Adaptasi

January 11th, 2012

 Disusun Oleh :   

MUNIP SETYOWATI ( 105130101111100)

HABYB PALYOGA (105130101111089)

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

            Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon terhadap stress. Stress terjadi jika orang dihadapkan dengan peristiwa yang dirasakan mengancam fisik atau psikologisnya. Peristiwa stress di sebut stressor.

            Stresor yang menstimulasi adaptasi mungkin berjangka pendek, seperti demam atau berjangka panjang seperti paralysis dari anggota gerak tubuh. Agar dapat berfungsi optimal, seseorang harus mampu berespons terhadap stressor dan beradaptasi terhadap tuntutan atau perubahan yang dibutuhkan. Adaptasi membutuhkan respons aktif dari seluruh individu.

            Suatu proses adaptif terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal dan eksternal menyebabkan penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan fungsi yang optimal. Adaptasi melibatkan refleks, mekanisme otomatis untuk perlindungan, mekanisme koping dan idealnya dapat mengarah pada penyesuaian atau penguasaan situasi (Selye, 1976, ; Monsen, Floyd dan Brookman, 1992).

Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan teori adaptasi?
  2. Bagaimanakah bentuk konsep adaptasi?
  3. Bagaimanakah model konsep adaptasi?
  4. Bagaimanakah cara beradaptasi?

Tujuan

  1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan teori adaptasi
  2. Untuk mengetahui lebih jauh tentang konsep adaptasi
  3. Untuk mengetahui model konsep adaptasi
  4. Untuk mengetahui cara beradaptasi

BAB II

PEMBAHASAN

TEORI ADAPTASI

            Individu memiliki integritas keseluruhan dalam komponen bio,psiko dan sosial yang berinteraksi secara konstan.Lingkungan termasuk semua kondisi,keadaan sekitar yang mengelilingi dan mempengaruhi perkembangan dan kepribadian seseorang.Perubahan lingkungan merangsang seseorang untuk membuat respon adaptasi.Contohnya sehat terjadi jika individu mampu beradaptasi pada masalah-masalah di lingkungan yang selalu berubah.Tingkat adaptasi manusia tergantung dari stimulus yang diterima dan yang masih dapat diadaptasi secara normal.

            Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon terhadap stress.Indifidu adalah makhluk biopsikososial sebagai kesatuan yang utuh,dan individu dikatakan sehat jika mampu memenuhi kebutuhan tersebut.Dalam beradaptasi,individu menggunakan mekanisme koping yang positif dan negatif,kemampuan beradaptasi dipengaruhi oleh 3 komponen yaitu penyebab utama terjadinya perubahan,kondisi dan situasi yang ada dan keyakinan dan pengalaman dalam beradaptasi.Setiap individu berespon terhadap kebutuhan fisiologik,konsep diri,kemampuan hidup mandiri dan kemampuan untuk melakukan peran dan fungsi secara optimal untuk menjaga integritas diri.Kemandirian seseorang lebih difokuskan pada kebutuhan dan kemampuan melakukan interaksi sosialtermasuk kebutuhan akan dukungan orang lain.

            Faktor penting yang mempengaruhi tingkah
laku manusia :

1. Kebutuhan :

  • Kebutuhan badaniah
  • Kebutuhan psikologis

2. Dorongan :

  • Menjamin agar manusia berusaha
  • memenuhi kebutuhannya

             Individu adalah makhluk biopsikososial sebagai suatu kesatuan yang utuh yang memiliki mekanisme untuk beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.Proses adaptasi adalah suatu proses yang mempengaruhi kesehatan secara positif.Prses adaptasi menyangkut semua interaksi manusia dengan lingkungannya.Lingkungan dipandang sebagai suatu unsur di dalam dan di sekitar manusia.

            Suatu proses adaptif terjadi ketika stimulus dari lingkungan internal dan eksternal menyebabkan penyimpangan keseimbangan organisme. Dengan demikian adaptasi adalah suatu upaya untuk mempertahankan fungsi yang optimal. Adaptasi melibatkan refleks, mekanisme otomatis untuk perlindungan, mekanisme koping dan idealnya dapat mengarah pada penyesuaian atau penguasaan situasi menyeluruh. (Selye, 1976, ; Monsen, Floyd dan Brookman, 1992).

Stres dapat mempengaruhi dimensi fisik, perkembangan, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Sumber adaptif terdapat dalam setiap dimensi ini. Oleh karenanya, ketika mengkaji adaptasi klien terhadap stress, perawat harus mempertimbangkan individu secara

BENTUK-BENTUK  / JENIS ADAPTASI

 

  1. ADAPTASI FISIOLOGIS

adalah adaptasi yang meliputi fungsi alat-alat tubuh. Adaptasi ini bisa berupa enzim yang dihasilkan suatu organisme. Kamu tidak mudah mengamati adaptasi fisiologi karena adaptasi fisiologi menyangkut fungsi alat-alat tubuh yang umumnya terletak di bagian dalam tubuh. Contoh adaptasi fisiologi adalah sebagai berikut:

  • Adaptasi Fisiologi pada Manusia
  1. Jumlah sel darah merah orang yang tinggal di pegunungan lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang tinggal di pantai/dataran rendah.
  2. Ukuran jantung para atlet rata-rata lebih besar dari pada ukuran jantung orang kebanyakan.
  3. Pada saat udara dingin, orang cenderung lebih banyak mengeluarkan urine (air seni).

  • Adaptasi Fisiologi pada Hewan

Berdasarkan jenis makanannya, hewan dapat dibedakan menjadi karnivor (pemakan daging). herbivor memakan tumbuhan), serta omnivor (pemakan daging dan turnbuhan). Penyesuaian hewan-hewan tersebut terhadap jenis makanannya. antara lain terdapat pada ukuran (panjang) usus dan enzim pencernaan yang berbeda. Untuk mencerna tumbuhan yang umumnya mempunyai sel-sel berdinding sel keras, rata-rata usus herbrvor lebih panjang daripada usus karnivor.

  • Adaptasi Fisiologi pada Tumbuhan
  1. Tumbuhan yang penyerbukannya dibantu oleh serangga mempunyai bunga yang berbau khas.
  2. Tumbuhan tertentu menghasilkan zat khusus yang dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan lain atau melindungi diri terhadap herbivor. Misalnya. semak azalea di Jepang menghasilkan bahan kimia beracun sehingga rusa tidak memakan daunnya.

  1. ADAPTASI PSIKOLOGIS

Emosi kadang dikaji secara langsung atau tidak langsung dengan mengamati perilaku klien. Stress mempengaruhi kesejahteraan emosional dalam berbagai cara. Karena kepribadian individual mencakup hubungan yang kompleks di antara banyak faktor, maka reaksi terhadap stress yang berkepanjangan ditetapkan dengan memeriksa gaya hidup dan stresor klien yang terakhir, pengalaman terdahulu dengan stressor, mekanisme koping yang berhasil di masa lalu, fungsi peran, konsep diri dan ketabahan yang merupakan kombinasi dari tiga karakteristik kepribadian yang di duga menjadi media terhadap stress. Ketiga karakteristik ini adalah rasa kontrol terhadap peristiwa kehidupan, komitmen terhadap aktivitas yang berhasil, dan antisipasi dari tantangan sebagai suatu kesempatan untuk pertumbuhan (Wiebe dan Williams, 1992 ; Tarstasky, 1993)

  1. ADAPTASI PERKEMBANGAN

Stres yang berkepanjangan dapat mempengaruhi kemampuan untuk menyelesaikan tugas perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan, seseorang biasanya menghadapi tugas perkembangan dan menunjukkan karakteristik perilaku dari tahap perkembangan tersebut. Stress yang berkepanjangan dapat mengganggu atau menghambat kelancaran menyelesaikan tahap perkembangan tersebut. Dalam bentuk yang ekstrem, stress yang berkepanjangan dapat mengarah pada krisis pendewasaan.Bayi atau anak kecil umumnya menghadapi stressor di rumah . Jika diasuh dalam lingkungan yang responsive dan empati, mereka mampu mengembangkan harga diri yang sehat dan pada akhirnya belajar respons koping adaptif yang sehat (Haber et al, 1992).

Anak-anak usia sekolah biasanya mengembangkan rasa kecukupan. Mereka mulai mnyedari bahwa akumulasi pengetahuan dan penguasaan keterampilan dapat membantu mereka mencapai tujuan , dan harga diri berkembang melalui hubungan berteman dan saling berbagi di antara teman. Pada tahap ini, stress ditunjukkan oleh ketidakmampuann atau ketidakinginan untuk mengembangkan hubungan berteman.Remaja biasanya mengembangkan rasa identitas yang kuat tetapi pada waktu yang bersamaan perlu diterima oleh teman sebaya. Remaja dengan sistem pendukung sosial yang kuat menunjukkan suatu peningkatan kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap stressor, tetapi remaja tanpa sistem pendukung sosial sering menunjukkan peningkatan masalah psikososial (Dubos, 1992).

4.Adaptasi Morfologi

            Adaptasi morfologi adalah penyesuaian bentuk tubuh. Struktur tubuh. atau alat-alat tubuh organisme terhaclap lingkungannya. Kamu dengan mudah dapat mengamati adaptasi morfologi karena perubahan yang terjadi merupakan perubahan bentuk luar. Contoh adaptasi morfologi adalah sebagai berikut.

  • Adaptasi Morfologi pada Hewan

            Mengapa bentuk paruh burung bermacam-macam?, bentuk paruh burung bermacam-macarn disesuaikan dengan jenis makanannya. Burung paruhnya sesuai untuk makan biji-bijian. Burung kolibri, paruhya sesuai untuk mengisap madu dari bunga. Burung pelikan, paruhnya sesuai untuk menangkap ikan. Burung elang, paruhnya sesuai untuk mengoyak daging mangsanya. Burung pelatuk. paruhnya sesuai untuk memahat batang pohon dan menangkap serangga di dalamnya. Adaptasi morfologi pada burung juga dapat dilihat pada macam-macam bentuk kakinya.

  • Adaptasi Morfologi pada Tumbuhan

Berdasarkan tempat hidupnya, tumbuhan dibedakan menjadi sebagai berikut.

  1. Xeroflt, yaitu tumbuhan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kering, contohnya kaktus. Cara adaptasi xerofit. antara lain mempunyai daun berukuran kecil atau bahkan tidak berdaun (mengalami modifikasi menjadi duri), batang dilapisi lapisan lilin yang tebal, dan berakar panjang sehingga berjangkauan sangat luas.
  2. Hidrofit. yaitu tumbuhan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan berair, contohnya teratai. Cara adaptasi hidrofit, antara lain berdaun lebar dan tipis, serta mempunyai banyak stomata.
  3. Higrofit, yaitu tumbuhan yang menyesuaikan diri dengan lingkungan lembap, contohnya tumbuhan paku dan lumut.

5. Adaptasi Tingkah Laku

            Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian organisme terhadap lingkungan dalam bentuk tingkah laku. Kamu dapat dengan mudah mengamati adaptasi ini. Contoh adaptasi tingkah laku adalah sebagai berikut.

  • Adaptasi Tingkah Laku pada Hewan
  1. Bunglon melakukan mimikri, yaitu mengubah-ubah warna kulitnya sesuai dengan warna lingkungan/tempat hinggapnya. Dengan mengubah warna kulitnya sesuai dengan lingkungannya, bunglon terlindung dari pemangsanya sekaligus tersamar dari hewan yang akan dimangsanya. Dengan demikian, bunglon dapat terhindar dari bahaya dan sekaligus lebih mudah menangkap mangsanya.
  2. Cumi-cumi mengeluarkan tinta/cairan hitam ketika ada bahaya yang mengancamnya. Cumi-cumi juga mampu mengubah-ubah warna kulitnya sesuai dengan warna lingkungannya.
  3. Secara berkala, paus muncul di permukaan air untuk menghirup udara dan menyemprotkan air. Paus melakukan tindakan demikian karena alat pernapasannya berupa paru-paru tidak dapat memanfaatkan oksigen yang terlarut di dalam air.
  4. Dalam keadaan bahaya, cecak melakukan autotomi, yaitu memutuskan ekornya. Ekor cecak yang terputus tetap dapat bergerak sehingga perhatian pemangsanya beralih pada ekor tersebut dan cecak dapat menyelamatkan diri.

  • Adaptasi Tingkah Laku pada Tumbuhan
  1. Pada saat lingkungan dalam keadaan kering, tumbuhan yang termasuk suku jahe-jahean akan mematikan sebagian tubuhnya yang tumbuh di permukaan tanah.
  2. Pada musim kemarau. tumbuhan tropofit, misalnya pohon jati dan randu, menggugurkan daunnya.

MODEL KONSEP ADAPTASI

Model konsep adaptasi pertama kali dikemukakan oleh Suster Callista Roy (1969). Konsep ini dikembangkan dari konsep individu dan proses adaptasi seperti diuraikan di bawah ini. Asumsi dasar model adaptasi Roy adalah :

  1. Manusia adalah keseluruhan dari biopsikologi dan sosial yang terus-menerus berinteraksi dengan lingkungan.
  2. Manusia menggunakan mekanisme pertahanan untuk mengatasi perubahan-perubahan biopsikososial.
  3. Setiap orang memahami bagaimana individu mempunyai batas kemampuan untuk beradaptasi. Pada dasarnya manusia memberikan respon terhadap semua rangsangan baik positif maupun negatif.
  4. Kemampuan adaptasi manusia berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, jika seseorang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan maka ia mempunyai kemampuan untuk menghadapi rangsangan baik positif maupun negatif.
  5. Sehat dan sakit merupakan adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari dari kehidupan manusia.

Tiga elemen penting yang termasuk dalam Model Adaptasi adalah 1) manusia; 2) lingkungan; 3) sehat. Unsur keperawatan terdiri dari dua bagian yaitu tujuan keperawatan dan aktivitas keperawatan. Juga termasuk dalam elemen penting pada konsep adaptasi.

1. Manusia

Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif. Sebagai sistem adaptif, manusia dapat digambarkan secara holistik sebagai satu kesatuan yang mempunyai input, kontrol, out put dan proses umpan balik. Proses kontrol adalah mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan cara- cara adaptasi. Lebih spesifik manusia didefenisikan sebagai sebuah sistem adaptif dengan aktivitas kognator dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara-cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependensi. Dalam model adaptasi keperawatan, manusia dijelaskan sebagai suatu sistem yang hidup, terbuka dan adaptif yang dapat mengalami kekuatan dan zat dengan perubahan lingkungan. Sebagai sistem adaptif manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik sistem, jadi manusia dilihat sebagai satu-kesatuan yang saling berhubungan antara unit fungsional secara keseluruhan atau beberapa unit fungsional untuk beberapa tujuan. Input pada manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah dengan menerima masukan dari lingkungan luar dan lingkungan dalam diri individu itu sendiri. Input atau stimulus termasuk variabel standar yang berlawanan yang umpan baliknya dapat dibandingkan. Variabel standar ini adalah stimulus internal yang mempunyai tingkat adaptasi dan mewakili dari rentang stimulus manusia yang dapat ditoleransi dengan usaha-usaha yang biasa dilakukan. Proses kontrol manusia sebagai suatu sistem adaptasi adalah mekanisme koping. Dua mekanisme koping yang telah diidentifikasi yaitu : subsistem regulator dan subsistem kognator. Regulator dan kognator digambarkan sebagai aksi dalam hubungannya terhadap empat efektor atau cara-cara adaptasi yaitu : fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependen.

2. Lingkungan

Lingkungan digambarkan sebagai dunia di dalam dan di luar manusia. Lingkungan merupakan masukan (input) bagi manusia sebagai sistem yang adaptif sama halnya lingkungan sebagai stimulus internal dan eksternal. Lebih lanjut stimulus itu dikelompokkan menjadi tiga jenis stimulus yaitu : fokal, kontekstual dan residual.

1. Stimulus fokal yaitu rangsangan yang berhubungan langsung dengan perubahan lingkungan misalnya polusi udara dapat menyebabkan infeksi paru, kehilangan suhu pada bayi yang baru lahir.

2. Stimulus kontekstual yaitu : stimulus yang menunjang terjadinya sakit (faktor presipitasi) keadaan tidak sehat. Keadaan ini tidak terlihat langsung pada saat ini. Misalnya : daya tahan tubuh yang menurun, lingkungan yang tidak sehat.

3. Stimulus residual yaitu : sikap, keyakinan dan pemahaman individu yang dapat mempengaruhi terjadinya keadaan tidak sehat atau disebut dengan faktor presdiposisi sehingga terjadi kondisi fokal. Misalnya : persepsi klien tentang penyakit, gaya hidup dan fungsi peran.

Lebih luas lagi lingkungan didefinisikan sebagai segala kondisi, keadaan di sekitar yang mempengaruhi keadaan, perkembangan dan perilaku manusia sebagai individu atau kelompok.

3. Sehat

Menurut Roy, kesehatan didefinisikan sebagai keadaan dan proses menjadi manusia secara utuh dan terintegrasi secara keseluruhan. Integritas atau keutuhan manusia menyatakan secara tidak langsung bahwa kesehatan atau kondisi tidak terganggu mengacu kelengkapan atau kesatuan dan kemungkinan tertinggi dari pemenuhan potensi manusia. Jadi integrasi adalah sehat, sebaliknya kondisi yang tidak ada integrasi adalah kurang sehat. Definisi kesehatan ini lebih dari tidak adanya sakit tapi termasuk penekanan pada kondisi sehat sejahtera. Dalam model adaptasi keperawatan, konsep sehat dihubungkan dengan konsep adaptasi. Adaptasi yang bebas energi dari koping yang inefektif dan mengizinkan manusia berespons terhadap stimulus yang lain. Adaptasi adalah komponen pusat dalam model adaptasi keperawatan. Di dalamnya menggambarkan manusia sebagai sistem adaptif. Proses adaptasi termasuk semua interaksi manusia dan lingkungan terdiri dari dua proses. Bagian pertama dari proses ini dimulai dengan perubahan dalam lingkungan internal dan eksternal yang membutuhkan sebuah respons. Perubahan- perubahan itu adalah stresor atau stimulus fokal dan ditengahi oleh faktor- faktor kontekstual dan residual. Bagian kedua adalah mekanisme koping yang merangsang untuk menghasilkan respons adaptif atau inefektif. Produk adaptasi adalah hasil dari proses adaptasi dan digambarkan dalam istilah kondisi yang meningkatkan tujuan-tujuan manusia yang meliputi : kelangsungan hidup, pertumbuhan, reproduksi dan penguasaan yang disebut integritas. Kondisi akhir ini adalah kondisi keseimbangan dinamik equilibrium yang meliputi peningkatan dan penurunan respons. Setiap kondisi adaptasi baru dipengaruhi oleh tingkat adaptasi, sehingga dinamik equilibrium manusia berada pada tingkat yang lebih tinggi. Jarak yang besar dari stimulus dapat disepakati dengan suksesnya manusia sebagai sistem adaptif. Jadi peningkatan adaptasi mengarah pada tingkat-tingkat yang lebih tinggi pada keadaan sejahtera atau sehat.

CARA BERADAPTASI

  1. Berorientasi pada tugas

v  Misalnya :

ü  seseorang yang menghadapi kegagalan  kemungkinan bereaksi,

ü  penyesuaian diri berupa serangan (bekerja lebih keras) atau menghadapi secara terang-terangan,

ü  menarik diri dan tidak mau tau lagi (tidak berusaha),

ü  kompromi atau mengurangi keinginannya lalu memilih jalan tengah.

Reaksi tersebut menunjukkan langkah-langkah :
a.Mempelajari dan menentukan persoalan,
b.Menyusun alternatif penyelesaian,
c.Menentukan tindakan yang mempunyai kemungkinan besar akan    berhasil,
d.Bertindak,
e.Menilai hasil tindakan dan dapat mengambil langkah yang lain bila kurang memuaskan .

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN:

Adaptasi adalah proses dimana dimensi fisiologis dan psikososial berubah dalam berespon terhadap stress. Perubahan lingkungan merangsang seseorang untuk membuat respon adaptasi. Dalam beradaptasi,individu menggunakan mekanisme koping yang positif dan negatif.Kemampuan beradaptasi dipengaruhi oleh 3 komponen yaitu penyebab utama terjadinya perubahan,kondisi dan situasi yang ada dan keyakinan dan pengalaman dalam beradaptasi. Tiga elemen penting yang termasuk dalam Model Adaptasi adalah 1) manusia; 2) lingkungan; 3) sehat.

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://prasetijo.wordpress.com/2008/01/28/adaptasi-dalam-anthropologi/.

Diakses tanggal 31 Mei pukul 08.00 WIB.

  1. Arens, Alvin A, JK Loebbecke, 1995. Auditing. Adaptasi Amir Abadi Yusuf. Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat.
  2. Arikunto, Suharsimi, DR, 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

One World One Health

January 9th, 2012

Nama :Habyb Palyoga

NIM :1051301111089

                Indonesia sebenarnya telah menerapkan OWOH (one world one health) ini sejak tahun 1972 yaitu sejak ditanda tanganinya piagam kerja sama antara direktorat Jendral Peternakan Dep.Pertanian dengan direktorat Jendral Penyakit Menular Dep.Kesehatan no 226.9a/DDI/72 dan no 601/XIV/Piagam E tanggal 9 Agustus 1972 yang menyatakan penanggulangan zoonosis.(Drh.Mangkoe Sitepu,2010)

                Namun sayangnya untuk perkembangan selanjutnya sedikit demi sedikit peran dokter hewan dalam penanggulangan zoonosis semakin berkurang.Bahkan menurut dr.drh.Makoe Sitepu menyatakan “otoritas veteriner” telah tersingkirkan.Hal itu dibuktikan pada penanganan kasus flu burung (HPAI H5N1) dalam gerakan Avian Influenza dari 6 langkah penanggulangan hanya satu langkah yang berpihak pada kesehatan hewan.

                “dan tentu saja dalam melakukan fungsinya,dokter hewan harus bekerja sama dengan pihak-pihak terkait agar tujuan tersebut dapat terwujud”.(Drh.Analis W Wardana,2009).Namun di lain pihak,dr.Mawari menyatakan bahwa di bidang kesehatan manusia OWOH ini belum banyak diketahui apalagi dipahami dengan jelas.

                “OWOH (One world one Health) ini memang sudah biasa ditengah insan dokter hewan,namun ternyata tidak demikian dengan bidang ilmu/profesi yang lain.Sedangkan OWOH bertujuan membangun kesehatan komperehensif baik dari aspek lingkungan,hewan/ternak,dan kesehatan manusia.Namun sosialisasinya masih sangat kurang pada profesi selain dokter hewan.

                Kenyataan ini merupakan pekerjaan besar dan berat bagi dokter hewan Indonesia untuk dapat melakukan sosialisasi tentang OWOH pada bidang ilmu lain dan kemudian bekerjasama mewujudkannya.

                Jadi kesimpulannya OWOH (One World One Health) tidak akan terealisasi jika pihak-pihak yang terkait bekerja sendiri-sendiri,tidak mau tau dan egois dengan tugas masing-masing.Namun akun terealisasi jika dokter hewan,peternakan,ilmu lingkungan dll diskusi dan duduk bersama serta mendiskusikan kesehatan Indonesia demi tujuan kesejahteraan bersama dan cita-cita menciptakan senyuman dari setiap insan di dunia terutama Indonesia.

Viva Veteriner & Tenaga Medis seluruh Indonesia

Sumber :

  1. Operator FKH UGM.2010.One World One Health,Punya Siapa?.www.fkh.ugm.ac.id diakses pada tanggal 29 Desember 2010 jam 15.19 WIB.
  2. Wardana,Analis W.2009.Tiket Masuk untuk Dokter Hewan di Masa Mendatang.Koran PDHI;Malang
  3. www.emeraldinsight.com/1477.7266.htm .2000.Gender stratified in management the WHO.Diakses pada tanggal 29 Desember 2010 jam 14.00 WIB

LIMPA

January 6th, 2012

Disusun oleh :

  1. M. Alif Nur M                        115130101111066
  2. Visti Ajeng Naval       115130101111067
  3. Ika Dahlia                   115130101111069

LIMPA

Getah bening atau limfa berasal dari plasma darah yang keluar dari kapiler dan dialirkan oleh pembuluh limfa.

  • Pembuluh limfa yang berasal dari kepala, leher, dada, jantung, paru-paru dan lengan kanan akan bersatu menjadi pembuluh limfa kanan (ductus limfaticus dexter).
  • Adapun pembuluh limfa yang berasal dari bagian lainnya akan bersatu menjadi pembuluh limfa dada (ductus thorasicus) dan bermuara di vena bawah selangka.

Limpa adalahsebuah kelenjar berwarna ungu tua yang terletak di sebelah kiri abdomen di daerah hipogastrium kiri di bawah iga kesembilan, sepuluh dan sebelas. Limpa berdekatan dengan fundus dan permukaan luarnya menyentuh diafragma. Limpa menyentuh ginjal kiri, kelokan kolon di kiri atas dan ekor pankreas.

Limpa terdiri atas jalinan struktur jaringan ikat. Di antara jalinan-jalinan itu terbentuk isi limpa atau pulpa yang terdiri atass jaringan limfe dan sejumlah besar sel darah. Limpa dibungkus oleh kapsul yang terdiri atas jaringan kolagen dan elastik dan beberapa serabut otot halus. Serabut otot halus ini berperan-seandainya-sangat kecil bagi fungsi limpa manusia. Dari kapsul itu keluar tajuk-tajuk yang disebut trabekula yang masuk ke dalam jaringan limpa dan membaginya dalam beberapa bagian.

Pembuluh darah limpa masuk dan keluar melalui hilum yang berada di permukaan dalam. Pembuluh-pembuluh darah itu menuangkan isinya langsung ke dalam pulpa sehingga darahnya dapat bercampur dengan unsur-unsur limpa dan tidak seperti pada organ-organ lain yang dipisahkan oleh pembuluh darah. Disini tidak terdapat sistem kapiler biasa, tetapi darah langsung berhubungan dengan sel-sel limpa. Darah yang mengalir dalam limpa dikumpulkan lagi oleh sebuah sistem sinus yang bekerja seperti vena. Cabang-cabang ini bersatu dan membentuk vena limpa (vena lienalis). Vena ini membawa darahnya dari limpa masuk peredaran gerbang (peredaran portal) dan diantarkan ke hati.

Trabekula        : Jaringan ikat yang terdapat di dalam limpa

Pulpa Putih     : Pulpa putih di dalam limpa terdiri dari nodule limpa, arteri sentralis dan germinal center. Di sebut pulpa putih karena pada umumnya saat pewarnaan pusat germinal berwarna putih.

Pulpa Merah    : Pulpa merah terdiri dari jalur limpa dan sinus venosus. Disebut pulpa merah karena pada saat pewarnaan tampak berwarna merah

Spermatogenesis

January 4th, 2012

SPERMATOGENESIS

            Spermatogenesis merupakan peralihan dari bakal sel kelamin yang aktif membelah ke sperma yang masak serta menyangkut berbagai macam perubahan struktur yang berlangsung secara berurutan. Spermatogenesis berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur oleh hormone gonadtotropin dan testosterone

Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu :

1.Spermatocytogenesis

Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosit primer. Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer. Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.

2. Tahapan Meiois

Spermatosit I (primer) menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami meiosis I yang kemudian diikuti dengan meiosis II.

Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap terpisah, tapi masih berhubungan sesame lewat suatu jembatan (Interceluler bridge). Apabila dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap.

3. Tahapan Spermiogenesis

Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa masak. Dua spermatozoa akan membawa kromosom penentu jenis kelamin wanita “X”. Apabila salah satu dari spermatozoa ini bersatu dengan ovum, maka pola sel somatik manusia yang 23 pasang kromosom itu akan dipertahankan. Spermatozoa masak terdiri dari :

    1. Kepala (caput), tidak hanya mengandung inti (nukleus) dengan kromosom dan bahan genetiknya, tetapi juga ditutup oleh akrosom yang mengandung enzim hialuronidase yang mempermudah fertilisasi ovum.
    2. Leher (servix), menghubungkan kepala dengan badan.
    3. Badan (corpus), bertanggungjawab untuk memproduksi tenaga yang dibutuhkan untuk motilitas.
    4. Ekor (cauda), berfungsi untuk mendorong spermatozoa masak ke dalam vas defern dan ductus ejakulotorius.

Disusun oleh :

Yaya Dwi R.               ( 115130100111050 )              2011

Galih Bagus                ( 115130100111053 )              2011

Min Rahmatillah         ( 115130100111056 )              2011

SISTEM URINARIA & SISTEM LIMFATIK

January 2nd, 2012

SISTEM URINARIA

Sistem perkencingan atau sistem urinaria meliputi : Ginjal, vesika urinaria, ureter, kantung kemih, dan urethra.

Ginjal / Ren

Pada umumnya jumlah ginjal sepasang (dua buah) yang terdapat di dalam rongga perut, mempunyai bentuk menyerupai kacang buncis dengan hilus renalis yakni tempat masuknya pembuluh darah dan keluarnya ureter, mempunyai permukaan yang rata, kecuali pada sapi ginjalnya berlobus. Selubung ginjal (Ren) disebut kapsula ginjal, tersusun dari campuran jaringan ikat yakni serabut kolagen dan beberapa serabut elastis.

Struktur histologi ginjal pada berbagai jenis hewan piara tidak sama, sehingga bentuk ginjal dibedakan menjadi:

Ø Unilober atau unipiramidal : pada kelinci dan kucing mempunyai struktur histologi sama, yakni tidak dijumpai adanya percabangan pada kalik renalis, papila renalis turun ke dalam pelvis renalis, dan duktus papilaris bermuara pada kalik. Pada kuda, domba, kambing, dan anjing terjadi peleburan dari beberapa lobus, sehingga terbentuk papila renalis tunggal yang tersusun longitudinal.

Ø Multilober atau multipiramidal : bentuk ini dijumpai pada babi, sapi, dan kerbau. Lobus (piramid) dan papila renalis lebih dari satu jelas terlihat.

Fungsi ginjal :

1. Membuang sisa hasil metabolisme dengan cara menyaring dari darah berupa air seni (urin)

2. Mengatur kadar air, elektrolit tertentu serta berbagai bahan lain dari darah

3. Membuang bahan yang berlebihan atau tidak lagi dibutuhkan tubuh

4. Sebagai kelenjar endokrin (sel juksta-glomeruli dan makula densa) yang mengatur hemodinamika serta tekanan darah dengan menghasilhan zat renin.

5. Fungsi ginjal erat hubungannya dengan paru-paru dan kulit dalam mempertahankan volume dan komposisi darah terhadap beberapa zat tertentu. Pada darah zat tersebut mempunyai nilai ambang yang konstan, dan bila melebihi nilai ambang, maka zat tersebut dibuang melalui ginjal, paru-paru, maupun kulit.

Sinus renalis

Disusun atas :

1. Pelvis renal, dibentuk oleh kalik mayor dan kalik minor. Pelvis ini merupakan bagian atas ureter yang melebar.

2. Arteri, vena dan nervus.

3. Lemak dengan jumlah sedikit dan tidak dijumpai jaringan konektif.

Ginjal pada dasarnya dapat dibagi dua daerah, yaitu : Kortek (luar ) dan Medulla (dalam). Kortek meliputi daerah antara dasar malfigi piramid yang juga disebut piramid medula hingga ke daerah kapsula ginjal. Daerah kortek diantara piramid tadi membentuk suatu kolum disebut Kolum Bertini Ginjal. Pada potongan ginjal yang masih segar, daerah kortek terlihat bercak merah yang kecil (petikhie) yang sebenarnya merupakan kumpulan vaskuler khusus yang terpotong, kumpulan ini dinamakan renal korpuskle atau badan malphigi.

Kortek ginjal terdiri atas nefron pada bagian glomerulus, tubulus konvulatus proksimalis, tubulus konvulatus distalis. Sedangkan pada daerah medula dijumpai sebagian besar nefron pada bagian loop of Henle’s dan tubulus kolektivus. Setiap ginjal mempunyai satu sampai empat juta filtrasi yang fungsional dengan panjang antara 30-40 mm yang disebut nefron.

Renal Korpuskula

Renal korpuskula terdiri atas berkas kapiler glomeruli dan glomerulus yang dikelilingi oleh kapsula berupa epithel yang berdinding ganda disebut : Kapsula Bowman.

Dinding sebelah dalam disebut lapisan viseral sedangkan yang disebelah luar disebut lapisan pariental, yakni menerima cairan yang akan difiltrasi melalui dinding kapiler. Korpuskula renalis mempunyai katup vaskular dimana darah masuk ke arteriole aferent dan keluar melalui arteriole aferent.

Tubulus Konvulatus Prokimalis

Struktur ini merupakan segmen berkelok-kelok, yang bagian awal dari tubulus ini panjangnya dapat mencapai 14 mm dengan diameter 57-60 m. Tubulus konvulatus proksimalis biasanya ditemukan pada potongan melintang kortek yang dibatasi oleh epithel selapis kubis atau silindris rendah, dengan banyak dijumpai mikrovilli yang panjangnya bisa mencapai 1,2 m dengan jarak satu dengan yang lainnya 0.03 m. Karakteristik dari tubulus ini ditemukan apa yang disebut Brush Border, dengan lumen yang lebar dan sitoplasma epithel yang jernih.

Loop of Henle’s

Loop of Henle’s banyak dijumpai di daerah medula dengan diameter bisa mencapai 15 m. Loop of henle’s berbentuk seperti huruf “U” yang mempunyai segmen tebal dan diikuti oleh segmen tipis. Pada bagian desenden mempunyai lumen yang kecil dengan diameter 12 m panjang 1-2 mm, sedangkan bagian asenden mempunyai lumen yang agak besar dengan panjang 9 mm dengan diameter 30 m.

Epithel dari Loop of Henle’s merupakan peralihan dari epithel silindris rendah / kubus sampai squomus, biasanya pergantian ini terdapat di daerah sub kortikal pada medula, tapi bisa juga terjadi di daerah atas dari Loop of Henle’s.

Tubulus Konvulatus Distalis

Perbedaan struktur histologi dengan Tubulus Konvulatus proksimalis antara lain : Sel epithelnya besar, mempunyai brush border, lebih asidofil, potongan melintang pada tempat yang sama mempunyai epithel lebih sedikit, Tubulus Konvulatus distalis : Sel epithel lebih kecil dan rendah, tidak mempunyai brush border, kurang asidofil, lebih banyak epithel pada potongan melintang

Sepanjang perjalanan pada kortek, tubulus ini mengadakan hubungan dengan katup vaskuler badan ginjal dari nefronnya sendiri yakni dekat dengan anteriole aferent dan eferent. Pada tempat hubungan ini, tubulus distalis mengadakan modifikasi bersama dengan arteriola aferens. Segmen yang mengadakan modifikasi bersama dengan arteriola aferens. Segmen yang mengadakan modifikasi ini pada mikroskop cahaya tampak lebih gelap ini disebabkan dekatnya dengan inti disebut : Makula dense.

Fungsi Makula dense belum begitu jelas, tapi beberapa ahli mengatakan, fungsinya adalah sebagai penghantar data osmolaritas cairan dalam tubulus distal ke glomerulus. Pada makula dense yang dekat dengan arteriola aferent mengandung sel juksta glomerulus yaitu sel yang mempunyai bentuk epitheloid dan bukan sel otot polos dan ini mungkin merupakan modifikasi dari otot polos. Sel ini yang nantinya menghasilkan enzim renin. Hormon ini mengubah hipertensinogen menjadi hipertensin (angiotensin). Angiotensin mempengaruhi tunika media dari arteriola untuk berkontraksi, yang mengakibatkan tekanan darah menjadi naik.

Tubulus kolektivus

Tubulus kolektivus merupakan lanjutan dari nefron bagian tubulus konvulatus distalis dan mengisi sebagian besar daerah medula. Tubulus kolektivus bagian depan mempunyai lumen yang kecil berdiameter sekitar 40 m dengan panjang 20-22 mm. Lumennya dilapisi epithel kubis selapis, sedangkan tubulus kolektivus bagian belakangnya sudah berubah menjadi bentuk silindris dengan diameter 200 m, panjangnya mencapai 30-38 mm.

Sirkulasi Darah

Ginjal menerima darah dari arteria renalis yang masuk melalui hilus dan bercabang membentuk arteria interlobularis yang terletak antara piramid malpighi. Selanjutnya arteri ini bercabang lagi menjadi arteri arkuata dan bercabang lagi menjadi arteria interlobularis. Arteria Interlobularis bercabang lagi menjadi arteria aferent yang masuk ke glomerulus, selain itu ada juga arteri interlobularis melanjutkan diri menuju kapsula ginjal yang disebut arteri stelata.

Setelah darah mengalami filtrasi, maka akan keluar melalui arteriola eferent gromeruli. Cabang arteriol eferent akan memberikan makanan untuk tubulus dan daerah distal untuk kortek ginjal. Cabang arteriola eferent bersatu membentuk arteriola rekta, dari venula ini bersatu lagi menjadi vena interlobularis dan selanjutnya menjadi vena interlobularis yang akhirnya keluar ginjal melalui vena renalis. Pada manusia dengan berat badan ± 70 kg pada kedua buah ginjalnya dialiri darah sebanyak 1200 cc setiap menit

Histofisiologi Ginjal

Ginjal mempunyai fungsi yang sangat komplek, yakni sebagai filtrasi, absorpsi aktif maupun pasif, resorpsi dan sekresi. Total darah ke dua ginjal dapat mencapai 1200 cc/menit atau sebesar 1700 liter darah / hari. Semua ini akan difiltrasi oleh glomeruli dimana setiap menit dihasilkan 125 cc filtrat glomeruli atau 170 liter filtrat glomeruli setiap 24 jam pada ke dua ginjal. Dari jumlah ini beberapa bagian di resorpsi lagi keluar dari tubulus.

Pada tubulus konvulatus proksimalis dan distalis terjadi proses resorpsi dan ekskresi, dimana beberapa bahan seperti : glukosa dan sekitar 50 % natrium klorida dan sejumlah air di resorpsi oleh sel tubulus melalui absorbsi aktif yang memerlukan energi, sedangkan air berdifusi secara pasif. Selanjutnya filtrat glomeruli yang tidak mengalami resorpsi diteruskan ke distal sampai tubulus kolektivus. Pada daerah ini terjadi pemekatan urin atau pengenceran terakhir tergantung dari keadaan cukup tidaknya anti-diuretik hormon (ADH). Hormon ini berpengaruh terhadap permeabilitas tubulus kolektivus terhadap air.

Pelvis Renalis

Pada hilus renalis terdapat pelvis renalis yang menampung urin dari papila renalis. Pada ginjal yang multi-piramid urin pertama ditampung oleh kaliks renalis kemudian dari sini baru ke pelvis renalis.

Bangun histologinya adalah sebagai berikut : Mukosa memiliki epithel peralihan dengan sel payung, mulai dari kaliks renalis, tebal epithel hanya 2 sampai 3 sel. Dengan mikroskop cahaya tidak tampak adanya membran basal tetapi dengan EM tampak membrana basalis yang sangat tipis. Propria mukosa terdiri atas jaringan ikat longgar dan pada kuda terdapat kelenjar yang agak mukus.

Bentuk kelenjar adalah tubulo-alveolar. Tunika muskularis terdiri atas otot polos, jelas pada kuda, babi dan sapi. Lapis dalam tersusun longitudinal dan lapis luar sirkuler. Pada hewan lain otot relatif sedikit, pada kalises renalis otot relatif sedikit, tetapi pada daerah permulaan ureter membentuk semacam sphinter. Tunika adventitia terdiri dari jaringan ikat longgar dengan banyak sel lemak, pembuluh darah, pembuluh limfe serta saraf.

2. URETER

Ureter adalah saluran tunggal yang menyalurkan urine dari pelvis renalis menuju vesika urinaria (kantong air seni). Mukosa membentuk lipatan memanjang dengan epithel peralihan, lapisan sel lebih tebal dari pelvis renalis. Tunika propria terdiri atas jaringan ikat dimana pada kuda terdapat kelenjar tubulo-alveolar yang bersifat mukous, dengan lumen agak luas. Tunika muskularis tampak lebih tebal dari pelvis renalis, terdiri dari lapis dalam yang longitudinal dan lapis luar sirkuler, sebagian lapis luar ada yang longitudinal khususnya bagian yang paling luar. Dekat permukaan pada vesika urinaria hanya lapis longitudinal yang nampak jelas.

Tunika adventisia terdiri atas jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf, ganglia sering terdapat didekatnya. Selama urine melalui ureter komposisi pokok tidak berubah, hanya ditambah lendir saja.

Dinding ureter terdiri atas beberapa lapis, yakni:

  1. Tunika mukosa :

lapisan dari dalam ke luar sebagai berikut :

· Epithelium transisional : pada kaliks dua sampai empat lapis, pada ureter empat sampai lima lapis, pada vesica urinaria 6-8 lapis.

· Tunika submukosa tidak jelas

· Lamina propria beberapa lapisan

· Luar jaringan ikat padat tanpa papila, mengandung serabut elastis dan sedikit noduli limfatiki kecil, dalam jaringan ikat longgar

· Kedua-dua lapisan ini menyebabkan tunika mukosa ureter dan vesika urinaria dalam keadaan kosong membentuk lipatan membujur.

2. Tunika muskularis : otot polos sangat longgar dan saling dipisahkan oleh jaringan ikat longgar dan anyaman serabut elastis. Otot membentuk tiga lapisan : stratum longitudinale internum, stratum sirkulare dan stratum longitudinale eksternum

3. Tunika adventisia : jaringan ikat longgar

VESIKA URINARIA

Kantong air seni merupakan kantong penampung urine dari kedua belah ginjal Urine ditampung kemudian dibuang secara periodik.

Struktur histologi :

1. Mukosa, memiliki epithel peralihan (transisional) yang terdiri atas lima sampai sepuluh lapis sel pada yang kendor, apabila teregang (penuh urine) lapisan nya menjadi tiga atau empat lapis sel.

2. Propria mukosa terdiri atas jaringan ikat, pembuluh darah, saraf dan jarang terlihat limfonodulus atau kelenjar. Pada sapi tampak otot polos tersusun longitudinal, mirip muskularis mukosa.

3. Sub mukosa terdapat dibawahnya, terdiri atas jaringan ikat yang lebih longgar.

4. Tunika muskularis cukup tebal, tersusun oleh lapisan otot longitudinal dan sirkuler (luar), lapis paling luar sering tersusun secara memanjang, lapisan otot tidak tampak adanya pemisah yang jelas, sehingga sering tampak saling menjalin. Berkas otot polos di daerah trigonum vesike membentuk bangunan melingkar, mengelilingi muara ostium urethrae intertinum. Lingkaran otot itu disebut m.sphinter internus.

5. Lapisan paling luar atau tunika serosa, berupa jaringat ikat longgar (jaringan areoler), sedikit pembuluh darah dan saraf

URETRA

Berupa saluran yang menyalurkan urine dari kantong seni keluar tubuh. Pada hewan jantan akan mengikuti penis, sedangkan pada hewan betina mengikuti vestibulum.

Sistem Urinaria pada Unggas

Beberapa perbedaan dengan mamalia tampak jelas antara lain :

1. Bentuk ginjal yang agak komplek, terdiri atas tiga sampai empat lobus

2. Tidak memiliki vesika urinaria dan urethra jadi urine dari ureter langsung masuk kloaka (urodeum)

3. Urine yang dihasilkan agak kental, sedangkan pada mamalia bersifat lebih cair.

4. Pada ayam terdapat sepasang ginjal multilober yang erat hubungannya dengan kilumna vertebralis dan ilia, terletak pada bagian kaudal dari paru-paru. Warnanya kecoklatan dan konsistensinya lunak sehingga mudah rusak pada proses pengeluaran dari tempatnya.

Ginjal

Bagian paling luar adalah kapsula, serabut halus keluar dari kapsula menyisip parenkhim ginjal bersama pembuluh darah. Renal tubulus dianggap identik dengan nefron pada mamalia. Terdiri atas :

a.  Korpuskuli renalis dengan glomeruli relatif lebih kecil dari mamalia.

b. Tubuli kontorti proksimalis, memepunyai epithel kubis dengan brush border, inti ditengah dan sitoplasma berbutir halus, diduga butiran urat.

c. Jerat henle memiliki epithel sama, namun tidak memiliki brush border, tetapi pada sitoplasma terdapat vakuola.

d. Tubuli konturti distalis memiliki lumen lebih luas, epithelnya lebih pucat dan berbentuk kubis.

e. Alat penyalur mulai dari duktuli koligentes dengan epithel kubis, terus ke duktus Bellini dan akhirnya masuk ureter.

Ureter

Selaput lendir ureter membentuk lipatan memanjang (longitudinal) dengan epithel banyak baris. Pada tunika propria sebagaimana pada bangsa burung banyak ditemukan limfosit.

Tunika muskularis terdiri atas otot polos, lapis terluar adalah adventitia. Ureter sebelum memasuki ginjal bercabang menuju lobus. Ureter sebenarnya pendek dan lurus, bermuara kedalam uredeum medial dari duktus deferens pada hewan jantan, dan medial dari oviduktus pada hewan betina.

 

SISTEM LIMFATIK

 Thymus

Kelenjar Thymus terletak di bawah tulang dada yang ukurannya sangat besar pada usia anak anak dan menjadi seperempat dari ukurannya ketika kita tumbuh dewasa.

Thymus merupakan organ yang terletak dalam mediastinum di depan pembuluh-pembuluh darah besar yang meninggalkan jantung, yang termasuk dalam organ limfoid primer. Thymus merupakan satu-satunya organ limfoid primer pada mamalia yang tampak dan merupakan jaringan limfoid pertama pada embrio sesudah mendapat sel induk dari saccus vitellinus. Limfosit yang terbentuk mengalami proliferasi tetapi sebagian akan mengalami kematian, yang hidup akan masuk ke dalam peredaran darah sampai ke organ limfoid sekunder dan mengalami diferensiasi menjadi limfosit T. Limfosit ini akan mampu mengadakan reaksi imunologis humoral. Geminal centers tidak terdapat di organ ini.

I.GambaranHistologis
Tiap lobulus dibungkus dalam kapsel jaringan pengikat longgar yang tipis dan melanjutkan diri ke dalam membagi lobus menjadi lobuli dengan ukuran 0,5 – 2 mm. Jaringan parenkim thymus terdiri dari anyaman sel-sel retikuler saling berhubungan tanpa adanya jaringan pengikat lain, diantara sel retikuler terdapat limfosit. Sel retikulernya berbentuk stelat seperti didalam nodus lymphaticus dan lien, tetapi berasal dari endoderm. Hubungan ini lebih jelas di daerah medulla sampai membentuk struktur epitel yang disebut corpuskulum hassalli (thymic corpuscle). Masing-masing lobus terdiri dari cortex dan medulla.

a.Cortex
Limfosit dihasilkan di daerah cortex sehingga sebagian besar populasi sel di cortex adalah limfosit dari berbagai ukuran. Hubungan antara sel retikuler terlihat dengan M.E. sebagai desmosom, sel retikuler epitelnya adalah sel stelat dengan inti oval yang berwarna pucat dan berukuran 7-11 mikron. Limfosit besar banyak terdapat di bagian perifer dan makin kedalam jumlah limfosit kecil makin bertambah, sehingga cortex bagian dalam sangat padat oleh limfosit kecil. Dalam cortex terjadi proses proliferasi dan degenerasi, dan terdapat makrofag yang walaupun sedikit merupakan penghuni tetap dalam cortex. Kadang-kadang juga ditemukan sedikit plasmasit dalam parenkim.

b.Medulla
Pada medulla, banyak terdapat sel retikuler dengan berbagai bentuk, kadang mempunyai tonjolan dan kadang tidak mempunyai tonjolan sitoplasma. Ada pula sel retikuler yang berbentuk gepeng dan tersusun konsentris membentuk corpusculum Hassali. Sel-selnya berhubungan sebagai desmosom. Bagian tengahnya mengalami degenerasi dan kadang-kadang kalsifikasi. Limfosit terdapat tidak begitu banyak dan hanya dari jenis bentuk kecil. Perbedaan dengan limfosit cortex karena bentuk yang tidak teratur dengan sitoplasma lebih banyak. Dalam medulla terdapat jenis sel lain dalam jumlah kecil seperti makrofag dan eosinofil.

II. Pembuluh Darah

Cortex mendapat darah sebagai anyaman kapiler yang dipercabangkan dari arteriola yang terdapat di perbatasan cortex dan medulla. Hanya terdapat sedikit perpindahan makromolekul dari darah ke parenkim melintasi dinding kapiler cortex, sedang di medulla pembuluh darah lebih permeabel. Maka, limfosit dalam cortex dilindungi terhadap pengaruh makromolekul dengan adanya blood-thymus barier. Pembuluh limfe terdapat di jaringan pengikat penyekat lobulus.

III.Histogenesis
Thymus berasal dari dua tonjolan epitel endoderm saccus brachialis III. Mula-mula penonjolan ini memiliki lumen yang berhubungan dengan pharynx, dengan adanya proliferasi epitel dindingnya, lumen akan terisi oleh sel-sel yang juga mengadakan invasi diantara sel-sel jaringan mesenkim di sekelilingnya. Pada umur enam minggu akan muncul limfosit yang makin lama makin bertambah dan parenkim akan mengubah sel-sel stelat yang dihubungkan oleh desmosom. Medulla terjadi kemudian di daerah dalam.

IV.Involusi
Proses invulsi disebut sebagai age invultion, dimulai sejak masa kanak-kanak. Proses tersebut dapat dipercepat sebagai akibat berbagai rangsangan, misalnya penyakit, stress, kekurangan gizi, toksis atau ACTH, proses ini disebut sebagai accidental involution. Pada binatang percobaan akan terjadi experimental involution yang dapat diikuti regenerasi yang intensif. Thymus mengalami involusi secara fisiologis dengan perlahan-lahan. Cortex menipis, produksi limfosit menurun sedang parenkim mengkerut diganti oleh jaringan lemak yang berasal dari jaringan pengikat interlobuler.

V.Histofisiologis
Limfosit sangat penting untuk perkembangan, karena adanya sejenis limfosit yang bertanggungjawab atas penolakan jaringan cangkok, delayed hypersensitvity, reaksi terhadap fungsi mikroorganisme dan virus tertentu. Limfosit T tidak melepaskan anmtibodi yang biasa tetapi diperlukan untuk membantu reaksi humoral oleh limfosit B. Limfosit thymus baru bersifat imunokompeten apabila sudah berada di luar thymus. Apabila sel induk telah sampai ke thymus, maka akan berubah menjadi limfosit thymus dan mulai berproliferasi. Limfosit besar akan berproliferasi di cortex tepi memberikan limfosit kecil yang berkelompok di cortex sebelah dalam. Proliferasi di thymus tidak dipengaruhi oleh antigen yang berbeda dengan di limfosit di organ limfoid perifer, denganh adanya blood thymus barrier.
Limfosit yang meninggalkan thymus akan menuju organ limfoid perifer untuk berkumpul di daerah yang dibawah pengaruh thymus (thymus depending regions) yaitu cortex bagian dalam nodus lymphaticus, selubung limfoid periarterial di lien, daerah antara nodulus lymphaticus tonsilla, plaques Peyeri dan appendiks.

Disusun oleh :

BISMI RIZKA YUNIAR                              115130107111033

APRILIA RATIH I.T.S                                 11513010711103

ANIS JAYANTI                                            115130113111004

KELAS : C

HIPERSENSITIFITAS

December 30th, 2011

 Pengertian

Hipersensitifitas merupakan peningkatan reaktifitas atau sensitifitas terhadap antigen yang pernah dipanjakan atau dikenal sebelumnya (Ratna Sitompul,2009).

Hipersensitifitas (atau reaksi hipersensitiftas) adalah reaksi berlebihan,tidak diinginkan (merusak,menghasilakan ketidaknyamanan,dan terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem kekebalan normal (Abdul Gafar,2010)

Pembagian Reaksi Hipersensitifitas

                Reaksi hipersensitiftas dapat dibagi menjadi 2 bagian,antara lain : reaksi hipersensitiftas menurut waktu timbulnya reaksi (Reaksi cepat,reaksi intermediet dan reaksi lambat) dan reaksi hipersensitifitas menurut Gell dan Coombs (Tipe I,Tipe II,Tipe II dan Tipe IV).

A.Reaksi Hipersensitiftas Menurut Waktu Timbulnya Reaksi

Menurut waktu timbulnya,reaksi hipersensitiftas terdiri dari 3 bagian yaitu : reaksi cepat,reaksi intermediet dan reaksi lambat.

1.Reaksi Cepat 

Reaksi yang terjadi dalam hitungan detik,menghilang dalam waktu 2 jam. Ikatan silang antara alergen dan IgE pada permukaan sel mast menginduksi pelepasan mediator vasoaktif.Manifestasi reaksi cepat berupa anafilaksis sistemik atau anafilaksis lokal.

2.Reaksi Intermediet

                Reaksi intermediet terjadi setelah beberapa jam dan akan menghilang dalam 24 jam. Reaksi ini melibatkan pembentukan kompleks imun IgG dan kerusakan jaringan melalui aktifitas komplemen dan atau sel NK/ADCC.Manifestasi reaksi intermediet dapat berupa :

                i.Reaksi transfusi darah,eritroblastosis fetalis dan anemia hemolitik autoimun.

ii.Reaksi Arthus lokal dan reaksi sistemik seperti serum sickness,vaskuilitis nekrotis,glomerulonefritis,artritis reumatoid dan LES.

3.Reaksi Lambat

                Reaksi lambat terlihat sampai sekitar 48 jam setelah pajanan dengan antigen yang terjadi oleh aktifitas sel Th. Pada DTH,sitokin yang dilepas sel T mengaktifkan sel efektor makrofag yang menimbulkan kerusakan jaringan.

                B.Reaksi Hipersensitifitas Menurut Gell dan Coombs

                Menurut Robert Coombs dan Philip HH Gell (1963),reaksi hipersensitiftas dibagi menjadi 4 tipe reaksi yaitu tipe I,tipe II,tipe III dan tipe IV.

Tipe I

Tipe II

Tipe III

Tipe IV

Reaksi IgE

Reaksi Sitotoksik (IgG atau IgM)

Reaksi Kompleks Imun

Reaksi Selular

Ikatan silang antara antigen dan IgE yang diikat sel mast dan basofil melepas mediator vasoaktif Ab terhadap antigen permukaan sel menimbulkan destruksi sel dengan bantuan komplemen atau ADCC Komplemen Ag-Ab mengaktifkan komplemen dan respons inflamasi melalui infiltrasi masif neutrofil Sel Th1 yang disen- sitasi melepas sitokin yang mengaktifkan makrofag atau sel Tc yang berperan dalam kerusakan jaringan. Sel Th2 dan Tc menimbulkan respon.
Manifestasi khas : anafilaksis sistemik dan lokal seperti rinitis,asma,urtikaria,alergi makanan dan ekzem Manifestasi khas : reaksi transfusi,eritroblastosis fetalis,anemia hemolitik autoimun Manifestasi khas : reaksi lokal seperti arthus dan sistemik seperti serum sickness,vaskulitis dengan nekrosis,glomerulonefritis, Ar dan LES Manifetasi khas : dermatitis kontak,lesi tuberkulosis dan penolakan tandur.

(Ratna Sitompul,2009)

Hipersensitifitas Gell dan Coombs Tipe I (disebut juga reaksi cepat)

Hipersensitifitas tipe I yaitu respon imun dimediasi oleh sel TH2, antigen IgE, dan sel mast yang pada akhirnya akan mengeluarkan mediator inflamasi. Tipe 1 ini merupakan suatu respon yang cepat setelah terjadi interaksi antara alergen dengan antibodi IgE yang sebelumnya berikatan pada permukaan sel mast dan basofil pada bakteri yang tersensitasi. Bergantung pada jalan masuknya, hipersensitifitas tipe 1 dapat terjadi sebagai reaksi lokal yang berpuncak pada suatu gangguan sistemik yang fatal (anafilaksis). Mekanisme dari immediate hipersensitifity sendiri sebagai berikut:

Antigen yang berasal dari lingkungan à terdiferensiasi dan polimerasi dari CD4 dan TH2 àIgM à switching antibody à IgE à berikatan dengan reseptor fc pada sel mast dan basophils à berikatan lagi dengan reagen à sel mast aktif à Sel mast melepaskan mediator.

 

Urutan kejadian reaksi hipersenstifitas tipe 1 adalah sebagai berikut :

  • Fase sensitasi

Yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE samapi diikatnya oleh reseptor spesifik (Fc-R) pada permukaan sel mast dan basofil.

  • Fase aktivasi

Yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik dan sel mast melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi.

  • Fase efektor

Yaitu waktu terjadi respons yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator-mediator yang dilepas sel mast dengan aktivitas farmakologik.

Banyak reaksi tipe 1 yang terlokalisasi mempunyai dua tahap yang dapat ditentukan secara jelas:

  • Respon awal, diatandai dengan vasodilatasi, kebocoran vascular, dan spesme otot polos, yang biasanya muncul dalam rentang waktu 5 hingga 30 menit stelah terpajan oleh allergen dan menghilang setelah 60 menit.
  • Reaksi fase lambat, yang muncul 2 hingga 8 jam kemudian dan berlangsung selama beberapa hari. Reaksi fase lambat ini ditandai dengan infiltrasi eosinofil serta sel radang akut dan kronis lainnya yang lebih hebat pada jaringan dan juga ditandai dengan penghancuran jaringan dalam bentuk kerusakan sel epitel mukosa.

Mediator Primer

Setelah pemicuan IgE,  mediator primer (praformasi) di dalam granula sel mast dilepaskan untuk memulai tahapan awal reaksi hipersensitivitas tipe 1. Histamin, yang merupakan mediator praformasi terpenting, menyebabkan meningkatnya permeabilitas vascular, vasodilatasi, bronkokonstriksi, dan meningkatnya sekresi mukus. Mediator lain yang segera dilepaskan meliputi adenosine (menyebabkan bronkokonstriksi dan menghambat agregasi trombosit) serta factor kemotaksis untuk neutrofil dan eosinofil. Mediator lain ditemukan dalam matriks granula dan meliputi heparin serta protease netral (misalnya triptase). Protease menghasilkan kinin dan memecah komponen komplemen untuk menghasilkan factor kemotaksis dan inflamasi tambahan (misalnya), C3a).

Mediator Sekunder

Mediator ini mencakup dua kelompok senyawa : mediator lipid dan sitokin. Mediator lipid dihasilkan melalui aktivasi fosfolipase A­­2, yang memecah fosolipid membrane sel mast untuk menghasilkan asam arakhidonat. Selanjutnya, asam arakhidonat merupakan senyawa induk untuk menyintesis leukotrien dan prostaglandin.

  • Leukotrien berasal dari hasil kerja 5-lipooksigenase pada precursor asam arakhidonat dan sangat penting dalam pathogenesis hipersensitivitas tipe 1. Leukotrien tipe C4 dan D4 merupakan vasoaktif dan spasmogenik yang dikenal paling poten; pada dasar molar, agen ini ada beberapa ribu kali lebih aktif daripada histamin dalam meningkatkan permeabilitas vaskular dan dalam menyebabkan kontraksi otot polos bronkus. Leukotrien B4 sangat kemotaktik untuk neutrofil, eosinofil dan monosit.
  • Prostaglandin D2 adalah mediator yang paling banyak dihasilkan oleh jalur siklooksigenasi dalam sel mast. Mediator ini menyebabkan bronkospasme hebat serta meningkatkan sekresi mucus.
  • Faktor pengaktivasi trombosit merupakan mediator sekunder lain, mengakibatkan agregasi trombosit, pelepasan histamin, dan bronkospasme. Mediator ini juga bersifat kemotaktik untuk neutrofil dan eosinofil. Meskipun produksinya diawali oleh aktivasi fosfolipase A2, mediator ini bukan produk metabolism asam arakhidonat.
  • Sitokin yang diproduksi oleh sel mast (TNF, IL-1, IL-4, IL-5, dan IL-6) dan kemokin berperan penting pada reaksi hipersensitivitas tipe 1 melalui kemampuannya merekrut dan mengaktivasi berbagai macam sel radang. TNF merupakan mediator yang sangat poten dalam adhesi, emigrasi, dan aktivasi leukosit. IL-4 juga merupakan faktor pertumbuhan sel mast dan diperlukan untuk mengendalikan sintesis IgE oleh sel B.

Hipersensitifitas Tipe II atau sitotoksik atau sitolitik

                Reaksi ini terjadi karena dibentuknya antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel inang.Reaksi diawali dengan reaksi antara antibodi dan determinan antigen yang merupakan bagian dari membran sel.Reaksi selanjutnya tergantung kepada komplemen dan molekul aksesorisnya. Contoh : Aktifasi komplemen ikatan C3b à opsonisasi fagositosis yang akan menimbulkan anemia hemolitik

                Secara sederhana,Hipersensitiftas tipe II ada tiga jenis :

  1. Opsonization dan phagositosis

Mekanismenya : Antigen terdeteksi à aktfifasi ikatan C3b oleh komplemen à terjadi ikatan antara sel fagosit dengan antigen à sel mengalami opsonisasi à phagositosis

  1. Complement dan Fc receptor – mediated inflamation

 

 

Mekanismenya : Antigen berikatan dengan FC receptor dan Komplemen à Terproduksinya C5a dan C3a à Neutrophil teraktifasi à Terjadi inflamasi dan jaringan injury.

  1. Respon fisiology tidak normal

Mekanismenya : Antigen à antibody à antibody abnormal à menempel pada sel/protein lain à abnormalitas pada sel/protein yang diikat.

Hipersensitifitas Tipe III atau kompleks imun

                Dalam keadaan normal kompleks imun dalam sirkulasi diikat dan diangkut eritrosit ke hati,limpa dan di sana dimusnahkan oleh sel fagosit mononuklear,terutama di hati,limpa dan paru tanpa bantuan komplemen.

Reaksi tipe III mempunyai 2 bentuk reaksi yaitu lokal dan sistemik. Reaksi lokal atau fenomena Arthus yaitu keadaan normal di atas mengalami sedikit penyimpangan dimana sel fagosit menempel pada bagian endotel vascular dan bermigrasi ke jaringan kompleks imun diendapkan.Reaksi yang timbul berupa kerusakan jaringan lokal dan vaskular akibat akumulasi cairan (edem) dan SDM (eritema) sampai nekrosis.Sedangkan reaksi sistemik atau serum sickness serupa dengan reaksi lokal tapi reaksi ini terjadi karena injeksi protein heterolog atau asing atau serum.Reaksi ini merupakan reaksi sekunder untuk pemberian obat nonprotein.

Hipersensitifitas Tipe IV atau reaksi seluler

Pada reaksi hipersensitivitas tipe I, II dan III yang berperan adalah antibodi (imunitashumoral), sedangkan pada tipe IV yang berperan adalah limfosit T atau dikenal sebagai imunitasseluler. Imunitas selular merupakan mekanisme utama respons terhadap berbagai macammikroba, termasuk patogen intrasel seperti Mycobacterium tuberculosis dan virus, serta agenekstrasel seperti protozoa, fungi, dan parasit. Namun, proses ini juga dapat mengakibatkankematian sel dan jejas jaringan, baik akibat pembersihan infeksi yang normal ataupun sebagairespons terhadap antigen sendiri (pada penyakit autoimun).  Hipersensitivitas tipe IV diperantarai oleh sel T tersensitisasi secara khusus bukan antibodi dan dibagi lebih lanjutmenjadi dua tipe dasar:

  • hipersensitivitas tipe lambat, diinisiasi oleh sel T CD4+,
  • sitotoksisitas sel langsung, diperantarai oleh sel T CD8+.
  •  Pada hipersensitivitas tipe lambat, selT CD4+ tipe T

 menyekresi sitokin sehingga menyebabkan adanya perekrutan sel lain, terutamamakrofag, yang merupakan sel efektor utama. Pada sitotoksisitas seluler, sel T CD8+ sitoksik menjalankan fungsi efektor. Contoh klasik DTH adalah reaksi tuberkulin. Delapan hingga 12 jam setelah injeksituberkulin intrakutan, muncul suatu area eritema dan indurasi setempat, dan mencapai puncaknya (biasanya berdiameter 1 hingga 2 cm) dalam waktu 24 hingga 72 jam (sehinggadigunakan kata sifat delayed [lambat/ tertunda]) dan setelah itu akan mereda secara perlahan.secara histologis , reaksi DTH ditandai dengan penumpukan sel helper-T CD4+ perivaskular (“seperti manset”) dan makrofag dalam jumlah yang lebih sedikit. Sekresi lokalsitokin oleh sel radang mononuklear ini disertai dengan peningkatan permeabilitasmikrovaskular, sehingga menimbulkan edema dermis dan pengendapan fibrin; penyebab utamaindurasi jaringan dalam respons ini adalah deposisi fibrin. Respons tuberkulin digunakan untuk menyaring individu dalam populasi yang pernah terpejan tuberkulosis sehingga mempunyai sel Tmemori dalam sirkulasi. Lebih khusus lagi, imunosupresi atau menghilangnya sel T CD4+(misalnya, akibat HIV) dapat menimbulkan respons tuberkulin yang negatif, bahkan bila terdapatsuatu infeksi yang berat.

Granulomatosa adalah bentuk khusus DHT yang terjadi pada saat antigen bersifat persisten dan/ atau tidak dapat didegradasi. Infiltrate awal sel T CD4+ perivaskular secara progresif digantikan oleh makrofag dalam waktu 2 hingga 3 minggu; makrofag yangterakumulasi ini secara khusus menunjukkan bukti morfologis adanya aktivitas, yaitu semakinmembesar , memipih, dan eosinofilik (disebut sebagai sel epiteloid ). Sel epiteloid kadang kadang bergabung di bawah pengaruh sitokin tertentu (misalnya, IFN-γ) untuk membentuk suatu sel raksasa ( giant cells) berinti banyak. Suatu agregat mikroskopis sel epiteloid secara khususdikelilingi oleh lingkaran limfosit, yang disebut granuloma, dan polanya disebut sebagai inflamasi granulomatosa. Pada dasarnya, proses tersebur sama dengan proses yang digambarkanuntuk respons DHT lainnya. Granuloma yang lebih dahulu terbentuk membentuk suatu sabuk rapat fibroblast dan jaringan ikat. Pengenalan terhadap suatu granuloma mempunyai kepentingandiagnostik karena hanya ada sejumlah kecil kondisi yang dapat menyebabkannya.

Sitotoksisitas Yang Diperantarai Sel T

Pada pembentukan hipersensitivitas tipe IV ini, sel T CD8+ tersensitisasi membunuh seltarget yang membawa antigen. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, molekul MHC tipe I berikatan dengan peptida virus intrasel dan menyajikannya pada limfosit T CD8+. Sel efektor CD8+, yang disebut limfosit T sitotoksik (CTL,cytotoxic T-lymphocytes), yang berperan pentingdalam resistensi terhadap infeksi virus. Pelisisan sel terinfeksi sebelumnya terjadi replikasi virusyang lengkap pada akhirnya menyebabkan penghilangan infeksi. Diyakini bahwa banyak peptidayang berhubungan dengan tumor muncul pula pada permukaan sel tumor sehingga CTL dapat pula terlibat dalam imunitas tumor.Telah terlihat adanya dua mekanisme pokok pembunuhan oleh sel CTL: (1) pembunuhanyang bergantung pada perforin-granzim dan (2) pembunuhan yang bergantung pada ligan Fas-Fas. Perforin dan granzim adalah mediator terlarut yang terkandung dalam granula CTL, yangmenyerupai lisosom. Sesuai dengan namanya, perforin melubangi membran plasma pada seltarget; hal tersebut dilakukan dengan insersi dan polimerisasi molekul perforin untuk membentuk suatu pori. Pori-pori ini memungkinkan air memasuki sel dan akhirnya menyebabkan lisiosmotik. Granula limfosit juga mengandung berbagai protease yang disebut dengan granzim, yang dikirimkan ke dalam sel target melalui pori-pori perforin. Begitu sampai ke dalamsel, granzim mengaktifkan apoptosis sel target. CTL teraktivasi juga mengeluarkan ligan Fas (suatumolekul yang homolog dengan TNF), yang berikatan dengan Fas pada sel target. Interaksi inimenyebabkan apoptosis. Selain imunitasvirus dan tumor, CTL yang diarahkann untuk melawanantigen histokompatibilitas permukaan sel juga berperan penting dalam penolakan graft.

Autoimun desease

adalah  Salah satu keabnormalan dari sistem imun karena adanya suatu kesalah mekanisme dari sistem imun yang tidak mampu mengenali patogen dan kompleks imun itu sendiri (self tolerance).

KTM-mu jelek?

December 29th, 2011

Teman-teman,khususnya angkatan 2010. Katanya separuh dari KTM kita merupakan ‘produk gagal’,alias kualitasnya bukan yang terbaik. Jadi sangat rawan rusak jika menyimpannya asal-asalan,apalagi terkena air dan selalu digunain buat promosi dan kampanye kemarin. Pasti membuatnya lusuh dan sangat jelek. Apalagi badan KTM sama plastik pembungkusnya berpisah,sehingga tidak ada manfaatnya lagi. Boro-boro untuk meminjam buku di perpus,buat masuk perpus saja,barcodenya sudah tidak terdeteksi lagi.

Kartu Tanda Mahasiswa atau KTM merupakan salah satu pengenal yang dikeluarkan instansi khususnya mahasiswa dalam mengidentifikasi mahasiswa yang bersangkutan,selain itu di Universitas Brawijaya juga dimanfaatkan sebagai pass masuk perpustakaan,syarat peminjaman buku dan lain-lain.

Rusaknya KTM berarti aktifitas mahasiswa akan suram karena tidak bisa menikmati fasilitas-fasilitas yang seharusnya gratis tersebut,terutama peminjaman buku yang sangat vital bagi mahasiswa.

Berikut cara mengubah KTM jelekmu menjadi kinclong lagi (Khusus mahasiswa Brawijaya) :

  1. Bawa KTM jelekmu ke Gedung Rektorat lantai 2
  2. Dari lift utama belok kiri dan terus sampai ke ruangan pembuatan KTM
  3. Masuk ke ruangan tersebut,dan sebutkan keluhanmu.
  4. Setelah itu,staf yang profesional akan mengganti KTMmu dengan yang baru dan semuanya FREE!!!
  5. Selesai,dan pulang

Tapi bagaimana KTM yang hilang?

Kalau KTMmu ilang,maka harus melengkapi beberapa persyaratan,yaitu surat keterangan dari polisi,surat dari akademik dan lain-lain,kemudian kamu harus membayar Rp.75.000 untuk membuatnya. Jangan harap dapat gratis… 😛

Tips menjaga KTM agar awet :

  1. Usahakan simpan di tempat kartu / card wallet
  2. Kalau terpaksa meletakkan di dompet,carilah celah yang agak lapang dan mulus,agar sewaktu menariknya keluar tidak bergesekan dulu sehingga akan membuat tintanya dan plastik pembungkusnya pudar dan rusak.
  3. Jauhkan dari api,air
  4. Jangan gunakan ktmmu sebagai cantolan,
  5. Kurangi memanfaatkan KTM untuk hal yang tidak bermanfaat,seperti mengumpulkan KTM sebagai pendukung organisasi lain.
  6. Jangan pinjamkan KTMmu ke siapapun juga
  7. Jangan dihilangkan! hahaha
  8. Yang penting,niatkan menyimpannya dengan baik

Mudah-mudahan membantu 🙂

www.blog.ub.ac.id/habybpalyoga

KEDOKTERAN HEWAN JUARA UMUM II DI AJANG GFT 2011

December 28th, 2011

Budaya Tradisional

Kamis lalu (15/12/11),Program Kedokteran Hewan berhasil meraih juara dua umum di ajang Gebyar Festival Tari (GFT) di Samantha Krida Universitas Brawijaya.Acara bergengsi ini diikuti oleh seluruh fakultas (13 fakultas) yang ada di UB dalam rangka mempertahankan budaya leluhur khususnya di dalam dunia tari.

Peringkat satu umum diraih oleh Fakultas Teknology Pertanian (FTP) kemudian menyusul PKH dengan ‘Nilon’nya yang mempesona juri. Nilon mengisahkan tentang kecantikan atau ketampanan seseorang tidak diukur dari luarnya saja tapi juga dilihat dari hatinya. Sak ayu ayune manungso,yendarbeni sifat lan tindak laku kang orang becik,panggah katon ala tumrap wong liyo,tumilon ora mung gawe niloning ati.Keindahan,keelokan dan keanggunan hanyalah maya.

Peringkat ini diraih Karena berhasil masuk dalam dua nominasi ,yaitu koreografer terbaik dan penampilan panggung terbaik. Nilon dikoreografikan oleh Reka Ayu P. dan Ihda Nur K.D yang berasal dari Universitas Negeri Malang (UM) jurusan seni tari. Sedangkan penari yang dilatih semuanya mahasiswi Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya yaitu Adinda Darayani Azhar,Anita Wanda Setyowati,dkk.

Grup tari yang dikomposeri oleh Ahmad Khairul ini membuktikan bahwa Kedokteran Hewan bisa bersaing walaupun baru berdiri 4 tahun silam. Prestasipun bukan hanya di bidang medik tapi juga diluar bidang tersebut.

Official grup Nilon,Hendra Satriawan menyatakan : “kemenangan ini berkat kerjasama kita semua,hari ini kita bisa membuktikan bahwa mahasiswa dengan latarbelakang medis bisa bersaing di bidang lainnya. Itu semua tergantung usaha kita”

Faisal Agung selaku presiden baru terpilih BEM PKH menambahkan : “Ini merupakan peningkatan drasitis,tahun lalu kita tidak mendapatkan satupun nominasi,sekarang berhasil menduduki posisi dua umum,Luar biasa!.Tapi tantangan kita berikutnya telah menunggu yaitu bagaimana kita mempertahankannya dan kalau bisa ditingkatan! Semangat!”.

Selain itu,supporterpun menyumbangkan apresiasinya di ajang ini,terbukti meraih juara dua kategori supporter terheboh diantara 13 fakultas lainnya. Akhirnya berhasil membawang pulang bingkisan khusus yang disediakan panitia serta didalamnya ada sebuah ponsel nokia.(hp)

Perokok Bukanlah Calon Suami/Istri yang Baik

December 26th, 2011

Bagi anda yang sedang mencari suami/istri atau sudah ada dan ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya,hal ini harus dipertimbangkan kelak. Perokok bukanlah calon Suami/Istri yang baik. kok bisa begitu? Jawabannya adalah sebagai berikut :

Perokok itu jorok

Perokok merupakan salah satu kelompok yang terindikasi jorok dalam hidupnya. Membawa berbagai macam kandungan berbahaya dalam genggamannya,asap yang mengotori horden dan loteng rumah menjadi warna kuning,abu rokok yang berceceran dimana-mana seperti di karpet,di tempat tidur dan ditempat lainnya. Sehingga,bagi anda yang punya suami atau istri perokok jangan harap mempunyai rumah/mobil yang bersih serta segar.

Satu pengalaman yang penulis alami,mempunyai teman perokok. Setiap sesudah makan,dia selalu menghidupkan rokoknya dan mencari barang-barang yang menyerupai mangkuk untuk abu rokoknya,selain ruangan jadi pengap dan tidak betah,abunya berceceran kemana-mana,jadi bagaimana menurut anda?

Perokok susah berhemat

Ok,selanjutnya marilah kita berhitung matematika dan ekonomi. Perokok merupakan orang yang paling boros di dunia,membelikan hasil jerih payahnya hanya untuk membakar kertas dan meniupkannya kembali,tanpa ada yang didapat,kecuali rasanya saja.

Bayangkan 1 kotak rokok harganya Rp.10.000 Beberapa teman penulis,mengatakan mereka menghabiskan 1 kota perharinya. Jadi Rp.10.000 perhari jika kita lihat sebulan maka 10.000 dikali 30 sama dengan Rp.300.000 Bagaimana rekan-rekan? Apakah opsi lain yang teman-teman bisa lakukan dengan Rp. 300.000 selain hanya untuk dibakar?

Perokok orang yang egois

Bagaimanapun sosialisnya seorang perokok,tetapi menurut penulis mereka tetap egois. Karena berlaku seenaknya saja terhadap kesehatan orang lain. Merokok di tempat umum merupakan suatu bencana yang sangat besar bagi para perokok pasif. Karena antibodi perokok pasif tidak siap dengan kehadiran asap dan racun dari seorang perokok. Benar-benar egois bukan? Hanya untuk kesengan mereka,kita jadi korban? Apakah masih mau punya istri/suami seperti itu?

Mempunyai suami/istri perokok siap-siap jadi Duda/Janda muda!

Loh? kenapa? Jawabannya mudah saja. Pasti teman-teman semua sudah tahu dampak negatif merokok? Yap! paling utama dan sering terjadi adalah penyakit paru-paru atau alat pernafasan. Sehingga rokok mempercepat umur seseorang. Kok bisa? Jawabannya mudah saja,masih ingat pelajaran biologi? sistem pernafasan dan darah? Kalau masalah kita pada paru-paru,kemudian O2 yang masuk ke tubuh menjadi terganggu,sehingga menyebabkan jantung susah mendapatkan energi dan tidak bisa bekerja maksimal. Akan tetapi,seluruh tubuh membutuhkan energi untuk beraktifitas,sehingga jantung terpaksa menggunakan tenaganya secara berlebihan,sehingga akan membuat jantung memompa sekuat-kuatnya. Sehingga arteri di jantung kemungkinan pecah dan wassalam… Ya mati. Itu hanya 1 kemungkinan loh,masih banyak yang lainnya,mungkin kena kanker,infeksi saluran pernafasan,asma,dan lain-lain.

Perokok merupakan calon ibu/ayah yang buruk

Orang tua mana yang tidak sayang dengan anaknya,tapi apakah bagi perokok juga bisa dibilang begitu? Jawabannya adalah perokok merupakan orang tua yang paling buruk bagi anak-anak. Mungkin teman-teman masih ingat dengan artikel saya sebelumnya,ternyata pecandu rokok kemungkinan besar punya anak perokok,klik disini! Selain fakta-fakta yang saya kemukakan di blog beberapa waktu yang lalu,peneliti di harvard juga menyatakan : “Beberapa gangguan yang dialami anak-anak jika terpapar asap rokok antara lain 8% mengalami gangguan belajar,6% menderita ADHD dan hampir 4% mengalami gangguan tingkah laku seperti agresif dan suka menantang.

Selain sifat-sifat yang berubah,kesehatan mereka juga akan terpengaruh. Karena anak-anak masih dalam pertumbuhan. Dengan sedikit paparan rokok saja,kemungkinan besar pertumbuhan anak akan terganggu,mulai dari kurang optimalnya pertumbuhan otak,kerusakan saluran pernafasan,antibodi yang melemah sehingga anak-anak sangat rentan terhadap penyakit.

Jadi bagaimana pilihan anda? tetap memilih perokok atau berpaling ke yang lebih menjanjikan?

Thats your choise!

habybpalyoga.

www.habybpalyoga.blogspot.com

www.blog.ub.ac.id/habybpalyoga

Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI : Entrepreneur

December 23rd, 2011

Indonesia merupakan negara dengan jumlah pengangguran terbesar se-ASEAN. Memasuki 2011 jumlah pengangguran di Indonesia pada angka 9,25 juta jiwa sehingga roda-roda perputaran ekonomi di Indonesia luamayan tersendat. Hal itupun diperparah oleh lowongan kerja yang terpusat,maksudnya hanya kota besar saja yang menyediakan banyak lowongan kerja sedangkan di daerah pinggiran hanya sedikit malahan tidak sama sekali. Sehingga sudah bisa dipastikan,jumlah jiwa yang pindah atau merantau ke kota besar makin meningkat setiap tahunnya dan memperparah keadaan kota besar dituju. Seperti Jakarta,dimana kemacetan bertambah,pemukiman liar tumbuh dimana-mana,pengemis kiriman makin banyak dan keamanan kota yang jauh dari titik aman.Sehingga kesejahteraan setiap individu terancam dan tidak ada lagi tempat yang aman walaupun di tempat ibadah sekalipun.

Kalau saya menjadi anggota DPD RI,yang pertama kali yang saya lakukan adalah membangun jiwa entrepreneur di masyarakat. Saya berusaha menanamkan pribadi yang mandiri dari sekolah dasar dengan membentuk muatan lokal entrepreneur yang wajib di setiap sekolah yang saya bawahi. Hal itupun saya terapkan di tingkat di atasnya,baik SMP/ MTs,SMA/MA sampai tingkat pendidikan paling tinggi tidak boleh luput dengan materi ini.

Apapun hal yang berhubungan dengan entrepreneur pastilah saya dukung selama itu masih di jalan yang benar dan sah menurut perundangan di Indonesia. Baik usaha kecil-kecilan,sedang sampai yang besar sekalipun jika mereka butuh. Tidak sampai disitu,saya akan mengadakan acara yang berhubungan dengan entrepreneur secara berkala setiap tahunnya. Dengan acara itu,saya harap lahir beberapa entrepreneur muda yang siap terjun ke masyarakat.Logikanya,kalau saya menghasilkan 1 entrepreneur muda setiap tahunnya,bayangkan berapa lowongan kerja yang akan tercipta jika dia mengajak teman-temannya yang lain untuk membuka cabang dan sebagainya.

Itu semua saya lakukan karena saya punya pandangan yang jauh kedepannya. Walaupun pergerakan entrepreneur itu tidak secepat yang ditargetkan pemerintah “2014 pengangguran akan tiada” tapi metode inilah yang saya pilih. Kata pepatah ” Lebih baik menghasilkan 1 tapi pasti,dibandingkan banyak tapi semu” .Jadi,saya pilih jalan pasti walaupun dampaknya terjadi sampai masa jabatan saya habis.

Tak sampai disitu, “Keberhasilan seorang pemimpin,diukur dari penerusnya”. Bagaikan presiden yang terus berganti,saya berusaha mengajak semua kalangan agar terlibat di visi ini,harapannya patah tumbuh hilang berganti ,jika saya lepas,maka masih ada penerus yang akan melanjutkan langkah saya. Sehingga cikal bakal yang telah saya bentuk selama masa jabatan tidak akan pudar begitu saja,seiring lepasnya jabatan saya.Akan tetapi,walau masa jabatan sudah habis,tapi kegiatan meneriakkan mandiri!  tidak akan pernah pudar,sampai hayat menjemput saya.

Kenapa saya mau melakukan itu? Jawabannya karena itulah tanggung jawab saya sebagai DPD. Yaitu memajukan daerah yang saya pimpin. Harapannya, beberapa tahun kedepannya,daerah yang saya pimpin menjadi daerah percontohan dengan ke-entrepreneurannya yang membara. Saya yakin,para perantau kembali ke daerahnya masing-masing.Pengemis sudah memiliki pekerjaan dikampungnya.Otomatis kepadatan ibukota mulai teratasi,dari kiriman sekelompok perantau dari daerah saya. Saya yakin,jika sudah mempunyai pekerjaan,niat untuk berbuat jahat akan sedikit sirna di mindset masyarakat. Maka terciptalah daerah kami yang aman dan sejahtera.

Mungkin saya,suatu saat kelak,daerah lain meniru gerakan yang kami lakukan didaerah,sehingga penyebaran lowongan kerja merata di seluruh Indonesia,dengan demikian tidak ada lagi namanya kota besar,tapi tinggal kota/kabupaten tanpa imbuhan besar. Dengan begitu,masalah tata kota dan daerah lebih bisa dikendalikan untuk menjadi Indonesia yang lebih baik. Indonesia bisa! Salam wirausaha.