browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

PENGENDALIAN KUALITAS PADA PROSES PRODUKSI CPO DI PMKS PT CISADANE SAWIT RAYA

Posted by on 1 January 2015

PENGENDALIAN KUALITAS PADA PROSES PRODUKSI CPO DI PMKS

 

       Pengendalian kualitas (quality control) merupakan bagian dari manajemen kualitas yang difokuskan pada pemenuhan persyaratan kualitas. Dengan kata lain, pengendalian kualitas adalah suatu tahapan dalam prosedur yang dilakukan untuk mengevaluasi suatu aspek teknis pengujian dan/atau kalibrasi (Hadi,2007).  Pengendalian kualitas dilakukan untuk menjamin bahwa tujuan yang diset dalam tahap perencanaan, dapt dipenuhi selama produksi (Herjanto, 2008). Pengendalian kualitas ini bertujuan untuk mencegah penyimpangan  penyimpangan produk dari standar yang ditetapkan. Apabila terjadi penyimpangan yang melebihi standar yang ditetapkan oleh perusahaan, maka dilakukan settingan kembali terhadap peralatan, agar tercapai standar yang diinginkan.

1.1   Standar Kualitas CPO

          Standar kualitas tersebut dapat ditentukan dengan menilai sifat-sifat fisiknya seperti titik lebur, bilangan penyabunan maupun bilangan Iodium. Berdasarkan standar internasional standar kualitas CPO meliputi kadar ALB, air, kotoran, Fe, Cu, bilangan peroksida. Standar kualitas pada PMKS PT Cisadane Sawit Raya ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara pihak trader dari perusahaan dan dari pihak pembeli. Standar minimal yang harus dicapai oleh perusahaan dan dijadikan sebagai acuan standar kualitas dalam produksinya. Apabila kualitas yang dihasilkan dari perusahaan tidak sesuai dengan kesepakatan, maka perusahaan akan terkena klaim dan berakibat pada penurunan harga. Nilai kualitas minyak produksi PMKS ditunjukkan pada Tabel 5.1.

Tabel 5.1 Nilai kualitas minyak produksi

No. Kategori

Standar (%)

PKS

SNI

1. ALB (maksimal)

4,5

5,0

2. Kadar Air (maksimal)

0,2

0,5

3. Kadar Kotoran (maksimal)

0,02

0,5

(Sumber: PMKS PT Cisadane Sawit Raya dan Badan Standarisasi nasional)

1.2   Pengendalian Kualitas CPO

Menurut Chaerani (2008) pengendalian kualitas adalah penggunaan teknik-teknik dan aktivitas-aktivitas untuk mencapai, mempertahankan dan meningkatkan kualitas suatu produk atau jasa. Pengendalian kualitas juga dapat dikatakan yaitu suatu proses pengaturan secara standar yang telah ditentukan, dan melakukan tindakan tertentu jika terdapat perbedaan. Analisa kualitas produksi adalah analisa terhadap pencapaian nilai kualitas yang menjadi standar produksi dan dapat diterima oleh pasar yang berkisar 3,5 hingga 4,5%. Stasiun produksi yang sangat berpengaruh terhadap kualitas CPO yang dihasilkan yaitu, stasiun Sterilizer dan Clarification. Untuk menentukan kualitas minyak agar sesuai dengan kualitas yang dipasaran maka dilakukan pengecekan nilai asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak selama proses produksi. Pengecekan tersebut di lakukan setiap proses produksi berlangsung dan dalam jangka waktu 3 jam sekali pada stasiun Clarification.

Berikut ini adalah upaya yang dilakukan perusahaan untuk menjaga kualitas CPO :

  1. Menjaga tekanan uap saturated (Steam)

Tekanan uap saturated (steam) yang digunakan adalah 1,5 – 3,0 bar dengan temperatur 120oC – 140oC yang diinjeksikan dari back pressure valve (BPV). Perlakuan tersebut dilakukan untuk mengurangi kadar air dalam TBS, menon-aktifkan enzim lipase dan oksidase yang dapat mempengaruhi kenaikan asam lemak bebas. Uap saturated (steam) yang diinjeksikan di atur dalam step-step yang telah di tentukan pabrik yang ditunjukkan pada Tabel 5.2.

Tabel 5.2 Step/Cycle of Sterilization

Step Duration

(Min)

ValveInletExhaustCondensateAux. Inlet

145OSOS281OSSS315OSOS446SOOS515OSOS691OSSS715OSOS856SOOS915OSOS10111OSSS1115OSOS12121OSSS1315OSOS14151OSSS1525OSOS1696SOOS

Sumber : PMKS PT. Cisadane Sawit Raya (2014)

Keterangan:
S : Valve Tertutup

O : Valve Terbuka

Puncak pertama dicapai pada step ke empat, dilakukan dengan memasukan steam dari Back Pressure Valve dengan tekanan steam  1 kg/cm2 ke sterilizer. Puncak kedua dicapai pada step ke delapan, dilakukan dengan memasukkan steam dari Back Pressure Valve dengan tekanan steam  1,5  Kg/cm2 ke sterilizer dan puncak ke tiga dicapai pada step ke enam belas, dilakukan memasukan steam dari Back Pressure Valve dengan tekanan steam  3  bar.

Keberhasilan sistem perebusan tripple peak (SPTP) dipengaruhi oleh tekanan uap yang tersedia, kapasitas rebusan, bahan baku dan lama perebusan. Tabung sterilizer yang digunakan mampu menahan steam sebesar 3,2 kg/cm2, apa bila melebihi maka steam akan di keluarkan melalui pipa sefty valve. Apabila step-step yang telah ditentukan tidak tercapai dalam prosesnya, dapat berakibat pada TBS yang telah di sterilizer. Misalnya, brondolan tidak mau membrondol pada saat di tresher, kadar air tinggi.

  1. Pengontrolan Suhu pada beberapa peralatan yang ada di stasiun clarification

Suhu yang dijaga berkisar 95 – 100oC. Suhu pada peralatan pada stasiun clarification dikontrol untuk mencegah minyak mengalami pembekuan dan memudahkan dalam pemisahan antara minyak dan air. Peralatan yang dijaga suhunya anatara lain, CST, Sludge Tank, dan oil tank.

  1. Penyaringan (filtrasi)

Penyaringan dilakukan untuk pemisahan crude oil dari fibre-fibre, cagkang-cangkang halus dan partikel-partikel lainnya dengan menggunakan filtrasi ukuran 20-40 mesh.

  1. Pengendapan

Pengendapan merupakan pengambilan minyak berdasarkan viskositas (density) antara minyak dan partikel-partikel lainnya. Mendapatkan minyak semaksimal mungkin di atas target. Pencapaian kualitas minyak , Moisture = < 1% dan Dirt = < 0.05%. Meminimalkan kandungan minyak pada sludge under-flow 7-8%.

  1. Centrifugasi

Centrifugasi merupakan proses pemisahan minyak pada tahap akhir, dengan metode centrifugal.

  1. Pemurnian

Proses bertujuan untuk pemurnian minyak yang masih mengandung kadar air dan kotoran-kotoran yang sangat ringan.

1.2.2      Sampling

Sampling diperlukan untuk monitoring terhadap proses produksi sehingga diperoleh hasil produksi yang standar. Sampling juga digunakan untuk mendapatkan efisiensi penggunaan material dan bahan baku. Hal yang harus diperhatikan dalam sampling adalah sampel yang diambil harus betul-betul mewakili objek secara keseluruhan sehingga jumlah sampel, waktu pengambilan sampel dan juga titik-titik pengambilan sampel perlu mendapat perhatian serius.

Proses sampling akan menentukan kebenaran hasil analisis. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sampling yaitu:

  1. Pengambilan sampel
    1. Waktu dan tempat pengambilan sampel harus tepat. Misalnya pada pengambilan sampel VCO dari oil purifier setiap tiga jam sekali.
    2. Tidak ada pengaruh-pengaruh maupun kontaminasi dari luar yang dapat mempengaruhi kondisi sampel. Misalnya sampel VCO di simpan pada botol kecil yang tertutup rapat sampai sampel di gunakan untuk analisa di laboratorium.
    3. Wadah sampel harus dipastikan bersih sebelum digunakan.
  2. Perlakuan terhadap sampel

Pencampuran dari sampel-sampel yang sudah terkumpul harus homogen.

  1. Persiapan analisis
    1. Alat-alat yang digunakan dipastikan bersih dan kering.
    2. Dipastikan bahwa prosedur analisa sudah benar–benar dipahami oleh analis yang melakukannya.
  2. Analisis
    1. Prinsip kejujuran sangat diperlukan.
    2. Prinsip ketelitian dan ketepatan haruslah dipahami dan dipenuhi

Titik pengambilan sampel pada PMKS Negeri Lama, PT. Cisadane Sawit Raya dapat dilihat pada Lampiran 7.

1.2.2      Analisa Kualitatif

1.2.2.1  Analisa Kadar Air CPO

Menurut Ketaren dalam Chaerani (2008) kadar air dapat mempengaruhi kualitas CPO, semakin tinggi kadar air, maka semakin rendah kualitas CPO. Kadar air yang tinggi dapat menyebabkan hidrolisis yang akan merubah minyak menjadi asam-asam lemak bebas sehingga dapat menyebabkan ketengikan. Penentuan kadar air dalam minyak ini dinilai sangat penting, karena air yang terkandung dalam minyak dengan kadar tinggi di atas 0,2% akan membantu proses hidrolisis. Hasil data laboratorium dapat digunakan untuk mengantrol agar kandungan air dalam minyak berada dalam jumlah yang minimal.

Secara umum, banyaknya air maupun bahan organik lain yang mudah menguap dalam minyak tersebut dinyatakan sebagai kadar air, yaitu selisih bobot yang hilang pada ampel setelah dipanaskan pada suhu 104oC selama 3 jam dibandingkan dengan sampel sebelum sampel dipanaskan. Bahan yang digunakan adalah sampel minyak kelapa sawit dan alat yang digunakan diantaranya, oven, neraca analitik, cawan petri/ krus porselin desikator.

Kadar air dihitung berdasarkan rumus berikut ini:

15kadar air= W1-W2W1-W0x 100%”>

Keterangan:

W0 = berat cawan petri kosong, gram

W1 = berat cawan petri dan sampel minyak sebelum                     dioven,gram

W2 = berat cawan petri dan sampel minyak setelah di oven,         gram.

Jika melebihi standar yang telah ditentukan, tim analis akan menginformasikan kepada operator stasiun tempat pengambilan sampel untuk dilakukan pengecekan pada peralatan dan mesin. Tujuan pengecekan peralatan dan mesin, agar peralatan bekerja kembali sesuai dengan standarnya untuk mencapai standar kadar air pada VCO.

1.2.2.2  Analisa Kadar Kotoran

Kadar pengotor dan zat terlarut adalah keseluruhan bahan-bahan asing yang tidak larut dalam minyak, pengotor yang tidak terlarut dinyatakan sebagai persen zat pengotor terhadapa minyak atau lemak. Pada umumnya, penyaringan hasil minyak sawit dilakukan dalam rangkaian proses pengendapan yaitu minyak sawit jernih dimurnikan dengan entrifugasi (Marunduri, 2009).

Kotoran yang terdapat pada minyak merupakan bahan-bahan yang terkandung dalam minyak mentah yang tidak larut dalam pelarut minyak yang bisanya merupakan pelarut organik. Penghilangan kotoran tersebut dilakukan dengan proses fisik seperti penyaringan, menentukan kadar kotoran yang terdapat dalam minyak dengan cara menimbang residu kering setelah dipisahkan dari sampel dengan menggunakan pelarut organik.

Perhitungan kadar kotoran menggunakan rumus sebagai berikut:

15kadar kotoran= W2-W0W1 x 100%”>

Keterangan

W1 = berat sampel, gram

W0 = berat kertas crucible + kertas saring, gram

W2 = berat crucible + kertas saring dan residu setelah

     pengeringan, gram

Jika melebihi standar yang telah ditentukan, tim analis akan menginformasikan kepada operator stasiun tempat pengambilan sampel untuk dilakukan pengecekan pada peralatan dan mesin. Tujuan pengecekan peralatan dan mesin, agar peralatan bekerja kembali sesuai dengan standarnya untuk mencapai standar kadar air pada VCO.

1.2.2.3  Analisa Asam Lemak Bebas

Proses hidrolisis CPO merupakan cara yang umum untuk menghasilkan asam lemak. Reaksi ini akan menghasilkan produk samping berupa Gliserol. Reaksi hidrolisis ini akan terjadi apabila CPO mengandung air dan dengan bantuan enzim lipase dalam CPO tersebut. Enzim lipase ini akan membantu air dalam menghidrolisa Trigliserida. Contoh reaksi hidrolisis sebagai berikut:

15Trigliserida+Air enzim Asam lemak+gliserol”>

Proses Hidrolisis dapat dilakukan langsung pada buah kelapa sawit, yakni dengan mengaktifkan enzim lipase sebagai Biokatalisator yang sudah terdapat di dalam buah kelapa sawit. Reaksi Hidrolisis akan menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas yang bersifat korosif. Kadar air dalam minyak dapat merusak struktur nolekul isolator karena gelembung air ini menjembatani terjadinya partial discharge dan proses penuaan lebih cepat. Reaksi Hidrolisa juga dapat menyebabkan kerusakan pada minyak atau lemak serta menyebabkan flavor dan bau tengik pada minyak tersebut. Penentukan kandungan asam lemak bebas pada minyak sawit mentah (CPO) dengan cara melarutkan sampel dalam pelarut tertentu kemudian dinetralisir menggunakan larutan alkali dengan bantuan indikator PP. Bahan yang digunakan, antara lain alkohol 98%, sampel minyak, indikator PP dan larutan NaOH 0,0992 N. Alat yang digunakan adalah erlenmeyer, neraca analitik, buret dan beaker glass

Ekuivalen asam lemak bebas merupakan kandungan asam lemak yang tidak terikat atau tidak tergeser dengan gliserol yang dinyatakan dalam miligram ekuivalen asam lemak/ gram minyak dikalikan dengan berat molekul asam lemak bebas yang dianggap sebesar 256 (dihitung sebagai asam palmitat) maka akan didapat kadar asam lemak bebas. Rumus perhitungan kadar asam lemak bebas sebagai berikut:

15kadar asam lemak bebas= Nxtx25,6W”>

ALB yang tinggi adalah suatu ukuran tentang ketidakberesan dalam panen dan pengolahan, misalnya pada proses Klarifikasi yang terlalu lama. Kadar ALB maksimal yang diperbolehkan sebesar 3%.

Adanya kadar ALB yang terlalu besar dapat berakibat :

  1. Menimbulkan kerugian pada waktu Rafinasi (pada proses netralisasi)
  2. Menimbulkan korosi pada alat – alat
  3. Menimbulkan masalah pembuangan acid oil (limbah hasil netralisasi)
  4. Menimbulkan masalah pencemaran air oleh limbah Rafinasi.

Cara untuk menjaga kadar ALB yang rendah, antara lain dengan :

  1. Pelukaan pada buah harus dihindarkan
  2. Berondolan jangan terlalu banyak, karena selain kurang terlindung, berondolan akan lebih mudah terluka karena lebih lunak.

 

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

                PMKS PT Cisadane Sawit Raya merupakan pabrik yang bergerak dibidang pengolahan kelapa sawit menjadi CPO dan kernel dengan kapasitas produksi 60 ton/jam. Perusahaan ini terletak di Labuhan Batu, Sumatera Utara dengan ibu kota Kabupaten Rantau Prapat. Kabupaten ini terletak di wilayah timur Propinsi Sumatera Utara. Struktur organisasi berbentuk organisasi lini dan staff dengan total karyawan 102 orang dan kekuasaan tertinggi terletak pada Senior Mill Manager. Tipe tata letak fasilitas produksi berdasarkan Hibrid Layout dengan pola aliran odd-angle. Bahan baku utama kelapa sawit jenis Tenera. Hasil dari PKS berupa Crude Palm Oil (CPO) dan biji kernel yang harus dijaga kualitasnya karena terkait dengan citra perusahaan dan harga jual produk.

            Penerapan sistem pengendalian kualitas PMKS PT Cisadane Sawit Raya tersusun  dengan baik. Pengontrolan terhadap bahan baku TBS. Pada proses produksi dilakukan sampling pengamatan dengan melakukan analisa terhadap kadar air, kadar kotoran dan kadar asam lemak bebas pada CPO secara berkala untuk menghasilkan CPO dengan mutu yang sesuai dengan standar perusahaan dan mitra perusahaan. Pada tahap produk akhir  pengendalian kualitas CPO dengan melakukan pengontrolan suhu pada storage tank, agar CPO tidak membeku dan kualitasnya terjaga.

6.2 Saran

Saran yang dapat diberikan untuk PMKS PT Cisadane Sawit Raya di antaranya:

  1. Pengontrolan terhadap kualitas TBS yang di terima lebih ditingkatkan lagi khususnya TBS yang berasal dari luar perusahaan.
  2. Meminimalis adanya buah restan yang diolah untuk menjaga kualitas CPO yang dihasilkan sesuai dengan standar yang di tetapkan perusahaan dan pembeli.


 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Aribowo. 2009. Perencanaan Ulang Tata Letak Fasilitas  Produksi. Jurnal Teknik Mesin. Vol. 5 No.2.

Assauri .2004. Manajemen Produksi. Fakultas Ekonomi    Universitas Indonesia: Jakarta.

Bayu A. D. N. 2008. Catatan Kecil Mengenai Pengolahan            Limbah Dengan Menggunakan Sinar Matahari.        Majalah Inovasi Vol. 12/XX/November 2008. PPI-Jepang.

Ghaerani H.S. 2008. Penetapan Kadar Air dalam Crude Palm     Oil (CPO) Secara Gravimetris. USU. Medan.

Depkes, RI. 2004. Higiene Sanitasi Makanan dan Minuman.       Indeks. Jakarta.

Dinanovia. 2009. Desain Proses Produksi. http://dinanovia.lecture.ub.ac.id/files/2009/09/desain proses-produksi.pdf. Diakses Pada Tanggal 3 Juli 2014       pukul 14.02 wib.

Hadi, A. 2007. Pemahaman dan Penerapan ISO/IEC 17025:2005. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Haming M., Mahfud N. 2007. Manajemen Produksi Modern: Operasi Manufaktur dan Jasa Buku 2. Bumi Aksara. Jakarta.

Handoko, T. H. 2004. Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi. BPFE UGM. Yogyakarta.

Hariandja, M.T.E. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Grasindo. Jakarta.

Haryadi H. 2009. Administrasi perkantoran untuk Manajer & Staf. Transmedia Pustaka. Jakarta.

Heizer J. 2004. Operation Managemant. Upper Saddle      River: New Jersey.

Herjanto E. 2008. Manajemen Operasi. Edisi Ketiga.          Grasindo. Jakarta.

Hurriyati, R. 2005. Bauran Pemasaran dan Loyalitas        Konsumen. Cetakan Pertama. Alfabeta. Bandung.

Kotler P., Keller K. L. 2009. Manajemen Pemasaran. Erlangga.     Jakarta.

Kumar, S. A. dan Suresh, N. 2006. Operations Management.       New Age International Ltd, Publisher. New Delhi.

Mardi F. H. 2009. Pradigma Baru Manajemen Indonesia  Menciptakan Nilai Dengan Bertumpu Pada Kebijakan       Dan Potensi Insani. Mizan. Bandung.

 

Marunduri, F.J. 2009.  Pengaruh Waktu Inap CPO pada   Storage Tank Terhadap Kadar Asam Lemak Bebas,            Kadar Air, dan Kadar Kotoran di PTPN III Tebing           Tinggi PKS Kebun Rambutan. USU. Medan.

Mulianto S., Cahyadi R. E.,  Widjajakusuma M. K. 2006.      Panduan Lengkap     Supervisi Diperkaya Perspektif      Syariah. Gramedia. Jakarta.

Nafarin, M. 2007. Penganggaran Perusahaan Edisi 3. Penerbit   Salemba Empat. Jakarta.

Nurika, I., Nur H., dan Nur A. 2006. Manajemen dan Teknologi    Limbah           Agroindustri. Fakultas Teknologi        Pertanian Universitas Brawijaya.        Malang.

Nanda. 2009. Jurnal: Analisa Koordinasi Peralatan. UNDIP

Palupi E. R., Dedywiryanto Y. 2008.Kajian Karakter Terhadap     Cekaman Kekeringan Pada Beberapa Genotipe Bibit           Kelapa Sawit (Elais Guineenis Jacq.). Jurnal Bul.           Agron. (36) (1) 24 – 32. IPB. Bogor.

 

Pohan. 2007. Panduan Lengakp Kelapa Sawit Manajemen         gribisnis dari Hulu Hingga Hilir. Penebar Swadaya.        Akarta.

Pahan, I. 2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit, Manajemen     Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya.     Jakarta.

Prasetya H., Lukiastuti F. 2009. Manajemen Operasi. MedPress.  Yogyakarta.

Purnomo, Hari. 2004. Perencanaan dan Perancangan      Fasilitas. Edisi Pertama. Penerbit Graha Ilmu.            Yogyakarta.

Pycraft, M., Sigh H., Phihlela, K., Slack N., Chambers, S.,  Harland, C., Harrison, A., and Johnston R. 2007.            Operation Management Southern Africa Edition.            Pearson Education. South Africa.

Soeharto, I. 2002. Studi Kelayakan Proyek Industri. Erlangga.     Jakarta.

Sudarmaji, 2005. Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik           kritis (HACCP). Jurnal kesehatan Lingkungan Vol I no.2 (http://www.journal.unair.ac.id).

Sukoco, Badri M. 2007. Manajemen Administrasi Perkantoran Modern.           Erlangga. Surabaya.

Supratjati, Tuginem, Pudji Rahayu. 2004. Tata Usaha dan  Kearsipan. Kansius.   Yogyakarta.

Tampubolon, M.P. 2004. Manajemen Operasional. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Thaheer, H. 2005. Sistem Manajemen HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point). Bumi Aksara. Jakarta.

Young, Freedman. 2006. Fisika Universitas. Erlangga. Jakarta.

Yunarto H. I .2006. Business Concepts Implementation   Series in Sales and Distribution Management.            Gramedia. Jakarta.

Zaharuddin H. 2006. Menggali Potensi Wirausaha. CV Dian         Anugerah Prakasa. Bekasi.

One Response to PENGENDALIAN KUALITAS PADA PROSES PRODUKSI CPO DI PMKS PT CISADANE SAWIT RAYA

  1. IKHLAL ZUPRI MANURUNG

    so coool, thanks for your article

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*