PENYAKIT JAMUR Puccinia Sorghi (Karat Pada Jagung)

 

Tugas Terstruktur

Disajikan pada tanggal 07 April 2013

Untuk memenuhi tugas kuliah Dasar Perlindungan Tanaman

Dosen Pengajar: Dr. Ir. H. Anton Muhibuddin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh No. Absen 1
Kelas H:

  1. M. Khairul Anam                  (125040100111013)

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013

KARAT PADA JAGUNG  (Puccinia Sorghi)

  1. a.        Sekilas Tentang Tanaman Jagung

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain padi dan gandum. Sebagai sumber karbohidrat utama, di Amerika Tengah dan selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari biji), dibuat tepung (dari biji yang dikenaln dengan istilah tepung jagung maizena), dan bahan baku industri(dari tepung biji dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfual. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanaman sebagai penghasil bahan farmasi.

Berdasarkan bukti genetik, antropologi, dan arkeologi  diketahui bahwa daerah asal jagung adalah Amerika Tengah (Meksiko bagian selatan). Budidaya jagung telah dilakukan di daerah ini 10.000 tahun yang lalu, kemudian teknologi ini dibawa ke Amerika Selatan (Ekuador) sekitar 7000 tahun yang lalu, dan mencapai daerah pegunungan di selatan Peru pada 4000 tahun yang lalu. Kajian filogenik menunjukkan bahwa jagung (Zea mays ssp. mays) merupakan keturunan langsung dari teosinte (Zea mays ssp. parviglumis). Dalam proses domestiknya, yang berlangsung paling tidak 7000 tahun oleh penduduk asli setempat, masuk gen-gen dari subspesies lain terutama, Zea mays ssp.mexicana. Istilah teosinte sebenarnya digunakan untuk menggammbarkan semua spesies dalam genus Zea, kecuali Zea mays ssp.mays. Proses domestikasi menjadikan jagung merupakan satu-satunya spesies tumbuhan yang tidak dapat hidup secara liar di alam. Hingga kini dikenal 50.000 varietas jagung, baik ras lokal maupun kultivar.

Jagung merupakan tanaman berumah satu (monoecious), yaitu letak bunga jantan terpisah dengan bunga betina dalam satu tanaman. Dalam taksonominya jagung termasuk dalam ordo Tripsaceae, famili Poaceae, sub famili Panicoideae, genus Zea, dan spesies Zea mays L, (Muhadjir, 1988).

 

  1. b.        Sejarah Penyakit Karat Pada Jagung

Penyakit karat pada jagung di Indonesia baru menarik perhatian pada tahun 1950-an. Adanya penyakit ini untuk pertama kali ditulis dalam karangan Roelofsen (1956). Menurut Boedjin (1960), penyakit karat jagung sudah terdapat pada bahan yang dikumpulkan oleh van der Goot di Bogor pada tahun 1923 dan oleh Schwarz dari Lembang, Bandung, pada tahun 1925. Jamurnya diidentifikasi sebagai Puccinia sorhgi Schweinitz. Adanaya jamur karat yang keduanpada jagung, P. polysora Undrew., baru dikemukakan oleh Sudjono pada tahun 1985. Jamur ini untuk pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1891. Pada tahun 1940 jamur ditemukan di Karibia. Jamur ini dapat melintasi Samudera Atlantik dan pada tahun 1949 Atlantik dan pada tahun 1949 telah terdapat di Sierra Leone, Afrika Barat. Di Afrika penyakit meluas ke timur dan selatan, sehingga pada tahun 1952 dan 1953 P. polysora sudah terdapat di banyak Negara Afriaka bagian Timur sudah terdapat di banyak Negara Afriaka bagian Timur dan Afrika Sealatan. Jamur ini terdapat di Thailand dan Filipins pada tahun 1955. Jamur ini masuk Indonesia pada tahun 1950-an.

P. sorghi dan  P.polisora terdapat di seluruh Indonesia, termasuk Irian Jaya. Kedua jamur karat ini terdapat di Malaysa, Thailand, Filipina, dan Papua Nugini. Bahkan dapat dikatakan bahwa keduanya terdapat di semua Negara penanaman jagung di seluruh dunia, meskipun P. polysora lebih banyak terdapat dateran rendah tropika sehingga sering disebut tropical-rust dan P. sorghi lebih banyak terdapat di pegunungan tropika dan di daerah beriklim sedang.

 

  1. c.         Gejala Penyakit

Puccinia polysora membentuk irediosorus bulat atau jorong. Di lapangan kadang-kadang epidermis tetap mempunyai urediosorus sampai matang. Tetapi ada kalanya epidermis pecah dan mass spora dalam jumlah besar menjadi tampak. Setelah terbuaka urediosorus berwarna jingga atau jingga tua. Jamur membeuntuk banyak urediosorus pada daun dan kadang-kadang pada upih daun. Karena adanya sorus ini permukaan atas daun menjadi kasar. Pada tingkatan yang jauh penyakit karat menyebakan mengeringnya bagian-bagian daun.

Puccinia sorghi membentuk urediosorus panjang atau bulat panjang pada daun. Epidermis pecah sebagian dan massa spora dibebaskan yang menyebabkan urediosorus berwarna coklat atau coklat tua. Urediosorus yang masak berubah menjadi hitam bila teliospora terbentuk.

 

  1. d.        Penyebab Penyakit

Puccinia polysora Undrew membentuk uredium (urediosorus) pada permukaan atas dan bawah daun, dan pada upih daun, tersebar rapat. Uredium bulat atau lonjong, dengan garis tengah 0,2-1 mm, berwarna jingga, epidermis daun yang menutupnya bertahan lama. Urediospora bulat telur sampai bukat telur memanjang, sering kali agak bersudut, 28-38 x 22-30 mikrometer; berdinding agak tebal, derwarna enmas, dengan duri-duri halus yang jarang, tebal 1-2 mikrometer; pori 4-5, ekuatorial. Telium berwarna gelap, tetap tertutup oleh epidermis , bulat, dengan garis tengah 0,2-0,5 mm. teliospora kurang lebih jorong atau berbentuk gada, biasanya tidak teratur atau agak bersudut-sudut, ujungnya tumpul atau terpancung, agak mengecil pada sekat, 35-50 x 16-26 mikrometer. Mesospora (teliospora bersel satu) banyak, dinding coklat kekuningan, halus, 1-1,5 mikroketer di ujungnya; tangkai kuning pucat, panjangnya sampai 30 mikrometer.

Piknidiun dan aesiumjamur ini belum diketahui. P.sorghi Schw dulu disebut P.maydis Ber., P.zeae Ber., dab ini identik dengan Aecidium oxalidis Thuem. Jamur mempunyai banyak uredium (urediosorus) pada kedua sisi daun dan upih daun, rapat atau jarang, tersebar tidak mementu, bulat dengan garis tengah lebih kurang 1mm, atau memenjang lebih kurang 10 mm panjang, berwarna coklatepidermis daun yang menutupnya segera pecah. Urediospora bulat atau jorong, 24-29 x 22-29 mikrometer, berdinding coklat kemerahan, berduri-duri halus, tebal 1,5-2 mikrometre, pori 3-4, ekuatoral. Jamur membentuk telium terbuka, berwarna hitam, di tempat yang sama dengan uredium; biasanya pada waktu tanam menjelanng masak. Teliospora jorong, berbentuk tanbung atau gada, tumpul atau agak meruncing, biasanya agak mengecil pada sekat, 35-50 x 16-23 mikrometer, dengan dinding berwarna coklat,, dipangkalnya agak pucat, halus, tebal, dinding samping 1-1,5 mikrometer, tebal dinding ujung 3-6 mikrometer; tangkai panjang, sampai 80 mikrometer, kuning pucat.

P.sorghi diketahui membentuk piknidium dan aesium pada lebih kurang 30 jenis Oxalis, termasuk O.corniculata. piknium pada kedua sisi daun, mengelompok sampailebih kurang 6 pada suatu tenpat yang garis tengahnya sampai 0,5 mm di pusat bercak. Aesiium hanya pada sisi bawah daun, mengelilingi piknium, pada zone yang lebarnya sampai 2 mm, berebentuk mangkuk, garis tengahnya 0,15-0,2 mm. Aesiospora bulat atau jorong, bergaris tengah 12-24 mikrometer, berdinding hialin, berjerawat, tebal 1-2 mikrometer.

Sampai sekarang belum diketahui dengan jelas hubungn antara P.sorghi dengan P.purpurea, penyekit karat pada sorgum, karena keduanya dapat membantuk aesiospora pada Oxalis corniculata.

  1. e.         Daur Penyakit

P.polysora mempertahankan diri dari musim ke musim pada tanaman jagung hidup yang selalu terdapat, dan dipencarkan olah urediospora. Spora ini dapat diterbangkan jauh oleh angin dengan tetap hidup, karena kering dan mempunyai dinding yang cukup tebal. Jamur ini mempunnyai dua marga yang mempunyai hubungn dekat dengan jagung, yaitu Euchlaena dan Tripsacum antara lain E.mexicana dan T.laxum. kedua macam tanaman ini pelatif jarang terdapat, sehingga kurang memegang peran dalam pemencaran P.polysora. rumput Guatemala sering di tanam di kebun-kebun the sebagai sumber bahan organic.

Jamur karat tidak dapat hidup sebagai saprofit, sehingga tidak dapat mempertahankan diri pada sisa-sisa tanaman jagung . tidak terdapat bahwa jamur ini mempertahankan diri dalam biji yang dihasilkan pada tanaman sakit. P.sorghi terutama juga mempertahankan diri pada tanaman jagung yang masih hidup, dandipencarkan pada urediospora yang dapat terangkut jarak jauh oleh angin dengan tetap hidup. Selain pada jagung, jamur ini telah dijertahui membentuk uredium dan telium pada Euchlaenamexicana.

P.sorghi membentuk piknidium dan aesium pada Oxalis. Namun sampai sekarang peran Oxalis yang abnyak terdapat sebagai gulma di pegunungan dan sering terserang oleh P.sorghi dalam pemencaran penyakit karat pada jagung belum diketahui dengan pasti. Sampai sekarang di Indonesia belum pernah dilakukan percobaan infeksi pada tanaman jagung dengan memekai aesiospora jamur karat Oxalis.

 

  1. f.         Faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit

P.polysora terutama merugikan di daerah basah di tropika. Urediospora palinh banyak dipoencarkanmenjelang tengah hari. Suhu optimum untuk pekecambahan urediospora adalah 27-280C. pada suhu ini uredium terbentuk 9 hari setelah infeksi. Jamur mengadakan infeksi melalui mulut kulit. Penyekit dipengruhi oleh jenis tanaman jagung. Telah diketahui bahwa kwtahanan terhadap P.polysora ditentukan oleh gen-gen dominan atau dominan yang tidak penuh. P.sorghi terutama terdapat pada suhu yang agak rendah, di daerah pegunungan tropika atau di daerah beriklim sedang. Penyakit ini dibantu oleh suhu 16-230C. urediospora terdapat di udara paling banyak di waktu siang, pada tengah hari dan setelah tengah hari. Infeksi terjadi melalui mulut kulit, pada umumnya dengan pembentukan apresorium.

Ketahanan tanaman jagung terhadap P.sorghi ternyata sangat kompleks, ada yang ditentukan oleh gen dominan, gen dominan yang tidak penuh, tetapi ada juga yang ditentukan oleh gen resesif. Menurut pengujian Sudjono di Bogor diketahui bahwa XCI 47, XCJ 33, TCKUJ 1414,TC arren CI-23-3, Pool 168, dan Arjuna tahan terhadap P.polysora. seterusnya Sudjono menyatakan bahwa jenis Kalingga, Arjuna, Wiyasa, dan Pioner-2 tahan terhdap karat, sedangkan hibrida C1 terbukti rentan.

 

  1. g.        Pengelolaan

Pada waktu ini jemis-jenis jagung yang ditanam di Indonesia mempunyai ketahanan cukup terhadap penyakit karat, sehingga kedua macam penyakit tersebut dirasa kurang merudikan. Hanya beberapa jenis jagung manis yang akhir-akhir ini dikembangkan di Indonesia kelihatan menderita karena penykit ini. Sampai disini belum ada usaha yang khusus untuk mengelola penyakit karat jagung.

Jika diperlukan penyakit dapat dikelola denagn penanaman jenis tahan. Diantar varietas unggul yang dianjurkan yang tahan terhadap penyakit kaeat adalah Metro, Kania Putih, Harapan, Harapan Baru, Nakula, Rama, Semar 1dan Semar 2, diantara jagung hibrida C3dan CPI 2 adalah tahan, sedang Pioneer 3, Pioneer 4 dan Pioneer 5 dinyatakan toleran. Di Afrika terdapat banyak jenis tehan dengan ketahanan yang berasal dari jenis-jenis jagung dari Amerika Latin.

Jika diperlukan penyakit karat dapat dikendalikan dengan fungisida, namun oada umumnya tindakan ini dianggap tidak menguntungkan. Diantar fungisida yang telah terbukticukup efektif adalah zineb, oksiklorida tembaga, fermat dan dithane.

 

  1. h.        Foto Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Foto Di ladang Jagung yang terinfeksi Penyakit Karat P.sorghi

Gambar 2. Penulis Sedang Memegang Tanamn Jagung Yang terserang Penyakit P. Sorghi

Gambar 3. Penulis Sedang Memegang Tanamn Jagung Yang terserang Penyakit P. Sorghi

 

Tempat dan Waktu Pengamatan

            Pengamatan yang dilakukan dilaksanakan pada jam 09.30 tepatnya pada hari Ahad, 07 April 2013 di Ladang Jagung Jalan Sumbersari Gg.3. Pengamatan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui jenis penyakit pada tanaman jagung sehingga dapat dengan mudah dikenali dan diidentifikasi jenis penyakitnya.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

DIREKTORAT PERLINDUNGAN TANAMAN PANGAN. 1981. Rekomendasi pengendalian hama dan penyakit tanaman pangan di Indonesia.

Hill DS. 1975. Agriculture insect pests of the tropics. Cambridge Univ. Press.

Patrich O. 2004. Population Studies of cercospora zeaemaydis and related cercospora fungi Unpublish. Doctoral thesis swedish University of agricultural sciences uppsala

Saleh, K.M. 1993. The use of resistant varieties and insecticide applications in controlling insect pests and the effects of resistant varieties on parasitoid development. Proceeding of the Symposium on Integrated Pest Management Control Component. Biotrop Special Publication

Semangun,H. 1991. Penyakit-penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Gajah Mada University Press.

Subandi, I.Manwan, and A.Blumenshein. 1988. National Coordinated Research Program of Corn. Central Research Institute for Crops. Agency for Agricultural Research and Development.

Sudjono,M.S. 1988. Penyakit Jagung Dan Pengendaliannya,. Dalam Subandi al.,(ed), Jagung. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Puslitbangtan, Bogor.

Yuliana, B.O., M.A. Guimarães., I.O. Geraldi., L. E. Camargo. 2005. New resistance genes in the Zea mays Exserohilum turcicum pathosystem Genet.