Kondisi Perkembangan Ekonomi Makro dari tahun 2002-2012

Posted: 7th June 2012 by Srihendra Kridhantoro in Uncategorized
Comments Off
  • Pengangguran

Data pengangguran

Menurut data BPS angka pengangguran pada tahun 2002, sebesar 9,13 juta penganggur terbuka, sekitar 450 ribu diantaranya adalah yang berpendidikan tinggi. Bila dilihat dari usia penganggur sebagian besar (5.78 juta) adalah pada usia muda (15-24 tahun). Selain itu terdapat sebanyak 2,7 juta penganggur merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan (hopeless). Situasi seperti ini akan sangat berbahaya dan mengancam stabilitas nasional. Masalah lainnya adalah jumlah setengah penganggur yaitu yang bekerja kurang dari jam kerja normal 35 jam per minggu, pada tahun 2002 berjumlah 28,87 juta orang. Sebagian dari mereka ini adalah yang bekerja pada jabatan yang lebih rendah dari tingkat pendidikan, upah rendah, yang mengakibatkan produktivitas rendah. Dengan demikian masalah pengangguran terbuka dan setengah penganggur berjumlah 38 juta orang yang harus segera dituntaskan.

Pengangguran Terbuka*) Menurut Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, dan 2011

No

Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan

2004

2005 (Feb)

2005 (Nov)

2006 (Feb)

2006 (Agst)

2007 (Feb)

2007 (Agst)

1

Tidak/Belum Pernah Sekolah/Belum Tamat SD

1 004 296

1 012 711

937 985

849 425

781 920

666 066

532 820

2

Sekolah Dasar

2 275 281

2 540 977

2 729 915

2 675 459

2 589 699

2 753 548

2 179 792

3

SLTP

2 690 912

2 680 810

3 151 231

2 860 007

2 730 045

2 643 062

2 264 198

4

SMTA (Umum dan Kejuruan)

3 695 504

3 911 502

5 106 915

4 047 016

4 156 708

3 745 035

4 070 553

5

Diploma I/II/III/Akademi

237 251

322 836

308 522

297 185

278 074

330 316

397 191

6

Universitas

348 107

385 418

395 538

375 601

395 554

409 890

566 588

Total

10 251 351

10 854 254

12 630 106

11 104 693

10 932 000

10 547 917

10 011 142

 

 

No

Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan

2008 (Feb)

2008 (Agst)

2009 (Feb)

2009 (Agst)

2010 (Feb)

2010 (Agst)

2011(Feb)

2011 (Agst)

1

Tidak/Belum Pernah Sekolah/Belum Tamat SD

528 195

547 038

476302

637 901

606 230

757 807

645 081

877 265

2

Sekolah Dasar

2 216 748

2 099 968

2143747

1 531 671

1 522 465

1 402 858

1 275 890

1 120 090

3

SLTP

2 166 619

1 973 986

2054682

1 770 823

1 657 452

1 661 449

1 803 009

1 890 755

4

SMTA (Umum dan Kejuruan)

3 369 959

3 812 522

3471213

3 879 471

3 448 137

3 344 315

3 346 477

3 074 946

5

Diploma I/II/III/Akademi

519 867

362 683

486 399

441 100

538 186

443 222

434 457

244 687

6

Universitas

626 202

598 318

626 621

701 651

820 020

710 128

612 717

492 343

Total

9 427 590

9 394 515

9 258 964

8 962 617

8 592 490

8 319 779

8 117 631

7 700 086

*) Mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja

Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, dan 2011

Jumlah pengangguran pada Februari 2012 mencapai 7,6 juta orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) cenderung menurun, dimana TPT Februari 2012 sebesar 6,32 persen turun dari TPT Agustus 2011 sebesar 6,56 persen dan TPT Februari 2011 sebesar 6,80 persen. Pada Februari 2012, TPT untuk pendidikan menengah masih tetap menempati posisi tertinggi, yaitu TPT Sekolah Menengah Atas sebesar 10,34 persen dan TPT Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 9,51 persen. Jika dibandingkan keadaan Agustus 2011, TPT pada hampir semua tingkat pendidikan cenderung turun, kecuali TPT untuk tingkat pendidikan SD kebawah naik 0,13 persen poin dan TPT untuk tingkat pendidikan Diploma I/II/III naik 0,34 persen poin.

Permasalahan pada data tersebut ( Pengangguran )

Berdasarkan data pengangguran di atas, secara garis besar pengangguran pada tahun 2002 sebanyak 9,13 juta penganggur terbuka. Kemudian terjadi peningkatan pada tahun 2004, yaitu jumlah penganggur terbuka  sebanyak 10,25 juta. Pada tahun 2005 juga terjadi peningkatan, yaitu dengan jumlah pengangguran pada tahun 2005 sebanyak 12, 63 juta. Pada tahun 2005 ini jumlah pengangguran mencapai puncaknya. Setelah itu pada tahun 2006 sampai tahun 2012 mengalami penurunan secara terus-menerus untuk jumlah pengangguran. Pada tahun 2006, jumlah total penganggur sebanyak 10,9 juta, pada tahun 2007 sebanyak 10juta, pada tahun 2008 sebanyak 9,4 juta, pada tahun 2009 sebanyak 8,9 juta, pada tahun 2010 sebanyak 8,3 juta, pada tahun 2011 sebanyak 7,7 juta , dan pada tahun 2012 sebanyak 7,6 juta.

v Analisis permasalahan ( pengangguran )

Berdasarkan permasalahan di atas, terjadinya peningkatan pengangguran dari tahun 2002 sampai tahun 2005, menurut saya mungkin penyebabnya adalah produktivitas dan pendapatan masyarakat berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya, termasuk pengangguran. Ketiadaan pendapatan menyebabkan penganggur harus mengurangi pengeluaran konsumsinya yang menyebabkan menurunnya tingkat kemakmuran dan kesejahteraan. Pengangguran yang berkepanjangan juga dapat menimbulkan efek psikologis yang buruk terhadap penganggur dan keluarganya.

 

  • Ø Inflasi

Data Inflasi Indonesia

Indeks Inflasi Bulanan Indonesia,

2002,2003,2004,2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011 2012

BULAN

TAHUN 2002

TAHUN 2003

TAHUN 2004

TAHUN 2005

TAHUN 2006

INFLASI

INFLASI

INFLASI

INFLASI

INFLASI

Jan

1.99

0.8

0.57

1.43

1.36

Feb

1.5

0.2

-0.02

-0.17

0.58

Mar

-0.02

-0.23

0.36

1.91

0.03

Apr

-0.24

0.15

0.97

0.34

0.05

Mei

0.8

0.21

0.88

0.21

0.37

Jun

0.36

0.09

0.48

0.5

0.45

Jul

0.82

0.03

0.39

0.78

0.45

Agt

0.29

0.84

0.09

0.55

0.33

Sep

0.53

0.36

0.02

0.69

0.38

Okt

0.54

0.55

0.56

8.7

0.86

Nov

1.85

1.01

0.89

1.31

0.34

Des

1.2

0.94

1.04

-0.04

1.21

Tahunan

10.03

5.06

6.4

17.11

6.6

 

 

 

BULAN

TAHUN 2007

TAHUN 2008

TAHUN 2009

TAHUN 2010

TAHUN 2011

TAHUN 2012

INFLASI

INFLASI

INFLASI

INFLASI

INFLASI

INFLASI

Jan

1.04

1.77

-0.07

0.84

0.89

0.76

Feb

0.62

0.65

0.21

0.3

0.13

0.05

Mar

0.24

0.95

0.22

-0.14

-0.32

0.07

Apr

-0.16

0.57

-0.31

0.15

-0.31

0.21

Mei

0.1

1.41

0.04

0.29

0.12

N.A

Jun

0.23

2.46

0.11

0.97

0.55

N.A

Jul

0.72

1.37

0.45

1.57

0.67

N.A

Agt

0.75

0.51

0.56

0.76

0.93

N.A

Sep

0.8

0.97

1.05

0.44

0.27

N.A

Okt

0.79

0.45

0.19

0.06

-0.12

N.A

Nov

0.18

0.12

-0.03

0.6

0.34

N.A

Des

1.1

-0.04

0.33

0.92

0.57

N.A

Tahunan

6.59

11.06

2.78

6.96

3.79

1.09

 

Permasalahan pada data tersebut (Inflasi)

Berdasarkan data di atas, secara berturut-turut inflasi di Indonesia pada tahun 2002 sampai tahun 2003 mengalami penurunan, yaitu sebanyak 10,03;     5,06; 6,4 . Setelah itu terjadi peningkatan Inflasi pada tahun 2004, sebanyak 6,4. Kemudian terjadi peningkatan inflasi secara drastis pada tahun 2005, sebanyak 17,1. Setelah itu terjadi penurunan inflasi kembali pada tahun 2006 sebanyak 6,6. Pada tahun 2007 terjadi penurunan inflasi, namun tidak begitu banyak, yaitu sebanyak 6,59. Pada tahun 2008 dan 2009, secara berturut-turut terjadi peningkatan dan penurunan inflasi, yaitu pada 2008 terjadi inflasi sebanyak 11,6, dan pada 2009 sebanyak 2,7. Kemudian pada tahun 2010 terjadi peningkatan inflasi lagi, lalu pada tahun 2011 dan 2012 mengalami penurunan. Secara berturut-turut jumlah inflasi pada tahun 2010,2011,dan 2012 sebanyak 6,9 ;3,7 ; 1,9

Analisis Permasalahan

Berdasarkan permasalahan diatas, terjadinya peningkatan inflasi pada tahun-tahun tertentu dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi).Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.

Inflasi tarikan permintaan terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.

Inflasi desakan biaya terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.

  • Ø Pertumbuhan Ekonomi

PDB Indonesia selama tahun 2002 meningkat sebesar 3,66 persen dibandingkan PDB tahun 2001. Pertumbuhan ini terjadi pada semua sektor ekonomi, tertinggi pada sektor pengangkutan-komunikasi sebesar 7,83 persen, listrik-gas-air bersih sebesar 6,17 persen, dan keuangan-persewaan-jasa perusahaan sebesar 5,55 persen.

Perekonomian Indonesia tahun 2002 yang diukur berdasarkan besaran PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 1.610,0 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 1993 sebesar Rp. 426,7 triliun.

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2002 digerakkan oleh kegiatan konsumsi rumahtangga dan konsumsi pemerintah. Hal ini terlihat dari besarnya konsumsi rumahtangga dan konsumsi pemerintah pada tahun 2002 terhadap tahun 2001 masing-masing tumbuh sebesar 4,72 persen dan 12,79 persen. Sedangkan pembentukan modal tetap bruto dan ekspor masing-masing turun sebesar minus 0,19 persen dan minus 1,24 persen.

Fluktuasi jangka pendek perekonomian Indonesia selama tahun 2002 tercermin pada PDB triwulanan. Pertumbuhan PDB triwulan IV tahun 2002 dibandingkan dengan PDB triwulan III tahun 2002 (q to q) menurun sebesar minus 2,61 persen. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh pola musiman di sektor pertanian yang turun sebesar minus 20,26 persen. Kemudian PDB triwulan III dibanding triwulan II meningkat sebesar 2,75 persen, dan PDB triwulan II terhadap triwulan I meningkat sebesar 1,30 persen.

Perbandingan PDB riil triwulanan tahun 2002 dengan triwulan yang sama pada tahun 2001 menggambarkan laju pertumbuhan (year on year) tanpa pengaruh musiman. Laju pertumbuhan triwulan IV sebesar 3,82 persen, triwulan III sebesar 4,25 persen, triwulan II sebesar 3,87 persen, dan triwulan I tumbuh sebesar 2,67 persen.

PDB perkapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2002 mencapai Rp. 7,6 juta dan pada tahun 2001 sebesar Rp. 6,9 juta. Kemudian PDB perkapita menurut propinsi pada tahun 2001 paling tinggi ditunjukkan oleh propinsi Kalimantan Timur sebesar Rp. 32,0 juta, disusul oleh DKI sebesar Rp. 26,3 juta dan Riau sebesar Rp. 11,6 juta.

 

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 1998 – 2008

Sumber: politikana.com

Hingga tahun 2008, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6,4%. Namun pertumbuhan ini lantas mengalami penurunan nilai di tahun 2009. Krisis ekonomi global yang dimulai pada tahun 2008 dan terasa dampaknya hingga tahun 2009 ternyata membuat pertumbuhan perekonomian Indonesia hanya tumbuh sebesar 4,5%.[2] Indonesia memang tergolong hebat dikarenakan kinerja perekonomiannya masih menunjukkan angka positif walaupun kecil. Beberapa kalangan menilai hal ini dikarenan struktur pasar Indonesia cukup kuat, tertolong oleh adanya sektor riil yang berasal dari pihak UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Hal ini dikarenakan orientasi pemasaran produk-produk UMKM adalah pada pasar domestik dan relatif kecil yang diekspor. Selain itu, pelaku UMKM mempunyai motivasi yang kuat untuk mempertahankan usahanya dan kegiatan produksi yang mengandalkan bahan-bahan baku lokal. Keunggulan lainnya yakni karakteristik tenaga kerja di sektor ini yang tersedia cukup besar dan murah serta berpendidikan rendah sehingga mempunyai mobilitas yang tinggi untuk berpindah ke sektor lain.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2009 meningkat sebesar 4,5 persen terhadap tahun 2008, terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 15,5 persen dan terendah di Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 1,1 persen. Pertumbuhan PDB tanpa migas pada tahun 2009 mencapai 4,9 persen.

Besaran PDB Indonesia pada tahun 2009 atas dasar harga berlaku mencapai Rp5.613,4 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp2.177,0 triliun.

Secara triwulanan, PDB Indonesia triwulan IV-2009 dibandingkan dengan triwulan III-2009 (q-to-q) menurun sebesar 2,4 persen, dan bila dibandingkan dengan triwulan IV-2008 (y-on-y) tumbuh sebesar 5,4 persen.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2009 sebesar 4,5 persen, terjadi pada pengeluaran konsumsi pemerintah sebesar 15,7 persen, diikuti oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga 4,9 persen, dan pembentukan modal tetap bruto 3,3 persen. Sedangkan komponen ekspor tumbuh minus 9,7 persen, dan impor minus 15,0 persen.

Pada tahun 2009, dari sisi penggunaan, PDB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 58,6 persen, konsumsi pemerintah 9,6 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi fisik 31,1 persen dan ekspor 24,1 persen. Sedangkan untuk penyediaan dari impor sebesar 21,3 persen.

PDB per kapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2009 mencapai Rp24,3 juta (US$2.590,1), sementara tahun 2008 sebesar Rp21,7 juta (US$2.269,9).

Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB triwulan IV-2009 sebesar 57,6 persen, dengan 3 provinsi utamanya adalah: DKI Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2011 tumbuh sebesar 6,5 persen dibandingkan dengan tahun 2010. Pertumbuhan terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan pertumbuhan tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 10,7 persen dan terendah di Sektor Pertambangan dan Penggalian 1,4 persen. Sementara PDB (tidak termasuk migas) tahun 2011 tumbuh 6,9 persen.

Besaran PDB Indonesia tahun 2011 atas dasar harga berlaku mencapai Rp7.427,1 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp2.463,2 triliun.

Secara triwulanan, PDB Indonesia triwulan IV-2011 dibandingkan dengan triwulan III-2011 (q-to-q) turun sebesar 1,3 persen, tapi bila dibandingkan dengan triwulan IV-2010 (y-on-y) tumbuh sebesar 6,5 persen.

Pertumbuhan ekonomi tahun 2011 menurut sisi penggunaan terjadi pada komponen ekspor sebesar 13,6 persen, diikuti pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 8,8 persen, pengeluaran konsumsi rumah tangga 4,7 persen, pengeluaran konsumsi pemerintah 3,2 persen, dan komponen impor sebagai factor pengurang juga mengalami pertumbuhan, yaitu sebesar 13,3 persen.

Pada tahun 2011, PDB digunakan untuk memenuhi konsumsi rumah tangga sebesar 54,6 persen, konsumsi pemerintah 9,0 persen, pembentukan modal tetap bruto atau investasi fisik 32,0 persen, ekspor 26,3 persen, dan impor 24,9 persen.

PDB per kapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2011 mencapai Rp30,8 juta (US$3.542,9), meningkat dibandingkan pada tahun 2010 yaitu sebesar Rp27,1 juta (US$3.010,1). 57,5 persen dari PDB triwulan IV-2011 disumbang oleh Pulau Jawa, dengan urutan tiga provinsi terbesarnya adalah: DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Secara kuantitatif, kegiatan-kegiatan di sektor sekunder dan tersier masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, sedangkan kegiatan sektor primernya lebih diperankan oleh luar Pulau Jawa.

 

 

 

 

Sumber:

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=06&notab=4

http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=03&notab=6

http://www.bps.go.id/aboutus.php?inflasi=1

www.bps.go.id/getfile.php?news=100

http://nisachairunissa.blogspot.com/2011/02/bagaimana-dengan-kondisi-perekonomian.html

www.bps.go.id/getfile.php?news=749

www.bps.go.id/getfile.php?news=908

http://exoticpurple.wordpress.com/2011/05/13/pengaruh-pertumbuhan-ekonomi-terhadap-pengangguran-di-indonesia/

 

Comments are closed.