WP_000405

Untuk masuk ke dunia kerja, para lulusan dituntut tidak hanya memiliki apa yang namanya skill dan kemampuan ataupun gelar sarjana, melainkan para lulusan dituntut juga memiliki apa itu yang namanya “SEI”. Spiritual, Emosional, dan Intelektual question

            “No perfect in the world”. Itulah kata-kata yang sering dijumpai pada banyak kalimat motifasi yang pernah ada. Kata-kata ini tidak banyak diasumsi oleh seseorang. Mengingat kata-kata ini terlalu berat untuk dimiliki. Banyak dari para generasi bangsa yang tidak menyadari sesungguhnya setiap orang itu masih memiliki banyak sekali kekurangan. Inilah sekelumit pandangan yang masih membabi buta masyarakat indonesia. Bagaimana hal ini jika ditinjau dari kesiapan para generasi bangsa menghadapi dunia kerja? Perlu disadari, bahwa persiapan yang maksimal sangat dibutuhkan dan diinginkan oleh para lulusan untuk bisa masuk ke dunia kerja yang semakin kompetitif. Jikalau kita berasumsi “ usaha yang maksimal akan menghasilkan sesuatu yang maksimal pula”. Asumsi tersebut memang benar. Namun, perlu diketahui bahwa setiap kekurangan itu pasti ada pada setiap usaha yang dilakukan. Itu pula yang membuat membuat para lulusan saat ini berharap adanya persiapan yang maksimal sebelum masuk ke dunia kerja. Persiapan yang maksimal inilah yang bisa meminimalisir kemungkinan hal-hal negatif pada saat di dunia kerja.

Didalam dunia kerja, adanya suatu aspek yang akan membuat para lulusan itu akan bekerja ekstra keras dalam mempersiapkan diri. Ya, persaingan itulah yang nantinya akan menimbulkan kompetisi di dalam dunia kerja. Namun, perlu diingat di dalam dunia kerja yang dibutuhkan hanyalah persaingan yang sehat, bukan persaingan yang didalamnya malahan akan menimbulkan gejolak kecil di dalam sebuah lapangan kerja itu nantinya. Sehingga, dibutuhkanlah para lulusan yang mampu berkompetisi secara kompetitif dan “ fair play” di dalam dunia kerja itu sendiri. Lalu mengapa para lulusan itu harus menyiapkan segalanya secara matang? Sebab, saat ini dunia kerja telah  mengalami persaingan yang sangat ketat. Berbeda dengan dunia kerja pada masa lalu,yang tidak begitu ketat dalam persaingannya.

Berbicara tentang dunia kerja Indonesia, tampak bertolak belakang dengan dunia kerja luar negeri. Tapi tidak seluruhnya seperti ini. Perbedaan dunia kerja dibandingkan luar negeri terletak pada satu aspek yang begitu menonjol. Lapanagan kerja Indonesia tidak merekrut seseorang dari segi keahlian, melainkan dari segi sarjana atau tidak sarjanakah ia, bukan didasarkan pada keahlian yang dimiliki. Perbedaan ini berbanding 360 derajat dengan apa yang dilakukan lapangan kerja di luar negri. Di luar negri, lapangan kerja merekrut para lulusan, entah yang sudah lulus sarjana ataupun yang tidak sarjana sekalipun. Berdasarkan pada keahlian dan kemampuan terhadap keahliannya didalam bidang apa. Jika keahliannya mampu misalnya dalam bidang mesin, maka akan direkrut ke sektor permesinan. Inilah yang harus ditiru oleh dunia kerja di indonesia, khususunya di Indonesia. Sehingga perlu dibuat  sebuah sistem yang nantinya bisa memperbaiki kualitas lapangan kerja di Indonesia.

Kembali ke topik sebelumnya, yakni aspek-aspek yang mempengaruhi perekrutan dalam dunia kerja, maka hal ini akan mempengaruhi baik buruknya kwalitas lapangan kerja dalam dunia kerja tersebut.

  1. Sarjana. Pandangan dunia kerja indonesia terhadap gelar sarjana sangat begitu hebat dampaknya. Seseorang yang bersarjana akan begitu mudah masuk ke dalam sebuah lapangan kerja. Padahal, sebenarnya gelar sarjana bagi seseorang itu tidak terlalu penting. Mengapa? Sebab di Indonesia gelar sarjana itu bisa dibeli, asalkan ada uang. Inilah yang membuat buruknya dunia kerja di Indonesia, karena tidak mementingkan skill dan latar belakang kepribadian.
  2. Uang. Sarjana atau tidak sarjana yang dimaksud adalah berkemampuan atau memiliki keahlian atau tidak, hal ini bukanlah menjadi masalah bagi para lulusan yang latar belakangnya kaya. Mengapa? Sebab punya sebab, ternyata uang bisa membantu dalam memuluskan para lulusan yang tidak memiliki gelar sarjana. Khususnya yang tidak memiliki keahlian bisa dengan mudah masuk ke dalam dunia kerja tersebut. Dengan kata lain, “Suap” begitulah kata orang. Ya. Suaplah yang dapat memuluskan siapa saja yang tak berpendidikan untuk bisa masuk ke lapangan kerja hanya dengan uang.

Untuk  masuk ke dunia kerja, para lulusan dituntut tidak hanya memiliki apa yang namanya skilldan kemampuan ataupun gelar sarjana, melainkan para lulusan dituntut juga memiliki apa itu yang namanya “SEI”. Spiritual, Emosional, dan Intelektual question.

Spiritual Question. Sering kali SQ adalah sisi yang paling banyak dilupakan oleh para lulusan dalam menghadapi dunia kerja. Padahal SQ merupakan satu sisi yang harus ditanamkan serta selalu dimiliki  kapanpun dan dimanapun oleh para lulusan ketika berkarier di dunia kerja. Intensitas SQ tergantung pada pendidikan dan lingkungannya. Dua hal inilah yang perlu diperhatikan dalam membentuk SQ yang mumpuni. Sehingga teramat penting, untuk menumbuhkan SQ dimulai sejak dini dan dari hal yang kecil. Dua hal yang perlu diperhatikan dalam pembentukan SQ tadi adalah

  •           a) Lingkungan. Dalam hal ini dapat dibagi menjadi dua :

i. Faktor Internal. Disinilah peranan keluarga, khususnya seorang ayah yang sangat dibutuhkan dalam membimbing anak agar memilki spiritualitas yang baik. Doktrin yang benar dan tidak menyimpang dari seorang ayah harus dimulai sejak dini. Doktrin seperti ini sangat dibutuhkan, supaya nantinya di hari esok anak akan mampu berinteraksi dengan masyarakat luas, tanpa penyimpangan.

ii. Faktor Eksternal. Disinilah peran seorang teman mempengaruhi perilaku, serta akhlak dari seseorang. Pepatah arab mengatakan “Orang yang berteman dengan orang baik maka akan mengikuti baiknya”, begitu pula sebaliknya. Maka disinilah diperlukan kesadaran tinggi dari seseorang untuk memilih mana yang akan dipilihnya.

b) Pendidikan. Faktor pendidikan akan begitu mempengaruhi seseorang dari yang namanya kesadaran diri. Kesadaran diri dari memilih seorang teman, kesadaran diri untuk berperilaku baik, yang nantinya akan berujung pada spiritualitas yang tinggi. Kesadaran diri dapat didorong dari seberapa jauh seseorang itu dapat memahami keadaan di sekelilingnya. Artinya,

Kesadaran diri dapat didorong dari seberapa jauh seseorang itu dapat memahami keadaan di sekelilingnya. Artinya, bisakah seseorang itu menyesuaikan diri dengan norma agama yang telah berlaku meskipun di sekelilingnya banyak sekali penyimpangan ketika sudah memasuki dunia kerja. SQ juga bisa ditumbuhkan dari lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah yang kondusif akan menumbuhkan SQ yang baik pula. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah sekolah yang mampu untuk membentuk SQ pada semua siswanya. Maka yang dimaksud disini adalah sekolah yang memiliki keseimbangan antara Ilmu umum dan Ilmu agamanya. Keseimbangan ini nantinya sangat dibutuhkan untuk membentuk sosok lulusan yang ber-Iptek dan ber-Akhlak. Disini juga peran orang tua begitu penting ketika seorang lulusan membutuhkan proses pembentukan SQ. Karena SQ begitu penting dalam dunia kerja. Artinya, dengan adanya EQ & SQ, maka seorang lulusan akan tahan terhadap apa yang namanya sebuah godaan dalam dunia kerja. Penafsiran Emotional Question hampir sama dengan Spiritual Question. Hanya saja, EQ itu lebih condong kepada penentuan terhadap identitas dan diri seorang lulusan. Dikandung maksud, EQ itu akan menentukan pandangan atau penafsiran seseorang terhadap seorang lulusan. Pepatah arab mengatakan, “ Tubuh yang sehat terdapat pada jiwa yang sehat”. Jika kita perhatikan lebih dalam, memang benar, bahwa orang yang mempunyai EQ yang baik, maka cenderung akan selalu melakukan hal yang positif. Bagaimana posisi dan keadaannya saat itu.

Intelektual Question. Didunia nyata, orang lebih sering menyebutnya IQ. Ya, keberadaan IQ memang dimiliki oleh setiap orang yang lahir. Lain halnya dengan EQ dan SQ. Tidak semua orang memilikinya. Tingkatan IQ orang itu bermacam-macam. Ada yang rendah, biasa, tinggi, jenius, sampai superior. Memang, IQ yang tinggi membuat apra lulusan dengan memasuki dunia kerja. Tetapi, perlu diingat, ketika sudah di dunia kerja, yang dibutuhkan tidak lagi hanya Iqnya saja, tapi yang dominan adalah EQ dan SQ. Seorang lulusan yang hanya punya IQ saja, itu tidak cukup bilamana dalam dirinya tidak memiliki EQ dan SQ yang baik. Artinya apa? Artinya, seseorang lulusan yang hanya mengandalkan kecerdasannya belaka tidak akan memuai sesuatu kepuasan dalm dirinya pada saat dirinya kerja. Mengapa? Karena, kepuasan yang hakiki akan terasa bilaman arekan sepekerjaaannya itu juga akan puas. Itu artinya, usaha yang dilakukan itu akan lebih bermakna bilamana orang lain ikut merasakan sukses dan apa yang telah dikerjakannya. Sehingga, semua pihak disekitarnya akan merasa diuntungkan atas kerja kerasnya. Dengan kata lain, kecerdasannya itu memang bermanfaat. Sesuatu yang diharapkan oleh seseorang lulusan itu, terutama orang lain yang menjadi rekannya. Belakangan ini, kecerdasannya itu tidak dipakai untuk hal yang positif, tapi dipakai untuk menjadikan sesuatu itu hancur. Mari kita lihat lebih dalam, bagaimana banyak sekali orang cerdas, tapi kecerdasannya dipakai untuk memperkaya dirinya sendiri. Inilah kecerdasan yang tidak dibarengi oleh SQ dan EQ yang baik. Tidak hanya merugukan diri  sendiri, tapi juga merugikan lapangan kerja tersebut, yang nantinya bakal merugikan negara.

Dizaman ini,memang tidak banyak lulusan indonesia yang direkrut oleh pihak luar untuk bekerja di luar negeri. Namun, 2 -3 orang cukup untuk mewakili para lulusan indonesia berkiprah serta menyita perhatian dunia. Sekian lama memang dunia mengakui bahwa lulusan indonesia itu punya kwalitas yang dapat diandalkan pada saat berada dalam dunia kerja. Akan tetapi, apakah bisa para lulusan bisa bersaing dengan lulusan dari luar negeri? Jika kita lihat masa lalu, contohnya B.J. Habibie bisa memimpin sebuah perusahaan  pembuatan pesawat terbang di jerman, atau Sri Mulyani yang bisa menjadi Executive Managerdi Bank Dunia. Hal ini menjadi bukti bagaimana  kwalitas para lulusan indonesia. Meski, keduanya itu termasuk para senior.

Peran pemerintah terhadap perekrutan para lulusan yang masuk kedalam dunia kerja itu harus maksimal. Mengapa? Sekarang , maukah pemerintah menerima suatu kerugian dari apa yang dilakukan para lulusan? Oleh karena itu, jika tidak mau maka pemerintah harus juga adil dalam proses perekrutan. Sehingga dalam proses perekrutan itu harus diperbaiki.

Eko Hilmi Firmansyah