Anak Sebagai Tulang Punggung Keluarga

Keluarga sebagaimana dikonsepkan oleh Hill (Zeitlin 1995; Puspitawati 2012) merupakan kelompok yang memiliki hubungan kekerabatan, kesamaan tempat tinggal, serta emosional yang menunjukan adanya intimitas antar individu dalam kelompok tersebut. Intimitas dalam keluarga tersebut kemudian ditunjukkan dari adanya proses interpendensi intim, pemeliharaan batas-batas tertentu, kemampuan beradaptasi, pemeliharaan identitas, dan pelaksanaan tugas-tugas dalam sebuah keluarga (Puspitawati 2012). Sehubungan dalam hal tersebut, tiap-tiap individu dalam kelompok yang mana membentuk sebuah keluarga harus memiliki nilai-nilai kolektif sebagai bentuk dari adanya kontrol sosial terhadap kelompok yang membentuk keluarga tersebut.

Burgest dan Locke (1960; Puspitawati 2012) menyebutkan bahwa terdapat empat ciri-ciri keluarga (1) yakni terdiri dari keterikatan individu-individu melalui institusi perkawinan, hubungan darah, atau bahkan adopsi. (2) Adanya ikatan dalam hal hidup bersama yang membentuk rumah tangga. (3) Merupakan kesatuan dari interaksi antar individu yang membentuk peran-peran sosial bagi suami, istri, anak dan saudara baik laki-laki maupun perempuan. Peran tersebut nantinya diperkuat oleh tradisi atau bahkan membangun tradisi dari adanya pengalaman kolektif. (4) Keluarga menjadi pemelihara kebudayaan yang bersumber dari kebudayaan umum.

Akan tetapi,  bagaimana jika seorang anak yang mana perannya dalam keluarga seolah-olah diatur untuk mencari nafkah demi penghidupan sehari-hari? Hal tersebut sebagaimana yang dialami oleh siswa Sekolah Menengah Pertama di Makassar. Dilansir melalui news.detik.com (08/08/2018) bahwa kepolisian Makassar telah menangkah seorang siswa SMP yang menjadi kurir dalam pengiriman narkoba. Selain itu, menurut informasi yang diperoleh disebutkan bahwa kedua orang tua dari siswa SMP tersebut masih ditahan di Rutan Kelas 1 Makassar dikarenakan kasus narkoba.

Menanggapi kasus ini, Dahrendorf (dalam Zuldin 2019) menyebutkan bahwa hal tersebut dikarenakan adanya perjuangan kelas dalam masyarakat modern yang mana faktor terjadinya tindakan siswa SMP tersebut menjadi kurir narkoba yakni faktor ekonomi. Meskipun demikian, lebih lanjut dijelaskan bahwan hal tersebut berkaitan dengan kekuasaan dan wewenang yang ada dalam keluarga tersebut (Zuldin 2019). Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya perbedaan posisi, kekuasaan, dan wewenang (Zuldin 2019) yang cenderung didominasi oleh orang tua dari siswa SMP tersebut, yang mana orang tuanya juga terlibat didalam sindikat narkoba. Sehingga dengan demikian, adanya kekuasaan dan otoritas yang ada pada keluarga siswa SMP tersebut mempengaruhi bagaimana peran-peran tiap anggota keluarga tersebut untuk mempertahan status quo-nya demi kepentingan ekonomi (Zuldin 2019).

Kasus yang dialami oleh siswa SMP di Makassar tersebut bukanlah hal yang kali pertama terjadi. Dilansir melalui kpai.go.id (06/03/2018) bahwa sepanjang tahun 2017 terdapat 22 kasus anak yang dijadikan kurir narkoba. Sehingga dengan demikian dapat diketahui bahwa masalah pemberian peran anak sebagai pencari nafkah dengan dijadikan kurir narkoba merupakan permasalahan yang terus terjadi dan masih belum mendapat penyelesaian hingga saat ini.

Melalui analogi pilar, kasus mengenai anak yang dijadikan kurir narkoba akan diketahui elemen-elemen atau kekuatan apasaja yang menahan permasalahan tersebut sehingga menjadi masalah yang langgeng atau tetap bertahan hingga saat ini (Kismantoroadji dan  Murdiyanto). Menurut penulis, elemen-elemen yang menahan tersebut diantaranya adalah :

  1. Lemahnya perlakuan hukum terhadap pengedar ataupun pemasok, termasuk anak-anak di dalamnya
  2. Kurangnya pendidikan rumah tangga, sehingga terjadi kemungkinan pemberian peran anak untuk mencari nafkah
  3. Mudahnya peredaran narkoba masuk ke dalam negara

Penulis berdasarkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa diperlukan revisi terhadap sistem peradilan pidana yang ada di negara saat ini, yang mana diperlukan pengawasan lebih tegas terhadap pengedar maupun pemasuk sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya pemanfaatan anak sebagai kurir maupun pemasok narkoba itu sendiri. Selain itu, pendidikan pranikah juga menjadi hal yang penting untuk menjamin adanya pemberian peran yang baik terhadap anak maupun peran-peran lain yang ada di dalam sebuah keluarga. Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan oleh Harris dan Liebert (1992; Puspitawati 2012) bahwa terdapat keterkaitan antara keluarga dan lingkungan dalam melihat sebuah fenomena dalam keluarga seperti peran ganda, perceraian, dan pengasuhan. Sehingga pemberian pendidikan pranikah yang mana dapat membangun serta menggerakkan dinamika perubahan kebudayaan juga akan memengaruhi lingkungan sosial yang nantinya akan terbangun kualitas generasi bangsa yang baik.

Melalui Peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Nomor DJ.II/542 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyelenggaraan Kursus Pra Nikah, akan disusun mengenai regulasi yang berkaitan dengan pendidikan pranikah untuk menciptakan kesiapan dan kematangan bagi individu-individu yang nantinya akan berkeluarga. Karena kesiapan dan kematangan tersebut nantinya akan menentukan kualitas keluarga yang mana untuk mencegah adanya konflik dalam keluarga serta memahami substansi dari keluarga dan rumah tangga (Dirjen-BMI 2013).

 

Daftar Pustaka

Peraturan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Nomor DJ.II/542 Tahun 2013. Pedoman Penyelenggaraan Kursus Pra Nikah.

Puspitawati, Herien. 2012. Gender dan Keluarga : Konsep dan Realita di Indonesia. Bogor : PT IPB Press.

Zuldin, Muhammad. 2019. “Ketimpangan Sebagai Penyebab Konflik: Kajian Atas Teori Sosial Kontemporer.” Jurnal Pembangunan Sosial Vol. 2(1):157-183.

Murdiyanto, Eko dan Kismantoroadji, Teguh. “Dinamika Perubahan & Resolusi Konflik”. (Power Point) (Diperoleh dari http://blog.upnyk.ac.id/asset/web/pdf/c4ca4238a0b923820dcc509a6f75849b061012.pdf).

Munsir, Ibnu. 2018. “Siswa SMP Jadi Kurir Narkoba, Bapak-Ibunya Sedang Huni Penjara.” (Online) (Diperoleh dari http://www.kpai.go.id/berita/kpai-catat-anak-dimanfaatkan-jadi-kurir-narkoba).

Setyawan, Davit. 2018. “KPAI Catat Anak Dimanfaatkan Jadi Kurir Narkoba.” (Online) (Diperoleh dari https://news.detik.com/berita/d-4155822/siswa-smp-jadi-kurir-narkoba-bapak-ibunya-sedang-huni-penjara).

 

*Diposting guna tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Konflik dan Rekonsiliasi
Alif Rafid Alfaridzi (175120100111032)