Prefesor dari Amerika Paparkan Hasil Penelitian Gempa dan Tsunami di Pangandaran

Sering terjadinya gempa bumi di perairan laut selatan jawa, khususnya di perairan Pangandaran dan Tasikmalaya, Jawa Barat, pasca terjadinya bencana gempa dan tsunami di Pangandaran pada tahun 2006 lalu, membuat masyarakat kini bertanya-tanya. Mereka khawatir gempa bumi yang sering terjadi belakangan ini suatu saat kembali menimbulkan bencana tsunami.

Namun, berdasarkan teori ilmiah bahwa bencana tsunami tidak akan terjadi dalam rentang waktu beberapa tahun. Tetapi, bencana tsunami biasanya siklus yang terjadi setiap 100 tahun sekali.

tsunami pangandaran
Tsunai Pangandaran

Namun, hasil penelitian seorang professor ahli geologi dari Amerika Serikat yang dibantu oleh ahli geologi dari Universitas Veteran Yogyakarta, menemukan fakta lain terkait kasus bencana tsunami yang terjadi di Pangandaran pada tahun 2006 lalu.

Hasil penelitian profesor Ahli Geologi dari Amerika Serikat, Ron Haris, bersama ahli Geologi dari Universitas Veteran Yogyakarta, yang dilakukan pada tahun 2016 lalu menyebutkan bahwa bencana gempa dan tsunami Pangandaran yang terjadi pada tahun 2006 lalu merupakan pembukaan jelang meletusnya bencana serupa yang lebih besar.

Dengan kata lain, di pesisir laut Pangandaran belum aman dari bencana tsunami. Hasil penelitian itupun sekaligus mematahkan teori ilmiah bahwa bencana tsunami biasanya siklus yang terjadi dalam 100 tahun sekali.

Dilansir dari media online lokal Pangandaran, profesor Ahli Geologi dari Amerika Serikat, Ron Haris, mengatakan, dari hasil penelitian pihaknya, ditemukan fakta bahwa saat ini di perairan selatan pulau jawa tersimpan sebuah energi yang sedang berkumpul. Energi tersebut berasal dari kerak bumi yang terus bergerak.

“Untuk diketahui bahwa di dasar laut selatan pulau jawa terdapat dua lempengan yang mempertemukan antara lempengan indoaustralia dan lempengan pasifik,” ujarnya.

Menurut Ron, jika kedua lempengan tersebut bertemu dan saling bergesekan, maka dengan sendirinya akan terjadi guncangan bumi yang sangat hebat dan bisa menimbulkan bencana tsunami.

“Fenomana ini memang sangat unik. Bahkan bisa disebut temuan baru. Karena biasanya setelah terjadi bencana tsunami lempengan bumi akan kembali normal dan potensi terjadi kembali bencana serupa kecil kemungkinannya. Tetapi di Pangandaran ini berbeda,” terangnya.

Apabila bencana tsunami ini terjadi, kata Ron, diprediksi akan lebih besar dari tsunami di Aceh. “Kalau kami simpulkan, bahwa tsunami yang terjadi pada tahun 2006 lalu di pesisir pantai selatan, hanya tsunami pembuka. Sementara tsunami yang lebih besarnya belum terjadi,” katanya,

Professor jebolan Brigham Young University Amerika ini, kembali mengatakan, peristiwa besar tsunami di Indonesia pernah terjadi pada tahun 1500, tahun 1584, tahun 2004 di Aceh, dan setelah itu terjadi di Pangandaran pada tahun 2006.

Ahli geologi dari Universitas Veteran Jogjakarta, Hanif, menjelaskan, setelah melakukan penelitian di Pangandaran atau tepatnya di salah satu sungai yang tidak jauh dari laut, ditemukan lapisan pasir laut dan biota laut yang sudah terkubur.

“Lapisan pasir laut itu sudah berumur 400 tahun. Kami menduga pada sekitar 400 tahun lalu di Pangandaran pernah terjadi bencana tsunami. Selain itu, ada temuan juga yang menunjukan setelahnya terjadi kembali tsunami di Pangandaran. Setelah mengecek data dari BMKG, ternyata benar pada tahun 1957 pernah terjadi gempa dan tsunami di Pangandaran dengan jumlah korban lebih banyak dari tahun 2006,” paparnya.

Hanif juga menghimbau kepada masyarakat Pangandaran yang berada di pesisir pantai untuk memperlajari sekaligus memahami ciri-ciri akan terjadi bencana tsunami. Di samping itu, masyarakat juga harus tahu cara evakuasi bencana.

“Alam juga memberi tahu ciri-ciri akan terjadi tsunami. Seperti laut mendadak surut dan banyaknya burung berterbangan. Dengan begitu, apabila masyarakat tahu ciri-ciri akan terjadi tsunami dan paham bagimana cara melakukan evakuasi, maka akan meminimalisir jatuhnya korban,” terangnya.