Archive for March, 2013

Korupsi Kecil

posted by HHanir Hapes
Mar 8

Suatu hari di sebuah hypermarket. Musim kelengkeng telah tiba. Karena saya sangat suka buah kelengkeng (tepatnya, saya suka semua buah-buahan yang sedang musim dan murah), saya pun bergegas menuju counter buah. Karton yang digantung bertuliskan “Kelengkeng Bangkok Rp 890/ons” itu nyaris tak terlihat karena dipenuhi kerumunan orang. Apalagi keranjang kelengkengnya.

Berhubung tubuh saya cukup mungil, saya masih dapat menyelinap di antara kerumunan. Dan olala, di sekeliling saya, beberapa bapak keren, ibu-ibu trendy dan gadis cantik dengan tenang dan cuek mengupasi biji-biji kelengkeng itu dan memakannya di tempat, seakan buah bulat kecil itu adalah makanan yang disediakan untuk mereka, tanpa peduli pada papan bertuliskan besar-besar “MOHON UNTUK TIDAK MENCICIPI” yang ditancapkan di antara keranjang.

Kulit kelengkeng bertebaran di antara buah yang ada, makin lama makin banyak, dan papan itu pun berdiri sendiri. Sepi. Seorang petugas terpaksa bersabar menunggu agak sepi untuk membersihkan sampah ranting dan kulit kelengkeng tanpa berani menegur tindakan ‘para pembeli yang terhormat itu’.

***

Ya, inilah Indonesia. Selalu itu komentar saya bila ada kebiasaan ‘aneh’ orang Indonesia. Menyeberang jalan dengan memotong pagar pembatas sudah biasa, padahal di atasnya ada jembatan penyebarangan yang cukup lega dan nyaman dengan kanopinya walau, yaa, capek sedikit karena harus naik turun tangga. Buang sampah sembarangan juga sudah biasa, karena di kereta, halte dan tempat-tempat umum lain tak ada tempat sampah. Termasuk soal ‘mencicipi’ makanan di tempat orang berjualan.

Hal kecil itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa, sangat biasa malah. Saking biasa dan wajarnya hingga yang melakukannya pun bukan cuma orang miskin yang memanfaatkan kesempatan untuk dapat makan gratis. Bahkan kebanyakan mereka adalah dari kalangan yang sebenarnya sangat tidak berkekurangan. Tengok pula, berapa banyak ibu-ibu atau nyonya-nyonya belanja sayur di pasar atau pun di tukang sayur yang sering mencicipi berbiji-biji dan minta tambahan tanpa keridhoan si penjual.

Jadi?
Sesungguhnya ini adalah masalah paradigma, cara pandang, yang kemudian membudaya. Cara pandang yang menganggap kata korupsi hanya perlu dilabelkan pada hal-hal besar, entah urusannya yang besar atau pun nilainya yang besar. Namun kalau sekedar mencicip makanan, mengurangi ongkos bis atau minta tambah ke penjual adalah hal biasa saja. Demikian apa yang dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Padahal, lupakah kita bahwa Allah melarang kita memakan dan mengambil sesuatu yang bukan haknya, kecil atau pun besar nilainya? Allah menyebut “Janganlah engkau ambil sesuatu yang bukan hakmu.” Dan itu berlaku untuk semua. Sebiji kelengkeng maupun seratus perak ongkos yang mesti kita bayarkan. Sebutir anggur maupun mengambil duit yang dititipkan nasabah di bank.

Dissebuahssupermarkettlain.
Seorang anak SD merengek takut-takut kepada ibunya untuk makan buah kelengkeng. Sang ibu yang sedang memasukkan buah kelengkeng ke kantong plastiknya di keranjang lain, dengan enteng menjawab, ”Ya udah ambil! Makan aja, gak papa.” Kata si Ibu enteng sambil terus memasukkan buah kelengkeng ke kantong belanjaannya. Sang anak pun meraup segenggam kelengkeng dari keranjangnya dengan sembunyi-sembunyi dan memasukkannya ke kantong rok yang dipakainya. Diambilnya satu butir lagi, langsung kupas dan masuk mulut. Saat matanya bersirobok pandang dengan saya, dia bergegas menghindar sambil melirik takut-takut.

Seorang anak yang polos bisa merasakan, bahwa apa yang dilakukannya bukanlah tindakan yang tidak benar. Namun ajaran yang diterimanya dari ibunya, bisa jadi akan membuatnya menjadi seperti bapak keren, ibu trendy dan gadis cantik yang saya ceritakan di awal paragrap, pada suatu hari nanti saat dia beranjak dewasa. Kecuali kalau kita semua, para orang dewasa, tidak lagi menganggap hal-hal semacam ini sebagai suatu masalah ‘kecil’ dan wajar. Kecuali kalau kita mulai menempatkan sesuatu pada haknya, mulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil yang kita lakukan.


Apakah Pantas Berada Di Syurga

posted by HHanir Hapes
Mar 8

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur’an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah



Jika anda ingin masuk universitas Brawijaya, liat dlu akreditasinya disini,,

silahkan dwonload link x..

Status-Akreditasi-PS-di-UB1


Biaya masuk Universitas Brawijaya

posted by HHanir Hapes
Mar 7

Silahkan Dwonload link dibawah ini

Uang-Kuliah-Tunggal-2013-Jalur-Nasional_2