IFFAH

 

Sikap ‘afîf atau ta’affuf atau ‘iffah (sikap perwira) itu mewujud dalam sikap tidak memelas, tidak sombong. Orang Islam harus mempunyai harga diri, tidak boleh menghiba-hiba dan minta dikasihani. Sikap itu juga mewujud dalam kesadaran untuk selalu mempunyai pikiran positif (positive-thinking). Ini penting sekali, apalagi kalau kita sudah percaya dengan adanya sesuatu yang dimensinya tidak lagi fisik. Dalam Al-Quran disebut kelompok orang yang pandai membaca isyarat.

Ada satu ungkapan Arab yang sangat terkenal yaitu, “Budak dipukul dengan tongkat, orang merdeka cukup dengan isyarat”. Nah, kalau kemerdekaan itu sudah sampai kepada tahap kemerdekaan ruhani, maka isyarat yang ditangkap tidak hanya isyarat-isyarat seperti huruf “S” dicoret (tidak boleh berhenti), tetapi isyarat yang jauh lebih tinggi yang disebut ma’âlim. Nabi Saw. menegaskan, “Kamu semua punya isyarat, coba tangkap isyarat itu, dan kamu semua punya tujuan akhir, kejar tujuan itu”. Memang, sangatlah mungkin untuk bisa mengirimkan isyarat seperti itu. Apalagi hukum yang menguasai hidup ini tidak linier, tidak satu garis. Tetapi dibuat suatu hukum yang sebagian besar tidak tampak karena itu tidak bisa dinyatakan dalam angka-angka, namun hanya bisa ditangkap melalui kemampuan menangkap isyarat. Karena itu sufi yang sudah sampai kepada tingkat itu kalau menerima musibah justru bersyukur, seolah-olah merupakan suatu isyarat dari Tuhan berupa “angsuran”, bahwa nanti di akhirat tidak diazab lagi.