Author Archive

Perkembangan Agribisnis di Kabupaten serta Masalah yang di hadapi Petani di Kabupaten Sidoarjo

Perkembangan Agribisnis di Kabupaten Sidoarjo Termasuk Masalah/Kendala yang Dihadapi serta Solusi yang Tepat untuk Pertanian di Kabupaten Sidoarjo.

Jumlah lahan pertanian di Kabupaten Sidoarjo tiap tahunnya terus berkurang. Kondisi itu tak lepas dari pesatnya perkembangan perumahan di Sidoarjo termasuk perkembangan kawasan industri. menurut hasil kajian dan analisa anggota pansus RPJMD Dewan, perkembangan industri dan perumahan di wilayah Sidoarjo menggerus lahan pertanian. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sidoarjo Drs. Ec. Hadi Subiyanto menyatakan, setiap tahun lahan pertanian Sidoarjo berkurang 5–10 persen. Rata-rata berubah menjadi lahan industri dan perumahan baru.

Di satu sisi, itu memang baik karena menunjukkan Sidoarjo terus berkembang. Tetapi, di sisi lain kejadian tersebut juga merugikan para petani. Banyak izin pendirian industri dan perumahan yang tidak mengindahkan perda rencana tata tuang dan wilayah (RTRW). Daerah-daerah seperti Wonoayu, Tulangan, Krembung, dan Prambon seharusnya menjadi daerah pertanian. Namun, saat ini lokasi-lokasi tersebut sudah ditumbuhi perumahan-perumahan dan industri. Bahkan, perkembangannya begitu cepat dan menjamur. Jika para pengembang ini menggunakan izin, dalam 1–2 tahun lagi Sidoarjo tidak akan mampu menjadi lumbung padi dan penghasil pertanian. Padahal, selain perikanan, Sidoarjo terkenal sebagai daerah pertanian. Anggota Komisi D DPRD Sidoarjo yang juga Anggota Pansus RPJMD 2009 – 2014  tersebut berharap ada kajian lebih lanjut tentang perda RTRW. Jika perlu, ada panitia khusus yang mengkaji perda tersebut. Sebab, jika tidak, hal itu akan berlarut-larut. Hadi juga meminta para pengembang yang menyalahi perda RTRW segera ditindak. Karena jika tidak, tindakan mereka akan ditiru oleh pengembang lain.

Tahun ini, jumlah lahan pertanian di Sidoarjo diperkirakan tinggal sekitar 22 ribu hektar. Dari jumlah itu, untuk lahan pertanian berupa tanaman tebu ada sekitar 7 ribu hektar. Sedangkan mayoritas, sisanya masuk lahan tanaman padi, dan hanya beberapa hektare saja yang menjadi lahan sayur-sayuran. Meskipun tiap tahun jumlah lahan pertanian berkurang, sejauh ini Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan (DP3) Kabupaten Sidoarjo masih optimis Sidoarjo surplus beras. Hal itu tak lepas dari lahan tanaman padi yang ada saat ini merupakan lahan produktif.

Masalah terbesar yang saat ini dihadapi warga Sidoarjo adalah semburan dan luapan lumpur lapindo yang mengakibatkan rusaknya sarana dan prasarana baik pemukiman penduduk, sarana pendidikan, peribadatan, gedung dan kantor pemerintahan, tergenangnya areal persawahan serta berhentinya kawasan industri yang telah menampung banyak tenaga kerja.

Untuk sektor pertanian terutama para petani padi, tebu, dan palawija telah banyak menderita sejumlah kerugian, baik materi maupun nonmateri. Khusus untuk estimasi kerugian pada masing-masing komoditas itu adalah berturut-turut sebesar Rp 7.137.965.600; Rp 76.818.000.000, dan Rp 818.974.000. Kerugian-kerugian seperti lahan untuk berusahatani dan rumah untuk tempat tinggal para petani sungguh menjadi beban yang memberatkan petani, karena kedua hal itu meski nantinya mendapatkan ganti rugi mereka tetap saja tidak dapat lagi mengusahakan bisnis pertaniannya seperti pada lokasi yang sudah tergenang lumpur. Rumah tempat tinggal serta lahan sawah tersebut bagi petani memiliki nilai tinggi, sungguh hal ini menjadi malapetaka yang besar bagi mereka.

Sampai saat ini belum ada solusi untuk menanggulangi lumpur tersebut, tetapi masyarakat menginginkan (1)pemerintah segara mendesak PT Lapindo Brantas sebagai pihak yang harus bertanggungjawab untuk memberikan ganti rugi kepada para warga yang terkena Lumpur Lapindo secepatnya. (2)kalau relokasi menjadi alternatif pemecahan masalh, maka hendaknya lahannya haruslah sejenis dengan lahan yang terkena Lumpur, baik dari segi kesuburan, produktivitas serta akses jalan dan kemudahan transportasi. (3)Pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo senantiasa terus memberikan kemudahan dan keberpihakan kepada masayarakat terkenan Lumpur, dengan secepatnya menciptakan lapangan kerja baru, mengadakan pelatihan-pelatihan guna peningkatan keterampilan dalam rangka mengantisipasi beralihnya pekerjaan untuk mengurangi angka pengangguran.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo tidak mungkin menambah lahan pertanian baru untuk kemandirian pangan seperti kedelai, jagung, ubi dan juga singkong. Sebab saat ini, banyak lahan yang terlanjur dimanfaatkan untuk industri. Untuk mengoptimalkan lahan pertanian yang ada, dapat dilakukan dengan memberi penyuluhan kepada para petani. Mulai memberikan penyuluhan cara bercocok tanam sesuai anjuran DP3, hingga cara mengintensifikasikan lahan yang ada. Untuk meningkatkan hasil produksi petani juga diarahkan menggunakan sistem penanaman modern dengan menggunakan peralatan modern supaya hasilnya bisa maksimal. Tujuannya adalah agar petani bisa meningkatkan hasil pertanian di Kabupaten Sidoarjo, terutama untuk memenuhi hasil produksi.

Di sidoarjo terdapat Pusat Studi dan Pengembangan Agribisnis Hortikultura berlokasi di Kebun Benih Lebo Kab. Sidoarjo yang berjarak 25 km dari Surabaya, biasanya disebut PUSPA LEBO. Yang bertujuan sebagai etalase sosok pertanian modern yang dapat pelatihan pelayanan agribisnis sekaligus tempat rekreasi ( agrowisata) yang dapat menarik minat generasi muda untuk menggeluti bidang pertanian. Selain itu untuk memasarkan hasil pertanian, di sidoarjo juga terdapat PUSPA AGRO yaitu pasar yang khusus menjual hasil produk pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Puspa Agro yang didirikan di lahan seluas 50 hektare pada 17 Juli 2010 tersebut nanti tidak hanya menjadi pusat perdagangan, hunian, serta logistik hasil bumi. Namun, pasar itu juga akan menjadi tempat pelatihan dan pendidikan bagi petani, generasi muda, maupun masyarakat umum.

Teknologi Budidaya Jagung Hibrida

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Jagung merupakan tanaman pangan di Indonesia yang menempati urutan kedua setelah padi. Namun, jagung juga mempunyai peranan yang tidak kalah penting dengan padi. Di negara agraris seperti Indonesia sangat mendukung dikembangkannya tanaman jagung karena tanaman jagung memiliki potensi yang cukup baik untuk dibudidayakan. Peranan keanekaragaman dari kebutuhan pangan dari bahan jagung sangat diperlukan dalam usahatani. Peningkatan produksi pertanian, khususnya tanaman jagung sangat ditentukan oleh meningkatnya pengetahuan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan serta permintaan pasar. Disamping itu para ilmuwan juga selalu berupaya untuk mencari keunggulan produksi serta keungggulan lainnnya yang ada pada tanaman jagung. Teknis bercocok tanampun selalu mengalami perbaikan guna mencapai produksi yang maksimal.

Seiring dengan bergulirnya waktu, perkembangan budidaya tanaman jagung di Indonesia mengalami kemajuan pesat. Salah satunya adalah penggunaan benih jagung hibrida. Jagung hibrida memiliki kualitas serta kuantitas produksi yang lebih baik. Oleh karena itu perlunya peningkatan produksi jagung hibrida yang dapat mendukung kuantitas hasil tanaman jagung, sehingga dapat menyeimbangi permintaan pasar di Indonesia yang semakin tahun semakin meningkat.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Jagung Hibrida

Benih jagung hibrida merupakan penyilangan biji galur murni dari dua induk yang sudah diseleksi sifat unggulnya. Pembuatan benih jagung hibrida dilakukan di laboratorium dengan peralatan dan tenaga ahli yang berpengalaman. Sebelum dijual, benih jagung hibrida diberi sertifikat yang menandakan sudah memenuhi semua persyaratan, baik syarat tanam, sifat unggul, maupun keasliannya.

Keunggulan tanaman jagung yang berasal dari benih hibrida antara lain tahan serangan hama dan penyakit, lebih cepat panen, produksi tinggi, sangat toleran dengan berbagai jenis dan ketinggian lahan, serta memiliki kualitas serta kuantitas hasil produksi yang baik. Sementara itu, kelemahannya adalah biji buahnya tidak bisa dijadikan benih lagi karena sifat unggul induknya sudah mengilang. Selain itu, lahan tanam jagung hibrida harus dipisahkan, minimal sejauh 200 meter dari lahan tanam jagung varietas lain agar tidak terjadi perkawinan silang. Apabila perkawinan silang ini terjadi, buah yang muncul akan mengalami kelainan genetic, sehingga sifat-sifat unggul dari induknya juga menghilang.

 

2.2 Teknologi Budidaya Jagung Hibrida

2.2.1 Persiapan Lahan

Persiapan lahan dilakukan dengan melihat kondisi lahan ideal yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman jagung. Kondisi lahan yang ideal diantaranya yaitu tanah gembur, subur, tidak mudah tergenang air; memiliki cukup bahan organik; pH netral sampai agak asam (5,5-7); kemiringan tanah tidak lebih dari 8% ; ketinggian 0-700 meter dpl ; jenis tanah liat berlempung, tanah lempung atau tanah lempung berpasir ; areal yang memiliki persediaan air yang cukup ; sinar matahari pemuh (tida ternaungi pohon atau bangunana yang tinggi).

Persiapan lahan awalnya dilakukan dengan pembajakan lahan menggunakan traktor (plowing) yang mana tanh dibajak sebanyak 2 kali dengan kedalaman sekitar 20-30cm. Selain itu dibuat jalur-jalur arah barat-timur selebar ±150cm atau disesuaikan dengan disc-plow yang dipergunakan, agar drainase lancer.

Pengolahan lahan yang baik dapat memperbaiki struktur tanah, aerasi tanah, membunuh Organisme Pengganggu Tanaman, menghambat tumbuhnya gulma, serta melancarkan drainase (pemasukan dan pembuangan air).

 

2.1.2 Persiapan Benih

Pemilihan varietas jagung hibrida yang baik dapat mempengaruhi hasil dari tanaman jagung. Berikut adalah contoh beberapa varietas benih jagung hibrida yaitu jagung hibrida Pioneer-1, jagung hibrida Pioneer-2, jagung hibrida Pioneer-4, jagung hibrida C-1, jagung hibrida C-2, jagung hibrida hibrida CPI-1, jagung hibrida Semar-1, jagung hibrida Semar-2, jagung hibrida STJ-27, jagung hibrida IPB-4, dan jagung hibrida Pioneer-5. Benih jagung hibrida sudah diberi perlakuan pestisida sehingga aman dan terlindungi dari serangan penyakit. Kebutuhan benih per hektar adalah 15-20kg.

 

2.1.3 Penanaman

Penanaman yang baik dilakukan saat kondisi tanah lembab, setelah hujan atau setelah diairi. Penanaman secara manual dilakukan dengan cara ditugal sedalam ±3cm. Setelah itu benih dimasukkan 1-2 biji ke lubang lalu ditutup dengan tanah atau pupuk organik. Pergunakan tali agar jalur tanam rapi dan sesuai dengan jarak tanam yang diinginkan. Jarak tanam yang digunakan adalah 70 cm x 20 cm.

Sedangkan penanaman mekanis bisa dilakukan dengan menggunakan PLANTER yang ditarik traktor. Penanaman secara mekanis sangat menghemat waktu dan biaya apabila lahan yang hendak ditanami luas. Dengan menggunakan Planter, areal yang bisa ditanami per hari mencapai 25-30 hektar. Dengan menggunakan Planter tidak hanya bisa dilakukan penanaman tetapi sekaligus juga pemupukan.

 

2.1.4 Pemupukan

Lakukan pemupukan saat kondisi tanah lembab, setelah hujan atau setelah diairi. Pemupukan secara manual dilakukan dengan menggunakan tugal. Buat lubang di samping tanaman dengan jarak ± 5-10 cm, lalu pupuk dimasukkan ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah. Lakukan pemupukan berimbang, yaitu pemupukan dengan melengkapi semua unsur makro yang dibutuhkan tanaman, yaitu unsur N, unsur P, unsur K. Agar semua unsur tersebut tercukupi dianjurkan untuk menggunakan NPK 15 : 15 : 15 dalam aplikasi pemupukan. Aplikasi pemupukan secara manual adalah sebagai berikut (per hektar) :

Waktu Aplikasi

NPK 15 : 15 : 15

Urea

7-10 hari setelah tanam

200-300 kg/ha

 

25-30 hari setelah tanam

 

150 kg/ha

40-45 hari setelah tanam

 

150 kg/ha

Pemupukan juga bisa dilakukan secara mekanis dengan menggunakan traktor.

 

2.1.5 Defisiensi Pupuk

Kekurangan Fosfor (unsur P) ditandai dengan daun yang berwarna ungu kemerahan, terutama pada tanaman  yang masih muda. Kekurangan Nitrogen (unsur N) ditandai dengan warna kekuningan pada ujung daun dan berkembang sepanjang tulang daun utama. Kekurangan magnesium (unsur micro mg) ditandai dengan timbulnya garis-garis keputihan sepanjang tulang daun dan seringkali timbul warna ungu pada bagian bawah daun tua.

Kekurangan Kalium (unsur K) ditandai dengan pembentukan tongkol yang tidak sempurna dimana ujung tongkol tidak berbiji penuh, dan bijinya jarang. Tongkol jagung akibat kekurangan Nitrogen (unsur N) pada saat kritis, ditandai dengan tongkolnya kecil, kadar protein rendah dan ujung tongkol tidak berbiji. Akibat kekurangan Fosfor (unsur P) ditandai dengan tongkolnya kecil, kering bengkok dengan pembentukan biji tidak sempurna.

2.1.6 Pengendalian Gulma/Rumput

Pengendalian gulma/rumput dilakukan pada saat tanaman jagung berumur 30 hari setelah tanam dengan menggunakan herbisida yang bersifat kontak. Aplikasi penyemprotan dilakukan pada sela-sela tanaman jagung dan dihindari terkena langsung dengan tanaman jagung.

Pengendalian gulma/rumput juga bisa dilakukan secara mekanis bersamaan dengan pembubuhan dengan menggunakan ROW CROP CULTIVATOR. Row Crop Cultivator berfungsi untuk membalikkan tanah di antara tanaman  (membumbun), tetapi dalam aplikasinya, gulma/rumput akan ikut tercabut dan terbalik. Aplikasinya dilakukan saat tanaman jagung masih bisa dilalui oleh traktor, umur 15-20 hst.

2.1.7 Pengairan

Pengairan merupakan faktor penting dalam budidaya tanaman jagung. Kekurangan air berpengaruh pada produktivitas tanaman. Kelebihan air (lahan tergenang dalam jangka waktu lama) juga menyebabkan tanaman jagung mati. Apabila lahan yang digunakan memiliki jaringan irigasi dan persediaan air yang cukup maka lakukan pengairan setiap 10 hari sekali dengan cara mengalirkan pada larikan dan secepatnya dibuang dan pastikan tidak ada yang menggenang. Apabila lahan yang digunakan merupakan lahan tanpa irigasi atau lahan darat yang tidak mempunyai persediaan air (sungai, danau, rawa, dll.) maka pengairan bisa dilakukan dengan sistem irigasi sumur. Buat sumur-sumur gali/bor di dekat lahan dan alirkan airnya dengan menggunakan pompa. 10 hari menjelang panen sebaliknya pengairan dihentikan agar proses pengeringan tongkol dapat dipercepat. Kekeringan menyebabkan tanaman berwarna hijau keabu-abuan, daun-daun menggulung sebesar pensil. Udara kering menyebabkan pembentukan rambut lambat, persarian tidak sempurna pada saat pembentukan biji.

2.1.8 Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan melihat gejala-gejala yang timbul. Pengendalian bisa dilakukan dengan teknik budidaya ataupun penggunaan pestisida. Beberapa hama dan penyakit yang menyerang tanaman jagung :

Hama Utama :

  1. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
  2. Ulat grayak (Spodoptera liptura)
  3. Lalat bibit (Atherigona sp.)
  4. Penggerek batang (Ostrinia furnacalis)
  5. Penggerek tongkol (Helicoverpa armigera)
  6. Belalang daun (Locusta migratoria)

Penyakit Utama :

  1. Bulai (Agrotis ipsilon)
  2. Karat daun (Pucinia graminis)
  3. Hawar daun (Helminthosporium sp.)

2.1.9 Panen

Jagung Hibrida bisa dipanen dalam kondisi masak fisiologis saat berumur 105-115 hst didataran rendah (sesuai spesifik varietasnya). Agar kadar air biji jagung panen rendah maka biarkan jagung di batangnya hingga betul-betul kering (± 115-120 hst).

Ciri-ciri jagung Hibrida BISI siap panen :

  • Klobot sudah berwarna coklat
  • Rambut berwarna hitam dan kering
  • Populasi klobot kering 90%
  • Biji jagung bila ditekan dengan kuku tidak membekas
  • Terdapat titik hitam pada bagian lembaga biji jagung

Dianjurkan untuk tidak dilakukan pemocokan (daun diatas tongkol dipotong) pada saat tanaman jagung berumur 90-100 hst, karena menyebabkan turunnya produksi jagung. Petik jagung yang sudah siap panen dari batangnya dan masukkan ke dalam karung. Setelah itu jagung tersebut dikirim ke rumah atau ke gudang untuk dijemur atau langsung dipipil.

Pada lahan yang luas dan kekurangan tenaga kerja, panen lebih baik dilakukan secara mekanis dengan menggunakan HARVESTER. Dengan menggunakan alat ini, jagung yang dipetik akan langsung dipipil. Untuk itu perlu diperhatikan kadar air jagung saat dilakukan panen. Jagung pipilan kemudian bisa langsung dikirim ke pabrik pakan ternak, atau dikirim ke gudang untuk diturunkan kadar airnya.

2.1.10 Pascapanen

Jagung yang sudah dipanen sebaiknya disortir. Jagung yang jelek dipisahkan dari jagung yang baik untuk menghindari tertularnya jamur maupun menjaga kualitas jagung itu sendiri. Jagung harus dijemur terlebih dahulu, tujuannya adalah menurunkan kadar air menjadi 25-28% dan agar jagung bisa tahan disimpan. Setelah jagung dirasa cukup kering makan jagung bisa langsung dipipil. Pemipilan dapat dilakukan secara manual maupun mekanis. Untuk mendapat harga yang baik maka jagung yang sudah dipipil perlu dikeringkan lagi untuk mendapatkan kadar air yang lebih rendah. Jagung yang sudah cukup kering (KA = 17-25%) kemudian dikarungi dan disimpan di gudang untuk kemudian dibawa ke pasar, pedagang pengumpul atau ke pabrik pakan ternak.

Persyaratan untuk masuk ke perusahaan pakan ternak adalah sebagai berikut :

  • Kadar air jagung pipil 17% (kw) dan mas 28%
  • Biji berumur 5% (kw) dan max 7%
  • Biji mati 5% (kw) dan max 7%
  • Aflatoxin max 120 bpb
  • Kotoran (material lain) max 2%
  • Tidak ada kutu (hama gudang)
  • Tidak berbau asam.

DAFTAR PUSTAKA

Agromedia. 2012. Pemilihan Benih yang Tepat Hasilkan Jagung Hibrida.  http://agromedia.net/Info/pemilihan-benih-yang-tepat-hasilkan-jagung-hibrida-berkualitas.html . Diakses pada tanggal 10 September 2012

Anonymous. 2011. Teknologi Budidaya Jagung Hibrida PT. BISI International Tbk . www.slideshare.net/…/teknologi-budidaya-jagung-hibrida-9689258. Diakses pada tanggal 10 September 2012

 

Budidaya Selada dengan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST)

TUGAS KELOMPOK

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

“Budidaya Selada dengan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST)”

 

 

Disusun oleh :

KELOMPOK 16

                        NUR IZZATUL KHAMIDAH        115040101111139

                        NORMA RACHMA                    115040113111004

 

 

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Permintaan terhadap komoditas sayuran di Indonesia terus meningkat. Seiring dengan meningkatnya penduduk dan konsumsi per kapita dibutuhkan teknologi penghasil komoditas sayuran yang tetap mencukupi permintaan. Teknologi yang dapat tetap mencukupi permintaan komoditas sayuran khususnya selada tersebut adalah teknologi hidroponik.

Hidroponik merupakan teknologi modern dalam bidang pertanian khususnya tanaman hortikultura. Di perkembangannya, hidroponik merupakan salah satu cara budidaya tanaman yang menggunakan prinsip penyediaan larutan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tanaman dan hidroponik termodifikasi dari kultur air yang memanfaatkan kolam berukuran besar dan dalam volume larutan nutrisi yang besar sehingga dapat menekan fluktuasi konsentrasi larutan nutrisi.

Berdasarkan penjelasan tersebut, didapatkan pengembangan teknologi maju yang berpotensi untuk memproduksi sayuran khususnya selada yang berkualitas sepanjang tahun dengan hidroponik bersistem irigasi baru yaitu Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST) yang merupakan  teknologi sangat efisien dalam pemanfaatan sarana produksi karena tidak memerlukan pemeliharaan, panen tepat, dan kerusakan sangat rendah, sehingga cocok diterapkan sebagai sistem produksi pada industri sayuran komersial. THST juga menggunakan sistem irigasi non resirkulasi yang menyebabkan berkurangnya ketergantungan terhadap ketersediaan energi listrik yang lebih menghemat biaya.

1.2    Tujuan

Berdasarkan  latar belakang di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui Analisis Usaha Tani dilihat dari tingkat kesesuaian Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST) dengan Teknologi Konvensional di Lapang.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

1.1    Botani dan Syarat Tumbuh Selada (Lactuca sativa L.)

Selada merupakan sayuran yang termasuk ke dalam famili Compositae dengan nama latin Lactuca sativa L. Asal tanaman ini diperkirakan dari dataran Mediterania Timur, hal ini terbukti dari lukisan di kuburan di Mesir yang menggambarkan bahwa penduduk Mesir telah menanam selada sejak tahun 4500 SM (Rubatzky dan Yamaguchi, 1999). Berikut ini adalah klasifikasi selada: Divisio : Spermatophyta Subdivisio : Angiospermae Kelas : Dicotylodonae Ordo : Asterales Famili : Asteraceae (Compositae) Genus : Lactuca Spesies : Lactuca sativa Selada cocok dibudidayakan pada daerah dengan suhu optimum berkisar antara 20oC pada saing hari dan 10oC pada malam hari (Rubatzky dan Yamaguchi, 1999). Benih selada akan berkecambah dalam kurun waktu empat hari, bahkan untuk benih yang viabel dapat berkecambah dalam waktu satu hari, pada suhu 15oC-25oC (Grubben dan Sukprakarn, 1994). Selada merupakan tanaman setahun polimorf (memiliki banyak bentuk), khususnya dalam hal bentuk daunnya. Tanaman ini cepat mengghasilkan akar tunggang dalam yang diikuti dengan penebalan dan perkembangan ekstensif akar lateral yang kebanyakan horizontal. Daun selada sering berjumlah banyak dan biasanya berposisi duduk (sessile), tersusun berbentuk spiral dalam susunan padat. Bentuk daun yang berbeda-beda sangat beragam warna, raut, tekstur dan sembir daunnya. Daun tak berambut, mulus, berkeriput (savoy) atau kisut berlipat. Sembir daunnya membundar rata atau terbagi secara halus, warnanya beragam, mulai dari hijau muda hingga hijau tua, kultivar tertentu berwarna merah atau ungu. Daun bagian dalam pada kultivar yang tidak membentuk kepala cenderung berwarna lebih cerah, sedangkan pada kultivar yang membentuk kepala berwarna pucat (Rubatzky dan Yamaguchi, 1999).

 

1.2  Metode Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST)

Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST) yaitu sistem budi daya tanaman secara hidroponik yang dikembangkan dari water culture. Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST) cocok untuk tanaman sayuran selada (Lacctuca sativa L.) var.Panorama, Grand Rapids, Red Lettuce, Minetto. Hal yang pertama kali dilakukan ialah membuat kolam tanam yang terbuat dari cor beton yang berukuran 3 m (lebar) x 20 m (panjang) x 60 cm (dalam). Kolam tersebut berada di dalam greenhouse berdinding kasa 20 mesh dan beratap UV plastik dengan ketebalan 0.02 mm. Panel tanam (Panel 15) adalah styrofoam dengan ketebalan 4 cm dengan ukuran panel 40 x 60 cm, Lubang tanam dibuat dengan diameter 2.5 cm (volume 20 cm3) dengan jarak antar pusat lubang tanam 12.5 cm, sehingga total lubang tanam per panel adalah 15.

Benih dikecambahkan dalam tray plastik yang diberi kertas tissue dan dibasahi. Setelah berkecambah (3 hari), bibit ditransplanting ke panel semai (panel 77) dan dipelihara selama tiga minggu sebelum akan diapungkan. Media yang digunakan dalam panel semai adalah rockwool. Selama pemeliharaan, bibit disemprot dengan pupuk daun (N-P2O5-K2O:14%-12%-14%) setiap empat hari sekali dengan konsentrasi 2 g/l. Penanaman dilakukan dengan memidahkan bibit (transplanting) dari panel semai (panel 77) ke panel tanam (panel 15). Selanjutnya, panel tanam diapungkan (floating) dalam kolam tanam di atas larutan hara. Pemanenan dilakukan pada umur 4-6 minggu setelah tanam dengan cara mencabut tanaman selada beserta akarnya.

1.3  Penanganan Pascapanen

Umur panen selada berbeda-beda menurut kultivar dan musim, biasanya berkisar antara 30-85 hari setelah pindah tanam (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998). Panen yang terlalu dini memberikan hasil panen yang rendah dan panen yang terlambat dapat menurunkan kualitas.

Penanganan pasca panen adalah tahap dari produksi tanaman yang dilakukan sesaat setelah panen. Kegiatan pasca panen meliiputi kegiatan pendinginan, pembersihan, sortasi dan grading (Simpson dan Straus, 2010). Sebuah survey yang dilakukan oleh Bautista dan Cadiz pada tahun 1986 menunjukkan bahwa terjadi kehilangan hasil 22% sampai 70% sayuran akibat penanganan yang tidak baik, ini dapat diakibatkan oleh berbagai hal, seperti: busuk, lewat matang, kerusakan mekanik, susut bobot, pemotongan, bertunas dan pencoklatan. Preece dan Read (2005) menyatakan bahwa faktor-faktor yang menentukan kualitas selada dapat dilihat dari turgiditas, warna, kemasakan (firmness), perlakuan perompesan (jumlah daun terluar), bebas dari tip burn dan kerusakan fisiologis, bebas dari kerusakan mekanis, cacat dan juga busuk. Bautista dan Cadiz (1986) menyatakan bahwa dalam praktik pasca panen, tidak ditemukan adanya perlakuan yang dapat meningkatkan kualitas pasca panen suatu produk, yang dapat dilakukan adalah hanya menjaga kualitas produk tersebut. Menurut Morgan (1999), kondisi optimum untuk penyimpanan selada daun adalah suhu 0-2oC dengan kelembaban relatif (RH) 90-98%.

1.4  Pemasaran dan Analisis Usahatani

  1. a.      Pemasaran

Pemasaran produk hasil budidaya hidroponik sangat dipengaruhi oleh perlakuan pasca panen. Standar harga penjualan produksi tergantung dari menarik atau tidaknya produk yang dihasilkan, terutama dilihat dari penampilan produk (bentuk, warna, dan ukuran). Perlakuan pasca panen sangat penting karena kualitas produk tidak semata-mata dari hasil produksi saja, melainkan sangat tegantung dan ditentukan oleh penanganan pasca panen, kemasan, sistem penyusunan, metode pengangkutam maupun selektivitas produk. Kerusakan produk dapat dikurangai dengan penanganan pasca panen yang tepat sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah pada produk.

Pemasaran produksi Selada melalui Teknologi Hidroponik Sistem Terapung dapat dilakukan dengan beberapa pola kerjasama yang dilakukan berdasarkan keterlibatan dan peran serta dengan pembagian hasil yang proporsional antara lain:

  1. Pola kerjasama  dengan petani/koperasi yang difasilitasi langsung oleh Bank

Petani dengan status greenhouse dan minat bekerja sama menyampaikan sah bukti kepemilikan greenhouse yang akan ditanami denganhidroponik selada bersedia bekerjasama dengan dibuktikan surat perjanjian dengan perusahaan sebagai jaminan kesanggupan kerja di atas greenhouse miliknya dan bersedia mentaati teknologi yang diberikan.

  1. Pola  Kerjasama  Antar Perusahaan Swasta dan Koperasi

Pola kerjasama ini adalah mutualistik sebagai model penggabungan missi yang sama untuk mengoptimalkan cor bisnis masing-masing sebagai  gabungan usaha yang berbentuk konsorsium  yang terdiri dari kekuatan Perusahaan teknologi dan budidaya, Perusahaan penyedia greenhouse dengan status jelas dan pengogreenhouse mekanisasi modern dan penyediaan dan pemberdayaan tenaga kerja/SDM serta jaring pengaman sosial kemasyarakatan.

  1. Pola program pangan Nasional bersama pemerintah dan/atau assosiasi

Strategi mendasar memacu dan memaksimalkan produksi pangan untuk memenuhi kecukupan pangan Nasional termasuk kedelai dapat ditempuh melalui: a. Kawasan produksi pangan andalan melalui program optimalisasi daerah-daerah pertanian ber-irigasi teknis dan menciptakan/membuka pencetakan daerah potensi pertanian menjadi kawasan industri pertanian pangan di luar Jawa; b. Program pembentukan kantong-kantong potensial cadangan pangan lokal pada greenhouse kering/tadah hujan melalui pemanfaatan greenhouse tidur  dan pemanfaatan tanaman penyela atau tumpang sari atau tumpang gilir pangan pada tanaman perkebunan dan Hutan Tanaman Industri.

(Mashar, Ali Zum. 2001)

 

  1. b.      Analisis Usahatani

Tabel 1. Perbandingan Analisis Usahatani Antara Budidaya Selada Keriting var Grand Rapids pada THST dengan Secara Konvensional di Lapang untuk Lahan Seluas 300 m2

No.

Komponen

THST

Konvensional di Lapang

1. Jumlah Produksi per Hari (kg)

100

9.1

2. Biaya Produksi per Tahun (Rp)

27 590 510

2 541 620

3. Jumlah Panen per Tahun (kali)

45

43

4. Total Produksi per Tahun (kg)

32 200

2 675

5. Total Pendapatan per Tahun (Rp)

48 300 000

4 013 100

6. Keuntungan per Tahun

20 709 490

1 471 480

7. Untuk memenuhi permintaan per hari 100 kg memerlukan lahan seluas (m2)

300

3 300

8. Harga Dasar pada BEP (15 MST) (Rp)

1 112.9

2 003,3

Keterangan : Perhitungan Analisi Usahatani dilakukan menggunakan program VEGISS, Perencanaan Produksi Sayuran Komersial (Susila, 2004), dengan asumsi harga per kg = Rp 1,500,-

 

BAB III

PEMBAHASAN

  1. a.      Jenis Tanaman

Pengaplikasian THST yang berhasil tumbuh dan berproduksi normal selain selada adalah Caisin (Brassica rapa L. cv. group Caisin) var. Tosakan, Pakchoy (Brassica rapa L. cv. group Pak Choi) var. White tropical type, Kailan Brassica oleracea L. var. alboglabra) var.BBT 35, dan Kangkung (Ipomoea reptans) var.Bangkok LP1. Bobot yang dapat dipasarkan per panel tanaman Selada, Pakchoy, Caisin, Kailan, dan Kangkung pada saat panen (4 MST) masing-masing berturut – turut 960, 589, 622, 204, dan 866 g (Susila 2003). Berarti terlihat jelas bahwa selada sangat cocok menggunakan THST.

  1. b.      Umur Bibit, Volume dan Jenis Media

Penggunaan umur bibit 2, 3, dan 4 minggu setelah semai tidak memberikan perbedaan hasil yang dapat dipasarkan tanaman selada. Namun demikian dari segi kemudahan transplanting bibit umur 4 minggu lebih mudah apabila dibandingkan dengan bibit umur 2 atau 3 minggu. Media tanam busa sintetik memberikan hasil panen terbaik pada kedua volume media. Menurut Morgan (2000) dalam sistem NFT, kebutuhan terhadap oksigen bagi sistem perakaran dapat disuplai oleh sebagian lapisan akar yang tidak terendam dalam lapisan larutan hara. Ruang pori dalam media akan terisi oleh air atau udara. Busa sintetik meiliki aerasi yang baik sebab media ini memiliki daya pegang air dan mampu memfasilitasi pertukaran gas yang keluar masuk melalui media.

  1. c.       Sumber Larutan Hara

Sumber larutan hara AB mix dalam THST memberikan hasil panen yang terbaik apabila dibandingkan dengan NPK maupun tanpa larutan hara. Tanpa pemeberian larutan hara, kondisi air di lokasi percobaan masih mampu menunjang pertumbuhan tanaman selada sampai 2 minggu. Akan tetapi apabila tidak diberi hara kondisi pertumbuhan tanaman akan lebih rendah apabila dibandingkan dengan pemberian AB Mix. Penggunaaan pupuk daun juga dapat memperbaiki hasil panen, sehingga kemungkinan kombinasi AB mix melaui akar dengan pupuk melalui daun selanjutnya dapat di gunakan untuk peningkatan hasil dan kualitas tanaman selada. Namun demikian penggunaan NPK 14:12:14 ternyata tidak cocok untuk mendukung pertumbuhan tanaman selada dalam THST.

  1. d.      Konsentrasi Pemanfaatan Kembali Larutan Hara

Pada konsentrasi awal larutan hara sebesar 500 μS cm-1, terjadi penurunan bobot yang dapat dipasarkan sejalan dengan waktu pemanfaatan kembali larutan hara. Semakin lama larutan hara dimanfaatkan semakin rendah bobot yang dipasarkan. Akan tepai pada konsentrasi 1500 μS cm-1 pemanfaatan kembali larutan hara sampai musim ke tiga tidak mengakibatkan penurunan bobot yang dapat dipasarkan tanaman Selada. Setiap varietas Selada memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menyerap unsur hara dan ketahanan terhadap kondisi yang kurang menguntungkan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari empat varietas selada yang diuji, varietas Panorama dan Minetto memiliki bobot yang dapat dipasarkan per tanaman dan per panel yang lebih besar.

  1. e.       Naungan dan Pupuk Daun

Pengaruh interaksi antara naungan dengan pupuk daun terjadi pada bobot yang dapat dipasarkan tanaman Selada dan Kailan. Baik pada naungan maupun tanpa naungan aplikasi pupuk daun secara linier menurunkan bobot yang dapat dipasarkan per tanaman maupun per panel. Kondisi ini berlawanan dengan hasil aplikasi pupuk daun yang dilaksanakan oleh Napitupulu (2003). Pada tanaman Seledri, perlakuan naungan menurunkan bobot yang dapat dipasarkan dari 281 g menjadi 190 g. Sedangkan pemakaian pupuk daun samapai 2.5 mg/l secara linier juga menurunkan bobot yang dapat dipasarkan per panel.

Tabel 2. Rangkuman Hasil Kajian Pengembangan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung

No.

Komponen

Hasil Kajian

Reference

1. Jenis Tanaman

  1. Selada (Lacctuca sativa L.) var.Panorama, Grand Rapid
Susila (2003)
2. Bahan Panel Tanam Styrofoam High Density Susila (2003)
3. Ukuran Panel (p x l x t) cm 60 x 40 x 5 cm Susila (2003)
4. Jumlah Lubang Panel 77 lubang Susila (2003)
5. Jumlah Lubang Panen Tanam 15 lubang Susila (2003)
  Diameter Lubang 2.5 cm Susila (2003)
6. Jenis Media Tanam Rockwool, Busa sintetik Susila dan Koerniawati (2005)

 

7. Volume Media Tanam 20 cm3
8. Sumber Larutan Hara AB Mix Susila (2003)
9. Sumber Larutan Hara Stok A : yang terdiri atas :

KNO3, Ca(NO3)2, FeEDTA dan larutan hara

Stok B : KNO3, K2SO4, KH2PO4, MgSO4, MnSO4, CuSO4, (NH4)2SO4, Na2HBO3, ZnSO4 dan Na2HBO3, ZnSO4 dan Na2MoO4

Napitupulu (2003)
  Komposisi Larutan Hara (ppm) Komposisi hara yang digunakan adalah sebagai berikut (ppm) : Ca++177, Mg++24, K+210, NH4+25, NO3-233, SO4=113, PO4=60, Fe 2.14, b 1.2, Zn 0.26, Cu 0.048, Mn 0.18, dan Mo 0.046 Napitupulu (2003)
10. Umur Bibit 3-4 minggu Aziz (2003)
11. Konsentrasi Larutan Hara 1.09-1.15 mS.cm-1 Nufinayati (2004); Putri (2004), Wulan (2006), Sesmininggar
12. Jumlah Penanaman Kembali (siklus) Minimum 3 kali Nufinayati (2004); Putri (2004)
13. Naungan 55% bila diperlukan Pamujiningtyas (2005); Hikmah (2005); dan Phaisal (2005)
14. Pupuk Daun NPK : 14-12-14 bila diperlukan Pamujiningtyas (2005); Hikmah (2005); dan Phaisal (2005)
15. pH larutan Hara 6.5-7.0 Wulan (2006), Sesmininggar (2006),
17 DO (Disolved Oxygen) 3-4 ppm Wulan (2006), Sesmininggar (2006)
18. Suhu Larutan Hara 25-28o C Wulan (2006), Sesmininggar (2006)

 

  1. f.        Analisis Usahatani

Pada tabel 1 tentang Perbandingan Analisis Usahatani Antara Budidaya Selada Keriting var Grand Rapids pada THST dengan Secara Konvensional di Lapang untuk Lahan Seluas 300 m2 terdapat selisih antara THST dengan Secara Konvensional di Lapang  harga dasar pada BEP (Rp) ialah 890,4 terlihat bahwa lebih murah dengan THST. Jadi, dengan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung lebih menguntungkan daripada Secara Konvensional di Lapang untuk Lahan Seluas 300 m2.
 

BAB IV

KESIMPULAN

Dalam rangka pengembangan THST beberapa simpulan dapat ditarik yakni: Analisis Usaha Tani dilihat dari tingkat kesesuaian Teknologi Hidroponik Sistem Terapung (THST) dengan Teknologi Konvensional di Lapang ialah THST cocok diterapkan dan lebih menguntungkan dibandingkan secara Konvensional di Lapang dilihat dari hasil produksi dan hasil yang didapatkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bautista, O. K and T. G. Cadiz. 1986. Post harvest handling of vegetables, p.206- 227. In O. K. Bautista and R. C Mabesa (Eds.). Vegetable Production. College of Agriculture. University of the Philippines. Los Banos.

Ceritanet. 2008. Teknik Budidaya Sayuran secara Hidroponik. [http://cerianet-agricultur.blogspot.com/2008/12/teknik-budidaya-sayuran-secara.html] (online). Diakses pada 25 September 2012.

Grubben dan Sukprakarn. 1994. Lactuca sativa L, P. 186-190. In:J.S.Siemonsma and K.Piluek (eds.). Plant Resources of South-East Asia.Prosea Foundation. Bogor.

Mashar, Ali Zum .2001. Pupuk  Hayati  Bio P 2000 Z  Dan  Pengembangan Kedelai. Jakarta.

Morgan, L., 1999. Hydroponic Lettuce Production. Casper Publ. Pty Ltd. Narrabeen. 111p.

Napitupulu, L . 2003. Pengaruh aplikasi pupuk daun dan sumber larutan hara terhadap pertumbuhan dan produksi selada (Lactuca sativa L.) dalam teknologi hidroponik sistem terapung (THST) tanaman selada. Skripsi. Departemen BDP, Faperta IPB

Nurfinayati. 2004. Pemanfaatan berulang larutan hara pada budidaya selada (Lactuca sativa) dalam teknologi hidroponik sistem terapung (THST). Skripsi. Departemen BDP, Faperta IPB

Pamujiningtyas, B.K. 2005. Pengaruh naungan dan pupuk daun terhadap pertumbuhan dan produksi selada (Lactuca sativa L. var. Minetto) dalam teknologi hidroponik sistem terapung (THST). Skripsi. Departemen BDP, Faperta IPB.

Preece, J.E dan P.E. Read. 2005. The Biology of Horticulture: An Introductury textbook. Second edition. John Wiley & Sons, Inc. Australia. 514 p.

Rubatzky, V.E, and M. Yamaguchi. 1998. Sayuran Dunia 2 : Prinsip. Produksi dan Gizi. Ed. Ke-2. Terjemahan Catur Herison. Institut Teknologi Bandung. Bandung. Hal. 66-83.

Savage, A.D. 1985. Overview:Background, current situation, and future prospect, p.6 – 11. In: A.J. Savage (ed.). Hydroponics worldwide: State of the art in soiless crop production. Intl. Ctr. Special. Studies Inc. Honolulu, Hawaii.

Sesmininggar, A. 2006. Optimasi Konsentrasi Larutan Hara pada Budidaya Pakchoi (Brassica rapa L. cv. group Pak Choi) dengan Teknologi Hidroponik Sistem Terapung. Skripsi. Departemen BDP, Faperta IPB.

Simpson, S.P. dan M.C. Straus. 2010. Post-harvest Technology of Horticultural Crops. Oxford Book Company. Jaipur. India. 306 p.

Susila, A.D. and S.J. Locascio. 2001. Sulfur Fertilization for Polyethylene-mulched Cabbage. Proc.Fla.State Hort. Soc. 114:318-322

Susila, A.D. 2003. Pengembangan teknologi hidroponik sistem terapung (THST) untuk menghasilkan sayuran daun berkualitas. Laporan Hibah Penelitian. Project DUE-like Batch III. Program Studi Hortikultura, Faperta, IPB.

Susila, A.D. dan Y. Koerniawati. 2005. Pengaruh volume dan jenis media tanam pada pertumbuhan dan hasil tanaman selada (Lactuca sativa L.) dalam teknologi hidroponik sistem terapung (THST). Buletin Agronomi. XXXII (3):16-21

 

 

Budidaya Kedelai Lokal Dengan Teknologi Bio-Perforasi (BIO P 2000 Z)

TUGAS KELOMPOK

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

“Budidaya Kedelai Lokal Dengan Teknologi Bio-Perforasi (BIO P 2000 Z)”

 

 

 

Disusun oleh :

                NUR IZZATUL KHAMIDAH        115040101111139

                NORMA RACHMA                    115040113111004

 

 

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………….. 3

1.1  Latar Belakang……………………………………………………………………. 3

1.2  Tujuan…………………………………………………………………………….. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………………. 5

2.1 Budidaya Kedelai dengan Standar Teknologi Bio P 2000 Z……….. 5

2.2 Penanganan Pasca panen…………………………………………………….. 11

2.3 Pemasaran dan Analisi Biaya………………………………………………. 13

BAB III PEMBAHASAN………………………………………………………………. 16

3.1 Cara Kerja Mikro organisma Bio Perforasi………………………….. 16

3.2 Cara  Aplikasi  Bio P 2000 Z……………………………………………. 17

BAB IV KESIMPULAN……………………………………………………………….. 19

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Memberdayakan dan mengoptimalkan sumberdaya sektor pertanian khususnya  tanaman pangan dan perkedelaian  merupakan solusi pemberdayaan ekonomi rakyat  yang tepat dalam pembangunan ekonomi Nasional. Upaya menjadikan komoditi kedelai sebagai sektor pertanian riil untuk membangun ekonomi rakyat dengan program teknologi untuk swasembada pangan  merupakan pilihan yang tepat bagi Indonesia sebagai negara agraris yang sedang berkembang. Sebagai bahan pangan, kedelai oleh sebagaian besar rakyat digunakan untuk pangan tradisional seperti tahu-tempe, susu kedelai, kembang tahu, kecap, tauco, susu kedelai. Kedelai banyak digunakan pula sebagai bahan baku untuk  industri pangan modern seperti suplement bubur bayi, TVP, minyak goreng dan lain-lain serta industri pakan ternak.  Oleh karena itu kedelai sebagai sumber protein rakyat yang murah harus dapat disediakan  secara lokal agar aman dari kekhawatiran cemaran dampak rekayasa genetik.

Secara ekonomi, pengembangan agribisnis kedelai di Indonesia memiliki peluang yang cerah dan menarik jika budidaya (teknologi on farm) dapat memberikan peningkatan produktivitas secara nyata. Peluang pasar domestik kedelai masih terbuka lebar dan kebutuhan akan komoditas ini terus meningkat. Usaha-usaha peningkatan produksi kedelai perlu terus dikembangkan, namun pada kenyataannya laju produksi kedelai nasional masih belum mampu mengimbangi kebutuhan konsumsi yang terus meningkat. Perhatian para produsen kedelai terkonsentrasi bagaimana cara meningkatkan produksi yang berlipat ganda melalui input teknologi yang menjamin sehingga mampu terjamin  keuntungannya dengan harga jual yang bersaing di pasaran bebas.

Usaha-usaha meningkatkan  produksi  kedelai ini terus dipacu melalui alih teknologi Unggulan Nasional (Bio P 2000 Z). Teknologi ini di transfer kepada petani melalui penggambaran secara utuh dan penerapan yang mudah serta sederhana oleh sistem pendampingan teknis di lapangan. Pendampingan berfungsi untuk memberikan layanan ahli, penyuluhan  dan konsultansi teknologi serta pencegahan dan pemecahan masalah yang timbul sesegera mungkin di tingkat usaha tani.  Pendampingan merupakan bagian penting dalam menjamin kepastian proses produksi yang benar dan pengendalian/kontrol kondisi yang terjadi di lapangan.

Bio Perforasi membentuk dan mengkondisikan keseimbangan ekologis alamiah melalui sekumpulan jasa mikroorganisme unggul berguna yang dikondisikan, bereaksi dengan mikroba alami indogenus dan nutrisi; dan dengan menggunakan prinsip “membioperforasi“ secara alami oleh zat inorganik, organik dan biotik pada mahluk hidup (seperti tanaman) sehingga memacu dan/atau mengendalikan pertumbuhan dan produksinya. Ternyata dengan sistem demikian masalah menurunnya produksi komoditi pertanian dapat dipecahkan.

 

1.2  Tujuan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui produksi kedelai lokal melalui Teknologi Bio Perforasi (pupuk hayati bio P 2000 Z).

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1  Budidaya Kedelai dengan Standar Teknologi Bio P 2000 Z

Implementasi teknologi Bio P 2000 Z dalam budidaya tanaman kedelai  secara singkat dapat di jelaskan sebagai berikut :

  1. Pemilihan Lokasi

Lokasi  budidaya yang dipilih  harus memperhatikan  yang sesuai dengan syarat  ekologis hidup tanaman (terutama syarat agronomis), ketersediaan air, dapat dijangkau untuk masuknya saprotan dan pengangkutan hasil panen, mudah  diawasi dan  tidak bermasalah.  Sebelum menetapkan lokasi perkebunan kedelai maka perlu dikaji lebih mendalam karakter sosio-cultural masyarakat, ketepatan musim dan kelayakan lokasi dengan melalui survey agar budidaya tepat teknologi dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Garis besar mekanisme pelaksanaan pengembangan komoditas komersial dan prosedur penentuan kawasan pengembangan produksi dengan teknologi Bio P 2000 Z sebagai berikut:

  1. Penggunaan Benih dan Pemilihan Benih Bermutu

Pemilihan benih merupakan faktor penting  dalam mencapai keberhasilan budidaya. Benih yang bermutu tinggi/baik: adalah dari varietas unggul, adaptif/sesuai dengan lingkungan setempat, berdaya tumbuh lebih dari 80 % dan seragam, asal-usul  benih jelas (bersertifikat/jelas kualitas dan kemurnian). Benih ini berasal dari proses produksi yang memenuhi kriteria 6 (enam) tepat yaitu: (tepat varietas, mutu, waktu, lokasi jumlah dan harga).

Dengan memerapkan teknologi budidaya kaidah Bio P 2000 Z maka pemakaian benih dapat  dihemat 30% sampai 50%. Standar penghitungan benih ini bisa digunakan untuk memprediksi luas tanam intensif petani dengan cara berapa jumlah benih yang ditanam (sebelum sulam) dan berapa benih yang diisikan per lubang tanam.

  1. Pengolahan Tanah

Pengolahan  tanah untuk  membuat  tanah  menjadi gembur, bersih dari gulma dan menciptakan kesuburan fisik tanah sehingga sesuai untuk pertumbuhan  tanaman dan penyebaran akar tanaman yang lebih dalam. Pengolahan tanah perlu memperhatikan prinsip  konservasi lahan, agar kesuburan tanah dapat terjaga dan berkesinambungan dalam menunjang usahatani. Penggunaan peralatan mekanisasi  untuk pengolahan lahan  dapat difungsikan sekaligus dengan pencetakan  bedengan pada lahan berbentuk hamparan homogen akan sangat efisien dan memudahkan tahap pekerjaan lanjut.

Pada tanah pasir/gambut yang sering bermasalah dengan air tergenang dan pemadatan, maka perlu dibuat bedengan-bedengan dengan lebar  1,5 – 3 meter (5 – 8 baris tanaman).  Pada dasarnya cara dan teknis pengolahan tanah  disesuaikan dengan  jenis dan sifat tanah serta  komoditas tanaman pangan  yang akan  diusahakan.   Pemberian pupuk dasar, kompos dan pupuk kandang pada tanah pasir dapat dilakukan bersama dengan pengolahan tanah akan menghemat penggunaan tenaga kerja.  Pemberian kompos dengan dosis 3 – 6 ton per hektar dapat meningkatkan hasil secara nyata namun pada teknik Bio-perforasi disederhanakan melalui teknologi Kompos Hamparan yang lebih efisien. Selain pengolahan tanah yang sempurna, teknik penyiapan lahan minimum tillage  menjadi salah satu  alternatif  yang dapat ditunjang pemanfaatan teknologi Bio-Perforasi yang berasaskan  pertanian yang berwawasan lingkungan.

  1. Penanaman

Waktu tanam dipilih  pagi hari (dan sebaiknya sore hari) pada kondisi tanah lembab (basah) dan dilakukan secara serentak.  Sebelum benih ditanam wajib diuji kembali daya tumbuhnya sebagai kepastian pertumbuhan.  Penggunaan mesin tanam modern sangat berguna sebagai upaya tanam serentak, namun perlu diperhatikan efisiensinya dengan menyesuaikan kontur lahan. Pada penanaman dengan menggunakan mesin tanam dapat sekaligus dilakukan aplikasi pupuk dasar. Penanaman dengan menggunakan mesin agar memperhatikan kondisi tanah. Pada saat penanaman harus dipastikan betul kelem-baban tanah  50%-75%, jika penanaman dilakukan pada musim kering maka penanaman dilakukan sehari setelah lahan di leb/dibasahi secara merata supaya tanah lembab.

Jarak tanam disesuaikan dengan varietas dan umur tanaman dan memperhatikan sifat ketinggian dan percabangan tanaman dan penggunaan mekanisasi budidaya. Varietas yang berumur 85 – 100 hari jarak tanamnya 40 x 20 (kurang cabang) dan 40 x 30 (banyak cabang), sedangkan  kedelai var. genjah (umur 65 – 75 hari) jarak tanam 30 x 25 (tan. pendek 40 cm) dan 30 x 30 (tan. agak tinggi 60 – 85 cm) dan kedalaman lubang tanam  disesuaikan dengan kesuburan dan jenis tanah serta jenis tanaman yang diusahakan.  Pada penanaman musim kering jarak tanam dapat diperapat menjadi 75% -85% dari jarak normalnya.

Kedalaman lobang tanam yang ideal adalah 3 cm dan tiap lubang 2 – 3 biji (rata-rata tumbuh 2 tanaman) dengan penutup kompos yang dicampur pupuk untuk memacu pertumbuhan awal.  Tetapi sebelum ditanam benih kedelai perlu diperlakukan seed treatment.

  1. Pemupukan Mineral

Pemupukan kedelai yang ideal dilakukan  tiga kali: pertama saat 12 – 15 HST untuk menjaga pertumbuhan awal vegetatif yang normal.  Jumlah dan  dosis  pemupukan berimbangnya adalah 30 % dari total kebutuhannya (N,P,K).  Kedua, saat akan tanaman berbunga atau setelah pendangiran/penyiangan pada rentang umur 21 – 34 HST sesuai jenis kedelai (mulai/akan berbunga) dengan dosis 50 % berimbang dari  total kebutuhan pupuk. Ketiga, adalah pada umur 40 – 45 HST pemupukan penyempurna yang diberikan merata atau pada tanaman yang kurang pertumbuhannya dengan dosis sisa yaitu 20 % berimbang dari kebutuhan total pupuk.  Bersamaan atau sesaat setelah pemupukan, tanah dan tanaman disemprot dengan Bio P 2000 Z agar pupuk digunakan tanaman secara efektif.

Dosis total pemupukan disesuaikan dengan  kebutuhan jenis varietas tanaman dan ketersediaan hara dalam tanah berdasarkan rekomendasi setempat atau uji laborat tanah.  Dosis umum untuk kedelai adalah Urea/ZA  50 – 75 Kg, SP-36/TSP 50 – 100 Kg dan KCl 25–75 Kg). Pupuk kompos/kandang dapat diberikan pada lahan  yang kesuburannya rendah, seperti tanah pasir serta tanah yang berdrainase jelek. Jumlah pupuk kandang dapat diberikan minimal jika telah ditunjang dengan pemakaian Bio P 2000 Z.

Waktu  pemupukan terbaik adalah saat tanah agak basah (lembab)  setelah hujan dan waktu sore hari lebih baik dibanding  pagi hari.  Setelah pemupukan tanah tidak banjir/kehujanan selama 2 hari. Cara pemupukan  pupuk diletakkan di sebelah kiri atau kanan batang dengan jarak 5 – 8 cm.  Cara aplikasi pupuk terbaik adalah diletakkan dalam lubang tugal dan di tutup tanah dibanding cara lain seperti sebaran. Keterlambatan pemupukan dan pemupukan yang salah mengakibatkan  tanaman mengalami stress.

Pemupukan lain yang dapat digunakan lewat daun yaitu berupa POC (pupuk organik cair).  Aplikasinya melalui daun  yang sekaligus berfungsi sebagai nutrisi saat aplikasi bersama Bio P 2000 Z. Pupuk ini dapat dipakai untuk penguat bunga dan buah yang diaplikasikan pada saat pertumbuhan  13 – 21 HST dan 35 – 60 HST.  Agar diwaspadai penggunaan pupuk cair an-organik (PPC) dan ZPT/hormonal yang dikhawatir-kan kontra/menghambat reaksi kerja Bio P 2000 Z, maka penggunaan POC harus simultan.

  1. Penyulaman

Penyulaman dimaksudkan agar jumlah populasi tanaman ideal dapat dipertahankan sehingga hasil optimalnya tercapai, mempercepat penutupan tanah sehingga dapat menekan  gulma yang tumbuh  pada pertanaman yang terbuka. Penyulaman dari biji langsung dilakukan  pada umur 5-7 HST yaitu setelah tanaman tampak tumbuh  semua supaya selisih waktu tanam tersebut tidak terjadi perbedaan menyolok yang mengganggu panen serentak. Penyulaman dilakukan dengan menggunakan jenis  benih/bibit dari varietas yang sama.  Cara penyulaman yang terbaik dilakukan dengan cara transplanting (pindah tanam) dari tanaman yang seumur dari tanaman yang dipersiapkan di pinggir bedengan untuk sulam.  Saat penyulaman adalah pada umur tanaman 8 – 12 Hst dan waktunya sore hari  dengan mencabut tanaman berikut tanahnya agar akar tidak terluka, kemudian setelah ditanam  segera disiram air.

  1. Penyiangan dan Pendangiran

Dilakukan  untuk menekan populasi gulma sehingga tidak mengganggu tanaman.  Disamping itu, agar tanah menjadi gembur  sehingga membantu pertumbuhan tanaman dan akar tanaman. Pelaksanaan penyiangan I dilakukan pada saat periode kritis tanaman  biasanya dilakukan pada umur 2 – 3 minggu setelah tanam dan  sebelum berbunga atau 5 – 9 minggu HST.  Stelah penyiangan I, II segera pemupukan I, II dilakukan.  Keterlambatan penyiangan akan mengganggu pertumbuhan  tanaman dan kegiatan tahap selanjutnya.

Penyiangan yang dilakukan bersamaan waktu pemupukan  penting untuk membantu perataan dan penutupan pupuk sehingga lebih efisien. Penyiangan yang dilakukan sekaligus dengan pembubunan  baik untuk merangsang akar lateral  yang  lebih banyak dan tanaman lebih  kuat/tegar.  Segera setelah/bersamaan  penyiangan dilakukan penyemprotan Bio P 2000 Z,  penambahan nutrisi  pupuk daun untuk mempercepat Bio Fabrikasi serta  membantu penyerapan hara yang efektif.

  1. Pengairan/Pengaturan Air Irigasi

Pengaturan air di areal pertanaman sangat penting untuk menjaga  ketersediaan air yang cukup agar tumbuh-kembang  tanaman optimal dan mikroba unggul Bio P 2000 Z bekerja dan berkembang dengan normal, maka pengaturan drainase lahan (saluran drainase) diperlukan.  Waktu kritis tanaman, air  harus tersedia dan diperlukan pada saat: pertumbuhan awal, fase vegetatif cepat dan saat pembungaan serta pengisian polong sebagai periode kritis tanaman (12, 35, 45 dan 55 HST). Keterlambatan pengairan atau kekurangan air mengakibatkan tanaman strees.  Kekurangan air pada masa pertumbuhan mengakibatkan tanaman stagnasi/berhenti tumbuh (kecil/kerdil pendek), pada masa akan atau sedang berbunga menjadikan bunga rontok (gagal berbuah), dan pada masa pengisian polong mengakibatkan panen lebih cepat dan biji kecil-kecil (under size). Keterlambatan dan kesalahan irigasi pada tanaman  akan menurunkan produksi 18%  hingga 60 %.

Jumlah air Irigasi yang harus di masukkan  dalam lahan dengan cara irigasi alur (Furrow) maupun leb (genangan) dihitung sebagai berikut:

 

Air  yang diberikan (Qtu=m3/hari) = Ketebalan air di lahan (A=mtr x T) x Luas Lahan (A= ha) x 10.000 : interval pemberian (T = hari)

Debit pengaliran (Qs  = lt/dt/ha)          = (Qtu/86.400) x (1/(1- kehilangan air di petakan dan di saluran “L=  %”)).

  1. Pengendalian Hama dan Penyakit

Daerah  yang baru dibuka pada awalnya/umum rawan terhadap ledakan hama/ penyakit tanaman seperti tikus, belalang, dan ulat serta  babi hutan dan kera.   Hama utama di lahan baru adalah babi, tikus dan kera; dan yang perlu diwaspadai pada kedelai adalah Penggerek polong, lalat bibit, penggulung daun dan kepik.  Belalang kembara  umumnya menyerang setelah tanaman lain tidak ada seperti jagung, padi dan rumput-rumputan. Sedangkan penyakit tanaman yang sering dijumpai  adalah  jamur karat (saat kelembaban tinggi), meskipun jarang terjadi, namun perlu diwaspadai adanya serangan virus mosaik yang disebarkan aphis.  Serangan hama dapat menyebabkan kehilangan panen 30 % – 85%.

Pengendalian hama harus dilakukan secara dini, hati-hati dan mendapatkan perhatian yang serius. Pengenalan gejala serangan sangat penting seperti mengenal musim populasi tertinggi hama misal bulan Agustus–September, hujan disertai angin saat panas/siang hari atau musim kering tidak ada hujan sama sekali untuk serangan hama pada umumnya; bulan Oktober, Nopember dan Maret untuk lalat bibit; Langkah pengendalian secara preventif adalah pilihan yang paling tepat seperti sanitasi lahan, pemusnahan tanaman inang hama dan vektor penyakit, dan pemasangan perangkap seperti sex pheramon, perangkap tikus; seed and soil treatment, dan pengaturan kultur teknis penetrasi sinar untuk mencegah berkembangnya hama (aphis) dan hama lain yang berkembang pada darah kelembaba tinggi dan gelap/teduh.  Pengendalian dengan pestisida sebagai pilihan jika ambang ekonomi dan populasi mulai mengganggu melalui hasil monitoring lapangan yang intensif, harus dilakukan secara tepat dan hati-hati.  Pengendalian secara kimia ini dilakukan dengan prinsip pengendalian hama/penyakit  terpadu secara integral dan terkoordinasi  yang dilakukan dengan gerakan serentak pada wilayah/daerah serangan.

  1. Panen dan Pembijian

Panen dilakukan jika  tanaman  telah menunjukkan  siap panen (atau 90 % polong  telah masak) di lapang.  Pada tanaman kedelai tinggi > 90 cm sebelum panen tanaman ditegakkan dan sekaligus mengkoyak daun yang tua agar gugur ke bawah untuk mempercepat pengeringan.   Alat panen dipilih dengan menggunakan sabit bergerigi atau tajam agar tidak terjadi kehilangan yang berarti akibat rontok terkoyak. Jika panen menggunakan mesin potong, tanaman harus tegak dan kering seragam.  Waktu panen dipilih saat cuaca  terang, tidak hujan,  baik pagi atau sore hari agar terjaga kualitasnya dan tidak cepat rusak dalam penanganan pasca selanjutnya.  Setelah pemotongan segera brangkasan di jemur kering (brangkasan terbalik) dan dibijikan segera.  Pembijian dapat dilakukan dengan cara manual (dipukul) dengan syarat bahwa alas pembijian tidak keras dan brangkas terjemut dengan kering.  Penggunaan mesin perontok polong  perlu memperhatikan kekeringan polong dan pengaturan kecepatan putaran mesin.  Jangan menimbun hasil brangkasan terlalu lama atau lembab sebab biji dalam polong yang kering dapat berkecambah dan menurunkan kualitas biji.  Keterlambatan panen biji  pecah di lahan dan jika terkena hujan  biji busuk atau penampilan rusak sehingga kualitas turun.  Akibat  panen yang salah dapat terjadi kehilangan hasil sebesar 2 %  sampai 10 %.

(Mashar, Ali Zum. 2001)

2.2 Penanganan Pasca panen

Ada lima tahapan penanganan Pasca Panen Kedelai secara umum, namun untuk aplikasi teknologi Bio Perforasi (Bio P 2000 Z) sama antara lain :

  1. Pengeringan Brangkasan :

Dapat dilakukan dengan 2 cara : secara alami atau menggunakan para-para

  1. Pengeringan Secara Alami Brangkasan kedelai dijemur langsung di bawah sinar matahari. Dapat dilakukan di atas lantai jemur atau menggunakan alas plastik, sebaiknya dipilih yang berwarna hitam/gelap untuk mempercepat pengeringan. Brangkasan kedelai yang baru dipanen tidak boleh ditumpuk dalam timbunan besar, terutama pada musim hujan untuk mencegah kerusakan biji karena kelembaban yang tinggi.
  2. Pengeringan dengan para-para

Cara ini dilakukan terutama bila panenan dilaksanakan waktu musim hujan.

ü  Para-para dibuat bertingkat

ü  Brangkasan kedelai ditebar merata di atas para-para tersebut

ü  Dari bawah dialirkan panas dari sekam, untuk menurunkan kadar air

ü  Brangkasan dianggap cukup kering bila kadar airnya telah mencapai kurang lebih 18 %.

  1. Pembijian

Dapat dilakukan dengan pemukul (digebug) atau dengan mesin (Threster)

  1. Digebug/Dipukul

ü  Brangkasan yang cukup kering di atas lantai jemur/alas lain

ü  Dipukul dengan karet ban dalam sepeda atau kain untuk menghindarkan terjadinya biji pecah

ü  Biji yang terlepas dari polong ditampi

ü  Biji dijemur sampai kadar air mencapai kurang lebih 14 %

ü  Disimpan dalam wadah/karung yang bebas hama/penyakit

  1. Menggunakan alat mekanis (power thresher)

ü  Power thresther yang biasa digunakan untuk padi dapat dimanfaatkan untuk kedelai. Pada waktu perontokan dikurangi hingga mencapai kurang lebih 400 rpm.

ü  Brangkasan kedelai yang dirontokkan dengan alat ini hendaknya tidak terlalu basah

ü  Kadar air yang tinggi dapat mengakibatkan biji rusak dan peralatan tidak dapat bekerja dengan baik

  1. Pembersihan Untuk membersihkan biji kedelai yang telah dirontokkan dapat menggunakan alat sebagai berikut :

ü  Ditampi Tampi terbuat dari anyaman bambu, berbentuk bulat dan diberi bingkai penguat.

ü  Menggunakan mesin pembersih (Winower) Mesin ini merupakan kombinasi antara ayakan dengan blowe

  1. Pengemasan dan pengangkutan

ü  Biji kedelai yang telah bersih disimpan dalam wadah yang bebas hama dan penyakit seperti karung goni/plastik atau bakul

ü  Bila diangkut pada jarak jauh, hendaknya dipilih jenis wadah/kemasan yang kuat.

  1. Penyimpanan

ü  Tempat penyimpanan harus teduh, kering dan bebas hama/penyakit

ü  Biji kedelai yang akan disimpan sebaiknya mempunyai kadar air 9-14 %.

(Deptan, 2012)

2.3 Pemasaran dan Analisis Biaya

1.Pemasaran

Pemasaran produksi kedelai lokal melalui Teknologi Bio Perforasi (pupuk hayati bio P 2000 Z) dapat dilakukan dengan beberapa pola kerjasama yang dilakukan berdasarkan keterlibatan dan peran serta dengan pembangian hasil yang proporsional antara lain:

  1. Pola kerjasama  dengan petani/koperasi  yang difasilitasi langsung oleh Bank

Petani dengan ststus lahan dan minat bekerja sama menyampaikan sah bukti kepemilikan lahan yang akan ditanami dengan kedelai bersedia bekerjasama dengan dibuktikan surat perjanjian dengan perusahaan sebagai jaminan kesanggupan kerja di atas lahan miliknya dan bersedia mentaati teknologi yang diberikan.

  1. Pola  Kerjasama  Antar Perusahaan Swasta dan Koperasi

Pola kerjasama ini adalah mutualistik sebagai model penggabungan missi yang sama untuk mengoptimalkan cor bisnis masing-masing sebagai  gabungan usaha yang berbentuk konsorsium  yang terdiri dari kekuatan Perusahaan teknologi dan budidaya, Perusahaan penyedia lahan dengan status jelas dan pengolahan mekanisasi modern dan penyediaan dan pemberdayaan tenaga kerja/SDM serta jaring pengaman sosial kemasyarakatan.   Pola ini budidaya model ini ideal untuk tujuan produksi kedelai/pangan yang berkelanjutan yaitu dengan “Tumpang-Gilir” antara tanaman perkebunan/Hutan Tanaman Industri dengan kedelai.  Hutan Industri yang memiliki siklus tebang-olah- tanam secara rutin dan pasti, sedangkan tenggang waktu antara  tebang dan tanam baru  tanaman pokok terdapat waktu yang cukup antara 1 -  2 tahun.

  1. Pola program pangan Nasional bersama pemerintah dan/atau assosiasi

Strategi mendasar memacu dan memaksimalkan produksi pangan untuk memenuhi kecukupan pangan Nasional termasuk kedelai dapat ditempuh melalui: a. Kawasan produksi pangan andalan melalui program optimalisasi daerah-daerah pertanian ber-irigasi teknis dan menciptakan/membuka pencetakan daerah potensi pertanian menjadi kawasan industri pertanian pangan di luar Jawa; b. Program pembentukan kantong-kantong potensial cadangan pangan lokal pada lahan kering/tadah hujan melalui pemanfaatan lahan tidur  dan pemanfaatan tanaman penyela atau tumpang sari atau tumpang gilir pangan pada tanaman perkebunan dan Hutan Tanaman Industri.

(Mashar, Ali Zum. 2001)

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1 Cara Kerja Mikroorganisme Bio Perforasi

Teknologi ini lebih dari sekedar penyubur atau pupuk. Dalam tanah, mikro-organisme itu menambah penyediaan unsur hara yang dapat diserap tanaman dari sumber yang tidak tersedia melalui penyerapan kesetimbangan energi di lingkungan, produksi ikatan organik aktif,  mineralisasi bentuk unsur terikat secara kompleks dalam bahan organik, pelarutan senyawa inorganik, dan fixasi nitrogen udara  sehingga  menjalankan fungsi kompos hamparan dan Bio Fabrication (pabrik hara hidup) secara alamiah. Mikro-organisme unggul berguna yang disemprotkan pada permukaan daun dan ranting hidup dari cairan gutasi dan bekal nutrisi dan unsur hara yang sebelumnya telah ditambahkan di daun. Mikro-organisme selanjutnya memproduksi berbagai senyawa organik sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman dan mikro-biota tanah. Bio-Aktif ini selanjutnya menghasilkan senyawa ionik dan energi siap serap, membantu masuknya hara, menggiatkan mitosis-miosis-diferensiasi sel, memperlancar transfer energi kinetik, dan meningkatkan (mengaktifkan jalur hill) fotosintesis.   Hasil dari aktivitas mikro-organisme itu menjadikan lingkungan pertumbuhan akar (tanah) menjadi sangat kondusif bagi tanaman dan merangsang tumbuh kembang serta daya produksi tanaman meningkat.

(Mashar, Ali Zum. 2001)

Sebagai contoh teknologi pupuk hayati Bio P 2000 Z yang diramu dari kumpulan mikroorganisme indegenus terseleksi bersifat unggul berguna yang dikondisikan agar dapat hidup harmonis bersama saling bersinergi dengan kultur mikro-organisme komersial serta dibekali nutrisi dan unsur hara mikro dan makro yang berguna bagi mikroba dan komoditas budidaya. Sekumpulan mikro-organisme unggul berguna dikemas dalam pupuk hayati Bio Perforasi terdiri dari dekomposer (Hetrotrop, Putrefaksi), pelarut mineral dan phospat, fiksasi nitrogen, Autotrop (fotosintesis) dan mikroba fermentasi serta mikroba penghubung (seperti Mycorrhiza) yang bekerja bersinergi dan nutrisi bahan organik sederhana, seperti senyawa protein/peptida, karbohidrat, lipida, Vitamin, senyawa sekunder, enzim dan hormon; serta unsur hara makro: N, P, K, S, Ca, dan lainnya berkombinasi dengan hara mikro: seperti Mg, Si, Fe, Mn, Zn, Mn, Mo, Cl, B, Cu, yang semua unsur yang disebut di atas diproses melalui cara fermentasi.

(Hutapea Jaegopal dan Mashar Ali Zum, 2010)

3.2 Cara  Aplikasi  Bio P 2000 Z

Aplikasi pupuk hayati Bio-P 2000 Z berupa larutan yang disemprotkan dan/atau disiramkan ke tanah dan permukaan daun dan jaringan tumbuh serta ranting tanaman dan/atau kombinasinya dengan memanfaatkan efek sinergi hasil interaksi pupuk hayati (kultur-campuran mikro-organisme unggul berguna dengan stimultannya). Efek sinergi tersebut diwujudkan dalam bentuk : (1) diredamnya faktor penghambat tumbuh kembang tanaman yang dijumpai dalam tanah, (2) adanya produksi senyawa bio-aktif seperti enzim, hormon, senyawa organik, dan energi kinetik yang memacu metabolisme tumbuh kembang akar dan bagian atas tanaman, (3) fotosintesis makin efisien karena jalur reaksi Hill teraktifkan, (4) fixasi nitrogen non-simbiotik dan simbiotik meningkat, (5) pasok dan penyerapan hara oleh akar makin efesien, lancar, dan berimbang, (6) ketahanan internal terhadap hama dan penyakit meningkat, dan (7) produksi dan mutu hasil meningkat.

Efek lain yang bersahabat dari teknologi Bio Perforasi ialah terhadap lingkungan tanah dan tanaman. Bersama dengan mikro-biota indegenus, pupuk hayati Bio P 2000 Z yang diintroduksikan ke dalam tanah, permukaan daun dan ranting membentuk keseimbangan ekologi baru dengan meredam aktivitas mikro-organisme patogen yang tidak diinginkan, tetapi memicu performa mikro-organisme bersahabat. Keseimbangan ekologi baru ini sangat kondusif bagi tumbuh kembang tanaman, tetapi aman bagi kehidupan lain.  Populasi mikroba dalam larutan Bio P 2000 Z mampu mencapai  kepadatan  5 x 1010   sel/ml  dalam bentuk dorman dan injury yang akan mempermudah  pengemasan dan memperbanyaknya  sehingga pada pengenceran 200 – 300 kualitas terjaga.

Pupuk hayati Bio P 2000 Z  adalah lebih dari sekedar pabrik pupuk (Bio Fabrications) dan bukan sekedar penyubur ataupun pupuk daun. Larutan Bio P 2000 Z merupakan kultur biang mikroba unggul berguna bagi tanah dan kehidupan di dalamnya (tanaman, hewan dan jasad renik) yang bekerja melalui prinsip dan kaidah Bio Perforasi, menggerakkan kesetimbangan bio-mikro ekologi, nutrisi, dan energi yang berguna bagi tumbuh kembang yang positif kehidupan produktif.

  • Aplikasi Bio P 2000 Z  Untuk  Tanaman, Bio P 2000 Z  diencerkan 200  sampai 300 kali  dengan  cara :
  1. Larutkan  0, 4 – 1 kg urea dan 1 kg  gula tebu (gula tebu, tetes, gula pasir) dalam 200 – 300 liter air, kemudian larutkan 1 liter Bio P 2000 Z, (atau dalam 15 liter air (1 sprayer)  ditambahkan   3 – 5 sendok makan gula tebu dan 2 – 4 sendok makan urea,  50 – 75 ml Bio P 2000 Z), difermentasikan selama 12 – 48 jam (optimal 48 jam) dalam drum plastik tertutup di tempat yang gelap.
  2. Semprotkan merata ke seluruh bagian tanaman (trutama jaringan muda). Jika hasil penyemprotan sebelumnya terlalu subur untuk pertumbuhan, maka dosis urea selanjutnya dikurangi menjadi 1 – 2 cendok makan.
  3. Saat penyemprotan tambahkan ke dalam larutan Bio P 2000 Z  hasil fermentasi tersebut pupuk organik cair  sesuai dosis aturan pakainya.
  4. Waktu yang tepat untuk penyemprotan adalah saat sinar matahari tidak kuat (pagi/sore/petang hari),  daun segar (tidak layu) atau daun lembab/kebasah-basahan oleh embun/gutasi.
  • Aplikasi Bio P 2000 Z  Untuk Tanah

Pupuk  hayati  Bio P 2000 Z disemprotkan/disiramkan pada tanah bersamaan dengan waktu pengolahan tanah yaitu 3-5 hari sebelum  sayuran dan tanaman pangan musiman di tanam,  untuk meningkatkan kesuburan dan stabilitas tanah. Bio P 2000 Z yang disemprotkan adalah larutan fermentasi selama 12 -  48  jam  (terbaik/optimal 48 –72 jam) hasil pengenceran 100  – 200 kali Bio P 2000 Z (yaitu hasil larutan 100-200 liter Air : 1 liter Bio P 2000 Z : 1 kg Gula : 1-1.5 kg urea). Jika penanaman dilakukan terlebih dahulu, maka penyemprotan tanah dilakukan 5 – 6 Hst (bersamaan waktu penyulaman).  Penyemprotan dilakukan saat sinar matahari langsung tidak kuat.  Kondisi tanah dalam keadaan lembab/basah atau setelah diairi/hujan kecil namun tidak becek/banjir dan gembur. Penyiraman yang dilakukan bersama aplikasi pupuk dasar/N:P:K, pada tanaman perkebunan/ hortikultura  memberikan hasil pertumbuhan yang lebih baik.

(Mashar, Ali Zum. 2001)

 

BAB IV

KESIMPULAN

 

Bio Perforasi secara komprehenship membentuk dan mengkondisikan keseimbangan ekologis alamiah melalui sekumpulan jasa mikro-organisme unggul berguna yang dikondisikan, bersinergi dengan mikroba alami indogenus dan nutrisi; dan dengan menggunakan prinsip “membioperforasi“ secara alami oleh zat inorganik, organik dan biotik pada mahluk hidup (seperti tanaman) sehingga memacu dan/atau mengendalikan pertumbuhan dan produksinya. Bio perforasi berupa larutan yang disemprotkan dan/atau disiramkan ke tanah dan permukaan daun dan jaringan tumbuh serta ranting tanaman dan/atau kombinasinya dengan memanfaatkan efek sinergi hasil interaksi pupuk hayati (kultur-campuran mikro-organisme unggul berguna dengan stimultannya).

DAFTAR PUSTAKA

Deptan .2012. Penanganan Pasca Panen Kedelai. Online: [http://www.deptan.go.id/teknologi/tp/tkedelai7.htm]. Diakses pada tanggal 16 September 2012.

Hutapea Jaegopal dan Mashar Ali Zum. 2010. Ketahanan Pangan Dan Teknologi Produktivitas Menuju Kemandirian Pertanian Indonesia. Jakarta

Inilah Jabar. 2012. Krisis Kedelai di Indonesia. Online : [http://www.inilahjabar.com/read/detail/1886793/krisis-kedelai-di-negeri-latah]. Diakses pada tanggal 16 September 2012.

Kompasiana .2012. Krisis Kedelai di Indonesia. Online : [http://regional.kompasiana.com/2012/07/27/indonesia-krisis-kedelai-ini-solusinya/]. Diakses pada tanggal 16 September 2012.

Mashar Ali Zum, 2000, Teknologi Hayati Bio P 2000 Z Sebagai Upaya untuk Memacu Produktivitas Pertanian Organik di Lahan Marginal. Makalah disampaikan Lokakarya dan pelatihan teknologi organik di Cibitung 22 Mei 2000.

Mashar, Ali Zum .2001. Pupuk  Hayati  Bio P 2000 Z  Dan  Pengembangan Kedelai. Jakarta.

Mashar, Ali Zum .2001. Budidaya Kedelai Dengan Teknologi Bio Perforasi. Jakarta.

Perbanyakan Bibit Mawar dengan Cara Okulasi Mata Berkayu

TUGAS KELOMPOK

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

“Perbanyakan Bibit Mawar dengan Cara Okulasi Mata Berkayu”

 

 

Disusun oleh :

KELOMPOK 16

                        NUR IZZATUL KHAMIDAH        115040101111139

                        NORMA RACHMA                     115040113111004

 

 

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

            Mawar merupakan salah satu tanaman kebanggaan Indonesia dan sangat populer di mata dunia karena memiliki penampilan yang cantik, indah, dan menarik. Selain itu, memiliki nilai ekonomi dan sosial yang cukup tinggi untuk dijadikan komoditas pedagangan dan komersial. Permintaan mawar terus meningkat seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat. Mawar dapat dibudidayakan sebagai bunga potong, tanaman penghias taman, dan sebagai bunga pot. Hal ini memberikan isyarat bahwa usaha budidaya mawar berorientasi agribisnis yang prospeknya sangat cerah.

Tanaman hias terbukti berpotensi untuk menjadi suatu sektor penggerak tambahan bagi pengembangan berbagai usaha yang sangat bermanfaat dalam memberikan kontribusi terhadap PDB dan pendapatan petani. Hal tersebut telah dikaji oleh berbagai kelompok serta masyarakat produsen dan pedagang hortikultura dunia. Pengembangan industri bunga di Indonesia telah dimulai melalui penggerakan selama 40 tahun dan kini siap untuk meluncurkan sektor bunga lainnya agar dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan dalam rangka kesejahteraan bangsa di masa yang akan datang.

Secara konvensional, perbanyakan mawar dilakukan dengan cara okulasi. Namun okulasi, baru dapat dilakukan setelah batang bawah berumur 6 bulan. Dengan cara okulasi mata berkayu perbanyakan mawar dapat dilakukan lebih cepat, karena okulasi pada setek langsung, tanpa ditanam lebih dahulu. Hasil terbaik pada okulasi yang dilakukan pada umur 4 minggu setelah setek batang bawah ditanam.

1.2 Tujuan

            Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penulisan makalah adalah untuk mengetahui teknologi produksi teknik perbanyakan bibit mawar dengan cara okulasi mata berkayu.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Deskripsi Teknologi

2.1.1    Bunga Mawar

Mawar adalah tanaman semak dari genus Rosa dan nama bunga yang dihasilkan tanaman. Mawar liar yang terdiri lebih dari 100 spesies sebagian besar tumbuh di belahan bumi utara yang berudara sejuk. Spesies mawar umumnya merupakan tanaman semak yang berduri atau tanaman memanjat yang tingginya  mencapai 2 sampai 5 meter. Meskipun jarang ditemui, tinggi tanaman mawar yang merambat di tanaman lain dapat mencapai 20 meter.

Sebagian besar spesies mempunyai daun yang panjangnya antara 5-15 cm, dua-dua berlawanan (pinnate). Daun majemuk yang tiap tangkai daun terdiri dari paling sedikit 3 atau 5 hingga 9 atau 13 anak daun dan daun penumpu (stipula) berbentuk lonjong, pertulangan menyirip, tepi tepi beringgit, meruncing pada ujung daun dan berduri pada batang yang dekat ke tanah. Mawar sebenarnya bukan tanaman tropis, sebagian besar spesies merontokkan seluruh daunnya dan hanya beberapa spesies yang ada di Asia Tenggara yang selalu berdaun hijau sepanjang tahun.

Bunga terdiri dari 5 helai daun mahkota dengan perkecualian Rosa sericea yang hanya memiliki 4 helai daun mahkota. Warna bunga biasanya putih dan merah jambu atau kuning dan merah pada beberapa spesies. Ovari berada di bagian bawah daun mahkota dan daun kelopak.

(Wiwit, 2009)

2.1.2    Buah mawar (rose hips) dari Rosa canina

Bunga menghasilkan buah agregat (berkembang dari satu bunga dengan banyak putik) yang disebut rose hips. Masing-masing putik berkembang menjadi satu buah tunggal (achene), sedangkan kumpulan buah tunggal dibungkus daging buah pada bagian luar. Spesies dengan bunga yang terbuka lebar lebih mengundang kedatangan lebah atau serangga lain yang membantu penyerbukan sehingga cenderung menghasilkan lebih banyak buah. Mawar hasil pemuliaan menghasilkan bunga yang daun mahkotanya menutup rapat sehingga menyulitkan penyerbukan. Sebagian buah mawar berwarna merah dengan beberapa perkecualian seperti Rosa pimpinellifolia yang menghasilkan buah berwarna ungu gelap hingga hitam.

Pada beberapa spesies seperti Rosa canina dan Rosa rugosa menghasilkan buah rose hips yang sangat kaya dengan vitamin C bahkan termasuk di antara sumber vitamin C alami yang paling kaya. Buah rose hips disukai burung pemakan buah yang membantu penyebaran biji mawar bersama kotoran yang dikeluarkan. Beberapa jenis burung seperti burung Finch juga memakan biji-biji mawar.

(Nurmalinda, 2006)

Pada umumnya mawar memiliki duri berbentuk seperti pengait yang berfungsi sebagai pegangan sewaktu memanjat tumbuhan lain. Beberapa spesies yang tumbuh liar di tanah berpasir di daerah pantai seperti Rosa rugosa dan Rosa pimpinellifolia beradaptasi dengan duri lurus seperti jarum yang mungkin berfungsi untuk mengurangi kerusakan akibat dimakan binatang, menahan pasir yang diterbangkan angin dan melindungi akar dari erosi. Walaupun sudah dilindungi duri, rusa kelihatannya tidak takut dan sering merusak tanaman mawar. Beberapa spesies mawar mempunyai duri yang tidak berkembang dan tidak tajam.

Mawar dapat dijangkiti beberapa penyakit seperti karat daun yang merupakan penyakit paling serius. Penyebabnya adalah cendawan Phragmidium mucronatum yang menyebabkan kerontokan daun. Penyakit yang tidak begitu berbahaya seperti Tepung Mildew disebabkan cendawan Sphaerotheca pannosa, sedangkan penyakit Bercak Hitam yang ditandai timbulnya bercak-bercak hitam pada daun disebabkan oleh cendawan Diplocarpon rosae. Mawar juga merupakan makanan bagi larva beberapa spesies Lepidoptera.

(Wiwit, 2009)

2.1.3 Perbanyakan Bibit Mawar dengan Cara Okulasi Mata Berkayu

Okulasi adalah menempelkan mata tunas pada batang muda jenis tanaman antarvarietas atau antarspesies. Menggabungkan dua jenis tanaman hias yang bertujuan untuk menghasilkan tanaman yang memiliki sifat-sifat baik dari kedua induknya. Jenis tanaman hias yang dapat diperbanyak dengan okulasi diantaranya adalah mawar, puring, dan lain-lain.

Hal yang penting untuk diperhatikan dalam perbanyakan okulasi adalah persyaratan batang bawah dan batang atas. Batang bawah harus memenuhi persyaratan, antara lain pertumbuhan dan perakarannya baik (kuat), tahan kekurangan atau kelebihan air, memiliki pertumbuhan yang seimbang dengan batang atas, dan tahan terhadap penyakit tular tanah. Sementara persyaratan batang atas adalah berproduksi tinggi (misalnya daya hasil bunga), berpenampilan menarik, tahan terhadap penyakit, dan digemari oleh masyarakat luas.

Mengokulasi (menempel) dapat dilakukan dengan metode T (Shiled bud), jendela, dan Forkert. Metode okulasi yang paling umum dipraktekkkan dan dianjurkan adalah metode Forkert.

(Darliah, 2003)

2.2 Penanganan Pascapanen

Penanganan pascapanen menurut Dinas Pertanian DKI (2002)  adalah sebagai berikut:

2.2.1 Pengumpulan

1)      Pengumpulan Pascapanen Bunga Potong Mawar:

  • Kumpulkan bunga segera seusai panen dan masukkan ke dalam wadah (ember) yang berisi air bersih. Posisi tangkai bunga diatur sebelah bawah terendam air.
  • Angkut seluruh hasil panen ke tempat pengumpulan hasil untuk memudahkan penanganan berikutnya.

2)      Pengumpulan pascapanen

Kumpulkan kuntum bunga mawar yang baru dipetik ke dalam suatu wadah (keranjang plastik, tampah/ember berisi air bersih).

 

2.2.2 Penyortiran dan Penggolongan

1)      Sortir bunga yang rusak, layu, dan busuk lalu pisahkan secara tersendiri.

2)      Klasifikasikan bunga berdasarkan jenis, ukuran bunga, panjang tangkai bunga dan warna bunga yang seragam.

Pengklasifikasian berdasarkan panjang tangkai bunga dipisahkan ke dalam dua grade. Grade A bunga dengan panjang tangkai lebih dari 60 cm, grade B panjang tangkai kurang dari 60 cm.

2.2.3 Penyimpanan

1)     Untuk bunga potong mawar, simpan bunga yang telah dikemas ke dalam ruang penyimpanan bersuhu dingin (cold storage) dengan kelembaban relatif stabil 90%.

2)     Untuk bunga mawar tabur, simpan di tempat/ruangan teduh, dingin, lembab, dan sirkulasi udara baik.

 

2.2.4 Pengemasan dan Pengangkutan

1)     Bunga yang telah diklasifikasikan diikat dan disatukan menjadi suatu ikatan-ikatan. Tiap ikatan berisi 20 tangkai bunga.

2)     Ikatan-ikatan bunga dikemas ke dalam keranjang/kardus karton dan sirkulasi udara baik.

3)     mengangkut bunga mawar ke tempat sasaran pasar.

4)     pemberian alas pada pangkai tangkai bunga dengan kapas basah atau dimasukkan ke dalam botol plastik berisi air, terutama untuk tujuan pengiriman jarak jauh.

5)     menambahkan remukan es di sekitar wadah (kontainer) bunga mawar agar kondisi ruangan alat angkut cukup dingin dan lembab.

 

2.3 Pemasaran dan Analisis Usahatani

2.3.1 Pemasaran

Mawar yang dipasarkan di pasar-pasar bunga dalam negeri, misalnya: pasar bunga Rawa Belong(Jakarta), pasar bunga Wastu Kancana (Bandung), pasar bunga Kayoon (Surabaya), dsb, terdiri dari mawar lokal dan mawar impor yang sebagian sudah dibudidayakan di Indonesia. Bunga yang dipasarkan ke Rawa Belong dan Wastu Kencana (Bandung), sebagian besar berasal dari Cipanas dan Bandung, sedangkan bunga yang dipasarkan di pasar kayoon (Surabaya) umum berasal dari daerah batu (Malang). Untuk memenuhi permintaan konsumen di Jakarta, bunga yang dipasarkan di pasar bunga Rawa Belong juga didatangkan dari daerah Batu (Malang). Bila dilihat dari penampilannya, mawar yang berasal dari Batu, Malang tersebut merupakan mawar impor, tetapi dengan kualitas yang sudah menurun, yaitu diameter bunga relatif lebih kecil dibandingkan dengan mawar impor yang beredar saat ini. Namun demikian mawar yang berasal dari Malang ini cukup diminati oleh konsumen Jakarta. Hal ini disebabkan karena harganya relatif murah, yaitu sekitar Rp 1000,-/tangkai, sedangkan harga mawar impor berkisar Rp 1750-2000,-/tangkai dan bahkan lebih mahal, tergantung dari jenis dan warnanya. Bunga-bunga yang dipasarkan ke pasar-pasar bunga tersebut dibawa oleh pedagang pengumpul dari sentra-sentra produksi bunga. Penjualan dilakukan dalam bentuk ikatan, untuk bunga local harga penjualannya adalah Rp 7000-8000/ikat, dan rata-rata setiap pedagang membawa sekitar 600 ikat/minggu. Bila dibandingkan dengan krisan dan gladiol, harga jual bunga mawar relatif lebih tinggi, terutama untuk jenis-jenis baru. leh karena itu, permintaan terhadap mawar relatif lebih sedikit, mawar lebih banyak digunakan dalam bentuk rangkaian berdasarkan pesanan atau dijual dalam bentuk satuan sebagai ucapan kasih sayang terhadap orang-orang yang dikasihi, ucapan selamat untuk yang baru selesai ujian, dan sebagainya. Namun demikian, pada event tertentu, permintaan terhadap mawar cukup tinggi, misalnya pada saat Valentine Day. Bahkan pada event tersebut, kadang-kadang produsen bunga tidak mampu memenuhi permintaan terhadap mawar.

(Satsijati et al, 2004).

2.3.2 Analisis Usahatani

            Perkiraan analisis usaha budidaya mawar seluas 1100 m2 selama 1 tahun yang dilakukan pada tahun 1999 di daerah Bogor. Produksi per m2/tahun minimal 50 kuntum bunga dan harga penjualan terendah Rp. 200,-/kuntum.

            Tabel 1. Analisis usahatani bunga mawar

No.

Komponen

Kegiatan

Hasil Kajian

1. Biaya produksi Sewa lahan Rp 175.000,-
  Bibit ± 3300 batang  = Rp 1.750.000,-
  Pupuk -Pupuk kandang 2000 kg @ Rp 150,- = Rp 300.000,-

-Urea 30 kg @ Rp 1.500,- = Rp 45.000,-

-NPK 20 kg @ Rp. 2.000,- = Rp 40.000,-

-TSP 100 kg @ Rp. 1.800,- = Rp 180.000,-

-KCL 30 kg @ Rp. 1.650,- = Rp 49.500,-

-Pupuk daun ± 5 liter @ Rp. 40.000,- = Rp 200.000,-

  Pestisida-Furadan 2 kg @ Rp 16.000,- = Rp 32.000,-

-Insektisida 4 kg @ Rp 25.000,- = Rp 100.000,-

-Fungisida 4 liter @ Rp 50.000,- = Rp 200.000,-  Tenaga kerja-Pengolahan tanah borongan = Rp 100.000,-

-Pembuatan bedengan 10 HKP = Rp 100.000,-

-Pemasangan pupuk kandang = Rp 60.000,-

- Penanaman 10 HKW = Rp 75.000,-

-Pengairan selama 1 tahun = Rp 100.000,-

-Penyiangan & pemupukan susulan 1 tahun = Rp 120.000,-

-Pemangkasan = Rp 30.000,-

-Penyemprotan selama 1 tahun = Rp 300.000,-

-Panen dan pascapanen = Rp 300.000,-

-Penunggu 1 orang 1 tahun = Rp 1.500.000,-  Biaya cadanganRp 500.000,-Jumlah biaya produksiRp 5.756.500,-2. Pendapatan Rp 55.000,- x Rp 200,- = Rp 11.000.000,-3.Keuntungan Rp 5.243.500,-4.Keuntungan per bulan Rp 436.950,-5.Parameter kelayakan usaha  Rasio output/input = 1,911

Catatan : HKP = Hari Kerja Pria, HKW = Hari Kerja Wanita

Sumber : Balai Penelitian Tanaman Hias,Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian.

 

BAB III

PEMBAHASAN

3.1  Teknik Okulasi Mata Berkayu

Teknik okulasi mata berkayu menurut Darliah (2003) adalah sebagai berikut.

3.1.1        Persiapan Media

  • siapkan media untuk penanaman batang bawah
  • Masukkan media ke dalam polybag ukuran 10 – 12 cm

3.1.2        Persiapan Batang Bawah

  • Ambil batang mawar pagar yang cukup tua, buang daun-daunnya.
  • Potong bagian pucuk (± 1/3 panjang batang), lalu buang
  • Sisanya disetek (dipotong-potong) dengan panjang 15 cm.

3.1.3        Persiapan Batang Atas atau Entras

  • Siapkan tangkai bunga mawar saat bunga sedang mekar dari varietas yang diinginkan
  • Buang semua daun dan bunganya.

3.1.4        Pelaksanaan Okulasi Mata Berkayu

  • Siapkan setek/batang bawah
  • Buang duri di sekitar batang yang akan diokulasi lalu bersihkan
  • Buatkan keratan untuk batas okulasi bawah.
  • Buatkan irisan ke arah bawah dengan mengikutkan sedikit jaringan kayu, arahkan pisau hingga irisan berakhir pada keratan yang telah dibuat. Ukuran irisan kira-kira memiliki lebar 4-5 mm, panjang 1,5-2 cm, dan tebal 1-2 mm.
  • Ambil mata tunas dan entres. Buatlah irisan berupa kepingan dengan mata tunas terletak ditengah-tengah. Ukuran irisan sama dengan irisan pada batang bawah.
  • Tempelkan kepingan mata tunas berkayu ke celah yang telah dibuat pada batang bawah.
  • Ikat dengan menggunakan parafilm atau tali rafia.
  • Simpan bibit di bawah naungan.

3.1.5        Perawatan

  • Pemangkasan tunas-tunas dari batang bawah. Lakukan setelah okulasi.
  • Penyiangan gulma di media tumbuh.
  • Penyiraman, usahakan media tetap lembab tetapi tidak terlalu basah.
  • Pemupukan, 1-2 g pupuk NPK/pot seminggu setelah keluar tunas.

3.1.6        Penanaman

Bibit dapat ditanam sekitar 2 bulan setelah dilakukan okulasi mata berkayu.

3.2  Analisis Usahatani

Pada tabel 1 tentang analisis usaha budidaya mawar seluas 1100 m2 selama 1 tahun yang dilakukan pada tahun 1999 di daerah Bogor. Produksi per m2/tahun minimal 50 kuntum bunga dan harga penjualan terendah Rp. 200,-/kuntum. Maka didapatkan bahwa teknologi produksi bunga mawar dengan okulasi mata berkayu menguntungkan dan pengaplikasian teknologi tersebut sangat mudah.

 

BAB IV

KESIMPULAN

 

Dari tujuan pembuatan makalah dapat disimpulkan bahwa teknologi produksi dengan perbanyakan bibit mawar dengan cara okulasi mata berkayu dan aplikasinya sangat mudah diterapkan serta biaya untuk teknologi okulasi ringan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Andriyatmoko, Sigit. 2007. Okulasi Mawar. [http://budidayapertanian.blogspot.com/2007/08/okulasi-mawar.html] (Online). Diakses pada 6 Oktober 2012

Darliah. 2003. Teknik Perbanyakan Mawar dengan Cara Okulasi Mata Berkayu (Chip Budding. Diakses pada 4 Oktober 2012

Dinas Pertanian DKI. 2002 . Pemasukan Komoditi Bunga Gunung di Pusat Promosi Bunga / Tanaman Hias Rawabelong. Tahun 1996-2001.

Nurmalinda dan R. Tejasarwana. 2006. Usahatani Mawar Bunga Potong. Laporan Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Hias, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian.

Plastik. Laporan Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Hias,Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian.

Satsijati, Nurmalinda, D. Herlina, Herman S., Hilmi R., Indiarto B., Kusumah E.,dan Budi M. 2004. Profil Komoditas Tanaman Hias Menunjang Strategi Penelitian untuk Pengembangan Agribisnis Florikultura. Laporan Penelitian. Balai Penelitian Tanaman Hias, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian.

Wiwik. 2009. Bunga mawar. (Online): [http://wiwikmesin.blog.undip.ac.id/2009/09/01/pelatihan-weblog-undip/]. Diakses pada tanggal 7 oktober 2012.

 

 

 

 

Teknologi Budidaya Buah Naga dengan Memanfaatkan Pasir Pantai

Teknologi Budidaya Buah Naga dengan Memanfaatkan Pasir Pantai

Budidaya Kakao dengan Teknologi Sambung Samping

PPT KAKAO

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!