Klasifikasi Bentuklahan

March 13th, 2018

KLASIFIKASI BENTUKLAHAN

              Tujuan klasifikasi bentuklahan adalah untuk mempermudah dalam  penelitian geomorfologi, yaitu dengan menyederhanak an bentuklahan  permukaan bumi yang kompleks menjadi satuan-satuan  yang mempunyai  kesamaan  dalam  sifat dan  perwatakannya

Sifat dan perwatakan bentuklahan dicerminkan oleh kesamaan :

  1. Fisiografi

Bentukan alam di permukaan bumi (pada wilayah yang luas), baik di daratan maupun di bawah permukaan air laut, yang dibedakan atas proses pembentukannya

  1. Geomorfologi

Ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat alami, penyebaran, dan sejarah bentuk lahan serta proses-proses pelapukan, erosi dan sedimentasi yang menyebabkan terbentuknya landform.

Proses proses :

Proses tersebut disebabkan oleh adanya gaya/tenaga endogenik/hipogenik (berasal dai bawah kulit bumi), eksogenik/epigenik (berasal dari permukaan bumi), dan ekstra-terestrial (berasal dari luar angkasa)

  1. Lansekap

bentukan alam maupun buatan manusia di permukaan bumi, seperti: sawah, bukit, rawa, hutan, bendungan ,jalan, dll yang membedakan suatu hamparan dengan hamparan yang lainnya.

  1. .Relief

Keadaan suatu wilayah daratan di permukaan bumi ditinjau dari aspek lereng/kelerengan dan perbedaan ketinggian yang ada.

  1. Terrain

wilayah di permukaan bumi, mencakup keadaan relief, vegetasi/penggunaan lahan, perairan, batuan/tanah, dll.

DASAR KLASIFIKASI BENTUKLAHAN

  1. Grup Aluvial (A)

Bentukan lahan yang terbentuk dari proses fluvial ,koluvail yang berupa darataran di daearh luas pengaruh sungai besar atau dataran sempit di sekitar sungai

2. Grub Marin (M)

Bentuk lahan yang terbetuk dari proses marin , baik proses yang bersifat konstruktif (pengendapan) atau destruktif (abrasi). Dearh yang terpengaruh air permukaan bersifat asin

3.Grub Fluvio –Marin (B)

Bentuk lahan yang terbentuk dari ganungan proses fluvial dan marin. pada lingkungan laut (berupa delta) ataupun di muara sungai yang terpengaruh oleh aktivitas laut dan dijumpai di muara sungai yang membentuk delta

4.Grub Gambut (G)

Bentuklahan yang terbentuk di daerah rawa (baik rawa pedalaman maupun di daerah pantai) dengan akumulasi bahan organik yang cukup tebal dan berupa kubah maupun bukan kubah.

5.Grub Eolin (E)

Bentuklahan yang terbentuk oleh proses pengendapan bahan halus (pasir dan debu) yang terbawa angin.contohnya di pantai selatan Lumajang

6. Grub Karst (K)

Bentuklahan yang didominasi oleh bahan batugamping keras dan masif, pada umumnya keadaan topografi daerah tidak teratur. Terbentuk karena proses karena proses pelarutan bahan batuan penyusun, dengan terjadinya antara lain: sungai bawah tanah, gua-gua dengan stalagtit dan stalagmit, sinkhole, doline, uvala, polje dan “tower” karst.

7. Grub Vulkanik (V)

Bentuk lahan yang terbentuk karena aktivitas volkan/gunung berapi yang mempunyai ciri dengan adanya bentukan kerucutvolkan, aliran lahar, lava ataupun wilayah yang merupakan akumulasi bahan volkanik.

8. Grub Tektonik & Struktural (T

Bentuk lahan yang terbentuk akibat dari proses tektonik (orogenesa dan epirogenesa) berupa proses angkatan, lipatan atau patahan

9.Grub Aneka (X)

Bentukan alam atau hasil kegiatan manusia yang tidak termasuk dalam grup yang telah diuraikan di atas, misalnya: lahan rusak, singkapan batuan, penambangan, penggalian, tanah longsor, reklamasi pantai, dll

Nama : Iswati

Nim :145040201111081

kelas :C

Gaya Eksogen

March 6th, 2018

Gaya Eksogen

Gaya Eksogen dibedakan menjadi 2 yaitu :

1.Gradasi/Denudiasi

desintegrasi atau dekomposisi batuan di tempatnya, merupakan proses statis, tidak melibatkan pemindahan material.

2.Agradasi/deposisi

Proses akibat dari adanya proses degradasi lahan. Proses ini akan mendatarkan permukaan bumi

Proses Proses Denudasi :

  1. Proses-proses Denudasi di Tropika Basah:

– karakteristik lahan,

1.Wilayah dengan curah hujan dan suhu

tinggi:proses pelapukan : intensif, pelapukan kimia : dalam, solum tanah : dalam

2.Apabila tidak diganggu oleh manusia, vegetasi penutup lahan akan berupa : Rumput – Semak – Pepohonan berkesinambungan yang berbeda kerapatan dan strukturnya

  1. Air yang mencapai permukaan tanah

dapat : masuk ke dalam tanah : perkolasi mengalir di permukaan tanah peranan vegetasi

 

Peranan Vegetasi terhadap geomorfologi di tropika basah:

  1. Meredam enersi tetesan hujan,
  2. Menahan aliran air di permukaan,
  3. Meningkatkan infiltrasi melalui berkurangnya aliran permukaan dan perbaikan struktur tanah.
  4. Pemakaian air dan hara untuk proses-proses metabolisme
  5. Peningkatan kemampuan tanah menahan proses-proses pencucian hara / larutan tanah
  6. Mempengaruhi kesuburan tanah dan mempertahankan pertumbuhan penutup lahan
  7. Menahan bahan2 yang terangkut oleh aliran permukaan, ===> terjadi pengendapan
  8. Mengurangi pengaruh fluktuasi suhu udara, dan
  9. Mengurangi pengaruh erosi

 

  1. Denudasi Kimia

Dalam proses pelapukan terjadi pergerakan dan translokasi ion2 terlarut ke tempat lain. Prosesproses tersebut termasuk dalam denudasi kimia

Proses denudasi kimia aktif di daerah tropika basah, karena  curah hujan tinggi ,vegetasi lebat, pelapukan intensif ,solum tanah dalam.

  1. Eluviasi Mekanik

Eluviasi merupakan proses pedogenik yang melibatkan pergerakan material tanah dari satu tempat ke tempat lain dalam profil tanah Hal tersebut terjadi apabila : kelebihan air, struktur tanah baik

D.Proses Pemindahan Fisik

  1. Gerakan massa
  2. Erosi permukaan
  3. Erosi oleh sungai

Tipe tipe perpindahan Massa

  1. Aliran Lambat
  2. Aliran Cepat
  3. Landslide
  4. Subsiden

Penyebab Gerakan Massa

  1. Litologi : bahan tak padu/ lemah dan licin pada saat basah
  2. Stratigrafik : adanya lapisan lemah dan kuat, atau permeable berseling dengan tidak permeable dalam penampang kulit bumi
  3. Struktural : adanya fault (sesar), join (retak), dll
  4. Topografik : lereng curam
  5. Iklim : fluktuasi suhu dan curah hujan tinggi
  6. Organik : vegetasi

Pengaruh Topografi Berpengaruh terhadap:

  1. kecepatan pengangkutan, atau
  2. Kecepatan pengendapan bahan yang terangkut

Faktor topografi yang sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan lahan adalah kemiringan lereng

Erosi

Macam: – erosi percik (splash erosion)

– erosi lembar (sheet erosion)

– erosi alur ( rill erosion)

– erosi parit (gully erosion)

Proses Denudasi

Untuk mengkaji proses denudasi perlu mendalami sifat sifat batuan. Pengaruh iklim yang berpengaruh terhadap pembentukan lahan ialah: D=Suhu dan Curah hujan

Deposisi

Endapan Fluvial /Endapan Alluvial : Alluvium Aktif, Morfologi dataran banjir, Alluvium tua, teras sungai, sedimen lakustrin, delta, & Kipas Alluvial

  • Landform Alluvial
  • Landform Marin
  • Landform Fluvio-Marin

 

Nama :Iswati

Nim :145040201111081

kelas :C

Gunung Berapi

February 28th, 2018

GUNUNG BERAPI

Bukit atau gunung yang mempunyai lubang kepundan sebagai tempat keluarnya magma dan atau gas ke permukaan bumi. Indonesia: + 500 buah, 129 buah berupa gunungapi aktif (13% dari gunungapi aktif didunia), 70 diantaranya sering meletus.

Aspek volkanisme yang relevan dengan kajian geomorfologi:

  • Sejumlah ujud-ujud volkanik yang membentuk landform yang khas, misalnya berbagai macam bentuk gunungapi, kepundan, kaldera, dsb.
  • Batuan beku, apakah intrusif atau ekstrusif, dalam lapisan atau dalam massa, membentuk komponen geologi lokal yang khusus, yang dapat mendorong perkembangan lansekap melalui proses erosi yang berberbeda.Cara letusan gunungapi dan sifat alami dari ujud-ujud volkanik yang terbentuk dipengaruhi oleh karakteristik dari magma.
    1. Magma GRANITIK

    Sangat kental dan tidak dapat mengalir dengan mudah; di dekat permukaan magma ini cepat mengalami pembekuan, seringkali menjadi penghalang pada lubang keluar dan erupsi eksplosif, menghasilkan deposit piroklastik.

    1. Kerucut sinder :Terbentuk oleh erupsi dari magma kental dan hampir semuanya tersusun dari deposit piroklastik

    B.kerucut komposit: Kerucut yang relatif curam yang tersusun dari pelapisan aliran lava kental dan deposit piroklastik, umumnya biasa mencapai ketinggian lebih dari 10 000′.kerucut volkanik memiliki:

  • Kepundan (Crater) di bagian puncaknya, karena erosi atau runtuhnya batuan di sekitar lubang keluar selama erupsi;
  • Kaldera, merupakan kepundan besar yang disebabkan oleh erupsi yang besar dan eksplosif.Kaldera terbentuk oleh pemindahanbahan oleh erupsi atau runtuhnyapermukaan ke dapur magma.
    1. Magma basaltik cair

    Mengalir dengan sangat mudah/cepat dan tidak selalu menghasilkan erupsi eksplosif dan membentuk deposit piroklastik.

    Tipe letusan –lacroix (1908)

    1. Icelandic: Biasanya melibatkan semburan lava panas,agak cair dari sepanjang cela  Lava menyembur di sepanjang celah letusan yang berlanjut akan mem bentuk suatu dataran tinggi dengan lapisan tebal,dengan lapisan-lapisan lava yang mengeras
    2. Hawaiian : Lava basaltic cair keluar dari celah, jarang keluar dari kepundan, turun melalui atau mengisi celah-celah di sisi gunung  Effusive, semburan lava sepanjang celah
    3. Strombolian: Stromboli adalah suatu gunung berbentuk kerucut curam, letusan melalui pipa saluran , bukan dari celah  Keluar asap hitam Lava cair dengan kekentalan
    4. Vulcanian: Letusan yang sangat kuat, letusan membentuk membentuk cerobong awan abu hitam yang terdiri dari gas, dan bahan fragmental padat dan tersebar luas
    5. Pelean  : Letusan berupa abu dan gas yang menyebar luas letusan bersifat sangat merusak karena cenderung menghasilkan longsoran abu panas dengan kecepatan sangat tinggi (>100 km/jam)
    6. Plinian: Karakteristik  vulkanik yang berkelanjutan yang berwarna abu yang memiliki selimut tebal abu dan batu apung jatuh ke tanah tanah menutupi semuanya. 

       

      Bahaya gunung berapi terdapat 2 yaitu :

      Bahaya langsung (primer)

      Bahaya yang ditimbulkan secara langsung pada saat terjadi letusan gunungapi.  Disebabkan oleh material yang langsung dihasilkan oleh letusan gunungapi seperti : aliran lava, atau leleran batu pijar, aliran piroklastika atau awan panas, jatuhan piroklastika atau hujan abu lebat, lontaran material pijar. hembusan gas beracun.

      Bahaya tidak langsung (sekunder)

      Bahaya akibat letusan gunungapi yang terjadi setelah atau selama letusan gunungapi tersebut terjadi. umumnya (di Indonesia) adalah bahaya lahar.  Lahar merupakan massa berupa campuran air dan material lepas berbagai ukuran hasil letupan gununguapi yang mengalir menuruni lereng dan terendap kembali pada lokasi yang lebih rendah. Lahar terbentuk karena adanya hujan lebat pada saat atau beberapa saat setelah letusan terjadi.

      Derajat bahaya erupsi

      Disebabkan oleh faktor Sifat erupsi sebagai berikut

      –Keadaan lingkungan dan kepadatan

      penduduknya

      –Sifat gunungapi itu sendiri

resume Tektonisme

February 28th, 2018

Tektonisme adalah proses yang terjadi akibat pergerakan, pengangkatan, lipatan, dan patahan pada struktur tanahdi suatu daerah. Yang dimaksud lipatan adalah bentuk muka bumi hasil gerakan tekanan secara horizontal maupun vertikal yang menyebabkan lapisan permukaan bumi menjadi berkerut dan melipat.

  1. Tektonik Epirogenesa

Gerak inilah yang membentuk benua. Gerakan ini berlangsung dengan sangat pelan sehingga kadang tidak kita rasakan. Gerakan ini meliputi wilayah luas dan tanda-tandanya dapat dilihat dari adanya perubahan garis panta

Tektonik  dibedakan menjadi 2 yaitu :

  1. Epirogenesa positif ditandai dengan adanya kenaikan permukaan air laut sehingga garis pantai pindah ke daratan karena daratan mengalami penurunan
  2. epirogenesa negatif ditandai dengan permukaan air laut yang menurun. Salah satu tandanya adalah pantai yang berteras karena mengalami kenaikanatau pengangkatan berulang kali.

2.Tektonik Orogenesa

Merupakan proses pembentukan gunuung akibat tabrakan lempeng benua, sesar bawah benua, perekahan kontinen, atau pergeseran punggung samudra dengan benua.

  1. Lipatan (Fault)

Merupakan bentukan permukaan bumi yang terjadi karena tekanan yang lemah, tetapi berlangsung secara terus menerus. Puncak lipatan disebut antiklinal dan lembah lipatan disebut sinklinal.

  1. Lipatan tegak (Symmetric Folds) : Lipatan tegak adalah lipatan yang dihasilkan dari kekuatan yang sama yang mendorong dua sisi dengan seimbang.
  2. Lipatan Miring (Asymmetric Folds) :Lipatan miring adalah lipatan yang dihasilkan ketika kekuatan tenaga pendorong di salah satu sisinya lebih kuat,
  3. Lipatan Rebah (Overturned Folds) :Lipatan rebah adalah lipatan yang arah lipatannya mendatar. Lipatan ini terjadi karena arah tenaga horizontal hanya dari satu arah.
  4. Lipatan Menutup (Recumbent Folds) :Lipatan menutup adalah lipatan yang terbentuk pada saat lipatan yang satu menekan sisi yang lain dan menyebabkan sumbu lipat hampir datar
  5. Lipatan Sesar Sungkup (Overthrust) :Lipatan sesar sungkup adalah lipatan yang terbentuk ketika tenaga tekan menekan satu sisi dengan kuat sehingga menyebabkan lipatan menjadi retak.
  6. Nappe :Terbentuk setelah lipatan overthrust rusak sepanjang garis retakan.

 

  1. Lengkungan

Lengkungan merupakan bentukan lahan karena gerak vertikal yang tidak merata pada suatu daerah, khususnya yang berbatuan sedimen akan menghasilkan perubahan struktur lapisan yang mulanya horisontal menjadi melengkung

  1. Patahan

Patahan terjadi ketika kulit bumi yang bersifat padat dan keras mengalami retak atau patah pada saat terjadi gerakan orogenesa. Ciri adanya patahan dapat dikenali dari adanya perbedaan ketinggian yang mencolok.

Tipe-tipe dasar patahan:

  1. Normal Fault 

Merupakan patahan yang memungkinkan satu blok (footwall) lapisan batuan bergerak dengan arah relatif naik terhadap blok lainnya (hanging wall). Ciri dari patahan ini adalah sudut kemiringan besar hingga mendekati 90 derajat.

  1. Reserve Fault 

Merupakan patahan dengan arah footwall yang relatif turun dibanding hanging wall. Ciri dari patahan ini adalah sudut kemiringan yang relatif kecil yaitu kurang dari 45 derajat.

  1. Strike Fault 

Merupakan patahan yang arahnya relatif mendatar ke kiri atau ke kanan. Arah patahan mendatar ini tidak sepenuhnya seluruh lapisan batuan bergerak dengan arah mendatar namun sebagian ada yang bergerak dengan arah vertikal.  Bila gerakan patahan ke kanan di sebut sesar geser sinistrial dan bila ke kiri dinamakan sesar geser dekstral.

  1. Retakan

Retakan merupakan bentukan lahan yang terjadi karena pengaruh gaya regangan, sehingga batuan mengalami retak-retak namun masih bersambung. Biasanya ditemukan pada batuan rapuh di daerah puncak antiklinal dan dikenal dengan nama tectonic joint. Berdasarkan cara pembentukannya, ada dua macam retakan, sebagai berikut:

  1. Retakan yang disebabkan tekanan
  2. Retakan yang disebabkan tarikan

 

Tugas Anland M-1

February 14th, 2018

Bencana yang Terjadi di Malang Raya

  1. Longsor di Kota Malang Timpa Rumah Kontrakan,Satu Orang Tewas

Malang – Hujan deras di Kota Malang membuat longsor di kawasan Perum Joyogrand di Jalan Sukoagung, Merjosari Lowokwaru. Longsor menimpa sebuah rumah kontrakan. Seorang penghuni meninggal akibat tertimbun longsoran.

Korban diketahui bernama Dina Oktaviani (20), mahasiswi Psikologi semester 5 Universitas Brawijaya, asal Pekalongan, Jawa Tengah.Kini jenazah korban telah dibawa ke Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) menunggu proses otopsi.

Longsoran berasal dari plensengan setinggi 3 meter dengan panjang sekitar 5 meter, akibat diterjang hujan deras, Minggu (12/11/2017) sore. Nahas bagian belakang rumah tempat korban kontrak roboh diterjang tanah longsor. Saat longsor terjadi, korban diduga dalam kondisi tidur, dan tidak mengetahui adanya kejadian itu, hingga tertimbun longsoran tanah.

“Proses evakuasi langsung dilakukan, namun nyawa korban tak bisa ditolong,” kata Kapolsekta Lowokwaru Kompol Untung Bagyo Riyanto kepada detikcom. Sementara, dosen Psikologi Universitas Brawijaya Ratrih membenarkan jika korban adalah mahasiswinya. Ratrih datang bersama mahasiswa lain menunggu proses autopsi yang akan dilakukan di kamar jenazah RSSA Malang.

Sumber : https://news.detik.com/jawatimur/3724026/longsor-di-kota-malang-timpa-rumah-kontrakan-satu-orang-tewas

Analisis:

Meskipun Kota Malang termasuk dataran tinggi, apabila sanitasi dan selokannya kurang optimal berfungsi maka akan terjadi banjir juga.pada saat hujan deras,daerah yang rawan seperti bencana longsor agar tetap waspada agar supaya tidak terjadi longsor. Adanya tanah longsor karena disebabkan oleh beberapa hal tertentu. Hal- hal yang menyebabkan terjadinya tanah longsor bisa dikarenakan peristiwa alami maupun hal- hal yang disebabkan oleh manusia. Beberapa penyebab terjadinya tanah longsor seperti erosi tanah, gempa bumi dan tingginya curah hujan.

 

 

  1. Lahan Pertanian di Malang Terus Menyusut

MALANG – Keberadaan lahan pertanian di Kota Malang, Jawa Timur (Jatim) semakin terdesak oleh pembangunan. Padahal, lahan pertanian sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan, serta menjadi penyeimbang ekosistem, karena juga berfungsi sebagai daerah resapan air dan ruang terbuka hijau (RTH). Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, Sri Winarni mengatakan, lahan pertanian produktif yang masih tersisa tinggal seluas 821 hektare (ha). “Hampir setiap tahun terjadi penyusutan lahan pertanian. Sebelumnya, luas lahan pertanian produktif mencapai 844 ha,” ujarnya di Malang, Kamis (18/1/2018). Desakan kebutuhan lahan untuk permukiman dan pusat bisnis, serta sulitnya tenaga kerja di bidang pertanian, membuat para petani di perkotaan tergoda untuk menjual lahannya dan mengalihkan usaha ke bidang lain.

Upaya pemangkasan nilai PBB untuk lahan pertanian produktif, salah satunya dilakukan oleh Badan Pelayanan Pajak Daerah (BPPD) Kota Malang. Program ini, dilaksanakan dengan dasar Peraturan Wali Kota Malang No 7/2016. Kepala BPPD Kota Malang, Ade Harawanto menyebutkan, para pemilik lahan pertanian, yang lahannya masih difungsikan sebagai lahan pertanian, mendapatkan keringanan pembayaran PBB antara 50%-70%.  Lahan tersebut tersebar di empat kecamatan, yakni Sukun, Kedungkandang, Blimbing, dan Lowokwaru.Masing-masing bidang lahan pertanian, diterbitkan surat keputusan (SK) BPPD Kota Malang, untuk mendapatkan keringanan.

Sumber : https://ekbis.sindonews.com/read/1274729/34/lahan-pertanian-di-malang-terus-menyusut-1516266654

Analisis:

Berbagai upaya untuk menekan alih fungsi lahan pertanian, dilakukan oleh Pemkot Malang, dengan memberikan berbagai bentuk bantuan. Menurut Sri, selama ini petani melalui kelompok tani, mendapatkan bantuan peralatan untuk kegiatan produksi, serta bantuan bibit dan pupuk.Selain itu, Pemkot Malang, juga memberikan pemangkasan nilai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) untuk lahan pertanian. “Tujuan memberikan keringanan pembayaran PBB tersebut, sudah pasti untuk mempertahankan lahan pertanian. Kami juga terus melakukan pengecekan, pendataan, dan pembinaan agar petani tidak melakukan alih fungsi lahan pertaniannya,” imbuh dia.Akibat menyusutnya lahan pertanian tersebut, juga berdampak besar terhadap produksi beras dari Kota Malang. Pada tahun lalu, produksi beras di Kota Malang, hanya mencapai 14.640 ton. Selain upaya mempertahankan lahan pertanian, untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat, dia juga terus menggalakan pemanfaatan lahan pekarangan untuk penyediaan aneka bahan pangan lestari

Daftar pustaka :

Hariyanto. 2010. Pola dan Intensitas Konversi Lahan Pertanian di Kota Semarang Tahun 2000-2009, dalam http://unnes.ac.id

Nama : Iswati

Nim : 145040201111081

kelas :C

Tugas Anlad

February 14th, 2018

TUGAS SATU ANALISIS LANDSKAP

KELOMPOK SATU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Iswati                                                  145040201111081

Adithya Riefanto Suryoprojo          155040200111049

Tri Mutieq Arrohma                        155040201111013

Andre Susilo                                      155040201111182

Ananda Ginanthian Alpheratz R.   155040207111032

Al Azizu Saifulloh                             155040207111173

Kelas   : C

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

  1. KLIPING BERITA BENCANA

Malang Raya

Alih Fungsi Hutan Menjadi Lahan Pertanian

Sebabkan Banjir di Kota Batu

Rabu, 22 Februari 2017 16:28

FOTO ARSIP – Warga RT 4 RW 4, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu bersih-bersih setelah banjir menerjan, Senin (20/2/2017) malam.

SURYAMALANG.COM, BATU – Lahan hutan gundul dan beralih fungsi sebagai lahan pertanian menjadi pemicu terjadinya banjir di sejumlah desa di Kota Batu. Ini setelah berbagai upaya Pemkot Batu mencegah banjir dengan menaikkan tanggul sungai tidak mampu menahan luapan air. “Itu yang kami lihat dari banjir kemarin yang melanda sejumlah desa,” kata Eddy Rumpoko, Wali Kota Batu, Rabu (22/2/2017).

Dijelaskan Eddy Rumpoko, pihaknya lebih mengharapkan upaya penanggulangan terjadinya banjir dilakukan oleh Perhutani. Perhutani telah banyak menggarap lahan hutan menjadi lahan pertanian di Kota Batu tanpa memperhatikan risikonya. Seperti lahan hutan yang ada di wilayah Desa Sumberbrantas sebagian besar telah beralih fungsi menjadi lahan pertanian sayuran tanpa ada pohon pelindung apapun.

Padahal, lahan tersebut sebagai kawasan perbukitan sehingga seringkali terjadi banjir bandang diikuti tanah longsor karena terbawa air. “Makanya, kami melihat ke arah kondisi lahan hutan yang beralih fungsi menjadi lahan pertanian tanpa ada perlindungan itu yang harus ada pembenahan,” ucap Eddy Rumpoko.

 

Oleh karena itu, dikatakan Eddy Rumpoko, Pemkot Batu kecil kemungkinan akan melakukan relokasi rumah warga yang sering terendam banjir. Kalaupun ada pembangunan fisik akan dilakukan untuk bangunan yang rusak akibat banjir seperti jembatan. Karena apa pun langkah yang dilakukan namun kalau tidak ada perbaikan lahan gundul maka banjir bandang akan tetap saja terjadi. “Itu yang kami tekankan soal banjir di beberapa desa kemarin,” tutur Eddy Rumpoko.

Mengapa Malang Raya Banyak Dikelilingi Gunung Api?

Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur. Kota ini berada di dataran tinggi dengan ketinggian 440-600 mdpl dan dikelilingi oleh enam gunung dengan dua pegunungan yang masih aktif. Kota Malang merupakan kota yang berada di dataran tinggi yang dahulunya merupakan sebuah danau purba yang disebut “Danau Purba Malang” (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, 2013 : 17). Kota Malang berada di lempeng eurasia sampai batas pantai selatan pulau jawa.

Gunung berapi terbentuk karena adanya tabrakan antar lempeng dunia. Tabrakan itu membentuk rekahan lempeng bumi sebagai jalan magma untuk naik ke permukaan bumi. Saat terjadinya tabrakan antar lempeng membentuk rekahan lempeng bumi sebagai jalannya magma untuk naik ke permukaan bumi sehingga timbul satu Gunung tertua yang bernama Anjasmoro. Gunung Anjasmoro pada awalnya aktif sampai terjadi tersumbatnya aliran magma di sekitar gunung kemudian terbentunya anakan gunung yang sekarang bernama Arjuna – Welirang, Kawi – Buthak,  Panderman.  Akibat aktivitas vukanik itu, letusan dari gunung – gunung yang sudah aktif mengeluarkan lahar serta bahan induk vulkan dan mengendap di danau purba malang sehingga terbentuk dataran malang.

Jelang jaman prasejarah, Pleistosin hingga awal Holosin, Pulau jawa berupa daratan dan laut dangkal yang membentuk cekungan salah satunya Kota Malang. Kota Malang yang masih berupa cekungan terbentuk akibat apitan gunung-gunung dan pegunungan, seperti : (a) Peg. Kapur Selatan di Selatan, (b) G. Kawi dan Kelud di bagian barat, (c) Kompleks pegunungan Anjasmoro, Welirang dan Arjuna di bagian timur laut dan utara, (d) Kompleks Tengger di bagian  imur (Bemmelen dalam Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, 2013 : 16).

Batuan yang ada di Malang berasal dari daerah vulkan, karena terjadi sebuah eksplosi yang menghancurkan puncak kerucut gunung dan menyisahkan sebuah kaldera yang sangat luas. Pada awalnya Malang masih belum dapat dihuni manusia dikarenakan kondisinya masih berupa aliran lava dan lahar panas akibat aktivitas pegunungan purba di sekitarnya. (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang, 2013 : 17). Menjelang musim penghujan, cekungan daerah Malang tersebut terisi air yang mengalir lewat lereng-lereng gunung yang menuju ke sejumlah sungai dan membentuk sebuah rawa-rawa purba. Dimana rawa-rawa tersebut terus meluas hingga akhirnya membentuk sebuah danau purba dan mengering menjadi dataran tinggi Malang.

Kota Batu merupakan salah satu kota yang memiliki ciri khas sebagai kota apel, dimana pada daerah Batu memiliki apel yang berbeda dengan jenis lain. Selain itu, Kota Batu juga memiliki sector pariwisata yang menjadi maskot dari kota tersebut untuk menarik para wisatawan. Sektor pariwisata ini setiap tahunnya  mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dengan tinginya minat wisatawan datang ke Kota Batu ini,  untuk itu pemerintah juga menyediakan tempat menginap, baik hotel maupun villa bagi pengunjung. Tempat penginapan dan tempat wisata tersebut umumnya didirikan dilahan yang sebernarnya merupakan lahan hutan yang dialih fungsika menjadi tempat wisata. Selain itu area yang seharusnya merupakan area hutan dilereng gunung berubah menjadi area untuk tanaman semusim yang umumnya tanaman sayuran.

Beralihnya fungsi lahan hutan serta didukungnya beberapa area hutan menjadi  gundul membuat beberapa bencana melanda di sekitar area Kota Batu. Salah satu masalah yang sedang dihadapi yaitu banjir. Banjir terjadi diduga dikarenakan cuaca yang sangat ektrem dan di beberapa wilayah yang menjadi lahan pertanian berupa sayuran. Pihak perhutani telah banyak menggarap lahan hutan pertanian di Kota Batu tanpa memperhatikan resikonya. Salah satu masalah terjadi di wilayah Sumberbrantas yang berada didaerah perbukitan sebagian besar lahan beralih fungsi tanpa ada perlindungan sama sekali. Hal tersebut mendukung adanya tanah longsor danbanjir.

Pihak Pemerintah seharusnya ikut andil dalam hal menanggulangi beberapa kasus ini. Salah satunya Pemkot Batu merelokasikan rumah warga yang sering terjadi kebanjiran. Perlu adanya konservasi bagi hutan yang didukung dengan peraturan (batasan) untuk wilayah yang akan beralih fungsi untuk lahan pertanian maupun lahan untuk sector peranian. Menurut Kurniatun Hairiah, Widianto dan Sunaryo dalam jurnal World Agroforestry Center (2003) berpendapat bahwa Konversi hutan alam menjadi lahan pertanian disadari menimbulkan banyak masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversi menjadi lahan usaha lain. Daerah aliran sungai juga harus diperhatikan dikarenakan pada beberapa tahun ini wilayah DAS semakin menurun. Hal tersebut dikarenakan wilayah daerah aliran sungai yang semakin menyempit dikarenakan untuk pemukiman masyarakat. Daerah aliran sungai seharusnya memiliki lebar 20m ke kiri dan 25m ke kanan hanya untuk sektor pertanian bukan untuk pemukiman.

 

  1. Deskripsi Landsekap Kota Batu

Kota Batu adalah sebuah kota yang terletak  di Provinsi Jawa TimurIndonesia. Wilayah kota ini berada di ketinggian 680-1.200 meter dari permukaan laut  yang juga dikelilingi oleh gunung-gunung, hal ini membuat  bentuk lahan utamanya berupa tanah Vulkan yang baik untuk digunakan dalam bidang pertanian.

Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Batu,Malang merupakan tanah vulkanik yang dipengaruhi oleh gunung arjuno dan anjasmoro dibagian utara dan gunung panderman di bagian selatan. yang tanahnya berupa tanah fluvial dan vulkan, dan memiliki formasi Geologi gunung Anjasmoro tua.  Satuan tanah Fluvial terbentuk dari hasil pelapukan berbagai batu induk yang terdapat pada satuan bentuk lahan fluvial.

Proses Geomorfologi

. Malang terletak di bagian tengah Provinsi Jawa Timur, dengan luas sekitar 3.534,86 km2 (353.486 hektar). Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Batu,Malang merupakan tanah vulkanik yang berasal dari gunung api, yang dipengaruhi oleh gunung arjuno dan anjasmoro dibagian utara dan gunung panderman di bagian selatan. Ditinjau dari umur batuan kompleks pegunungan Anjasmoro adalah pegunungan tua yang telah mati dan mengalami kerusakan bentuk kerucut gunung api. Kompleks pegunungan yang paling muda adalah gunung arjuno dan welirang dimana gunung arjuno sedang istirahat dan gunung welirang tetap aktif dengan mengeluarkan gas belerangnya.

Informasi Geologi diperoleh dari Peta Geologi skala 1:100,000 Lembar Malang (Santosa et.al., 1992). Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Malang berkembang dari bahan vulkanik hasil gunung api, yang dipengaruhi oleh Gunung Arjuno dan Anjasmoro di bagian utara, dan Gunung Panderman di bagian selatan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malang (Santosa et.al., 1992).

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Kurniatun Hairiah, dkk., 2003. Pengantar Agroforestri. World Agroforestry Centre

(ICRAF), Southeast Asia Regional Office. Bogor

http://suryamalang.tribunnews.com/2017/02/22/alih-fungsi-hutan-menjadi-lahan

pertanian-sebabkan-banjir-di-kota-batu

Sujatmiko dan Santosa, S.1992. Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa.Bandung, Jawa Barat, Indonesia: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi

 

 

Hello world!

February 14th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!