Nama          : Henry Candra Prasetya

NIM           : 165030707111003

URL Blog  : https://henryprasetya45.blogspot.com/

 

KERJASAMA DAN JARINGAN INFORMASI PADA PERPUSTAKAAN

 A. LATAR BELAKANG

Perpustakaan merupakan suatu gedung dan sistem. Pada suatu perpustakaan memiliki suatu sekelompok satuan kerja yang didalamnya memiliki sumber daya manusia, ruang khusus dan berbagai kumpulan koleksi yang mana sesuai dengan jenis perpustakaan tersebut. Namun perpustakaan tidak ada satupun yang dapat berdiri sendiri dalam artian koleksinya haruslah mampu meyediakan kebutuhan akan informasi oleh pengguna atau pemustaka dan maka dari itulah dibutuhkan adanya suatu kerjasama perpustakaan.

Pada dasarnya sebuah kerjasama dan jaringan informasi yang ada perpustakaan memiliki fungsi untuk memberikan suatu akses yang lebih luas terhadap koleksi perpustakaan, memperbaiki tingkat pelayanan pada pengguna serta layanan teknisnya, meningkatkan suatu aktivitas dalam berbagi sumber daya perpustakaan, mengurangi suatu duplikasi dan menciptakan sebuah pelayanan yang efisien. Dalam suatu masyarakat informasi, pembangunan sebuah jaringan informasi dan komunikasi yang dapat diakses oleh seluruh penduduk sangat penting dalam upaya memanfaatkan seluruh tenaga perpustakaan yang ada dalam mencapat keberhasilan tersebut.

PEMBAHASAN

1. Jaringan Kerjasama Bidang Teknis

A. Kerjasama Pengadaan

Permasalah yang ada di perpustakaan sebenarnya terletak pada pengembangan  koleksi bahan pustaka, namun pada kegiatan pengadaan ini mencakup pembelian, hadiah atau sumbangan dan tukar menukar. Pada proses pengadaan hal pokok yang     paling utama menyangkut tentang anggaran yang mana akan digunakan untuk membeli bahan perpustakaan. Namun terdapat beberapa perpustakaan yang belum dapat untuk memenuhi kebutuhan bahan pustaka yang dibutuhkan oleh pengguna atau pemustaka, maka dari itu adanya kerjasama di bidang pengadaan sangat diperlukan pada.

Ada pula kerja sama ini mengenai pengadaan dalam bidang yang khusus (spesialisasi tertentu). Spesialisasi tertentu dalam pengumpulan koleksi pustaka dalam subyek-subyek tertentu. Dengan bentuk kerja sama seperti ini, tiap anggota dapat       mengkhususkan diri dalam mengumpulkan koleksi pustaka dalam bidang tertentu sekomprehensif mungkin sehingga duplikasi dapat terhindar. Jika suatu pustaka  tertentu dibutuhkan oleh perpustakaan anggota, perpustakaan tersebut bisa menghubungi dan mengidentifikasi anggota jaringan yang memiliki pustaka yang dibutuhkan.

Pada pengadaan yang melalui proses tukar menuka koleksi haruslah adanya sebuah simbiosis yang mana saling menguntungkan antara perpustakaan satu dengan lainnya pada pengembangan koleksi masing-masing perpustakaan.

B. Kerjasama Pengatalogan

Kerjasama pengatalogan di Indonesia dilakukan di berbagai tempat, yang utama ialah upaya penyeragaman format katalog terbacakan mesin. Untuk keperluan itu Perpustakaan Nasional RI mengeluarkan INDOMARC. Indonesian Machine Readable Catalogue atau katalog terbacakan mesin terbitan Indonesia. Dengan keseragaman format katalog ini, akan terjadi pertukaran data yang lebih mudah.

Tujuan utama katalog terkomputerisasi adalah membuat suatu sistem pengatalogan yang sesuai dengan pemanfaatan dan peruntukannya. Sumber-sumber pembuatan katalog terkomputerisasi terdapat dari :

  1. Katalog manual lokal yang berbentuk tercetak.
  2. Sistem akuisisi bahan pustaka terkomputerisasi.
  3. File yang telah dibuat oleh kataloger.
  4. Penggabungan database.
  5. Membeli kartu komersial berformat MARC.
  6. Hasil katalog terkomputerisasi bisa diakses melalui OPAC.
  7. Koleksi Bersama (Resource Sharing)

Pada koleksi bersama terdapat 3 poin penting diantaranya yang pertama silang layanan. Pada silang layanan ini adanya sebuah kerjasama yang mana satu perpustakaan dengan perpustakaan lain saling meminjamkan pustaka berupa bahan asli, dokumen   ataupun hanya menyediakan suatu fasilitas reproduksi bahan yang diperlukan.

Lalu untuk yang kedua adanya pemakaian fasilitas ruang baca dan lainnya. Pada   dasarnya pengguna perpustakaan lain dapat menggunakan atau diizinkan untuk membaca bahan kolkesi yang tersedia yang mana termasuk dapat memanfaatkan  perlengakan pada perpustakaan. Lalu untuk yang terakhir pertukaran bibliografi dilakukan untuk mengetahui   koleksi yang dimiliki oleh masing-masing anggota jaringan.

C. Katalog Induk

Untuk dapat memudahkan peminjaman bahan koleksi antar perpustakaan maka diperlukan katalog induk artinya katalog yang mencakup koleksi dua perpustakaan atau lebih. Untuk dapat mempermudah dalam penyusunan katalog induk diperlukan keseragaman format dan   kode lokasi. Adapun proses penyusunan dari katalog induk sebagai berikut:

  1. Penyusunan materi perpustakaan
  2. Penyusunan anggaran
  3. Standarisasi
  4. Ukuran kartu
  5. Sistem penyusunan
  6. Kode perpustakaan
  7. Tenaga (staf)
  8. Kerja Sama Pelayanan Pemustaka

Kerjasama Pelayanan Pemustaka

Silang layanan dianggap sinonim dengan kata pinjam antar perpustakaan atau interlibrary loan. Menurut Sulistyo-Basuki (2007) pada silang layanan sendiri mencakup jasa yang mana membantu sebuah penelusuran, pencarian materi pada perpustakaan dan penyediaan fasilitas untuk pemustaka anggota perpustakaan yang lain. Adapun hal yang perlu dipertimbangkan dalam rangka kerja sama pelayanan ini adalah.

Sistem Informasi Manajemen (SIM)

Kriteria Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah bersifat komprehensif, terkoordinasi, terdiri atas subsistem, terintegrasi secara rasional, transformasi data dalam berbagai bentuk dan cara, tingkat produktivitas terukur, menyesuaikan pada gaya manajemen, dan berdasarkan kriteria kualitas yang telah ditentukan.

Permintaan terhadap informasi

Perpustakaan dalam rangka memenuhi fungsinya sebagai organisasi penyedia jasa dan pusat informasim tidak mungkin dapat bekerja secara mandiri dan independen. Oleh sebab itu perlu adanya kerja sama jaringan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Era perkembangan IPTEK sekarang ini menuntut perpustakaan menggunakan fasilitas komputer sebagai alat pengelola datanya. Kecanggihan komputer salah satunya adalah memiliki kelebihan dalam hal komunikasi data. Komunikasi data merupakan suatu proses pengiriman dan penerimaan data antara dua atau lebih sumber yang lokasinya berbeda dengan memakai media transmisi. Sistem teknologi yang digunakan merupakan perpaduan antara teknik telekomunikasi dengan teknik pengolahan data.

Pergeseran tren menuju perpustakaan elektronik

Perpustakaan elektronik merupakan sarana penyimpanan informasi, dokumen, audio visual, dan materi grafis yang tercipta dalam berbagai jenis media. Perpustakaan elektronik merupakan bagian dari sebuah jaringan kerja (network).

Pengelolaan informasi

Informasi berasal dari suatu data. Persoalan yang muncul adalah penerapan teknologi informasi juga menghadirkan masalah misalnya pemeliharaan data atau informasinya. Data dan informasi seperti dua sisi mata uang yang saling terkait. Berbeda pengertian tetapi satu fungsi. Data dapat dikatakan sebagai informasi yang akurat, dan semua data adalah embrionya informasi. sementara itu informasi belum tentu dikatakan data, sebab ada informasi yang disampaikan tanpa data, tetapi informasi juga merupakan data jika informasi itu diterima kemudian direkam.

Aspek Sosial dalam Jaringan Kerja Sama Perpustakaan dan Informasi

Proses konstruksi sosial yang terjadi di masyarakat dimana adanya interaksi antar individu, akan melahirkan bermacam respon. Baik berupa konflik atau resistensi, ada pula kemungkinan saling tarik menarik karena berbeda kepentingan, bahkan terciptanya konigurasi sosial. Konfigurasi sosial dapat diartikan semacam kegiatan yang dilakukan manusia yang saling memberi makna pada perilaku masing-masing dan melakukan tindakan yang sesuai dengan makna tersebut. Seperti merajt jarring-jaring makna, interaksi sosial muncul dalam penciptaan makna simbolik universal yang mengatur bentuk-bentuk interaksi sosial antara individu, individu dengan masyarakat, atau individu dengan lingkungannya, yang memberi makna pada berbagai undakan dalam kehidupan. Proses dialektika tersebut muncul dalam bentuk eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Bentuk eksternalisasi dapat dikatakan sebagai salah satu proses dalam konstruksi sosial. Hal ini merupakan proses membangun tatanan kehidupan dimana manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses konfigurasi selanjutnya adalah dialektika. Proses ini juga muncul dalam bentuk objektivasi, yaitu proses membangun tatanan kehidupan manakala realitas terpisah dari sibjektivitas.

Aspek Teknologi dalam Jaringan kerja Sama Perpustakaan dan Informasi

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang selanjutnya disingkat ICT (Information and Commuriication Technology) membawa perubahan dalarn berbagai sektor, termasuk dunia perpustakaan, pemanfaatan ICT sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar didunia perpustakaan. Perkembangan dari penerapan ICT dapat diukur dengan telah diterapkannyaldigunakannya sebagai sistem informasi rnanajemen perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library). Pada perpustakaan digital terdapat kelebihan diantara lain :

  1. Tidak Memiliki Batas Fisik
  2. Ketersediaan Akses
  3. Multiakses
  4. Temu Balik
  5. Preservasi dan Konservasi
  6. Manajemen Personalia

Namun dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh perpustakaann digital terdapat suatu tantangan yang mana pustakawan haruslah siap terutama untuk dapat menggunakan berbagai perangkat digital yang ada, berikut tantangan yang akan dihadapi oleh pustakawan :

  1. Seleksi Objek fisik dan digital
  2. Akuisisi
  3. Organisasi dan Akses
  4. Preservasi dan Konservasi
  5. Jasa dan Pelatihan Pemakai
  6. Manajemen Personalia

Perpustakaan hibrida adalah perpustakaan yang memiliki “dua muka”, yaitu merupakan perpaduan koleksi digital dan koleksi konvensional. Borgman memberikan pendapatnya bahwa perpustakaan hibrida didesain untuk mengelola teknologi dari dua sumber yang berbeda, yaitu sumber elektronik dan sumber koleksi yang tercetak yang dapat diakses melalui jarak dekat juga jauh. Pada perpustakaan hibrida ini ada kerja sama apik antara pustakawan dan para teknolog yang menyatukan keterpisahan tradisi sebagai konsekuensi perpustakaan hibrida yang secara bersamaan membangun koleksi baru (elektronik atau digital) dan koleksi lama (tercetak) secara terintegrasi, sedemikian rupa sehingga pemakai jasa perpustakaan tidak lagi kesulitan memakai kedua jenis koleksi tersebut.

Cloud computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer (komputasi) dan pengembangan berbasis internet (awan). Awan (cloud) adalah metafora dari internet. Cloud computing adalah suatu konsep umum yang mencakup SaaS (software as a service), web 2.0, dan tren teknologi terbaru lain yang dikenal luas, dengan tema umum berupa ketergantungan terhadap internet untuk memberikan kebutuhan komputasi pengguna. Cloud computing merupakan paradigm manakala suatu informasi secara permanen tersimpan di server (internet) dan tersimpan secara sementara di komputer pengguna (client). Dalam penerapan cloud computing pada perpustakaan ada kalanya perpustakaan harus menyiapkan infrastrukturnya terlebih dahulu, berikut adalah beberapa syarat yang mana harus dipenuhi :

  1. Layanan bersifat On Demand, pengguna dapat berlangganan apa yang ia butuhkan saja.
  2. Layanan bersifat elastis/ scalable.
  3. Layanan sepenuhnya dikelola oleh penyedia/ provider.
  4. Sumber daya terkelompok.
  5. Akses pita lebar layanan yang terhubung melalui jaringan pita lebar, terutama dapat diakses secara memadai melalui jaringan internet
  6. Layanan yang terukur (Measured Service).

Dari beberapa persyaratan dari cloud computing terdapat suatu manfaat yang mana jika perpustakaan menerapkan sistem cloud computing diantaranya sebagai berikut :

  1. Data yang disimpan di pusat
  2. Respons cepat.
  3. Kehandalan kode uji.
  4. Log (records tak terbatas).
  5. Kinerja perangkat lunak dengan tingkat keamanan yang tinggi.
  6. Konstruksi yang handal.
  7. Menghemat biaya uji keamanan yang mahal.

Perpustakaan pada dasarnya haruslah terus melakukan sebuah inovasi yang mana haruslah menyediakan kebutuhan pemustaka terutama pada era digital native ini, bilaman perpustakaan tidak melakukan suatu inovasi yang mana pemustaka menuntut kebutuhan akan informasi yang mereka butuhkan maka perpustakaan akan ditinggalkan. Lalu perpustakaan pada saat ini haruslah memiliki sifat open access yang mana bahan koleksi perpustakaan sangat dengan mudah untuk diakses oleh publik atau masyarakat atau pemustaka.

Perpustakaan Terintegrasi

Fayen (2005) mengemukakan bahwa pada masa awal ILS hanya terdiri atas dua atau tiga modul sebagai berikut :

  1. Pengatalogan
  2. OPAC (Online Public Access Catalog)
  3. Sistem sirkulasi

Pada perpustakaan terintegrasi terdapat komponen yang berperan penting dalam ILS atau perpustakaan terintegrasi, adapun komponen-komponennya sebagai berikut:

  1. Authority Control: modul khusus untuk pengatalogan.
  2. Pengadaan (Acquisition)
  3. Pengelolaan terbitan berseri (Serials Control)
  4. Dukungan kepemilikan (Holdings Support)
  5. Pemesanan bahan perpustakaan (Materials Booking)
  6. Koleksi tendon (Course Reserve)
  7. Inventarisasi (Inventory Control)
  8. Penjilidan (Binding)
  9. Community Bulletin Board
  10. Pinjam antar perpustakaan (Inter Library Loan)
  11. Pelaporan (Reporting)

Pada dasarnya ILS atau perpustakaan terintegrasi sangat memudahkan perpustakaan dalam berbagai aspek penting atau komponen yang ada di perpustakaan terutama pada pengolahan koleksi, penelusuran informasi, pembangunan katalog induk, pengembangan koleksi, dan pinjam antar perpustakaan.

Digitalisasi dan Simpan Pengetahuan Bersama

Komunitas online dan pengetahuan bersama saling bertukan data dan informasi. Dari pertukaran inilah muncul berbagai informasi baru yang semakin kaya. Informasi yang didapatkan oleh komunitas onlie dari perrpustakaan digital yang penyebaran informasinya terpercaya karakteristik perpustakaan digital yaitu :

  1. Berisi koleksi dalam bentuk digital seperti teks,gambar,film,video,
  2. Perpustakaan digital ada dalam lingkungan jaringan yang tersebar luas
  3. Perpustakaan digital berisi data dan metadata
  4. Perpustakaan digital koleksinya diseleksi dan dikelola untuk memenuhi kebutuhan komunitas tertentu.

Sejak semula perpustakaan digital dirancang untuk berkolaborasi antara entitas perpustakaan digital yang satu dengan yang lain. Dengan adanya tuntutan seperti ini maka isu interoperability, yaitu bagaimana mempersatukan berbagai sistem komputer agar dapat bekerjasama dan saling berkomunikasi dengan baik, menjadi sangat penting sejak awal pengembangan perpustakaan digital.

KESIMPULAN

Dengan adanya suatu sistem yang mana kerjasama dan jaringan antar perpustakaan maka perpustakaan A dan perpustakaan B akan saling membantu satu sama lain dengan tujuan untuk memenuhi kebtuhuhan pemustaka dalam pencarian informasi yang tengah dibutuhkan oleh pemustaka adanya berbagai kerjasama mulai dari aspek teknis, pelayanan, aspek teknologi dan perpustakaan terintegrasi semata-mata hanya mengutamakan kebutuhan utama para pemustaka atau pengguna yaitu bahan koleksi atau informasi. Dengan adanya berbagai kerjasama jaringan informasi antar perpustakaan, maka seluruh aspek akan berjalan secara efisien dan efektif dan perpustakaan akan dengan cepat berkembang dikarenakan adanya faktor bahu-membahu perpustakaan dalam membangun sebuah perpustakaannya masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Ishak, S.S M.Hum “Kerjasama Jaringan Antar Perpustakaan”  Diakses : 11 Oktober 2018 http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/1822/10E00536.pdf?sequence=1

Puspitasari, Dyah, Endang Fitriyah Manan, and Nove Variant Anna. “KERJASAMA DAN JARINGAN PERPUSTAKAAN ANTARA INDONESIA-MALAYSIA INDONESIA-MALAYSIA LIBRARY COOPERATION AND NETWORKING.” Edulib 4.2 (2015).

Saleh, Abdul Rahman. “Implementasi Teknologi Informasi dalam Peningkatan Kerjasama Perpustakaan Perguruan Tinggi.” (2012).

Rismawanty, Risma, “Bidang Jaringan Kerja Sama Perpustakaan dan Informasi” (2014).

Binus. Digital Natives. Diakses 11 Oktober 2018 https://sis.binus.ac.id/2016/12/16/cloud-computing/