KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulillah, penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah serta inayah-Nya, sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik. Makalah dengan judul “panen dan pasca panen padi” ini ditilis untuk memenuhi tugas tersruktur matakuliah dasar budidaya tanaman.
Makalah ini membahas tentang penen dan pasca panen padi yaitu mulai dariproses pemanenan hingga sampai ketangan tangan konsumen yaitu dari panen,cra panen um ur panen alat panen,dan pasca panen terdiri dari pengumpulan dan penumpukan,perontokan pengeringaan penyimpanan dan pemasaran hasil panen padi berupa beras.
Kendala yang dialami selama penulisan makalah ini diantaranya sulitnya mencari literatur sebagai bahan kajian pustaka dan mengkoordinasi antar pihak penulis dalam penulisan makalah. Kendala tersebut dapat dipecahkan dengan pembagian tugas dalam mencari literatur dan mengordinasi antar penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Eko widaryanto selaku dosen mata Dasar budidaya tanaman yang mengajar kami. Juga kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan dan motivasi dalam penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari kesempurnan. Penulis berharap saran dan kritik yang membangun dari para pembaca untuk perbaikan makalah selanjutnya. Semoga karya tulis ini memberikan manfaat kepada masyarakat dan semua disiplin ilmu lainnya.

Malang, Mei 2012

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB 1 3
PENDAHULUAN 3
1.1Latar Belakang 3
1.2.Rumusan Masalah. 3
1.3.Tujuan 3
1.4.Manfaat 3
BAB II 5
TINJAUAN PUSTAKA 5
2.1 pengertian panen dan pasca panen 5
2.2 kreteria panen 5
2.3 tahapan penanganan pasca panen 5
2.4 prinsip dasar penanganan pasca panen 6
2.5 padi 6
BAB III 8
PEMBAHASAN 8
3.1 Panen 8
3.2Pasca Panen 8
BAB IV 11
PENUTUP 11
4.1 kesimpulan 11
Bibliography 12

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Padi sebenarnya bukanlah hal baru bagi manusia, termasuk di Indonesia. Sudah sejak dahulu nenek monyang kita membudidayakannya. Sejarah dunia pertanian mengalami lompatan yang sangat berarti, dari pertanian tradisional menuju pertanian modern.
Beras yang dihasilkan dari tanaman padi merupakan makanan pokok lebih dari separuh penduduk Asia. Sekitar 1.750 juta jiwa dari sekitar tiga milyar penduduk Asia, termasuk 200 juta penduduk Indonesia, menggantungkan kebutuhan kalorinya dari beras. Sementara di Afrika dan Amerika Latin yang berpenduduk sekitar 1,2 milyar,100 juta di antaranya pun hidup dari beras.
Di Indonesia, beras bukan hanya sekedar komoditas pangan, tetapi juga merupakan komoditas strategis yang memiliki sensitivitas politik, ekonomi dan kerawanan sosial yang tinggi. Demikian tergantunya penduduk Indonesia pada beras, maka sedikit saja terjadi gangguan produksi beras, maka pasokan menjadi terganggu dan harga jual meningkat.
Petani di daerah kita pada umumnya enggan melakukan penanganan pasca penen. Hal ini selain disebabkan karena kurangnya modal usaha yang berujung pada rasa ingin segera memasarkan hasil pertanian juga disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentangan penanganan pasca panen itu sendiri. Penanganan hasil pertanian yang selama ini sering dilakukan petani hanyalah sekedar menjemur untuk menghilangkan kadar air yang terdapat di kulit luar produk itu sendiri, seperti padi, kacang tanah, jagung,kedelai,dan lain lain

1.2.Rumusan Masalah.
Pemanenan merupakan kendala yang sering dialami petani padi,yaitu bagaimana mengefisiensikan pemanenan dengan waktu dan biaya yang relatif murah dan singkat,dengan kualitas yang baik.Sehingga diperlukan teknik dan alat-alat mesin pemanenan padi untuk mengefisiensikan pemanenan padi.
1.3.Tujuan
• Untuk mengetahui teknik pemanenan padi dengan efisien.
• Untuk mengetahui pemanenan padi dengan menjaga kualitas padi tetap baik.
• Untuk mengetahui cara penyimpanan padi dengan baik dan benar.
1.4.Manfaat
Kita bisa mengetahui teknik pemanenan dengan ,efisien,dan tetap menjaga kualitas padi yang dipanen dengan baik,dan juga kita bisa mengetahui bagaimana cara menyimpan padi dengan baik dan benar sehingga kita bisa menyimpan hasil panen padi dengan baik dan tetap menjaga kualitas padi dengan baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 pengertian panen dan pasca panen
panen adalah kegiatan mengumpulkan hasil usaha tani dari lahan budidaya.
(Sudiarto, 2000)
Panen adalah suatu kegiatan pemungutan hasil pertanian yang telah cukup umur dan udah saatnya untuk dipetik
(Pitojo, 2000)
Penanganan pasca panen adalah perlakuan yang diberikan pada hasil pertanian setelah panen sampai komoditas tersebut berada ditangan konsumen.
(Cahyono, 1999)
Penanganan pasca panen adalah pengembilan bagian tanaman sebagai produk yang habis dikonsumsi dengan pengolahan faktor faktor yang mempengaruhi keadaan dan kepuahsan yang didapat dicapai dari produk pertanian.
(Kader, 2002)
2.2 kreteria panen
 Warna daun sudah berwarna hijau tua,tetapi tidak terlalu tua
 Tanaman masuk pada fase pemasakan
 Sesuai dengan umur kemasakan fisiologis
 Ditandai dengan senescens unt tan semusim, perubahan warna pada buah unt tan buah
 Komoditas daun ® pada fase pertumbuhan lambat atau vegetatif cepat
(Cahyono, 1999)
2.3 tahapan penanganan pasca panen
 Pencucian
Membersihkan kotoran atau benda asing yang berada menempel pada permukaan hasil panen
 Grading
Memberikan penilain yang lebih pada tanman yang memiliki nilai lebih dari yang lain dengan tujuan untuk meningkatkan nilai harga jual.
 Pengemasan
Menempatkan suatu hasil pertanian pada suatu wadah dengan tujuan melindungi dari kerusakan,mempermudah perlakuan selanjutnya dan juga dapat menarik konsumen dengan wadah yang menarik.
 Penyimpanan
Kegiatan yang dilakukan dalam upaya untuk memperpanjang daya simpan agar dapat didistribusikan /dipasarkan kewilayah yang msemakin luah dan harga yang lebih tinggi pula
 Pengiriman
Kegiatan yang dilakukan untuk memindahkan suatu hasil pertanian dari satu tempat ketempat lain untuk menyebarkan produk pertanian agar dapat meningkatkan nilai jual suatu hasil pertanian.
 Pemasaran
Setelah semua tahap pasca panen selesai barang mulai diperjual belikan dengan mengubahnya menjadi produk lain.penjualan dapat dilakukan dari lahan langsung di lahan pertanian atau dengan cara menitipkannya ke swalayan atu dengan menjualnya langsung ke konsumen.
(Pitojo, 2000)
2.4 prinsip dasar penanganan pasca panen
 Mengenali sifat biologis hasil tanaman yang ditangani meliputi;
1. Respirasi dan transpirasi
2. Sifat biologis
3. Bagian tanaman yang dipanen
4. Struktur dan hasil tanman yang diapanen
 Mengetahui jenis kerusakan yang terjadi meliputi;
1. Fisik perubahan yang terjadi karena proses fisiologi yang terlihat sebagai proses fisiknya contohnya;warna,bentuk,ukuran,aroma,rasa,dan penenigkatan zat zat tertentu pada tanman tersebut
2. Kerusakan mekanis disebabkan benturan,gesekan,tekanan,tusukan baik antara hasil pertanian tersebut atau dengan tempat pengiriman.
3. Kerusakan fisiologi disebabkan karena adanya pengaruh hama dan penyakit.
(Sudiarto, 2000)
2.5 padi
Padi (bahasa latin: Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari india atau indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SM.Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 mdpl dengan temperatur 19-270C , memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan. Padi menghendaki tanah lumpur yang subur dengan ketebalan 18-22 cm dan pH tanah 4 – 7.
Klasifikasi padi;
 Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
 Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
 Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
 Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
 Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
 Sub Kelas: Commelinidae
 Ordo: Poales
 Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
 Genus: Oryza
 Spesies: Oryza sativa L.
(Pitojo, 2000)

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Panen
Pemanenan sebaiknya dilakukan pada umur panen yang tepat dan dengan cara panen yang benar. Umur panen padi yang tepat akan menghasilkan gabah dan beras bermutu baik, sedangkan cara panen yang baik secara kuantitatif dapat menekan kehilangan hasil. Oleh karena itu komponen teknologi pemanenan padi perlu disiapkan.
Umur Panen
Umur panen dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya varietas, iklim, dan tinggi tempat, sehingga umur panennya berbeda. Berdasarkan kadar air gabah, padi yang dipanen pada kadar air 21-26% memberikan hasil produksi optimum dan menghasilkan beras bermutu baik. Padi dipanen pada saat malai berumur 30 – 35 hari setelah berbunga rata sehingga dihasilkan gabah dan beras bermutu tinggi. Penentuan saat panen yang umum dilaksanakan petani adalah didasarkan kenampakan malai, yaitu 90 – 95 % gabah dari malai tampak bewarna kuning.

Alat Dan Cara Panen
— Alat panen yang sering digunakan dalam pemanenan padi, adalah sabit biasa, sabit bergerigi dan ani-ani
— Cara panen padi tergantung kepada alat perontok yang digunakan.
— Ani-ani umumnya digunakan petani untuk memanen padi lokal yang tahan rontok dan tanaman padi berpostur tinggi dengan cara memotong pada tangkainya.
— Cara panen padi varietas unggul baru dengan sabit dapat dilakukan dengan cara potong atas, potong tengah atau potong bawah tergantung cara perontokannya.
— Cara panen dengan potong bawah, umumnya dilakukan bila perontokannya dengan cara dibanting atau menggunakan pedal thresher.
— Panen padi dengan cara potong atas atau potong tengah bila dilakukan perontokannya menggunakan mesin perontok.

3.2Pasca Panen

Penumpukan dan Pengumpulan
Penumpukan dan pengumpulan merupakan tahap penanganan pasca panen setelah padi dipanen. Ketidak-tepatan dalam penumpukan dan pengumpulan padi dapat mengakibatkan kehilangan hasil yang cukup tinggi. Untuk menghindari atau mengurangi terjadinya kehilangan hasil sebaiknya pada waktu penumpukan dan pengangkutan padi menggunakan alas. Penggunaan alas dan wadah pada saat penumpukan dan pengangkutan dapat menekan kehilangan hasil antara 0,94 – 2,36 %.
Perontokan
Setelah dipanen, gabah harus segera dirontokkan dari malainya. Tempat perontokan dapat langsung dilakukan di lahan atau di halaman rumah setelah diangkut ke rumah. Perontokan ini dapat dilakukan dengan perontok bermesin ataupun dengan tenaga manusia. Bila menggunakan mesin, perontokan dilakukan dengan menyentuhkan malai padi ke gerigi alat yang berputar. Sementara perontokan dengan tenaga manusia dilakukan dengan cara batang padi dipukul-pukulkan, malai padipun dapat diinjak-injak agar gabah rontok.
Untuk mengantisipasi agar gabah tidak terbuang saat perontokan maka tempat perontokan harus diberi alas dari anyaman bambu atau lembaran plastik tebal (terpal). Dengan alas tersebut maka seluruh gabah diharapkan dapat tertampung
Setelah dirontokkan, butir-butir gabah dikumpulkan di gudang penyimpanan sementara. Oleh karena tidak semua petani memiliki gudang sementara, pengumpulan dapat dilakukan di teras rumah atau bagian lain dari rumah yang tidak terpakai. Gabah tersebut tidak perlu dimasukkan dalam karung,tetapi cukup ditumpuk setinggi maksimal 50 cm.
Pengeringan
Agar tahan lama disimpan dan dapat digiling menjadi beras, maka gabah harus dikeringkan. Pengeringan gabah umumnya dilakukan di bawah sinar matahari. Gabah yang dikeringkan ini dihamparkan di atas lantai semen terbuka. Penggunaan lantai semen terbuka ini agar sinar matahari dapat secara penuh diterima gabah. Bila tidak memiliki halaman atau tempat terbuka yang disemen maka halaman tanah pun dapat dipakai untuk penjemuran. Namun, gabah perlu diletakkan pada alas anyaman bambu, tikar atau lembaran plastik tebal. Hal ini dilakukan agar gabah tidak tercampur dengan tanah.
Lama jemuran tergantung iklim dan cuaca, bila cuaca cerah dan matahari bersinar penuh sepanjang hari, penjemuran hanya berlangsung sekitar 2 – 3 hari. Namun, bila keadaan cuaca terkadang mendung atau gerimis dan terkadang panas. Waktu penjemurannya dapat berlangsung lama sekitar seminggu,sampai kadar air mencapai 14%.
Penggilingan
Penggilingan dalam pasca panen padi merupakan kegiatan memisahkan beras dari kulit yang membungkusnya. Pemisahan secara tradisional menggunakan alat sederhana, yaitu lesung dan alu. Lesung terbuat dari kayu utuh yang diceruk mirip perahu. Cerukan pada kayu tersebut berfungsi sebagai tempat gabah ditumbuk. Sementara alu merupakan pasangan dari lesung sebagai alat penumbuk gabah. Alu tersebut terbuat dari kayu yang bentuknya bulat panjang seperti pipa.
Kendala penggilingan gabah secara tradisional adalah pengerjaannya sangat lambat, tenaga kerja yang memadai tidak tersedia dan alatnya sulit dijumpai. Saat ini kebanyakan lesung dan alu sudah menghilang dari kehidupan petani padi karena kehadiran alat penggiling yang praktis dan daya kerja cepat
Pemisahan beras dari kulitnya dapat dilakukan dengan cara modern atau dengan alat penggiling. Alat yang sering digunakan berupa hulle. Hasil yang diperoleh pada penggilingan dengan alat penggiling gabah ini sama dengan cara tradisional, yaitu pada tahap pertama diperoleh beras pecah kulit. Pada penggilingan tahap kedua, beras akan menjadi putih bersih.

Penyimpanan Beras
Beras organik yang sudah digiling secara tradisional maupun modern dapat langsung dipasarkan. Namun, karena umumnya beras tidak langsung dapat dipasarkan seluruhnya maka perlu ada tempat penyimpanan. Teknik penyimpanan beras harus diperhatikan agar kondisinya tetap bagus hingga saatnya akan dijual
Umumnya beras disimpan di gudang setelah dikemas dalam karung plastik berukuran 40 Kg atau 50 Kg. Pengemasan dalam karung ini dilakukan secara manual oleh petani. Bagian karung yang terbuka dijahit tangan hingga tertutup rapat
Dalam gudang penyimpanan dapat saja beras diserang oleh hama bubuk. Biasanya hama bubuk ini menyerang beras yang tidak kering benar saat pengeringan. Hama bubuk tidak menyukai beras yang kering karena keras. Selain itu, hama bubuk pun menyukai tempat lembab sehingga ruangan gudang harus kering, yang dilengkapi dengan ventilasi udara.
Penumpukan karung berisi beras di dalam gudang pun harus ditata sedemikian rupa agar beras yang sudah lebih dahulu disimpan dapat mudah keluar lebih awal. Akan lebih baik lagi bila setiap karung diberi tindakan khusus seperti tanggal penyimpanan.
Pemasaran
Ada dua cara pemasaran beras di Indonesia, pertama petani menjual langsung di lahan pada saat sudah siap panen kepada pedagang pengumpul yang disebut penebas. Penebas inilah yang akan memanen dan mengolahnya lebih lanjut menjadi beras. Kedua, petani sendiri yang memanen,mengeringkan,lalu menjual kepedagang pengumpul,baik berupa gabah kering giling atau sudah menjadi beras. Penjualan beras biasanya dilakukan petani langsung kepada pedagang beras di pasar, dititipkan kepasar swalayan atau dijual langsung ke konsumen.

Bila dijual langsung ke pedagang beras di pasar, keuntungan yang diperoleh hanyalah berupa uang kontan, kerugiannya adalah harga yang diperoleh tidak maksimal karena pedagangpun harus mengambil keuntungan saat dipasarkan lebih lanjut.

Bila dititipkan di pasar swalayan, keuntungan yang diperoleh berupa harga jual yang lebih tinggi. Hanya saja pembayarannya tidak dilakukan secara tunai, melainkan setelah beras tersebut laku terjual. Beras yang dititipkan dikemas dalam plastik yang sudah dilengkapi dengan label
Bila dijual langsung ke konsumen, harganya memang sama dengan harga jual ke pasar swalayan, bahkan dapat lebih tinggi. Dari segi usaha cara ini kurang praktis karena petani harus mendatangi konsumen satu persatu.

BAB IV
PENUTUP
4.1 kesimpulan
Panen adalah suatu kegiatan pemungutan hasil pertanian yang telah cukup umur dan udah saatnya untuk dipetik.
Penanganan panen padi meliputi;
 Penentuan umur panen
 Cara panen
Penanganan pasca panen padi meliputi;
 Penumpukan dan Pengumpulan
 Perontokan
 Pengeringan
 Penggilingan
 Penyimpanan
 Pemasaran

Bibliography
Cahyono, B. (1999). Usaha Tani Dan Penanganan Pasca Panen. Yogyakarta: kanisius.
Kader, A. A. (2002). post harvest tecnology of horticultural crops. california: university of california.
Pitojo, S. (2000). Budidaya Kesemek. yogyakarta: kanisius.
Sudiarto, F. (2000). Dasar Pengawetan Pangan. yogyakarta: kanisius.