MAKALAH PEMULIAAN TANAMAN

2.1. Pengumpulan Materi Genetik

Untuk tetua yang akan dipakai dalam hibridasi adalah Varietas Way Seputih (tahan rebah) dan  varietas IR70213-10-CPA-2-3-2-1 (tahan rendaman). Materi genetic diperoleh dengan koleksi, karena varietas yang dibutuhkan sebagai tetua sudah ada di Indonesia, tidak perlu melakukan introduksi.

Sifat pada Varietas Way Seputih yang paling diperhatikan adalah sifat kerebahannya yang tahan, karena sifat itu yang akan diseleksi dan dipertahankan nantinya. Untuk tetua yang lain, dipilih varietas IR70213-10-CPA-2-3-2-1. Pemilihan varietas IR70213-10-CPA-2-3-2-1 ini didasarkan pada penelitian Izhar Kahairullah dalam artikelnya yang berjudul “Padi Tahan Rendaman Solusi Gagal Panen Saat Kebanjiran”. Di dalamnya menjelaskan penelitiannya tentang seleksi beberapa varietas padi tahan rendaman dan berkesimpulan bahwa dari beberapa varietas padi yang telah diseleksi secara seleksi massa, padi varietas  IR70213-10-CPA-2-3-2-1 yang paling tahan terhadap cekaman rendaman.

 

BAB III

METODE SELEKSI

3.1 Hibridisasi

Metode pemuliaan yang dirancang adalah dengan melakukan hibridisasi yang nantinya dilanjutkan dengan metode seleksi yang akan dibahas selanjutnya. Hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya. Hibridisasi dilakukan untuk mendapatkan sifat yang diharapkan dari 2 sifat tetua. Langkah teknik hibridisasi setelah pemilihan tetua adalah sebagai berikut:

  1. Emaskulasi

Emaskulasi  adalah  kegiatan  membuang  alat  kelamin  jantan  (stamen)  pada tetua betina, dengan tujuan agar tidak terjadi penyerbukan sendiri. Emaskulasi terutama dilakukan  pada  tanaman  berumah  satu  yang  hermaprodit  dan  fertil. Cara  emaskulasi tergantung pada morfologi bunganya. Cara mekanis adalah cara yang rencananya akan saya terapkan, yaitu dengan menggunting miring 1/3 bagian dari bulir padi tersebut agar mempermudah emaskulasi menggunakan vacum (penghisap polen benang sari =emaskulator) atau emaskulasi bisa menggunakan cara manual memakai pinset. Pengambilan kepala sari dilakukan sebelum kotak sari terbuka dan serbuk sari luruh. Setelah itu bunga yang telah diemaskulasi disungkup agar tidak diserbuki secara alami.

 

  1. Penyerbukan Dan Pembungkusan Bunga (Bagging)

Bunga betina yang sudah diemaskulasi dibuka tutupnya kemudian bunga jantan diletakkan di atasnya. Bunga dari induk jantan digoyang-goyang hingga tepung sari jatuh dan menempel pada kepala putik. Bak plastik tempat menyimpan bunga disusun sedemikian rupa sehingga mudah dalam pengambilan bunga saat penyerbukan. Penyerbukan dapat dilakukan pada pukul 10.00-13.00 (Supartoto, 2002).

  1. Pelabelan

Malai dipasang label yang mencantumkan tanggal silang, nama tetua, jumlah malai yang disilangkan, dan dapat juga dicantumkan nama yang menyilangkan(Supartoto, 2002).

 

 

 

3.2. Seleksi

Setelah tanaman hasil penyerbukan dipelihara di rumah kaca sampai biji hasil persilangan masak. Hasil persilangan setelah 3-4 minggu, malai dipanen kemudian dikeringkan dengan cara dijemur atau dioven lalu biji yang sudah kering dirontok kemudian simpan untuk ditanam (F1). Rancangan metode pemuliaan yang digunakan adalah metode bulk. Pada seleksi bulk, tanaman dengan kombinasi karakter yang dikehendaki biasanya diseleksi pada generasi F5 dan F6. Dari generasi F1 s/d F4 benih ditanam secara massa (bulk), dan dibiarkan adanya seleksi alami.

Seleksi dimulai pada F5, menurut Kahairullah (2006), untuk menyeleksi sifat tanaman yang tahan rendaman semua tanaman direndam air keruh dengan ketinggian 120 cm pada fase bibit (di F5) (satu minggu setelah tanam ) tanaman padi paling peka terhadap rendaman selama 18  hari. Galur atau varietas yang tahan akan rendaman tetap hidup tetapi yang peka akan mati.

Sedangkan Penilaian ketahanan terhadap rebah, IRRI (International Risk Research Institute International) telah merekomendasikan kriteria suatu varietas dikatakan tahan dengan memberikan indeks angka dari 0-9. Nilai nol berarti sangat tahan rebah dan nilai 9 adalah sangat rentan terhadap rebah. Nilai indeks diatas sangat dipengaruhi oleh umur varietas. Pada varietas-varietas umur pendek cenderung lebih mudah rebah dari pada varietas-varietas umur panjang,

Untuk mempermudah menyeleksi tanaman yang tahan rebah dengan yang tidak, dilakukan Pengukuran ketahanan pelengkungan, dengan melengkungkan batang setengah jalan, kemudian melepaskannya, dan diukur kecepatan lurus kembali. Selain itu juga dilakuan pengukuran kuat batang. Kuat batang diatas  0,100 kg, semuanya menunjukkan nilai indeks kerebahan = 1 (tahan rebah). Varietas-varietas yang tingginya dibawah 90 cm, juga menampilkan nilai indeks kerebahan = 1 (tahan rebah). Tebal kulit batang dan berat kering 5 cm potongan batang  dapat dipakai sebagai kriteria seleksi untuk ketahanan rebah.

Setelah melakukan seleksi yang didasari ketahanan pada rendaman dan tahan rebah, pada F8 kemungkinan besar semua tanaman hampir seragam dengan membawa sifat tahan rebah dan tahan rendaman yang tinggi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous a. 2012.  http://www.puslittan.bogor.net/index.php?bawaan=varietas/ varietas_detail&komoditas=05021&id=Way%20Seputih&pg=11&varietas=1 diakses 23 maret 2012

Anonymous b. 2012.  http://blog.ub.ac.id/labib/sample-page/ diakses 23 maret 2012

Anonymous c. 2012. http://ondlo-ningratan.blogspot.com/2012/03/teknik-hibridisasi-tanama n-padi.html

Khairullah, Izhar. 2006. Padi Tahan Rendaman Solusi Gagal Panen Saat Kebanjiran. Jakarta: Sinar Tani