Rss

Institutional Repository

Institutsional Repository menurut Pinfield mendefinisikannya sebagai digital collection that preserve and provide access the intellectual output of an institution. Menurut pendapat lain institutional repository merupakan sebuah set layanan yang mana ditawarkan oleh universitas atau perguruan tinggi dimana pengelolaan dan penyebaran materi ilmiah dalam format digital yang diciptakan oleh institutional dan anggota masyarakat seperti e-prints, laporan teknis, tesis dan disertasi, data set. Keberadaan atau eksistensi Institutional Repository sebenarnya sudah ada sejak dahulu namun baru-baru ini muncul ke permukaan terlebih didukung dengan adanya teknologi yang mana memungkinkan penyebaran Institutional Reposity lebih luas, murah dan mudah. Melihat berbagai keadaan perguruan tinggi yang tidak semuanya telah menggunakan atau berbasis teknologi informasi maka Institutional Repository tidak diharuskan secara online sebagai persyaratannya namun IR sendiri sangat memungkinkan untuk diakses secara konvensional. Institutional Repository sendiri memiliki prinsip prinsip mulai dari bertanggung jawab merawat dalam jangka panjang semua sumber daya digital yang diserahkan kepadanya untuk kepentingan pengguna di masa kini maupun masa mendatang, Memiliki sistem organisasi yang tidak hanya mampu mendukung keberlangsungan fungsi penyimpanan digital tersebut, tetapi juga keutuhan informasi digital yang terkandung didalamnya, Mampu bertanggung jawab secara finansial terhadap keberlangsungan kerja sistem penyimpanan, Memastikan bahwa desain sistem penyimpanan ini memenuhi konvensi dan standar yang sudah disepakati bersama sehingga ada jaminan terhadap akses dan keamanan informasi digital yang tersimpan didalamnya. Memiliki sarana evaluasi yang dapat digunakan untuk selalu memenuhi harapan komunitas, khususnya dalam hal kepercayaan, Secara jangka panjang, terbuka, dan eksplisit bertanggung jawab kepada pihak yang menyimpan maupun yang menggunakan simpanan tersebut, Memiliki kebijakan tertulis, catatan kegiatan dan kinerja, yang dapat diperiksa dan diukur untuk membuktikan tanggung jawab tersebut.

Institutional Repository memiliki berbagai manfaat mulai dari Perluasan penyebaran karya ilmiah sehingga memungkinkan untuk disitir oleh pihak lain, Penyebaran dapat dilakukan dengan cepat, Nilai tambah layanan informasi, Penerbit mendapat pengesahan dari pembaca bahwa dia adalah seseorang yang kompeten di bidangnya apabila menerbitkan melalui Institusional Repository, Lembaga juga akan naik reputasinya, karena semakin banyak menerbitkan sebuah karya maka naik pula reputasi lembaganya, Dan untuk peneliti menghindarkan dari duplikasi karya.1. berikut beberapa contoh dari Institutional Repository:

  1. Narims-Publication, Mesir, Afrika
  2. CSIR Research Space, Ghana, Afrika
  3. CIMEC Document Repository, Argentina, Amerika Latin
  4. net, Brazil, Amerika Latin
  5. Koleksi Jurnal Civitas Akademika-UPI, Indonesia, Asia
  6. University of Singapore, Singapura, Asia.

Perkembangan digital library tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi. Digital library pada dasarnya dibangun di atas teknologi web yang memungkinkan pengaksesan koleksi oleh anggota, kapan, dan di manapin posisi pengguna berada melalui internet. Library web base atau perpustakaan digital pada dasarnya dibangun atas dasar adanya isu interoperabilitas. Dari adanya hal tersebut lahirlah 2 system digital library dan intregrated library system. Dalam Library Web Base terdapat komponen yang menunjang hal tersebut berikut komponennya:

  1. PHP
  2. MySQL
  3. UML (Unified Modeling Language)
  4. XAMPP
  5. CSS

Review SLiMS

Senayan Library Management System atau biasa dikenal dengan SliMS adalah beberapa dari sekian Open Source Software yang berbasiskan web yang mana dapat digunakan untuk membangun suatu system dalam perpustakaan berbasiskan otomasi perpustakaan. SLiMS merupakan sebuah perangkat lunak yang mana dapat berjalan di 2 sistem jaringan local yaitu intranet dan internet dimana pada intranet sendiri berjalan pada jaringan local perpustakaan itu sendiri sedangkan internet dapat diakses dimana saja selama pengguna mendapat jaringan internet untuk mengaksesnya. SLiMS pada masyarakat Indonesia sendiri dapat dikatakan terkenal terutama oleh para pustakawan karena adanya berbagai fasilitas yang dapat mendukung dan memenuhi hampir seluruh kebutuhan system otomasi pada suatu perpustakaan. Pada dasarnya dengan adanya SLiMS pada system otomasi perpustakaan pengguna/pemustaka dapat secara cepat mengakses dan menggunakan layanan informasi jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan menggunakan cara konvensional. Lalu dengan adanya dukungan internet pada SLiMS memungkinkan pengguna perpustakaan dapat untuk menelusur katalog perpustakaan kapan saja dan dimana saja melalui website yang telah disediakan oleh masing-masing perpustakaan.

Jika dilihat dari berbagai perpustakaan yang menggunakan system otomasi perpustakaan untuk saat ini, perpustakaan-perpustakaan lebih cenderung untuk menggunakan system otomasi perpustakaan yang berbasiskan pada web yang mana hal tersebut dipilih dikarenakan fleksibilitas pengaksesan dimana hal tersebut dapat diakses melalui jaringan local maupun dari internet menggunakan berbagai perangkat yang menggunakan system operasi.

SLiMS pada dasarnya dibanguna atas dasar kolaborasi antara beberapa perangkat lunak yang berbasiskan open source. Terdapat beberapa perangkat lunak dimana menunjang pembangunan dan pengembangan dari SLiMS antara lain:

  1. Apache
  2. HTML
  3. PHP
  4. MySQL

Pada dasarnya ke empat hal tersebut memiliki fungsi dan perannya masing masing dimana Apaceh berfungsi sebagai web server agar SLiMS dapat diakses oleh pengguna ataupun pustakawan. Lalu untuk HTML sendiri merupakan Bahasa Markup dimana digunakan oleh browser dalam menampilkan informasi-informasi dalam bentuk sebuah halaman web. Lalu untuk PHP sendiri merupakan sebuah Bahasa yang mana disisipkan dalam HTML untuk sebuah pemrogaman web. MySQL sendiri berfungsi sebagai manajemen database pada SLiMS dimana untuk menunjang semua penyimpanan data-data yang berkaitan mengenai perpustakaan ataupun semua data-data. Semua hal mengenai pembangunan dan pengembangan perangkat lunak ini bersifat terbuka yang mana dapat untuk dimodifikasi sesuai dengan keinginan. Hal ini membuka peluang untuk pengguna untuk mengembangkan SLiMS lebih dalam atau sesuai dengan kebutuhannya pada perpustakaan yang mana ingin diimplementasikan system otomasi perpustakaan dengan menggunakan aplikasi ini. Azwar Muhammad (2013) menyatakan bahwa aplikasi SLiMS juga menggunakan beberapa aplikasi open source lainnya yang digunakan untuk mendukung pengelolaan manajemen perpustakaan, seperti Simbio2 sebagai framework atau kumpulan script coding (library) yang membangun aplikasi SLiMS; Genbarcode dan Zenbarcode untuk pembuatan (generate) barcode; TinyMCE untuk penyuntingan teks berbasis web; PHPThumb untuk menampilkan gambar dalam bentuk thumbnail; Flowplayer untuk menampilkan video secara  streaming dalam halaman web; ZViewer untuk menampilkan dokumen pdf; PHPLot untuk menampilkan informasi berupa laporan dalam bentuk grafik; PHPMailer untuk pengiriman email dalam aplikasi web; JQuery untuk memanipulasi komponen di dalam  dokumen HTML, menangani berbagai  event, animasi, efek dan memproses interaksi ajax; teknologi AJAX (Asynchronous JavaScript and XML) untuk memudahkan interaktif pengguna dalam menggunakan aplikasi web; Index dan Sphinx untuk sistem pencarian (temu balik) informasi dengan metode yang sangat cepat; dan aplikasi open source lainnya sebagainya.

Awal mula pengembangan SLiMS ini berasal dari Pusat Informasi dan Humas Departemen Pendidikan Nasional. SliMS ini dikembangan oleh developer yang mana berasal dari alumni Jurusan Ilmu Peprustakaan Universitas di Indonesia. Developer SLiMS ini mempunyai komitmen akan terus untuk melakukan pengembangan pada SLiMS yang mana menyesuaikan dengan kebutuhan system otomasi perpustakaan yang terus mengikuti perkembangan tren teknologi namun tidak keluar jalur dan prinsip standar ilmu perpustakaan.

SLiMS disini mampu untuk mempermudah bahkan hampir seluruh kegiatan pada manajemen administrasi suatu perpustakaan yang mana jika melihat berbagai modul yang ada pada SLiMS sendiri mampu untuk menjalankan berbagai fungsi manajamen yang ada pada perpustakaan. Mulai dari kegiatan pengolahan, peminjaman, pengembalian, pemesanan koleksim penyiangan, pencetakan barcode dll. Pada dasarnya SLiMS memiliki beberapa kelebihan diantaranya sebagai berikut:

  1. Aplikasi open source berlisensi
  2. Memenuhi standar pengelolaan koleksi perpustakaan
  3. Komitmen dari developer dan komunitas.
  4. Banyak perpustakaan yang menggunakan SLiMS.
  5. Memiliki manual atau dokumentasi yang lengkap
  6. Dukungan komunitas SLiMS.

Untuk pengembangan kedepannya diharapkan SLiMS mampu untuk menyediakan suatu fitur dimana dapat menyediakan sarana membaca e-book langsung melalui SLiMS itu sendiri. Dengan adanya hal tersebut maka koleksi-koleksi yang tercetak secara otomatis akan secara bertahap akan dialih digitalkan sehingga pemustaka tidak perlu untuk datang langsung ke perpustakaan. Namun dengan adanya fitur tersebut akan memungkinkan untuk timbulnya penyalahgunaan dimana pasti adanya celah untuk mengunduh e-book tersebut dan menyebarluaskannya namun dengan pengembangan yang lebih intens pasti pihak developer akan mengetahui bagaimana cara untuk mengatasi hal tersebut. Dan terdapat aspek dimana harus adanya penambahan sumber daya pada sisi server dikarenakan untuk aksesnya akan semakin berat. Namun dengan adanya fitur tersebut maka akan sangat menguntungkan dan memudahkan pengguna perpustakaan atau pemustaka dalam mencari sumber informasi yang sedang merka butuhkan.

Softfile dapat diunduh di link berikut :

https://drive.google.com/open?id=1CVbWR1pSQFrOUfTFnEmzaM6X8-q2krkH

INLISlite

 

            Inlislite pada dasarnya merupakan sebuah perangkat lunak dimana diciptakan untuk sebuah otomasi perpustakaan yang dibangun dan dikembangkan sejak 2011 oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Perancang aplikasi otomasi perpustakaan ini menamai inlislite dimana mengambil kata Integrated Library System yang mana mengambil nama dari perangkat lunak manajemen informasi informasi terintegrasi yang telah dibangun pada 2003 dengan tujuan keperluan untuk suatu kegiatan rutinitas dalam pengelolaan informasi perpustakaan di internal Perpustakaan Nasional, dimana salah satu kepentingannya digunakan untuk membangun sebuah pangkalan data Katalog Induk Nasional (Union Catalog) yang isinya lengkap dan dapat diakses dimana saja dan kapan saja oleh pengguna perpustakaan dengan mudah menggunakan internet.

            Pada masa itu di Indonesia sendiri untuk penerapan teknologi informasi perpustakaan masih bersifat heterogen dan melihat bahwasannya INLIS sendiri dapat untuk dimanfaatkan atau digunakan dalam mendukung pelaksaan berbagai tugas pada perpustakaan. Maka dari itu inlis dibangun dan dikembangakan sebagai system yang mendukung sebuah perpustakaan agar lebih terpadu dan komprehensif. Seiring dengan perkembangan pada dunia perpustakaan sendiri dimana pada Indonesia sendiri Perpusnas memandang bahwa perlu untuk memfasilitasi seluruh perpustakaan daerah dimana yang berkeinginan untuk menerapkan otomasi perpustakaan yang mana menuju perpustakaan digital. Maka dari itu Perpustakaan Nasional memiliki suatu inisiatif untuk mendistribusikan perangkat lunak otomasi perpustakaan ini dimana perpustakaan nasional sendiri merilisnya dalam bentuk versi yang lebih ringan sehingga dinamakan INLISlite.

            INLISlite sendiri memiliki berbagai manfaat dimana dalam membantu untuk pengembangan system otomasi perpustakaan pada seluruh perpustakaan yang ingin menerapkan system ini. Aplikasi ini memiliki fungsi sebagai tool perpustakaan digital dimana digunakan untuk mengelola koleksi yang berbasis full teks dan multimedia. Aplikasi ini dirancang untuk membantu pembuatan katalog elektronik berbasiskan MARC untuk INDOMARC. Lalu pengembangan INLISlite sendiri pada dasarnya untuk melaksanakan Program yang mana diamanatkan pada Perpustakaan Nasional dimana untuk menghimpun koleksi nasional pada suatu Katalog Induk Nasional yang mana menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

            INLISLite versi awal dibangun pada tahun 2011 yang penyebarannya dilakukan melalui bantuan perangkat keras dan lunak otomasi perpustakaan kepada instansi perpustakaan umum pemerintah daerah kabupaten/kota terpilih di seluruh Indonesia. Pengembangan dan penyempurnaan dilakukan secara berkesinambungan hingga muncul versi 2.1.2 pada tahun 2014 yang telah memiliki banyak fitur tambahan sesuai dengan kritik, saran dan masukan dari pengelola perpustakaan yang menggunakan. Sampai dengan versi 2.1.2, target penggunaan program aplikasi INLISLite masih ditujukan kepada jenis perpustakaan umum. Tetapi pada perjalanannya, inisiatif sosialisasi program aplikasi INLISLite versi 2.1.2 telah banyak dilakukan oleh perpustakaan umum daerah sebagai salah satu pelaksanaan peran pembinaan yang diemban dalam mengembangkan perpustakaan-perpustakaan yang ada di wilayahnya. Di sisi lain, muncul pula tuntutan dari pengelola perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi agar dalam melakukan pengembangan program aplikasi INLISLite, Perpustakaan Nasional RI juga memperhatikan kebutuhan mereka akan sarana pengelolaan perpustakaan terotomasi ini. Lebih dari itu, sebagai perpustakaan pembina di tingkat nasional, Perpustakaan Nasional RI juga diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan otomasi untuk perpustakaan khusus seperti perpustakaan instansi, perpustakaan rumah ibadah, perpustakaan pribadi dan sebagainya. Berdasarkan kritik, saran, masukan, dan permintaan dari pengelola berbagai perpustakaan di seluruh nusantara, serta pertimbangan akan pentingnya keberlanjutan program Perpustakaan Nasional RI dalam menghimpun koleksi nasional dan mendorong pengembangan perpustakaan digital di seluruh Indonesia, maka pada tahun 2015 dilaksanakanlah pengembangan program aplikasi INLISLite versi 3 sebagai penerus dari versi sebelumnya. Versi terbaru INLISLite adalah versi 3 yang dikembangkan pada tahun 2016. INLISLite versi 3 merupakan pengembangan lanjutan dari perangkat lunak (software) aplikasi otomasi perpustakaan INLISLite versi 2.1.2 yang dibangun dan dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional RI (Perpustakaan Nasional RI) sejak tahun 2011.

            Disini pada dasarnya INLISLITE memiliki sebuah karakteristik dimana karakteristiknya sebagai berikut:

  1. Mengikuti standar metadata MARC (MAchine Readable Cataloguing) dalam pembentukan katalog digitalnya.
  2. Berbasis web (webbased application software), di mana dalam pengoperasiannya menggunakan aplikasi browser internet yang umum digunakan untuk menjelajahi informasi di internet.
  3. Instalasi perangkat lunak INLIS Lite cukup dilakukan pada satu komputer yang difungsikan sebagai pangkalan data (server). Pengoperasian aplikasi cukup dilakukan melalui komputer kerja (workstation) dengan cara mengkoneksikannya melalui perangkat jaringan komputer, baik secara lokal (local area network), antar wilayah (wide area network), maupun Internet.
  4. Dapat dioperasikan secara bersamaan dalam satu waktu secara simultan (multi user ready)
  5. Bebas pakai / gratis (freeware dan opensource)

Softfile dapat diunduh di link berikut :

https://drive.google.com/open?id=1iiJKMfJ9jRYmUkPtQeMGceKdMeUMgJTY

Review Sistem Informasi Perpustakaan Universitas Brawijaya berbasis web dan otomasi pelayanan

Nama              : Henry Candra Prasetya

NIM                : 165030707111003

Tugas              : Review Sistem Informasi Perpustakaan Universitas Brawijaya berbasis web dan otomasi pelayanan

            Pada era saat ini telah berkembang pesat berbagai teknologi informasi yang mana dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyimpan, mengasilkan, mengolah dan menyebarkan informasi dengan mudah dan cepat. Perkembangan teknologi yang ada di dunia ini juga memiliki dampak yang baik terhadap perpustakaan yang mana dapat meningkatkan kualitas dalam pelayanan pada perpustakaan. Adapun perkembangan teknologi yang mana dapat memudahkan dalam mendapatkan informasi dalam perpustakaan yaitu dengan adanya perpustakaan digital. Dengan adanya perpustakaan digital maka pengguna tidak perlu untuk jauh-jauh datang ke perpustakaan untuk mendapatkan informasi yang mana dapat mengaksesnya melalui koneksi internet.

            Sistem informasi perpustakaan dimasukan ke dalam kajian sistem informasi manajemen berdasarkan bidang minat atau organisasi. Sistem otomasi perpustakaan yang baik adalah terintegrasi, mulai dari sistem pengadaan bahan pustaka, pengolahan bahan pustaka, sistem pencarian kembali bahan pustaka, sistem sirkulasi, membership, pengaturan denda keterlambatan pengembalian, dan sistem reporting aktivitas perpustakaan dengan berbagai parameter pilihan. Lebih sempurna lagi apabila sistem otomasi perpustakaan dilengkapi dengan barcoding, dan mekanisme pengaksesan data berbasis web dan internet. Dalam suatu mekanisme sistem informasi perpustakaan pada dasarnya mengacu pada beberapa syarat berikut:

  1. Pengguna (User). Pengguna merupakan unsur utama dalam sebuah sistem otomasi perpustakaan. Dalam pembangunan sistem perpustakaan hendaknya selalu dikembangkan melalui konsultasi dengan penggunanya yaitu meliputi pustakawan, staf yang nantinya menjadi teknisi, serta para anggota perpustakaan.
  2. Perangkat Keras (Hardware). Sebuah mesin yang dapat menerima dan mengolah data menjadi informasi secara cepat dan tepat serta diperlukan program untuk menjalankannya.
  3. Perangkat Lunak (Software). Perangkat lunak adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan instruksi yang memberitahu perangkat keras untuk melakukan tugas sesuai perintah. Tujuan dari sistem komputer adalah untuk mengonversi data menjadi informasi.
  4. Jaringan (Network). Otomasi perpustakaan harus mampu memenuhi kebutuhan akan pemanfaatan sumber daya bersama melalui teknologi informasi.
  5. Data merupakan bahan baku informasi. Data dapat berupa alfabet, angka, maupun simbol khusus.
  6. Manual/ Panduan Operasional. Biasa disebut prosedur adalah penjelasan bagaimana memasang, menyesuaikan, menjalankan suatu perangkat keras

            Pada SIPRUS perpustakaan Universitas Brawijaya memiliki banyak fungsi yang mana dalam penyajian informasinya menggunakan sebuah website yang mana didalam websitenya terdapat beberapa fitur utama yaitu mengenai informasi mengenai jam layanan perpustakaan, lalu adanya layanan informasi yang mana memiliki fungsi untuk memperpanjang waktu peminjaman bahan koleksi yang telah dipinjam, lalu adanya sebuah form pengajuan terkait pengajuan buku teks dan katalog penerbit, lalu adanya sebuah jurnal integritas KPK, lalu terdapat akses e-book secara online dan yang terakhir adanya akses e-journal online. Lalu disana juga terdapat sebuah repository UB dan DIGILIB UB yang mana merupakan sebuah layanan OPAC yang dapat digunakan untuk melihat nomor panggil dan memudahkan pengguna untuk megakses buku yang ingin dipinjamnya. Berikut tampilan dari SIPRUS digital milik perpustakaan Universitas Brawijaya Malang

Gambar 1 Halaman Utama

Gambar 2 Layanan Sirkulasi

Gambar 3 Jurnal Integritas KPK

Gambar 4 Akses E-book

Gambar 5 Akses e-journal

            Pada perpustakaan juga telah menyediakan sistem otomasi yang mana pengguna dapat meminjam bahan koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan secara mandiri dan pemustaka sendiri juga dapat mengembalikan bahan koleksi yang telah dipinjam secara mandiri juga dan data-data mengenai peminjaman buku yang digunakan oleh pemustaka dalam pelayanan mandiri komputer telah tersambung dengan suatu Server Database sehingga pemrosesan data akan dilakukan oleh sistem tanpa bantuan lagi dari petugas perpustakaan.

            Berdasarkan SIPRUS perpustakaan Universitas Brawijaya yang telah penulis amati kualitas informasi yang dimiliki oleh perpustakaan Universitas Brawijaya menampilkan informasi yang mana mudah dipahami oleh pemustaka yang dibuktikan dengan penampilan situs yang tertata rapi serta dapat dikatakan lengkap. SIPRUS milik Perpustakaan Universitas Brawijaya seniri sangat mudah untuk dioperasikan khususnya pada otomasi peminjaman dan pengembalian buku yang mana cukup dengan men-scan barkode pada Kartu Tanda Mahasiswa serta Barkode pada bahan pustaka. Berdasarkan penggunaan, ketergantungan pada SIPRUS di Perpustakaan Universitas Brawijaya. Hal ini dibuktikan dengan pengguna yang lebih sering menggunakan SIPRUS untuk menyelesaikan pekerjaan, terlebih lagi pada kegiatan sirkulasi dan pengolahan bahan pustaka serta penggunaan e-book dan e-journal. Dengan adanya SIPRUS pustakawan tidak perlu untuk mendata seluruh bahan koleksi baik digital maupun nondigital secara manual yang mana cukup memasukkan data pada suatu sistem yang telah disiapkan dan sangat membantu untuk menghemat waktu. Pemustaka juga terbantu saat mencari koleksi, karena bisa dengan cepat mengetahui letak buku yang dicari.

20 October 2018

PEMANFAATAN PERANGKAT LUNAK PADA ORGANISASI INFORMASI DEWASA INI

Berdasarkan perkembangan teknologi pada organisasi informasi yang ada pada saat ini telah mengalami berbagai perkembangan dalam pengelolaan-pengelolaan suatu informasi yang dimilikinya berdasarkan bidang yang digeluti oleh berbagai macam organisasi informasi. Salah satunya adalah lembaga arsip yang mana memiliki sebuah peran penting dalam hal fungsi, tugas dan tanggung jawab dalam pengelolaan arsip yang mana arsip sendiri merupakan sebuah dokumen yang dapat dikatakan vital. Lembaga kearsipan berdasarkan UU RI Nomor 43 tahun 2009 menjelaskan bahwa lembaga kearsipan memiliki tugas, dan tanggungjawab di bidang pengelolaan arsip statis dan pembinaan kearsipan. Oleh sebab itu, lembaga arsip yang juga disebut lembaga informasi memiliki tanggungjawab dalam mengelola dokumen arsip untuk kepentingan kepemerintahan, pembangunan, penelitian, dan ilmu pengetahuan untuk kesejahteraan rakyat sesuai perundang-undangan dan kaidah-kaidah kearsipan demi kesejahteraan rakyat. Dengan adanya penyediaan sebuah layanan arsip pada dasarnya merupakan sebuah proses dalam memberikan informasi yang mana menjembatani antara pengguna yang membutuhkan informasi. Pada dasarnya lembaga-lembaga informasi haruslah menyajikan informasi kepada masyarakat. Keterbukaan informasi publik mempunyai makna yang luas karena semua pengelolaan badan-badan publik harus dipertanggung jawabkan kepada masyarakat. (Kurniatun, 2013:13).

Salah satu lembaga informasi yang mengelola arsip sendiri adalah Lembaga Arsip Nasional RI (ANRI). Arsip Nasional RI sendiri merupakan sebuah lembaga yang mengelola arsip statis yang mana banyak koleksi yang memiliki nilai sejarah dan vital yang dapat berfungsi sebagai kelangsungan kehidupan untuk bernegara dan juga untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Sistem pelayanan yang tersedia di Arsip Nasional RI kepada publik bersifat nonprofit dan menerapkan sistem close access, dimana pengunjung terlebih dahulu akan berhadapan dengan arsiparis ketika mencari informasi. Pada dasarnya Lembaga Arsip Nasional telah memiliki sebuah strategi mutu layanan yang mana diantara strategi tersebut mengacu pada penggunaan sebuah perangkat lunak yang didesain secara khusus dengan tujuan untuk menunjang keberlangsungan dari pelayanan pengelolaan arsip yang ada pada organisasi tersebut yang mana sudah dapat dikatakan ideal.

Beberapa aspek yang mana menjadi tolak ukur ideal pada Lembaga Arsip Nasional RI Salah satu hal yang dilakukan oleh Lemabaga Arsip Nasional RI ini adalah dengan membuat database atau record pengguna yang telah melakukan kunjungan ke Arsip Nasional RI. Salah satu wujud inovasi ini adalah membuat aplikasi yang dibuat pada tahun 2016 ini, aplikasi ini secara khusus berisi informasi database pengguna. Setiap pengguna yang berkunjung ke Subdirektorat Layanan Arsip akan di update datanya apabila melakukan peminjaman arsip. Aplikasi ini bertujuan untuk mengetahui sekaligus dapat menjadi sarana kontrol bagi “siapa meminjam arsip apa” di Subdirektorat Layanan Arsip. Lalu Lembaga Arsip Nasional RI juga memanfaatkan teknologi informasi melalui Sarana Penelusuran Arsip: Arsip Nasional RI melalui Subdirektorat Layanan Arsip memanfaatkan teknologi sebagai strategi dalam meningkatkan mutu layanan arsip. Pemanfaatan teknologi diimplementasikan dengan menggunakan sarana Wi-Fi, komputer, serta aplikasi sistem informasi kearsipan yang disebut Sistem Informasi Kearsipan Statis. Lalu aspek selanjutnya adalah dengan memanfaatkan atau mempublikasikan arsip melalui media online yang dimiliki oleh Lembaga Arsip Nasional RI. Dewasa ini kita telah memasuki masyarakat era informasi, dimana masyarakat bertindak sebagai konsumen informasi. Keterbatasan waktu dan tempat bagi masyarakat untuk berkunjung ke lembaga arsip, membuat lembaga Arsip Nasional RI senantiasa memasifkan publikasi lembaga secara online, khususnya publikasi mengenai layanan di Subdirektorat Layanan Arsip. Dalam upaya penyebaran dan pemanfaatan kearsipan, Subdirektorat Layanan Arsip melaksanakan publikasi secara online, salah satunya via media massa dan website anri.go.id, Subdirektorat Layanan Arsip mendeskripsikan segala jenis layanan publik bagi pengguna

Berdasarkan kondisi yang dapat dikatakan ideal tersebut ada kalanya seluruh organisasi informasi yang sudah secara optimal dapat melayani masyarakat dalam menyediakan berbagai informasi yang terkait dengan bidang masing-masing haruslah memiliki sebuah konsistensi dan inovasi dalam memberikan pelayanannya kepada masyarakat terutama generasi alpha. Terdapat beberapa aspek penting dengan menyediakan format arsip dengan berbasis digital antara lain :

  1. Arsip digital berbasis teks Arsip digital berbasis teks merupakan arsip digital yang didominasi informasi dalam format teks. Arsip digital yang termasuk dalam format ini antara lain file dalam format .doc, .xls, .ppt dan .pdf.
  2. Arsip digital berbasis gambar Jenis arsip digital lainnya adalah arsip digital berbasis gambar. Gambar dikategorikan sebagai salah satu arsip karena gambar merupakan salah satu media perekam informasi. Gambar merekam informasi dalam format visual. Arsip digital berbasis gambar tersimpan dalam berbagai format seperti .jpg, .bmp, .tif dan png
  3. Arsip digital berbasis audio Ragam arsip berikutnya adalah arsip dalam format audio. Format arsip ini melengkapi jensi arsip berbasis teks dan gambar. Arsip berbasis audio mereka arsip dalam format suara. Rekaman suara merupakan bentuk dari arsip jenis ini. Jenis arsip berbasis ini adalah MP3 dan MP4.
  4. Jenis arsip yang terakhir adalah arsip berbasis audio video. Arsip jenis ini mereka informasi dalam format suara dan gambar. Rekaman video aktivitas kantor atau instansi merupakan menis arsi digital berbasis audio video. Ragam jenis arsip ini antara lain: MPEG, Avi, 3pg dan MP4 atau melalui media video streaming seperti youtube.

Dengan menyediakan bentuk format seperti pada dasarnya akan membuat generasi alpha tertarik untuk menggunakan arsip untuk kedepannya, pada dasarnya hal tersebut dapat dikatakan sebuah Literasi Digital karena ketertarikan generasi alpha ada pada dunia digital yang mana generasi aplha sejak lahir telah terbiasa menggunakan teknologi meskipun mereka tidak lebih paham teknologi dibandingkan oleh generasi sebelumnya. Pada dasarnya lembaga informasi haruslah cermat dengan memanfaatkan berbagai teknologi yang telah ada maupun yang akan muncul kedepannya dengan menyesuaikan bentuk dari informasi yang disajikan untuk generasi selanjutnya yang mana agar lembaga organisasi tidak ditinggalkan dan terus menerus digunakan karena pada dasarnya sebuah Lembaga Arsip RI sangat penting karena mengandung informasi-informasi yang sangat penting seluruh isi informasi.

DAFTAR PUSTAKA

Kurniatun, “ Pendampingan Dan Pengembangan Records Centre Unit Kerja Sebagai Upaya     Pembinaan Kearsipan Di Lingkungan Universitas Gadjah Mada”, Khazanah: Jurnal Kearsipan Universitas Gadjah Mada., V.6, N.2, Juli 2013.

Sulistyo Basuki, Manajemen Arsip Dinamis: Pengantar Memahami dan Mengelola Informasi dan Dokumen, Jakarta: Gramedia Pustaka, 2003.

Undang-Undang No.43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan

Fitria Irmalasari, “ Strategi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dalam Meningkatkan   Mutu Layanan: Studi Kasus Subdirektorat Layanan Arsip” Khazanah: Jurnal kearsipan Universitas Indonesia., V.3, N2, Juli 2017.

Sigit Purnama, “ Pengasuhan Digital untuk Anak Generasi Alpha” Volume 1, April 2018.

Kerjasama dan Jaringan Informasi Perpustakaan

Nama         : Henry Candra Prasetya

NIM           : 165030707111003

URL Blog  : https://henryprasetya45.blogspot.com/

 

KERJASAMA DAN JARINGAN INFORMASI PADA PERPUSTAKAAN

 A. LATAR BELAKANG

Perpustakaan merupakan suatu gedung dan sistem. Pada suatu perpustakaan memiliki suatu sekelompok satuan kerja yang didalamnya memiliki sumber daya manusia, ruang khusus dan berbagai kumpulan koleksi yang mana sesuai dengan jenis perpustakaan tersebut. Namun perpustakaan tidak ada satupun yang dapat berdiri sendiri dalam artian koleksinya haruslah mampu meyediakan kebutuhan akan informasi oleh pengguna atau pemustaka dan maka dari itulah dibutuhkan adanya suatu kerjasama perpustakaan.

Pada dasarnya sebuah kerjasama dan jaringan informasi yang ada perpustakaan memiliki fungsi untuk memberikan suatu akses yang lebih luas terhadap koleksi perpustakaan, memperbaiki tingkat pelayanan pada pengguna serta layanan teknisnya, meningkatkan suatu aktivitas dalam berbagi sumber daya perpustakaan, mengurangi suatu duplikasi dan menciptakan sebuah pelayanan yang efisien. Dalam suatu masyarakat informasi, pembangunan sebuah jaringan informasi dan komunikasi yang dapat diakses oleh seluruh penduduk sangat penting dalam upaya memanfaatkan seluruh tenaga perpustakaan yang ada dalam mencapat keberhasilan tersebut.

PEMBAHASAN

1. Jaringan Kerjasama Bidang Teknis

A. Kerjasama Pengadaan

Permasalah yang ada di perpustakaan sebenarnya terletak pada pengembangan  koleksi bahan pustaka, namun pada kegiatan pengadaan ini mencakup pembelian, hadiah atau sumbangan dan tukar menukar. Pada proses pengadaan hal pokok yang     paling utama menyangkut tentang anggaran yang mana akan digunakan untuk membeli bahan perpustakaan. Namun terdapat beberapa perpustakaan yang belum dapat untuk memenuhi kebutuhan bahan pustaka yang dibutuhkan oleh pengguna atau pemustaka, maka dari itu adanya kerjasama di bidang pengadaan sangat diperlukan pada.

Ada pula kerja sama ini mengenai pengadaan dalam bidang yang khusus (spesialisasi tertentu). Spesialisasi tertentu dalam pengumpulan koleksi pustaka dalam subyek-subyek tertentu. Dengan bentuk kerja sama seperti ini, tiap anggota dapat       mengkhususkan diri dalam mengumpulkan koleksi pustaka dalam bidang tertentu sekomprehensif mungkin sehingga duplikasi dapat terhindar. Jika suatu pustaka  tertentu dibutuhkan oleh perpustakaan anggota, perpustakaan tersebut bisa menghubungi dan mengidentifikasi anggota jaringan yang memiliki pustaka yang dibutuhkan.

Pada pengadaan yang melalui proses tukar menuka koleksi haruslah adanya sebuah simbiosis yang mana saling menguntungkan antara perpustakaan satu dengan lainnya pada pengembangan koleksi masing-masing perpustakaan.

B. Kerjasama Pengatalogan

Kerjasama pengatalogan di Indonesia dilakukan di berbagai tempat, yang utama ialah upaya penyeragaman format katalog terbacakan mesin. Untuk keperluan itu Perpustakaan Nasional RI mengeluarkan INDOMARC. Indonesian Machine Readable Catalogue atau katalog terbacakan mesin terbitan Indonesia. Dengan keseragaman format katalog ini, akan terjadi pertukaran data yang lebih mudah.

Tujuan utama katalog terkomputerisasi adalah membuat suatu sistem pengatalogan yang sesuai dengan pemanfaatan dan peruntukannya. Sumber-sumber pembuatan katalog terkomputerisasi terdapat dari :

  1. Katalog manual lokal yang berbentuk tercetak.
  2. Sistem akuisisi bahan pustaka terkomputerisasi.
  3. File yang telah dibuat oleh kataloger.
  4. Penggabungan database.
  5. Membeli kartu komersial berformat MARC.
  6. Hasil katalog terkomputerisasi bisa diakses melalui OPAC.
  7. Koleksi Bersama (Resource Sharing)

Pada koleksi bersama terdapat 3 poin penting diantaranya yang pertama silang layanan. Pada silang layanan ini adanya sebuah kerjasama yang mana satu perpustakaan dengan perpustakaan lain saling meminjamkan pustaka berupa bahan asli, dokumen   ataupun hanya menyediakan suatu fasilitas reproduksi bahan yang diperlukan.

Lalu untuk yang kedua adanya pemakaian fasilitas ruang baca dan lainnya. Pada   dasarnya pengguna perpustakaan lain dapat menggunakan atau diizinkan untuk membaca bahan kolkesi yang tersedia yang mana termasuk dapat memanfaatkan  perlengakan pada perpustakaan. Lalu untuk yang terakhir pertukaran bibliografi dilakukan untuk mengetahui   koleksi yang dimiliki oleh masing-masing anggota jaringan.

C. Katalog Induk

Untuk dapat memudahkan peminjaman bahan koleksi antar perpustakaan maka diperlukan katalog induk artinya katalog yang mencakup koleksi dua perpustakaan atau lebih. Untuk dapat mempermudah dalam penyusunan katalog induk diperlukan keseragaman format dan   kode lokasi. Adapun proses penyusunan dari katalog induk sebagai berikut:

  1. Penyusunan materi perpustakaan
  2. Penyusunan anggaran
  3. Standarisasi
  4. Ukuran kartu
  5. Sistem penyusunan
  6. Kode perpustakaan
  7. Tenaga (staf)
  8. Kerja Sama Pelayanan Pemustaka

Kerjasama Pelayanan Pemustaka

Silang layanan dianggap sinonim dengan kata pinjam antar perpustakaan atau interlibrary loan. Menurut Sulistyo-Basuki (2007) pada silang layanan sendiri mencakup jasa yang mana membantu sebuah penelusuran, pencarian materi pada perpustakaan dan penyediaan fasilitas untuk pemustaka anggota perpustakaan yang lain. Adapun hal yang perlu dipertimbangkan dalam rangka kerja sama pelayanan ini adalah.

Sistem Informasi Manajemen (SIM)

Kriteria Sistem Informasi Manajemen (SIM) adalah bersifat komprehensif, terkoordinasi, terdiri atas subsistem, terintegrasi secara rasional, transformasi data dalam berbagai bentuk dan cara, tingkat produktivitas terukur, menyesuaikan pada gaya manajemen, dan berdasarkan kriteria kualitas yang telah ditentukan.

Permintaan terhadap informasi

Perpustakaan dalam rangka memenuhi fungsinya sebagai organisasi penyedia jasa dan pusat informasim tidak mungkin dapat bekerja secara mandiri dan independen. Oleh sebab itu perlu adanya kerja sama jaringan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Era perkembangan IPTEK sekarang ini menuntut perpustakaan menggunakan fasilitas komputer sebagai alat pengelola datanya. Kecanggihan komputer salah satunya adalah memiliki kelebihan dalam hal komunikasi data. Komunikasi data merupakan suatu proses pengiriman dan penerimaan data antara dua atau lebih sumber yang lokasinya berbeda dengan memakai media transmisi. Sistem teknologi yang digunakan merupakan perpaduan antara teknik telekomunikasi dengan teknik pengolahan data.

Pergeseran tren menuju perpustakaan elektronik

Perpustakaan elektronik merupakan sarana penyimpanan informasi, dokumen, audio visual, dan materi grafis yang tercipta dalam berbagai jenis media. Perpustakaan elektronik merupakan bagian dari sebuah jaringan kerja (network).

Pengelolaan informasi

Informasi berasal dari suatu data. Persoalan yang muncul adalah penerapan teknologi informasi juga menghadirkan masalah misalnya pemeliharaan data atau informasinya. Data dan informasi seperti dua sisi mata uang yang saling terkait. Berbeda pengertian tetapi satu fungsi. Data dapat dikatakan sebagai informasi yang akurat, dan semua data adalah embrionya informasi. sementara itu informasi belum tentu dikatakan data, sebab ada informasi yang disampaikan tanpa data, tetapi informasi juga merupakan data jika informasi itu diterima kemudian direkam.

Aspek Sosial dalam Jaringan Kerja Sama Perpustakaan dan Informasi

Proses konstruksi sosial yang terjadi di masyarakat dimana adanya interaksi antar individu, akan melahirkan bermacam respon. Baik berupa konflik atau resistensi, ada pula kemungkinan saling tarik menarik karena berbeda kepentingan, bahkan terciptanya konigurasi sosial. Konfigurasi sosial dapat diartikan semacam kegiatan yang dilakukan manusia yang saling memberi makna pada perilaku masing-masing dan melakukan tindakan yang sesuai dengan makna tersebut. Seperti merajt jarring-jaring makna, interaksi sosial muncul dalam penciptaan makna simbolik universal yang mengatur bentuk-bentuk interaksi sosial antara individu, individu dengan masyarakat, atau individu dengan lingkungannya, yang memberi makna pada berbagai undakan dalam kehidupan. Proses dialektika tersebut muncul dalam bentuk eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Bentuk eksternalisasi dapat dikatakan sebagai salah satu proses dalam konstruksi sosial. Hal ini merupakan proses membangun tatanan kehidupan dimana manusia menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses konfigurasi selanjutnya adalah dialektika. Proses ini juga muncul dalam bentuk objektivasi, yaitu proses membangun tatanan kehidupan manakala realitas terpisah dari sibjektivitas.

Aspek Teknologi dalam Jaringan kerja Sama Perpustakaan dan Informasi

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang selanjutnya disingkat ICT (Information and Commuriication Technology) membawa perubahan dalarn berbagai sektor, termasuk dunia perpustakaan, pemanfaatan ICT sebagai sarana dalam meningkatkan kualitas layanan dan operasional telah membawa perubahan yang besar didunia perpustakaan. Perkembangan dari penerapan ICT dapat diukur dengan telah diterapkannyaldigunakannya sebagai sistem informasi rnanajemen perpustakaan dan perpustakaan digital (digital library). Pada perpustakaan digital terdapat kelebihan diantara lain :

  1. Tidak Memiliki Batas Fisik
  2. Ketersediaan Akses
  3. Multiakses
  4. Temu Balik
  5. Preservasi dan Konservasi
  6. Manajemen Personalia

Namun dengan berbagai kelebihan yang ditawarkan oleh perpustakaann digital terdapat suatu tantangan yang mana pustakawan haruslah siap terutama untuk dapat menggunakan berbagai perangkat digital yang ada, berikut tantangan yang akan dihadapi oleh pustakawan :

  1. Seleksi Objek fisik dan digital
  2. Akuisisi
  3. Organisasi dan Akses
  4. Preservasi dan Konservasi
  5. Jasa dan Pelatihan Pemakai
  6. Manajemen Personalia

Perpustakaan hibrida adalah perpustakaan yang memiliki “dua muka”, yaitu merupakan perpaduan koleksi digital dan koleksi konvensional. Borgman memberikan pendapatnya bahwa perpustakaan hibrida didesain untuk mengelola teknologi dari dua sumber yang berbeda, yaitu sumber elektronik dan sumber koleksi yang tercetak yang dapat diakses melalui jarak dekat juga jauh. Pada perpustakaan hibrida ini ada kerja sama apik antara pustakawan dan para teknolog yang menyatukan keterpisahan tradisi sebagai konsekuensi perpustakaan hibrida yang secara bersamaan membangun koleksi baru (elektronik atau digital) dan koleksi lama (tercetak) secara terintegrasi, sedemikian rupa sehingga pemakai jasa perpustakaan tidak lagi kesulitan memakai kedua jenis koleksi tersebut.

Cloud computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer (komputasi) dan pengembangan berbasis internet (awan). Awan (cloud) adalah metafora dari internet. Cloud computing adalah suatu konsep umum yang mencakup SaaS (software as a service), web 2.0, dan tren teknologi terbaru lain yang dikenal luas, dengan tema umum berupa ketergantungan terhadap internet untuk memberikan kebutuhan komputasi pengguna. Cloud computing merupakan paradigm manakala suatu informasi secara permanen tersimpan di server (internet) dan tersimpan secara sementara di komputer pengguna (client). Dalam penerapan cloud computing pada perpustakaan ada kalanya perpustakaan harus menyiapkan infrastrukturnya terlebih dahulu, berikut adalah beberapa syarat yang mana harus dipenuhi :

  1. Layanan bersifat On Demand, pengguna dapat berlangganan apa yang ia butuhkan saja.
  2. Layanan bersifat elastis/ scalable.
  3. Layanan sepenuhnya dikelola oleh penyedia/ provider.
  4. Sumber daya terkelompok.
  5. Akses pita lebar layanan yang terhubung melalui jaringan pita lebar, terutama dapat diakses secara memadai melalui jaringan internet
  6. Layanan yang terukur (Measured Service).

Dari beberapa persyaratan dari cloud computing terdapat suatu manfaat yang mana jika perpustakaan menerapkan sistem cloud computing diantaranya sebagai berikut :

  1. Data yang disimpan di pusat
  2. Respons cepat.
  3. Kehandalan kode uji.
  4. Log (records tak terbatas).
  5. Kinerja perangkat lunak dengan tingkat keamanan yang tinggi.
  6. Konstruksi yang handal.
  7. Menghemat biaya uji keamanan yang mahal.

Perpustakaan pada dasarnya haruslah terus melakukan sebuah inovasi yang mana haruslah menyediakan kebutuhan pemustaka terutama pada era digital native ini, bilaman perpustakaan tidak melakukan suatu inovasi yang mana pemustaka menuntut kebutuhan akan informasi yang mereka butuhkan maka perpustakaan akan ditinggalkan. Lalu perpustakaan pada saat ini haruslah memiliki sifat open access yang mana bahan koleksi perpustakaan sangat dengan mudah untuk diakses oleh publik atau masyarakat atau pemustaka.

Perpustakaan Terintegrasi

Fayen (2005) mengemukakan bahwa pada masa awal ILS hanya terdiri atas dua atau tiga modul sebagai berikut :

  1. Pengatalogan
  2. OPAC (Online Public Access Catalog)
  3. Sistem sirkulasi

Pada perpustakaan terintegrasi terdapat komponen yang berperan penting dalam ILS atau perpustakaan terintegrasi, adapun komponen-komponennya sebagai berikut:

  1. Authority Control: modul khusus untuk pengatalogan.
  2. Pengadaan (Acquisition)
  3. Pengelolaan terbitan berseri (Serials Control)
  4. Dukungan kepemilikan (Holdings Support)
  5. Pemesanan bahan perpustakaan (Materials Booking)
  6. Koleksi tendon (Course Reserve)
  7. Inventarisasi (Inventory Control)
  8. Penjilidan (Binding)
  9. Community Bulletin Board
  10. Pinjam antar perpustakaan (Inter Library Loan)
  11. Pelaporan (Reporting)

Pada dasarnya ILS atau perpustakaan terintegrasi sangat memudahkan perpustakaan dalam berbagai aspek penting atau komponen yang ada di perpustakaan terutama pada pengolahan koleksi, penelusuran informasi, pembangunan katalog induk, pengembangan koleksi, dan pinjam antar perpustakaan.

Digitalisasi dan Simpan Pengetahuan Bersama

Komunitas online dan pengetahuan bersama saling bertukan data dan informasi. Dari pertukaran inilah muncul berbagai informasi baru yang semakin kaya. Informasi yang didapatkan oleh komunitas onlie dari perrpustakaan digital yang penyebaran informasinya terpercaya karakteristik perpustakaan digital yaitu :

  1. Berisi koleksi dalam bentuk digital seperti teks,gambar,film,video,
  2. Perpustakaan digital ada dalam lingkungan jaringan yang tersebar luas
  3. Perpustakaan digital berisi data dan metadata
  4. Perpustakaan digital koleksinya diseleksi dan dikelola untuk memenuhi kebutuhan komunitas tertentu.

Sejak semula perpustakaan digital dirancang untuk berkolaborasi antara entitas perpustakaan digital yang satu dengan yang lain. Dengan adanya tuntutan seperti ini maka isu interoperability, yaitu bagaimana mempersatukan berbagai sistem komputer agar dapat bekerjasama dan saling berkomunikasi dengan baik, menjadi sangat penting sejak awal pengembangan perpustakaan digital.

KESIMPULAN

Dengan adanya suatu sistem yang mana kerjasama dan jaringan antar perpustakaan maka perpustakaan A dan perpustakaan B akan saling membantu satu sama lain dengan tujuan untuk memenuhi kebtuhuhan pemustaka dalam pencarian informasi yang tengah dibutuhkan oleh pemustaka adanya berbagai kerjasama mulai dari aspek teknis, pelayanan, aspek teknologi dan perpustakaan terintegrasi semata-mata hanya mengutamakan kebutuhan utama para pemustaka atau pengguna yaitu bahan koleksi atau informasi. Dengan adanya berbagai kerjasama jaringan informasi antar perpustakaan, maka seluruh aspek akan berjalan secara efisien dan efektif dan perpustakaan akan dengan cepat berkembang dikarenakan adanya faktor bahu-membahu perpustakaan dalam membangun sebuah perpustakaannya masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Ishak, S.S M.Hum “Kerjasama Jaringan Antar Perpustakaan”  Diakses : 11 Oktober 2018 http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/1822/10E00536.pdf?sequence=1

Puspitasari, Dyah, Endang Fitriyah Manan, and Nove Variant Anna. “KERJASAMA DAN JARINGAN PERPUSTAKAAN ANTARA INDONESIA-MALAYSIA INDONESIA-MALAYSIA LIBRARY COOPERATION AND NETWORKING.” Edulib 4.2 (2015).

Saleh, Abdul Rahman. “Implementasi Teknologi Informasi dalam Peningkatan Kerjasama Perpustakaan Perguruan Tinggi.” (2012).

Rismawanty, Risma, “Bidang Jaringan Kerja Sama Perpustakaan dan Informasi” (2014).

Binus. Digital Natives. Diakses 11 Oktober 2018 https://sis.binus.ac.id/2016/12/16/cloud-computing/