Tugas Anland M-1

February 14th, 2018

Bencana yang Terjadi di Malang Raya

  1. Longsor di Kota Malang Timpa Rumah Kontrakan,Satu Orang Tewas

Malang – Hujan deras di Kota Malang membuat longsor di kawasan Perum Joyogrand di Jalan Sukoagung, Merjosari Lowokwaru. Longsor menimpa sebuah rumah kontrakan. Seorang penghuni meninggal akibat tertimbun longsoran.

Korban diketahui bernama Dina Oktaviani (20), mahasiswi Psikologi semester 5 Universitas Brawijaya, asal Pekalongan, Jawa Tengah.Kini jenazah korban telah dibawa ke Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) menunggu proses otopsi.

Longsoran berasal dari plensengan setinggi 3 meter dengan panjang sekitar 5 meter, akibat diterjang hujan deras, Minggu (12/11/2017) sore. Nahas bagian belakang rumah tempat korban kontrak roboh diterjang tanah longsor. Saat longsor terjadi, korban diduga dalam kondisi tidur, dan tidak mengetahui adanya kejadian itu, hingga tertimbun longsoran tanah.

“Proses evakuasi langsung dilakukan, namun nyawa korban tak bisa ditolong,” kata Kapolsekta Lowokwaru Kompol Untung Bagyo Riyanto kepada detikcom. Sementara, dosen Psikologi Universitas Brawijaya Ratrih membenarkan jika korban adalah mahasiswinya. Ratrih datang bersama mahasiswa lain menunggu proses autopsi yang akan dilakukan di kamar jenazah RSSA Malang.

Sumber : https://news.detik.com/jawatimur/3724026/longsor-di-kota-malang-timpa-rumah-kontrakan-satu-orang-tewas

Analisis:

Meskipun Kota Malang termasuk dataran tinggi, apabila sanitasi dan selokannya kurang optimal berfungsi maka akan terjadi banjir juga.pada saat hujan deras,daerah yang rawan seperti bencana longsor agar tetap waspada agar supaya tidak terjadi longsor. Adanya tanah longsor karena disebabkan oleh beberapa hal tertentu. Hal- hal yang menyebabkan terjadinya tanah longsor bisa dikarenakan peristiwa alami maupun hal- hal yang disebabkan oleh manusia. Beberapa penyebab terjadinya tanah longsor seperti erosi tanah, gempa bumi dan tingginya curah hujan.

 

 

  1. Lahan Pertanian di Malang Terus Menyusut

MALANG – Keberadaan lahan pertanian di Kota Malang, Jawa Timur (Jatim) semakin terdesak oleh pembangunan. Padahal, lahan pertanian sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan, serta menjadi penyeimbang ekosistem, karena juga berfungsi sebagai daerah resapan air dan ruang terbuka hijau (RTH). Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, Sri Winarni mengatakan, lahan pertanian produktif yang masih tersisa tinggal seluas 821 hektare (ha). “Hampir setiap tahun terjadi penyusutan lahan pertanian. Sebelumnya, luas lahan pertanian produktif mencapai 844 ha,” ujarnya di Malang, Kamis (18/1/2018). Desakan kebutuhan lahan untuk permukiman dan pusat bisnis, serta sulitnya tenaga kerja di bidang pertanian, membuat para petani di perkotaan tergoda untuk menjual lahannya dan mengalihkan usaha ke bidang lain.

Upaya pemangkasan nilai PBB untuk lahan pertanian produktif, salah satunya dilakukan oleh Badan Pelayanan Pajak Daerah (BPPD) Kota Malang. Program ini, dilaksanakan dengan dasar Peraturan Wali Kota Malang No 7/2016. Kepala BPPD Kota Malang, Ade Harawanto menyebutkan, para pemilik lahan pertanian, yang lahannya masih difungsikan sebagai lahan pertanian, mendapatkan keringanan pembayaran PBB antara 50%-70%.  Lahan tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Sukun, Kedungkandang, Blimbing, dan Lowokwaru.Masing-masing bidang lahan pertanian, diterbitkan surat keputusan (SK) BPPD Kota Malang, untuk mendapatkan keringanan.

Sumber : https://ekbis.sindonews.com/read/1274729/34/lahan-pertanian-di-malang-terus-menyusut-1516266654

Analisis:

Berbagai upaya untuk menekan alih fungsi lahan pertanian, dilakukan oleh Pemkot Malang, dengan memberikan berbagai bentuk bantuan. Menurut Sri, selama ini petani melalui kelompok tani, mendapatkan bantuan peralatan untuk kegiatan produksi, serta bantuan bibit dan pupuk.Selain itu, Pemkot Malang, juga memberikan pemangkasan nilai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk lahan pertanian. “Tujuan memberikan keringanan pembayaran PBB tersebut, sudah pasti untuk mempertahankan lahan pertanian. Kami juga terus melakukan pengecekan, pendataan, dan pembinaan agar petani tidak melakukan alih fungsi lahan pertaniannya,” imbuh dia.Akibat menyusutnya lahan pertanian tersebut, juga berdampak besar terhadap produksi beras dari Kota Malang. Pada tahun lalu, produksi beras di Kota Malang, hanya mencapai 14.640 ton. Selain upaya mempertahankan lahan pertanian, untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat, dia juga terus menggalakan pemanfaatan lahan pekarangan untuk penyediaan aneka bahan pangan lestari

Daftar pustaka :

Hariyanto. 2010. Pola dan Intensitas Konversi Lahan Pertanian di Kota Semarang Tahun 2000-2009, dalam http://unnes.ac.id

Nama : Iswati

Nim : 145040201111081

kelas :C

Tugas Anlad

February 14th, 2018

TUGAS SATU ANALISIS LANDSKAP

KELOMPOK SATU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Iswati                                                  145040201111081

Adithya Riefanto Suryoprojo          155040200111049

Tri Mutieq Arrohma                        155040201111013

Andre Susilo                                      155040201111182

Ananda Ginanthian Alpheratz R.   155040207111032

Al Azizu Saifulloh                             155040207111173

Kelas   : C

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

  1. KLIPING BERITA BENCANA

Malang Raya

Alih Fungsi Hutan Menjadi Lahan Pertanian

Sebabkan Banjir di Kota Batu

Rabu, 22 Februari 2017 16:28

FOTO ARSIP – Warga RT 4 RW 4, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu bersih-bersih setelah banjir menerjan, Senin (20/2/2017) malam.

SURYAMALANG.COM, BATU – Lahan hutan gundul dan beralih fungsi sebagai lahan pertanian menjadi pemicu terjadinya banjir di sejumlah desa di Kota Batu. Ini setelah berbagai upaya Pemkot Batu mencegah banjir dengan menaikkan tanggul sungai tidak mampu menahan luapan air. “Itu yang kami lihat dari banjir kemarin yang melanda sejumlah desa,” kata Eddy Rumpoko, Wali Kota Batu, Rabu (22/2/2017).

Dijelaskan Eddy Rumpoko, pihaknya lebih mengharapkan upaya penanggulangan terjadinya banjir dilakukan oleh Perhutani. Perhutani telah banyak menggarap lahan hutan menjadi lahan pertanian di Kota Batu tanpa memperhatikan risikonya. Seperti lahan hutan yang ada di wilayah Desa Sumberbrantas sebagian besar telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian sayuran tanpa ada pohon pelindung apapun.

Padahal, lahan tersebut sebagai kawasan perbukitan sehingga seringkali terjadi banjir bandang diikuti tanah longsor karena terbawa air. “Makanya, kami melihat ke arah kondisi lahan hutan yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian tanpa ada perlindungan itu yang harus ada pembenahan,” ucap Eddy Rumpoko.

 

Oleh karena itu, dikatakan Eddy Rumpoko, Pemkot Batu kecil kemungkinan akan melakukan relokasi rumah warga yang sering terendam banjir. Kalaupun ada pembangunan fisik akan dilakukan untuk bangunan yang rusak akibat banjir seperti jembatan. Karena apa pun langkah yang dilakukan namun kalau tidak ada perbaikan lahan gundul maka banjir bandang akan tetap saja terjadi. “Itu yang kami tekankan soal banjir di beberapa desa kemarin,” tutur Eddy Rumpoko.

Mengapa Malang Raya Banyak Dikelilingi Gunung Api?

Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur. Kota ini berada di dataran tinggi dengan ketinggian 440-600 mdpl dan dikelilingi oleh enam gunung dengan dua pegunungan yang masih aktif. Kota Malang merupakan kota yang berada di dataran tinggi yang dahulunya merupakan sebuah danau purba yang disebut “Danau Purba Malang” (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, 2013 : 17). Kota Malang berada di lempeng eurasia sampai batas pantai selatan pulau jawa.

Gunung berapi terbentuk karena adanya tabrakan antar lempeng dunia. Tabrakan itu membentuk rekahan lempeng bumi sebagai jalan magma untuk naik ke permukaan bumi. Saat terjadinya tabrakan antar lempeng membentuk rekahan lempeng bumi sebagai jalannya magma untuk naik ke permukaan bumi sehingga timbul satu Gunung tertua yang bernama Anjasmoro. Gunung Anjasmoro pada awalnya aktif sampai terjadi tersumbatnya aliran magma di sekitar gunung kemudian terbentunya anakan gunung yang sekarang bernama Arjuna – Welirang, Kawi – Buthak,  Panderman.  Akibat aktivitas vukanik itu, letusan dari gunung – gunung yang sudah aktif mengeluarkan lahar serta bahan induk vulkan dan mengendap di danau purba malang sehingga terbentuk dataran malang.

Jelang jaman prasejarah, Pleistosin hingga awal Holosin, Pulau jawa berupa daratan dan laut dangkal yang membentuk cekungan salah satunya Kota Malang. Kota Malang yang masih berupa cekungan terbentuk akibat apitan gunung-gunung dan pegunungan, seperti : (a) Peg. Kapur Selatan di Selatan, (b) G. Kawi dan Kelud di bagian barat, (c) Kompleks pegunungan Anjasmoro, Welirang dan Arjuna di bagian timur laut dan utara, (d) Kompleks Tengger di bagian  imur (Bemmelen dalam Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, 2013 : 16).

Batuan yang ada di Malang berasal dari daerah vulkan, karena terjadi sebuah eksplosi yang menghancurkan puncak kerucut gunung dan menyisahkan sebuah kaldera yang sangat luas. Pada awalnya Malang masih belum dapat dihuni manusia dikarenakan kondisinya masih berupa aliran lava dan lahar panas akibat aktivitas pegunungan purba di sekitarnya. (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, 2013 : 17). Menjelang musim penghujan, cekungan daerah Malang tersebut terisi air yang mengalir lewat lereng-lereng gunung yang menuju ke sejumlah sungai dan membentuk sebuah rawa-rawa purba. Dimana rawa-rawa tersebut terus meluas hingga akhirnya membentuk sebuah danau purba dan mengering menjadi dataran tinggi Malang.

Kota Batu merupakan salah satu kota yang memiliki ciri khas sebagai kota apel, dimana pada daerah Batu memiliki apel yang berbeda dengan jenis lain. Selain itu, Kota Batu juga memiliki sector pariwisata yang menjadi maskot dari kota tersebut untuk menarik para wisatawan. Sektor pariwisata ini setiap tahunnya  mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dengan tinginya minat wisatawan datang ke Kota Batu ini,  untuk itu pemerintah juga menyediakan tempat menginap, baik hotel maupun villa bagi pengunjung. Tempat penginapan dan tempat wisata tersebut umumnya didirikan dilahan yang sebernarnya merupakan lahan hutan yang dialih fungsika menjadi tempat wisata. Selain itu area yang seharusnya merupakan area hutan dilereng gunung berubah menjadi area untuk tanaman semusim yang umumnya tanaman sayuran.

Beralihnya fungsi lahan hutan serta didukungnya beberapa area hutan menjadi  gundul membuat beberapa bencana melanda di sekitar area Kota Batu. Salah satu masalah yang sedang dihadapi yaitu banjir. Banjir terjadi diduga dikarenakan cuaca yang sangat ektrem dan di beberapa wilayah yang menjadi lahan pertanian berupa sayuran. Pihak perhutani telah banyak menggarap lahan hutan pertanian di Kota Batu tanpa memperhatikan resikonya. Salah satu masalah terjadi di wilayah Sumberbrantas yang berada didaerah perbukitan sebagian besar lahan beralih fungsi tanpa ada perlindungan sama sekali. Hal tersebut mendukung adanya tanah longsor danbanjir.

Pihak Pemerintah seharusnya ikut andil dalam hal menanggulangi beberapa kasus ini. Salah satunya Pemkot Batu merelokasikan rumah warga yang sering terjadi kebanjiran. Perlu adanya konservasi bagi hutan yang didukung dengan peraturan (batasan) untuk wilayah yang akan beralih fungsi untuk lahan pertanian maupun lahan untuk sector peranian. Menurut Kurniatun Hairiah, Widianto dan Sunaryo dalam jurnal World Agroforestry Center (2003) berpendapat bahwa Konversi hutan alam menjadi lahan pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversi menjadi lahan usaha lain. Daerah aliran sungai juga harus diperhatikan dikarenakan pada beberapa tahun ini wilayah DAS semakin menurun. Hal tersebut dikarenakan wilayah daerah aliran sungai yang semakin menyempit dikarenakan untuk pemukiman masyarakat. Daerah aliran sungai seharusnya memiliki lebar 20m ke kiri dan 25m ke kanan hanya untuk sektor pertanian bukan untuk pemukiman.

 

  1. Deskripsi Landsekap Kota Batu

Kota Batu adalah sebuah kota yang terletak  di Provinsi Jawa TimurIndonesia. Wilayah kota ini berada di ketinggian 680-1.200 meter dari permukaan laut  yang juga dikelilingi oleh gunung-gunung, hal ini membuat  bentuk lahan utamanya berupa tanah Vulkan yang baik untuk digunakan dalam bidang pertanian.

Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Batu,Malang merupakan tanah vulkanik yang dipengaruhi oleh gunung arjuno dan anjasmoro dibagian utara dan gunung panderman di bagian selatan. yang tanahnya berupa tanah fluvial dan vulkan, dan memiliki formasi Geologi gunung Anjasmoro tua.  Satuan tanah Fluvial terbentuk dari hasil pelapukan berbagai batu induk yang terdapat pada satuan bentuk lahan fluvial.

Proses Geomorfologi

. Malang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, dengan luas sekitar 3.534,86 km2 (353.486 hektar). Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Batu,Malang merupakan tanah vulkanik yang berasal dari gunung api, yang dipengaruhi oleh gunung arjuno dan anjasmoro dibagian utara dan gunung panderman di bagian selatan. Ditinjau dari umur batuan kompleks pegunungan Anjasmoro adalah pegunungan tua yang telah mati dan mengalami kerusakan bentuk kerucut gunung api. Kompleks pegunungan yang paling muda adalah gunung arjuno dan welirang dimana gunung arjuno sedang istirahat dan gunung welirang tetap aktif dengan mengeluarkan gas belerangnya.

Informasi Geologi diperoleh dari Peta Geologi skala 1:100,000 Lembar Malang (Santosa et.al., 1992). Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Malang berkembang dari bahan vulkanik hasil gunung api, yang dipengaruhi oleh Gunung Arjuno dan Anjasmoro di bagian utara, dan Gunung Panderman di bagian selatan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malang (Santosa et.al., 1992).

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Kurniatun Hairiah, dkk., 2003. Pengantar Agroforestri. World Agroforestry Centre

(ICRAF), Southeast Asia Regional Office. Bogor

http://suryamalang.tribunnews.com/2017/02/22/alih-fungsi-hutan-menjadi-lahan

pertanian-sebabkan-banjir-di-kota-batu

Sujatmiko dan Santosa, S.1992. Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa.Bandung, Jawa Barat, Indonesia: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi

 

 

Hello world!

February 14th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!