0

RESPON KACANG PANJANG TERHADAP PEMUPUKAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI LOKASI PRIMA TANI LAHAN KERING KECAMATAN GEROKGAK KABUPATEN BULELENG, BALI

RESPON KACANG PANJANG TERHADAP PEMUPUKAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI LOKASI PRIMA TANI LAHAN KERING KECAMATAN GEROKGAK KABUPATEN BULELENG, BALI I Nyoman Adijaya, Made Rai Yasa dan Made Sukadana Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali ABSTRAK Kacang panjang (Vigna sinensis) merupakan salah satu komoditas yang diintroduksikan di lokasi Prima Tani di Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Komoditas ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan harian petani setempat pada musim kemarau. Penelitian dirancang dengan percobaan faktorial dengan dua perlakuan yaitu dosis pupuk organik (pupuk kandang sapi yang difermentasi fermentor Ruminno Bacillus) yaitu 2 ton/ha, 4 ton/ha dan 6 ton/ha, sedangkan dosis pupuk an-organik yang digunakan yaitu A: (25 kg Urea/ha, 25 kg SP-36/ha dan 50 kg KCl/ha), A2: (2 kali A1) dan A3: (2 kali A2). Hasil analisis menunjukkan terjadi interaksi antara perlakuan pupuk organik dan anorganik yang digunakan pada variabel jumlah panen dan siklus panen sedangkan terhadap variabel rata-rata berat buah/panen dan produksi per 100 m2 tidak terjadi interaksi. Perlakuan kombinasi pupuk organik dosis 6 ton/ha dengan dosis pupuk kimia P3: (100 kg Urea/ha, 100 kg SP-36/ha dan 200 kg KCl/ha) memberikan jumlah panen dan siklus panen tertinggi masing-masing 19,07 kali dan 37,56 hari. Rata-rata berat buah/panen tidak berbeda nyata antar perlakuan baik akibat pengaruh perlakuan pupuk organik dan pupuk an-organik dengan kisaran 563,31 gram – 578,78 gram/3m2. Produksi per 100 m2 meningkat akibat pemberian pupuk organik dimana penggunaan 6 ton pupuk organik/ha memberikan produksi 339,42 kg meningkat 6,30% dan 12,43% dibandingkan penggunaan 4 ton/ha dan 2 ton/ha, sedangkan peningkatan pemberian pupuk an-organik sebanyak 100% dan 200% memberikan peningkatan produksi masing-masing 7,06% dan 14,09% dibandingkan perlakuan P1: (25 kg Urea/ha, 25 kg SP-36/ha dan 50 kg KCl/ha) yang menghasilkan 299,61 kg/100 m2. Kata kunci: respon kacang panjang, pupuk organik dan anorganik, lahan kering PENDAHULUAN Kacang panjang merupakan tanaman sayuran yang banyak dibutuhkan untuk kebutuhan sayuran setiap hari. Pada umumnya kacang panjang banyak diusahakan di lahan sawah dan sangat jarang dibudidayakan di lahan kering. Di Bali Utara kacang panjang banyak diusahakan di pematang sawah bersamaan dengan tanaman padi. Pada pengusahaannya kebanyakan petani hanya menggunakan pupuk kimia saja, sehingga apabila hal ini dilakukan secara terus-menerus akan menyebabkan terjadi ketergantungan akan pupuk kimia dan penurunan kualitas lahan. Kacang panjang merupakan tanaman hortikultura semusim yang diintroduksikan di lokasi Prima Tani di Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali. Hasil kajian Suratmini dkk., (2003) mendapatkan bahwa usahatani kacang panjang dengan pemanfaatan air embung di musim kemarau memberikan keuntungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani tanaman pangan seperti jagung atau kacang tanah pada luasan yang sama. Lebih lanjut Adijaya, dkk (2004) menyatakan kacang panjang mampu memberikan tambahan pendapatan petani setempat pada musim kemarau di Desa Patas, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng walaupun skala usahanya sempit. Pada luasan 100 m2 mampu menghasilkan keuntungan setara dengan sepuluh kali luas usahatani jagung, sehingga usahatani kacang panjang menjadi pilihan petani setempat. Introduksi kacang panjang di lokasi Prima Tani di Desa Sanggalangit diharapkan mampu memberikan alternatif pendapatan harian petani di musim kemarau, karena adanya potensi air embung di daerah tersebut. Pada pengusahaannya diintroduksikan teknis budidaya dengan mengoptimalkan sumberdaya lokal yang ada seperti pemakaian pupuk kandang sehingga pemakaian input luar dapat ditekan. Hasil pengkajian di lokasi penelitian menunjukkan pemanfaatan pupuk kandang/organik memberikan dampak positif pada usahatani tanaman seperti peningkatan produksi bawang merah (Oktafianus, 2003) sehingga perlu dikaji penggunaan pupuk organik dan an-organik pada usahatani kacang panjang. Selain itu dewasa ini kecenderungan yang semakin meningkat adalah tuntutan pelaksanaan sistem pertanian yang berkelanjutan (sustainable) dan ramah lingkungan (ecofriendly), dan dua kata kunci ini merupakan tuntutan global (Rubiyo, et al., 2004) METODOLOGI PENELITIAN Penelitian dilakukan lokasi Prima Tani Lahan Kering BPTP Bali di Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali pada musim kemarau yaitu dari bulan Agustus sampai dengan Nopember 2005. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan perlakuan dosis pupuk organik (pupuk kandang sapi difermentasi dengan fermentor Rumino Bacillus) dengan tiga tingkat dosis yaitu 2 ton/ha, 4 ton/ha dan 6 ton/ha, serta perlakuan paket dosis pupuk an-organik yaitu P1(25 kg Urea/ha + 25 kg SP-36/ha dan 50 kg KCl/ha), P2 (2 kali P1) dan P3 (2 kali P2), sehingga diperoleh 9 perlakuan kombinasi yang masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Petak percobaan berukuran 3,0 m x 1,0 m dengan jarak tanam 45 cm x 25 cm dua tanaman per lubang tanam. Pupuk organik dan an-organik (SP-36 dan KCl) diberikan 3 hari sebelum penanaman dengan cara ditebarkan pada petak percobaan, sedangkan pemupukan Urea diberikan umur 7 hari dan 28 hari setelah tanam masing-masing setengah dosis. Ajir dipasang pada umur tanaman 14 hari setelah tanam. Pemeliharaan tanaman meliputi penyiraman setiap 3-4 hari, penyiangan dilakukan umur 14 hari dan 28 hst, sedangkan pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan dengan penyemprotan insektisida setiap 1 minggu sekali atau disesuaikan dengan kondisi tanaman di lapangan. Variabel yang diamati yaitu jumlah panen, berat buah per panen, siklus produksi dan produksi. Data dianalisis sidik ragam dilanjutkan dengan uji BNT. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis statistik menunjukkan terjadi interaksi antara perlakuan dosis pupuk organik (pupuk kandang sapi yang difermentasi dengan dekomposer Ruminno Bacillus) dengan perlakuan paket dosis pupuk an-organik yang digunakan terhadap variabel jumlah panen dan siklus produksi kacang panjang sedangkan terhadap variabel berat buah per panen dan produksi tidak terjadi interaksi. Interaksi antara perlakuan dosis pupuk organik Ruminno Bacillus dengan paket pupuk an-organik menunjukkan perlakuan kombinasi pupuk organik dosis 6 ton/ha dengan paket pupuk kimia 100 kg Urea/ha, 100 kg SP-36/ha dan 200 kg KCl/ha (P3) memberikan jumlah panen tertinggi yaitu 19,07 kali (Tabel 1). Peningkatan dosis pupuk organik maupun an-organik pada perlakuan kombinasi menghasilkan jumlah panen yang semakin tinggi dan menghasilkan jumlah panen yang berbeda nyata (P<0,05), kecuali pada perlakuan kombinasi dosis pupuk organik 2 ton/ha peningakatan dosis pupuk kimia sampai menjadi 100% (P3) tidak menunjukkan pengaruh nyata (P>0,05). Tabel 1. Interaksi Pupuk Organik Ruminno Bacillus dengan Pupuk An-organik Terhadap Frekuensi Panen (Kali) Kacang Panjang di Lahan Kering Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali Tahun 2005 Pupuk Anorganik Pupuk Rumino Bacillus 2 ton/ha 4 ton/ha 6 ton/ha P1 (Dosis 25%) 15,00 d 15,34 d 17,07 c P2 (Dosis 50%) 15,11 d 16,96 c 18,07 b P3 (Dosis 100%) 15,12 d 18,45 ab 19,07 a Keterangan: Angka-angka yang diikuti huruf yang sama berbeda tidak nyata pada uji BNT taraf 5% Hal yang sama juga terlihat pada variabel siklus produksi kacang panjang, dimana kombinasi perlakuan dosis pupuk organik 6 ton/ha dan dosis pupuk kimia 100% memberikan siklus panen terlama yaitu 37,56 hari tidak berbeda dengan dosis pupuk organik 4 ton/ha dengan siklus produksi 36,67 hari. Peningkatan dosis pupuk kimia maupun dosis pupuk organik memberikan siklus panen yang semakin lama kecuali pada perlakuan pupuk organik 2 ton/ha peningkatan dosis pupuk kimia tidak memberikan siklus produksi yang berbeda (Tabel 2). Terhadap variabel rata-rata berat panen dan produksi per satuan luas menunjukkan tidak terjadi interaksi antara perlakuan dosis pupuk organik dan an-organik yang digunakan. Peningkatan dosis pupuk organik dan paket dosis pupuk kimia yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap rata-rata berat buah per panen yang dihasilkan, sedangkan terhadap produksi per satuan luas beda nyata (Tabel 3). Kisaran berat buah per panen yang dihasilkan yaitu 563,27 g – 578,31 g dengan perlakuan pupuk kimia sedangkan perlakuan dosis pupuk organik dengan kisaran 567,17 g – 576,59 g per 3 m2. Tabel 2. Interaksi Pupuk Organik Ruminno Bacillus dengan Pupuk An-organik Terhadap Siklus Produksi (Hari) Kacang Panjang di Lahan Kering Desa Sanggalangit, Kec. Gerokgak, Buleleng, Bali Tahun 2005 Pupuk Anorganik Pupuk Rumino Bacillus 2 ton/ha 4 ton/ha 6 ton/ha P1 (Dosis 25%) 30,23 d 30,89 d 30,89 c P2 (Dosis 50%) 30,22 d 33,78 c 35,78 b P3 (Dosis 100%) 30,56 d 36,67 ab 37,56 a Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5% Produksi kacang panjang per 100 m2 meningkat dengan peningkatan dosis pupuk kimia dari dosis 25% menjadi 50% dan 100% yaitu masing-masing 7,06% dan 14,09%, sedangkan peningkatan dosis pupuk organik dari 2 ton/ha menjadi 4 ton/ha dan 6 ton/ha meningkatkan produksi sebesar 6,30% dan 12,43%. Paket pupuk kimia yang digunakan yaitu Urea, SP-36 dan KCl merupakan pupuk kimia yang merupakan sumber hara N, P, dan K. Unsur hara ini dibutuhkan relatif lebih banyak dibandingkan unsur hara lainnya sehingga keberadaan hara tersebut menjadi salah satu pembatas produksi tanaman. Sutejo (2002) menyatakan N berperan dalam pertumbuhan vegetataif tanaman, semakin tinggi pemberian N akan mempercepat sintesis karbohidrat. Unsur P berperan pada pembentukan bunga dan buah tanaman sedangkan K meningkatkan kualitas buah yang dihasilkan. Dari hasil tersebut diatas peningkatan paket dosis dari 25 kg Urea/ha, 25 kg SP-36/ha dan 50 kg KCl/ha (dosis 25%) menjadi dosis 100% berkorelasi positif terhadap peningkatan produksi kacang panjang. Tabel 3. Pengaruh Pupuk Organik Ruminno Bacillus dan Pupuk An-organik Terhadap Rata-Rata Berat Panen dan Produksi Kacang Panjang di Lahan Kering Desa Sanggalangit, Kec. Gerokgak, Buleleng, Bali Tahun 2005 Perlakuan Variabel Rata-rata berat buah/panen (g) Produksi/3 m2 (kg) Produksi/100 m2 (kg) Pupuk Anorganik P1 (Dosis 25%) 578,31 a 8,99 b 299,61 b P2 (Dosis 50%) 571,42 a 9,62 ab 320,75 b P3 (Dosis 100%) 563,27 a 9,92 a 341,85 a BNT 5% – 0,78 28,52 Pupuk Rumino Bacillus 2 ton/ha 569,25 a 8,72 b 301,89 b 4 ton/ha 576,59 a 9,63 ab 320,91 ab 6 ton/ha 567,17 a 10,18 a 339,42 a BNT 5% – 0,78 28,52 Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT 5% Peningkatan pemberian dosis pupuk kandang sapi/pupuk organik dari 2 ton/ha sampai 6 ton/ha juga memberikan tren produksi serupa. Peningkatan dosis akan memberikan peningkatan kandungan hara, selain peran pupuk organik lainnya seperti memperbaiki sifat fisik tanah yang tidak kalah pentingnya. Ma’shum et. al. (1992) mengemukakan bahwa pupuk organik memasok berbagai macam hara terutama senyawa organik berkonsentrasi rendah dan tidak mudah larut dalam air. Karena memasok berbagai hara dengan konsentrasi rendah dan tidak mudah larut, pupuk organik tidak akan menimbulkan ketimpangan hara dalam tanah, bahkan dapat memperbaiki neraca hara, sehingga pada tanah miskin sangat diperlukan penambahan bahan organik. Lebih lanjut Hairusyah dan Arifin (1992) menyatakan bahwa miskinnya kandungan bahan organik dan unsur hara tanah merupakan faktor pembatas produksi utama disamping keasaman tanah. Rendahnya kandungan bahan organik tanah mengurangi daya sangga tanah dan memudahkan pencucian unsur hara dari lingkungan perakaran sehingga menurunkan efisiensi pupuk. (Karama, et al., 1990). Oleh karena itu penanganan rendahnya kadar bahan organik tanah harus menjadi prioritas utama untuk mempertahankan sistem usahatani berkelanjutan, karena kadar bahan organik tanah yang rendah dapat mempercepat laju degradasi kesuburan tanah. KESIMPULAN Terjadi interaksi antara perlakuan pupuk organik dan paket pupuk kimia terhadap jumlah panen dan siklus produksi kacang panjang. Perlakuan kombinasi dosis pupuk organik 6 ton/ha dengan paket dosis pupuk kimia Urea dan SP-36 masing-masing 100 kg/ha serta KCl 200 kg/ha (P3) memberikan jumlah panen dan siklus produksi tertinggi yaitu masing-masing 19,07 hari dan 37,56 hari. Peningkatan dosis pupuk organik menjadi 4 ton/ha dan 6 ton/ha meningkatkan produksi kacang panjang sebesar 6,30% dan 12,43% dari 301,89 kg yang dihasilkan pada dosis 2 ton/ha. Peningkatan paket dosis pupuk an-organik/kimia menjadi dosis 50% dan 100% meningkatkan produksi kacang panjang sebesar 7,06% dan 14,09% dari 299,61 kg yang dihasilkan pada paket dosis 25% (masing-masing 25 kg Urea/ha, 25 kg SP-36/ha dan 50 kg KCl/ha). DAFTAR PUSTAKA Adijaya, I.N., M, Suprapto dan M. Rai Yasa. 2004. Succes Strory Pengembangan Sistem Usahatani Terpadu pada Lahan Kering di Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng Bali. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Hairunsyah dan M.Z. Arifin. 1992. Kajian Pemberian Pupuk Kandang dan Fosfat Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Pipilan Kering pada Tanah Pasiran dan Lempengan. Hasil-Hasil Penelitian Jagung 1991/1992. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Banjarbaru. Karama, A.S., A. Rasyid Marzuki dan I. Manwan. 1990. Penggunaan Pupuk Organik Pada Tanaman Pangan. Prosiding Lokakarya Nasional Efisiensi Penggunaan Pupuk V, Cisarua, 11-13 Nopember 1990. Puslittanak. Bogor. Ma’shum, M., Lolita, E.S. Mahrup dan Sukartono. 1992. Perubahan Kalium Pada Tanah Tegalan Akibat Pemberian Pupuk Kandang. Laporan Penelitian Fakultas Pertanian. Unram. Oktafianus, M.M. 2003. Pengaruh Kerapatan Tanam dan Jenis Pupuk Organik Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah di Lahan Kering. Tesis Pasca Sarjana Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Denpasar. Rubiyo, S. Guntoro dan W. Trisnawati. 2004. Pengaruh Dosis Pupuk Kandang Kambing Terhadap Pertumbuhan Awal Kopi Arabika S-795 Hasil Konversi dari Kopi Robusta Bali. Prosiding Seminar Nasional Revitalisasi Teknologi Kreatif dalam Mendukung Agribisnis dan Otonomi Daerah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Suratmini, I.N. Adijaya, IGAK. Sudaratmaja dan M. Sumartini. 2003. Pengkajian Sistem Usahatani pada Lahan Marginal. Laporan Akhir. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Sutejo, M.M. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Penerbit Rineka Cipta. Yakarta.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright © 2017 — Islamistis | Site design by Trevor Fitzgerald