Ibn Taymiyah vs IBN ‘ARABI

 

Dorongan untuk melakukan pembaruan pemikiran dalam Islam di zaman modern ini sebetulnya banyak mendapat­kan inspirasi dari Ibn Taymiyah, seorang tokoh yang mempunyai wawasan kesejarahan yang cukup unik di antara para pemi­kir Islam, tetapi dengan kecenderungan literalisme yang agak eksesif. Artinya, pemahaman harfiahnya kepada sumber-sumber suci agak berlebihan, dan kemudian menghasilkan suatu gejala seperti di Saudi Arabia, suatu negeri yang secara formal mengikuti mazhab Hanbali versi Ibn Taymiyah dalam tafsiran Muhammad ibn Abd al-Wahhab (sehingga mereka disebut Wahhabi). Semua diskursus mengenai Islam kontemporer mengatakan bahwa Saudi Arabia adalah negeri dengan tipe Islam yang paling konser­vatif, tetapi pada waktu yang sama mereka juga yang paling dekat dengan Barat, entah karena masalah minyak ataupun motif lainnya. Kelebihan gerakan Wahhabi—meskipun dengan cara-cara yang terkadang tidak elegan—ialah membebaskan diri dari unsur-unsur mitologis dalam pemahaman Islam populer. Karena itu, di Saudi Arabia sama sekali tidak ada benda suci, kecuali yang formal diakui oleh agama, yaitu Hajar Aswad. Demikianlah kecenderungan keberagamaan yang lahir dari kutub Ibn Taymiyah.

Kutub lain adalah Ibn ‘Arabi. Tokoh ini memiliki kecenderungan yang luar biasa kepada tafsiran-tafsiran metaforis spiritual terhadap sumber-sumber suci. Dia sama sekali tidak berpegang pada bunyi-bunyi harfiah, dan karena itu mengha­silkan suatu pemikiran yang langsung berseberangan secara diametral dengan pemikiran Ibn Taymiyah. Maka, para pengikut Ibn Taymiyah di Saudi Arabia sekarang menjadikan Ibn ‘Arabi sebagai salah satu sasaran kritiknya, karena dianggap bid’ah, sesat, banyak melakukan interpreta­si yang sangat jauh, yaitu interpretasi metaforis spiritual.

Itulah sebabnya mengapa kemudian Ibn ‘Arabi muncul di kalangan tendensi-tendensi baru Islam yang tidak puas dengan tafsiran literal kepada agama dan menginginkan tafsiran yang lebih dinamik dan spiritual. Tendensi tersebut muncul di kalan­gan orang-orang Muslim Barat, bukan orang-orang Islam yang pindah ke Barat. Sebab sekarang ini yang sering disebut sebagai orang Islam di Barat kebanyakan ialah orang Islam yang pindah ke Barat, entah itu orang India, orang Arab, dan lain-lain. Tetapi ada gejala baru, yaitu bahwa orang Barat yang menjadi Islam itu umumn­ya cenderung ke Ibn ‘Arabi. Di Barat, misalnya, kini sudah ada lembaga seperti Ibn Arabi Society. Tentu ini kecenderungan yang bagus, karena berarti orang-orang Muslim Barat sekarang ini sudah mulai ambil bagian dalam pengembangan agama Islam. Tokoh-tokohnya antara lain Fritjhof Schoun, yang nama Islamnya Muhammad Isa Nuruddin dan Martin Ling yang nama Islamnya Sirajuddîn Abu Bakar.

Memang pemikiran Ibn ‘Arabi sering dianggap liar, termasuk di dunia akademik Barat sendiri. Dia banyak menyampaikan gagasan dalam kalimat-kalimat yang hanya dapat dipahami oleh lingkungannya sendiri, sehingga untuk mener­angkannya secara menyeluruh dalam format yang sederhana dan mudah, agak mustahil. Bahasa Arabnya adalah bahasa Arab yang sarat dengan simbol. Karena itu kalau orang tidak tahu pikiran menyeluruh dari Ibn ‘Arabi, ia akan salah memahami.