Faktor Edafik

2012
06.15

      BAB I

     PENDAHULUAN

 

 

1.1  Latar Belakang

 

Tidak semua bagian di permukaan bumi dapat dijadikan tempat Tinggal makhluk hidup. Hanya sebagian kecil saja dari bumi yang  berfungsi sebagai biosfer, yaitu bagian permukaan bumi sampai pada ketinggian dan kedalaman tertentu. Faktor-faktor yang memengaruhi kehidupan makhluk hidup dapat diklasifikasikan menjadi empat, yaitu faktor klimatik, edafik, fisiografi, dan biotik.

Selain kondisi iklim, faktor lain yang juga berpengaruh bagi kehidupan makhluk hidup dipermukaan bumi adalah faktor edafik atau tanah. Tanah merupakan media utama khususnya bagi pertumbuhan jenis vegetasi. Kebutuhan-kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan vegetasi, seperti mineral (unsur hara), kebutuhan bahan organik (humus), air, dan udara keberadaannya disediakan oleh tanah. Oleh karena itu, faktor edafik sangat memengaruhi pertumbuhan jenis vegetasi dalam suatu wilayah.

 

1.2  Tujuan

  1. Untuk mengetahui ciri indikator  tanah sehat
  2. Untuk mengetahui cara pengendalian OPT dengan faktor edafik
  3. Untuk mengetahui ciri fisik tanah
  4. Untuk mengetahui ciri kimia tanah
  5. Untuk mengetahui cara menggunakan corong berlese

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Ciri indikator tanah sehat meliputi fisik biologi dan kimia

            * Kimia

1. Kadar Keasaman Tanah

Ph yang menjadi ukuran 0-14. Bila dalam tanah terkandung ion hydrogen atau H+                 yang  cukup  banyak,  maka  tanah  tersebut bersifat masam, dengan nilai pH 0-7.               Sebaliknya  tanah  akan  bersifat basa jika memiliki pH diatas 7 dan mengandung   banyak OH-. Namun ada kalanya kedua ion tersebut imbang sehingga tanah bersifat         netral. Tanah yang baik dan cocok untuk bercocok tanam adalah tanah yang                     memiliki pH antara 3-9. Kadar keasaman tanah perlu diperhatikan agar                     pemanfaatan mineral dan unsure hara dapat dimaksimalkan.

2. Kandungan Karbon Organik

Karbon organic dalam tanah dapat membantu meningkatkan kesuburkan tanah.     Adanya karbon organic dalam tanah menentukan kualitas mineral tanah itu sendiri. Namun adakalanya tanah itu hanya memiliki sedikit saja kandungan karbon organic. Kandungan karbon organik dalam tanah harus terpenuhi sebanyak 2%.

3. Kapasitas Tukar Kation

Pada saat pH tanah mencapai kadar 7, terjadi kapasitas tukar kation. Hal ini memungkinkan keadaan tanah menjadi semakin subur, atau sebaliknya. KTK yang tinggi umunya terdapat pada tanah dengan kandungan bahan organic dan tanah liat yang tinggi. KTK dapat dipengaruhi oleh tekstur tanah, bahan organic yang terkandung didalam tanah, pemupukkan dan adanya jenis liat dalam tanah.

* Biologi

                  Total Mikroorganisme Tanah

Tanah dihuni oleh bermacam-macam mikroorganisme. Jumlah tiap grup mikroorganisme sangat bervariasi, ada yang terdiri dari beberapa individu, akan tetapi ada pula yang jumlahnya mencapai jutaan per gram tanah. Mikroorganisme tanah itu sendirilah yang bertanggung jawab atas pelapukan bahan organik dan pendauran unsur hara. Dengan demikian mereka mempunyai pengaruh terhadap sifat fisik dan kimia tanah.

Jumlah Fungi Tanah

Fungi berperan dalam perubahan susunan tanah. Fungi tidak berklorofil sehingga mereka menggantungkan kebutuhan akan energi dan karbon dari bahan organik. Fungi dibedakan dalam tiga golongan yaitu ragi, kapang, dan jamur. Kapang dan jamur mempunyai arti penting bagi pertanian. Bila tidak karena fungi ini maka dekomposisi bahan organik dalam suasana masam tidak akan terjadi.

Jumlah Bakteri Pelarut Fosfat (P)

Bakteri pelarut P pada umumnya dalam tanah ditemukan di sekitar perakaran yang jumlahnya berkisar 103 – 106 sel/g tanah. Bakteri ini dapat menghasilkan enzim Phosphatase maupun asam-asam organik yang dapa melarutkan fosfat tanah maupun sumber fosfat yang diberikan.

Total Respirasi Tanah

Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan tingkat aktivitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktifitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai korelasi yang baik dengan parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme tanah seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil antara, pH dan rata-rata jumlah mikroorganisrne.

            * Fisik

* Warna Tanah

Warna tanah merupakan salah satu sifat yang mudah dilihat dan menunjukkan  sifat dari tanah tersebut. Warna tanah merupakan campuran komponen lain yang terjadi karena mempengaruhi berbagai faktor atau persenyawaan tunggal. Urutan warna tanah adalah hitam, coklat, karat, abu-abu, kuning dan putih . Warna tanah dengan akurat dapat diukur dengan tiga sifat-sifat prinsip warnanya. Dalam menentukan warna cahaya dapat juga menggunakan Munsell Soil Colour Chart sebagai pembeda warna tersebut. Penentuan ini meliputi penentuan warna dasar atau matrik, warna karatan atau kohesi dan humus. Warna tanah penting untuk diketahui karena berhubungan dengan kandungan bahan organik yang terdapat di dalam tanah tersebut, iklim, drainase tanah dan juga mineralogi tanah.

* Tekstur Tanah

Tekstur tanah adalah perbandingan relatif dalam persen (%) antara fraksi-fraksi pasir, debu dan liat. Tekstur erat hubungannya dengan plastisitas, permeabilitas, keras dan kemudahan, kesuburan dan produktivitas tanah pada daerah geografis tertentu.

*Struktur Tanah

Struktur dapat berkembang dari butir-butir tunggal ataupun kondisi massive. Dalam rangka menghasilkan agregat-agregat dimana harus terdapat beberapa mekanisme dalam mana partikel-partikel tanah mengelompok bersama-sama menjadi cluster. Pembentukan ini kadang-kadang sampai ke tahap perkembangan struktural yang mantap.

Struktur tanah dapat memodifikasi pengaruh tekstur dalam hubungannya dalam kelembaban, porositas, tersedianya unsur hara, kegiatan jasad hidup dan pertumbuhan akar. Struktur lapisan olah dipengaruhi oleh praktis dan di mana aerasi dan drainase membatasi pertumbuhan tanaman, sistem pertanaman yang mampu menjaga kemantapan agregat tanah akan memberikan hasil yang tinggi bagi produksi pertanian.

*Kadar Air

Kadar dan ketersediaan air tanah sebenarnya pada setiap koefisien umum bervariasi terutama tergantung pada tekstur tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa kimiawi dan kedalaman solum/lapisan tanah. Di samping itu, faktor iklim dan tanaman juga menentukan kadar dan ketersediaan air tanah. Faktor iklim juga berpengaruh meliputi curah hujan, temperatur dan kecepatan yang pada prinsipnya terkait dengan suplai air dan evapotranirasi. Faktor tanaman yang berpengaruh meliputi bentuk dan kedalaman perakaran, toleransi terhadap kekeringan serta tingkat dan stadia pertumbuhan, yang pada prinsipnya terkait dengan kebutuhan air tanaman.

2.2 Pengendalian OPT melalui factor edafik

  • Pengolahan tanah

Suatu usaha yang cukup praktis pada pengendalian gulma annual, biennial, perennial, ialah cara pengolahan tanah. Dalam pengendalian gulma annual cukup dibajak dangkal saja. Dengan cara ini gulma tersebut dirusakkan bagian atas tanah saja. Sedang untuk biennal bagian atas tanah dan mahkota, dab bagi perennial kedua bagian di bawah dan di atas tanah dirusakkan. Kebanyakan gulma annual dapat dikendalikan hanay dengan sekali pemberoan. Bila tanah banyak mengandung biji gulma yang viabel, maka perlu diikuti tahun kedua dengan pertanaman barisan dan pengolahan yang bersih untuk mencegah pembentukan biji. Sedangkan untuk gulma perennial, pemberoan semusim belum cukup. Sebaiknya perlakuan digaabung dengan pengunaan herbisida dan pengolahan yang bersih. Metoden ini cukup memadai dan beragam dengan spesies gulma, usia infestasi dan sifat tanah, kesuburan serta kedalaman air tanah. Gulma perennial yang berakar dangkal sekali pembajakan cukup dapat mereduser, dengan “membawa” akar ke  atas dan dikeringkan. Pembajakan di atas akan menekan pemebentukan dan tunas baru. Untuk gulma perennial berakar dalam pembajakan berulangkali dan pada interval teratur akan menguarangi perkembangannya. Perlakuan ini akan menguras cadangan pangan dalam akar dengan berulangkali merusak bagian atas. Pada tanah ringan dan kurang subur perlakuan tersebut sangat berhasil. Dari pengolahan tanah dapat disimpukan bahwa penimbunan titik tumbuh gulma dan mengganggu sistem perakaran dengan pemotongan akar dapat membuat gulma mati, karena potongan-potongan akar dapat mengering sebelum pulih kembali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

3.1 Alat dan Bahan

Alat     : corong berlese                      : Sebagai alat penyaring tanah

Mikroskop binokuler                        : Sebagai alat pengamatan benda kecil

Cetok                                    : Sebagai alat pengambil tanah

Kantung plastik hitam          : Sebagai wadah peletakkan tanah

Baskom                                 : Sebagai wadah air detergen

Buku identifikasi                  :Sebagai buku pedoman untuk mengidentifikasi

 

Bahan  : Air                                        : Bahan campuran detergen

Detergen                               : Bahan untuk membuat air sabun

Material tanah dan tanah diperlakukan secara organik dan konvensional : sebagai                                sampel tanah yang akan diamati.

3.2 Cara Kerja

Siapkan Alat dan Bahan

Membuang tanah pada saringan (bersihkan bila ada)

 

 

 

 

 

Buat larutan sabun (seperti pitfall) (Jangan terlalu berbusa)

Letakkan larutan sabun dibawah corong berlese

Letakkan tanah pada saringan yang terdapat pada corong berlese

Amati

Amati

Spesimen kasat mata (makro)

Spesimen tidak kasat mata (mikro)

Spesimen kasat mata (makro)

Ambil & tiriskan

Letakkan pada cawan petri

Amati pada mikroskop binokuler

Dokumentasikan

Dokumentasi

Identifikasi (KDS/Internet)

identifikasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3 Analisa Perlakuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil Dokumentasi

4.2 Hasil Identifikasi Spesimen yang ditemukan

4.3 Peran spesies yang ditemukan dalam ekosistem

4.4 Pembahasan (kaitkan dengan kondisi tanah yang dibawa)

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

      Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang terdiri  dari hama, penyakit dan gulma, merupakan kendala utama dalam budidaya tanaman. Organisme pengganggu tanaman ini pada suatu lahan pertanian sangat mengganggu laju pertumbuhan tanaman yang dibudidayakan, ini dikarenakan antara tanaman yang dibudidayakan dengan OPT ini bersaing untuk mendapatkan makanan, serat dan tempat perlindungan, maka dari itu untuk mengatasi masalah ini perlu dilakukan upaya pengendalian yang terpadu demi menjaga kualitas tanaman. Dan suatu tanah yang baik terdiri oleh beberapa sifat yaitu diantaranya adalah drainase yang baik, mampu menyimpan air dimusim kering, tidak membutuhkan banyak pupuk, dan subur menghasilkan aroma tanah yang khas.

5.2 Saran

                  Praktikum DPT yang berkesan semoga praktikum selanjutnya lebih berkesan lagi dan lebih menarik.

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.anneahira.com/sifat-kimia-tanah.htm

http://rien2023.blogspot.com/2010/03/sifat-fisik-tanah.html

http://boymarpaung.wordpress.com/2009/02/19/sifat-biologi-tanah/

Hamid. A, Miftakhul. A, Suharno, dan Yekti. A. 2006 Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian.

Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Magelang Yogyakarta.

Hidayat,A. 2001. Metoda Pengendalian Hama. Direktorat Pendidikan Menengah

Kejuruan Jakarta.

(Syarief, 1979). (Thompson dan Troen, 1978). (Anas 1989) (Hakim et al., 1986) (Hanafiah, 2005). (Soepardi, 1983)

Your Reply

*