Tugas Besar PPIC

TUGAS BESAR
PRODUCTION PLANNING AND INVENTORY CONTROL (PPIC)
“PT MUDA KARYA”

 

DOSEN PENGAMPU : Ika Atsari Dewi, STP, MP

⦁ Hananingsih Widya R.                            ⦁ Refa Hero Prakoso
(115100300111045)                                    (115100300111050)

⦁ Devian Festi Khalangi                              ⦁ Riza Nofyanti
(115100300111071)                                    (115100300111010)

⦁ Alynka Prayfadhilla J.R.                           ⦁ Saundra Rosallina L.
(115100300111031)                                       (115100300111043)

KELAS I
JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013

BAB I
PROFIL PERUSAHAAN

 

a.  Deskripsi Perusahaan
Nama Perusahaan : PT. MUDA KARYA
Tanggal Berdiri : 10 November 2010
Lokasi Perusahaan : Jl. Kyai Tamin, Desa Mojosari kota Mojokerto No. 24
Pabrik Muda Karya merupakan perusahaan swasta dibidang industri yang memproduksi produk berupa Binder sekaligus dapat dijadikan sebagai tas.
1.1. Struktur Organisasi
Adalah mekanisme formal dengan nama organisasi dapat menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap terhubung di antara fungsi – fungsi, bagian – bagian atau posisi, maupun orang – orang dalam menunjukkan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda – beda dalam suatu organisasi.

1. General Manager (GM)
⦁ Wewenang
Menetapkan kebijakan strategis perusahaan sebagaimana dituangkan dalam rencana jangka panjang, rencana kerja, anggaran perusahaan, dan rencana operasional lainnya.
⦁ Tugas
a)  Merencanakan, membina, dan mengembangkan efektivitas dan efisiensi organisasi perusahaan sesuai dengan kebutuhanya.
b)  Memelihara dan mengelolah kekayaan perusahaan berdasarkan prinsip, peraturan, dan ketentuan yang berlaku.

2.  Secretary (sekretaris)
⦁ Wewenang
Bertanggung jawab atas penyusunan dan pengaturan agenda kerja general manager.
⦁ Tugas
Mencatat dan menyampaikan data-data perusahaan kepada general manager, baik yang berhubungan dengan administrasi maupun surat-surat penting perusahaan.
3.  Technical Operation Manager (TOM)
⦁ Wewenang
Membimbing dan mengawasi para kepala bagian yang menjadi bawahannya.
⦁ Tugas
a) Bertanggung jawab atas kegiatan produksi secara keseluruhan.
b) Mengatur keseimbangan antara investasi dan produksi.
c) Melaksanakan instruksi general manager.
4.  Human Resources Manager (HRM)
⦁ Wewenang
Bertanggung jawab atas barang-barang (investaris) perusahaan.
⦁ Tugas
a) Bertanggung jawab tentang penyediaan tenaga kerja, pengembangan karir, dan kesejahteraan karyawan.
b) Bertanggung jawab terhadap terlaksananya tertib administrasi yang menyangkut surat-surat atau dokumentasi perusahaan.
5.  Finance Manager (FM)
⦁ Wewenang
Bertanggung jawab dan mengawasi atas penggunaan dana perusahaan.
⦁ Tugas
a) Mengkoordinasi tugas-tugas karyawan.
b) Melaksananya tertib administrasi yang berhubungan dengan system dan prosedur akuntansi.
6.  General Sales Manager (GSM)
⦁ Wewenang
Mengkooardinir serta bertanggung jab atas seluruh kegiatan pemasaran, promosi, pengelolahan pasar (baik ke pengecer maupun ke konsumen) dan warehouse yang ada.
⦁ Tugas
Merumuskan serta menetapkan kebijakan strategis dan opersi bagian pemasaran sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
7.  Information System Manager (ISM)
⦁ Wewenang
Memastikan setiap informasi yang dibutuhkan perusahaan.
⦁ Tugas
Menyediakan informasi kepada semua unit kerja.
8.       Public Relation Manager (PRM)
⦁ Wewenang
Membela produk yang menghadapi masalah public.
⦁ Tugas
a)   Membantu peluncuran produk baru.
b)   Membangun minat terhadap suatu katagori produk.
c)    Mempengaruhi kelompok sasaran tertentu.
1.2 Lokasi Perusahaan
Melalui hasil analisa dan perhitungan location planning didapatkan bahwa perusahaan ini sangat cocok berdiri pada daerah Mojokerto, karena dari hasil analisa daerah ini memiliki BEP yang paling minimal. Letak pastinya di Jl. Kyai Tamin, Desa Mojosari kota Mojokerto No. 24
1.3. Visi dan Misi PT MUDA KARYA
A. Visi
“Menjadi industri Binder tas yang inovatif, kuat dalam persaingan global, dan berwawasan lingkungan dengan senantiasa mengutamakan kepuasan konsumen, dan menjungjung tinggi kepercayaan para pemegang saham serta mitra kerja perusahaan.”
B. Misi
– Mendapatkan keuntungan tetapi tetap mengutamakan kepuasan pelanggan
– Memberikan sumbangan perkembangan ekonomi.
– Sebagai perintis kegiatan usaha.
– Memberikan bimbingan kepada industri kecil dan koperasi.
–Memberikan nilai tambah sebagai wujud pertanggungjawaban kepada pemegang saham.
1.4. Tata Letak (Lay Out) Pabrik
PT. Muda Karya menempati areal tanah sekitar 500 m2yang terbagi atas 2 komplek, yaitu :
a. Kompleks Pabrik
Kompleks pabrik PT. Muda Karya terdiri dari beberapa unit mesin terpadu, yaitu :
1) 2 unit mesin pemotong mika
2) 1 unit mesin pemotong kertas kover
3) 3 unit mesin laminasi
4) 4 unit mesin pembentuk stainless steel (penspiral) 3 unit mesin perekat
b. Kompleks Perkantoran
Kompleks perkantoran digunakan untuk departemen-departemen yang ada di dalam perusahaan.

BAB II
JADWAL INDUK PRODUKSI

2.1 Jadwal induk produksi
Merupakan pernyataan tentang produk akhir (end item/ output) dari suatu perusahaan industri manufaktur yang akan diproduksi berkaitan dengan kuantitas dan periode waktu. Dengan kata lain jadwal induk produksi merupakan ringkasan skedul produksi untuk periode mendatang yang dirancang berdasarkan ramalan permintaan. Tujuan dari pembuatan Jadwal Induk Produksi bagi perusahaan kami adalah agar pembuatan “Bitaz” selesai tepat waktu sesuai dengan yang dijanjikan pada konsumen. Selain itu juga untuk efisiensi terhadap pemanfaatan kapasitas produksi sehingga diharapkan biaya produksi rendah. Dengan mereview kembali jumlah permintaan diharapkan terjadi keseimbangan antara beban kerja dengan kapasitas yang tersedia.
Bagi perusahaan kami manfaat dari jadwal induk produksi ini yaitu dapat memberikan input utama kepada sistem perencanaan kebutuhan material dan kapasitas, selain itu dapat juga dijadikan sebagai landasan untuk menentukan kebutuhan sumberdaya dan kapasitas. Dengan adanya jadwal induk produksi ini diharapkan dapat dijadikan dasar untuk menentukan janji kepada konsumen sehingga harapan konsumen untuk mendapatkan produk dengan tepat waktu dapat terpenuhi.

2.2 Jadwal Induk Produksi

PT. MUDA KARYA

Tabel Data Penjualan Selama 3 tahun

t        Data Penjualan
1        20
2        30
3        45
4       56
5       76
6       65
7       88
8       49
9       87
10     59
11     67
12      89
13      78

14 80

15 98
16 54
17 62
18 69
19 92
20 73
21 48
22 76
23 49
24 64
25 88
26 78
27 95
28 65
29 72
30 47
31 81
32 69

TUGAS BESAR
PRODUCTION PLANNING AND INVENTORY CONTROL (PPIC)
“PT MUDA KARYA”
 DOSEN PENGAMPU : Ika Atsari Dewi, STP, MP
NAMA KELOMPOK 1 :
⦁ Hananingsih Widya R.
(115100300111045)
⦁ Refa Hero Prakoso
(115100300111050)
⦁ Devian Festi Khalangi
 (115100300111071)
⦁ Riza Nofyanti
(115100300111010)
⦁ Alynka Prayfadhilla J.R.
(115100300111031)
⦁ Saundra Rosallina L.
(115100300111043)
KELAS I
JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013
BAB I
PROFIL PERUSAHAAN
⦁ Deskripsi Perusahaan
Nama Perusahaan : PT. MUDA KARYA
Tanggal Berdiri : 10 November 2010
Lokasi Perusahaan : Jl. Kyai Tamin, Desa Mojosari kota Mojokerto No. 24
Pabrik Muda Karya merupakan perusahaan swasta dibidang industri yang memproduksi produk berupa Binder sekaligus dapat dijadikan sebagai tas.
1.1. Struktur Organisasi
Adalah mekanisme formal dengan nama organisasi dapat menunjukkan kerangka dan susunan perwujudan pola tetap terhubung di antara fungsi – fungsi, bagian – bagian atau posisi, maupun orang – orang dalam menunjukkan kedudukan, tugas wewenang dan tanggung jawab yang berbeda – beda dalam suatu organisasi.
Deskripsi Struktur Organisasi
1.  General Manager (GM)
⦁ Wewenang
Menetapkan kebijakan strategis perusahaan sebagaimana dituangkan dalam rencana jangka panjang, rencana kerja, anggaran perusahaan, dan rencana operasional lainnya.
⦁ Tugas
a)  Merencanakan, membina, dan mengembangkan efektivitas dan efisiensi organisasi perusahaan sesuai dengan kebutuhanya.
b)  Memelihara dan mengelolah kekayaan perusahaan berdasarkan prinsip, peraturan, dan ketentuan yang berlaku.
2.  Secretary (sekretaris)
⦁ Wewenang
Bertanggung jawab atas penyusunan dan pengaturan agenda kerja general manager.
⦁ Tugas
Mencatat dan menyampaikan data-data perusahaan kepada general manager, baik yang berhubungan dengan administrasi maupun surat-surat penting perusahaan.
3.  Technical Operation Manager (TOM)
⦁ Wewenang
Membimbing dan mengawasi para kepala bagian yang menjadi bawahannya.
⦁ Tugas
a) Bertanggung jawab atas kegiatan produksi secara keseluruhan.
b) Mengatur keseimbangan antara investasi dan produksi.
c) Melaksanakan instruksi general manager.
4.  Human Resources Manager (HRM)
⦁ Wewenang
Bertanggung jawab atas barang-barang (investaris) perusahaan.
⦁ Tugas
a) Bertanggung jawab tentang penyediaan tenaga kerja, pengembangan karir, dan kesejahteraan karyawan.
b) Bertanggung jawab terhadap terlaksananya tertib administrasi yang menyangkut surat-surat atau dokumentasi perusahaan.
5.  Finance Manager (FM)
⦁ Wewenang
Bertanggung jawab dan mengawasi atas penggunaan dana perusahaan.
⦁ Tugas
a) Mengkoordinasi tugas-tugas karyawan.
b) Melaksananya tertib administrasi yang berhubungan dengan system dan prosedur akuntansi.
6.  General Sales Manager (GSM)
⦁ Wewenang
Mengkooardinir serta bertanggung jab atas seluruh kegiatan pemasaran, promosi, pengelolahan pasar (baik ke pengecer maupun ke konsumen) dan warehouse yang ada.
⦁ Tugas
Merumuskan serta menetapkan kebijakan strategis dan opersi bagian pemasaran sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
 7.  Information System Manager (ISM)
⦁ Wewenang
Memastikan setiap informasi yang dibutuhkan perusahaan.
⦁ Tugas
Menyediakan informasi kepada semua unit kerja.
8.       Public Relation Manager (PRM)
⦁ Wewenang
Membela produk yang menghadapi masalah public.
⦁ Tugas
a)   Membantu peluncuran produk baru.
b)   Membangun minat terhadap suatu katagori produk.
c)    Mempengaruhi kelompok sasaran tertentu.
1.2 Lokasi Perusahaan
Melalui hasil analisa dan perhitungan location planning didapatkan bahwa perusahaan ini sangat cocok berdiri pada daerah Mojokerto, karena dari hasil analisa daerah ini memiliki BEP yang paling minimal. Letak pastinya di Jl. Kyai Tamin, Desa Mojosari kota Mojokerto No. 24
1.3. Visi dan Misi PT MUDA KARYA
A. Visi
“Menjadi industri Binder tas yang inovatif, kuat dalam persaingan global, dan berwawasan lingkungan dengan senantiasa mengutamakan kepuasan konsumen, dan menjungjung tinggi kepercayaan para pemegang saham serta mitra kerja perusahaan.”
B. Misi
– Mendapatkan keuntungan tetapi tetap mengutamakan kepuasan pelanggan
– Memberikan sumbangan perkembangan ekonomi.
– Sebagai perintis kegiatan usaha.
– Memberikan bimbingan kepada industri kecil dan koperasi.
–Memberikan nilai tambah sebagai wujud pertanggungjawaban kepada pemegang saham.
1.4. Tata Letak (Lay Out) Pabrik
  PT. Muda Karya menempati areal tanah sekitar 500 m2yang terbagi atas 2 komplek, yaitu :
  a. Kompleks Pabrik
         Kompleks pabrik PT. Muda Karya terdiri dari beberapa unit mesin terpadu, yaitu :
  1) 2 unit mesin pemotong mika
  2) 1 unit mesin pemotong kertas kover
  3) 3 unit mesin laminasi
  4) 4 unit mesin pembentuk stainless steel (penspiral) 3 unit mesin perekat
  b. Kompleks Perkantoran
Kompleks perkantoran digunakan untuk departemen-departemen yang ada di dalam perusahaan.
BAB II
JADWAL INDUK PRODUKSI
2.1 Jadwal induk produksi
Merupakan pernyataan tentang produk akhir (end item/ output) dari suatu perusahaan industri manufaktur yang akan diproduksi berkaitan dengan kuantitas dan periode waktu. Dengan kata lain jadwal induk produksi merupakan ringkasan skedul produksi untuk periode mendatang yang dirancang berdasarkan ramalan permintaan. Tujuan dari pembuatan Jadwal Induk Produksi bagi perusahaan kami adalah agar pembuatan “Bitaz” selesai tepat waktu sesuai dengan yang dijanjikan pada konsumen. Selain itu juga untuk  efisiensi terhadap pemanfaatan kapasitas produksi sehingga diharapkan biaya produksi rendah. Dengan mereview kembali jumlah permintaan diharapkan terjadi keseimbangan antara beban kerja dengan kapasitas yang tersedia.
Bagi perusahaan kami manfaat dari jadwal induk produksi ini yaitu dapat memberikan input utama kepada sistem perencanaan kebutuhan material dan kapasitas, selain itu dapat juga dijadikan sebagai landasan untuk menentukan kebutuhan sumberdaya dan kapasitas. Dengan adanya jadwal induk produksi ini diharapkan dapat dijadikan dasar untuk menentukan janji kepada konsumen sehingga harapan konsumen untuk mendapatkan produk dengan tepat waktu dapat terpenuhi.
2.2 Jadwal Induk Produksi
PT. MUDA KARYA
Tabel Data Penjualan Selama 3 tahun
t Data Penjualan
1 20
2 30
3 45
4 56
5 76
6 65
7 88
8 49
9 87
10 59
11 67
12 89
13 78
14 80
15 98
16 54
17 62
18 69
19 92
20 73
21 48
22 76
23 49
24 64
25 88
26 78
27 95
28 65
29 72
30 47
31 81
32 69
33 72
34 63
35 89
36 77
Berdasarkan data tersebut diperoleh data peramalan untuk 12 periode mendatang adalah sebagai berikut:
t 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Dt (unit) 82 84 86 88 90 93 95 97 100 102 104 107
PT. Muda Karya memproduksi 2 jenis “BITAZ”, yaitu BITAZ dengan pola corak netral dan bermotif. PT. Muda Karya mempunyai persediaan awal sebanyak 176 BITAZ dan lot size produksi sebesar 100 unit. Berikut merupakan JIP dari PT. Muda Karya:
Periode 1 2 3 4
Demand 82 84 86 88
MPS produk Minggu
  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
Netral 15 15 15 15 15 15 15 15
Motif 6 20 6 20 7 20 7 20 7 21 7 22 7 22 7 22
Produk Jam Tenaga Kerja Per Unit (Jam)
Netral 2,25
Bermotif 3,15
MPS Produk Minggu
  1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Netral 15 15 15 15 15 15
Motif 6 20 6 20 7 20 7 20 9 20 9 20
Total Jam Tenaga Kerja (jam) 52.65 63 52.65 63 55.8 63 55.8 63 62.1 63 62.1 63
Rough-cut capacity planning (RCCP)
⦁ Perusahaan beroperasi 5 hari dalam seminggu
⦁ Setiap hari terbagi menjadi 2 shift, masing-masing selama 6,5 jam
⦁ Sehingga setiap harinya dioperasikan jam tenaga kerja selama 13 jam
⦁ Selama 5 hari, total jam tenaga kerja yang digunakan adalah 65 jam.
Weekly capacity limit
Dari RCCP yang telah dibuat dapat diketahui bahwa Jadwal Induk Produksi layak digunakan sebagai perencanaan produksi untuk periode yang akan datang karena total jam tenaga kerja beroperasi tidak ada yang melebihi batas sehingga tiap harinya tenaga kerja beroperasi dengan efisien.
BAB III
MANAJEMEN PERSEDIAAN
Persediaan bahan baku dalam pembuatan BITAZ sangat dibutuhkan karena proses produksi pembuatan bitaz dilakukan secara kontinyu. Selain itu, bahan yang dibutuhkan tidak berasal dari perusahaan sendiri melainkan perusahaan melakukan kerja sama dengan supplier yang berasal dari daerah yang berbeda. Manajemen persediaan bahan baku dalam pembuatan Bitaz sangat dibutuhkan karena persediaan bahan baku dari dikendalikan agar tidak terlalu sedikit maupun tidak terlalu banyak. Apabila persediaan bahan baku terlalu sedikit, ketika terjadi pemesanan dari pelanggan yang melebihi kapasitas produksi maka perusahaan harus menanggung biaya kekurangan persediaan. Tetapi apabila persediaan bahan baku terlalu banyak maka akan menyebabkan biaya penyimpanan menjadi membengkak. Persediaan yang harus dikendalikan oleh perusahaan kami adalah persediaan atas bahan baku mentah yaitu bijih plastik yang dibutuhkan untuk membuat cover binder, bijih stainless untuk pembuatan spiral binder. Selain itu, persediaan harus dilakukan pada bahan setengah jadi yang dibutukan oleh perusahaan kami yaitu kain yang digunakan sebagai motif dari bitaz sendiri dan resleting. Persediaan juga dilakukan pada produk jadi, dimana persediaan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kekurangan persediaan.
Dalam manajemen persediaan yang harus diperhatikan oleh perusahaan kami adalah biaya yang harus ditanggung dalam pengadaan bahan baku. Biaya yang harus ditanggung dalam pengadaan bahan baku adalah biaya pembeliaan yaitu biaya yang harus ditanggung perusahaan pada saat membeli bahan baku pada supplier. Selain itu, biaya yang harus ditanggung perusahaan adalah biaya pemesanan yaitu semua biaya yang timbul akibat mendatangkan barang dari luar yang termasuk biaya pengangkutan bahan pembuatan bitaz. Biaya lainnya yang harus ditanggung perusahaan adalah biaya penyimpanan bahan yaitu biaya yang dikeluarkan dalam melaksanakan kegiatan penyimpanan bahan agar siap dipakai dalam kegiatan produksi. Selain itu, ada juga biaya kekurang persediaan yaitu biaya yang harus ditanggung perusahaan ketika perusahaan mengalami kekurangan persediaan. Biaya ini harus dicegah agar perusahaan tidak mengalami kerugiaan akibat kekurangan persediaan. Dalam mencegah terjadinya kekurangan persediaan perusahaan kami melakukan persediaan dengan model Economic Order Quantity (EOQ)yang merupakan model persediaan yang bersifat deterministic(tetap) dan model persediaan lainnya yang kami gunakan adalah model persediaan probabilistic, model ini akan dijelaskan pada bab berikutnya.
Model persediaan Economic Order Quantity adalah perusahaan menentukan jumlah ekonomis pemesanan bahan yang harus dilakukan perusahaan dengan meminimasi biaya pengadaan bahan, biaya pembelian, dan biaya penyimpanan. Model persediaan ini dapat digunakan apabila jumlah permintaan telah diketahui dan konstan, waktu tunggu konstan, Penerimaanpersediaanbersifatinstandanselesaiseluruhnya. Dalam menentukan besar jumlah optimal per persanan yang dilakukan oleh perusahaan kami terhadap bahan baku pembuatan bitaz adalah sebagai berikut.
⦁ Bijih plastik
Dalam satu tahun perusahaan memiliki permintaan terhadap bijih plastik sebesar 5 ton. Besar biaya pemesanan dalam sekali pesanan adalah Rp 100.000 dengan penyimpanan Rp 5000 per kilogram per tahunnya. Maka untuk mementukan jumlah optimal bijih plastik dalam sekali pesanannya adalah sebagai berikut.
Diketahui : D = 5 ton = 5000 kg
    S = Rp 100.000 per pesanan   H = Rp 3000 per kg per tahun
Jawab
EOQ (Q*) =
 =
  =
 = 447,2 kg = 447 kg
Jadi jumlah optimal bijih plastik tiap kali pesanan adalah 447 kg.
⦁ Bijih Stainless
Dalam pembuatan spiral binder pada bitaz perusahaan membutuhkan bijih steinless 3000 kg pertahunnya. Biaya penyimpanan bijih steinless sama dengan besar biaya penyimpanan pada bijih plastik yaitu Rp 5000 per kg per tahunnya dengan biaya pemesanan sebesar Rp 200.000  perpesanan. Besar jumlah optimal perpesanan adalah sebagai berikut.
Diketahui : D = 3000 kg S = Rp 200.000 per pesanan
     H = Rp 5000 per kg per tahun
Jawab
EOQ (Q*) =
   =
   =
   = 489,89 kg
    = 490 kg
Jadi jumlah optimal bijih steinless yang harus dipesan tiap kali pesanan adalah 490 kg.
⦁ Kertas
Untuk isi bitaz perusahaan telah memesan kertas pada supplier sebanyak 500 rim per tahunnya. Biaya pemesanan yang dibutuhkan untuk satu kali pesan adalah Rp 100.000 dengan biaya penyimpanan sebesar Rp 5.000 per rim per tahun. Maka besar jumlah optimal kertas yang di butuhkan dalam satu kali pesan adalah.
Diketahui : D = 1000 rim S = Rp 100.000 per pesanan
     H = Rp 2.000 per rim per tahun
Jawab
EOQ (Q*) =
   =
=
  = 141,42 rim = 141 rim kertas
Jadi jumlah optimal kertas yang harus dipesan oleh perusahaan dalam satu kali pesan asala 141 rim kertas.
⦁ Resleting
Dalam pembuatan Bitaz, perusahaan membutuhkan 1500 unit resleting per tahunnya. Biaya pemesanan dalam satu kali pesan adalah Rp 100.000 dengan biaya penyimpanannya sebesar Rp 5000 per unit per tahun. Maka besar jumlah optimal resleting yang dibutuhkan dalam satu kali pesan adalah.
Diketahui : D = 1500 unit S = Rp 100.000
     H = Rp 5000 per unit per tahun
Jawab
EOQ (Q*) =
   =
   =
  =  244,94 unit = 245 unit
Jadi jumlah optimal resleting yang harus dipesan oleh perusahaan dalam satu kali pesanan adalah 245 unit resleting.
⦁ Kain
Kain sangat dibutuhkan oleh perusahaan dalam pembuatan Bitaz yang digunakan sebagai motif dari bitaz itu sendiri. Perusahaan melakukan pemesanan kain dengan ukuran 2×2 m sebanyak 750 unit kain.  Biaya pemesanan dalam satu kali pesan adalah Rp 100.000 dengan biaya penyimpanannya sebesar Rp 5000 per unit per tahun. Maka besar jumlah optimal kain yang dibutuhkan dalam satu kali pesan adalah.
Diketahui : D = 750 unit S = Rp 100.000
     H = Rp 5000 per unit per tahun
Jawab
EOQ (Q*) =
   =
   =
  =  173,2 unit = 173 unit
Jadi jumlah optimal kain yang harus dipesan oleh perusahaan dalam satu kali pesanan adalah 173 unit kain dengan ukuran 2×2 m.
BAB IV
ABC INVENTORY CLASSIFICATION
Fungsi ABC Analisis untuk PT Muda Karya, adalah:
1.  Membantu permasalahan manajemen PT Muda Karya menentukan tingkat
     persediaan yang efisien
2.  Memberikan perhatian pada jenis persediaan utama
3.  Dapat memanfaatkan modal kerja sehingga dapat memacu pertumbuhan perusahaan
4. Dapat mempermudah perusahaan untuk menentukan item yang memliki kelangkaan bahan pembuat produk serta jangka waktu pemesanan
peralatan annual spend
stainless 65000000
Plastik 50000000
Resleting 15000000
Kertas 14000000
Benang 2000000
Bahan-Bahan Pembuat Binder Tas
peralatan Annual Spend Kumulatif Persentase Segements
stainless 65000000 65000000 45% A
Plastik 50000000 115000000 34% A
Resleting 15000000 130000000 10% B
Kertas 14000000 127000000 10% B
Benang 2000000 129000000 1% C
Total 146000000
Klasifikasi ABC
Dari analisa tersebut, dapat disimpulkan bahwa penggunaan analisis ABC yang telah dilakukan oleh PT Muda Karya dengan bahan produknya dapat digunakan untuk menunjukkan beberapa produk tersebut memiliki keuntungan yang lebih besar dari segi biaya dan produk akhirnya. Untuk segmen kelas B dan C bukan berarti tidak penting, tetapi segmen kelas tersebut hanya saja memiliki keuntungan penjualan yang lebih rendah daripada kelas A dengan pemperhatikan persentase nilai volume dolar dari yang tertinggi sampai ke rendah.
BAB V
DISKON KUANTITAS
Diskon kuantitas merupakan potongan harga yang ditawarkan oleh penjual untuk mendorong konsumen agar bersedia membeli dalam jumlah yang lebih besar, atau bersedia memusatkan pembeliannya pada penjual tersebut sehingga mampu meningkatkan volume penjualan secara keseluruhan. Misalnya seorang pembeli membeli produk paling sedikit 10 unit, maka diberi potongan 5% dan kalau pembeliannya kurang dari 10 unit tidak mendapat potongan.
Diskon Kuantitas Stainless
Q*1=45
Q*2=52
Q*3=63
Permintaan Tahunan: 3.000
Biaya Penyimpanan : Rp. 5.000
Biaya Pemesanan : Rp.  200.000
Ongkos Membawa Persediaan : 0,3
Angka Diskon Kuantitas Diskon Diskon(%) Harga Diskon (P)
1 0 sampai 999 Tidak ada diskon 22000
2 1000 sampai 1999 3 18000
3 2000-selebihnya 5 14000
Angka
Diskon Harga
Satuan Kuantitas
Pesanan Biaya Produk
Tahunan Biaya Pemesanan
Tahunan Biaya Penyimpanan
Tahunan Total
1 22000 45 66000000 13400000 112500 79512500
2 18000 1000 54000000 600000 2500000 57100000
3 14000 2000 42000000 300000 5000000 47300000
Dengan melihat tabel, dapat dilihat bahwa kuantitas pesanan 2000 untuk stainless akan meminimalkan biaya total.
Diskon Kuantitas Plastik
Permintaan Tahunan: 5000
Biaya Penyimpanan: 5000
Biaya Pemesanan : 100000
Ongkos membawa Persediaan:  0,2
Q*1 =707
Q*2 = 730
Q*3 = 767
Angka Diskon Harga Satuan Kuantitas Pesanan Biaya Produk
Tahunan Biaya Pemesanan Tahunan Biaya Penyimpanan Tahunan Total
1 10000 707 50000000 708000 1767500 52475500
2 9400 1000 47000000 500000 2500000 50000000
3 8500 2000 42500000 250000 5000000 47750000
Angka Diskon Kuantitas Diskon Diskon(%) Harga Diskon (P)
1 0 sampai 999 Tidak ada diskon 10000
2 1000 sampai 1999 2 9400
3 2000-selebihnya 4 8500
Dengan melihat tabel, dapat dilihat bahwa kuantitas pesanan 2000 untuk plastik akan meminimalkan biaya total.
BAB VI
PERSEDIAAN PROBABILISTIK
6.1 Model Persediaan Probabilistik
Model – model persediaan probabilistik ditandai oleh perilaku permintaan D (j) dan lead time (L) yang tidak dapat diketahui sebelumnya secara pasti sehingga perlu didekati dengan distribusi probabilitas. Jika salah satu bersifat probabilistik, maka asumsi pesanan datang ada saat persediaan habis mungkin tidak terpenuhi. Oleh karena itu, sebuah model harus diturunkan (Siswanto, 2007).
Masalah kehabisan persediaan
Ketika salah satu demand (permintaan) atau lead time (saat tenggang pesanan) tidak bisa diketahui secara pasti sebelumnya, ada tiga kemungkinan yang akan terjadi.
⦁ Persediaan habis ketika pesanan belum tiba
⦁ Persediaan habis tepat pada saat pesanan tiba
⦁ Persediaan belum habis saat pesanan tiba
Tiga kemungkinan itu dapat dilihat pada peraga 14.48 dengan penjelasan (Siswanto, 2007):
Pada Y1, persediaan sebesar Q diperkirakan akan habis pada t2, sehingga pesanan datang tepat pada saat itu. Kondisi ini hanya bisa terjadi jika permintaan dan saat pesanan tiba tidak berdeviasi, artinya secara pasti bisa ditentukan sebelumnya (predetermined).
Namun, karena tingkat pemakaian yang lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya, maka pada Y2, persediaan Q sudah habis pada t3 padahal persediaan baru tiba pada t4 sehingga terjadi kehabisan persediaan selama t3 – t4.
Pada Y3 pemakaian persediaan sesuai dengan yang direncankan yaitu habis di t5. Namun, karena pesanan tiba pada t6 maka terjadi kehabisan persediaan selama t5-t6.
Berbeda dengan kondisi Y4, meskipun tidak terjadi kelebihan persediaan namun karena kedatangan pesanan di t7 yang lebih cepat dari yang direncanakan, yaitu t8, maka terjadi kelebihan persediaan.
6.2 Persediaan pengaman (safety stock)
6.2.1 Definisi Persediaan pengaman (safety stock)
Persediaan pengaman adalah persediaan yang sering dikaitkan dengan besarnya permintaan yang berubah-ubah dan ketidak teraturan waktu tunggu (lead time). Untuk mengantisipasi keadaan tersebut, perusahaan perlu menyiapkan persediaan pengaman (safety stock). Persediaan pengaman adalah tambahan persediaan dari jumlah biasanya sebesar rata-rata kondisi persediaan dan lamanya waktu tungu. Peranan peramalan sangat penting untuk menentukan besarnya persediaan pengaman, jika peramalan dilakukan dengan tepat maka perusahaan boleh tidak mempunyai persediaan pengaman (Siagian, 2008).
Adapun fungsi dari persediaan pengaman adalah mencegah terhadap ketidakteraturan (uncertainties) persediaan. Artinya, sebelum persediaan habis kita harus mempersiapkan sejumlah persediaan, jika di suatu saat ternyata persediaan habis sedang pemesanan kembali tidak bisa tersedia seketika itu. Karena ketika ada permintaan dari pelanggan sedangkan persediaan habis maka akan timbul stock out cost yang mungkin tidak kecil, yaitu biaya pengganti atau biaya karena kehabisan barang (Aminudin, 2005).
6.2. Peran Persediaan pengaman (safety stock) Bagi Perusahaan
Persediaan pengaman berfungsi untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan barang, misalnya karena penggunaan barang yang lebih besar dari perkiraan semula atau keterlambatan dalam penerimaan barang yang dipesan. Persediaan pengaman disebut juga dengan istilah persediaan penyangga (buffer stock) atau persediaan besi (iron stock). Bagi perusahaan dagang, persediaan pengaman juga dimaksudkan untuk menjamin pelayanan kepada pelanggan terhadap ketidakpastian dalam pengadaan barang (Herjanto, 2007).
Bagi perusahaan kami, persediaan pengaman sangatlah diperlukan dan sangat penting. Hal ini karena ketidakpastian dalam permintaan binder tas. Konsumen yang membeli juga belum diketahui secara pasti jumlah yang akan membeli tiap harinya. Terkadang banyak, terkadang juga sedikit. Apabila pembeli sedikit, maka bukanlah masalah yang berarti. Namun apabila pembelinya dalam jumlah banyak namun persediaan kami terbatas, akan menyebabkan ketidakteraturan di mana konsumen akan kecewa dan beralih ke produk lain. Kekecewaan konsumen yang menyebabkan perusahaan tidak dipercaya lagi sehingga harus dihindari oleh perusahaan. Sehingga dapat disimpulkan fungsi dari persediaan pengaman atau safety stock bagi perusahaan kai adalah menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan barang, misalnya karena banyaknya permintaan maupun keterlambatan dalam penerimaan barang yang dipesan. Selain itu untuk menjamin kepuasan konsumen terhadap ketidakpastian dalam pengadaan barang.
6.3 Perhitungan Persediaan Probabilistik
Untuk mengetahui pemesanan kembali (ROP) dan jumlah persediaan pengaman (ss) pada PT. ‘Bitaz’, telah mengalami distribusi probabilitas untuk permintaan persediaan selama periode pemesanan ulang.
⦁ Permintaan Variabel, Waktu Tunggu Konstan
Permintaan harian rata-rata untuk Binder Tas di sebuah toko di kota Malang adalah 10 sehingga apabila setiap binder berisi 10 kertas maka dibutuhkan 100 lembar kertas, dengan standar deviasi 4 unit. Waktu tunggunya konstan, yaitu 3 hari. Tentukan ROP jika manajemen ingin tingkat pelayanannya mencapai 90% (resiko kehabisan persediaan hanya 10% sepanjang waktu).
Maka persediaan pengaman yang diperlukan sebesar:
Diketahui :
 Item : kertas
Permintaan harian rata-rata = 100 unit
Waktu tunggu dalam hari (konstan) = 3 hari
Standar deviasi dari permintaan harian = σd = 50
Tingkat pelayanan = 90%
Solusi :
Dari tabel normal, nilai Z untuk 90% adalah 1,28
Persamaan :
    = 50
Sehingga,
ROP = (100 unit x 3 hari ) + 1,28 ( 50 ) ( √3 )
= 300 + 110,85
= 410,85 atau 411 unit kertas
Jadi, persediaan pengamannya sekitar 111 unit kertas.
⦁ Waktu Tunggu Variabel, Permintaan Konstan
Toko Mercusuar menjual sekitar 10 Binder Tas per hari sehingga resleting yang dibutuhkan 10 buah (kuantitas yang hampir konstan). Waktu tunggu untuk pengantaran resleting terdistribusi normal dengan waktu rerata 7 hari dan standar deviasi 4 hari. Ditentukan tingkat pelayanannya 95%.
Diketahui :
Item: Resleting
Permintaan Harian = 10 unit
Waktu tunggu rata-rata = 7 hari
Standar deviasi dari waktu tunggu= σLT = 4 hari
Tingkat pelayanan = 95%, jadi Z adalah 1,65
Persamaan :
Sehingga,
ROP = (10 unit x 7 hari) + 1,65 (10 unit) (4)
         = 70 + 66
         = 136
Jadi, persediaan pengamannya sekitar 66 unit resleting.
⦁ Permintaan dan Waktu Tunggu Variabel
Pada toko mercusuar, sekitar 10 unit binder tas terjual per hari sehigga diperlukan 500 gram bijih plastik, mengikuti distribusi normal dengan standar deviasi 100 gram. Bijih plastik dipesan dari luar pulau jawa, waktu tunggunya terdistribusi normal dengan rata-rata 7 hari dan standar deviasi 2 hari. Untuk menjaga tingkat pelayanan 95%, berapakah ROP yang tepat?
Item= Bijih Plastik
 Permintaan harian rata-rata = 500 gram
Waktu tunggu rata-rata = 7 hari
Standar deviasi dari permintaan harian = σd = 100 gram
Standar deviasi dari waktu tunggu= σLT = 2 hari
Tingkat pelayanan = 95%, jadi Z adalah 1,65
Persamaan :
Sehingga,
ROP = ( 500 x 7 hari ) + 1,65 ( √ (7 x 100 ²) + (5002 x2²) )
= 3.500 + 1,65 ( √ (70.000) + (1.000.000) )
= 3.500 + 1,65 ( √ 1.070.000 )
= 3.500 + 1.706,77
= 5.206,77 atau 5.207
Jadi, persediaan pengamannya sekitar 1.707 kg bijih plastik.
BAB VII
MATERIAL REQUIREMENT PLANNING
(MRP) merupakan suatu teknik atau prosedur logis untuk menterjemahkan Jadwal Produksi Induk (JPI) dari barang jadi atau end item menjadi kebutuhan bersih untuk beberapa komponen yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan JPI. MRP ini digunakan untuk menentukan jumlah dari kebutuhan material untuk mendukung Jadwal Produksi Induk dan kapan kebutuhan material tersebut dijadwalkan.
⦁ BILL OF MATERIAL
⦁ IDENTIFIKASI SEMUA TINGKATAN, INDUK DAN KOMPONENNYA
KOMPONEN LEVEL LEAD TIME (MINGGU) PERSEDIAAN DI TANGAN
A 1 1 50
B 1 2 50
C 1 1 100
D 1 3 150
E 2 1 50
F 2 2 50
G 2 1 50
H 2 3 100
I 2 3 75
⦁ E
⦁ STRUKTUR PRODUK BERFASE WAKTU
B
F
C
A
G
H
D
I
           1           2         3     4   5 6         7         8
⦁ Rencana Kebutuhan Bruto
MINGGU Lead Time
  1 2 3 4 5 6 7 8
A 50 1
50
B 50 2
50
C 100 1
100
D 150 3
150
E 50 1
50
F 50 2
50
G 50 1
50
H 100 3
100
I 75 2
75
Ukuran Lot Waktu Tunggu (minggu) Di Tangan Simpanan Aman Akuisisi Kode Tingkat Rendah Identifikasi
Barang
  Minggu
  1 2 3 4 5 6 7 8
Lot Untuk Lot 1 20 – - 0 A Kebutuhan Bruto 50
  Penerimaan terjadwal
  Proyeksi persediaan di tangan (20) 20 20 20 20 20 20 20 20
  Kebutuhan Netto 30
  Penerimaan Pesanan Terencana 30
  Pengiriman Pesanan terencana 30
⦁ Rencana Kebutuhan Netto
Lot Untuk Lot
  2 15 – - 1 B Kebutuhan Bruto 50
  Penerimaan terjadwal
  Proyeksi persediaan di tangan (15) 15 15 15 15 15 15 15
  Kebutuhan Netto 35
  Penerimaan Pesanan Terencana 35
  Pengiriman Pesanan terencana 35
Lot Untuk Lot
  1 35 – - 1 C Kebutuhan Bruto 100
  Penerimaan terjadwal
  Proyeksi persediaan di tangan (35) 35 35 35 35 35 35 35
  Kebutuhan Netto 65
  Penerimaan Pesanan Terencana 65
  Pengiriman Pesanan terencana 65
 Lot Untuk Lot
  3 50 – - 1 D Kebutuhan Bruto 150
  Penerimaan terjadwal
  Proyeksi persediaan di tangan (50) 50 50 50 50 50 50 50
  Kebutuhan Netto 100
  Penerimaan Pesanan Terencana 100
  Pengiriman Pesanan terencana 100
 Lot Untuk Lot
  1 10 – - 2 E Kebutuhan Bruto 50
  Penerimaan terjadwal
  Proyeksi persediaan di tangan (10) 10 10 10 10 10
  Kebutuhan Netto 40
  Penerimaan Pesanan Terencana 40
  Pengiriman Pesanan terencana 40
Lot Untuk Lot
  2 25 – - 2 F Kebutuhan Bruto 50
  Penerimaan terjadwal
  Proyeksi persediaan di tangan (25) 25 25 25 25 25 25
  Kebutuhan Netto 25
  Penerimaan Pesanan Terencana 25
  Pengiriman Pesanan terencana 25
 Lot Untuk Lot
  1 15 – - 2 G Kebutuhan Bruto 50
  Penerimaan terjadwal
  Proyeksi persediaan di tangan (15) 15 15 15 15 15 15
  Kebutuhan Netto 35
  Penerimaan Pesanan Terencana 35
  Pengiriman Pesanan terencana 35
  3 45 – - 2 H Kebutuhan Bruto 100
  Penerimaan terjadwal
 Lot Untuk Lot Proyeksi persediaan di tangan (15) 45 45 45 45
  Kebutuhan Netto 55
  Penerimaan Pesanan Terencana 55
  Pengiriman Pesanan terencana 55
 Lot Untuk Lot
  2 30 – - 2 I Kebutuhan Bruto 75
  Penerimaan terjadwal
  Proyeksi persediaan di tangan (30) 30 30 30 30
  Kebutuhan Netto 45
  Penerimaan Pesanan Terencana 45
  Pengiriman Pesanan terencana 45
BAB VIII
JUST IN TIME
8.1 JIT (Just In Time)
JUST IN TIME (JIT) merupakan pendekatan untuk meminimalkan total biaya penyimpanan dan persiapan yang sangat berbeda dari pendekatan tradisional. Pendekatan tradisional mengakui biaya persiapan dan kemudian menentukan kuantitas pesanan yang merupakan biaya yang tidak terhindarkan, sedangakan pada JIT tidak menuntut adanya biaya persiapan. Tetapi sebaliknya, JIT mencoba menekan biaya-biaya ini sampai nol. Jika biaya persiapan menjadi bukan proritas, makan biaya yang tersisa yang akan diminimalkan adalah biaya penyimpanan, yang dilakukan dengan mengurangi persediaan sampai ketingkat yang paling rendah. Pendekatan inilah yang mendorong untuk persediaan nol dalam sistem JIT. Kebanyakan penghentian produksi terjadi karena salah satu dari tiga alasan yaitu kegagalan mesin, kerusakan bahan, dan ketidaksediaan bahan baku, sehingga memiliki persediaan merupakan salah satu solusi tradisional atas semua masalah tersebut. Mereka yang mendukung pendekatan JIT berpendapat bahwa persediaan yang banyak tidak akan memecahkan masalah, tetapi hanya menyamarkan atau menutupi masalah. JIT dapat memecahkan ketiga  masalah diatas dengan menekankan pada pemeliharaan total dan pengendalian mutu total serta membina hubungan baik dengan pemasok karena adanya hubungan dengan pemasok yang sedikt bahkan tunggal.
8.2 Persiapan perusahaan dalam pemanfaatan JIT
Perusahaan kami yang bernama PT. Muda Karya akan menerapkan sistem manajemen JIT (Just In Time) dikarenakan perusahaan yang akan memaksimalkan laba yang ada dan akan memproduksi produk jika ada pesanan yang datang dari konsumen atau dari gudang-gudang penyimpanan dari beberapa supplier produk yang ada di Indonesia. Dalam prakteknya, demi keberhasilan manajemen ini maka akan kami praktekkan faktor apa saja yang dibutuhkan dalam JIT ini. Perusahaan kami akan beralih manajemen, yang awalnya perusahaan yang mengandalkan inventory dalam memenuhi pesanan produk yang fluktuatif oleh konsumen dan supplier, kini beralih ke perusahaan yang mengandalkan penjadwalan permintaan. Sehingga dalam prakteknya kelak tidak akan ada pemesanan yang terlalu mendadak dan dengan deadline yang singkat pula.
⦁ Supplier Perusahaan PT. Muda Karya telah lama bekerjasama dengan beberapa supplier yang berada di area industri di Jawa Timur. Dalam hal ini, kami telah bekerjasama dengan supplier bahan baku bijih plastik, bijih stainless steel, dan beberapa supplier belt untuk tali tas produk kami. Kami bekerjasama dengan beberapa supplier bahan baku yang telah disebutkan, seperti perusahaan kami sudah bekerjasama dengan 4 supplier bijih plastik, yang berlokasi di Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, dan Malang. Kemudian perusahaan kami juga telah bekerjasama dengan 3 bijih stainless steel dan 2 supplier belt. Untuk lokasi supplier sendiri ada di Semarang, Surabaya dan Sidoarjo dan lokasi supplier belt ada di Surabaya dan Solo. Dalam konsepnya, perusahaan kami akan menyeleksi para supplier yang terkait untuk menerapkan JIT. Kriteria yang akan kami canangkan untuk para supplier tersebut adalah memiliki lokasi yang dekat dengan tempat lokasi, memiliki ketersediaan dalam keterlibatan proses JIT, dan memiliki kualitas bahan baku yang sangat baik atau baik. Setelah menemukan supplier yang cocok, kemudian supplier dan perusahaan kami akan mendiskusikan jadwal pengiriman yang berkala yang disesuaikan dengan jadwal permintaan yang pernah masuk pada perusahaan kami pada masa lampau, dan meramalkan permintaan untuk masa depan.
⦁ Tata Letak Menurut konsep JIT, tata letak harus efisien dan tidak terlalu jauh dalam perpindahan dalam proses produksi. Perusahaan kami yang akan menerapkan JIT, tentu saja akan merubah tata letak dasar alat, dan kami merencanakan akan membuat seluruh proses hanya dalam 1 lantai dari awal barang datang sampai distribusi. Tata letak ini juga berimbas pada karyawan yang akan dengan gampang untuk mengawasi seluruh proses meskipun dari bagian proses yang berbeda, dikarenakan masalah komunikasi sangat ditekankan dalam JIT sendiri. Kami berencana akan membuat proses yang berlanjut, dengan arti dari barang awal dimasukkan sampai barang dikemas siap distribusi tidak berpindah tempat dengan jarak yang jauh, karena itu kami berencana akan membuat proses produksi berbentuk seperti huruf “U” sehingga tidak memakan tempat yang terlalu banyak dan tempat sisa bisa untuk tempat bahan baku.
⦁ Persediaan     Sekalipun JIT mengandalkan pasokan bahan baku dari supplier dalam penjadwalan yang telah disepakati, namun tidak benar jika perusahaan yang menerapkan JIT benar-benar tidak mempunyai persediaan sama sekali. Memang dalam konsepnya disarankan persediaan mendekati nol, tetapi pasti akan masih mempunyai persediaan minimum untuk menghadapi kemungkinan adanya masalah atau variasi/ penyimpangan. Perusahaan kami akan menyiapkan tempat persediaan kecil yang akan digunakan untuk menyimpan bahan baku untuk persediaan minimum. Perusahaan kami telah memikirkan untuk meminimalkan persediaan ini kami akan berdiskusi dengan supplier dan anggota internal kami. Dengan supplier kami akan mengintensifkan jadwal pengiriman dan pada anggota internal kami akan memperbaiki mutu sehingga akan tercipta maksimal “zero defect”.
⦁ Penjadwalan
Dalam penjadwalan JIT, ini adalah kunci dari semua faktor yang perlu disiapkan dalam JIT. Penjadwalan ini akan menekan jumlah lot dan menekan timbulnya permintaan produk yang terlalu mendadak. Beberapa upaya penjadwalan dilakukan agar semua aspek yang terlibat dapat siap sesuai jadwal yang telah disepakati. Komunikasi dengan supplier dan dengan konsumen akan membuat penjadwalan menjadi mudah dan berjalan sesuai rencana. Penjadwalan juga memungkinkan hilangnya potensi proses yang tidak efektif atau pemborosan sehingga profit perusahaan dapat lebih maksimal. Penjadwalan akan memaksa konsumen untuk tidak memesan produk dengan deadline yang singkat, dan jarak waktu pesan akan diberlakukan untuk menghindari adanya ketergesaan sehingga dapat mempengaruhi kualitas produk yang akan diproduksi.
⦁ Kualitas
Kualitas merupakan salah satu tujuan utama yang kami usung dalam JIT karena dengan penjadwalan yang baik dan proses yang terintegritas memungkinkan perusahaan dapat memproduksi produk yang mempunyai kualitas yang sangat baik atau baik. Kontrol mutu yang kami lakukan adalah TQC dengan melihat seluruh aspek yang terlibat dalam pembuatan produk kami, terutama pemilihan bahan baku. Kami juga akan memberlakukan metode pengingat kesalahan dan sosialisasi kesalahan sehingga jika ada kesalahan tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.
8.3 Penerapan JIT dalam bidang pembelian dan produksi :
⦁ Pembelian JIT
Sistem penjadwalan yang dilakukan di JIT adalah berdasar jadwal yang dirancang sedemikian rupa sehingga dalam prakteknya seluruh bahan baku langsung bersumber dari supplier bukan dari inventory perusahaan. Pembelian dengan sistem ini dapat mengurangi biaya yang ditimbulkan akibat adanya inventory. Terutama untuk supplier, perusahaan kami pasti akan menseleksi semua supplier yang bekerjasama dengan kita dan memilih yang terbaik dalam hal jarak dan mutu bahan baku yang di pasoknya. Dengan tetapnya mutu yang di miliki oleh supplier, maka biaya untuk pemeriksaan mutu menjadi berkurang. Dengan ini pula, supplier bisa terbantu karena perusahaan kami memiliki jadwal yang tetap dalam pengiriman bahan baku dari supplier ke perusahaan. Keuntungan lainnya adalah mengurangi biaya administrasi penyelenggaraan sistem akuntansi, dan ketelusuran langsung sejumlah biaya dapat ditingkatkan.
⦁ Produksi JIT
Produksi JIT adalah sistem penjadwalan komponen produksi atau produk yang tepat waktu, mutu, dan jumlahnya sesuai dengan yang diperlukan oleh tahap produksi atau sesuai untuk memenuhi permintaan pelanggan. Beberapa langkah yang akan kami ambil dalam mengurangi waktu dan biaya seputar produksi adalah mengurangi waktu lead time, proses produksi yang berkesinambungan, pengurangan perpindahan bahan dalam proses, penyederhanaan pengolahan yang dapat meminimalkan aktivitas produksi yang tidak efektif dan efisien. Beberapa faktor yang dapat dikurangi dalam sistem produksi sehingga dapat meningkatkan profit adalah pengurangan waktu lead time dan waktu perpindahan karena memiliki tata letak alat yang terpusat di satu tempat, mengurangi jumlah lot sehingga biaya penyimpanan dapat dikurangi, memiliki tenaga kerja yang memiliki kemampuan interdisipliner, efisiensi ruangan karena tidak ada atau kecilnya ruangan untuk penyimpanan dan tata letak alat yang terpusat di satu tempat, masalah mutu bahan baku yang bisa terjamin dan pembelian bahan baku yang sudah terjadwal sehingga tidak takut kehabisan dan bahan baku selalu dalam keadaan baik.
8.4 Perbedaan Titik Impas
Titik impas adalah suatu keadaan dimana perusahaan tidak mendapat laba maupun rugi. Jadi dapat dikatakan kondisi pendapatan perusahaan dalam keadaan seimbang.
⦁ X = (I + F) / (P – V)
⦁ BEP Sistem Konvensional
Keterangan :
X =  Unit produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu
I   =  Laba sebelum pajak penghasilan
F  =  Total biaya tetap
P  =  Harga jual per unit
V  =  Biaya variabel per unit
⦁ X1 = (I + F1 + X2V2 ) /  (P – V1)
⦁ BEP Sistem JIT
Keterangan :
X1 =  Unit produk yang harus dijual untuk mencapai laba tertentu
I     =   Laba sebelum pajak  penghasilan
F1  =  Total biaya tetap
X2  =  Jumlah kuantitas per basis non unit
V2  =  Biaya variabel per basis non unit
P    =  Harga jual per unit
V1  =  Biaya variabel per unit
DAFTAR PUSTAKA
Siswanto. 2007. Operation Research Jilid II. Jakarta: Erlangga.
Siagian, Yolanda. 2008. Aplikasi Supplay Chain Management Dalam Dunia Bisnis. Jakarta: Grasindo.
Aminudin. 2005. Prinsip-prinsip Riset Operasi. Jakarta : Erlangga.
Herjanto, Eddy. 2007. Manajemen Operasi Edisi Ketiga. Jakarta: Grasindo.


33 72
34 63
35 89
36 77

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>