Archive for the ‘ E.COMMERCE ’ Category

Pada era ekonomi sebelumnya arus informasi mengalir secara fisik: tunai, cek, surat tagihan, laporan, rapat, panggilan telpon secara analog, transmisi radio atau televisi, cetak biru, peta, foto-foto ataupun iklan-iklan selebaran. Di era ekonomi aliran baru, berbagai bentuk informasi berubah menjadi digital – informasi disimpan dalam bentuk databit. Melalui penggunaan kode binari pada komputer, komunikasi dan informasi pun menjadi digital ones dan zeros. Dengan demikian sebuah dunia baru dengan segala kemungkinannya telah tercipta dengan sedemikian nyata seperti halnya terciptanya bahasa, sebagai paradigma masa lalu yang mendasarkan pertemuan fisik untuk berinteraksi.

Informasi, di era ekonomi digital, menjadi bahan baku yang diolah dan disintesa menjadi sebuah produk yang berbasiskan pengetahuan dan didistribusikan melalui jaringan elektronik global. Tujuan utama dari bisnis itu sendiri, yaitu menciptakan kesejahteraan, akan dapat tercapai baik secara fisik maupun di marketspace (pasar di awang-awang) yang baru tercipta ini. Definisi dari marketspace baru ini adalah dunia serba elektronik dimana penjual dan pembeli bertemu dan mengadakan kegiatan perdagangan tanpa adanya interaksi secara fisik sebagaimana yang dilakukan di aktifitas perdagangan tradisional sebelumnya. Menggunakan kerangka kerja Prof. Rayport dari Sekolah Bisnis Harvard, belanja di awang-awang memang beda dengan belanja tradisional. Isi (content) penjualan tidak perlu buku secara fisik, misalnya, tapi cukup informasi tentang buku. Konteks-nya tidak perlu toko buku secara fisik, tapi sebuah agen penjualan yang rajin memelihara database-nya. Dan infrastruktur yang merupakan enabler dari berlangsungnya transaksi bukan lagi orang, tapi perusahan telekomunikasi yang menjadi saluran informasi. Keberadaan marketspace ini yang nantuya akan menimbulkan adanya konvergensi dari value chain (mata rantai sebuah nilai).

Di Indonesia, teknologi informasi merupakan industri yang memiliki harapan dan prospek sangat baik, namun harus disadari bahwa pertumbuhannya akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor.Kurangnya infrastruktur yang memadai, tenaga-tenaga yang berpotensi serta tingginya angka pengangguran merupakan beberapa faktor yang dapat menghambat laju pertumbuhan pasar teknologi informasi di Indonesia. Apabila dibandingkan dengan negeri-negeri jiran seperti Singapura dan Malaysia, industri teknologi informasi di negara kita memang masih ketinggalan. Hal ini antara lain disebabkan karena publisitas teknologi informasi sebagai suatu alat hanya terbatas pada perusahaan-perusahaan multinasional dan perusahaan besar saja. Saat ini pemerintah sedang mendorong dan menganjurkan kepada seluruh sektor industri untuk mempertimbangkan penggunaan teknologi informasi guna meningkatkan produktifitas dan efisiensi perusahaan. Selain itu, pemerintah juga berusaha untuk menarik para investor asing ke Indonesia dengan jalan memberikan kelonggaran atas kebijakan-kebijakan tertentu. Ini semua dilakukan dengan harapan masuknya investor asing ke Indonesia akan menambah maraknya industri manufaktur di indonesia yang pada akhirnya akan mendorong pula meningkatnya teknologi informasi di berbagai sektor industri di Indonesia.

Perdagangan dalam ekonomi digital mematikan pasar real atau marketplace karena lebih efisien marketspace daripada market place. Dimana ekonomi digital tidak memerlukan lahan yang besar seperti ekonomi sebelumnya. Dan dimana distributor hanya dapat melakukan pengiriman dari tempat asal benda pesanan itu maupun sesuatu yang sudah deal dalam transaksi. Dan tidak perlu menaruh barang produksi di took – took atau pasar real. Hanya perlu dengan membuka bisnis online maka barang sudah banyak ditawarkan dan dapat di pesan. Selain itu hanya memerlukan waktu yang singkat untuk sebuah proses transaksi.

COMPETITION IN DIGITAL ECONOMY

PERSAINGAN DALAM EKONOMI DIGITAL

EKONOMI DIGITAL

Sebagaimana disebutkan pada paragraf sebelumnya, pada era ekonomi sebelumnya arus informasi mengalir secara fisik: tunai, cek, surat tagihan, laporan, rapat, panggilan telpon secara analog, transmisi radio atau televisi, cetak biru, peta, foto-foto ataupun iklan-iklan selebaran. Di era ekonomi aliran baru, berbagai bentuk informasi berubah menjadi digital – informasi disimpan dalam bentuk databit. Melalui penggunaan kode binari pada komputer, komunikasi dan informasi pun menjadi digital ones dan zeros. Dengan demikian sebuah dunia baru dengan segala kemungkinannya telah tercipta dengan sedemikian nyata seperti halnya terciptanya bahasa, sebagai paradigma masa lalu yang mendasarkan pertemuan fisik untuk berinteraksi.

PASAR GLOBAL

Informasi, di era ekonomi digital, menjadi bahan baku yang diolah dan disintesa menjadi sebuah produk yang berbasiskan pengetahuan dan didistribusikan melalui jaringan elektronik global. Tujuan utama dari bisnis itu sendiri, yaitu menciptakan kesejahteraan, akan dapat tercapai baik secara fisik maupun di marketspace(pasar di awang-awang) yang baru tercipta ini. Definisi dari marketspace baru ini adalah dunia serba elektronik dimana penjual dan pembeli bertemu dan mengadakan kegiatan perdagangan tanpa adanya interaksi secara fisik sebagaimana yang dilakukan di aktifitas perdagangan tradisional sebelumnya. Menggunakan kerangka kerja Prof. Rayport dari Sekolah Bisnis Harvard, belanja di awang-awang memang beda dengan belanja tradisional. Isi (content) penjualan tidak perlu buku secara fisik, misalnya, tapi cukup informasi tentang buku. Konteks-nya tidak perlu toko buku secara fisik, tapi sebuah agen penjualan yang rajin memelihara database-nya. Dan infrastruktur yang merupakan enabler dari berlangsungnya transaksi bukan lagi orang, tapi perusahan telekomunikasi yang menjadi saluran informasi. Keberadaan marketspace ini yang nantinya akan menimbulkan adanya konvergensi dari value chain (mata rantai sebuah nilai).

Saat teknologi telekomunikasi akan saling bergandeng tangan dengan komputer dan sisi komersial dari Internet akan melambung, pertambahan kecepatan dari perubahan akan menjadi sangat radikal. Konvergensi dari teknologi ini, bersama dengan proses digitalisasinya dan kemampuan untuk mengakses ke hampir semua content, membuat perusahaan tidak hanya mampu memberikan produk dan layanan yang ada dalam bentuk baru, namun juga mampu menciptakan produk dan jasa baru berdasarkan pada apa yang telah diketahui. Pesatnya pertumbuhan World Wide Web dan Internet membuat infrastruktur yang ada saat ini dapat dipergunakan untuk memberikan produk dan jasa yang dibuat berdasarkan pengetahuan kepada pasar global yang lebih luas lagi.

Beberapa perusahaan lain juga telah menyadari pentingnya penggunaan Internet secara maksimal untuk menciptakan langkah-langkah inovatif dalam pelayanan pelanggannya. Saat ini, pelanggan menginginkan informasi, kemudahan, dan layanan individualis. Dunia usaha harus mampu memuaskan keinginan pelanggan ini sementara di lain pihak secara simultan mampu menurunkan biaya dan mempersingkat time-to-market. Sebuah perusahaan ekspedisi terkemuka di dunia telah menerapkan teknologi ini dimana pelanggan dapat melacak lokasi barang mereka melalui situs Web. Dengan demikian perusahaan ini telah menciptakan kantor-kantor cabang “semu” (virtual) di seluruh penjuru dunia, yang setara dengan ribuan meja kerja, tanpa harus mengeluarkan biaya untuk pendistribusian perangkat lunak.

EKONOMI PASAR

Di masa ekonomi digital, konsumen merupakan ‘driving force’ dari semua kegiatan ekonomi yang berlangsung di dunia. Oleh karena itu komponen-komponen signifikan yang berkembang dalam ‘model industri digital’ harus sangat memperhatikan sudut pandang konsumen. Dalam kegiatan pemasaran, kustomisasi kebutuhan pelanggan menjadi pilihan utama dalam strategi bisnis.

Kecenderungan untuk melakukan kustomisasi massal ini merupakan cerminan dari pergeseran arah dalam melakukan strategi bisnis. Dalam kompetisi usaha orang juga mulai berpikir untuk mensiasati keadaan pasar yang tak pasti dengan saling memanfaatkan kelebihan dan menutup kelemahan-kelemahan yang dimiliki, demi kebaikan bersama. Masih segar dalam ingatan kita pada tanggal 6 September 1997, semua stasiun televisi di negeri ini merelai upacara pemakaman Puteri Diana di London. Yang menarik untuk disimak, stasiun-stasiun besar dunia salng bekerja sama. CNN, misalnya, bekerja sama dengan CNBC dan BBC yang di Indonesia bekerja sama lagi dengan SCTV dan Indovision. Dan ANTeve bekerja sama dengan Reuters merelai acara yang disaksikan sekitar 2,5 miliar orang itu.

Kerja sama stasiun-stasiun televisi besar itu dilakukan dan diakses oleh televisi-televisi lokal di berbagai negara. Mereka saling mendukung pengambilan gambar acara yang diminati pemirsa dunia itu. Kendati demikian mereka masih tetap bersaing. Yang di Indonesia misalnya, Indosiar menambahnya dengan teks terjemahannya. Sedangkan SCTV tidak memakai terjemahan tapi menghadirkan banyak komentar dari pembawa acara dan tokoh-tokoh yang dihadirkan. Contoh kasus diatas memperlihatkan bahwa lingkungan bisnis yang tak pasti telah memaksa setiap pelaku bisnis untuk mencari segala cara dan upaya untuk bertahan. Kalau memang berkompetisi sudah tak memungkinkan lagi, memang lebih baik bekerja sama. Meminjam istilah beberapa praktisi bisnis, menghadapi pesaing tidak selalu harus dengan persaingan frontal. Tetapi perlu dipertimbangkan berbagai alternatif kerja sama yang memungkinkan memperoleh manfaat dan mengurangi ketidakpastian usaha. Inilah yang kemudian disebut sebagai co-opetition. Dengan kata lain, sembari bekerja sama masih tetap bersaing. Sebagian orang mengartikan co-opetition sebagai kerja sama dari berbagai perusahaan yang saling bersaing untuk mendapatkan manfaat bersama baik di bidang pengadaan sumber daya, penelitian, pengembangan, maupun pengaturan pasar. Cepatnya perubahan dunia, teknologi baru, dan kompetisi yang makin tajam juga mendorong makin populernya terminologi co-opetition ini.

Konsep co-opetition didasarkan pada “value-net”. Ini adalah suatu model yang menggambarkan bahwa pelaku dalam bisnis dapat berperan sebagai pelanggan, pemasok, pesaing, ataupun pelengkap. Dengan pendekatan ini bisa jadi pesaing kita berperan sebagai, misalnya, pelengkap. Sebenarnya model pendekatan kerja sama ini bukan hal baru. Sudah lama berlangsung pendekatan ‘kartel’, dimana sekelompok pesaing bekerja sama mengatur produksi atau mengatur pasar. Misalnya, koperasi yang merupakan sekumpulan pengusaha kecil yang bekerja sama untuk meningkatkan kemampuan ekonomi mereka. Dalam koperasi yang terjadi sebenarnya adalah kerja sama antara perusahaan (anggota-anggotanya) yang berpotensi sebagai pesaing. Namun kunci keberhasilan kerja sama dengan pesaing adalah bagaimana caranya dapat mengatasi berbagai kepentingan yang bertentangan. Lipnack dan Stamp dalam The TeamNet Factor menyarankan sejumlah faktor yang membuat co-opetition berhasil, antara lain rumusan tujuan kerja sama yang tepat, identifikasi personil-personil dari setiap perusahaan dan keterlibatan yang intens mulai dari proses perencanaan, perbanyak jumlah pemimpin yang mampu meningkatkan kerjasama dan mengurangi atasan yang hanya memerintah, ataupun kaitkan hirarki dengan para pelaksana di lapangan. Dan yang lebih penting lagi, perlunya suatu usaha khusus agar kerja sama tumbuh dengan baik. Dalam arti, kalau semula kita hanya memahami keberhasilan usaha dari segi kepentingan sendiri, maka kini harus mencari titik pandang yang sama agar kerja sama menghasilkan untuk bagi usaha sendiri maupun usaha pesaing. Agar wawasan kerja sama berkembang dalam melakukan kerja sama dengan pesaing, kepemimpinan perusahaan harus mampu melihat alternatif win-win. Itu berarti perlu memahami bagaimana cara pandang pesaing dan bagaimana mereka mencapai tujuan yang hendak dicapainya. Disinilah dituntut adanya pendekatan wawasan yang lebih luas dari sekadar mementingkan kepentingan sendiri.

E.COMMERCE

E.COMMERCE

Apakah itu nyata (EC)? Tentu hal ini yang pertama kali dipertanyakan pada khalayak awam dan jawaban dri pertanyaan tersebut adalah Iya nyata, karena e.commerce adalah bisnis nyata hanya saja media yang digunakan melalui media elektronik. Tidak semua media elektronik akan tetapi melalui instant messenger, e-mail, dan jejaring sosial. Hal ini berarti media yang digunakan untuk membuat e.commerce adalah media yang terkoneksi dengan internet. Jadi pada dasarnya e.commerce adalah nyata di dunia maya akan tetapi untuk hidup di dunia yang sebenarnya tidak bias, hanya saja pengaplikasiannyalah yang bias di dunia nyata. Tapi semua transaksi yang di lakukan melalui internet.

Bagaimana mengevaluasi besarnya tekanan bisnis?  Pada zaman yang maju ini bisnis yang berkembang pesat adalah bisnis dengan pemegang saham ataupun pengusaha yang mempunyai dana kuat dan modal yang cukup. Akan tetapi tidak memperhatikan adanya relasi. Mereka hanya menggunakan jasa advertising untuk memperkenalkan produk ataupun memperkenalkan jasa mereka untuk marketing. Itu pandangan dari pihak bisnis yang telah besar dan berkembang. Dan dari pihak kita sebagai pihak yang masih awal dan berusaha untuk membangun sebuah bisnis, untuk menyiasati hal tersebut hanya memerlukan biaya awal pembayaran konektifitas internet dan mengandalkan media komunikasi yang free, kita dapat mengembangkan bisnis kita. Dan perlu menambah banyaknya relasi untuk mengembangkan atau memperkenalkan produk atau sjasa yang kita tawarkan. Kita dapat melakukannya di manapun tempat yang kita inginkan dan tidak menutup kemungkinan banyak tempat – tempat atau area free hotspot.

Apa yang harus menjadi strategi perusahaan saya terhadap EC? Harus mampu bersaing pada pengiklanan karena hanya pada advertising kita mampu mencuri point penuh dalam pengembangan bisnis awal. Tidak perlu menjual produk yang mahal akan tetapi pengembangan ide dan kreasi perlu di perhatikan. Tidak perlu kuantitas pada awal tahap pembuatan atau mendirikan bisnis e.commerce akan tetapi kualitas dan loyalitas yang harus di pertahankan. Kita tidak perlu menjual jasa ataupun barang dengan harga yang tinggi pada awal pengerjaan bisnis kita, hanya saja di perlukan strategi dan trik yang jitu untuk menembus pangsa pasar yang telah diserang oleh konsumen yang konsumtif yang merupakan cirri khas pada bangsa kita sendiri.

Mengapa daerah B2B begitu menarik? B2B dianggap menarik karena B2B saling menguntungkan dari pihak pengusaha yang 1 dengan pengusaha yang lain dalam urusan kerjasama. Hal ini akan terlihat pada negosiasi atau melakukan pembukaan yang saling ingin mencari untung. Dan jika sama – sama menguntungkan maka ke depannya B2B akan melakukan kerjasama lagi yang lebih baik daripada pengalaman sebelumnya. Sedikit dampak negative pada B2B karena pada hal ini kedua perusahaan akan mengirimkan orang yang sama – sama di bidangnya untuk melakukan negosiasi yang saling menguntungkan. Tidak hanya dilakukan antar 2 perusahaan, 2 pengusaha ataupun 2 orang yang melakukan kerja sama yang saling menguntungkan dapat dikatakan B2B. Ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan 1 sama lain.

Apa cara terbaik untuk belajar tentang EC? Cara terbaik untuk belajar e.commerce tidak ada salahnya kita harus mencoba bisnis yang hanya dalam proposal tugas yang akan dikumpulkan sebagai bahan untuk memperoleh nilai. Akan tetapi mendapatkan pengalaman dari berbisnis inilah nilai tambah untuk lebih memahami letak peluang usaha apa yang akan di buka dan akan memberikan hasil atau untung yang maksimal. Praktik yang digunakan hanyalah sederhana, melalui bisnis online inilah kita bias memanfaatkan bisnis yang tidak emmakan banyak waktu dan tenaga. Karena kita dapat mengerjakannya pada saat waktu luang dimanapun dan kapanpun. Kita dapat melakukan pengecekan usaha kita via internet. Melalui jejaring sosial dan email lah menurut saya e.commerce dapat berkembang dengan pesat. Buku – buku teori tentang e.commerce juga banyak di jual. Dan E-book nya pun mudah dicari dengan search engine.

Apa isu-isu etis yang ada? Ketidak nyamanan bisnis online di Indonesia terletak pada keamanan internet. Banyaknya hacker dan pihak yang menyalah gunakan jasa internet untuk melakukan pencurian dalam hal online. Keamanan inilah yang menjadi titik pusat perhatian untuk berbisnis online. Bagi orang awam hal inilah yang sangat ditakuti untuk melakukan bisnis online dan terjadi transaksi.

Bagaimana kegagalan dihindari? Kegagalan dapat dihindari jika kita memahami konsep dan melakukan survey lapangan. Apa yang perlu disiapkan? Daerah mana yang akan menjadi pengembangan bisnis kita? Dan ditujukan kepada siapa bisnis kita ini nanti? Serta rincian biaya yang dibutuhkan dan dana cadangan juga perlu di perhitungkan dalam bisnis kita. Tidak hanya itu, keuntungan harus diperhitungkan pada hal ini, karena tujuan dari berbisnis adalah mencari untung secepat – cepatnya dan sebesar – besarnya. Akan tetapi pada awal merintis bisnis kita tidak boleh memikirkan untung dahulu yang harus kita pertimbangkan adalah kembalinya modal yang telah kita keluarkan dan pengembangan usaha yang akan dilakukan ke depannya.