Semuanya itu mungkin. Memang, belajar itu merupakan butuh proses untuk mendapatkan hasil yang perfect. Namun tak lepas dari kesungguhan yang mendalam disertai niat sungguh-sungguh. Karena niat merupakan sumber dari awal keniatan kita dalam melaju perbuatan tersebut. Langsung a mbil contoh saja, seseorang yang cacat mau melakukan bahkan mereka ingin merasakan yang sempurna, mereka mau bekerja,  bahkan mereka tak mau kalah dalam segi hal apapun. Di luar negeri, banyak berbagai perlombaan bagi penyandang cacat untuk ikut anbil dalam lomba tersebut.

WP_000273

Belajar itu merupakan butuh proses untuk mendapatkan hasil yang perfect

Maka dari itu, kita yang justru masih sehat bugar lakukanlah mulai dari sekarang untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi kita, jangan hanya cuma senang saja kita lakuin hal tersebut. Hal yang sekiranya di luar fikiran kita itu tidak terjadi janganlah anggap itu hal yang tak akan terselesaikan, namun fikirkan hal itu pasti bisa terbelahkan. Tak akan mungkin Tuhan menciptakan sesuatu jikalau tidak ada jalan keluarnya. Jalan keluar bisa meliputi apapun. Layaknya seperti kita sakit, janganlah kalia anggap ini hal yang terburuk kalian rasakan, namun dalami perasaan itu dengan sedikit berusaha dan berfikirlah bahwa yakin akan sembuh.

Hal ini (Everything is Possible) sangat dibutuhkan dan itu merupakan kunci kesuksesan. Banyak di jaman global sekarang ini, seseorang yang putus asa karena kurangnya mental, seperti bunuh diri gara-gara tidak lulus ujian, maka kita harus belajar sejak dini untuk menumbuhkan rasa positive thinking dalam is possible.

Everything is Possible merupakan perasaan yg tidak dipaksakan oleh diri sendiri serta pantang menyerah itu  bisa disebut juga sebagai jalan alternative untuk melakukan atau berikhtiar dalam menjalankan sesuatu.

Okelah, mari kita simak bersama kisah orang yang awalnya belum berhasil dan akhirnya berhasil juga, diantaranya,

Kisah Lincoln merupakan contoh klasik orang-orang yang benar-benar berani gagal. Gagal dalam bisnis pada tahun 1831. Dikalahkan di Badan Legislatif pada tahun 1832. Gagal sekali lagi dalam bisnis pada tahun1833. Mengalami patah semangat pada tahun 1836. Gagal memenangkan kontes pembisara pada tahun1838. Gagal menduduki dewan pemilih pada tahun 1840. Gagal dipilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1843. Dilantik menjadi anggota Kongres pada tahun 1846. Gagal menjadi anggota Kongres pada tahun 1848. Gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855. Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856. Gagal Menjadi anggota Dewan Senat pada tahun 1858.
Akhirnya pada tahun 1860 dilantik sebagai presiden Amerika yang ke-16 dan salah seorang presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.

Ada pula yang satu ini, nah ada yang tidak kenal Bill Gates? William Henry Gates III, atau yang lebih dikenal Bill Gates adalah pendiri (bersama Paul Allen) dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Ia juga merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates. Ia menempati posisi pertama dalam orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama 13 tahun (1995 hingga 2007). Siapa sangka dia DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy

Siapa sih yang tidak suka sama yang sedang nge-trend anak muda yakni, sebuah ajang komunitas yang bisa mengumpulkan beberapa orang adalah faceebook. Yang satu ini dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri. Bagaimana tidak, dimulai dari sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard, ternyata banyak yang menyukainya, dengan nekat ia mengikuti jejak seniornya, Bill Gates, DO dari Harvard untuk mengembangkan situs tersebut menjadi Facebook yang kita kenal sekarang. Tahukah Anda? Mark pernah menolak tawaran Friendster yang ingin membeli Facebook 10 juta US$, artinya sekitar Rp. 9,500,000,000 (kurs Rp. 9,500), tawaran dari viacom 750 juta dolar (Rp. 7,125,000,000,000) dan yang paling mengagetkan tawaran dari yahoo satu miliar.

Semangatlah jangan pernah menyerah, semua pasti bisa kita lakukan dan tak ada kata tidak mungkin. So, keep spirit and don’t forget everything is possible.

Eko Hilmi Firmansyah.