Posts Tagged ‘penyakit imun’

HIPERSENSITIFITAS

Friday, December 30th, 2011

 Pengertian

Hipersensitifitas merupakan peningkatan reaktifitas atau sensitifitas terhadap antigen yang pernah dipanjakan atau dikenal sebelumnya (Ratna Sitompul,2009).

Hipersensitifitas (atau reaksi hipersensitiftas) adalah reaksi berlebihan,tidak diinginkan (merusak,menghasilakan ketidaknyamanan,dan terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem kekebalan normal (Abdul Gafar,2010)

Pembagian Reaksi Hipersensitifitas

                Reaksi hipersensitiftas dapat dibagi menjadi 2 bagian,antara lain : reaksi hipersensitiftas menurut waktu timbulnya reaksi (Reaksi cepat,reaksi intermediet dan reaksi lambat) dan reaksi hipersensitifitas menurut Gell dan Coombs (Tipe I,Tipe II,Tipe II dan Tipe IV).

A.Reaksi Hipersensitiftas Menurut Waktu Timbulnya Reaksi

Menurut waktu timbulnya,reaksi hipersensitiftas terdiri dari 3 bagian yaitu : reaksi cepat,reaksi intermediet dan reaksi lambat.

1.Reaksi Cepat 

Reaksi yang terjadi dalam hitungan detik,menghilang dalam waktu 2 jam. Ikatan silang antara alergen dan IgE pada permukaan sel mast menginduksi pelepasan mediator vasoaktif.Manifestasi reaksi cepat berupa anafilaksis sistemik atau anafilaksis lokal.

2.Reaksi Intermediet

                Reaksi intermediet terjadi setelah beberapa jam dan akan menghilang dalam 24 jam. Reaksi ini melibatkan pembentukan kompleks imun IgG dan kerusakan jaringan melalui aktifitas komplemen dan atau sel NK/ADCC.Manifestasi reaksi intermediet dapat berupa :

                i.Reaksi transfusi darah,eritroblastosis fetalis dan anemia hemolitik autoimun.

ii.Reaksi Arthus lokal dan reaksi sistemik seperti serum sickness,vaskuilitis nekrotis,glomerulonefritis,artritis reumatoid dan LES.

3.Reaksi Lambat

                Reaksi lambat terlihat sampai sekitar 48 jam setelah pajanan dengan antigen yang terjadi oleh aktifitas sel Th. Pada DTH,sitokin yang dilepas sel T mengaktifkan sel efektor makrofag yang menimbulkan kerusakan jaringan.

                B.Reaksi Hipersensitifitas Menurut Gell dan Coombs

                Menurut Robert Coombs dan Philip HH Gell (1963),reaksi hipersensitiftas dibagi menjadi 4 tipe reaksi yaitu tipe I,tipe II,tipe III dan tipe IV.

Tipe I

Tipe II

Tipe III

Tipe IV

Reaksi IgE

Reaksi Sitotoksik (IgG atau IgM)

Reaksi Kompleks Imun

Reaksi Selular

Ikatan silang antara antigen dan IgE yang diikat sel mast dan basofil melepas mediator vasoaktif Ab terhadap antigen permukaan sel menimbulkan destruksi sel dengan bantuan komplemen atau ADCC Komplemen Ag-Ab mengaktifkan komplemen dan respons inflamasi melalui infiltrasi masif neutrofil Sel Th1 yang disen- sitasi melepas sitokin yang mengaktifkan makrofag atau sel Tc yang berperan dalam kerusakan jaringan. Sel Th2 dan Tc menimbulkan respon.
Manifestasi khas : anafilaksis sistemik dan lokal seperti rinitis,asma,urtikaria,alergi makanan dan ekzem Manifestasi khas : reaksi transfusi,eritroblastosis fetalis,anemia hemolitik autoimun Manifestasi khas : reaksi lokal seperti arthus dan sistemik seperti serum sickness,vaskulitis dengan nekrosis,glomerulonefritis, Ar dan LES Manifetasi khas : dermatitis kontak,lesi tuberkulosis dan penolakan tandur.

(Ratna Sitompul,2009)

Hipersensitifitas Gell dan Coombs Tipe I (disebut juga reaksi cepat)

Hipersensitifitas tipe I yaitu respon imun dimediasi oleh sel TH2, antigen IgE, dan sel mast yang pada akhirnya akan mengeluarkan mediator inflamasi. Tipe 1 ini merupakan suatu respon yang cepat setelah terjadi interaksi antara alergen dengan antibodi IgE yang sebelumnya berikatan pada permukaan sel mast dan basofil pada bakteri yang tersensitasi. Bergantung pada jalan masuknya, hipersensitifitas tipe 1 dapat terjadi sebagai reaksi lokal yang berpuncak pada suatu gangguan sistemik yang fatal (anafilaksis). Mekanisme dari immediate hipersensitifity sendiri sebagai berikut:

Antigen yang berasal dari lingkungan à terdiferensiasi dan polimerasi dari CD4 dan TH2 àIgM à switching antibody à IgE à berikatan dengan reseptor fc pada sel mast dan basophils à berikatan lagi dengan reagen à sel mast aktif à Sel mast melepaskan mediator.

 

Urutan kejadian reaksi hipersenstifitas tipe 1 adalah sebagai berikut :

  • Fase sensitasi

Yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE samapi diikatnya oleh reseptor spesifik (Fc-R) pada permukaan sel mast dan basofil.

  • Fase aktivasi

Yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik dan sel mast melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi.

  • Fase efektor

Yaitu waktu terjadi respons yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator-mediator yang dilepas sel mast dengan aktivitas farmakologik.

Banyak reaksi tipe 1 yang terlokalisasi mempunyai dua tahap yang dapat ditentukan secara jelas:

  • Respon awal, diatandai dengan vasodilatasi, kebocoran vascular, dan spesme otot polos, yang biasanya muncul dalam rentang waktu 5 hingga 30 menit stelah terpajan oleh allergen dan menghilang setelah 60 menit.
  • Reaksi fase lambat, yang muncul 2 hingga 8 jam kemudian dan berlangsung selama beberapa hari. Reaksi fase lambat ini ditandai dengan infiltrasi eosinofil serta sel radang akut dan kronis lainnya yang lebih hebat pada jaringan dan juga ditandai dengan penghancuran jaringan dalam bentuk kerusakan sel epitel mukosa.

Mediator Primer

Setelah pemicuan IgE,  mediator primer (praformasi) di dalam granula sel mast dilepaskan untuk memulai tahapan awal reaksi hipersensitivitas tipe 1. Histamin, yang merupakan mediator praformasi terpenting, menyebabkan meningkatnya permeabilitas vascular, vasodilatasi, bronkokonstriksi, dan meningkatnya sekresi mukus. Mediator lain yang segera dilepaskan meliputi adenosine (menyebabkan bronkokonstriksi dan menghambat agregasi trombosit) serta factor kemotaksis untuk neutrofil dan eosinofil. Mediator lain ditemukan dalam matriks granula dan meliputi heparin serta protease netral (misalnya triptase). Protease menghasilkan kinin dan memecah komponen komplemen untuk menghasilkan factor kemotaksis dan inflamasi tambahan (misalnya), C3a).

Mediator Sekunder

Mediator ini mencakup dua kelompok senyawa : mediator lipid dan sitokin. Mediator lipid dihasilkan melalui aktivasi fosfolipase A­­2, yang memecah fosolipid membrane sel mast untuk menghasilkan asam arakhidonat. Selanjutnya, asam arakhidonat merupakan senyawa induk untuk menyintesis leukotrien dan prostaglandin.

  • Leukotrien berasal dari hasil kerja 5-lipooksigenase pada precursor asam arakhidonat dan sangat penting dalam pathogenesis hipersensitivitas tipe 1. Leukotrien tipe C4 dan D4 merupakan vasoaktif dan spasmogenik yang dikenal paling poten; pada dasar molar, agen ini ada beberapa ribu kali lebih aktif daripada histamin dalam meningkatkan permeabilitas vaskular dan dalam menyebabkan kontraksi otot polos bronkus. Leukotrien B4 sangat kemotaktik untuk neutrofil, eosinofil dan monosit.
  • Prostaglandin D2 adalah mediator yang paling banyak dihasilkan oleh jalur siklooksigenasi dalam sel mast. Mediator ini menyebabkan bronkospasme hebat serta meningkatkan sekresi mucus.
  • Faktor pengaktivasi trombosit merupakan mediator sekunder lain, mengakibatkan agregasi trombosit, pelepasan histamin, dan bronkospasme. Mediator ini juga bersifat kemotaktik untuk neutrofil dan eosinofil. Meskipun produksinya diawali oleh aktivasi fosfolipase A2, mediator ini bukan produk metabolism asam arakhidonat.
  • Sitokin yang diproduksi oleh sel mast (TNF, IL-1, IL-4, IL-5, dan IL-6) dan kemokin berperan penting pada reaksi hipersensitivitas tipe 1 melalui kemampuannya merekrut dan mengaktivasi berbagai macam sel radang. TNF merupakan mediator yang sangat poten dalam adhesi, emigrasi, dan aktivasi leukosit. IL-4 juga merupakan faktor pertumbuhan sel mast dan diperlukan untuk mengendalikan sintesis IgE oleh sel B.

Hipersensitifitas Tipe II atau sitotoksik atau sitolitik

                Reaksi ini terjadi karena dibentuknya antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel inang.Reaksi diawali dengan reaksi antara antibodi dan determinan antigen yang merupakan bagian dari membran sel.Reaksi selanjutnya tergantung kepada komplemen dan molekul aksesorisnya. Contoh : Aktifasi komplemen ikatan C3b à opsonisasi fagositosis yang akan menimbulkan anemia hemolitik

                Secara sederhana,Hipersensitiftas tipe II ada tiga jenis :

  1. Opsonization dan phagositosis

Mekanismenya : Antigen terdeteksi à aktfifasi ikatan C3b oleh komplemen à terjadi ikatan antara sel fagosit dengan antigen à sel mengalami opsonisasi à phagositosis

  1. Complement dan Fc receptor – mediated inflamation

 

 

Mekanismenya : Antigen berikatan dengan FC receptor dan Komplemen à Terproduksinya C5a dan C3a à Neutrophil teraktifasi à Terjadi inflamasi dan jaringan injury.

  1. Respon fisiology tidak normal

Mekanismenya : Antigen à antibody à antibody abnormal à menempel pada sel/protein lain à abnormalitas pada sel/protein yang diikat.

Hipersensitifitas Tipe III atau kompleks imun

                Dalam keadaan normal kompleks imun dalam sirkulasi diikat dan diangkut eritrosit ke hati,limpa dan di sana dimusnahkan oleh sel fagosit mononuklear,terutama di hati,limpa dan paru tanpa bantuan komplemen.

Reaksi tipe III mempunyai 2 bentuk reaksi yaitu lokal dan sistemik. Reaksi lokal atau fenomena Arthus yaitu keadaan normal di atas mengalami sedikit penyimpangan dimana sel fagosit menempel pada bagian endotel vascular dan bermigrasi ke jaringan kompleks imun diendapkan.Reaksi yang timbul berupa kerusakan jaringan lokal dan vaskular akibat akumulasi cairan (edem) dan SDM (eritema) sampai nekrosis.Sedangkan reaksi sistemik atau serum sickness serupa dengan reaksi lokal tapi reaksi ini terjadi karena injeksi protein heterolog atau asing atau serum.Reaksi ini merupakan reaksi sekunder untuk pemberian obat nonprotein.

Hipersensitifitas Tipe IV atau reaksi seluler

Pada reaksi hipersensitivitas tipe I, II dan III yang berperan adalah antibodi (imunitashumoral), sedangkan pada tipe IV yang berperan adalah limfosit T atau dikenal sebagai imunitasseluler. Imunitas selular merupakan mekanisme utama respons terhadap berbagai macammikroba, termasuk patogen intrasel seperti Mycobacterium tuberculosis dan virus, serta agenekstrasel seperti protozoa, fungi, dan parasit. Namun, proses ini juga dapat mengakibatkankematian sel dan jejas jaringan, baik akibat pembersihan infeksi yang normal ataupun sebagairespons terhadap antigen sendiri (pada penyakit autoimun).  Hipersensitivitas tipe IV diperantarai oleh sel T tersensitisasi secara khusus bukan antibodi dan dibagi lebih lanjutmenjadi dua tipe dasar:

  • hipersensitivitas tipe lambat, diinisiasi oleh sel T CD4+,
  • sitotoksisitas sel langsung, diperantarai oleh sel T CD8+.
  •  Pada hipersensitivitas tipe lambat, selT CD4+ tipe T

 menyekresi sitokin sehingga menyebabkan adanya perekrutan sel lain, terutamamakrofag, yang merupakan sel efektor utama. Pada sitotoksisitas seluler, sel T CD8+ sitoksik menjalankan fungsi efektor. Contoh klasik DTH adalah reaksi tuberkulin. Delapan hingga 12 jam setelah injeksituberkulin intrakutan, muncul suatu area eritema dan indurasi setempat, dan mencapai puncaknya (biasanya berdiameter 1 hingga 2 cm) dalam waktu 24 hingga 72 jam (sehinggadigunakan kata sifat delayed [lambat/ tertunda]) dan setelah itu akan mereda secara perlahan.secara histologis , reaksi DTH ditandai dengan penumpukan sel helper-T CD4+ perivaskular (“seperti manset”) dan makrofag dalam jumlah yang lebih sedikit. Sekresi lokalsitokin oleh sel radang mononuklear ini disertai dengan peningkatan permeabilitasmikrovaskular, sehingga menimbulkan edema dermis dan pengendapan fibrin; penyebab utamaindurasi jaringan dalam respons ini adalah deposisi fibrin. Respons tuberkulin digunakan untuk menyaring individu dalam populasi yang pernah terpejan tuberkulosis sehingga mempunyai sel Tmemori dalam sirkulasi. Lebih khusus lagi, imunosupresi atau menghilangnya sel T CD4+(misalnya, akibat HIV) dapat menimbulkan respons tuberkulin yang negatif, bahkan bila terdapatsuatu infeksi yang berat.

Granulomatosa adalah bentuk khusus DHT yang terjadi pada saat antigen bersifat persisten dan/ atau tidak dapat didegradasi. Infiltrate awal sel T CD4+ perivaskular secara progresif digantikan oleh makrofag dalam waktu 2 hingga 3 minggu; makrofag yangterakumulasi ini secara khusus menunjukkan bukti morfologis adanya aktivitas, yaitu semakinmembesar , memipih, dan eosinofilik (disebut sebagai sel epiteloid ). Sel epiteloid kadang kadang bergabung di bawah pengaruh sitokin tertentu (misalnya, IFN-γ) untuk membentuk suatu sel raksasa ( giant cells) berinti banyak. Suatu agregat mikroskopis sel epiteloid secara khususdikelilingi oleh lingkaran limfosit, yang disebut granuloma, dan polanya disebut sebagai inflamasi granulomatosa. Pada dasarnya, proses tersebur sama dengan proses yang digambarkanuntuk respons DHT lainnya. Granuloma yang lebih dahulu terbentuk membentuk suatu sabuk rapat fibroblast dan jaringan ikat. Pengenalan terhadap suatu granuloma mempunyai kepentingandiagnostik karena hanya ada sejumlah kecil kondisi yang dapat menyebabkannya.

Sitotoksisitas Yang Diperantarai Sel T

Pada pembentukan hipersensitivitas tipe IV ini, sel T CD8+ tersensitisasi membunuh seltarget yang membawa antigen. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, molekul MHC tipe I berikatan dengan peptida virus intrasel dan menyajikannya pada limfosit T CD8+. Sel efektor CD8+, yang disebut limfosit T sitotoksik (CTL,cytotoxic T-lymphocytes), yang berperan pentingdalam resistensi terhadap infeksi virus. Pelisisan sel terinfeksi sebelumnya terjadi replikasi virusyang lengkap pada akhirnya menyebabkan penghilangan infeksi. Diyakini bahwa banyak peptidayang berhubungan dengan tumor muncul pula pada permukaan sel tumor sehingga CTL dapat pula terlibat dalam imunitas tumor.Telah terlihat adanya dua mekanisme pokok pembunuhan oleh sel CTL: (1) pembunuhanyang bergantung pada perforin-granzim dan (2) pembunuhan yang bergantung pada ligan Fas-Fas. Perforin dan granzim adalah mediator terlarut yang terkandung dalam granula CTL, yangmenyerupai lisosom. Sesuai dengan namanya, perforin melubangi membran plasma pada seltarget; hal tersebut dilakukan dengan insersi dan polimerisasi molekul perforin untuk membentuk suatu pori. Pori-pori ini memungkinkan air memasuki sel dan akhirnya menyebabkan lisiosmotik. Granula limfosit juga mengandung berbagai protease yang disebut dengan granzim, yang dikirimkan ke dalam sel target melalui pori-pori perforin. Begitu sampai ke dalamsel, granzim mengaktifkan apoptosis sel target. CTL teraktivasi juga mengeluarkan ligan Fas (suatumolekul yang homolog dengan TNF), yang berikatan dengan Fas pada sel target. Interaksi inimenyebabkan apoptosis. Selain imunitasvirus dan tumor, CTL yang diarahkann untuk melawanantigen histokompatibilitas permukaan sel juga berperan penting dalam penolakan graft.

Autoimun desease

adalah  Salah satu keabnormalan dari sistem imun karena adanya suatu kesalah mekanisme dari sistem imun yang tidak mampu mengenali patogen dan kompleks imun itu sendiri (self tolerance).