Rss

Kepribadian – kepribadian Konsumen

Macam-macam Kepribadian Manusia

Menurut Hippocrates dan Galenus

1. Sanguinis

Orang bertipe “Sanguin”mempunyai energi yang besar, suka bersenang-senang, dan supel. Mereka suka mencari perhatian, sorotan, kasih sayang, dukungan, dan penerimaan orang-orang di sekelilingnya. Suka memulai percakapan dan menjadi sahabat bagi semua orang. Orang tipe ini biasanya optimis dan selalu menyenangkan.

2. Koleris

Orang bertipe “Koleris” berorientasi pada sasaran. Aktivitasnya dicurahkan untuk berprestasi, memimpin, dan mengorganisasikan. Orang bertipe koleris menuntut loyalitas dan penghargaan dari sesama, berusaha mengendalikan dan mengharapkan pengakuan atas prestasinya, serta suka ditantang dan mau menerima tugas-tugas sulit. Mereka keras kepala, dan tidak peka terhadap perasaan orang lain.

3. Melankolis

Orang bertipe “Melankolois” sangat pendiam dan pemikir. Ia berusaha mengejar kesempurnaan dari apa yang menurutnya penting. Orang dalam tipe ini butuh ruang dan ketenangan supaya mereka bisa berpikir dan melakukan sesuatu. Orang bertipe melankolis berorientasi pada tugas, sangat berhati-hati, perfeksionis, dan suka keteraturan.

4. Phlegmatis

Seimbang, stabil, merasa diri sudah cukup, dan tidak merasa perlu merubah dunia. Ia juga tak suka mempersoalkan hal-hal sepele, tidak suka risiko atau tantangan, dan butuh waktu untuk menghadapi perubahan. Orang bertipe ini kurang disiplin dan motivasi sehingga suka menunda-nunda sesuatu. Kadang, ia dipandang orang lain sebagai lamban. Bukannya karena ia kurang cerdas, tapi justru karena ia lebih cerdas dari yang lain.

Menurut Renee Baron dan Elizabeth Wagele

1. Perfeksionis

Orang dengan tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk hidup dengan benar, memperbaiki diri sendiri dan orang lain dan menghindari marah.

2. Penolong

Tipe kedua dimotivasi oleh kebutuhan untuk dicintai dan dihargai, mengekspresikan perasaan positif pada orang lain, dan menghindari kesan membutuhkan.

3. Pengejar Prestasi

Para pengejar prestasi termotivasi oleh kebutuhan untuk menjadi orang yang produktif, meraih kesuksesan, dan terhindar dari kegagalan.

4. Romantis

Orang tipe romantis termotivasi oleh kebutuhan untuk memahami perasaan diri sendiri serta dipahami orang lain, menemukan makna hidup, dan menghindari citra diri yang biasa-biasa saja.

5. Pengamat

Orang tipe ini termotivasi oleh kebutuhan untuk mengetahui segala sesuatu dan alam semesta, merasa cukup dengan diri sendiri dan menjaga jarak, serta menghindari kesan bodoh atau tidak memiliki jawaban.

6. Pencemas

Orang tipe pencemas termotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan persetujuan, merasa diperhatikan, dan terhindar dari kesan pemberontak.

7. Petualang

Tipe petualang termotivasi oleh kebutuhan untuk merasa bahagia serta merencanakan hal-hal menyenangkan, memberi sumbangsih pada dunia, dan terhindar dari derita dan dukacita.

8. Pejuang

Tipe pejuang termotivasi oleh kebutuhan untuk dapat mengandalkan diri sendiri, kuat, memberi pengaruh pada dunia, dan terhindar dari kesan lemah.

9. Pendamai

Para pendamai dimotivasi oleh kebutuhan untuk menjaga kedamaian, menyatu dengan orang lain dan menghindari konflik.

Menurut Teori Jung

1. Introvert

Golongan ini merupakan golongan yang mengutamakan untuk memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain. Sifat ini berusaha untuk selalu mencukupi kebutuhan dirinya dengan sedikit sekali menghiraukan orang lain disekitarnya.

2. Extrovert

Orang-orang extrofert lebih memikirkan orang lain dari pada memikirkan diri sendiri. konsekuensinya, lebih mengutamakan kepentingan orang lain dari pada kepentingan sendiri.

3. Tipe Penuh Logika

Orang bertipe ini melihat semua orang dan memikirkan semua hal, Merasa hanya hidup di sini dan hari ini, Cepat beradaptasi dengan berbagai situasi, Senang dengan sensasi fisik, Senang dengan masalah practical dan aktif, Realistis dan percaya diri.

4. Tipe Intuisi

Orang bertipe ini mengarah ke masa lalu atau masa depan, Khawatir mengenai masa depan lebih dari yang sekarang, Tertarik dengan semua hal baru dan tidak biasa, Tidak suka rutinitas, Lebih atraktif dalam teori daripada praktek, Sering ragu-ragu.

5. Tipe Pemikir

Orang bertipe ini tertarik dengan system, struktur, dan pola, Mengekspos apapun dalam analisi logis, Relatif dingin dan tidak emosional, Mengevaluasi hal dengan intelektualitas dan antara benar atau salah, Memiliki kesulitan untuk mengungkapkan perasaan, Tidak suka berargumen secara terbuka atau memulai perselisihan.

6. Tipe Perasa

Orang bertipe ini Tertarik dengan orang dan perasaan mereka, Mudah mengungkapkan mood-nya kepada orang lain, Menaruh perhatian besar terhadap cinta dan keinginannya yang besar, Mengavaluasi hal dengan penuh etika dan antara baik atau buruk, Mudah tersentuh atau menggunakan manipulasi emosional, Ramah dan sering memberikan pujian untuk orang-orang yang menyenangkan.

7. Tipe Pasrah

Bergerak secara impulsive mengikuti situasi, Dapat memulai banyak hal dalam sekali waktu, namun tanpa penyelesaiannya, Lebih memilih kemerdekaan daripada memenuhi kewajiban, Selalu ingin tahu dan suka hal baru, Bekerja produktif tergantung mood, Sering bertindak tanpa persiapan.

8. Tipe Penuntut

Tidak suka meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban, Bekerja keras dan selalu menyelesaikannya dengan baik, Tidak suka mengubah apa yang sudah menjadi keputusannya, Relatif stabil dalam bekerja, Mengikuti aturan dan disiplin.

Menurut John L. Holland

1. Tipe Realistik

Menyukai pekerjaan yang sifatnya konkret, yang melibatkan kegiatan sistematis, seperti mengoperasikan mesin, peralatan. Tipe seperti ini tidak hanya membutuhkan keterampilan, komunikasi, atau hubungan dengan orang lain, tetapi dia memiliki fisik yang kuat. Bidang karier yang cocok, yaitu perburuhan, pertanian,barber shop, dan konstruski.

2. Tipe Intelektual/ Investigative

Menyukai hal-hal yang teoritis dan konseptual, cenderung pemikir daripada pelaku tindakan, senang menganalis, dan memahami sesuatu. Biasanya menghindari hubungan sosial yang akrab. Tipe ini cocok bekerja di laboratorium penelitian, seperti peneliti, ilmuwan, ahli matematika.

3. Tipe Sosial

Senang membantu atau bekerja dengan orang lain. Dia menyenangi kegiatan yang melibatkan kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan berhubungan dengan orang lain, tetapi umumnya kurang dalam kemampuan mekanikal dan sains. Pekerjaan yang sesuai, yaitu guru/pengajar, konselor, pekerja sosial, guide, dan bartender.

4. Tipe Konvensional

Menyukai pekerjaan yang terstruktur atau jelas urutannya, mengolah data dengan aturan tertentu. Pekerjaan yang sesuai, yaitu sekretaris, teller, filing, serta akuntan.

5. Tipe Usaha/ Eenterprising

Cenderung mempunyai kemampuan verbal atau komunikasi yang baik dan menggunakannya untuk memimpin orang lain, mengatur, mengarahkan, dan mempromosikan produk atau gagasan. Tipe ini sesuai bekerja sebagai sales, politikus, manajer, pengacara atau agensi iklan.

6. Tipe Artistik

Cenderung ingin mengekspresikan dirinya, tidak menyukai struktur atau aturan, lebih menyukai tugas-tugas yang memungkinkan dia mengekspresikan diri. Karier yang sesuai, yaitu sebagai musisi, seniman, dekorator, penari, dan penulis.

Penggolongan atau klasifikasi gangguan kepribadian manusia

1. Kepribadian Paranoid

Kepribadian paranoid adalah gangguan kepribadian dengan sifat curiga yang menonjol. Orang lain selalu dilihat sebagai agressor, ingin merugikan, ingin menyakiti, ingin mencelakai, membahayakan, dan sebagainya, sehingga ia bersikap sebagai pemberontak untuk mempertahankan harga dirinya.

2. Kepribadian Afektif/Siklotim

Ciri utama dari kepribadian siklotim adalah keadaan perasaan dan emosinya yang berubah-ubah antara depresi dan euforia. Penderita mungkin berhasil menarik banyak teman karena sifatnya yang ramah, gembira, semangat, hangat, tetapi dikenal pula sebagai orang yang tak dapat diramalkan. Dalam keadaan depresi, penderita dapat menjadi sangat cemas, khawatir, pesimis, bahkan nihilistik.

3. Kepribadian Skizoid

Sifat-sifat kepribadian ini adalah pemalu, perasa, pendiam, suka menyendiri, menghindari kontak sosial dengan orang lain. Ciri utamanya adalah cara menyesuaikan diri dan mempertahankan diri ditempuh dengan menarik diri, mengasingkan diri, dan juga sering berperilaku aneh (ekstrinsik). Pemikirannya autistik (hidup dalam dunianya sendiri), melamun berlebihan, dan ketidamampuan menyatakan rasa permusuhan.

4. Kepribadian Eksplosif

Ciri utama tipe ini adalah diperlihatkannya sifat tertentu yang lain dari perilakunya sehari-hari, yaitu ledakan-ledakan amarah dan agresivitas, sebagai reaksi terhadap stres yang dialaminya (walaupun mungkin stresnya sangat kecil). Segera sesudah itu biasanya ia menyesali perbuatannya.

5. Kepribadian Anankastik

Ciri utama tipe kepribadian ini adalah perfeksionisme dan keteraturan, kaku, pemalu, disertai dengan pengawasan diri yang tinggi. Orangnya tdak kompromis serta sangat patuh (bahkan berlebihan) pada nora-norma, etika, dan moral. Orang dengan kepribadian ini sering terlambat untuk menikah, karena tuntutannya terlalu tinggi dan takut/ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

6. Kepribadian Histerik

Ciri utama kepribadian ini adalah sombong, egosentrik, tidak sabilnya emosi, suka menarik perhatian denga afek yang labil, sering berdusta dan menunjukkan pseudologika fantastika (menceritakan secara luas, terperinci, dan kelihatan masuk akal padahal tanpa dasar fakta atau data.

7. Kepribadian Astenik

Ciri utamanya hidup tidak bergairah, lemas, lesu, letih, lemah, tak ada tenaga sepanjang kehidupannya. Orangnya tidak tahan terhadap stres hidup yang normal dalam kehidupan sehari-hari. Vitalitas dan emosionalitasnya sangat rendah. Terdapat abulia atau kurang kemauan dan anhedonia (kurang mampu menikmati sesuatu).

8. Kepribadian Anti Sosial

Ciri utamanya ialah bahwa perilakunya selalu menimbulkan konflik dengan ornag lain atau lingkungannya. Tidak loyal pada kelompok dan norma-norma sosial, tidak toleran terhadap kekecewaan atau frustasi, selalu menyalahkan ornag lain dengan rasionalisasi. Ia egosentris, idka bertangung jawab, impulsif, agrsif, kebal terhadap rasa sakit, dan idak mampu belajar dari pengalaman ataupun hukuman yang diberikan.

9. Kepribadian Pasif-Agresif

Tipe ini dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Kepribadian pasif dependen, orang dengan tipe kepribadian ini selalu berpikir, merasa, dan bertindak bahwa kebutuhannya akan ketergantungannya itu dapat dipenuhi scara menakjubkan.

  • Kepribadian pasif agresif, orang dengan tipe ini merasa bahwa kebutuhan akan ketergantungan tidak pernah terpenuhi. Ia menunjukkan penangguhan dan sikap keras agar diterima dengan murah hati apa yang diharapkannya degan sangat. Tipe kepribadian ini ditandai dengan sifat pasif dan agresif. Agresifitas dapat dinyatakan secara pasif dengan cara bermuka masam, malas, menyabot, dan keras kepala.

10. Kepribadian Inadequat

Ciri utama tipe ini adalah ketidakmampuannya secara terus menerus atau berulang-ulang untuk memenuhi harapan atau tuntutan teman atau sebayanya atau kenalannya. Baik dalam respon emosional, intelektual, sosial, maupun fisik. Penderita sendiri tidak merasakan sebagai bebean karena dianggapnya wajar dan harus diterima sebagaimana adanya.

Contoh IklanKepribadian Manusia

1. Iklan layanana masyarakat: “bahaya merokok” merupakan suatu iklan yang paling cocok ddihubungkan dengan manusia yang memiliki kepribadian Giver / Helper “menurut Enneagram”. Seperti yang ditunjukkan dalam video dalam situs berikut ini: http://www.youtube.com/watch?v=aS7h28_yxFQ
2. Iklan pariwisata juga bisa dikategorikan iklan dengan target konsumen yang memiliki jiwa petualang, seperti ikan pariwisata yang ditunjukkan oleh situs berikut ini : http://wartapedia.com/wisata/wisataalam/8592-batu-baginde–cocok-bagi-wisatawan-berjiwa-petualang-.html
3. Iklan es krim “Magnum” merupakan sebuah iklan yang ditunjukkan untuk orang-orang yang memiliki kepribadian perfeksionis. Karena dengan memakan es krim tersebut di anggap bahwa konsumen mendapatkan sebuah kepuasan tersendiri, seperti motto produk itu sendiri yaitu “for pleasure seekers”, inilah contoh iklan dan videonya: http://www.youtube.com/watch?v=LxTqCYpqSGk

Tugas Analisis Jurnal Hubungan Kepribadian Konsumen Dengan Pola Perilaku Konsumen

Jurnal 1

Lima-faktor model kepribadian dan komitmen organisasi : mediasi peran afektif positif dan negatif
Model Lima Besar kepribadian (ekstraversi, keramahan, sifat berhati-hati, neurotisisme, keterbukaan)telah memperoleh penerimaan luas dalam masyarakat ilmiah dan telah berkontribusi pada kebangkitan penelitian kepribadian dalam perilaku organisasi dan psikologi. Memang, model ini telah digunakan untuk mempelajari hubungan antara kepribadian dan variabel yang menarik bagi organisasi seperti kepemimpinan, kepuasan kerja, kinerja dan turnover. Ini aliran penelitian umumnya mendukung gagasan bahwa “kepribadian merupakan faktor penentu penting dari perilaku individu di tempat kerja”.
Penelitian ini membuat terobosan baru dengan mencurahkan hal ringan pada masalah yang sebagian besar diabaikan dalam literatur komitmen, yaitu, sifat hubungan kepribadian, di sini dicontohkan oleh Lima Besar kepribadian, dengan komponen komitmen organisasi. Khususnya, ekstraversi, keramahan dan neurotisisme diprediksi membawa perubahan komitmen organisasi sebagian melalui pengaruh mediasi afektif positif dan negatif. Temuan ini sangat konsisten, dengan pandangan teoritis kepribadian yang menstresskan suasana hati dan emosi yang ditimbulkan oleh ciri-ciri kepribadian menjelaskan, mengapa individu menghadapi rangsangan tertentu dan memberlakukan lingkungan tertentu. Sebagai contoh, emosionalitas positif ekstrovert membantu mereka untuk membangun dan menguntungkan lingkungan, sedangkan kecenderungan keramahan untuk menghargai emosi positif dan mengendalikan emosi negative dalam konteks penerimaan serta membantu mereka memperoleh penerimaan sosial yang lebih baik, dan emosionalitas neurosis negatif menyebabkan mereka mengalami peristiwa negatif dan hubungan berkualitas buruk.

Jurnal 2

Pengaruh persepsi pelanggan dari kepribadian merek di restoran bertema kasual
Meskipun penelitian yang ada menganjurkan agar rantai restoran mengembangkan dan mengkomunikasikan merek yang menonjolkan kepribadian, tak ada penelitian sampai saat ini memberikan bukti empiris bahwa persepsi kepribadian merek yang unik oleh konsumen menyebabkan hasil positif dalam bisnis restoran. Oleh karena itu, dengan menggunakan sampel 336 orang dewasa, penelitian ini memodelkan hubungan kausal antara persepsi kepribadian merek, preferensi merek, loyalitas sikap, dan perilaku positif word-of-mouth (WOM) untuk Olive Garden dan Chili restaurant. Ditemukan bahwa untuk kedua rantai, persepsi kepribadian merek yang positif berpengaruh pada preferensi merek dan loyalitas sikap, preferensi merek memiliki dampak positif pada sikap loyalitas, dan sikap loyalitas memiliki pengaruh positif terhadap komunikasi positif word-of-mouth (WOM). Selain itu, untuk Olive Garden dan merek Chili, hal itu juga menemukan bahwa ada hubungan langsung antara preferensi merek dan perilaku word-of-mouth (WOM).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan model yang menjelaskan perilaku WOM pelanggan restoran pelayanan penuh berdasarkan pada persepsi kepribadian merek. Dengan demikian, penelitian ini secara empiris menguji pengaruh persepsi kepribadian merek pada preferensi merek, loyalitas merek sikap, dan perilaku positif word -of- Mouth di konteks restoran. Meskipun ada bukti bahwa preferensi merek dan loyalitas merek adalah konsep yang terkait tetapi berbeda, peran mereka dalam menengahi hubungan antara kepribadian merek dan perilaku positif WOM belum diteliti, celah penelitian ini adalah dirancang untuk diisi. Dalam penelitian ini membangun kepribadian merek dimodelkan sebagai refleksi dari lima dimensi kepribadian. Temuan mengenai pengaruh kepribadian merek ini yang sangat menarik. Implikasi teoritis dari hasil ini adalah bahwa sementara manfaat fungsional dari merek itu penting, kualitas abstrak yang menyediakan Manfaat simbolis membayangkan sebagian besar dalam persepsi kepribadian merek dan mengakibatkan tidak hanya kepuasan konsumen yang lebih tinggi namun juga lebih kuatnya komunikasi word-of-mulut.

Jurnal 3

Sikap kosumen terhadap toko virtual dan korelasinya
Didukung oleh perkembangan teknologi informasi, toko virtual telah meningkatkan pentingnya mereka dalam lingkungan pemasaran modern. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara sikap konsumen terhadap toko virtual dan yang berkorelasi. Sebuah model konseptual dengan empat hipotesis dipostulasikan diusulkan dan diverifikasi oleh data empiris. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa konsumen berisiko negatif terkait dengan sikap konsumen, sedangkan orientasi kenyamanan konsumen dan kecenderungan impuls keduanya berhubungan positif dengan sikap konsumen terhadap toko virtual.
Toko virtual telah meningkatkan kepentingan mereka dalam saluran pemasaran, tetapi pengetahuan yang solid tentang sikap konsumen terhadap toko virtual tetap langka. Berdasarkan teori tindakan beralasan, artikel ini mengambil sudut pandang Sikap konsumen untuk mengeksplorasi anteseden konsumen dengan diskusi kelompok terarah dan mengusulkan model konseptual untuk menyelidiki sikap konsumen terhadap toko virtual dan secara empiris menguji model yang diusulkan dan hipotesis. Model konseptual yang diusulkan hanya awal, yang dapat digunakan sebagai model dasar dan diperpanjang dalam penelitian lebih lanjut. Dengan meningkatkan pemahaman akademisi kita sikap konsumen, dan praktisi dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola berbagai jenis toko virtual. Namun, bersama dengan pesatnya pertumbuhan teknologi informasi, jenis baru toko virtual dengan model bisnis baru yang terus menerus sedang dikembangkan dan diperkenalkan oleh para praktisi, tetapi tepatnya bagaimana konsumen bereaksi terhadap perubahan ini masih diketahui.

Jurnal 4

Menyelidiki dampak dari ciri-ciri kepribadian pada perilaku belanja online

Toko online (e-store) muncul dengan kecepatan tinggi di abad ke-21. Dibandingkan dengan toko biasanya, e-store menawarkan pilihan produk yang lebih beragam, produk individual dan layanan informasi, kenyamanan berbelanja, dan privasi. Tujuan artikel ini adalah untuk menyelidiki dampak ciri-ciri kepribadian pembeli online pada perilaku pembelian mereka. Sebuah model persamaan struktural dikembangkan untuk menguji efek kausal dengan konstruksi. Hasil empiris menunjukkan bahwa

  • Motivasi pembelian hedonis secara positif dipengaruhi oleh tiga dari lima sifat besar: neurotisisme, extraversion, dan keterbukaan terhadap pengalaman

  • Ketika konsumen memiliki derajat yang lebih tinggi neurotisisme, keramahan, atau keterbukaan terhadap pengalaman, mereka cenderung termotivasi untuk berbelanja online

  • Motivasi pembelian utilitarian merupakan faktor kunci yang memanggil niat pencarian pada konsumen, sementara motivasi hedonis tidak. Implikasi manajerial untuk manajer bisnis.
    Kata kunci: Karakter kepribadian, motivasi hedonis, motivasi utilitarian, niat pencarian.

    Penelitian ini menggunakan lima karakter besar kepribadian sebagai pendahulunya untuk mengeksplorasi dampaknya terhadap motivasi pembelian hedonis dan utilitarian dan efek dari niat beli pada pembelian berikutnya. Data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi pembelian hedonis secara positif dipengaruhi oleh tiga dari lima sifat besar: neurotisisme, extraversion, dan keterbukaan pengalaman. Orang yang lebih neurotik, lebih extroversive, atau lebih terbuka pengalamannya cenderung untuk mencari kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan saat belanja online. Ketika konsumen memiliki derajat yang lebih tinggi neurotisisme, keramahan, atau keterbukaan terhadap pengalaman, mereka cenderung termotivasi untuk berbelanja online.

    Konsumen yang memiliki derajat lebih tinggi dari kesadaran dan keramahan akan cenderung melakukan kegiatan untuk mencari nilai utilitarian seperti kognisi, pengolahan informasi, evaluasi alternatif, dll Namun, penelitian ini tidak dapat membuktikan hipotesis bahwa kesadaran memiliki korelasi positif dengan motivasi utilitarian. Motivasi pembelian utilitarian adalah pendorong sebenarnya di balik pencarian konsumen dan niat pembelian. Dengan kata lain, begitu konsumen telah memutuskan untuk membeli item dan dia ingin melakukan pembelian online tersebut secara efisien dan efektif, ia benar-benar mencari produk yang diinginkan, mengumpulkan informasi produk, dan membandingkan produk pesaing dalam rangka untuk memutuskan apakah membeli barang tertentu atau tidak. Di sisi lain, belanja online murni untuk alasan hedonis seperti menyenangkan, sukacita, kejutan, dan kepentingan tidak langsung mendorong konsumen untuk melakukan pembelian.

    Jurnal 5

    Pengaruh kepribadian pada impulsif dan kompulsifperilaku pembelian

    Penelitian mengidentifikasi tiga hal utama yang dapat mempengaruhi perilaku pembelian impulsif dan kompulsif, negara internal dan suasana hati konsumen, ciri-ciri kepribadian dari para konsumen dan faktor lingkungan.

    Perilaku kompulsif didefinisikan sebagai “repetitif dan tampaknya tujuan” tindakan yang “dilakukan sesuai dengan aturan-aturan tertentu atau secara stereotip”. Dalam pemasaran, mani-festations perilaku kompulsif termasuk pembelian perilaku yang tidak dapat dikontrol, yang berlebihan, memakan waktu, dan / atau bermotif di alam. Meskipun pembelian kompulsif dapat dikaitkan dengan ikatan emosional dengan obyek, adalah lebih mungkin bahwa kesenangan yang berasal dari tindakan membeli adalah motivasi utama. Hal ini berbeda dari perilaku impulsif karena pembelian kompulsif melibatkan “ketidakmampuan untuk mengendalikan dorongan” dan “mengarah ke situasi negatif yang ekstrim”.

    Penelitian dengan bentuk-bentuk perilaku adiktif dan kompulsif menunjukkan bahwa orang umumnya melewati tahap penyangkalan dan perasaan bahwa entah bagaimana mereka kebal dari efek negatif sebelum mengakui bahwa mereka benar-benar memiliki masalah.

    Karakter kepribadian mempengaruhi perilaku pembelian impulsif dan kompulsif. Sifat berhati-hatimencakup tingkat perhatian yang tinggi, dengan kontrol impuls yang baik dan perilaku yang diarahkan pada tujuan. Hati nurani yang tinggi cenderung terorganisir dan memperhatikan detail. Ini ciri-ciri meningkatkan kemungkinan individu untuk memanjakan diri dalam perilaku pembelian impulsif dan kompulsif.

    Studi ini telah mengidentifikasi hubungan positif antara pembelian impulsif dan kompulsif. Di antara ciri-ciri kepribadian Big Five, baik pembelian impulsif dan kompulsif berkorelasi positif dengan neurotisisme (ketidakstabilan emosional) yang berarti bahwa individu yang mengalami ketidakstabilan emosional, kecemasan, kemurungan, lekas marah, dan sedih lebih cenderung menampilkan perilaku pembelian impulsif dan kompulsif. Selain itu, perilaku pembelian impulsif dan kompulsif secara positif dipengaruhi oleh empat ciri kepribadian lainnya.

    Selain itu, sebagian besar varians dalam membeli impuls dijelaskan oleh Keterbukaan. Hal ini menunjukkan bahwa individu-individu yang lebih imajinatif, berbudaya, penasaran, asli, berpikiran luas, cerdas dan artistik sensitif lebih mungkin untuk menampilkan perilaku pembelian Impulsive. Sebaliknya, jumlah yang tidak signifikan varians dijelaskan oleh keramahan.

    Keramahan merupakan dimensi kepribadian yang meliputi atribut seperti kepercayaan, altruisme, kebaikan, kasih sayang, dan lainnya pro-sosial perilaku dan efek positif kemampuan subyek untuk menunjukkan perilaku pembelian impulsif dan kompulsif.Extraversion rangsangan, sosialisasi, banyak bicara, ketegasan, dan jumlah tinggi jumlah ekspresif emosional bagi extraversion dalam individu. Ini sifat kepribadian yang positif berkaitan dengan perilaku pembelian impulsif dan kompulsif.

Like This Post? Share It

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*