Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Masjid Nabawi sepanjang 14 abad

posted by HHanir Hapes
Jun 21

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Sahih Muslim, Rasululloh SAW, bersabda :

“Tidak diupayakan dengan bersusah payah untuk bepergian jauh, kecuali ke ketiga masjid; ke masjidku, masjid Al Haram dan ke masjid Al Aqsha.”

 

“(Menunaikan) sholat di masjidku adalah lebih baik daripada (menunaikan) seribu kali sholat di masjid-masjid lainnya, kecuali di Masjid Al Haram.”

 

Tanah Masjid Nabawi semula adalah sebuah lahan milik dua anak yatim, Suhail dan Sahal. Lahan itu kemudian dijual kepada Rasululloh SAW untuk membangun masjid.

Rasululloh SAW membangun masjidnya yang mulia dua kali, yaitu pada tahun 1 H dan 7 H.

Pondasinya dibuat dari batu dan dindingnya dari batu bata. Atapnya dibuat dari pelepah dan daun korma. Rasululloh SAW ikut serta membangun masjid tersebut bersama para sahabat. Beliau mengangkut batu-batu dan batu bata bersama mereka.

 

Buku-buku sejarah Madinah Munawwarah mengutip riwayat yang menunjukkan bahwa setiap yang ditambahkan ke Masjid Nabawi adalah termasuk masjid Nabi SAW.

Ibnu Syabh dan Yahya Ad Dilami meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasululloh SAW bersabda;

“Seandainya masjid ini diperluas hingga ke San’a (Yaman), maka ia tetap sebagai masjidku.”

 

MIHRAB NABAWI

 

Tidak ada mihrab di Masjid Nabawi pada masa Rasululloh SAW dan masa Khulafaur Rasyidin.

Mihrab yang ada sekarang dibangun oleh Al Asyraf Qaitabi. Tempat Rasululloh SAW menunaikan sholat bersama para sahabat sebagai imam kearah Ka’bah terletak di ujung barat dari lengkungan mihrab itu.

 

PILAR-PILAR DI DALAM MASJID NABAWI

 

  1. Tiang Al Mukhallaqah, tiang yang menjadi tanda sholat Nabi SAW.
  2. Tiang As Sayyidah A’isyah, tiang ketiga dari arah mimbar Nabi dan ketiga dari arah kubur Nabi serta ketiga dari arah kiblat (selatan). Dikenal juga dengan tiang Muhajirin, karena para muhajirin biasa berkumpul di dekat tiang ini.
  3. Tiang At Taubah, dikenal juga tiang Abu Lababah. Abu Lababah bin Munjir Al Anshari pernah mengikatkan diri di tiang ini selama beberapa belas malam setelah di khianati oleh orang Yahudi Bani Quraidhah.
  4. Tiang tempat penjagaan, dinamai juga tiang Ali Bin Abi Thalib, karena beliau sering menunaikan sholat ditempat itu.
  5. Tiang tempat tidur, tiang yang menempel ke pagar. Nabi SAW pernah punya tempat tidur dari pelepad dan daun korma yang diletakkan dekat tiang ini.
  6. Tiang para utusan. Rasululloh SAW sering duduk disitu menerima para delegasi Arab. Dikenal juga tiang MAjlis Al Qiladah.
  7. Tiang segi empat kubur Nabi SAW, dinamai juga Maqam Jibril.
  8. Tiang Tahajjud, letaknya di belakang rumah AsSayyidah Fatimah ra. Rasululloh SAW menunaikan sholat tahajjud disitu, setelah orang-orang pulang.

 

 

 

AR-RAUDHAH YANG DISUCIKAN ALLOH SWT

 

“Tempat yang ada diantara rumahku dan mimbarku adalah suatu taman dari taman-taman syurga.”

Demikian bunyi sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan di dalam dua kitab hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Dalam kitab Shahih Bukhari ada tambahannya,

“dan mimbarku itu ada dikolamku (di akhirat nanti).”

 

PERLUASAN MASJID NABAWI

 

Setelah Masjid Nabawi diperluas oleh Rasululloh SAW, maka masjid Nabawi juga pernah diperluas oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Kemudian oleh Al Walid bin Abdul Malik, lalu oleh Al Mahdi Al ‘abbasi, setelah itu oleh Asyraf Qaitabi, sesudah itu oleh Sultan Abdul Majid Al Utsmani, dan akhirnya oleh Raja Abdul Aziz Ali Su’ud. Disamping perluasan itu, mereka juga melakukan pemugaran dan perbaikan.


Korupsi Kecil

posted by HHanir Hapes
Mar 8

Suatu hari di sebuah hypermarket. Musim kelengkeng telah tiba. Karena saya sangat suka buah kelengkeng (tepatnya, saya suka semua buah-buahan yang sedang musim dan murah), saya pun bergegas menuju counter buah. Karton yang digantung bertuliskan “Kelengkeng Bangkok Rp 890/ons” itu nyaris tak terlihat karena dipenuhi kerumunan orang. Apalagi keranjang kelengkengnya.

Berhubung tubuh saya cukup mungil, saya masih dapat menyelinap di antara kerumunan. Dan olala, di sekeliling saya, beberapa bapak keren, ibu-ibu trendy dan gadis cantik dengan tenang dan cuek mengupasi biji-biji kelengkeng itu dan memakannya di tempat, seakan buah bulat kecil itu adalah makanan yang disediakan untuk mereka, tanpa peduli pada papan bertuliskan besar-besar “MOHON UNTUK TIDAK MENCICIPI” yang ditancapkan di antara keranjang.

Kulit kelengkeng bertebaran di antara buah yang ada, makin lama makin banyak, dan papan itu pun berdiri sendiri. Sepi. Seorang petugas terpaksa bersabar menunggu agak sepi untuk membersihkan sampah ranting dan kulit kelengkeng tanpa berani menegur tindakan ‘para pembeli yang terhormat itu’.

***

Ya, inilah Indonesia. Selalu itu komentar saya bila ada kebiasaan ‘aneh’ orang Indonesia. Menyeberang jalan dengan memotong pagar pembatas sudah biasa, padahal di atasnya ada jembatan penyebarangan yang cukup lega dan nyaman dengan kanopinya walau, yaa, capek sedikit karena harus naik turun tangga. Buang sampah sembarangan juga sudah biasa, karena di kereta, halte dan tempat-tempat umum lain tak ada tempat sampah. Termasuk soal ‘mencicipi’ makanan di tempat orang berjualan.

Hal kecil itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa, sangat biasa malah. Saking biasa dan wajarnya hingga yang melakukannya pun bukan cuma orang miskin yang memanfaatkan kesempatan untuk dapat makan gratis. Bahkan kebanyakan mereka adalah dari kalangan yang sebenarnya sangat tidak berkekurangan. Tengok pula, berapa banyak ibu-ibu atau nyonya-nyonya belanja sayur di pasar atau pun di tukang sayur yang sering mencicipi berbiji-biji dan minta tambahan tanpa keridhoan si penjual.

Jadi?
Sesungguhnya ini adalah masalah paradigma, cara pandang, yang kemudian membudaya. Cara pandang yang menganggap kata korupsi hanya perlu dilabelkan pada hal-hal besar, entah urusannya yang besar atau pun nilainya yang besar. Namun kalau sekedar mencicip makanan, mengurangi ongkos bis atau minta tambah ke penjual adalah hal biasa saja. Demikian apa yang dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Padahal, lupakah kita bahwa Allah melarang kita memakan dan mengambil sesuatu yang bukan haknya, kecil atau pun besar nilainya? Allah menyebut “Janganlah engkau ambil sesuatu yang bukan hakmu.” Dan itu berlaku untuk semua. Sebiji kelengkeng maupun seratus perak ongkos yang mesti kita bayarkan. Sebutir anggur maupun mengambil duit yang dititipkan nasabah di bank.

Dissebuahssupermarkettlain.
Seorang anak SD merengek takut-takut kepada ibunya untuk makan buah kelengkeng. Sang ibu yang sedang memasukkan buah kelengkeng ke kantong plastiknya di keranjang lain, dengan enteng menjawab, ”Ya udah ambil! Makan aja, gak papa.” Kata si Ibu enteng sambil terus memasukkan buah kelengkeng ke kantong belanjaannya. Sang anak pun meraup segenggam kelengkeng dari keranjangnya dengan sembunyi-sembunyi dan memasukkannya ke kantong rok yang dipakainya. Diambilnya satu butir lagi, langsung kupas dan masuk mulut. Saat matanya bersirobok pandang dengan saya, dia bergegas menghindar sambil melirik takut-takut.

Seorang anak yang polos bisa merasakan, bahwa apa yang dilakukannya bukanlah tindakan yang tidak benar. Namun ajaran yang diterimanya dari ibunya, bisa jadi akan membuatnya menjadi seperti bapak keren, ibu trendy dan gadis cantik yang saya ceritakan di awal paragrap, pada suatu hari nanti saat dia beranjak dewasa. Kecuali kalau kita semua, para orang dewasa, tidak lagi menganggap hal-hal semacam ini sebagai suatu masalah ‘kecil’ dan wajar. Kecuali kalau kita mulai menempatkan sesuatu pada haknya, mulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil yang kita lakukan.


Apakah Pantas Berada Di Syurga

posted by HHanir Hapes
Mar 8

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur’an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah



Jika anda ingin masuk universitas Brawijaya, liat dlu akreditasinya disini,,

silahkan dwonload link x..

Status-Akreditasi-PS-di-UB1


Biaya masuk Universitas Brawijaya

posted by HHanir Hapes
Mar 7

Silahkan Dwonload link dibawah ini

Uang-Kuliah-Tunggal-2013-Jalur-Nasional_2


Sedikit tentang Filsafat Ilmu

posted by HHanir Hapes
Feb 20

Menurut Frans Magnis Suseno dengan mempelajari filsafat akan memperoleh 3 macam kemampuan yaitu

– pengertian yang lebih mendalam tentang manusia dan dunia

– kemampuan menganalisis secara metodis terbuka dan kritis tetang  berargumentasi, pendapat, tuntutan dan legitimasi dari berbagai agama, budaya ideologi dan pandangantentang dunia

-pendasaran tentang metode dan wawasan yang lebih mendalam dan kritis dalam menjalani study dtudy ilmu ilmu khusus termasuk teologi ( ilmu Ketuhanan )

 

 


Feb 18

pendukung hukum ialah manusia sendiri atau yang disebut sebagai subjek hukum. badan hukum ialah suatu organisasi negara, komonitas ataupun yang lain yang memiliki aturan aturan yang harus ditaati sama anggotanya x.
manusia dalam tataran hukum dibagi menjadi 2 macam yaitu yang tidak kena pidana yaitu :

person : dimana manusia ketika melakukan tindak pidana  tapi tidak mendapatkan hukuman yaitu orang gila dan anak yg masih dibawah umur ( < 8 Thn )
boiologis dibagi 2  tahap yaitu

– membela diri ketika diserang oleh orang yang mengancam nyawa kita

– membela keamanan orang lain ketika orng lain memerlukan bantuan atau yang disebut NOODWER EXES

akan tetapi ketika kita main hukum sendiri dan ketika kita menemukan penjahat yang telah merampok kita atw yang lainnya kita tidak boleh main hakim sendiri karena itu melanggar hukum. emang tidak srekk sih tapi kita harus mengikuti aturan dan melaporkannya ke polisi

disamping subjek hukum yang mana adalah manusia itu sndri sebagai subjek hukum ada pun yang lain yang disebut sebagai objek hukum. objek hukum pun adalah keputusan keutusan atau kebijakan kebijakan yang dibuat oleh penegak hukum itu sendiri. dalam objek hukum ada 5 hak yang perlu dibela yaitu

– nyawa : setiap manusia berhak membela nyawanya sendiri

– badan : setiap orang berhak mendapatkan perlindungan hukum tentang perlindungan kekerasan yang dilakukan oleh pelak

– harta : setiap Individu berhak membela haknya sendiri dan mempertahankan harta yang dia miliki

– kehormatan : setiap individu berhak mempertahankan kehormatannya dan itu akan dilindungi oleh hukum

– Kesusilaan : ketika orang lain butuh pertolongan kita wajib untuk menolongnya dan membelanya.

 

 


Link Penerbangan Indonesia

posted by HHanir Hapes
Feb 14

http://www2.lionair.co.id/

http://www.citilink.co.id/

www.garudaindonesia.com

www.airasia.com

www.sriwijayaair.co.id/


Kekayaan Alam Indonesia

posted by HHanir Hapes
Feb 13

tidak bisa dipungkiri lagi kekayaan alam negri kita ini tidak ada yang menandingi. mulai dari hasil tambang, hasil bumi, hasil laut dan hasil lainnya. mengapa ko negara sekaya ini masih dikatakan berkembang sedangkan kekayaan alam kita tidak ada yng menandingi didunia ini.

mungkin ini ada sedikit bahan yang mungkin kalian baca, menagapa kita masih negara miskin didunia

1-1kekayaanalamdanenergiindonesiadankesalahanpengelolaannya-120622194158-phpapp01


Liburan

posted by HHanir Hapes
Feb 13

Kenang kenangan bersama ade ade dirumah saat liburan semester 1
Foto-0545 Foto-0359