigasi mengalami kerusakan ringan, sedang maupun berat.

Kemin petani padi di daerah Lawang, Malang untuk mendukung jaringan irigasi persawahan menggunakan dana iuran warga kelompok tani setempat. “untuk kebutuha pengairan utamanya mengairi tanaman padi, kami swadaya warga sendiri. Untungnya air di sini melimpah namun belum ada saluran ke sawah warga jadi kami bangun sendiri dengan dana mandiri”.

Pemerintah daerah Malang sendiri telah meningkatkan dana pembangunan dengan sistem black grand. “Dana itu dikucurkan dari pemerintah daerah langsung ke kelurahan. Masing-masing kelurahan menerima kucuran dana sebesar 750 juta per tahunnya, salah satunya juga termasuk pembangunan irigasi tersier tetapi penggunaannya tergantung prioritas masing-masing kelurahan. Dan pengelolaan untuk jaringan irigasi primer dan sekunder menjadi tanggung jawab dinas pengairan tingkat provinsi”. Tegas Hari Setyowahyuni selaku tim pembangunan jaringan irigasi daerah Malang Raya.

Keberadaan lahan yang setiap tahun mengalami penyusutan juga menjadi salah satu kendala pemenuhan sumber pangan. Seperti dikemukakan Edi Purwanto selaku staf olah Data Statistik di Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Malangg bahwa keberadaan luas lahan pertanian utamanya padi mengalami penyusutan sebesar 2% per tahunnya.

“Undang-undang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan memang sudah ada, tetapi peraturan dari pemerintah daerah belum turun untuk melindungi lahan-lahan pertanian agar tidak teralih fungsikan.  Sampai sekarang masih menggunakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang isunya akan dijadikan peraturan daerah sejak 2 tahun lalu” Tambah Edi.

Pangan Alternatif

            Masalah utama dalam sistem pangan dunia dan nasional adalah kurang atau terbatasnya pasokan. Permintaan begitu tinggi karena China dan India naik menjadi negara industri, yang konsumsi pangannya amat tinggi.

Bidang Bina Usaha dan Penyuluhan dari Dinas Pertanian Kota Malang menerangkan bahwa untuk strategi ke depan selain meningkatkan produktivitas juga akan adanya program keanekaragaman pangan. “Memang sumber karbohidrat pada kebanyakan masyarakat lebih melirik pada beras. Untuk itu strategi ke depannya diusahakan adanya program penganekaragaman pangan lokal yang tidak terpatok pada beras atau padi”. Terang Nurmala

Dilihat dari sisi produksi, ada peningkatan yang signifikan dari tiap panen. Dinas pertanian Kota Malang mencatat kenaikan sekitar 24% dari tahun 2010. Tetapi jumlah tersebut masih belum bisa memenuhi kebutuhan lokal Kota Malang yang defisit sekitar 20% dari kebutuhan konsumsi atau sebesar 16416,91 ton. “Karena Malang menjadi pintu keluar masuk perdagangan, kekurangan itu masih bisa ditutupi. Biasanya kami memperoleh pasokan dari daerah sekitar Malang seperti Lumajang, Blitar, Pasuruan, Probolinggo dan daerah lain” jelas Joko Siswoyo selaku staf pemasaran di Dinas Pertanian Kota Malang.

Selain itu kondisi cuaca yang ekstrim yang terjadi pada saat ini mengakibatkan meningkatnya organisme pengganggu tanaman. “saat ini tikuslah yang menjadi hama utama pada pertanaman padi. Kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu penyebabnya”. Tambah Joko.

Strategi ke depan untuk menjaga kestabilan pangan diusung sistem penganekaragaman sumber pangan atau pangan lokal. Ketersediaan sarana produksi yang ada di lapangan menjadi syarat utama untuk menunjang produksi. Hal utama dalam pemenuhan ketersediaan saprodi ialah kerjasama dari pihak-pihak terkait utamanya pemerintah daerah dengan petani.