RESPON BEBERAPA VARIETAS 

 TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill) TERHADAP 

PEMBERIAN MIKORIZA DAN EM4

 

 

Paper

Disajikan pada tanggal 25 September  2013

Untuk memenuhi tugas kuliah Teknologi Produksi Tanaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Kelompok 2 : Kelas B

M. Khairul Anam               (125040100111013)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirrahmanirrahim

Berawal dari segalanya kami panjatkan rasa puja dan puji syukur kepada sang Khaliq yang telah memberikan taufiq dan ma’unah-Nya, sehingga kami bisa merealisasikan makalah sosiologi pertanian ini, walaupun dalam keadaan yang masih jauh dari sempurna.

Alunan syahdu gema shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada sang revolusioner dunia yakni baginda Nabi Muhammad SAW , karena beliaulah yang telah mengubah keadaan alam ini yang dahulunya darkness menjadi lightness dalam  nuansa iman, islam, dan ihsan.

Terima kasih sebelum dan sesudahnya kami sampaikan kepada dosen, dan teman-teman sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moriil maupun materil, sehingga Paper ini terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.

Kami menyadari sekali, di dalam penyusunan paper ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangannya, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman sekalian, yang kadangkala hanya menuruti egoisme pribadi. Untuk itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang konstruktif untuk lebih menyempurnakan paper kami di lain waktu.

Harapan yang paling besar dari penyusunan paper ini adalah, mudah-mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat baik untuk pribadi, teman-teman serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil manfaat dari paper kami ini.

 

Malang, 14 September 2013

 

 

Penyusun

 

 

PENDAHULUAN

Tomat  merupakan  salah  satu komoditas sayuran  yang  mengandung  vitamin  A dan  vitamin  C  cukup  tinggi,  serta  hampir  semua  bagiannya  dapat  dimakan. Produktivitas  tomat  Provinsi  Jawa  Tengah  sebesar  11,93  ton/ha,  lebih  rendah dibandingkan  provinsi  lain,  seperti  Jawa  Barat  dan  Jawa  Timur  yaitu    20,25  ton/ha dan 13,35 ton/ha (Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, 2006). Rendahnya produksi  tomat  antara  lain  disebabkan  oleh  terbatasnya  ketersediaan  varietas  unggul di tingkat petani sehingga masih banyak petani tomat menanam varietas lokal dengan mutu  benih  yang  rendah  (Purwati  dan  Khairunisa,  2007).  Selain  itu,  pengembangan varietas  berdaya  hasil  tinggi  mengalami  hambatan  karena  tidak  tahan  terhadap temperatur  tinggi  dan  adanya  layu  Fusarium.  Serangan  penyakit  ini  mengurangi produksi  tomat  hingga  30%,  bahkan  pada  musim  penghujan  dapat  mencapai  60% (Nurita et al., 2004).

Upaya  peningkatan  produksi  tomat  ke  depan  masih  dan  akan  terus  bertumpu pada  penggunaan  input  luar,  diantaranya  perbaikan  kesuburan  tanah  dengan penggunaan pupuk hayati. Pupuk hayati digunakan untuk mengurangi ketergantungan terhadap  penggunaan  pupuk  anorganik  sekaligus  untuk  mengatasi  dampak  negatif yang ditimbulkannya. Salah satu jenis pupuk hayati atau biofertilizer adalah mikoriza, dalam  penelitian  ini  dilakukan  aplikasi  inokulasi  mikoriza  yang  dikombinasikan dengan  pemberian  EM4  pada  berbagai  konsentrasi.  Aplikasi  faktor-faktor  perlakuan tersebut  diharapkan  dapat  mengefisienkan  penggunaan  pupuk  organik  melalui peningkatan  serapan  N  dan  P  oleh  tanaman  agar  dapat  meningkatkan  pertumbuhan dan hasil panen.

Untuk lebih jelasnya berikut akan dipaparkan terkait pengaruh pemberian mikoriza dan EM4 kepada beberapa varietas tanaman tomat.

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

Rangkuman  hasil  analisis  sidik  ragam  semua  variabel  pengamatan  disajikan dalam  Tabel  1.  Pemberian  mikoriza  dan  EM4  tidak  berpengaruh  terhadap pertumbuhan  dan  hasil  tomat.  Varietas  yang  diuji  menunjukkan  keragaman  tinggi tanaman,  umur  berbunga,  umur  panen,  bobot  buah  per  tanaman,  serangan  layu Fusarium  dan  penyakit  virus  Kuning.  Interaksi  mikoriza,  varietas  dan  EM4 menunjukkan keragaman terhadap tinggi tanaman.

 

Rangkuman Analisis Sidik Ragam

Variabel

M

V

E

MxV

MxE

VxE

MxVxE

Tinggi tanaman (cm)

ns

**

Ns

ns

ns

*

**

Umur berbunga (hari)

ns

**

Ns

ns

ns

ns

Ns

Umur panen (hari)

ns

**

Ns

ns

ns

ns

Ns

Bobot buah (g)

ns

**

Ns

ns

ns

ns

Ns

Diameter buah (cm)

ns

ns

Ns

ns

ns

ns

Ns

Kadar Gula Total (%)

ns

ns

Ns

ns

ns

ns

Ns

Kdr Vit.C (mg/100g)

ns

ns

Ns

ns

ns

ns

Ns

Layu Fusarium (%)

ns

**

Ns

ns

ns

ns

Ns

Virus Kuning (%)

ns

**

Ns

ns

ns

ns

Ns

Keterangan :

M                     : Inokulasi mikoriza

V                     : Varietas

E                      : Konsentrasi EM4

MxV                : Interaksi mikoriza dengan varietas

MxE                : Interaksi mikoriza dengan EM4

VxE                 : Interaksi varietas dengan EM4

MxVxE           : Interaksi antara mikoriza, varietas dan EM4

Ns                    : Tidak berbeda nyata pada taraf 5%

*                     : Berbeda nyata pada taraf 5%

**                    : Sangat berbeda nyata pada taraf 1%

 

 

 

Tabel  2.  menunjukkan  bahwa  pemberian  mikoriza  (2  g)  tidak  meningkatkan pertumbuhan dan hasil tomat dibandingkan tanaman kontrol (M0). Namun demikian, tanaman  tomat  yang  diberi  mikoriza  menunjukkan  adanya  kecenderungan peningkatan diameter buah, kadar vitamin C, dan penurunan intensitas serangan layu Fusarium dan virus kuning.

 

Pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan dan hasil

Variabel

Tanpa

MVA

Tinggi tanaman (cm)

44,7a

 44,3a

Umur berbunga (hari)

17,2a

16,7a

Umur panen (hari)

63,4a

64,2a

Bobot buah (g)

1346a

1331a

Diameter buah (cm)

2,0a

2,1a

Kadar Gula Total (%)

0,09a

0,09a

Kdr Vit.C (mg/100g)

16,8a

17,1a

Layu Fusarium (%)

30,3a

27,2a

Virus Kuning (%)

25,3a

21,6a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada setiap baris tidak berbeda menurut uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5 %.

 

Hal ini sejalan dengan penelitian Bertham (2002) pada tanaman kacang tanah, bahwa  mikoriza  yang  diberikan  tidak  berpengaruh  terhadap  pertumbuhan  dan hasilnya.  Tidaknyatanya  pengaruh  pemberian  mikoriza  pada  pertumbuhan  dan  hasil tomat  menunjukkan  bahwa  mikoriza  tidak  meningkatkan  serapan  hara  dan  air  pada tanaman tomat sehingga tidak  menunjukkan perbedaan pada pertumbuhan dan  hasil. Hal  ini  dikarenakan  pada  penelitian  ini  tanaman  tomat  ditanam  dalam  polybag  yang terkontrol sehingga hara dan air cukup tersedia untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

 

Pengaruh EM4 terhadap pertumbuhan dan hasil

Variabel

Konsentrasi (ml/L)

0

2

5

8

Umur berbunga (hari)

17,2a

16,9a

16,7a

17a

Umur panen (hari)

63a

65a

63,6a

63,5a

Bobot buah (g)

1213a

1460a

1478a

1201a

Diameter buah (cm)

2,0a

2,2a

2,1a

2,1a

Kadar Gula Total (%)

0,09a

0,10a

0,08a

0,09a

Kdr Vit.C (mg/100g)

17,5a

 17,4a

16,2a

16,6a

Layu Fusarium (%)

27,2a

19,8a

32,1a

35,8a

Virus Kuning (%)

25,9a

22,2a

18,5a

27,2a

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada setiap baris menunjukkan tidak berbeda menurut uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5 %

 

Tabel  3  menunjukkan  pemberian  EM4  tidak  berpengaruh  terhadap pertumbuhan  dan  hasil  tomat.  Hal  ini  sesuai  dengan  penelitian  Fandel  et  al  (2002), dimana  pemberian  EM4  tidak  berpengaruh  terhadap  pertumbuhan  dan  hasil  tomat, namun  demikian,  tanaman  tomat  yang  diberi  EM4  menunjukkan  adanya kecenderungan  peningkatan  tinggi  tanaman  dan  umur  berbunga.    Pemberian  EM4  meningkatkan tinggi tanaman 4,6%  dan umur berbunga cenderung lebih cepat 2,9% dibandingkan  tanaman  kontrol.  Penyebab  tidak  nyatanya  pemberian  EM4  diduga karena  pupuk  organik  yang  digunakan  merupakan  bahan  organik  yang  sudah mengalami pelapukan, sehingga aktifitas  mikroorganisme dalam  menguraikan  bahan organik  berkurang.  Wididana  (1993)  menyatakan  bahwa  populasi  mikroorganisme akan  menjadi  lebih  cepat  pertumbuhannya  dalam  bahan  organik  yang  belum mengalami dekomposisi sempurna.

Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  varietas  yang  diuji  menunjukkan keragaman  tinggi  tanaman,  umur  berbunga,  umur  panen,  bobot  buah  per  tanaman, layu  Fusarium  dan  penyakit  virus  Kuning  (Tabel  4).  Varietas  Permata  mempunyai umur  berbunga  lebih  cepat  (21,3  %),  bobot  buah  per  tanaman  106,6%  lebih  tinggi, ketahanan  terhadap  serangan  layu  Fusarium  dan  virus  Kuning  lebih  tinggi    masing-masing sebesar 67,4% dan 68,1% dibandingkan varietas Montera.

 

 

 

Pertumbuhan dan hasil tiga varietas tomat

Variabel

Montera

Lentana

Permata

Tinggi tanaman (cm)

50,5a

39,8c

43,1b

Umur berbunga (hari)

19,7a

15,7b

15,5c

Umur panen (hari)

67,7a

60,9c

62,6b

Bobot buah (g)

803c

1553b

1659a

Diameter buah (cm)

2,1a

2,0a

2,0a

Kadar Gula Total (%)

0,10a

0,08a

0,09a

Kdr Vit.C (mg/100g)

16,0a

18,4a

16,4a

Layu Fusarium (%)

45,4a

25,9b

14,8c

Virus Kuning (%)

43,5a

28,7b

13,9c

Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang tidak sama pada setiap baris menunjukkan perbedaan nyata menurut uji jarak berganda Duncan pada taraf nyata 5 %.

 

Varietas Montera merupakan varietas  yang  mempunyai pertumbuhan tanaman tertinggi,  sedangkan  terendah  yaitu  varietas  Lentana.  Hal  ini  erat  kaitannya  dengan sifat  genetis  varietas  Montera  yang  bertipe  indeterminate.  Tipe  indeterminate memiliki  pola  pertumbuhan  tidak  terbatas  atau  fase  vegetatifnya  tetap  tumbuh meskipun  telah  memasuki  masa  generatif,  sedangkan  varietas  Lentana  dan  Permata merupakan  varietas  dengan  tipe  pertumbuhan  determinate  yaitu  tipe  pertumbuhan terbatas, fase vegetatif berhenti setelah memasuki fase generatif.

Permata  merupakan  varietas  yang  memiliki  umur  berbunga  lebih  cepat dibandingkan  dengan  varietas  Lentana  dan  Montera.  Sesuai  dengan  karakteristik masing-masing,  varietas  Permata  dan  Lentana  merupakan  tipe  determinate  sehingga lebih  cepat  berbunga  dibandingkan  dengan  varietas  Montera  yang  indeterminate, lamanya berbunga berturut-turut adalah 15.5 hari, 15.67 hari dan 19.67 hari. Menurut Darjanto  dan  Satifah  (1984)  pembentukan  bunga  adalah  peralihan  pertumbuhan  dari fase  vegetatif  ke  fase  generatif.  Peralihan  dari  fase  vegetatif  ke  fase  generatif sebagian  ditentukan  oleh  faktor  genotip  (sifat  turun  temurun)  atau  faktor  dalam  dan sebagian  lagi  ditentukan  oleh  faktor  luar  seperti  suhu,  cahaya,  kelembaban  dan pemupukan. Faktor luar yang paling berpengaruh terhadap pembentukan bunga tomat adalah  suhu,  untuk  pembentukan  bunga  yang  baik,  tomat  memerlukan  suhu  23°C pada siang hari dan suhu 17°C pada malam hari. Batas suhu yang paling rendah bagi tanaman  tomat  di  waktu  malam  adalah  12°C.  Dalam  penelitian  ini  seluruh  tanaman yang  diuji  mendapat  pengaruh  luar  yang  sama  sehingga  faktor  yang  membedakan hasil adalah varietas.

Varietas  Lentana  merupakan  varietas  yang  mempunyai  umur  panen  tercepat dibandingkan  dua  varietas  lainnya.  Hal  ini  sesuai  dengan  karakteristik  varietas Lentana yang memiliki umur panen minimal 60 hari (tabel 1). Lamanya umur panen tergantung  pada  banyaknya  buah  yang  masak.  Buah  yang  masak  ditentukan  oleh beberapa  hal  antara  lain  :  jumlah  bunga  yang  dihasilkan  tanaman,  persentase  bunga yang  mengalami  penyerbukan,  persentase  bunga  yang  mengalami  pembuahan  dan persentase  buah  muda  yang  dapat  tumbuh  terus  hingga  menjadi  buah  masak (Darjanto  dan  Satifah,  1984).  Faktor-faktor  tersebut  merupakan  faktor  dalam  yang sifatnya  turun  temurun,  meskipun  faktor  luar  seperti  keadaan  lingkungan,  iklim  dan kesuburan  tanah  dapat  mempengaruhi,  namun  karena  penelitian  ini  dilakukan  dalam polybag kecil pengaruhnya terhadap tanaman.

Permata  mempunyai  bobot  buah  per  tanaman  paling  tinggi  yaitu  1659  g, sedangkan  terendah  adalah  Montera  (803  g).  Hal  ini  sesuai  dengan  karakteristik masing-masing  varietas,  Permata  merupakan  tipe  determinate  atau  pertumbuhan terbatas  sedangkan  Montera  memiliki  tipe  indeterminate  dimana  fase  vegetatifnya tetap  tumbuh  meskipun  telah  memasuki  masa  generatif.  Tomat  dengan  tipe indeterminate memiliki produksi lebih rendah dibandingkan dengan tipe determinate, hal  ini  dikarenakan    hara  yang  diserap  tanaman  lebih  banyak  digunakan  untuk pertumbuhan vegetatif seperti cabang dan daun.

Berdasarkan  hasil  pengamatan  terhadap  serangan  OPT  yang  terjadi  varietas Permata  mendapat  serangan  layu  Fusarium  dan  penyakit  Virus  Kuning  dengan intensitas terendah yaitu masing-masing sebesar 14,8% dan 13,9%. Hasil uji lanjutan menunjukkan  varietas  Permata  merupakan  varietas  yang  paling  tahan  terhadap serangan  layu  Fusarium  dan  penyakit  virus  Kuning,  dengan  perbedaan  intensitas serangan  masing-masing  sebesar  67,4%  dan  68,1%  lebih  rendah  dibandingkan varietas Montera. Varietas Permata lebih tahan terhadap serangan layu Fusarium dan penyakit  virus  Kuning  dikarenakan  Permata  lebih  adaptif  dibudidayakan  di  dataran rendah yang bercuaca panas dengan kelembaban tinggi dibandingkan dengan varietas Montera (Agrina online.com, 2009).

Interaksi  antara  varietas  dan  konsentrasi  EM4  menunjukkan  keragaman

terhadap  tinggi  tanaman  (Tabel  5),  demikian  juga  interaksi  antara  pemberian

mikoriza, varietas dan konsentrasi EM. Hal ini menunjukkan ketiga faktor perlakuan saling  mempengaruhi  dalam  mendukung  pertumbuhan  tanaman.  Tinggi  tanaman merupakan ukuran pertumbuhan yang paling mudah dilihat, meskipun tanaman yang tertinggi belum tentu mencerminkan proses pertumbuhan yang paling baik.

 

Pengaruh interaksi perlakuan terhadap pertumbuhan dan hasil tomat

Variabel

Interaksi mikoriza-varietas-EM4

Tinggi tanaman (cm)

44,5

Umur berbunga (hari)

16,9

Umur panen (hari)

63,8

Bobot buah (g)

1338,7

Diameter buah (cm)

2,1

Kadar Gula Total (%)

0,09

Kdr Vit.C (mg/100g)

16,9

Layu Fusarium (%)

28,7

Virus Kuning (%)

23,5

 

Menurut  Sitompul  dan  Guritno  (1995)  pertumbuhan  adalah  proses  kehidupan tanaman  yang  mengakibatkan  perubahan  ukuran  tanaman  semakin  besar  dan  juga semakin  tinggi.  Pertambahan  ukuran  tubuh  tanaman  mengakibatkan  pertambahan jaringan  sel  yang  dihasilkan  oleh  pertambahan  ukuran  sel.  Jumlah  sel  yang  semakin banyak  atau  ruang  sel  yang  semakin  besar  membutuhkan  banyak  bahan-bahan  sel yang  disintesis  menggunakan  substrat  yang  sesuai.  Pada  tingkat  tanaman,  substrat dibatasi  pada  bahan  anorganik  dan  unsur  lain  yang  diambil  tanaman  dari lingkungannya seperti karbondioksida, unsur hara, air dan cahaya matahari.

Dalam  penelitian  ini  EM4  yang  diberikan  mempercepat  proses  dekomposisi bahan  organik  yang  ada  sehingga  mampu  menyediakan  hara  yang  dibutuhkan tanaman,  sedangkan  mikoriza  yang  bersimbiosis  dengan  perakaran  tanaman  secara efektif  dapat  meningkatkan  penyerapan  hara,  baik  unsur  hara  makro  maupun  mikro.

Menurut  Novriani  dan  Madjid  (  2008)  adanya  hifa  eksternal  pada  mikoriza menyebabkan penyerapan hara terutama fosfor menjadi lebih besar dibanding dengan tanaman  yang  tidak  bermikoriza.  Peningkatan  serapan  dikarenakan  miselium  fungi meningkatkan area permukaan serapan hara tanah oleh tanaman.

 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan    uraian  hasil  penelitian  dapat  diambil  simpulan  sebagai  berikut  :

1)        pemberian mikoriza tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tomat;

2)        pemberian  EM4  tidak  berpengaruh  terhadap  pertumbuhan  dan  hasil  tomat;

3)        Varietas  yang  diuji  menunjukkan  keragaman  pada  tinggi  tanaman,  umur  berbunga, umur panen, bobot buah per tanaman, kepekaan terhadap serangan layu Fusarium dan penyakit Virus Kuning. Rata-rata produksi adalah 1,338 kg/tanaman atau setara 53,5 t/ha.  Varietas  yang  memberikan  bobot  buah  per  tanaman  tertinggi  adalah  Permata sebesar 1659 g per tanaman dan terendah adalah Montera yaitu 803 g per tanaman.

4)        interaksi antara   varietas + EM4, dan  mikoriza +  EM4  dengan  varietas  menunjukkan keragaman tinggi tanaman.

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

Agrina  online.com,  2009.  Pilihan  Baru  Di  Dataran  Rendah.  http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=10&aid=1723.  Diakses  tanggal  20  September  2013.

Bertham,  Y.  H.,  2002.  Potensi  Pupuk  Hayati  Dalam  Peningkatan  Produktivitas Kacang  Tanah  dan  Kedelai  Pada  Tanah  seri  Kedungkimun  Bengkulu.  Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Volume 4, No I 2002. Hal 18 – 26.

Darjanto  dan  Satifah,  S.,  1984.  Pengetahuan  Dasar  Biologi  Bunga  dan  Teknik Penyerbukan Silang Buatan. Penerbit PT. Gramedia. Jakarta. 156 hal.

Direktorat  Jenderal  Bina  Produksi  Hortikultura,  2006.  Produktivitas  Tomat  di Indonesia.  Biro  Pusat  Statistik  dan  Direktorat  Jenderal  Bina  Produksi Hortikultura. Departemen Pertanian RI.

Fandel,  A.,  N.  Setyowati,  dan  U.  Siswanto.  2002.  Pertumbuhan  dan  Hasil  Tomat dengan  Pemberian  Effective  Microorganism.  Akta  Agrosia  Vol.  5  No.  2. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu.

Novriani  dan  Madjid,  2008.  Peran  dan  Prospek  Mikoriza. http/www.scribd.com/doc/22391846. Diakses tanggal 8 Januari 2010.

Nurita, N. Fauziati, E. Maftu’ah dan R. S. Simatupang., 2004. Pengaruh Olah Tanah Konservasi  terhadap  Hasil  Varietas  Tomat  di  Lahan  Lebak.  Badanlitbang Pertanian. Puslitbangtanak. Balittra. Banjarbaru.

Purwati,  E  dan  Khairunisa,  2007.  Budidaya  Tomat  Dataran  Rendah.  Penebar Swadaya. Jakarta.

Sitompul, S.M. dan Guritno, B. 1995.  Analisis Pertumbuhan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.

Sudarmadji,  S.,  Haryono,  B.,  dan  Suhardi.  1984.  Prosedur  Analisa  untuk  Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty. Yogyakarta.

Wididana,  1993.  Peranan  Effective  Microorganism-4  Dalam  Meningkatkan Kesuburan Dan Produktivitas Tanah. Indonesian Kyusei Nature Farming.