browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Reog UB Raih Peringkat 7 dalam Festival Reog Nasional XX

Posted by on November 9, 2013
http://prasetya.ub.ac.id/files/berita_ub/edit_1636_20131108111600.jpg

Reog Brawijaya dalam Festival Reog Nasional XX 2013

Alkisah, terdengar sayembara dari Dewi Sanggalangit. Ia akan menikah dengan lelaki yang mampu memenuhi permintaannya menyajikan tontonan yang menarik dan belum pernah ada, diiringi tabuhan gamelan, seratus empat puluh ekor kuda kembar dan hewan berkepala dua. Adalah Prabu Kelana Sewandana dari kerajaan Bantarangin yang tampan dan gagah, serta Raja Singabarong, dari kerajaan Lodaya yang berkepala harimau, yang mampu memenuhi setiap persyaratannya, kecuali hewan berkepala dua.

Singkat cerita, terjadi peperangan antara Kelana Sewandana dan Singabarong. Perang ini dimenangkan Kelana Sewandana yang mengalahkan Singabarong yang sedang dipatuki kepalanya yang berkutu oleh burung merak peliharaannya. Kelana Sewandana mengalahkan Singabarong dengan dicambuk menggunakan cambuk Samandiman dan mengubahnya menjadi binatang aneh berkepala harimau dan merak.

Inilah sekilas cerita reog Ponorogo yang ditampilkan oleh delegasi dari Unit Aktivitas Karawitan dan Tari, Universitas Brawijaya (Unitantri UB) dalam Festival Reog Nasional XX 2013. Kegiatan ini dilaksanakan di panggung utama Aloon-Aloon Ponorogo, Sabtu (2/11) lalu. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Grebeg Suro dan menyambut tahun baru 1 Muharram 1435 H.

Dalam kegiatan ini, Unitantri UB meraih peringkat 7 dari 45 peserta festival se-Indonesia. Odha Adhitama, Ketua Umum Unitantri UB, mengatakan sangat bangga atas prestasi ini. “Kami sangat senang dan bangga, pertama kali ikut festival ini, mengirim delegasi terbanyak dan dapat peringkat 7 itu sudah amat sangat bangga”, ujarnya. Dalam kegiatan ini, UB mengirimkan 26 orang mahasiswa sebagai penari dan pemusik berjumlah 6 orang dari sekitar tujuh puluh anggota gabungan Unitantri dan Insititut Seni Indonesia, Solo dan dilatih selama hampir dua bulan. “Selama satu bulan kami latihan sendiri, satu minggu dilatih oleh Agung dari Institut Seni Indonesia dan pelatih dari Ponorogo dan lima hari karantina di Ponorogo. Mas Agung ini juga yang menjadi Prabu Kelana Sewandana dan kelompok kami bernama Reog Brawijaya”, ujarnya.

Dalam festival ini, setiap peserta dinilai ragam blocking dan gerak. “Tanpa mengubah pakem cerita tentang Prabu Kelana Sewandana, kami ditantang untuk memberikan variasi agar penonton tidak bosan melihat pertunjukan selama tiga puluh menit”, tambahnya. Ia juga menambahkan, selain ragam gerak dan blocking, penilaian lain oleh panitia antara lain presentasi pertunjukkan serta keseragaman penari dan musik. Tidak hanya bertemu sesame seniman tari, Unitantri UB juga mendapat ilmu. “Kami juga mendapat ilmu tentang Reog Ponorogo, langsung dari orang Ponorogo asli”, tambahnya. [vicky]

Sumber : Prasetya UB