Home > kumpulan tugas > LAPORAN PRAKTIKUM KLIMATOLOGI “HEAT UNIT”

LAPORAN PRAKTIKUM KLIMATOLOGI “HEAT UNIT”

1.1  Pengertian Heat Unit

  • Heat unit sebagai perbedaan antara rata-rata harian maksimum dan suhu minimum dan basal kritis tertentu atau perkembangan “ambang” suhu (Anonymous,2010).
  • Heat unit adalah berbasis unit temperatur yang terkait dengan tingkat perkembangan jagung dan kedelai (Bootsma et al;. 2001 Brown dan Bootsma 1993).
  • Heat unit menggambarkan panas yang dibutuhkan oleh tanaman agar tanaman tersebut dapat tumbuh (Anonymous,2010).

1.2  Pengertian Suhu Kritis

  • Suhu ketika suatu bahan superkonduktor mulai mempunyai sifat superkonduktif disebut suhu kritis (Tc) (Anonymous,2010).
  • Suhu kritis yaitu kondisi suhu yang harus dipenuhi agar bahan dapat menampilkan sifat superkonduktif (Anonymous,2010).
  • Suhu kritis adalah suhu tertinggi dimana gas masih dapat dimampatkan menjadi cair (Anonymous,2010).

 

1.3 Morfologi Tanaman

a. Jagung Manis

  • Akar

Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.

  • Batang

Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset. Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung lignin.

 

Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut. Stoma pada daun jagung berbentuk halter, yang khas dimiliki familia Poaceae. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Struktur ini berperan penting dalam respon tanaman menanggapi defisit air pada sel-sel daun.

  • Bunga

Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah (diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung, dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga (inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara batang dan pelepah daun. Pada umumnya, satu tanaman hanya dapat menghasilkan satu tongkol produktif meskipun memiliki sejumlah bunga betina. Beberapa varietas unggul dapat menghasilkan lebih dari satu tongkol produktif, dan disebut sebagai varietas prolifik. Bunga jantan jagung cenderung siap untuk penyerbukan 2-5 hari lebih dini daripada bunga betinanya (protandri) (anonymous,2010)

 

b. Sawi

  • Batang

Tegak, masif, silindris, licin, hijau.

  • Daun

Tunggal.silang berhadapan, lonjong, tepi rata atau bergerigi, ujung tumpul, pangkal meruncing, panjang 7-15 crn, lebar 3-6 cm, hijau.

  • Bunga

Silindris, panjang -t 1 cm, hijau, kelopak pipih memanjang, halus, hijau kekuningan, kepala sari empat persegi panjang, coklat muda, tangkai putik silindris, panjang + 1 cm, hijau, kepala putik bulat, coklat muda, mahkota silindris, lepas satu sama lain, kuning,

  • Buah

Polong, bulat memanjang, panjang + 3 cm, hijau.

 

  • Biji

Bulat pipih, kuning kecoklatan.

  • Akar

Tunggang, putin. (anonymous,2010)

 

c. Mentimun

Perbungaannya berumah satu (monoecious) dengan tipe bunga jantan dan bunga hermafrodit (banci). Bunga pertama yang dihasilkan, biasanya pada usia 4-5 minggu, adalah bunga jantan. Bunga-bunga selanjutnya adalah bunga banci apabila pertumbuhannya baik. Satu tumbuhan dapat menghasilkan 20 buah, namun dalam budidaya biasanya jumlah buah dibatasi untuk menghasilkan ukuran buah yang baik.

Berwarna hijau ketika muda dengan larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah berubah menjadi hijau pucat sampai putih. Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buahnya perkembangan dari bagian mesokarp, berwarna kuning pucat sampai jingga terang. Buah dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak fisiologi. Buah yang masak biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya hitam.(anonymous,2010)

 

1.4  Syarat Tumbuh Tanaman

  1. a.  Jagung

Jagung kebanyakan ditanam di dataran rendah baik, sawah tadah hujan maupun sawah irigasi. Sebahagian terdapat juga di daerah pergunungan pada ketinggian 1000- 1800 m di atas permukaan laut.

  • Ø    Tanah

Tanah yang dikehendaki adalah gembur dan subur, kerana tanaman jagung memerlukan aerasi dan pengairan yang baik. Jagung dapat tumbuh baik pada berbagai macam tanah. Tanah lempung berdebu adalah yang paling baik bagi pertumbuhannya. Tanah-tanah berat masih dapat ditanami jagung dengan pengerjaan tanah lebih sering selama pertumbuhannya, sehingga aerasi dalam tanah berlangsung dengan baik.Air tanah yang berlebihan dibuang melalui saluran pengairan yang dibuat diantara barisan jagung. Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk jagung adalah sekittir 5,5 – 7,0. Tanah dengan kemiringan tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan tegak lurus terhadap miringnya tanah, dengan maksud untuk mencegah keganasan erosi yang terjadi pada waktu turun hujan besar,

  • Ø    Iklim

Faktor-faktor iklim yang terpenting adalah jumlah dan pembagian dari sinar matahari dan curah hujan, temperatur, kelembaban dan angin. Tempat penanaman jagung harus mendapatkan sinar matahari cukup dan jangan terlindung oleh pohon-Pohonan atau bangunan. Bila tidak terdapat penyinaran dari matahari, hasilnya akan berkurang. Temperatur optimum untuk pertumbuhan jagung adalah antara 23 – 27 C. (anonymous,2010)

 

b.Sawi

Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.

Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.

Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bila di tanam pada akhir musim penghujan.

Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7. (anonymous,2010)

 

c. Mentimun

  • Iklim

· Ketinggian tempat : 1 m – 1.000 m di atas permukaan laut

· Curah hujan tahunan : 800 mm – 1.000 mm/tahun

· Bulan basah (di atas 100 mm/bulan) : 5 bulan – 7 bulan

· Bulan kering (di bawah 60 mm/bulan) : 4 bulan – 6 bulan

· Suhu udara : 170 C – 230 C

· Kelembapan : sedang

· Penyinaran : sedang – tinggi

  • Tanah

· Tekstur : lempung

· Drainase : baik

· Kedalaman air tanah : 50 cm – 200 cm dari permukaan tanah

· Kedalaman perakaran : di atas 15 cm dari permukaan tanah · Kemasaman (pH) : 5,5 – 6,8

· Kesuburan : tinggi

(Anonymous,2010)

1.5  Fase Pertumbuhan

  1. Jagung

Secara umum jagung mempunyai pola pertumbuhan yang sama, namun interval waktu antar tahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda. Pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu (1) fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai dengan pembengkakan biji sampai dengan sebelum munculnya daun pertama; (2) fase pertumbuhan vegetatif, yaitu fase mulai munculnya daun pertama  yang terbuka sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnyabunga betina (silking), fase ini diidentifiksi dengan jumlah daun yang terbentuk; dan (3) fase reproduktif, yaitu fase  pertumbuhan setelah silking sampai masak fisiologis.

Proses perkecambahan benih jagung, mula-mula benih menyerap air melalui proses imbibisi dan benih membengkak yang diikuti oleh kenaikan aktivitas enzim dan respirasi yang tinggi. Perubahan awal sebagian besar adalah katabolisme pati, lemak, dan protein yang tersimpan dihidrolisis menjadi zat-zat yang mobil, gula, asam-asam lemak, dan asam amino yang dapat diangkut ke bagian embrio yang tumbuh aktif. Pada awal perkecambahan, koleoriza memanjang menembus pericarp, kemudian radikel menembus koleoriza. Setelah radikel  muncul, kemudian empat akar seminal lateral juga muncul. Pada waktu yang sama atau sesaat kemudian plumule tertutupi oleh koleoptil. Koleoptil terdorong ke atas oleh pemanjangan mesokotil, yang mendorong koleoptil ke permukaan tanah. Mesokotil berperan penting dalam pemunculan kecambah ke atas tanah. Ketika ujung koleoptil muncul ke luar permukaan tanah, pemanjangan mesokotil terhenti dan plumul muncul dari koleoptil dan menembus permukaan tanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Benih jagung umumnya ditanam pada kedalaman 5-8 cm. Bila kelembaban tepat, pemunculan kecambah seragam dalam 4-5 hari setelah tanam. Semakin dalam lubang tanam semakin lama pemunculan kecambah ke atas permukaan tanah. Pada kondisi lingkungan yang lembab, tahap pemunculan berlangsung 4-5 hari setelah tanam, namun pada kondisi yang dingin atau kering, pemunculan tanaman dapat berlangsung hingga dua minggu setelah tanam atau lebih.

Keseragaman perkecambahan sangat penting untuk mendapatkan hasil yang tinggi. Perkecambahan tidak seragam jika daya tumbuh benih rendah. Tanaman yang terlambat tumbuh akan ternaungi dan gulma lebih bersaing dengan tanaman, akibatnya tanaman yang terlambat tumbuh tidak normal dan tongkolnya relatif lebih kecil dibanding tanaman yang tumbuh lebih awal dan seragam.

Setelah perkecambahan, pertumbuhan jagung melewati beberapa fase berikut:

a)      Fase V3-V5 (jumlah daun yang terbuka sempurna 3-5)

Fase ini berlangsung pada saat tanaman berumur antara 10-18 hari setelah berkecambah. Pada fase ini akar seminal sudah mulai berhenti tumbuh, akar nodul sudah mulai aktif, dan titik tumbuh di bawah permukaan tanah. Suhu tanah sangat mempengaruhi titik tumbuh. Suhu rendah akan memperlambat keluar daun, meningkatkan jumlah daun, dan menunda terbentuknya bunga jantan

b)      Fase V6-V10 (jumlah daun terbuka sempurna 6-10)

Fase ini berlangsung pada saat tanaman berumur antara 18 -35 hari setelah berkecambah. Titik tumbuh sudah di atas permukaan tanah, perkembangan akar dan penyebarannya di tanah sangat cepat, dan pemanjangan batang meningkat dengan cepat. Pada fase ini bakal bunga jantan (tassel) dan perkembangan tongkol dimulai (Lee 2007). Tanaman mulai menyerap hara dalam jumlah yang lebih banyak, karena itu pemupukan pada fase ini diperlukan untuk mencukupi kebutuhan hara bagi tanaman

c)      Fase V11- Vn (jumlah daun terbuka sempurna 11 sampai daun terakhir

Fase ini berlangsung pada saat tanaman berumur antara 33-50 hari setelah berkecambah. Tanaman tumbuh dengan cepat dan akumulasi bahan keringmeningkat dengan cepat pula. Kebutuhan hara dan air relatif sangat tinggiuntuk mendukung laju pertumbuhan tanaman. Tanaman sangat sensitive terhadap cekaman kekeringan dan kekurangan hara. Pada fase ini, kekeringan dan kekurangan hara sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan tongkol, dan bahkan akan menurunkan jumlah biji dalam satu tongkol karena mengecilnya tongkol, yang akibatnya menurunkan hasil. Kekeringan pada fase ini juga akan memperlambat munculnya bunga betina (silking)

d)     Fase Tasseling (berbunga jantan)

Fase tasseling biasanya berkisar antara 45-52 hari, ditandai oleh adanya cabang terakhir dari bunga jantan sebelum kemunculan bunga betina (silk/rambut tongkol). Tahap VT dimulai 2-3 hari sebelum rambut tongkol muncul,di mana pada periode ini tinggi tanaman hampir mencapai maksimum dan mulai menyebarkan serbuk sari (pollen). Pada fase ini dihasilkan biomas maksimum dari bagian vegetatif tanaman, yaitu sekitar 50% dari total bobot kering tanaman, penyerapan N, P, dan K oleh tanaman masing-masing 60-70%, 50%, dan 80-90%.

e)      Fase R1 (silking)

Tahap silking diawali oleh munculnya rambut dari dalam tongkol yang terbungkus kelobot, biasanya mulai 2-3 hari setelah tasseling. Penyerbukan (polinasi) terjadi ketika serbuk sari yang dilepas oleh bunga jantan jatuh menyentuh permukaan rambut tongkol yang masih segar. Serbuk saritersebut membutuhkan waktu sekitar 24 jam untuk mencapai sel telur (ovule), di mana pembuahan (fertilization) akan berlangsung membentuk bakal biji. Rambut tongkol muncul dan siap diserbuki selama 2-3 hari. Rambut tongkol tumbuh memanjang 2,5-3,8 cm/hari dan akan terus memanjang hingga diserbuki. Bakal biji hasil pembuahan tumbuh dalam suatu struktur tongkol dengan dilindungi oleh tiga bagian penting biji, yaitu glume, lemma, dan palea, serta memiliki warna putih pada bagian luar biji. Bagian dalam biji berwarna bening dan mengandung sangat sedikit cairan.Pada tahap ini, apabila biji dibelah dengan menggunakan silet, belum terlihat struktur embrio di dalamnya. Serapan N dan P sangat cepat, dan K hamper komplit

f)       Fase R2 (blister)

Fase R2 muncul sekitar 10-14 hari seletelah silking, rambut tongkol sudah kering dan berwarna gelap. Ukuran tongkol, kelobot, dan janggel hamper sempurna, biji sudah mulai nampak dan berwarna putih melepuh, pati mulai diakumulasi ke endosperm, kadar air biji sekitar 85%, dan akan menurun terus sampai panen.

g)      Fase R3 (masak susu)

Fase ini terbentuk 18 -22 hari setelah silking. Pengisian biji semula dalam bentuk cairan bening, berubah seperti susu. Akumulasi pati pada setiap biji sangat cepat, warna biji sudah mulai terlihat (bergantung pada warna biji setiap varietas), dan bagian sel pada endosperm sudah terbentuk lengkap. Kekeringan pada fase R1-R3 menurunkan ukuran dan jumlah biji yang terbentuk. Kadar air biji dapat mencapai 80%.

h)      Fase R4 (dough)

Fase R4 mulai terjadi 24-28 hari setelah silking. Bagian dalam biji seperti pasta (belum mengeras). Separuh dari akumulasi bahan kering biji sudah terbentuk, dan kadar air biji menurun menjadi sekitar 70%. Cekaman kekeringan pada fase ini berpengaruh terhadap bobot biji.

i)        Fase R5 (pengerasan biji)

Fase R5 akan terbentuk 35-42 hari setelah silking. Seluruh biji sudah terbentuk sempurna, embrio sudah masak, dan akumulasi bahan kering biji akan segera terhenti. Kadar air biji 55%.

j)        Fase R6 (masak fisiologis)

Tanaman jagung memasuki tahap masak fisiologis 55-65 hari setelah silking.Pada tahap ini, biji-biji pada tongkol telah mencapai bobot kering maksimum. Lapisan pati yang keras pada biji telah berkembang dengan sempurna dan telah terbentuk pula lapisan absisi berwarna coklat atau kehitaman. Pembentukan lapisan hitam (black layer) berlangsung secara bertahap, dimulai dari biji pada bagian pangkal tongkol menuju ke bagian ujung tongkol. Pada varietas hibrida, tanaman yang mempunyai sifat tetap hijau (stay-green) yang tinggi, kelobot dan daun bagian atas masih berwarna hijau meskipun telah memasuki tahap masak fisiologis. Pada tahap ini kadar air biji berkisar 30-35% dengan total bobot kering dan penyerapan NPK oleh tanaman mencapai masing-masing 100%.

 

 

 

 

 

 

(Argo Nuning, 2000)

 

  1. Timun

(1)   Fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai dengan pembengkakan biji sampai dengan sebelum munculnya daun pertama.

(2)   Fase pertumbuhan vegetative, yaitu fase mulai munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnya bunga betina, fase ini di identifikasi dengan jumlah daun yang terbentuk

(3)   Fase reproduksi, yaitu pertumbuhan setelah silking sampai fisiologis.

(anonymous.2010)

Sawi

Fase reproduktif atau generatif terjadi pada pembentukan dan perkembangan kuncup bunga, buah dan biji atau pada pembesaran dan pendewasaan struktur penyimpan makanan.

Fase ini berhubungan dengan proses:

(l) Pembelahan sel relatif ;

(2) Pendewasaan jaringan;

(3) Penebalan serabut ;

(4) Pembentukan hormon untuk perkembangan kuncup bunga ;

(5) Perkembangan kuncup bunga, buah dan biji serta alat penyimpan ;

(6) Pembentukan koloid hidrofilik.

(Anonymous,2010)

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 Perhitungan Heat Unit

a. Tabel Suhu Max-Min Timun Fase Perkembangan

TANGGAL T MAX T MIN RATA-RATA HU

07-Jun-10

31,6

18

24,8

12,8

08-Jun-10

31,4

20

25,7

13,7

09-Jun-10

31,6

16

23,8

11,8

10-Jun-10

31,2

16,5

23,85

11,85

11-Jun-10

30,8

17

23,9

11,9

12-Jun-10

30,5

17

23,75

11,75

13-Jun-10

30,9

19,5

25,2

13,2

14-Jun-10

31,9

17,1

24,5

12,5

15-Jun-10

31,2

15

23,1

11,1

16-Jun-10

30,8

15,2

23

11

17-Jun-10

31,1

19

25,05

13,05

18-Jun-10

30,4

16,5

23,45

11,45

19-Jun-10

31,1

16,4

23,75

11,75

20-Jun-10

35,5

19

27,25

15,25

21-Jun-10

35,5

20

27,75

15,75

22-Jun-10

30,5

16,5

23,5

11,5

23-Jun-10

29,5

16

22,75

10,75

24-Jun-10

30

18,5

24,25

12,25

25-Jun-10

29,5

19

24,25

12,25

26-Jun-10

30

18,7

24,35

12,35

27-Jun-10

29,5

18,2

23,85

11,85

28-Jun-10

30

15,2

22,6

10,6

29-Jun-10

29

14,8

21,9

9,9

30-Jun-10

30,5

15,7

23,1

11,1

01-Jul-10

30

17

23,5

11,5

02-Jul-10

30,5

16,5

23,5

11,5

03-Jul-10

31

17

24

12

04-Jul-10

29

16,5

22,75

10,75

05-Jul-10

30

17,2

23,6

11,6

06-Jul-10

31

17,4

24,2

12,2

360,95

 

 

b. Tabel Suhu Max-Min Sawi Fase tengah

TANGGAL T MAX T MIN RATA-RATA HU

18-Mei-10

31,5

18

24,75

14,75

19-Mei-10

33

18

25,5

15,5

20-Mei-10

31,5

17

24,25

14,25

21-Mei-10

31

15

23

13

22-Mei-10

31,5

15

23,25

13,25

23-Mei-10

30,5

16

23,25

13,25

24-Mei-10

30,5

17

23,75

13,75

25-Mei-10

32

15

23,5

13,5

26-Mei-10

30,5

18

24,25

14,25

27-Mei-10

31,5

17

24,25

14,25

28-Mei-10

30,5

16,5

23,5

13,5

29-Mei-10

31,5

20

25,75

15,75

30-Mei-10

32

19,5

25,75

15,75

31-Mei-10

30,8

18,8

24,8

14,8

01-Jun-10

31,4

19

25,2

15,2

02-Jun-10

31,7

19,2

25,45

15,45

03-Jun-10

31,6

19,5

25,55

15,55

04-Jun-10

31,7

18,9

25,3

15,3

05-Jun-10

30,8

18

24,4

14,4

06-Jun-10

30,6

17,6

24,1

14,1

289,55

 

2.2 Pembahasan Heat Unit dan Fase Pertumbuhan

a. Komoditas jagung manis pada fase perkembangan

Dari hasil perhitungan di atas diketahui bahwa Heat Unit komoditas Mentimun pada tanggal 4 Juni pada suhu maksimum sebesar 31,50 C dan suhu minimum sebesar 21.00C serta suhu kritis sebesar 70C diperoleh Heat Unit sebesar 481,5  unit.

Hal ini sesuai dengan syarat tumbuh tanaman mentimun, yaitu mentimun dapat  tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi (Anonymous,2010).

 

b. Komoditas Sawi pada fase awal

Dari hasil perhitungan di atas diketahui bahwa komoditas sawi pada tanggal 11 Mei dengan suhu maksimum 31,50C dan suhu minimum sebesar 19 0C serta suhu kritis sebesar 100C diperoleh Heat Unit sebesar 915 unit.

Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bila di tanam pada akhir musim penghujan. (anonymous.2010)

 

 BAB III

KESIMPULAN

 

  1. Heat unit menggambarkan panas yang dibutuhkan oleh tanaman agar tanaman tersebut dapat tumbuh.
  2. Suhu kritis adalah suhu tertinggi dimana gas masih dapat dimampatkan menjadi cair.
  3. Jadi pada fase perkembangan tanaman jagung manis heat unit sebesar 481,5 unit, sedangkan untuk fase awal tanaman sawi heat unit sebesar 915 unit.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous.2010.http://fanwar.staff.uns.ac.id/2010/04/23/sejarah-dan-pengertian-superkonduktor/ diunduh tanggal 6 Juni 2010

 

Anonymous.2010.http://harizamrry.wordpress.com/2007/11/27/tanaman-jagung-manis-sweet-corn/ diunduh tanggal 6 Juni 2010

 

Anonymous.2010.http://zuldesains.wordpress.com/2008/01/11/budidaya-tanaman-sawi/ diunduh tanggal 6 Juni 2010

 

Anonymous.2010.http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?mnu=2&id=23 diunduh tanggal 6 Juni 2010

 

Anonymous.2010.http://www.free.vlsm.org/v12/artikel/ttg_tanaman_obat/depkes/buku2/2-048.pdf diunduh tanggal 6 Juni 2010

 

Brown, DM; Bootsma, A. 1993. Crop heat units for corn and other warm-season crops in Ontario. Tanaman panas unit untuk jagung dan tanaman hangat-musim lainnya di Ontario. Ontario Ministry of Agriculture and Food Factsheet No. 93-119, Agdex 111/31, 4pp. Ontario Departemen Pertanian dan Pangan 93-119 Factsheet, No Agdex 111/31, 4pp.

 

Warisno.1998.Jagung Hibrida.Yogyakarta:Kanisius

 

Categories: kumpulan tugas Tags: