TUGAS MAKALAH EKOLOGI PERTANIAN

Hubungan Iklim dengan Jamur Phytopthora infestans pada Tomat”

Oleh :

Nama               : Marga Pristanti Pertiwi

Kelas               : N

NIM                : 1105040207111007

Mata Kuliah    : Ekologi Pertanian

Hari/Jam          : Kamis, 14.45

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2011

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul Hubungan Iklim dengan Jamur Phytopthora infestans pada Tomat”.

Makalah ini berisikan tentang informasi Pengertian EKOLOGI PRTANIAN atau yang lebih khususnya membahas pengertian “Hubungan Iklim dengan Jamur Phytopthora infestans pada Tomat”, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman tomat.

Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang “Hubungan Iklim dengan Jamur Phytopthora infestans pada Tomat”.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

 

 

 

Malang , 2 Januari 2012

Penyusun

 

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata pengantar…………………………………………………………………………..…..2

Daftar isi………………………………………………………………………………………3

 

BAB I PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang……………………………………………………………………………4

1.2  Tujuan..……………………………………………………………………………..…..4

1.3  Manfaat……………………………………………………………………………….…4

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Tomat……………………………………………………………………………5

2.2 Syarat Tumbuh Tomat………………….…………………………………………….…….6

2.3 Klasifikasi dan Syarat Hidup Phytophthora infestans ………………………………………..7

 

BAB III HASIL PENGAMATAN   ………………………………………………………………………….9

BAB IV PEMBAHASAN…………………………………………………………………………………10

BAB IV PENUTUP

4.1  Kesimpulan……………………………………………………………………………..12

4.2  Saran…………………………………………………………………………………….12

Daftar pustaka……………………………………………………………………………….13

Lampiran Gambar……………………………………………………………………………14

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab I

Pendahuluan

 

I.1 Latar Belakang

Tomat (Solanum lycopersicum) adalah tumbuhan dari keluarga Solanaceae, tumbuhan asli Amerika Tengah dan Selatan, dari Meksiko sampai Peru. Tomat sendiri memiliki siklus hidup yang singkat dan memiliki tinggi antara 1 hingga 3 meter. (wikipedia.org)

Tomat sendiri memiliki khasiat antara lain mencegah kanker, karena tomat pada warna merahnya banyak mengandung Lycopene..

Namun di Indonesia sendiri produksinya dari segi kualitas maupun kuantitasnya sendiri masih rendah. Hal tersebut disebabkan oleh keadaan tanah pada lahan yang ditanami, sistem pemupukan yang tidak seimbang, gangguan hama dan patogen, teknis budidaya oleh petani, serta pengaruh iklim dan cuaca pada tanaman tomat. Salah satu syarat ideal dari tumbuh kembang tomat yakni curah hujan 750-1250 mm/tahun dan kelembaban relatifnya  +/- 25 %.

Pada saat hujan tanaman tomat rentan sekali terkena penyakit. Antara lain seperti layu fusarium, dan hawar daun. Hal tersebut disebabkan patogen tumbuh sangat cepat dalam keadaan lembab dan suhu yang rendah. Seperti halnya penyakit hawar daun yang disebabkan jamur  Phytopthora infestans. Jamur P.infestans sangat menyenangi keadaan lembab dan suhu yang rendah.

I.2 Rumusan Masalah

  • Apa hubungan interaksi iklim dengan pertumbuhan jamur Phytopthora infestans ?

I.2 Tujuan

  • Mengetahui syarat tumbuh tanaman tomat
  • Mengetahui penyakit pada tomat akibat cuaca
  • Mengetahui interaksi iklim dengan pertumbuhan tanaman tomat

I.3 Manfaat

  • Memahami kondisi yang tepat dalam penanaman tomat

 

BAB II
Tinjauan Pustaka

 

II.1 Klasifikasi Tomat

Tanaman tomat dapat diklasifikasikan kedalam golongan :

  • Kingdom         : Plantae
  • Divisio             : Spermatophyta
  • Subdiviso        : Angiospermae
  • Class                : Dicotyledoneae
  • Ordo                : Solanales
  • Family             : Solanaceae
  • Genus              : Lycopersicum
  • Spesies            : Solanum lycopersicum L.

(Agromedia,2007)

 

Tomat sendiri memiliki akar tunggang, akar cabang, dan akar serabut berwarna keputihan dan memiliki bau yang khas, serta perakaran yang tidak terlalu dalam yakni antara 30-40 cm. (Pitojo,2005)

Batang Tomat berbentuk bulat serta membengkak pada buku-buku. Batang muda berambut halus dan berkelenjar. Mudah patah, dapat bersandar pada turus atau merambat pada tali. (Rismunandar, 2001)

Daun tomat memiliki ciri yang khas, yakni berbentuk oval, bergerigi, memiliki celah yang menyirip, berbulu, berwarna hijau, panjang antara 20-30 cm dan lebar 15-20 cm. (Wiryanta, 2004)

Bunga tomat berwarna kuning dan tersusun dalam dompolan dengan jumlah 5-10 bunga/dompolan atau tergantung varietasnya. Kuntum bunga terdiri dari 5 helai daun kelopak dan 5 helai mahkota. Pada serbuk sari terdapat kantong yang letaknya jadi satu dan berbentuk bumbung yang mengelilingi tangkai kepala putik, sehingga mampu melakukan penyerbukan sendiri. (Wiryanta 2004)

Buah tomat adalah buah buni. Selagi muda berwarna hijau, berbulu dan relatif keras, namun pada saat  tua berwarna merah muda, merah, atau kuning cerah, mengkilat, serta relatif lunak. Diameter antara 2-15 cm tergantung varietasnya. Jumlah ruang dalam buah juga bervariasi, ada yang dua seperti tomat ceri dan tomat roma atau lebih dari dua, seperti tomat marmade yang beruang delapan. Pada buah masih terdapat tangkai bunga yang berubah fungsi menjadi tangkai buah, serta kelopak bunga berubah fungsi menjadi kelopak buah (Pitojo, 2005)

Biji tomat berbentuk pipih, berbulu, berwarna putih kekuningan dan coklat muda. Panjang antara 3-5 mm dan lebar 2-4 mm. Jumlah biji berbeda tiap buahnya, tergantung varietasnya, maksimum 200 biji/buah. Biji mulai tumbuh setelah ditanam 5-10 hari. (Agromedia, 2007)

II.2 Syarat Tumbuh Tomat

 

Tomat mampu hidup dalam musim kemarau maupun musim hujan, akan tetapi pada musim hujan tidak akan terjamin hasilnya. Pada iklim basah akan membentuk tanaman yang rimbun, bunga berkurang, dan pada daerah pegunungan akan timbul penyakit yang berakibat fatal pada pertumbuhannya. (Rismunandar, 2001)

Suhu ideal perkecambahan tomat yakni antara 250-300 C, sementara suhu ideal pada saat pertumbuhan tanaman tomat yakni 240-280 C. Jika suhu terlalu rendah, maka pertumbuhan tanaman tomat terhambat, yakni berdampak pada pertumbuhan bunga dan buah yang tidak sempurna. Kelembaban relatif tanaman tomat yakni 80%, pada waktu musim penghujan tanaman tomat cenderung mudah terserang bakteri maupun cendawan yang disebabkan tingginya kelembaban pada daerah tersebut.

Pada vase vegetatif tumbuhan tomat memerlukan curah hujan yang cukup. Sebaliknya pada fase generatif memerlukan curah hujan yang sedikit. Curah hujan yang tinggi pada fase pemasakan buah dapat menyebabkan daya tumbuh yang rendah. Curah hujan ideal selama masa pertumbuhan tanaman yakni antara 750-1250 mm/tahun. Curah hujan sendiri tidak menjadi penghambat pada penangkaran benih tomat. ( Pitojo, 2005)

Tanaman tomat membutuhkan penyinaran yang penuh sepanjang hari untuk produksi yang menguntungkan, akan tetapi sinar matahari yang matahari yang terlalu terik tidak disukai. Namun daerah yang beriklim sejuk adalah daerah yang disukai tanaman tomat. Tanaman tomat tidak tahan terhadap awan. Karena daerah yang berkondisi demikian cenderung mudah terserang cendawan busuk daun dan sebagainya. Angin kering dan udara panas juga kurang baik bagi pertumbuhan dan sering menyebabkan kerontokan bunga. ( Tugiyono,2001)

Tanaman tomat dapat tumbuh dengan baik baik di dataran rendah hingga dataran tinggi yakni 1250 m dpl. Di Indonesia, tanaman tomat dapat dibudidayakan di daerah ketinggian 100 m dpl. Ketinggian tempat berkaitan erat dengan suhu udara siang maupun malam. (Pitojo,2005)

Pertumbuhan tomat yang baik, membutuhkan tanah yang gembur, kadar pH antara 5-6, sedikit mengandung pasir, pengairan secara intensif dan cukup pada saat mulai penanaman hingga panen. (Tugiyono, 2001)

 

II.3 Klasifikasi dan Syarat Hidup Phytopthora infestans

Hawar Daun pada Tomat (Phytopthora infestans)

  • Klasifikasi Hawar Daun

ü  Domain                 :Eukaryota

ü  Kingdom               :Chromalveolata

ü  Filum                     :Heterokontophyta

ü  Kelas                     :Oomycetes

ü  Ordo                      :P eronosporales

ü  Famili                    :P ythiaceae

ü  Genus                    :Phytophthora

ü  Spesies                  : P. Infestans

(Anonymousa, 2011)

Tanaman tomat yang terserang jamur Phytophthora infestans menyebabkan daun tomat menjadi busuk. Gejala penyakit dapat timbul pada semua tingkat perkembangan tanaman. Bercak hitam kecoklatan atau keunguan mulai timbul pada helai daun, tangkai atau batang dan bila keadaan mendukung akan meluas dengan cepat, sehingga dapat menyebabkan kematian. Perkembangan bercak akan terhambat bila kelembaban relatif rendah. Bercak akan berkembang kembali bila kelembaban meningkat. Pada bercak yang berkembang dengan cepat, bagian yang paling luar berwarna kuning pucat dan akan terus menjalar kebagian daun luar yang masih berwarna hijau. Pada sisi bawah daun tampak adanya pembentukan organ pengembangbiakan jamur ( spora ) yang berwarna putih seperti beludru pada daerah peralihan antara pucat dan ungu. Pada tanaman tomat penyakit dapat menyerang buah pada tingkat perkembangannya. Bercak yang berwarna hijau kelabu kebasah – basahan meluas menjadi bercak yang bentuk dan besarnya tidak menentu. Pada buah hijau bercak berwarna coklat tua, agak keras dan berkerut. Bercak ini mempunyai batas yang jelas dan batas ini tetap berwarna hijau pada waktu bagian buah yang tidak sakit matang ke warna yang biasa. Kadang – kadang bercak mempunyai cincin – cincin.

Jamur ini dapat mempertahankan diri dari musim ke musim dalam umbi – umbi yang sakit dan dalam bagian – bagian tanaman yang lain. Apabila bagian yang sakit dibuang dalam kondisi yang cocok dapat menyebarkan spora jamur. Spora perkembangbiakannya dengan cara disebarkan oleh angin. Jika jatuh pada setetes air pada permukaan tanaman yang rentan, spora akan langsung berkecambah dan mengadakan proses infeksi.
Perkembangan bercak penyakit pada daun paling cepat terjadi pada suhu 18 -20 0 C. Pada suhu udara 30 0 C perkembangan bercak terhambat. Oleh karena itu di dataran rendah ( kurang dari 500 dpl ) penyakit busuk daun tidak merupakan masalah. Kelembaban tinggi juga mempengaruhi kecepatan tumbuh kembang jamur Phytophthora infestans . Epidemi penyakit busuk daun biasanya terjadi pada suhu 16 – 24 0 C. Didataran tinggi di Jawa, busuk daun terutama berkembang hebat pada musim hujan yang dingin, antara bulan Desember dan Februari.

(Anynomousb, 2011)

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL PENGAMATAN

 

Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan di Ngijo, Karangploso, Malang, 22 Desember 2011 lalu, pada lahan sawah hortikultura yang ditanami tanaman cabe dan tomat dengan sistem tumpang sari. Malang sendiri merupakan suatu kabupaten yang ketinggiannya antara 440-667 dpl.

Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan,beberapa daun terlihat layu dan tidak segar. Seperti menggulung, dan sedang mengalami fase perkembangan. Hal tersebut dapat dilihat dari buah tomat yang masih muda. Dan terlihat masih mampu berdiri dengan tegak dan tanpa ada bercak pada batang maupun daun.

Akan tetapi pada tanggal 6 Januari 2012, pada pengamatan ulang dengan tanaman yang sama, didapati keadaan tomat dengan keadaan makin layu, pada daun yang baru terdapat bercak yang berkembang dengan cepat, bagian yang paling luar berwarna kuning pucat dan akan terus menjalar kebagian daun dalam yang masih berwarna hijau. Pada batang dan tangkai tomat terdapat bercak hitam kecoklatan dan beberapa ada yang keunguan. Pada buah tomat, terdapat 4 buah baru yang masih hijau dan 2 buah tomat yang akan memasuki fase masak. Salah satu buah tomat muda, didapati busuk dan mulai menjalar ke buah tomat baru lainnya. Penyakit tersebut tidak hanya menyerang satu tanaman tomat pada lahan tersebut, dari pendataan yang saya lakukan dari +/- 40 tanaman tomat yang terserang dengan gejala penyakit yang sama yakni  30 tanaman, 5 tanaman menunjukan gejala awal, dan 5 tanaman yang lain dalam keadaan sehat.

Keadaan curah hujan pada Ngijo, Karang ploso yang didapat dari data oleh BMKG Karangploso. Didapat data curah hujan pada kecamatan karangploso yakni 201-300 mm/bulan, kelembaban antara 56 – 96 % pada bulan Desember 2011. Dengan suhu udara 240 C serta kecepatan angin 11 km/h pada 6 Januari 2011.

 

BAB IV

Pembahasan

 

Dari data yang diperoleh, keadaan vegetasi tomat pada Ngijo, Karangploso mengalami kerusakan yang disebabkan oleh penyakit hawar daun. Karena dari tanda-tanda yang didapatkan pada fisiologi tumbuhan tomat itu sendiri, seperti bercak gosong pada daun, dan pada tangkai dan batang terdapat bercak cokelat keunguan. Hal tersebut merupakan gejala dari penyakit hawar daun yang disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans. Jamur Phytophthora infestans sendiri hidup dan tumbuh dengan cepat pada suhu 180-240 C, curah hujan tinggi, kelembaban relatifnya tinggi, serta dataran yang cenderung tinggi.

Keadaan iklim pada Ngijo merupakan iklim ideal pada tumbuh kembang jamur Phytophthora infestans yang menyebabkan penyakit hawar daun pada tomat. Hal tersebut dapat terlihat dari suhu yang bisa mencapai 240 C, dengan kelembaban antara 55-96%, juga curah hujan yang mencapai 201-300 mm/bulan. Pada bulan Desember hingga akhir Februari sering sekali dijumpai penyakit hawar daun di kota yang berketinggian >500 dpl, seperti kota Malang yang tingginya mencapai >500 dpl. Interaksi antara faktor iklim dengan faktor pertumbuhan jamur Phytophthora infestans menyebabkan pengaruh yang buruk pada pertumbuhan tanaman tomat.  Karena pada musim penghujan seperti pada bulan Desember hingga akhir Februari menyebabkan curah hujan, kelembaban, serta suhu rendah yang menyebabkan jamur hawar daun berkembang dengan cepat. Serta kurangnya sterilisasi pada tanah yang menjadi tempat berkembang biaknya jamur, serta curah hujan yang tinggi menyebabkan mudahnya tanaman tomat yang sehat tertular dengan tanaman tomat yang sudah terinfeksi penyakit hawar daun.

Tanaman tomat sangat kecil kemungkinan terserang jamur Phytophthora infestans apabila memasuki musim kemarau, akan tetapi musim kemarau memiliki pengaruh buruk pada saat tanaman tomat yang sedang memasuki fase generatif, karena angin akan mengganggu proses penyerbukan pada tanaman tomat. Sehingga menyebabkan pembentukan bakal buah pada tomat sangatlah sedikit

Keadaan iklim pada musim penghujan dan pertumbuhan Jamur Phytophthora infestans menyebabkan kerugian secara finansial pada petani, dan harga tomat cenderung tinggi pada musim penghujan akibat langkanya produksi tomat. Akibat penyakit hawar daun tersebut jumlah buah pada tanaman yang seharusnya siap panen menjadi berkurang akibat busuk pada buah tomat, atau belum memasuki masa panen tetapi tanaman tomat sudah rusak sehingga petani lebih memilih memanen lebih dini agar angka kerugian dapat ditekan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

  • Tanaman tomat hidup dengan suhu ideal antara 250- 300 C, dengan kelembaban < 80% , curah hujan antara 750-1250 mm/tahun, serta ketinggian <1250 m dpl.
  • Penyakit hawar daun disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans. Jamur tersebut cepat tumbuh pada suhu 180 – 300 C, kelembaban tinggi,ketinggian suatu tempat, serta pada musim penghujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi
  • Ciri-ciri penyakit hawar daun antara lain keadaan tanaman tomat yang mudah layu, adanya bercak gosong keunguan pada daun, tangkai, dan batang, serta busuknya pada buah tomat yang dalam fase perkembangan.

V.2 Kritik dan Saran

Mohon bimbingan lebih lanjut dalam penelitian dan pembuatan makalah. Terima kasih J

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymousa, 2011. Phytophthora infestans.http://id.wikipedia.org/wiki/Phytophthora_infestans , diakses 6 Januari 2011

Anonymousb, 2011. http://anitawidya08.student.ipb.ac.id/2010/06/20/penyakit-pada-tanaman-tomat/, diakses 6 Januari 2011

Pitojo, 2005. Benih Tomat. Kanisius : Jogjakarta

Rismunandar, 2001. Tanaman Tomat. Sinar Baru Algesindo : Bandung

Tugiyono, H, 2005. Bertanam Tomat. Penebar Swadaya : Jakarta