RSS
 

standar taman kota dan contoh

29 Oct

STANDAR TAMAN KOTA MASA KINI

Kebutuhan taman kota pada hakekatnya sulit diperhitungkan dengan nilai ekonomi, karena taman kota memiliki nilai lebih yang bersifat ekologis, social, dan kemanusiaan. Nilai terhadap rasa keindahan dan rasa kepuasan batin bagi pengunjung taman sulit untuk diukur secara matematik, termasuk juga di dalamnya aspek psikologis yang tidak mungkin diuraikan dengan menggunakan standar materi. Pada umumnya standar luasan taman dalam kota bervariasi tergantung dari kondisi kota itu sendiri. Besaran taman kota secara fisik sangat dipengaruhi oleh topografi, luasan area kota, jumlah penduduk, kebiasaan social masyarakat dan kebijakan pemerintah setempat.

Di Indonesia standarisasi taman kota juga belum disusun secara terperinci. Standar yang disusun oleh Dinas Jenderal Cipta Karya hanya menyangkut standarisasi ruang terbuka dalam lingkungan perumahan. Menurut Dinas Jenderal Cipta Karya lingkungan perumahan dibagi atas 3 skala lingkungan yang terdiri atas :

  1. Lingkungan tempat bermain (20-50 keluarga atau 100-200 penduduk), luas ruangan terbuka untuk tempat bermain adalah 200 m2.
  2. Lingkungan taman kanak-kanak (160-200 keluarga atau 800-1000 penduduk), luas ruang terbuka untuk tempat bermain adalah 800 m2.
  3. Lingkungan sekolah dasar (600-1000 keluarga atau 3000-6000 penduduk), ruang terbuka untuk tempat bermain adalah 11.400 m2.

Standar luas dari taman yang harus dibangun di sebuah kota ada yang berpendapat 7-11,5 m2 per orang, ada juga yang berdasar pada luas dan jarak jangkauan dari tempat tinggal. Ada taman kecil yang luasnya kurang dari 2 ha yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari lingkungan rumah. Taman menengah luasnya 20 ha yang terletak 1,5 km dari perumahan dan taman besar yang luasnya minimal 60 ha dengan jarak 8 km dari perumahan.

Dalam pemenuhan standar taman kota dapat dilihat dari unsur-unsur sebagai berikut :

  1. Material Landscape atau Vegetasi

Yang termasuk dalam elemen landscape antara lain :

  • Pohon : Tanaman kayu keras dan tumbuh tegak, berukuran besar dengan percabangan yang kokoh. Yang termasuk dalam jenis pohon ini adalah asam kranji, lamtorogung, akasia, dan lainnya.
  • Perdu : Jenis tanaman seperti pohon terapi berukuran kecil, batang cukup berkayu tetapi kurang tegak dan kurang kokoh. Yang termasuk dalam jenis perdu adalah bougenvillle, kol banda, kembang sepatu, dan lainnya.
  • Semak : Tanaman yang agak kecil dan rendah, tumbuhnya melebar atau merambat. Yang termasuk dalam jenis semak adalah teh-tehan, dan lainnya.
  • Tanaman penutup tanah : Tanaman yang lebih tinggi rumputnya, berdaun dan berbunga indah. Yang termasuk dalam jenis ini adalah krokot, nanas hias dan lainnya.
  • Rumput : Jenis tanaman pengalas, merupakan tanaman yang persisi berada diatas tanah. Yang termasuk dalam jenis ini adalah rumput jepang, rumput gajah, dan lainnya.

Material Pendukung atau Elemen Keras.

Yang termasuk dalam material pendukung adalah :

  • Kolam : Kolam dibuat dalam rangka menunjang fungsi gedung atau merupakan bagian taman yang memiliki estetika sendiri. Kolam sering dipadukan dengan batuan tebing dengan permainan air yang menambah kesan dinamis. Kolam akan tampil hidup bila ada permainan air didalamnya. Taman dengan kolam akan mampu meningkatan kelembaban lingkungan sehingga dapat berfungsi sebagai penyejuk lingkungan.
  • Batuan : Batuan tidak baik bila diletakkan di tengah taman, sebaiknya diletakkan agak menepi atau pada salah satu sudut taman. Sebagian batu yang terpendam di dalam tanah akan memberi kesan alami dan terlihat menyatu dengan taman akan terlihat lebih indah bila ada penambahan koloni taman pada sela-sela batuan.
  • Gazebo: bangunan peneduh atau rumah kecil di taman yang berfungsi sebagai tempat beristirahat menikmati taman. Sedangkan bangku taman adalah bangku panjang yang disatukan dengan tempat duduknya dan ditempatkan digazebo atau tempat-tempat teduh untuk beristirahat sambil menikmati taman. Bahan pembuatan gazebo atau bangku taman tidak perlu berkesan mewah tetapi lebih ditekankan pada nilai keindahan, kenyamanan dalam suasana santai, akrab, dan tidak resmi. Gazebo atau bangku taman bisa terbuat dari kayu, bambu, besi atau bahan lain yang lebih kuat dan tahan terhadap kondisi taman. Atapnya dapat bermacam-macam, mulai dari genting, ijuk, alang-alang dan bahan lain yang berkesan tahan sederhana.
  • Jalan Setapak (Stepping Stone) : Jalan setapak atau steppig stone dibuat agar dalam pemeliharaan taman tidak merusak rumput dan tanaman, selain itu jalan setapak berfungsi sebagai unsur variasi elemen penunjang taman.
  • Perkerasan : Perkerasan pada taman dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam bahan, seperti tegel, paving, aspal, batu bata, dan bahan lainnya. Tujuan perkerasan adalah untuk para pejalan kaki (pedestrian) atau sebagai pembatas.
  • Lampu Taman : Lampu taman merupakan elemen utama sebuah taman dan dipergunakan untuk menunjang suasana di malam hari. Lampu berfungsi sebagai penerang taman dan sebagai nilai eksentrik pada taman.

Unsur non fisik keindahan

  • Kesatuan dan keteraturan : adanya kesatuan dalam ide maupun dalam ekspresi fisik. Dimana semua unsur harus mempunyai hubungan satu dengan lain secara harmonis.
  • Skala : terdapat beberapa macam skala taman kota yakni skala ruang intim, skala ruang menumental, dan skala ruang kota.
  • Daya tarik : taman memiliki kesan mengundang secara permanen ke seluruh arah.

Contoh Studi Kasus Penerapan Taman Kota di Malang

Salah satu contoh taman kota di Malang adalah di Alun – Alun kota Malang

v  Desain taman di Alun – Alun kota Malang

Desain alun-alun kota malang ini sangat dipengaruhi oleh budaya tradisional dan budaya bangsa belanda, hal ini dikarenakan pada masa pembentukan alun-alun sangat dipengaruhi oleh campur tangan dan pemikiran bangsa belanda. Hal ini berdasarkan pada data-data dokumenter yang terkait proses pembentukan alun-alun kota malang, misalnya tentang konsep pembentukan ruang terbuka di alun-alun yang diadopsi dari konsep di Eropa. Desain alun-alun kota malang terdapat kolam di tengah-tengah alun-alun tersebut, dimana perancangan kolam tersebut dirancang dengan kurang memperhatikan aktivitas-perilaku pengguna, sehingga penutup tanahnya di buat dengan bahan yang memberikan efek panas (pola-pola semacam paving), apalagi di sekitarnya tanpa ada naungan pohon-pohon. Selain itu para pengunjung juga ketika menikmati kolam sangat terganggu oleh adanya pagar disekitar kolam. Selain itu juga di bangun tempat-tempat duduk untuk para pengunjung agar bisa duduk lantai di alun-alun.

Unsure-unsur fisik yang ada di alun-alun kota malang antara lain, meliputi ;

  1. Di sekeliling kolam terdapat tempat duduk yang dibuat seperti teater terbuka : Ditempat ini dijadikan sebagai tempat anak-anak menonton atraksi topeng monyet.

seruuu...

  1. Sisi timur area parkir alun-alun kota malang yang beraspal : Pada sisi ini biasanya digunakan oleh para pedagang kaki lima untuk berjualan.
  2. Lantai paving dengan teduhan pohon beringin : Tempat ini biasanya juga di gunakan oleh para kaki lima untuk berjualan
  3. Pedestrian berpaving : Area ini dinikmati sebagai tempat olahraga badminton dan jalan setapak
  4. Taman berumput : Area ini dapat dijadikan sebagai tempat yang nyaman untuk berpiknik.

Alun-alun sebagai elemen kota merupakan ruang terbuka yang diperuntukkan bagi siapa saja, sebagai tempat berbagai macam kegiatan berlangsung, tempat “parkir” manusia atau dikenal sebagai “a psychological parking space”. Konsep awal dari alun-alun kota Malang telah merubah konsep dari alun-alun itu sendiri. Sebagai contoh, hilangnya pohon beringan di tengah alun-alun sebagai pusat atau titik sentral dari mancapat pancer lima, pada akhir tahun 80-an, sebagai gantinya debutant plaza dengan air mancur di tengahnya. Pemberian pagar keliling alun-alun yang tadinya merupkan “open space” terkesan menjadi “closed space”. Fungsi-fungsi perubahan itu disebabkan oleh “wilayah ekonomi” yang mendominasi kawasan alun-alun. Hal itu terlihat dengan adanya perubahan fisik alun-alun dengan pemberian pagar keliling, ditambah dengan fungsi “taman” sebagai tempat parkir kendaraan roda empat, yang menggunakan sebagian lahan dari alun-alun itu sendiri. Pada kawasan tersebut yang mempunyai keterkaitan erat dengan alun-alun, adalah Masjid Ja’mi. Kalau ditinjau dari aspek filosofis-religius, alun-alun berfungsi sebagai tempat untuk menampung luapan jamaah dari Masjid Ja’mi.

v  Lingkungan sekitar

Di sekitar alun-alun kota malang terdapat berbagai macam bangunan-bangunan baik itu bangunan lama atu bangunan baru. Bangunan lama di sekitar alun-alun malang adalah gereja dan masjid jami`, sedangkan bangunan modernnya adalah mall – mall di sekitar alun-alun kota malang. Selain itu juga di sekitar alun-alun kota malang ini juga terdapat banyak PKL (Pedagang Kaki Lima) yang berjualan macam-macam makanan. Selain itu lingkungan sekitar alun-alun kota malang juga di kelilingi oleh pohon-pohon beringin yang member nuansa sejuk di daerah sekitar parkiran dan tempat para PKL berjualan. Perkembangan pembangunan pun membuat banyak perubahan lingkungan dan bangunan di sekitar alun alun, Bangunan yang masih dipertahankan seperti Bank Indonesia, gedung arsip sebelah kantor pos, bus surat, Hotel Pelangi dan Gereja Immanuel, bangunan di empat sudut alun-alun yang dulu merupakan pos jaga pamong praja masa kolonial, sekarang menjadi kios buku dan makanan. Gedung pertemuan Concordia juga telah menjelma menjadi pertokoan Sarinah dengan arsitektur modern

v  Aktivitas pengunjung (pagi-siang-malam)

Aktivitas

  1. Pagi hari
  • Lokasi : Lantai paving sebelah barat,sekitarnya berpohon beringin. Anak-anak dan remaja bermain bola. Sebagian menonton di pinggir. Permainan ini terdiri atas beberapa kelompok.
  • Lokasi : Sekeliling kolam dengan tempat duduk seperti teater terbuka, Atraksi topeng monyet, anak-anak menonton dan sesekali memberi uang di kaleng topeng monyet.
  • Lokasi : Sisi timur arah entrance, paving berpola,dengan teduhan kanopi pohon beringin sisi timur Anak-anak dan dewasa bersepeda, serta muda-mudi yang sedang pacaran.
  • Lokasi : Sisi timur area parkir beraspal, dengan teduhan kanopi pohon beringin sisi timur. Kaki lima berjualan dengan menggunakan motor, temporer, pembeli merupakan pengunjung alun-alun.
  • Lokasi : alun-alun bagian depan dan masjid jami’. Khusus pada hari jum’at digunakan sebagai tempat sholat jum’at dan tempat parkir.
  1. Siang hari
  • Lokasi : Taman Berumput jepang, di sekitar pohon-pohon. Aktivitas duduk di atas hamparan rumput nan hijau.
  • Lokasi : Paving grassblock dengan elemen atap berupa  teduhan dari kanopi pohon beringin. Aktivitas kelompok pemerhati anak jalanan, kegiatan sosial dengan jadwal cukup teratur seminggu dua kali untuk memberikan kegiatan-kegiatan menggambar,menulis atau bercerita.Mereka duduk di hamparan tikar.
  • Aktivitas dalam mencari pendapatan yang dilakukan oleh para pengamen, para pengamen ini mulai datang di sekitar alun- alun.
  1. Malam hari
  • Pada malam hari banyak dipakai untuk para PKL untuk tetap menjual barang dagangannya, serta para pengamen yang selalu berkeliling di sekitar alun-alun.
  • Pada malam hari alun-alun juga sering digunakan oleh para muda-mudi untuk berpacaran.

Source: http://www.localwisdom.ucoz.com/_ld/0/22_4th-4-jolw-erna.pdf

http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH0116/df2fe2e0.dir/doc.pdf

http://Bandung%20Zaman%20Belanda%20%C2%AB%20Klipingcliping%27s%20Blog_files/wordpress.js

(by Irma Aprilia Ramadhani/0810443016)

 
Comments Off on standar taman kota dan contoh

Posted in introduction

 

Hello world!

28 Oct

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!