Ibn Rusyd: Penafsir Aristoteles Terbesar

 

Pada akhir abad kelima Hijriah, tidak berapa lama sepeninggal pemikir agung al-Ghazali, di ujung barat dunia Islam, di kota Cordoba, Spanyol, muncul seorang yang dengan kemampuan intelektual luar biasa berusaha memecahkan sel Ghazalisme. Dialah Ibn Rusyd (Abu al-Walid ibn Muhammad ibn Ahmad ibn Rusyd, w. 595 H/1198 M), seorang yang diakui sebagai ahli Aristoteles yang terakhir dan terbesar dalam Islam. Karyanya yang paling terkenal, meskipun bukan yang paling besar, ialah kritiknya terhadap buku tulisan al-Ghazali, Tahâfut al-Falâsifah (“Kekacauan para Failasuf”). Dengan cerdik dan tendensius Ibn Rusyd memberi judul karyanya Tahâfut al-Tahâfut (“Kekacauan buku ‘Kekacauan’”)! Tetapi sementara buku al-Ghazali merupakan kritik kepada falsafah Ibn Sina yang Neoplatonis, balasan yang diberikan oleh Ibn Rusyd adalah bersifat Aristotelian.

Justru Ibn Rusyd juga membuat kritik-kritik tandas tersendiri kepada falsafah al-Farabi dan Ibn Sina, dan berusaha menunjukkan dalam falsafah terdahulu itu unsur-unsur Neoplatonisnya. Dan memang Ibn Rusyd, terutama dilihat dari sudut pandangan sejarah falsafah di Eropa Barat, dianggap sebagai penafsir Aristoteles yang terbesar sepanjang masa. Ibn Rusyd menjadi sumber utama Aristotelianisme Eropa abad pertengahan, dan untuk jangka waktu lama Ibn Rusyd mempengaruhi jalan pikiran Eropa, antara lain seperti tercermin dalam apa yang dikenal dengan Averroisme Latin.

Tapi dunia intelektual Islam mempunyai sudut penilaian tersendiri terhadap Ibn Rusyd. Memang disadari bahwa Ibn Rusyd adalah seorang Aristotelian yang dapat dikatakan “fanatik”. (Ibn Rusyd, misalnya, adalah pengagum ilmu manthiq Aristoteles dan menganggapnya suatu sumber besar kebahagiaan, sehingga ia menyesali mengapa Socrates dan Plato dulu tidak mengenalnya!) Tapi segi lain dari Ibn Rusyd yang lebih mengesankan dunia pemikiran Islam ialah usahanya untuk menggabungkan agama dan falsafah secara ikhlas dan bersungguh-sungguh—lebih bersungguh-sungguh daripada al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, dan lain-lain. Dari risalahnya, kita bisa mengetahui pendirian pokok Ibn Rusyd, di mana ia mengajukan argumentasi bahwa kebenaran agama dan kebenaran falsafah adalah satu, meski pun dinyatakan dalam lambang yang berbeda-beda. Tapi sesungguhnya Ibn Rusyd juga membela pandangan bahwa kebenaran tertinggi selalu bersifat filosofis, dan bagi yang mampu, agama haruslah diinterpretasikan secara demikian. Konsekuensinya, Ibn Rusyd dengan kuat sekali berpegang kepada pendirian bahwa ada pemahaman agama menurut kaum al-khawwâshsh, terutama pada failasuf, dan ada yang menurut kaum al-‘awwâm. Pemahaman khawas tidak boleh samasekali diberikan kepada seseorang yang kemampuannya hanyalah menangkap pengertian awam, sebab, katanya, akan membawa kepada kekafiran. Sebaliknya, seorang yang mampu berpikir filosofis dan tidak menafsirkan kebenaran agama demikian, adalah juga kafir. Dengan begitu Ibn Rusyd menggarisbawahi elitisme para failasuf.

Meskipun demikian, Ibn Rusyd tetap dinilai sebagai failasuf yang paham keagamaannya paling mendekati golongan ortodoks. Dan di antara para failasuf, tidak ada yang menyamai Ibn Rusyd dalam keahliannya di bidang fiqh. Sebagai seorang dari keluarga para qâdlî, Ibn Rusyd sangat mendalami fiqh. Bukunya, Bidâyat al-Mujtahid, diketahui sebagai karya dengan sistematika yang terbaik di bidang yurisprudensi Islam, berkat latihan intelektualnya sebagai seorang failasuf. Selain berprofesi sebagai dokter, Ibn Rusyd, seperti halnya dengan ayah dan kakeknya, pernah menjabat sebagai qâdlî, yaitu di Seville dan Cordoba.